Kampus Mengajar; Mencari Guru Tangguh untuk Negeri

Kampus Mengajar; Mencari Guru Tangguh untuk Negeri

Anand Kumar, pagi itu Dia bergegas untuk segera menuju kelasnya, Dia akan mengajar Matematika kepada 30 siswanya yang spesial, di sekolah yang sama spesialnya.  Siswa-siswa istimewa itu Dia “dapatkan” dari Bihar, salah satu daerah termiskin di India. Para siswanya digratiskan memperoleh pendidikan dan pembelajaran dari sekolah yang didirikan Anand. Tidak hanya sekolah, bahkan juga tinggal dan menginap disana. 30 siswa ini merupakan hasil seleksi dari sekian banyak pelamar dari daerah-daerah miskin dan tertinggal, mereka memiliki mimpi yang tinggi, namun terkendala dengan keterbatasan ekonomi. Jangankan untuk mengincipi bangku pendidikan yang pantas, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja susah. Anand sendiri juga bukan dari golongan cukup, semangat juangnya yang tinggi seolah-olah mampu merontokkan berbagai kendala yang menghadang.

Anand Kumar mengajar mereka dengan sepenuh hati walau ditengah keterbatasan sarana, tidak ada gaji, sokongan dana yang cukup, terbatasnya sumber dan bahan ajar yang memadai, bahkan ancaman persaingan dan “ketidak sukaan” pejabat setempat.

Anand Kumar sedang mengajar. Sumber : newindianexpress.com

Ditengah keterbatasan yang beragam rupa itulah, Anand beserta para siswanya tetap suka cita menjalani proses pembelajaran yang ada. Mempraktekkan rumus-rumus dasar yang berada dibangku kelasnya, untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Konsep ini khas pada sekolah Anand, pembelajarannya melekat karena dipraktekkan sehari-hari, sehingga membantu pemahaman mereka lebih panjang.

Singkat cerita, ada satu momen dimana 30 siswanya mengikuti seleksi masuk kampus favorit disana, Indian Institue of Technology (IIT) namanya. Karena favorit, kampus ini banyak pelamar dan ikut melakukan seleksi masuk. Banyak orang yang ragu, mencibir dan cenderung meremehkan siswa-siswa Anand, mengingat betapa sangat “compang camping” nya para siswa dan keterbatasan mereka. Namun diluar dugaan, semua siswa Anand diterima masuk di IIT. Para siswa ini memulai dengan percaya, dengan pendidikan yang memadai, akan mampu memutuskan rantai kemiskinan di keluarga mereka, sehingga daya upaya mereka berlelah dalam belajar keras akhirnya membuahkan hasil.

Anand Kumar merupakan sosok istimewa, kisah nyata diatas ini terjadi benar adanya. Publikasi papernya tentang “Number Theory” pernah dipublikasikan pada jurnal “Mathematical Spectrum” setelah lulus SMA. Karena kepintarannya, dirinya bahkan sempat diterima di University of Cambridge UK, namun karena keterbatasan ekonomi keluarga diikuti oleh sakit dan meninggalnya orang tuanya, akhirnya urung berangkat ke Inggris sana. September 2014 lalu, pernah diundang ke Harvard University dan MIT AS, untuk berbicara tentang perjuangannya membangun sekolah itu.

Anand Kumar merasakan pada dirinya, hambatan ekonomi yang begitu rupa, menyebabkan cita-citanya kandas. Tidak hanya di India, bahkan di seluruh dunia, kemiskinan dan kebodohan merupakan sekutu abadi yang dapat memberangus generasi. Dengan apa lingkaran setan itu diputus ?, dengan pendidikan !.

Kemiskinan dan kebodohan merupakan sekutu abadi yang dapat memberangus generasi. Dengan apa lingkaran setan itu diputus ?, dengan pendidikan !.

Ada hal yang menarik jika sedikit kita sambungkan dengan perspektif Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998 asal India. Menurut Sen, kemampuan (kapabilitas) manusia untuk berkehendak dan leluasa memilih jalan kehidupannya merupakan modalitas yang teramat berharga, karena kapabilitas ini akan memberikan kemerdekaan kepada pemiliknya untuk menjadikannya mewujud nyata menjadi sesuatu yang bernilai. Kemudian, akses-akses penting terhadap berbagai sumber akan makin terbuka.

Amartya Sen, peraih nobel dalam bidang ekonomi tahun 1998

Jika pintu kesejahteraan itu selama ini masih tertutup rapat dan kuat, maka yang Anand lakukan adalah membuatkan kuncinya, dengan akses yang bernama pendidikan. Dengannya, kesempatan generasi berikutnya untuk hidup lebih baik dari leluhurnya, akan makin terbuka lebar-lebar.

Program Kampus Mengajar

Belum lama ini Mas Nadhiem, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI meluncurkan program Kampus Mengajar, program ini dianggap sebagai terobosan menarik dalam dunia pendidikan saat ini. Para mahasiswa pada semester 6 atau lebih tinggi diberikan kesempatan untuk mengajar di daerah 3 T (Terluar, Tertinggal, Terdepan) seluruh Indonesia. Para mahasiswa ini selama 12 minggu akan berada pada sekolah (terutama SD) dan melakukan proses pengajaran disana.

Mulai berjalannya pandemi sedari tahun lalu hingga saat ini ditambah dengan berbagai keterbasan yang ada, diprediksi banyak para siswa kita yang terputus pendidikannya, terutama para siswa yang masih belia. Untuk masa yang panjang dimana kita belum tahun kapan pandemi ini berakhir, program ini mudah-mudahan bisa menjadi solusi yang tepat.  

Bulan Oktober 2020 lalu Kemendikbud memprediksi bahwa Indonesia akan kekurangan 1 juta guru sepanjang kurun tahun 2020 sampai dengan 2024. Angkanya ditaksir terus menerus meningkat seiring dengan tahun berjalan. Para mahasiswa yang turun ke masyarakat ini diharapkan juga dapat mengisi “gap” kekurangan jumlah guru dibanyak sekolah.

Selaras dengan visi Anand Kumar dalam memajukan masyarakat India melalui jalur pendidikan pada paragraf sebelumnya, maka program ini juga melewati jalur yang sama (pendidikan), dan akan lebih baik malah jika kita bisa menyiapkan Anand-Anand berikutnya versi kita dimasa depan. Sehingga dimasa mendatang, Indonesia tidak kekurangan model seperti Anand ini.

Setidaknya ada beberapa unsur terkait yang musti padu-padankan agar pelaksanaannya dilapangan menjadi sinkron, yakni Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan, sekolah dan masyarakat. Ada beberapa sudut pandang perhatian :

1. Membangun “spirit kerelawanan” dari para mahasiswa.

Hasil survey dari Fidelity Charitable (sebuah lembaga independen yang mengelola dana filantropi di Amerika Serikat), pada bulan Mei 2020 menyatakan bahwa hampir setengah dari para responden milenial (seumuran dengan mahasiswa ini), 47 %, mengaku terpaksa mengurangi atau bahkan menghentikan kegiatan kerelawanannya selama masa pandemi ini.

Spirit yang melemah ini tentunya perlu menjadi perhatian. Masa pandemi covid19 yang panjang, ditambah Indonesia dengan letaknya di deretan cincin gunung berapi dan berbagai potensi bencana alam nya, dimasa yang akan panjang butuh support semesta, termasuk warga negaranya yang ambil bagian dalam penanganan bencana. Jika kurikulum penanggulangan bencana (mitigasi, antisipasi, edukasi dll) disekolah mendapatkan tempatnya secara strategis, akan menjadi aset penting dimasa depan.

2. Membekalkan keterampilan lapangan yang tepat guna untuk masyarakat.

Survey dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga perlu menjadi perhatian, stress nya anak-anak yang melakukan Belajar dari Rumah (BDR) semenjak masa pandemi ini, harapannya bisa mendapatkan treatment yang sesuai. Jumlah guru BK dan berbagai sarana yang terbatas harapannya perlu segera mendapat support dari program ini.

Pembekalan “stress healing” atau “stress management “ untuk para mahasiswa yang akan terjun ke lapangan, harapannya akan lebih mengakselerasi penyelesaian masalah-masalah yang selama ini ada. Tidak hanya masalah akademik, namun juga non akademik termasuk penanganan stress para siswa.

Kita sama-sama berharap dan berdoa, semoga banyak hal besar yang bisa diraih. Untuk hari ini dan nanti.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: