01/12/2022

dedysetyo.net

Berbagi Semangat, Menyebarkan Inspirasi..

Berdamai dengan Warisan Pandemi

Alhamdulillah, artikel ini masuk dalam 5 terbaik kompetisi yang diselenggarakan oleh PPI Uni Emirat Arab.

Selamat membaca.

===

Kisah Lungsuran

Anak saya yang paling kecil, pagi itu tiba-tiba merengek sama ibunya, “Bu, baju ini dulu milik kakak ya ?”. Selorohnya dengan nada sedih sambil memegang baju warna hijau yang sudah terlanjur dipakainya, ternyata dia baru tahu kalau dulu ini favorit kakaknya, yang kebetulan sama-sama laki-lakinya.

Sebagian anak jaman sekarang ternyata punya gengsi yang demikian tinggi, seperti tak rela kalo apa yang dipakainya ternyata bukan barang baru. Padahal kami orang tua nya, dulu juga biasa saja memakai lungsuran barang dari kakak atau saudara kami.

Lungsuran” kalau dalam bahasa jawa, merujuk kepada barang yang selesai digunakan oleh pemilik lamanya (biasanya saudara lebih tua), lalu dipindah tangankan kepada adik-adiknya. Dengan berbagai alasan, baik masalah kepantasan ataupun efisiensi pengeluaran.

Ilustrasi baju lungsuran. Sumber : Kompas.com

Begitu juga dengan masa pandemi yang semoga saja segera beranjak pergi dari bumi pertiwi ini. Sadar atau tidak, pandemi juga memberikan “lungsuran” atau paling tidak warisan yang akan senantiasa bisa dipakai untuk masa depan kita.

Jika dipahami dengan lebih bijak, semoga ada hal baru yang bisa tetap kita optimasi untuk menatap masa depan ditengah himpitan bencana dimasa sebelumnya.

Masa Depan Digital

Eric Schmidt, CEO Google (tahun 2001 – 2011) meramalkan dalam bukunya yang berjudul “The New Digital Age: Reshaping the Future of People, Nations and Business” yang terbit pada tahun 2013, bahkan jauh hari sebelum pandemi covid19 tiba. Bahwa konektivitas yang terus meluas akan membentuk ulang (re-creating) rutinitas lama dan menawarkan jalur pembelajaran yang baru. Pendidikan akan menjadi pengalaman yang lebih luwes, menyesuaikan diri dengan gaya dan kecepatan belajar setiap anaknya.

Cover Buku “The New Digital Age: Reshaping the Future of People, Nations and Business” karya Eric Schmidt dan Jared Cohen. Sumber : Amazon.com

Senada dengan hal ini, jurnalis The New York Times Thomas L. Friedman, pemenang tiga kali Penghargaan bergengsi Pulitzer internasional, pernah menyampaikan dalam artikelnya yang berjudul “Setelah Pandemi, Revolusi dalam Pendidikan dan Pekerjaan menanti”, bahwa setelah pandemi, akan ada banyak revolusi di dunia. Dalam dunia pendidikan, salah satunya terkait dengan manajemen pembelajaran di masa pandemi saat ini, dan setelah pandemi, akan sulit bagi kita untuk kembali ke cara lama (seperti sebelum pandemi). Tampaknya pergeseran besar di sektor pendidikan ini menemukan momentumnya yang tepat setelah kita menghadapi bencana besar ini. Mempersiapkan siswa untuk rasa ingin tahu dan semangat untuk belajar akan mengubah mereka menjadi pembelajar seumur hidup yang akan mengambil kepemilikan atas pendidikan mereka, yang merupakan kunci dalam membangun fondasi yang tepat untuk masa depannya.

Warisan pandemi akan tetap memiliki value yang besar, jika keberadaannya dapat menciptakan kemajuan akseleratif. Kemajuan ini akan tetap dinikmati tidak hanya pada masa ini, namun juga masa yang akan datang. Apa saja warisan itu ?.

Belajar lebih otonom

Saat masa PJJ, dimana para siswa melakukan pembelajaran daring, sebenarnya merupakan pengalaman yang unik bagi masing-masing siswa. Dewey dalam (John Dewey, 2004) menyatakan bahwa pembelajaran dibentuk melalui pengalaman yang terus menerus dikonstruksi oleh siswa. Pengalaman ini akan menjadi “sarana” yang demikian efektif untuk membentuk pengetahuan dan pemahaman baru.

Manajemen PJJ yang efektif akan benar-benar mendesain siswa menjadi pembelajar otonom yang dapat mengatur goals, waktu, tujuan, strategi, mengevaluasi, dan meningkatkan proses yang dilaluinya. Jadi baginya, peningkatan kompetensinya adalah misi dalam diri (internal) yang dilakukan dengan atau tanpa campur tangan orang lain. Potensi awal dapat diwujudkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dan pada akhirnya berdampak pada kemajuan di masa yang akan datang.

Ilustrasi siswa sedang PJJ. Sumber : Republika.co.id

Richards (2020) memaparkan, bahwa dengan adanya pilihan aktif kepada siswa untuk terlibat dalam pembelajarannya serta tersedianya kesempatan siswa memilih medium belajarnya, akan mendorong siswa mendapatkan rasa kepemilikan yang lebih baik, yang pada akhirnya lebih terpacu dalam proses belajarnya.

Pembelajar otonom juga akan menjadi modalitas penting untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat (long life learners). Pembelajar sepanjang hayat inilah, dengan atau tanpa tahap pendidikan formal yang lebih panjang, akan tetap mencintai belajarnya sebagai medium agar tetap tumbuh serta survive dalam menjalani kehidupan, serta terampil menghadapi masalah-masalah yang ditemui.

Kolaborasi Regional dalam bidang pendidikan

Dalam pertemuan Menteri Kesehatan se-Asia Tenggara (ASEAN) ke-15 di Bali beberapa waktu yang lalu, dideklarasikan secara kolektif bahwa sertifikat vaksinasi covid19 saat ini diakui oleh seluruh negara di Asia Tenggara. Aplikasi Pedulilindungi juga sudah diterima oleh negara-negara regional ASEAN, sehingga akan sangat memudahkan mobilitas warga jika akan mengunjungi negara lainnya.

Pertemuan Menteri Kesehatan se-ASEAN. Sumber : tvonenews.com

Jika dalam bidang kesehatan kita sudah bisa saling terhubung secara global, bagaimana dengan pendidikan ?.

Masa panjang wabah ini sejatinya juga makin meneguhkan bahwa pandemi memang tidak bisa dihadapi sendirian. Keterpurukan dalam bidang kesehatan, ekonomi dan pariwisata seolah-olah menyadarkan negara-negara dalam kawasan ini untuk bekerja dan bangkit bersama.

Forum pendidikan antar kementerian pendidikan di regional ini yang tergabung dalam Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) sangat memberikan inspirasi bahwa pertukaran ide dan gagasan dalam bidang pendidikan akan membawa soliditas yang makin terasa. Ekosistem pendidikan yang baik, pada dasarnya akan memberikan banyak inspirasi kepada siswa, bahwa dimasa depan era kolaborasi seyogyanya menjadi kemestian yang terus akan berjalan dengan atau tanpa wabah.

Standarisasi pembelajaran daring dalam kawasan regional penting untuk digagas dalam rangka tetap menjadikan mutu pembelajaran sebagai “panglima”. Learning Loss (kehilangan belajar) yang kita hadapi saat masa dua tahun pandemi ini, menjadi cerminan bahwa kualitas pembelajaran daring penting untuk dibentangkan standarisasinya. Karena dengan atau tanpa pandemi, pembelajaran daring akan tetap menjadi base line dimasa yang akan datang.

Inisiasi kursus dan kuliah online

Fenomena webinar (seminar daring) yang demikian menjamur saat kita wajib work from home kemarin, menjadi penguat pesan bahwa sebenarnya belajar bisa dilakukan dari mana saja. Universitas besar dunia seperti Harvard atau Oxford University juga membuka berbagai layanan kuliah daringnya, ada yang berbiaya maupun gratis bagi yang minat dan memiliki kualifikasi. Kampus-kampus di Indonesia juga makin marak memberikan kelas-kelas onlinenya. Hal ini bahkan belum pernah terpikirkan semasif sebelumnya saat sebelum pandemi.

Di Indonesia, kesempatan serupa juga memunculkan industri baru dalam bidang kursus online. Hal ini sejatinya menjadi kabar gembira karena tidak hanya munculnya model bisnis pelatihan baru yang berkontribusi secara ekonomi, namun juga memberikan banyak kesempatan kepada masyarakat yang ingin belajar lebih dinamis.

Maka menjadi penting, pengelolaan yang makin apik terhadap hal ini akan makin memberikan kesempatan kepada seluruh segmen masyarakat dalam pemerataan pendidikan, yang pada ujungnya akan membawa kepada kompetensi baru dan kesejahteraan yang meningkat dalam kehidupannya.

Beberapa hal diatas, semoga berhasil menjadikan inspirasi bahwa selalu ada harapan dalam kesulitan, senantiasa ada asa dalam gelapnya cahaya. Dengannya, kita akan semakin mawas memetik hikmah, lebih berdamai dengan warisan pandemi.

 

%d bloggers like this: