Growth Mindset For Teacher : Sesi Pertama

Author

  • Dedy Setyo Afrianto adalah seorang kandidat doktor (Ph.D) dari IPB University dengan fokus riset pada strategi transformasi sekolah swasta. Beliau memiliki rekam jejak luas sebagai Direktur Pendidikan, serta narasumber pengembang digitalisasi pembelajaran di berbagai lembaga pemerintahan dan swasta.

    Diskusi lebih lanjut dapat melalui e-mail : dedysetyo@apps.ipb.ac.id atau masdymail@gmail.com atau lebih lengkap

Catatan : Artikel ini disusun dalam rangka untuk memenuhi series pelatihan Growth Mindset For Teacher. Jika Anda berminat mengikuti secara runtut, sila menuju kategori Growth Mindset

==

“Sebagai Pendidik, pernah nggak, saat mengajar di kelas, kita mendengar siswa bergumam: ‘Pak, saya memang nggak bisa setting jaringan’, atau ‘Bu, dari dulu saya nggak berbakat di komputer’?”

Sebagai guru, momen itu sering bikin kita berpikir: apakah benar siswa kita memang tidak bisa berkembang, atau sebenarnya mereka hanya terjebak pada cara pandang yang salah tentang kemampuan? Di sinilah pentingnya memahami growth mindset. Bukan sekadar teori psikologi, mindset ini adalah cara pandang yang bisa mengubah cara siswa belajar, bertahan, bahkan berprestasi di bidang Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Artikel ini akan menemani Anda melihat bagaimana sebuah pola pikir sederhana bisa membuat perbedaan besar di ruang kelas.

Handout Pre-Meeting – Sesi 1

A. Mindset: Fondasi Pemahaman

❓ Pertanyaan untuk Anda

Pernahkah Anda mendengar siswa berkata:

“Saya memang tidak bisa setting IP, Pak.”

“Saya tidak berbakat di jaringan, jadi percuma belajar.”

Kalimat seperti itu sering muncul di ruang kelas TKJ. Pertanyaannya: apakah benar kegagalan awal berarti kemampuan berhenti berkembang? Ataukah kegagalan hanya tanda bahwa siswa perlu cara belajar yang berbeda?

See also  Perencanaan Mengajar Flipped Classroom

B. Cerita Michael Jordan: Dari Gagal Masuk Tim ke Legenda Basket

Michael Jordan, nama yang kini identik dengan “pemain basket terbaik sepanjang masa”, justru memulai perjalanannya dengan sebuah kegagalan pahit. Saat SMA, ia ditolak masuk tim basket sekolah karena dianggap tidak cukup tinggi dan kurang berbakat.

Bagi banyak remaja, penolakan seperti ini bisa menjadi pukulan berat dan alasan untuk berhenti mencoba. Tapi Jordan tidak menyerah. Ia menggunakan rasa kecewa itu sebagai bahan bakar. Ia berlatih lebih keras daripada teman-temannya—datang lebih awal, pulang lebih lama, dan terus menyempurnakan tekniknya.

Hasilnya? Ia bukan hanya masuk tim di tahun berikutnya, tetapi kemudian menjadi ikon global NBA, memenangkan enam gelar juara, dan meninggalkan warisan besar dalam dunia olahraga. Cerita Jordan menunjukkan bahwa kegagalan bukan penentu akhir, melainkan titik awal bagi mereka yang memiliki growth mindset.

Legenda NBA Michael Jordan pada tahun 1988

C. Materi Utama

Fixed mindset → keyakinan bahwa kemampuan bersifat tetap, lahir dari bakat, dan sulit diubah.

Growth mindset → keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang dengan usaha, strategi tepat, dan dukungan.

Siswa TKJ dengan fixed mindset cenderung mudah menyerah saat konfigurasi jaringan gagal atau komputer tidak bisa booting. Mereka bisa berkata, “Saya memang tidak bisa ini.”

Sebaliknya, siswa dengan growth mindset akan mencoba lagi: memeriksa kabel LAN satu per satu, mengecek IP address, melakukan ping test, atau membaca ulang dokumentasi. Mereka menganggap error bukan hambatan, melainkan clue untuk belajar lebih dalam.

Guru TKJ yang menumbuhkan growth mindset akan menekankan proses troubleshooting sebagai bagian wajar dari pembelajaran, bukan sebagai tanda ketidakmampuan.

️D. Exercise True/False – Sesi 1

1. Michael Jordan langsung diterima masuk tim basket SMA tanpa hambatan.

See also  Strategi Perubahan Pembelajaran dari Kelas Tradisional Menuju e-learning

2. Penolakan awal justru mendorong Jordan untuk berlatih lebih keras.

3. Fixed mindset membuat siswa TKJ mudah menyerah saat konfigurasi gagal.

4. Growth mindset membantu siswa melihat error jaringan sebagai clue untuk belajar.

5. Guru TKJ tidak berpengaruh dalam membentuk mindset siswa.

✨ Menyadari pentingnya growth mindset adalah langkah pertama yang bisa mengubah cara kita mendidik. Sebagai guru TKJ, kita tidak hanya mengajarkan cara setting IP, merakit komputer, atau mengelola jaringan. Lebih dari itu, kita membentuk pola pikir siswa agar berani mencoba, tidak takut gagal, dan terus bertumbuh.

Kisah Michael Jordan tadi mengingatkan kita: kegagalan bukan penentu akhir, tapi titik awal untuk melangkah lebih jauh. Semoga setelah membaca ini, kita makin semangat menularkan semangat “belajar dari error” ke siswa-siswa kita.

Di sesi berikutnya, kita akan membahas bagaimana mindset siswa terbentuk di sekolah, termasuk peran guru dalam memberi pujian, kritik, dan membangun budaya kelas. Siap melihat bagaimana kata-kata sederhana kita bisa membentuk masa depan siswa?

Leave a Comment