PART 2 – Menanamkan Self Regulated Learner Untuk Siswa Saat Belajar Dari Rumah

Tulisan sebelumnya bisa Anda simak pada tautan berikut http://dedysetyo.net/2020/10/19/menanamkan-self-regulated-learner-untuk-siswa-saat-belajar-dari-rumah/

===========================

Kita review sejenak artikel sebelumnya. Student Centered Learning (SCL) yang baik akan memandirikan siswa menjadi lebih efektif dalam memanfaatkan waktunya ketika masa belajar dari rumah. Prasyarat nya, mereka memiliki Self Regulated Learner (SRL) dengan strategi yang tepat juga, lalu bagaimana implementasinya ?. Agar lebih mudah dipahami, saya coba tautkan dengan kisah legenda NBA Michael Jordan dimasa lalunya.

Kisah Michael Jordan

michel-jordan-5-131003c.jpg

“Sepanjang karier saya, lebih dari 9.000 tembakan saya meleset. Saya juga pernah kalah dalam 300 pertandingan. Paling tidak, 26 kali saya dipercaya untuk melakukan syuting penentu kemenangan namun gagal. Saya telah berkali-kali mengalami kegagalan dalam hidup. Dan itulah sebabnya, saya bisa berhasil…,” ungkap Michael Jordan (MJ) suatu ketika merefleksi masa lalunya.

Bagi penggemar olah raga basket apalagi yang menyimak NBA di tahun 90an, pasti kenal dengan MJ dimasa itu. Dimasa pensiunnya namanya masuk pada deretan Hall of Fame pemain legendaris. Jika bicara prestasi, deretan berikut, barangkali dapat memberikan gambaran betapa hebatnya orang ini.

Prestasi MJ dimasa karirnya. Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Michael_Jordan

Ini yang kita lihat MJ disaat dia pensiun, beragam kisah manis dan pencapaian hebat. Namun bagaimana dengan perjuangan MJ sebelum dia berhasil menggapai itu semua ?.

MJ pernah bercerita tentang kisah pahitnya saat tidak masuk sebagai daftar pemain tim basket utama di sekolahnya di SMA Laney, North Carolina, salah satu penyebabnya adalah masalah tinggi badan yang hanya sekitar 175 – 180 cm saat itu.

Tahun 1984 juga tidak jauh berbeda. Saat itu Jordan dengan berat hati memutuskan ikut draft NBA. Walau cemerlang di level universitas. Jordan ternyata dipilih di urutan ketiga oleh Chicago Bulls. Houston Rockets dan Portland Trail Blazers melewatkan Jordan begitu saja.

Inilah bukti bahwa legenda tidak tiba-tiba jatuh dari langit, mereka bekerja keras mengusahakan hal itu. Lalu apa saja yang dilakukan MJ untuk menjadi bintang ?

“Saya melatih Michael sejak dia berusia 13, 14, dan 15 tahun. Semasa remaja, Michael bukanlah seorang juara. Dia hanya remaja biasa yang bermain di liga junior. Tapi dia sangat bebas dan kompetitif,” ungkap pelatih Richard Neher di Liga Babe Ruth.

Kerja keras, menjadi salah satu kata kunci dalam pembentukan juara diberbagai masa. Tidak saja dengan kerja keras, namun dengan desain yang efektif untuk melejitkan potensi diri terbaik.

Bagaimana regulasi diri dalam diri MJ untuk mewujudkan potensi dirinya yang terbaik ?. beberapa catatan diabwah ini sebagian diambil dari buku Prof. Carol Dweck (Pakar Psikologi dari Stamford University) yang berjudul Mindset.

How Exercise May Help the Memory Grow Stronger – Tofaş Akademi
Belajar, berjuang dan bertumbuh

Beberapa strategi yang berkaitan dengan SRL yakni sebagai berikut

1. Learn how to organize task (Belajar bagaimana mengorganisasi tugas)

Lapangan basket saat MJ sekolah, adalah saksi biksu dimana saat itu MJ berangkat sekolah lebih pagi daripada teman-temannya yang lain, untuk apa ?, MJ berangkat lebih pagi daripada teman-temannya yang lain karena ingin menambah jam latihannya.

Akumulasi latihan sepanjang hari, berjam-jam, itulah yang akhirnya mengkristal menjadi skill yang melekat pada diri MJ.

2. Learn how to set and plan your goals (Menentukan goals/tujuan dalam kehidupan)

Karena ditolak sebagai pemain utama di klub basket sekolahnya, MJ memiliki goals yang jelas bahwa tujuannya dalam waktu dekat adalah dipilih menjadi pilihan utama pelatih.

Goals yang jelas dan terukur ini akan membantu untuk terus berjuang mencapai titik terbaiknya. Mode S-M-A-R-T dibawah ini juga bisa membantu membuat Goals. Secara spesifik akan dibahas pada tulisan lainnya.

Merancang goals dengan pendekatan SMART

3. Keep records and monitoring (Rekam dan tetap monitor)

Karena telah memiliki goals yang jelas, MJ memfokuskan pada kelebihan yang ada pada dirinya, yakni kecepatan.

Kecepatan ini yang terus menerus diasah, dikembangkan dan terus menerus dilatih hingga mencapai titik terbaiknya.

Manusia, dan seperti kita pada umumnya, selalu memiliki kekuatan/kelebihan terbaik yang biasanya hanya kita (atau coach kita) yang mengetahui. Alih-alih daripada menyesali dan menangisi kelemahan-kelemahan kita, lebih baik optimalkan kekuatan-kekuatan yang kita punya.

4. Rehearse and memorize

Cari waktu, sarana, dan kesempatan terbaik untuk terus menerus kembangkan diri. Jika bukan kita yang kembangkan, maka siapa lagi ?. yakin lah bahwa kita bisa dan mencapai titik terjauh setiap harinya.

Empat hal diatas merupakan salah satu upaya untuk tetap kembangkan SRL dimasa saat ini. Semoga dapat mendorong kepada segenap siswa untuk tetap dapat bertumbuh dan berkemajuan.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

PART 1 – Menanamkan Self Regulated LEarner untuk siswa saat belajar dari rumah

Siswa Mengaku Bingung dengan Penerapan Belajar Jarak Jauh
Belajar dari rumah sebagai aktivitas utama siswa ketika masa pandemi

Masa belajar dari rumah yang telah berlangsung dari bulan Maret 2020 yang lalu membuat banyak pihak harus menerima dengan sukarela ataupun terpaksa. Catatan dari UNESCO lebih dari 91 % siswa diseluruh dunia mau tak mau harus belajar dari rumah, sehingga pembelajaran berlangsung melalui daring. Kondisi ini tidak ada yang bisa memprediksi akan berlangsung sampai kapan, termasuk juga di Indonesia.

“Emergency Exit” ini menurut mas menteri Nadiem, adalah pilihan pahit yang harus dipilih dalam rangka untuk menjaga kesehatan dan keselamatan para siswa, guru dan warga sekolah.

Dalam prakteknya, tidak ada yang mudah dalam menjalankan kebijakan belajar dari rumah ini, mulai dari kesenjangan jaringan internet didaerah-daerah “blank spot” di Indonesia, hingga kepemilikan gawai yang belum merata diantara orang tua dan siswa.

Interaksi yang minim (hanya 20,1 %) antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran memberikan kontribusi “saham” terjadinya miskom pembelajaran, walhasil pembelajaran yang harusnya berfungsi membelajarkan, siswa menilai perubahan mode menjadi pemberian tugas yang bertubi-tubi, sehingga kondisi stress saat belajar di rumah tidak hanya dialami oleh siswa saja, namun orang tua juga ketiban tugas-tugas ini.

Infografis | Masalah Belajar Jarak Jauh

Selain hal-hal yang terurai pada infografis diatas, ada masalah mendesak tentang bagaimana siswa (dari berbagai level sekolah) dapat mengoptimalkan waktunya selama berada di rumah. Hal ini jugalah yang menjadi keluhan banyaknya orang tua tentang efektivitas waktu anak-anaknya belajar dari rumah, yang notabene lebih banyak waktu “nge-game” via gadget nya, dari pada belajarnya. Tak jarang, kondisi ini mengakibatkan adanya kondisi saling menyalahkan antara pihak orang tua dengan pihak sekolah.

Kemandirian Belajar

Sekilas, dengan banyaknya waktu saat di rumah, Siswa diharapkan akan dapat belajar dan mengeksplorasi banyak hal.

Banyak nya opsi kegiatan pembelajaran lainnya yang bisa dipilih, mulai dari memasak, berkebun, membantu orang tua dalam melakukan pekerjaan rumah juga menjadi kesempatan terbaik untuk mengambil “jeda” diantara rutinitas pengerjaan tugas-tugas sekolah.

14 Hari di Rumah Harus Tetap Asik dan Bermanfaat | Sahabat Keluarga

Namun melimpahnya waktu yang tersedia ketika di rumah dan banyaknya opsi untuk melakukan banyak hal, apakah menjamin terjadinya belajar efektif ?.

Memposisikan saat belajar di sekolah dengan di rumah adalah sama persis, sepertinya kurang bijak. Saat di sekolah dimana keseluruhan jadwalnya sudah diatur sedemikian rupa, guru masuk ke kelas-kelas dengan topik dan materi yang sudah ditentukan, terjadilah pembelajaran. Namun saat di rumah, memposisikan siswa seolah2 berada di sekolah, kondisi ini menjadi banyak tantangannya (sekaligus masalahnya). Namun ada hal dimana mentrigger keterlibatan siswa dalam proses pembelajarannya sendiri, akan dapat menopang pembelajaran menjadi lebih menantang sekaligus asyik dari sisi siswa.

Pada pendekatan Student Centered Learning (SCL) dimana siswa berperilaku sebagai pusat belajar, sesungguhnya siswalah yang memiliki otonomi sepenuhnya, menentukan waktu nya, materinya, sekaligus caranya.

SCL memberikan kesempatan pada siswa untuk mengorganisasi dirinya, sehingga kemandirian belajar ini akan tumbuh secara internal yang pada akhirnya, siswa memilih tantangannya sendiri, lambat laun keinginan belajar itu datang karena dirinya ingin belajar, bukan karena paksaan orang tua atau guru-gurunya.

K. Gallie, D. Joubert. Faculty of Arts, Health and Sciences,
Central Queensland University. Oktober 2004

Kalau siswa sudah semakin mandiri dengan pembelajarannya, lalu dimanakah peran guru ?. ketika pada Teacher centred (pembelajaran berpusat pada guru) Guru berfungsi untuk mengirim (transmitter) struktur pengetahuan, maka pada tahap SCL, guru memfasilitasi pemahaman dan pembangunan kapasitas intelektual, seperti disampaikan pada K. Gallie dkk (K. Gallie, D. Joubert. Faculty of Arts, Health and Sciences, Central Queensland University. Oktober 2004).

Self Regulated Learner (SRL)

Pintrich (2000) dan Zimmerman (2002) mendefinisikan bahwa SRL adalah proses aktif dan konstruktif dimana pembelajar menentukan target belajarnya sendiri, lalu mencoba untuk memonitor perkembangannya, membuat regulasi (waktu, penghargaan dan konsekuensi) dan mengontrol motivasi, perilaku, terbimbing dandibatasi oleh goals/target dan mengkondisikan lingkungan belajarnya.

Secara singkat ada 4 faktor yakni sebagai berikut

  1. Perencanaan dan setting goal
  2. Monitoring/evaluasi diri
  3. Kontrol (waktu, motivasi, lingkungan)
  4. Refleksi
Fig. 1

Pembelajar-pembelajar unggul sejatinya mereka lahir bukan karena semua talent (bawaan) dari lahir, namun berkat dari proses dan desain yang baik terkait dengan proses belajarnya.

Tulisan berikutnya akan membahas tentang komponen penting, strategi dan penerapan Self Regulated Learner, tetap selalu simak ya.

Semoga bermanfaat.