28/09/2022

dedysetyo.net

Berbagi Semangat, Menyebarkan Inspirasi..

Ketika Pena menjadi Alat Pembebas

Menjelang Masa Orientasi Siswa Baru

Menjelang tahun ajaran baru seperti saat ini, banyak persiapan yang dilakukan oleh sekolah. Rapat kerja, pelatihan, termasuk persiapan menyambut siswa baru yang sebentar lagi akan datang. Sudah tak sabar rasanya melihat wajah-wajah baru, mereka seperti keluarga baru di sekolah kami. Jika di sekolah lainnya dinamakan Masa Orientasi Siswa (MOS), di tempat kami dinamakan Matriks (Masa Ta’rif dan Kepemimpinan Siswa), muatannya tetap sama, bagaimana memberikan pembekalan sebelum siswa-siswa baru ini memasuki masa belajarnya.

Sebagai sebuah sekolah berasrama (boarding school) yang semua siswanya tinggal pada area yang sama, setiap hari banyak kemudahan yang dimiliki, diantaranya interaksi yang dapat terjadi tidak hanya saat jam sekolah saja, waktu yang lebih fleksibel, program sekolah yang lebih bervariasi, serta kemudahan mengakses siswa selama 24 jam sebagai bagian dari program edukasi. Namun disisi yang lain, keberagaman latar belakang siswa dari berbagai penjuru tanah air bahkan ada yang dari luar negeri, jika tidak bisa dikelola dengan baik, akan menjadi masalah berarti. Bagaimana tidak, asal siswa yang berasal dari berbagai macam daerah, suku, bahasa, adat budaya, dan dialektika, membuat pendekatan sampai dengan gaya komunikasi juga harus relevan. Diantara mereka saja, keberagaman ini juga harus dipahami sebagai wahana belajar sekaligus penyiapan bahwa ketika nanti bermasayarakat, akan dihadapkan pada heterogenitas yang kurang lebih sama.

Saya teringat dengan satu guru inspiratif yang kisahnya diangkat menjadi film, beliau berhasil menyelesaikan permasalahan yang dihadapi terkait dengan problem kompleks heterogenitas di sekolahnya. Berharap ada pelajaran penting yang bisa diambil hikmahnya.

Guru Inspiratif

Namanya Erin Gruwell, kisahnya pernah diangkat pada film “Freedom Writers” yang dirilis pada tahun 2007. Erin menjadi seorang guru yang menginspirasi, karena berhasil mendidik kelas yang tadinya sarat dengan kekerasan antar geng dan rasialisme menjadi kelas yang bersemangat untuk belajar dan merubah nasibnya.

Poster Film “Freedom Writers” (2007)

Awal mula bertugas sebagai guru sastra baru, Erin memiliki mimpi besar tentang pembelajarannya di kelas. Namun tak terlalu lama ketika berinteraksi dengan siswa-siswa di kelasnya, Dia baru sadar bahwa mimpi nya nampaknya harus disimpan dalam-dalam sebelum masalah utama para siswanya yang dibawa dari rumah terurai.

Konflik antar warna kulit

Konflik dan kekerasan antar geng memang menjadi mimpi buruk bagi daerah konflik di Long Beach, AS pada sepanjang dekade 90an. Anak-anak disana tidak segan-segan berkelahi didepan banyak teman-temannya yang beda “warna”, bahkan mereka terkotak-kotak sejak awal karena kerusuhan antar warna kulit. Senjata ilegal menjadi pelengkap kegawatan yang terjadi di sekolah itu, karena bisa-bisa setiap saat ada anak yang terluka setelah cek-cok mulut tak berkesudahan. Seolah-olah keributan menjadi rutinitas sehari-hari yang menjadi pemandangan biasa, dalam kondisi seperti ini pembelajaran Erin menjadi tidak “normal” sebagaimana harapan.

Jurnal Pribadi untuk berkisah

Erin menyadari betul bahwa masalah utama (dari rumah) mereka harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum yang lainnya. Erin mengemas pembelajarannya dengan memberikan kesempatan kepada semua siswa nya untuk menuliskan uneg-uneg, kegundahan, masalah berat baik dari masa lalu ataupun yang baru saja terjadi. Erin menyediakan buku tulis kosong sejumlah banyak siswa untuk bisa dituliskan sebagai jurnal peribadi. Dirinya juga memberikan kebebasan, apakah siswanya memperkenankan kisahnya untuk dibaca dirinya setelah lebih dari sepekan ditulisi.

Erin berinteraksi dengan siswanya

Sebagai informasi, metode Erin ini juga terinspirasi dari kisah Anne Frank, seorang anak yang pada masa pembantaian nazi meloloskan diri dari satu tempat ke tempat yang lain dengan sembunyi-sembunyi.

Tak dinyana, ternyata semua siswa membolehkan kisahnya dibacanya. Erin secara teratur membaca halaman demi halaman tulisan siswanya, bahkan hingga larut malam masih berada di kelasnya. Dari hampir semua kisah yang dibaca, banyak “luka batin” yang terjadi dari siswa-siswanya. Ada yang keluar masuk penjara dari semenjak remaja, kekerasan fisik dari orang tua dari kecil, sampai dengan konflik antar ras mewarnai lika-liku kehidupan siswanya. Erin memahami betul, dengan mengetahui kehidupan siswanya diluar kelas, akan mengasah kepekaan dan empatinya saat berada didalam kelas.

Kunjungan ke museum

Kemudian dengan ide yang dimiliki, Erin mengajak para siswanya dengan uang pribadinya untuk berkunjung ke museum korban Holocaust di Washington DC. Mereka disana melihat banyak rekaman peristiwa tragis, catatan, video dokumenter dan membuat larut para siswanya untuk menyimak detik demi detik peristiwa kelam yang tercatat dalam sejarah terjadi pembantaian jutaan orang itu. Tidak berhenti disitu, mereka langsung bertemu dengan para saksi hidup, dan mendengar secara langsung penuturan dari para korban yang telah lansia.

Singkat cerita, dengan melihat peristiwa dan mendengar penuturan langsung membuat para siswa jadi menyadari bahwa kisah mereka pada dasarnya belum seberapa jika dibandingkan dengan kisah para korban. Hal ini menjadi titik balik para siswanya untuk berubah menjadi lebih baik. Para siswanya menjadi lebih sadar bahwa masalah pelik tidak hanya dihadapi oleh dirinya semata. Kesadaran itu menjadi kepekaan diri yang merubah mereka perlahan-lahan menjadi lebih baik. Akhirnya sampai dengan kelulusan, Erin diundang menjadi guru istimewa yang menggoreskan kenangan indah bagi para siswanya.

Para siswa Erin berkumpul

Kesempatan memproduksi teks

Metode Erin dengan memberikan kesempatan siswa untuk memproduksi teks dan menyerap informasi dari berbagai sumber, berhasil menanamkan kepedulian, rasa empati yang akhirnya berubah menjadi solidaritas, baik untuk sesama teman ataupun bagi orang-orang diluar lingkaran mereka. Kelas yang pada awalnya “runyam”, menjadi kelas yang hidup dan menyebarkan kepedulian dan rasa cinta kepada sesama. Yang pada akhirnya berhasil merubah manusia yang semula “terpenjara” dengan masa lalu, berubah menjadi kebebasan untuk berkehendak dan menyiapkan masa depan menjadi lebih baik.

Upaya Erin Gruwell berhasil, akhirnya beliau mendirikan yayasan Penulis Kebebasan (Freedom Writers Foundation), dengan adanya organisasi ini, mengajarkan kepada guru di seluruh dunia untuk menghargai semua potensi baik yang dimiliki peserta didik untuk mencapai keunggulannya dalam menggapai cita-citanya.

 

 

 

 

 

 

%d bloggers like this: