Hari Selasa, tanggal 23 Desember 2025 menjadi salah satu hari yang berkesan dalam perjalanan saya berbagi praktik baik di dunia pendidikan. Bertempat di SMK Informatika Bina Generasi (IBG), Ciomas, Bogor, saya dipercaya menjadi narasumber In House Training (IHT) dengan tema “Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) dalam Pembelajaran.”
Sejak pukul 08.00 WIB, ruang pelatihan mulai dipenuhi oleh sekitar 56 guru SMK IBG dari berbagai mata pelajaran. Hingga sore hari sekitar 15.00 WIB, suasana belajar terasa intens tetapi tetap cair. Diskusi, praktik, dan tawa kecil sesekali muncul, menandai proses belajar orang dewasa yang hidup.
Dari Tren Teknologi ke Kebutuhan Pembelajaran
Pelatihan ini tidak dimulai dari aplikasi, apalagi dari istilah teknis yang rumit. Saya justru mengajak peserta mundur selangkah, untuk melihat persoalan yang lebih mendasar: bagaimana guru berpikir ketika menghadapi masalah pembelajaran di kelas.
Di sinilah computational thinking menjadi pintu masuk. Koding dan kecerdasan artifisial tidak saya posisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat bantu berpikir. Dengan pola pikir yang terstruktur, guru dapat memetakan masalah, menyusun logika, dan merancang solusi pembelajaran yang lebih relevan dengan kondisi siswa SMK saat ini.
Pendekatan ini penting, karena teknologi akan terus berubah, tetapi cara berpikir sistematis akan selalu relevan.

Belajar AI Tanpa Takut Teknologi
Memasuki sesi praktik, barulah peserta berinteraksi langsung dengan teknologi. Dua platform utama yang digunakan adalah Google Gemini dan ChatGPT. Keduanya diperkenalkan bukan sebagai “mesin jawaban”, melainkan sebagai asisten berpikir yang bisa membantu guru merancang pembelajaran.
Para guru belajar menyusun instruksi yang tepat, berdialog dengan AI secara kritis, dan mengarahkan teknologi sesuai kebutuhan mapel masing-masing. Menariknya, sebagian besar peserta tidak memiliki latar belakang pemrograman. Namun dengan pendekatan yang tepat, hambatan itu perlahan hilang.
Yang muncul justru rasa ingin tahu dan keberanian untuk mencoba.
Dari Konsumen Menjadi Kreator Pembelajaran
Puncak pelatihan terjadi di sesi akhir. Para guru tidak berhenti pada tahap mencoba, tetapi melangkah lebih jauh dengan membuat aplikasi sederhana yang bisa langsung digunakan dalam pembelajaran. Aplikasi yang lahir beragam, mulai dari alat bantu refleksi belajar, media simulasi pengambilan keputusan, hingga aplikasi pendamping pembelajaran yang kontekstual dengan dunia siswa SMK.
Perwakilan peserta kemudian mempresentasikan hasil karyanya. Di momen ini, terlihat jelas perubahan peran guru. Mereka tidak lagi sekadar pengguna teknologi, tetapi mulai bertindak sebagai perancang solusi pembelajaran berbasis koding dan kecerdasan artifisial.
Diskusi antarguru pun berkembang secara alami. Bukan lagi soal “AI bisa apa”, melainkan “bagaimana ini bisa memperbaiki pembelajaran di kelas saya”.

Respons Peserta: Baru, Relevan, dan Membantu
Dalam sesi refleksi, banyak peserta menyampaikan bahwa materi Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial merupakan pengalaman baru bagi mereka. Namun justru karena itu, pelatihan ini terasa relevan dan membuka wawasan.
Mereka merasakan bahwa pemanfaatan AI dapat membantu mempercepat perencanaan pembelajaran, memunculkan ide-ide baru, dan membuat proses mengajar menjadi lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa. Bagi sebagian guru, pelatihan ini menjadi titik awal untuk lebih percaya diri menghadapi perubahan teknologi pendidikan.
Catatan Penutup: Transformasi Dimulai dari Cara Berpikir
Pelatihan IHT di SMK Informatika Bina Generasi ini kembali mengingatkan saya bahwa transformasi pembelajaran tidak dimulai dari alat, tetapi dari cara berpikir guru. Ketika pola pikirnya tepat, koding dan kecerdasan artifisial akan menemukan perannya sendiri sebagai mitra strategis dalam pembelajaran.
Dari ruang pelatihan di Ciomas, Bogor, saya melihat optimisme yang nyata. Guru-guru SMK IBG tidak hanya belajar teknologi, tetapi sedang menyiapkan diri untuk menjadi pendidik yang lebih adaptif, reflektif, dan inovatif di era kecerdasan artifisial.

Semoga bermanfaat.
Salam hangat,
Dedy Setyo