01/12/2022

dedysetyo.net

Berbagi Semangat, Menyebarkan Inspirasi..

Belajar dari Madrasah 365 hari

Kisah Kengerian Wabah

Jules-Élie Delaunay, seorang pelukis kenamaan dari Perancis, pada penghujung abad ke 19 melukis “Plague in Rome”, dengan pesan yang teramat jelas dan bulat, malaikat maut sedang mendatangi pintu-pintu warga sehingga seolah-olah bersiap menjemput mereka satu persatu diiringi dengan banyaknya mayat bertumbangan di jalan-jalan.

Kisah ini begitu terang diabadikan dalam kanvas goresannya, sekaligus menggambarkan kengerian kejadian saat terjadinya Wabah Antoninus pada tahun 165 – 180 M di Romawi. Saking parahnya, menurut Harper Kyle (2017) wabah Antoninus saat itu diperkirakan merenggut lima juta jiwa manusia.

Lukisan “Plague in Rome” karya Jules-Élie Delaunay yang menggambarkan kengerian saat itu. Sumber : Wikipedia

Nama wabah Antoninus sendiri, ternisbat kepada nama kaisar Romawi Marcus Aurelius Antoninus yang saat itu memimpin pada situasi sedemikian memprihatinkan. Marcus Aurelius merupakan kaisar yang lekat dengan kebijaksanaan dan kharismatik. Beliau terkenal juga sebagai seorang filsuf Stoa.

Dikotomi Kontrol

Ditengah kondisi wabah tersebut, Marcus Aurelius menulis buku “The Meditations” sebagai representasi pemikiran beliau terhadap kondisi berat yang sedang dialami tentang bagaimana menghadapi tantangan kecemasan, rasa sakit, kehilangan dan depresi. “The Meditations” menerangkan bahwa ada kondisi yang dapat dikendalikan karena memang dalam lingkaran pengaruh kita, namun ada juga situasi yang tidak memungkinkan untuk diintervensi karena diluar kemampuan kita, dalam filsafat stoa hal ini dinamakan “dikotomi kontrol”.

Dikotomi kontrol memungkinkan pengendalian dalam alam pikir manusia bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan atau pengaruhi. Persepsi ini akan membuat manusia menjadi lebih jernih dalam melihat situasi ketimbang stress dengan kondisi yang memang tidak bisa dipengaruhi. Dirinya akan lebih fokus pada apa-apa yang bisa dilakukan daripada meratap kesedihan disertai kemarahan tak berujung.

Sederhananya, jika Anda sudah janjian dengan seorang kawan untuk ngopi bareng di sebuah warung kopi, ternyata baru dua langkah pertama keluar dari rumah dan tetiba hujan deras disertai petir berdentuman datang, maka marah-marah pun tidak akan menyelesaikan permasalahan. Hujan juga tidak akan berhenti karena sumpah serapah kita. Fokus pada apa yang bisa kita kendalikan, apakah memilih bawa payung atau mantel, atau bisa juga Anda reschedule rencana itu, merupakan pilihan paling logis sekaligus menenangkan.

Berbagai peristiwa yang terjadi disekitar kita, yang membedakan diantara kita sesungguhnya adalah “respon” kita dalam menghadapi peristiwa tersebut. Hujan deras, macetnya jalan raya, gunung meletus, dan berbagai macam peristiwa yang terjadi di alam raya, tergantung dari kaca mata kita melihatnya. Keadaan itu tidak akan berubah, namun cara pandang kita dalam melihatnya bisa berubah. Ada cukup banyak dari pemikiran kita yang sebetulnya memberikan opsi beragam kepada kita. Oleh sebab itu, “bukan peristiwanya yang membuat kita kesal, melainkan opini kita tentangnya.” Tepatnya, penilaian kita bahwa sesuatu yang amat buruk, mengerikan, atau bahkan musibah, menjadi penyebab penderitaan kita.

Puasa dan Pengendalian Diri

Puasa merupakan salah satu ibadah wajib untuk umat islam saat bulan ramadhan. Secara mendasar dalam kewajiban puasa adalah menahan makan, minum dan berhubungan badan bagi suami istri dari terbit matahari hingga terbenamnya. Jika ditelaah lebih mendalam dalam perspektif psikologi, sejatinya hal ini berkaitan erat dengan pengendalian diri (Self Control). Menurut Hurlock (2000), seorang ahli psikologi perkembangan, self control erat kaitannya dengan bagaimana seseorang dapat berhasil mengendalikan “sesuatu” dalam dirinya. Dalam konteks puasa, pembatasan diri ini dalam hal makan, minum dan hal-hal yang dilarang ketika puasa.

Pengendalian diri yang baik akan membatasi seseorang untuk melakukan sesuatu pada proporsinya (tidak berlebihan), sekaligus sebagai kontrol jika akan melakukan hal yang tidak semestinya. Adanya pengendalian diri juga memiliki fungsi untuk mengekang perilaku negatif seseorangdan membantu seseorang menyeimbangkan kebutuhannya.

Ilustrasi Self Control. Memastikan diri tetap pada kendali

Dengan demikian, selaras dengan misi dikotomi kontrol pada paragraf sebelumnya, puasa menjadi alat pengendalian diri yang baik yakni dengan “mengkondisikan” seseorang untuk mengendalikan diri dari tindakan yang merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Inspirasi Ramadhan masa Pandemi

Ibadah disaat bulan Ramadhan mengajarkan bahwa kesholehan diri hendaknya berimplikasi kuat terhadap kesholehan sosial. Perintah ibadah puasa, sholat dan tilawah Al Qur’an dengan limpahan pahala yang berlipat-lipat dibanding diluar ramadhan memiliki makna transenden sangat agung, yakni sebagai penghambaan mahluk kepada Sang Pencipta. Dipenghujung bulan ramadhan nanti, kewajiban untuk membayar zakat (kepada yang tidak mampu) juga menyertai dan berfungsi sebagai manifestasi ketaatan sekaligus kepedulian sosial. Sehingga memelihara hablumminallah (hubungan vertikal kepada Allah SWT) akan selalu selaras dengan hablumminannas (horizontal kepada manusia yang lainnya). Karena sesungguhnya makin sholeh seseorang, harapannya akan makin mudah membantu sesamanya tanpa pandang bulu.

Dalam masa sulit seperti sekarang ini, menumbuhkan rasa empati kepada saudara-saudara kita yang lain, harapannya akan memupuk kemampuan kepedulian sosial kita. Slavoj Zizek dalam Zizek (2020), filsuf dari Slovenia ini melihat bahwa solidaritas di era pandemi berpeluang menciptakan suatu kemanusiaan jenis baru, yang akan membuat kita terhindar dari jebakan penghancuran diri dan sikap barbarisme. Pandemi ini juga mengajarkan kita bahwa membantu tetangga kita yang terdekat hingga saudara yang terjauh ini juga lebih mudah dilakukan. Varian ikhtiar bantuan kepada masyarakat terdampak juga beraneka macam dimasa seperti sekarang, membelikan makanan kepada driver ojek online, bantuan masker, multivitamin dan gerakan vaksinasi yang diinisiasi oleh berbagai unit lembaga masih terjadi hingga saat ini.

Melihat grafik sebaran covid19 yang menurun sampai dengan tulisan ini dibuat, semoga merupakan pertanda baik bahwa pandemi akan lekas berlalu. Tentunya kita sama-sama berharap bahwa kepedulian ini akan tetap langgeng dimasa depan.

Ramadhan yang sudah hadir pada kita dengan durasinya yang hanya sebulan saja, pada dasarnya adalah pemacu untuk kita agar tetap terus berbenah memperbaiki diri untuk 11 bulan berikutnya. Sehingga perbaikan diri kita tidak hanya nampak pada 30 hari itu saja, namun juga kepada segenap 365 hari atau sepanjang tahun berjalan.

Ditahun depan, jika masih berjodoh, kita akan kembali dicharge dengan spirit Ramadhan berikutnya. Ramadhan akan menjadi madrasah terbaik baik diri kita, jika keberadaannya memberikan inspirasi besar kepada manusia untuk belajar, berubah dan berbenah sepanjang waktu.

Dengannya, semoga pesan Ramadhan makin lekat dengan amalan diri, dan akhirnya bermuara pada kepedulian terhadap masyarakat dan bangsa kita.

Daftar Pustaka

  • Harper, Kyle (2017). The Fate of Rome. Princeton, NJ: Princeton University Press.
  • Hurlock, Elizabeth B. (2000). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan. Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Gramedia.
%d bloggers like this: