Belajar dari Romawi dan Andalusia

Belajar dari Romawi dan Andalusia

Tulisan ini dengan adaptasi judul masuk pada laman Republika Online dengan alamat https://www.republika.co.id/berita/qofien282/wabah-pencabut-nyawa-di-romawi-dan-andalusia

lampiran screenshoot nya.
===

Marcus Aurelius, kaisar Romawi itu melihat dari kejauhan ketika jenderalnya dengan penuh keberhasilan mengalahkan kaum barbar di medan perang Germania. Namun bukannya senang, malah bertanya kepada Maximus, jenderalnya, tentang perlu tidaknya peperangan tadi dilakukan :

“Saat orang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat, ia mulai betanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan… Apakah aku akan dikenang sebagai filsuf, prajurit, atau tiran ?”

Kaisar Marcus ini dikenal sebagai seorang bijak yang melihat dari sudut pandang lain dari sebuah peperangan.

Pertanyaan ini bagai sebuah penyesalan, karena pada saat terakhir Beliau mengharapkan adanya perdamaian dengan cara mengirim utusan untuk bernegosiasi, ternyata semuanya gagal membuahkan hasil, sehingga Maximus yang akhirnya diminta menemukan cara yang terbaik bagi bangsa Romawi.

Patung Marcus Aurelius

Adegan ini terjadi pada penggalan film yang dirilis pada tahun 2000, berjudul “Gladiator” besutan  Ridley Scott. Namun nama-nama diatas merupakan orang-orang yang benar adanya pada catatan sejarahnya. Gladiator merupakan film dengan torehan prestasi mengagumkan, dimana pada ajang Academy Award, berhasil meraih 5 piala dan 7 nominasi.

Marcus Aurelius Antoninus sendiri merupakan seorang kaisar Romawi yang berkuasa pada tahun 161 sampai dengan 180. Beliau juga dikenal sebagai seorang filsuf Stoa yang terkenal zaman dahulu. Pada rentang 14 tahun kepemimpinannya itulah, Beliau juga menghadapi wabah penyakit yang bahkan terburuk di Eropa, karena mengakibatkan kematian sampai dengan 5 juta orang disana. Wabah ini dinamakan Antoninus, seperti dinisbahkan pada nama terakhirnya. Hal ini tercatat juga pada artikel The Guardian yang berjudul “Stoicism in a time of pandemic: how Marcus Aurelius can help”.

Saking mengerikannya wabah Antoninus ini, Levasseur melukisnya dengan judul “The angel of death striking a door during the plague of Rome”, yang bermakna bahwa malaikat maut mendobrak dari pintu ke pintu warga saat wabah itu terjadi, sementara para korban berjatuhan dengan banyak mayat terkapar disekitar pintu.

The angel of death striking a door during the plague of Rome

Black Death

Wabah lain yang tak kalah mematikan, yang terjadi pada pertengahan hingga akhir abad ke 14 adalah Black Death yang pernah melanda Eropa. Wabah ini membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi manusia di Eropa.

Medium penularan dengan berbagai varian, mulai dari kontak fisik, udara dan sistem darah, membuat wabah ini menjadi semakin susah untuk dibendung. Semakin banyaknya mobilitas manusia pada satu tempat ke tempat yang lain, maka akan membuat penularannya menjadi lebih ekskalatif.

Setelah dari Eropa, wabah Black Death ini menyebar hingga ke sebagian Afrika dan Asia, sehingga tercatat pada akhir abad 14, diperkirakan wabah ini membunuh hingga 200 juta manusia.

Pada tragedi-tragedi besar di dunia tersebut, kita berusaha mengambil pelajaran agar dengannya hikmah bisa kita raup lebih banyak. Lalu apa yang perlu dilakukan ?

1. Dikotomi kontrol, merupakan istilah yang sering digunakan kaum Stoic, pengikut filsuf Stoa, pada hal bagaimana memaknai bahwa yang terjadi pada alam semesta, pada dasarnya  tidak semua dalam rentang kendali kita.

Peristiwa yang terjadi disekitar kita, yang membedakan diantara kita sesungguhnya adalah “respon” kita dalam menghadapi peristiwa tersebut. Hujan, macetnya jalan raya, gunung meletus, dan berbagai macam persitiwa yang terjadi di alam raya, tergantung dari kaca mata kita melihatnya. Keadaan itu tidak akan berubah, namun cara pandang kita dalam melihatnya bisa berubah. Ada cukup banyak dari pemikiran kita yang sebetulnya terserah kita. Oleh sebab itu, “bukan peristiwanya yang membuat kita kesal, melainkan opini kita tentangnya.” Tepatnya, penilaian kita bahwa sesuatu yang amat buruk, mengerikan, atau bahkan musibah, menjadi penyebab penderitaan kita.

Ternyata ada irisan yang sejalan terkait “dikotomi kontrol”  ini dengan “Lingkaran Pengaruh” menurut Stephen Covey dibukunya “The Seven Habits of Highly Effective People” (7 Kebiasaan Manusia yang Paling Efektif). Pada dasarnya, jika kita hanya fokus pada lingkaran yang bisa kita intervensi dan pengaruhi, selain akan lebih efektif hidup kita, juga akan mengurangi fokus perhatian dan energi kita pada hal diluar “semesta” kita.

2. Upaya yang terus kontinyu.

Spanyol (dinamakan Andalusia masa itu) juga ikut terimbas  Black Death. Para ilmuwan setempat lebih lanjut meneliti apa penyebab dan bagaimana metode penanganannya. Di antara mereka adalah Ahmad bin Ali bin Khatimah. Ilmuwan dari Almeria itu menduga buruknya kualitas udara sebagai pemicu persebaran wabah.

Ilmuwan lainnya, Ibnu al-Khatib menjelaskan hipotesis tentang transmisi atau penularan penyakit.

Temuan al-Khatib menjadi referensi ahli biologi Prancis, Louis Pasteur, ratusan tahun kemudian. Mengenai antisipasi wabah, yakni kebanyakan orang-orang yang telah mengadakan kontak dengan penderita, akan memiliki potensi sakit lebih tinggi dan akhinya meninggal dunia. Sementara orang yang tidak begitu banyak berinteraksi dengan penderita akan tetap sehat.

Penyebaran penyakit itu dapat muncul dari suatu rumah di suatu kota, kemudian ia menyebar dari orang ke orang tetangga, saudara, atau tamu rumah itu. Di masa kita saat inilah, dalam menghadapi covid-19, kita memiliki istilah yakni Social Distancing dan Physical Distancing yang memiliki makna sama dengan kondisi saat itu.

Potret PSBB Jawa Bali pada Januari 2021 lalu dengan perpanjangan waktu berikutnya pun akan tetap kurang efektif, jika pada kenyataannya kita belum mampu mengendalikan mobilitas warga (dengan segala alasannya).

Tentunya kita berhadap kedepan agar program-program serupa ini lebih efektif sehingga menurunkan grafik wabah covid19 yang belum terlihat ujungnya ini, dari mana kita mulai ?, dari diri sendiri, lingkaran kita sendiri.

Semoga kita tetap mampu belajar banyak dari tragedi masa lalu, sehingga menjadi bekalan kita untuk menjadi lebih baik dimasa pandemi ini.

7 thoughts on “Belajar dari Romawi dan Andalusia

    1. Terima kasih sudah berkunjung bu rita. Dahsyatnya korban dimasa lalu, semoga menjadi pelajaran agar kita tidak mengulang hal yg sama. Semoga segera membaik pandemi saat ini.

    1. Terima kasih sudah berkunjung Pak Ekalaya Irpan. Semoga ikhtiar2 kecil kita, ikut membantu situasi yg sedang kita hadapi saat ini ya..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: