Menjadi Narasumber Desain Pembelajaran Online Kampus Kementrian Pertanian

Menjadi Narasumber Desain Pembelajaran Online Kampus Kementrian Pertanian

Masa pandemi yang sudah hampir satu tahun kita lalui ini, suka atau terpaksa mendorong diri kita, organisasi dan lingkungan kita untuk bergerak sejauh-jauhnya. Bergerak bukan untuk menghindar tentunya, namun merubah diri dan mengakselerasi perubahan untuk kemajuan organisasi.

Hal ini pula yang terjadi pada Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI), kampus yang berada dibawah naungan Kementrian Pertanian RI. Diskusi menarik yang terjadi kemarin, antara saya dengan teman2 dosen dan pimpinan kampus, menjadi salah satu sinyal, bahwa kampus PEPI ingin terus berbenah meningkatkan dan mempercepat proses belajar terbaik dilingkungannya. Saya bersyukur sekali diundang pada acara tersebut sebagai narasumber, mudah-mudahan dapat berkontribusi dalam pembelajaran yang lebih baik lagi.

Agar sampaian pada forum tersebut bisa juga diperdalam oleh para sahabat, saya coba tuliskan dalam beberapa hal dibawah. Sebagai sebuah kajian, berharap point2 ini bisa diperkaya oleh sahabat pembaca sekalian.

ADDIE Model sering saya gunakan untuk menjadi salah satu referensi agar “lompatan” kita ke fase e-learning menjadi bisa dipetakan arah jalannya, minimalnya menjawab kita akan kemana, sampai mana, dan hal apa yang perlu disiapkan. Framework ini pertama kali dirilis oleh Florida University pada tahun 2000an, yang banyak terpakai oleh Instructional Designer dalam merancang perubahan, penggunaan teknologi dalam pembelajarannya.

Apa yang seringkali didapati pada lembaga pendidikan yang tiba-tiba “berpindah” dari pembelajaran tradisional kepada online learning ?, ada cutural shock disana, kalau tidak dimaintenance dengan baik, shock ini akan berkelanjutan yang berimplikasi luas kepada segenap stake holder di lembaga pendidikan tersebut. Saya kira dimasa pandemi ini, cultural shock ini banyak didapati oleh lembaga pendidikan kita.

Pertanyaan berikutnya, apa yang seharusnya disiapkan agar tidak berkelanjutan ?

Pada tahapan “Design”, bagaimana organisasi kurikulum, sedianya menjadi satu pendekatan tersendiri, bahwa dimasa pembelajaran konvensional semua materi bisa disajikan 100% lengkap, maka pada pembelajaran online, dimana keterbatasan (akses internet, perangkat, sarana prasarana dll ) tidak hanya oleh dosen/guru, namun juga lebih banyak didapati oleh para siswa/mahasiswa. Lalu apa saja yang perlu disiapkan untuk redesign kurikulum?.

Cek kembali mana yang menjadi materi pokok, mandatory, yang wajib harus tersampaikan karena menjadi kompetensi inti. Dan jangan ketinggalan, mana yang menjadi materi pendukung, pelengkap, dan pengayaan saja. Pada bagian ini, kita akan lebih terlihat jelas, disisi mana yang akan tetap tersampaikan, dan mana yang bisa kita tunda. Kalau sahabat sekalian sudah akrab dengan ruang belajar synchronous dan asynchonous, maka sedianya materi pokok ini seyogyanya tersampaikan saat sync, lalu bagaimana dengan yang lain ?, teman-teman bisa optimalisasikan pada ruang asynchronous.

Cek juga mana materi yang bersifat pre-requisites, identitas ini penting karena disini akan menentukan materi2 yang menjadi prioitas. Materi pre requisites ini merupakan jembatan sebelum tercapainya suatu kompetensi tertentu maka dia harus dikuasai terlebih dahulu. Mirip jama dulu kita belajar menulis kalimat pada pelajaran bahasa indonesia, jika belum tuntas, maka jangan pindah ke tata cara penulisan paragraf. Karena bukan hanya menjadikan waktu tidak efisien, namun pada pemahaman peserta didik akan menjadi kebingungan nantinya.

Berikutnya, dari sisi pendekatan instructional dan delivery strategy, berbagai macam metode dan formatnya saya coba lampirkan pada tabel dibawah ini.

Teman-teman bisa melihat pada tabel diatas, bahwa untuk bisa menjelaskan, ada 4 macam minimalnya format yang bisa kita pakai. Saya mendapati bahwa hari-hari ini, mode podcast yang marak diberbagai lini masa sosial media kita, ternnyata dengan format diskusi empat mata, mengalir dan santai, terkait dengan topik-topik tertentu bisa menjadi penyampai yang baik.

Bagaimana dengan pengajaran yang berbasis skill/keterampilan ?. Lihat juga pada tabel dibawah ini

Dengan berbagai macam varian yang ada, saat ini pilihan pengelolaan pembelajaran online sejatinya lebih beragam dibanding dengan masa sebelumnya. Cek kembali dimana potensi organisasi terbaik kita agar bisa mengelola hal ini dengan baik.

Tulisan saya sebelumnya, harapannya juga bisa memberikan gambaran kepada teman-teman sekalian, bahwa dimasa pandemi ini, merupakan kesempatan baik untuk melenjitkan potensi mereka para peserta didik menjadi pembelajar otonom.

Tetap semangat, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: