01/12/2022

dedysetyo.net

Berbagi Semangat, Menyebarkan Inspirasi..

Merawat Pengetahuan Mengawal Kemajuan

Keluarga Medici dan Tradisi Intelektual

Keluarga Medici, merupakan contoh kaum penggerak perubahan pada abad pertengahan di Italia karena kiprahnya yang menyejarah, seperti disampaikan Prof. Clayton Christensen (Pakar Administrasi Bisnis di Harvard Business School) di bukunya yang berjudul The Innovator’s DNA. Keluarga dari Italia ini tidak hanya mapan secara ekonomi, namun tradisi intelektual yang dilakukannya secara rutin dengan mengundang berbagai pakar dari berbagai bidang ilmu seperti filsafat, matematika, seni dan ekonomi.

Para pakar yang diundang mulai dari Galileo, Leonardo Da Vinci, Michelangelo dan kawan-kawannya mengkaji berbagai isu-isu strategis dengan sudut pandang berbagai disiplin ilmu. Seperti disebutkan dalam The Innovator’s DNA, banyak inspirasi penting yang pada akhirnya melahirkan gagasan perubahan, bermula dari Italia hingga menular sampai Eropa dan memicu Renaissance (perubahan besar di Eropa). Renaissance ini konon juga mempengaruhi Christopher Columbus untuk menemukan benua baru, yang kita tahu akhirnya ditemukanlah benua Amerika pada abad ke 15.

Keluarga Medici juga memiliki perpustakaan Laurentian, yang menyimpan suatu repositori lebih dari 11.000 naskah dan 4.500 buku cetak kuno. Perpustakaan yang dimulai pembangunannya pada tahun 1523 ini merupakan saksi nyata, bahwa gagasan penting tentang perubahan, niscaya melibatkan khasanah keilmuan sebagai pondasi pentingnya. Perpustakaan ini menemani perjalanan lintas generasi keluarga Medici disana.

Perpustakaan Laurentian di Italia. Sumber : Wikipedia

Ilmuwan muslim legendaris

Begitu juga dengan peradaban Islam, tokoh-tokoh ilmuwan muslim legendaris seperti Al-Khawarizmi, Al-Khindi dan Al-Farghani adalah produk “by design” bagaimana ilmuwan ternyata bisa dilahirkan. Khalifah Ma’mun Al Rasyid membuat ekosistem yang strategis untuk menumbuh kembangkan tradisi menulis, membaca, meneliti, menerjemah dan dokumentasi karya intelektual terbaik pada masanya, cara ini merupakan kiprah terbaik dalam rangka menyemai pengetahuan. Menurut Jonathan (2008), ekosistem itu ditumbuhkan melalui medium perpustakaan Bait Al Hikmah yang didukung penuh oleh khalifah. Dengan jutaan koleksi referensi yang berada didalamnya, menyediakan tempat yang kondusif, disertai juga dengan support kebijakan khalifah, untuk memproduksi gagasan dan ilmu baru yang bermanfaat bagi peradaban.

Ilustrasi Kegiatan Ilmiah di Perpustakaan Bait Al Hikmah. Sumber : mvslim.com

Tonggak kemajuan peradaban dari masa ke masa memberikan banyak contoh, bahwa poros tumbuh kembangnya peradaban adalah mencintai ilmu pengetahuan. Lalu dimanakah dia disemai ?. Sejarah menunjukkan bahwa perpustakaan memiliki kiprah yang sedemikian besar. Penghargaan yang tinggi pada perpustakaan, merupakan salah satu indikasi bahwa kita mencintai ilmu pengetahuan yang berada didalamnya.

Namun dimasa kini, Kita masih butuh upaya yang besar untuk mengembalikan lagi posisi strategis perpustakaan sebagai tempat bersemainya ilmu dan pengetahuan.

Indeks Literasi Baca

Laporan hasil penghitungan Indeks baca, dari Kemendikbud pada tahun 2019 memperlihatkan bahwa angka rata-rata Indeks baca Nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari empat indeks dimensi, antara lain Indeks Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Indeks Dimensi Akses sebesar 23,09; Indeks Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Indeks Dimensi Budaya sebesar 28,50.

Laporan Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi hal 54. Kemendikbud 2019.

Data ini senada dengan Penelitian Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Skor membaca  Indonesia berada pada ranking 71 dari 78 negara yang disurvei. Seperti tampak pada infografis berikut.

Hasil PISA 2018. Sumber : Katadata

Hal ini perlu segera untuk ditemukan muara penyelesaiannya, dengan melibatkan perpustakaan bermitra dengan lembaga pendidikan lainnya, harapannya akan muncul solusi yang komprehensif.

Namun demikian, karakteristik pengunjung perpustakaan yang saat ini mayoritas berasal dari generasi milenial dan Z perlu juga untuk menjadi perhatian agar didapatkan treatment yang sesuai harapan.

Karakteristik Generasi Z

McKinsey Company dalam risetnya pada tahun 2018 yang berjudul ‘True Gen: Generation Z and its implications for companies’ menemukan, Gen Z merupakan generasi yang sangat inklusif. Mereka tumbuh dan berkembang di era digital yang akhirnya membuat mereka tidak mempermasalahkan pertemuan secara fisik atau daring. Mereka menghargai keberadaan komunitas karena dianggap memungkinkan orang-orang dari latar belakang ekonomi berbeda untuk terhubung lantaran satu minat yang sama.

Dari paparan diatas, sebenarnya menjadi satu peluang penting bahwa Gen Z merupakan generasi yang gemar bersosialisasi. Temuan ini sejalan dengan makin banyaknya coffee shop yang menjamur disertai dengan makin banyaknya simpul-simpul pertemuan yang memungkinkan generasi ini untuk berbincang sekaligus bertukar ide.

Peluang besar ini jika diiringi dengan strategi yang apik, akan menjadi pesona baru bagi perpustakaan zaman now untuk bertransfomasi dalam rangka menggaet segmen pelajar dan mahasiswa yang notabene kebanyakan dari mereka adalah Gen Z.

Strategi meningkatkan kunjungan

Apa saja yang menarik untuk digagas dan dapat diterapkan dalam perpustakaan kita ?, sekaligus menajamkan layanan baru sebagai strategi.

1. Coffee shop dan internet kecepatan tinggi

Jika sebelumnya Gen Z membanjiri tempat-tempat seperti coffee shop untuk berbincang, bagaimana andai Coffee Shop itu yang berpindah ke perpustakaan ?. Beberapa kampus di AS juga memiliki coffee shop library seperti di UC Berkeley dan MTU di Michigan, atau untuk referensi lokal Anda bisa coba berkunjung di kampus Unair Surabaya.

Book Cafe di Unair. Sumber : https://dip.fisip.unair.ac.id

Adanya tempat yang nyaman dan cozzy, diharapkan dapat menarik minat Gen Z untuk dapat bersosialisasi sesama mereka sekaligus menambah pengetahuannya dengan membaca buku. Inovasi ini dibeberapa tempat berhasil menggaet minat anak muda untuk datang membaca buku sambil ngopi santai bersama teman-temannya.

2. Layanan kursus keterampilan, bahasa inggris/toefl dan skill lainnya.

Sebagai salah satu pusat pengembangan keterampilan, perpustakaan memiliki potensi seluas-luasnya untuk menjadi tempat berlatih bagi masyarakat yang membutuhkan. Sebagai contoh, pelatihan kompetensi penggunaan komputer untuk pencarian referensi, atau training administrasi dasar, bahkan pelatihan bahasa asing.

Layanan training komputer di Perpustakaan Portsmouth Inggris. Sumber : https://librariesandarchives.portsmouth.gov.uk

Layanan training yang dikelola dengan apik dan berkala bahkan melibatkan lembaga sertifikasi profesional dapat menjadi magnet baru untuk menyedot kunjungan perpustakaan, jika diiringi dengan paket harga yang minimalis bahkan free, akan menjadi pendorong munculnya pengunjung baru. Diskusi penulis dengan kawan yang pernah bekerja sebagai librarian di Florida Amerika, menunjukkan bahwa layanan sertifikasi ini menarik animo pengunjung baru yang sebelumnya jarang ke perpustakaan.

3. Diskusi, bedah buku dan lomba literasi berkala

Sebagai tempat tumbuhnya pengetahuan, maka mendatangkan ide-ide baru yang segar adalah kemestian, termasuk mendatangkan public figure yang berpotensi menarik generasi Z dan milenial.

Ide ini perlu dibiakkan dalam rangka menstimulus pembaca-pembaca setia sebelumnya, atau calon pembaca baru yang mulai senang dengan buku.

Bedah buku oleh seorang public figure, Ernest Prakasa. Sumber : http://dpad.jogjaprov.go.id

Beberapa strategi diatas jika bisa dikelola dengan cantik, diiringi dengan efektifnya pemasaran baik secara fisik ataupun lewat kanal media sosial sebagai tempat bersosialisasinya Gen Z, akan menambah keunggulan-keunggulan baru perpustakaan kita.

Semoga upaya-upaya ini pada akhirnya dapat mengembalikan fungsi strategis perpustakaan yang pada masanya sebagai tempat berkembangnya ilmu pengetahuan baru. Karena kita meyakini bahwa dengan merawat pengetahuan, maka kita juga ikut mengawal kemajuan. Baik kemajuan bangsa, maupun perkembangan peradaban.

 

Referensi :

  • Lyons, Jonathan (2008). The House of Wisdom. P.65
  • Christensen, Clayton (2011). The Innovator’s DNA
  • Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi. Kemendikbud 2019.
  • Mc Kinsey, True Gen: Generation Z and its implications for companies. 2018. https://www.mckinsey.com/industries/consumer-packaged-goods/our-insights/true-gen-generation-z-and-its-implications-for-companies
%d bloggers like this: