28/09/2022

dedysetyo.net

Berbagi Semangat, Menyebarkan Inspirasi..

Kado dan PR besar jelang ulang tahun kemerdekaan RI

Hari ini, 17 Agustus 2022, kita patut bersyukur dengan karunia Allah SWT pada bangsa Indonesia dengan umur kemerdekaannya yang mencapai 77 tahun.

77 tahun bukan usia yang masih belia, namun ulang tahun kemerdekaan hari ini sejatinya dapat kita jadikan ruang untuk refleksi bersama. Melihat kembali, kontribusi terbaik apa yang bisa kita berikan untuk negara kita.

Pada perkembangannya, hingga saat ini Indonesia berusia 77 tahun, masih terkategori negara berkembang. Ada satu pertanyaan penting tentang bagaimana kita memandang Indonesia, “Apakah negara yang subur dan makmur tanahnya, serta tropis iklimnya (hanya dua musim saja) akan menjadikannya tidak bisa menjadi negara maju ?”, Apakah sejatinya kita hanya akan terus menjadi negara berkembang ?.

Apakah karena untuk negara dengan musim dingin dan ekstrem lainnya, orang disana harus bekerja keras untuk menyiapkan sandang, pangan dan papannya. Sementara penduduk yang tinggal dalam kondisi kemudahan, dengan bermalas-malasan saja sudah bisa hidup.

Jared Diamonds, seorang geograf Amerika pada tahun 1993 sudah pernah mengajukan teori ini. Yakni teori tentang Determinisme Geografis : yang menyatakan bahwa maju tidaknya suatu negara bergantung pada lokasi geografis dan iklim yang berada pada negara tersebut. Walaupun ini teori lama, dari tahun 1993, kemudian menjadi buku yang berjudul “The End of Poverty” diterbitkan pada tahun 2006.

Dalam perkembangannya, teori ini sudah banyak mendapatkan kritik, karena dianggap terlalu sempit karena hanya faktor geografis dan iklim saja yang diperhitungkan, belum mengkalkulasi tentang peranan negara, relasi sosial dan perbedaan kelas yang teramat kompleks berada pada suatu negara.

Salah satu kritikus teori ini adalah David Correia (Associate Proffesor University of New Mexico). Karena maju atau stagnannya kondisi penduduk dalam suatu negara, pada dasarnya merupakan bagian dari sub ordinat dalam sistem besar yang bernama negara. Kumpulan kritik ini dibukukan menjadi buku yang berjudul “Why Nations Fail” yang diterbitkan pada tahun 2012.

Cover Buku “Why Nations Fail”, karya Daron Acemoglu

Laporan detik.com tentang kondisi petani juga makin memprihatinkan bahkan saat RI mampu melakukan swasembada beras pada tiga tahun belakangan (tidak impor beras selama tiga tahun terakhir). Sebagai gambaran, petani di Indonesia secara umum tidak memiliki tanah sendiri yang memadai, tiap keluarga petani hanya memiliki tanah garapan berkisar 0,6 hektar (dikabarkan susut menjadi 0,4 hektar). Artinya, jika dikonversi menjadi pendapatan, hanya cuma memiliki 1,3 juta per bulan, untuk tiap keluarga petani. Kalau dihitung keuntungan bersih, hanya sekitar Rp.860.000, – per keluarga.

Kondisi force majeure seperti covid belakangan ini, juga turut andil memperburuk keadaan dalam satu negara. Yang miskin semakin miskin, kesulitan juga kian bertambah. Sementara pengeluaran makin bertambah, namun penghasilan juga berkurang akibat PHK. Artinya, tidak serta merta memiliki tanah yang subur lalu kemudian memilih untuk malas dan terpuruk. Kondisi eksternal juga menjadi faktor yang lebih berpengaruh signifikan daripada kelebihan yang dimiliki oleh negara tersebut.

Diluar tentang perbedaan teori ini, angka kemiskinan penduduk juga tengah membaik pada kisaran 7% di perkotaan, dan 12 % di area pedesaan pada maret 2022 lalu. Walaupun sudah membaik, bagaimanapun 7% dari 275 juta jiwa merupakan jumlah yang masih sangat besar. PR kemiskinan, merupakan salah satu diantara banyak PR kita diusia 77 tahun kemerdekaan RI.

Ilustrasi Kemiskinan. Sumber : https://www.merdeka.com/

Selain kemiskinan, ada banyak PR yang perlu dituntaskan lainnya, yakni kebodohan. Kemiskinan dan kebodohan merupakan saudara kembar yang musti dicerabut akar-akarnya hingga habis. Pada Index Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2021, Indonesia masuk peringkat 107 dari 189 negara. Jika dilihat dari negara-negara ASEAN, indonesia peringkat kelima setelah Singapore, Brunei, Malaysia dan Thailand. Hal ini tentu saja perlu mendapatkan perhatian khusus, jika peringkat kita ingin membaik pada periode berikutnya.

Ditengah PR-PR yang besar tadi, Kita patut bersyukur atas karunia Allah SWT yang memberikan kita kemerdekaan di 77 tahun ini. Namun ibarat hadiah karena usia, kita musti terus menerus sadar dan meyakini, bahwa seiring dengan pertambahan umur, semakin besar juga tanggung jawab kita untuk terus belajar dan berbenah.

Jika usia kita yang baru menginjak 5 tahun, maka tugas kita juga baru tentang makan agar tidak berantakan, bisa mandi sendiri dan tugas-tugas sederhana lainnya. Namun seiring dengan pertumbuhan usia yang semakin dewasa, 10 tahun, 20 tahun, dan seterusnya, maka tugas-tugas kita juga akan semakin besar.

Lalu apa saja tugas kita untuk membantu negerinya ?, untuk mengemban tema “Pulih lebih cepat, Bangkit lebih kuat” dalam merayakan Kemerdekaan RI yang ke-77 ini.

1. Memilih peran dimasa kini dan dimasa depan
Para pahlawan sudah memilih perannya dimasa lalu, ada yang jadi ulama, diplomat, penerjemah, pendidik dan berbagai peran strategis lainnya.

Ir Soekarno, proklamator kemerdekaan kita, merupakan seorang pemuda yang awalnya belajar dan ngekos di rumah HOS Tjokroaminoto, namun dengan adanya modal pertemuan itu, dirinya belajar berbagai hal dalam sosial budaya, politik dan berorasi. Hingga akhirnya membawa dirinya menjadi organisatoris. Tjokroaminoto sendiri yang awalnya sebagai juru tulis, memiliki visi membangun Syarikat Islam sebagai wadah perjuangan menuju kemerdekaan dengan bernafaskan Islam. Beliau berteman dengan ulama, salah satunya KH Hasyim Asyari, yang dari pertemanan itulah semakin mematangkan visi keindonesiannya menjadi lebih tajam. Dalam perjalanannya, Haji Agoes Salim, salah satu diplomat ulung awal kemerdekaan RI, juga merupakan orang yang pernah menimba ilmu dari Tjokroaminoto.

Masa depan pasti akan ditemui, suka tidak suka, sepakat atau tidak sepakat. Namun ruang kesempatan itu selalu terbuka luas. Dibidang apa yang kita perdalam, apakah sains, seni, keterampilan dan bakat-bakat lainnya selalu butuh orang-orang yang bisa berkontribusi disana. Jika peran itu bisa dijalankan dengan baik maka kontribusi itu akan bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita, atau minimalnya diri kita sendiri.

2. Optimalkan potensi diri dan mengasahnya setiap hari
Selain ruang yang tersedia, setiap kita adalah mutiara ketika kita meyakini potensi yang dimiliki dan mengasahnya dengan baik. Memastikan bahwa kita menjadi mutiara yang paling indah, begitu juga menjadi pedang paling tajam. Dengan cara apa potongan besi akan menjadi pedang terbaik dan tertajam ?. Dengan cara menempanya setiap hari, dibakar, dipukul lagi bertubi-tubi akan mengubah potongan besi itu menjadi pedam yang tajam.

3. Tidak menyianyiakan waktu
Waktu setiap orang sesungguhnya adalah sama, sama-sama 24 jam. Orang sukses dengan orang gagal, sama-sama 24 jam. Namun yang membedakan adalah bagaimana memanfaatkan waktunya. Bagaimana menjadi lebih bernilai, lebih bermanfaat, produktif dan berkah. Maka kelola waktumu, menjadi kunci sukses masa depanmu. Cek kembali aktivitas sehari-hari kita, lebih banyak kah yang bermanfaat ataukah sebaliknya ?.

Semoga kita dapat menjadi pribadi yang bersyukur atas kemerdekaan ini.

%d bloggers like this: