Menjadi Narasumber Cyber Security Education Badan Siber dan Sandi Negara

Menjadi Narasumber Cyber Security Education Badan Siber dan Sandi Negara

Memasuki masa pandemi yang terbilang panjang ini, hampir semua aktivitas manusia bergeser yang tadinya menggunakan jalur-jalur konvensional berubah menjadi online. Hootsuite mencatat per bulan Januari 2021, bahwa sekira 202,6 juta terhubung setiap harinya di Indonesia, angka ini juga merupakan 73,7 % dari jumlah populasi yang ada di Indonesia.

Angka yang tidak kecil ini juga memiliki potensi besar bahwa lalu lintas perdagangan online, pembelajaran jarak jauh, meeting online dan berbagai macam aktivitas online lainnya akan senantiasa menggerakkan berbagai sektor urusan manusia sehari-hari. Memudahkan, efisienkan waktu, biaya dan tenaga. Namun dibalik berbagai macam kemanfaatannya, bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, selalu menyimpan potensi kejahatan, penyalahgunaan, dan berbagai macam hal yang apda akhirnya mengakibatkan kerugian manusia.

Laporan Indonesia Cyber Security Independent Resilience Team (CISRT) yang dilansir oleh katadata.co.id pada 25 Juni 2021 menyebutkan, kerugian materil dari kebocoran 279 juta data peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan mencapai Rp 600 triliun. Ahli informasi dan teknologi menilai, ini karena data kependudukan dieksploitasi. Perhitungan itu berdasarkan dampak peretasan nomor kontak pribadi dan akun media sosial secara masif. Data-data ini bisa dimanfaatkan untuk kejahatan siber seperti penggunaan pinjaman online yang tidak bertanggung jawab.

Grafik diatas menunjukkan bahwa hampir setiap tahun, semenjak tahun 2016 (dimana intensitas koneksi online belum semassif saat pandemi) menggambarkan bahwa sedikitnya 1400 kasus penipuan online tiap tahun terjadi. Hal ini tentu saja sangat meresahkan pengguna online dengan berbagai kepentingannya.

Merujuk pada bulan April 2021, kita juga dihebohkan dengan bocornya data pengguna facebook yang hampir mencapai 533 juta user. Masih ditambah juga dengan Tokopedia 15 juta pengguna, Gojek dan berbagai kebocoran lainnya.

Padahal, tidak bisa dipungkiri bahwa dimasa depan kita tidak akan pernah bisa melepaskan diri dengan ekosistem digital yang dari saat ini  juga sudah sering sekali kita andalkan untuk menyelesaikan urusan sehari-hari.

Dengan berbagai keresahan diatas, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) berkeinginan untuk merancang bagaimana penerapan keamanan siber dimulai dan dikawal dari sektor pendidikan. Karena disadari bahwa generasi sekarang inilah yang nantinya akan hidup dan tinggal pada masa-masa yang akan datang dimana keamanan siber menjadi hal yang mutlak dimiliki oleh warga negara.

Bersama dengan rekan-rekan dari BSSN, saya bersama dengan seorang teman, Mas Imron namanya, ikut berdiskusi bagaimana cyber security ini akan menjadi bagian dari penerapan kurikulum.

Target pelaksanaan agenda ini adalah penyusunan instrumen untuk riset K12 Program Cybersecurity Education tahun 2021. Sehingga pasca kegiatan ini akan tersusun instrumen yang diharapkan.

Berikut merupakan sertifikat sebagai nara sumber setelah pelaksanaan kegiatan.

Semoga bermanfaat dalam membantu penyusunan program cybersecurity education.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: