Tag Archives: teknologi pendidikan

Strategi Perubahan Pembelajaran dari Kelas Tradisional Menuju e-learning

Beberapa provider e-learning menganggap bahwa jika ingin melakukan konversi dari pembelajaran tradisional kedalam pembelajaran e-learning, maka hanya tinggal memindahkan semua konten/media kedalam Learning Management System (LMS) maka pekerjaan itu sudah selesai.

Namun sebenarnya langkah ini belumlah selesai. Memindahkan semua file presentasi/bahan-bahan pembelajaran dari yang tadinya tercetak hanya menjadi via file-file saja barulah satu tahap. Jika ingin tuntas dan menyeluruh, menurut Christopher Pappas ( seorang profesional e-learning penemu jejaring The eLearning Industry) harusnya dilengkapi dengan 5 langkah berikut. Apa sajakah itu ?, mari simak kelanjutan tulisan ini. Artikel ini disarikan dari http://elearningindustry.com/.

1. Mengidentifikasi format kelas e-learning.

Langkah ini untuk memilah dan mengklasifikasi kelas pembelajaran dilakukan dengan synchronous atau asynchronous.

Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/
Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/

a. Synchronous

Pertemuan langsung/live secara waktu, bersamaan antara tutor dengan peserta didik. Pada mode ini beberapa media yang bisa digunakan antara lain : live conference, chat, broadcasting dan private message.

Dalam platform ini, tutor dan peserta didik menyepakati waktu yang akan digunakan, sehingga bisa secara real time bertemu dalam perantara jaringan internet. Dalam pembelajaran tatap muka jarak jauh ini, tutor juga memiliki kewenangan untuk memilih peserta. Untuk pelaksanaan real time conference ini beberapa provider sudah menyediakan layanannya baik secara publik atau private, secara berbayar atau gratis. Contoh provider yang telah mengembangkan layanan ini  antara lain Skype, Open Meeting, Big Blue Button, Google HangOut dll.

b. Asynchronous

Pertemuan antara tutor dan peserta didik tidak secara langsung, terdapat delay antara penyediaan media dan pembelajaran yang terjadi. Contoh media  yang digunakan : Forum, gambar, video, sound, e-mail dan teks.

Terjadinya delay waktu antara penyediaan media dengan pembelajaran, memberikan waktu lebih banyak kepada peserta didik untuk bisa mendalami lebih lanjut materi yang telah disediakan. Selain itu, peserta didik juga diberikan keluangan untuk mengkaji materi-materi dari sumber yang lain untuk pengkayaan bahan ajar. Salah satu kelemahan yang ditemukan pada mode ini adalah jika adanya pertanyaan atau topik diskusi yang membutuhkan klarifikasi atau jawaban dari tutor maka membutuhkan waktu yang sangat tentative, tergantung dari kesediaan tutornya. Walaupun begitu, tentu saja sumber belajar tidak hanya berasal dari tutor semata, namun bisa juga didapatkan dari rekan sejawat.

c. Hybrid/Blended Learning

Ini kombinasi mode antara synchronous dengan asynchronous dimana fase ini biasanya ditempuh untuk masa adaptasi penerapan e-learning di masa-masa awal. Mode ini memungkinkan adanya mixed penerapan e-learning dengan kelas tradisional, adapun berapa persentasenya (antara e-learning dengan tradisional) tergantung dari masing-masing institusi. Sebagai gambaran jika dilakukan fifty-fifty semisal untuk pertemuan 10 x, maka 5x dilakukan dengan konvensional dan 5x dengan e-learning. Kombinasi inipun dalam perjalanannya bisa berkurang/bertambah tergantung dari masa transisi dan evaluasi.

Sebagai ilustrasi seperti nampak pada gambar dibawah ini (pengajaran berbahasa asing).

chart-blended

Dari 3 pendekatan kelas pembelajaran diatas , jika ingin memilih, secara pribadi saya lebih merekomendasikan menggunakan Blended Learning. Hal ini didasari oleh kebutuhan, bahwa proses adaptasi dari pembelajaran tradisional tentu saja membutuhkan waktu dan persiapan yang tidak sedikit. Walaupun begitu, pemegang kebijakan dan pelaksana lapangan harus menyepakati kapan pelaksanaan blended ini akan dilakukan evaluasi dalam rentang waktu tertentu. Sebagai alat bantu evaluasi, berikut saya sajikan tabel untuk analisis keterlaksanaan mode blended ini.

evaluasi

Sebagai sebuah komponen evaluasi, form diatas bisa disesuaikan dengan kebutuhan institusi. Jika nilai telah beranjak naik dari waktu ke waktu, mode blended ini bisa berubah prosentasenya.

2. Pemilihan Model Desain Instruksional

Menurut Marina Arshavskiy (2013), Model Desain Instruksional pada e-learning sendiri paling tidak terdiri dari 7 tipe.

a. ADDIE Model

b. Seels and Glasgow ISD Model

c. Dick and Carrey Systems Approach Model

d. ASSURE Model

e. Rapid ISD Model

f. Four-Door (4 D) eLearning Model

g. SAM Model

Akan coba saya paparkan ADDIE dan ASSURE karena sering dipakai dalam pengembangan sistem.

ADDIE Model kepanjangan dari Analyze (analisis), Design (desain), Develop(membangun), Implement (terapkan), dan Evaluate (evaluasi). Model ini cukup umum dikenal sebagai model yang fleksibel yang sering dipakai untuk pengembangan sistem. Disiapkan untuk membantu proses step by step yang membantu sistem desainer untuk membuat program yang sesuai dengan framework.

Kemudian untuk ASSURE Model

dikembangkan oleh Heinich, Molenda, Russell dan Smaldino, berdasarkan 9 even Instruksional Gagne. Model ini mengasumsikan bahwa desain kelas menggunakan berbagai tipe media dan secara khusus sangat bermanfaat untuk desain kelas e-learning.

ASSURE kepanjangan dari:

  • A – Analyze Learner (Menganalisis Pembelajar)
  • S – State Objectives (Menentukan Tujuan Pembelajaran)
  • S – Select Media and Materials (Memilih media dan materi)
  • U – Utilize Media and Materials (Menggunakan media dan materi)
  • R – Require Learner Participation (Membutuhkan partisipasi pembelajar)
  • E – Evaluate and Revise (Evaluasi dan revisi)

ASSURE-Model

assure-model

Kemudian untuk membandingkan diantara 2 model tersebut, silakan disimak melalui tabel berikut

tek 3

Pada Assure terlihat bahwa evaluasi dilakukan pada akhir fase, sedanggkan pada Addie evaluasi dilakukan pada masing-masing step.

Untuk pemilihan modelnya silakan bisa memilih diantara Assure atau Addie, atau bisa juga dilaukan kolaborasi diantara keduanya.

3. Menggunakan dan memperhatikan interaksi

Menurut Moore (1989), salah satu pioner dan pakar dalam pembelajaran jarak jauh, serta editor American Journal of Distance Education dalam pembelajaran jarak jauh, setidaknya akan terjadi 3 interaksi :

a. Pembelajar pada konten

Merujuk pada poin ini, perhatian dari pembelajar kepada konten materi memegang peranan penting akan tingginya serapan pembelajaran. Sehingga penyedia materi yang baik seyogyanya memperhatikan faktor ini sebagai faktor penyukses pembelajaran dengan cara mengkonstruk materi dengan cara yang kreatif, inovatif dan interaktif.

b. Pembelajar pada tutor

Tutor yang baik dalam pembelajaran jarak jauh, walaupun tidak dituntut untuk selalu online 24 jam, namun kesediaan membantu pembelajar akan menjadi nilai plus. Apalagi dengan karakter sebagian besar pengguna yang lebih ‘touching’ ketika berinteraksi dengan manusia.

c. Pembelajar pada pembelajar yang lain

Kita sadari sepenuhnya bahwa pada model pembelajaran jarak jauh, siapa saja dapat menjadi narasumber. Sehingga sistem e-learning tidak hanya mengandalkan sepenuhnya pada materi online atau tutor.

4. Memilih teknologi pendidikan yang tepat

Berbagai Learning Management System yang tersebar luas menawarkan berbagai pilihan teknologi, untuk bisa memilihnya, pertimbangan interaksi diatas dapat menjadi salah satu rujukan.

Seperti contoh pada Moodle, yang sudah menyediakan berbagai fasilitas interaksi.

a. Pembelajar pada konten

Video embed,

Gambar,

Animasi,

Sound,

Wiki,

Media hypertext.

b. Pembelajar pada tutor

Live conference,

Personal Message,

Forum,

Broadcasting Video.

c. Pembelajar pada pembelajar yang lain

Chat,

Forum,

Personal Message,

Wiki.

5. Menata Prosedur dan Survey

Setelah melakukan 4 poin diatas, sebelum menawarkannya kepada peserta didik, ada beberapa hal yang akan dilakukan untuk pengecekan akhir.

a. Survey

Melakukan survey diawal, dilakukan untuk mengetahui keinginan pembelajar terhadap konten yang akan kita tawarkan yakni berkaitan dengan desain interface, kegunaan, akses, analisis pengguna.

b. Saran dan masukan dari expert

Masukann dari expert sangat dibutuhkan sebelum kita launching course kita yakni dari beragam latar belakang diantaranya : subject expert, instructional designer, developer e-learning, pengembang materi.

c. Setelah mendapatkan masukkan, kita bisa melakukan revisi tahap 1.

d. Setelah direvisi, maka minta report kembali kepada expert yang sama pada poin b diatas.

e. Analisis data hasil feedback yang kedua

f. Revisi sistem e-learning final.

Sampai disini, semoga 5 step diatas berhasil membantu anda yang ingin melakukan konversi dari pembelajaran tradisional kepada e-learning.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo

 Referensi :

  • http://elearningindustry.com/top-5-tips-to-convert-your-traditional-course-into-an-elearning-format
  • Arshavskiy, Marina. “Instructional Design for ELearning Essential Guide”. www.yourelearningworld.com. 2013.
  • http://lisahalverson.com/2011/01/25/moore-on-interaction-transactional-distance/

Menambahkan Penangkal Spam reCaptcha pada LMS Moodle

Siapa yang tidak kesal jika sistem web pembelajaran yang sudah dibangun lama dan susah payah, akhirnya lama-lama menjadi berat untuk diakses dan tumbang karena servernya down. Ya, tentu saja kita tidak ingin bukan, itulah salah satu musuh pengembang sistem berbasis web yang dinamakan spam. Spam sendiri merupakan pesan elektronik yang berbentuk robot, biasanya berisi iklan (menyesatkan), iming -iming yang menjanjikan keuntungan finansial, dan menyebar ke segala arah. Modus kerjanya biasanya berjalan pada form pendaftaran user, forum-forum, ataupun e-mail. Secara umum spam ini sangat meresahkan karena jika dibiarkan terus menerus, akan mengakibatkan masalah serius pada sistem kita. Dalam hal ini pada sistem pembelajaran LMS berbasis Moodle kita. Hal inilah juga yang menjadi keluhan beberapa client konsultasi saya, mengeluhkan banyaknya spam yang menggangu kerja servernya.

Lalu kemudian bagaimana mengatasi hal ini ?. Untungnya google melalui tautan ini menyediakan solusi yang mudah sekaligus free untuk kita. Kita akan menggunakan program yang bernama Google RECAPTCHA.

Menurut google, recaptcha ini sendiri adalah :

reCAPTCHA is a free service to protect your website from spam and abuse. reCAPTCHA uses an advanced risk analysis engine and adaptive CAPTCHAs to keep automated software from engaging in abusive activities on your site. It does this while letting your valid users pass through with ease.

reCAPTCHA offers more than just spam protection. Every time our CAPTCHAs are solved, that human effort helps digitize text, annotate images, and build machine learning datasets. This in turn helps preserve books, improve maps, and solve hard AI problems.

Apa saja keuntungan menggunakan program ini ?

Menurut Google sendiri, setidaknya ada 3 hal, yakni : Advanced Security (Keamanan tingkat lanjut), Easy to use (Mudah digunakan), Creation of Value (Pembuatan/kebermanfaatan nilai).

captcha

Pada tulisan ini kita akan menempatkan recaptcha pada form registrasi usernya. Jika belum teraplikasikan maka akan muncul tampilan seperti dibawah ini. (Defaultnya biasanya bertempat pada url /login/signup.php)

08

Oke langsung saja kita mulai, bagaimana menerapkan recaptcha ini kepada Moodle kita ?

1. Login sebagai admin user

2. Klik pada link Site administration >> Plugins >> Authentication >> Email based self registration

seperti nampak pada tampilan dibawah ini

01

3. Setelah muncul jendela baru, yang berjudul “Email-based self-registration”, pada Settings Enable recaptcha element pilih Yes. Kemudian akhiri dengan klik Save.

02

4. Kemudian buka tab baru pada browser anda, pastikan telah login pada google akun anda. Buka pada halaman ini https://www.google.com/recaptcha/admin klik Sign up Now!

03

5. Akan muncul halaman baru, isikan nama domain tempat dimana LMS Moodle anda bertempat, misalkan example.com dll. Kemudian klik tombol CREATE. Perhatikan, bahwa satu domain maka hanya akan diberikan code captcha satu saja, jika anda menginginkan lebih dari satu domain, maka tinggal mengulangi langkah ini dari awal.

04

6. Pada jendela baru, anda akan muncul Public Key dan Private Key secara otomatis. Anda boleh mencatat/mengkopinya pada halaman lain, karena suatu saat akan dibutuhkan.

05

7. Oke kita kembali pada Moodle kita.  Selanjutkan kita akan memasukkan Public Key dan Private Key yang barusan kita dapatkan pada halaman ini. Site Administration >> Plugins >> Authentication >> Manage Authentication

09

 

8. Selang tak berapa lama, akan muncul halaman dibawah ini, silakan masukkan public key dan private key yang telah disediakan, akhiri dengan klik Save Change

06

9. Nah sekarang, kita lihat perubahannya. Silakan anda logout dari Admin User tadi, kemudian klik link untuk pendaftaran user. Hasilnya akan nampak seperti dibawah ini ;

 

07

 

Terlihat jelaskan bedanya ?. Setelah dipakai recaptchanya, maka pada pendaftaran user akan muncul challenge dan form untuk diisikan huruf/angka acaknya.

Dengan ini semoga spam tidak lagi menghantui server anda dan katakan Good Bye untuk para spam 😀 .

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo.

Simulator Perakitan PC

Materi perakitan komputer, kalau dalam institusi dimana saya mengabdi, memang gak secara kongkret muncul sendiri, cuman nyatanya sedikit masuk pada bab Sistem Komputerisasi. Sehingga penting sekali untuk disampaikan, setelah siswa kita berikan tentang klasifikasi komputer kita kenalkan juga tentang hardware-hardware yang terlibat dalam assembling sebuah komputer (PC).

Kendalanya adalah, untuk jumlah siswa satu kelas yang terdiri dari minimal 30-32 siswa, adanya kesulitan untuk menyiapkan perangkat-perangkat untuk diperkenalkan kepada siswa secara keseluruhan. Apalagi kepada temen2 pengajar di sekolah yang lain yang masih adanya keterbatasan sarana dan prasarana. Namun jangan khawatir, hal ini saat ini bisa diberikan solusi dengan adanya simulator perakitan PC. Simulator ini disediakan oleh CISCO, sebuah perusahaan besar yang bergerak pada penyediaan alat-alat jaringan komputer, dan saat ini telah merambah jauh kepada dunia pendidikan (Komputer dan Jaringan).

Beberapa hari yang lalu saya posting tentang simulator ini di akun facebook saya, dan alhamdulillah banyak sekali respon positif dari teman2 sekalian.

Nah, karena sebagian pengunjung dedysetyo.net sebagian bisa jadi belum menjadi ‘friend’ saya di facebook. Saya munculkan juga di blog ini, agar kemanfaatannya bisa dirasakan oleh banyak pihak.

Langsung saja silakan diklik pada tautan ini http://simulator.dedysetyo.net/RootMovie.swf atau pada gambar dibawah

simulator
Simulator Perakitan Komputer dari CISCO

Silakan saja dibaca dan dicoba2 untuk assembling beberapa komponen disana.

Semoga bermanfaat,

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

9 Langkah Memasarkan e-learning di Lembaga Anda

Studi Forrester Grup tentang penerapan e-learning pada tahun 2000 kepada 40 perusahaan besar menyebutkan bahwa 68% menolak untuk mengikuti pelatihan/kursus yang menggunakan konsep e-learning. Ketika e-learning itu diwajibkan kepada mereka, 30% menolak untuk mengikuti (Dublin, 2005). Tidak hanya disitu, studi lain juga mengindikasikan bahwa dari orang-orang yang mengikuti e-learning 50-80 % yang mengikuti e-learning  tidak pernah menyelesaikannya sampai akhir (Delio, 2000).

Begitulah fakta sekaligus gambaran penerapan e-learning yang selaras ketika kami temukan di lembaga-lembaga/organisasi yang akan dan sedang menerapkan e-learning.

Merujuk pada dokumen TIER1 Performance sebuah organisasi yang berpengalaman dalam peningkatan performance SDM yang terdiri dari expert pembelajaran, desainer dan pengembang teknologi memaparkan beberapa tahapan road map pengembangan e-elarning yakni dengan ilustrasi sebagai berikut  :

nampak, bahwa pada tahapan ke 4 yang tidak boleh dilupakan adalah strategi pemasaran yang efektif (marketing/pemasaran).

Tulisan ini akan memaparkan 9 langkah untuk memasarkan e-learning di lingkungan anda, sebagai informasi langkah-langkah ini diadaptasi dari metode SHIFT learning sebuah perusahaan yang terdiri dari pakar e-learning dari Amerika Utara. Artikel ini sedianya adalah untuk mereka pengambil kebijakan strategis yang memiliki kewenangan struktural.

Yuk kita mulai saja uraiannya, yakni :

1. Seting Tujuan.

Jika lembaga anda belum memiliki tujuan yang spesifik dalam penggunaan e-learning ini, kini waktunya merumuskannya dengan lebih detail lagi. Jika telah mempunyainya, maka rapikan seting tujuan anda dalam 4 keyword ajaib ini, SMART :

  • Specific (Jelas, tidak global/umum)
  • Measurable (Terukur, standarnya bisa dibuktikan)
  • Achievable (Dapat dicapai)
  • Realistic (Realistis)
  • Timed (Panduan Waktu)

2. Pahami audiens

Ini tahapan yang tak kalah penting, ibarat sedang jualan obat, he.he. Anda harus tahu persis apa penyakit yang sedang di derita, kemampuan “daya beli” mereka (users), berapa banyak jumlah mereka, dan bagaimana kebiasaan-kebiasaan mereka. Mengetahui karakteristik mereka akan menjadi modal berharga untuk langkah-langkah berikutnya. Memahami audiens juga berarti kita sedang membaca buku tentang apa yang boleh, dan apa yang tidak boleh dilakukan, karena kita sedang bicara budaya manusia bekerja dan berkebiasaan. So, setidaknya ada 3 hal yang harus anda cari tahu : kemauan (berubah), kemampuan (menguasai teknologi) dan kesempatan (berbuat)

Management

3. Branding (Merk)

Setelah 2 langkah diatas dilakukan, maka saatnya melakukan “kick off” dimulainya kampanye, membuat merk yang perlu anda perhatikan adalah sebagai akronim BAIDA berikut :

  • Branding (Perancangan ikon)
  • Attention (Trik menarik perhatian)
  • Interest (Apa yang menjadi ketertarikan users) 
  • Desire (Keinginan users)
  • Action (Lakukan)

4. Perhatian

Ketika masa adaptasi ini, perhatian lebih baik ditekankan pada perubahan persepsi, stratgei top-down tentu saja hanya akan membuat pertentangan yang makin keras.

Mengidentifikasi apa ketakutan mereka, masalah mereka, hambatan, dan apa kelemahan mereka. Menganalisis data ini dalam konteks proyek Anda dan ini akan membuat lebih mudah bagi users Anda untuk menemukan program yang menarik bagi mereka.

5. Ketertarikan

Menentukan pesan yang ingin Anda sampaikan dengan jelas dan singkat. Perhatikan bahwa manusia adalah makhluk selektif, oleh karena itu perlu untuk menarik minat users Anda dengan cepat.

Batasi strategi Anda dengan cara yang menyoroti hal-hal pokok, dan kemudian menghubungkannya ke titik lemah yang anda temukan dalam audiens Anda. Misalnya, jika Anda menemukan bahwa audiens Anda takut dan tidak nyaman menggunakan komputer secara teratur, Anda perlu menyesuaikan kampanye untuk memecahkan masalah ini.

6. Keinginan

Buat daftar semua aspirasi yang berbeda audiens Anda dan mengapa mereka ingin memulai e-learning. Kemudian, susun konsep pesan Anda dalam bentuk iklan dan menyusun rencana promosi yang menarik dan sesuai.

Ingat: “Jika nilai e-learning gagal untuk menjawab pertanyaan users,” Apa untungnya bagi saya ?” maka mereka tidak akan memakainya” (E-Learning: You Build It — Now Promote It oleh Jay Cross).

7. Aksi

Membuat informasi yang dapat diakses dan mudah untuk ditemukan. Semakin banyak orang tahu tentang proyek dan manfaatnya, semakin mereka akan tertarik.

Kenyamanan: Buatlah semudah mungkin bagi mereka untuk mengakses course untuk memulai.

Keterlibatan: Anda perlu melibatkan audiens Anda dengan membuat rencana bersama. Ini berarti membuat mereka merasa memiliki gaya belajar baru ini.

8. Kampanye

Apa media yang paling efektif untuk memulai kampanye ?. Jangan lupa pertimbangkan effisiensinya. Beberapa media yang bisa anda pertimbangakan antara lain :

  • Newsletter
  • Poster Interaktif
  • Email
  • Banner
  • Seminar
  • Aksesoris semacam kaos, bolpen, mug, stiker dsb
  • Menyampaikan berita perusahaan dengan berjalan dan mengunjungi masing-masing departemen.
  • Membuat video untuk membantu orang belajar lebih banyak tentang proyek.
  • Mengundang perwakilan dari Departemen Pelatihan untuk pertemuan dengan karyawan.

9. Konsisten

Tujuan dari proyek Anda adalah untuk mengambil hati users Anda dari situasi saat ini atau posisi untuk satu masa depan. Satu-satunya cara untuk memimpin proses perubahan dengan benar adalah melalui komunikasi yang tepat dan strategi pemasaran.

Sebuah periode 9-12 bulan adalah kisaran yang wajar untuk menjalankan rencana pemasaran dengan kombinasi yang pas. Campuran ini dapat membantu audiens mengingat pesan dan membiasakan. Jika Anda mulai meningkatkan kesadaran sejak awal proyek, Anda lebih mungkin untuk mendapatkan dukungan dari peserta didik.

Ingat: kampanye komunikasi tidak berhenti ketika Anda e-learning telah berjalan. Ini kunci komunikasi nonstop untuk selalu mengingatkan target mengapa dan kapan mereka harus menyelesaikan pelatihan.

Oke, sekian bahasan marketing ini. Semoga menginspirasi !

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

 

Road Map Penerapan e-learning di Lembaga Pendidikan

Pengalaman mengembangkan dan menerapkan e-learning di lembaga sendiri sejak 6 tahun silam (sejak tahun 2007) memberikan pelajaran penting bahwa grusa-grusu (istilah bahasa jawa yang berarti buru-buru) pada endingnya akan memberikan kelelahan ketimbang hasil memuaskan yang dicari. Bagaimana tidak, dari course yang disiapkan dari seluruh kelas dan guru, yang akhirnya bisa terlibat kuat dengan model pendekatan pembelajaran ini tidak sampai 50 % dari keseluruhan kelas. Selaras dengan temuan (Dublin, 2003) dan (Delio, 2000) bahwa ketika e-learning itu diwajibkan kepada perseorangan maka sekurangnya 30% orang akan menolaknya. Kalau dari siswa, minat mereka malah sebaliknya, antusiasme dan motivasi mereka malah luar biasa besar, sampai-sampai mata mereka berbinar2 kalau saya sedang menggunakan metode ini..he.he #lebay.

Tantangan lain yang tak kalah pelik adalah urusan pengelolaan infrastruktur yang luar biasa complicated. Mulai dari perangkat pc/laptop yang tak semua mereka memilikinya (saat itu), urusan jaringan komputer yang wajib merambah dahsyatnya kontur sekolah kami yang berada di pedalaman hutan dengan cakupan sekitar 30 hektar lebih seperti pada penampakan berikut

map nfbs
Peta Lokasi Nurul Fikri Boarding School dari ketinggian 200 kaki

Ditambah lagi dengan kesiapan penyediaaan bahan ajar dan media berbasis soft file dan siap edar dengan segera, membuat berbagai persiapan nampaknya perlu dipikirkan dengan matang, serta tentunya hal-hal pendukung penting lainnya…

Kalau boleh saya simpulkan beberapa problem yang akan dihadapi oleh setiap lembaga yang akan menerapkan dan  mengembangkan e-learning di institusinya adalah sebagai berikut :

  • Infrastruktur

Berupa perangkat jaringan baik itu jaringan intranet/internet sebagai supporting system utama. Ditambah dengan keberadaan server yang siap online 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

  • Sumber Daya Manusia

Budaya manusia bekerja tidak bisa dengan mudahnya kita ubah tanpa pendekatan yang komprehensif dari segala sisi, nah e-learning ini percaya atau tidak, mau atau tidak, tentunya akan menjadi hal yang merubah gaya mereka bekerja. Terutama guru sebagai aktor utama dalam kelas-kelas pembelajaran, karena tanpanya maka mustahil e-learning akan berjalan.

  • Konten

Meliputi bahan/media ajar baik yang berupa tacit atau explicit. Karena segenap pembelajaran akan dilakukan jarak jauh, maka penyiapan bahan ajar dan media berbentuk soft file yang valid dan reliable sangatlah penting kiranya.

  • Jaminan Mutu

Mencakup kualitas teknis dari sistem yang kita bangun tentunya, apakah siap untuk meng-handle setiap aktivitas pembelajaran.

Membuat Peta

Nah sekarang, apa yang harus dilakukan untuk mencapai implementasi e-learning yang berkualitas ?.  Roadmap merupakan ibarat peta yang menjadi penunjuk arah jalan kita kedepan.

Merujuk pada dokumen TIER1 Performance sebuah organisasi yang berpengalaman dalam peningkatan performance SDM yang terdiri dari expert pembelajaran, desainer dan pengembang teknologi memaparkan beberapa tahapan yakni dengan ilustrasi sebagai berikut  :

elearning-roadmap - Copy
E-learning Road Map Versi Tier1

Akan coba saya paparkan satu persatu tahapannya, disertai deskripsi dan hasil yang diharapkan, yakni

1. Develop Strategy

Memperkenalkan e-learning kepada segenap stakeholder institusi, komparasi antara konvensional dengan e-learning standard.

hasil yang diharapkan: Pemahaman dan persepsi bersama tentang e-learning

2. Create Content and Users

Mengidentifikasi content, course dan user group yang dibutuhkan

hasil yang diharapkan: Terbentuk tim untuk : 1). Administrasi dan Pencatatan user. 2). Ketersediaan bahan ajar dan media.3). Perekapan evaluasi/assessment dan tindaklanjut.

3. Create Pilot Course

Membuat dan implementasi course e-learning dari materi.

hasil yang diharapkan:  Terbentuk petugas dan penanggung jawab course

4. Develop Marketing Plan

Membangun perencanaan marketing dan sosialisasi kepada pihak user dan stakeholder terkait

hasil yang diharapkan: Seting strategi pemasaran di lingkup users

5. Build Processes, Skills and Standards

Membangun proses, skill, control dan standar yang berulang serta konsisten dalam rangka migrasi skala besar pembelajaran ke e-learning

hasil yang diharapkan: Training admin dan pengelola

6. Launch Learning Management System (LMS) to Users

Implementasikan LMS online untuk mengantarkan, mengelola, tracking dan melaporkan aktivitas pembelajaran

hasil yang diharapkan: Sistem e-learning siap diakses dan dipergunakan

7. Assess and Improve

Implementasi program yang terstruktur dan berkelanjutan dalam rangka mengukur skill dan pembelajaran yang telah berlangsung

hasil yang diharapkan: Mengingkatnya skill penggunaan e-learning

Dengan 7 macam tahapan diatas, tentunya masing-masing bisa lebih di detailkan parameter tercapainya hasil sesuai dengan kultur organisasi anda. Sebaiknya roadmap ini memang idealnya sudah ada di benak para pemegang kebijakan, sehingga penerapan e-learning dengan adanya daya dukung yang kuat dari segala sisi harapannya akan lebih memaksimalkan perjalanannya.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo.

Perancangan dan Pembuatan Media Pembelajaran Digital

Penelitian dilakukan oleh Francis M. Dwyer dalam pembelajaran menyebutkan bahwa setelah lebih dari tiga hari pada umumnya manusia dapat mengingat pesan yang disampaikan melalui tulisan sebesar 10 %, pesan audio 10 %, visual 30 % dan apabila ditambah dengan melakukan, maka akan mencapai 80 %. Berdasarkan hasil penelitian ini maka multimedia interaktif sebenarnya memiliki potensi besar sebagai media yang membantu proses pembelajaran.

Selain itu, manfaat media pendidikan dalam proses belajar menurut Hamalik (1986) antara lain sebagai peletakkan dasar-dasar yang kongkrit dalam berfikir untuk mengurangi ‘verbalisme’, memperbesar minat siswa, membuat pelajaran lebih menyenangkan sehingga berdampak kepada hasil pembelajaran yang lebih memuaskan.

Dalam rangka percepatan pembelajaran itulah, dedysetyo.net sebagai salah satu portal akademik untuk penyebaran pengetahuan anak-anak negeri. Ingin berkontribusi dalam pengembangan media interaktif berbasis animasi untuk pembelajaran teman-teman praktisi pendidikan (Guru, pemegang kebijakan, perancang media dan praktisi pendidikan lainnya).

Contoh karya yang telah kami hasilkan beberapa diantaranya sebagai berikut :

Media Interaktif untuk Pembelajaran

1. CD Interaktif pembelajaran TIK SMP/MTS materi Internet dan Penggunaannya

cd1

2. Media Belajar Mandiri Jaringan Komputer untuk SMA/MA, Pemenang no. 1 Lomba inovasi Media Pembelajaran tingkat NF GROUP Se-Indonesia, Desember 2012

cd2

3. Media pembelajaran Interaktif Kewirausahaan “Menganalisis Peluang Usaha” untuk siswa SMK

cd3

4. Media Belajar Mandiri Interaktif materi “Lembaga Peradilan Indonesia” mapel Pendidikan Kewarganegaraan SMA

cd4

5. Media Belajar Bahasa Inggris untuk SMP tentang “Daily Activity”

cd5

6. Media belajar mandiri Interaktif untuk SMP dengan materi “Seasons”

cd6

 

Dari sekian banyak produk, tentunya kebutuhan masing-masing lembaga atau pendidik berbeda sesuai dengan tuntutan pembelajarannya. Untuk memudahkan penggunaanya, kami menyediakan perancangan desain dan pembuatan sesuai request (berdasarkan tingkat kesulitan dan space waktu).

Hubungi Kami disini

FB : Dedy Setyo Afrianto
call/sms : 085718904956/087770030903
e-mail : dedy@nfbs.or.id | masdymail@gmail.com

Prosedur pemesanan media :

1. Kirimkan naskah/draft media keinginan anda

2. Kami perkirakan kebutuhan dana dan waktunya

3. Media anda dapatkan

4. Dana kami terima

5. Selesai

Sebagai acuan, untuk media dengan kompleksitas sederhana (1 Kompetensi Dasar), sedikitnya kami membutuhkan waktu 3 hari dan serendahnya membutuhkan dana hanya Rp.25.000,- murah sekali bukan ?..dan ini sesuai keinginan anda sendiri lho, yang tidak akan didapatkan dengan semudah, secepat dan semurah ini dipasaran.. so, tunggu apa lagi ?? 😉


Sebagai sample produk, bagi rekan-rekan pendidik, kami sediakan secara gratisss satu dari media diatas agar dapat dimanfaatkan di kelasnya. Caranya sangat mudah..

1. Share alamat url posting ini di wall FB anda.[learn_more caption=”buka link berikut”] http://dedysetyo.net/2013/09/25/perancangan-dan-pembuatan-media-pembelajaran-digital/[/learn_more]

2. Konfirmasi ke akun FB saya dengan menyebutkan nama, tempat instansi dan mapel yang diampu

3. Link download akan kami kirimkan via message

Kemudian untuk melihat penerapan medianya dikelas, kami coba tautkan disini..

Demikian, semoga bermanfaat..

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Membuat Quiz Interaktif Semudah Memasak Mie Instan !

Sebagai seorang guru, proses evaluasi adalah bagian penting yang tidak dapat dilepaskan, proses ini ibarat “gerbong akhir” untuk meninjau apakah kegiatan belajar mengajar efektif atau tidak. Yang jadi masalah biasanya adalah jika pembuatan soal dilakukan manual (paper based), dari sisi siswa harus menunggu sampai semua hasil latihan/ulangan terkoreksi oleh guru atau variasi soal yang disediakan begitu monoton. Dari sisi guru, proses pengoreksian juga tidak makan waktu sebentar karena harus mengkroscek jawaban siswa satu persatu dikalikan dengan jumlah siswa keseluruhan, belum lagi kalau ditambahkan dengan analisis butir soal, hal inilah yang sedikit banyak dikeluhkan oleh guru-guru betapa proses assessment ini memakan waktu, energy dan konsentrasi.

Nah, sebagai salah satu solusi untuk variasi proses assessment ini, kita akan menggunakan media komputer (Computer Based Test, berikutnya akan disingkat CBT). Menurut Kathleen Scalise & Bernard Giford dalam penelitiannya yang berjudul “Computer-Based Assessment in E-Learning: A Framework for Constructing “Intermediate Constraint” Questionsnd Tasks for Technology Platforms” ada 25 macam varian soal yang dapat diberikan untuk melakukan evaluasi dengan melibatkan computer. Tutorial ini akan memaparkan 7 varian diantaranya. Kelebihan menggunakan CBT ini adalah interaktif (terjadi proses dialog antara soal dengan siswa), automatisasi penilaian (penilaian dilakukan otomatis), variasi beragam (tipe soal yang disajikan bermacam-macam) dan multimedia factor(memungkinkan penggunaan gambar, video dan animasi pendukung penjelas soal).

Kita akan menggunakan Wondershare Quiz Creator, salah satu aplikasi untuk platform Microsoft Windows. Untuk menggunakannya kita tidak dituntut untuk menguasai bahasa pemrograman apapun ataupun tingkat kemahiran yang tinggi sehingga kemudahan penggunaannya ini saya analogikan semudah memasak mie instan !. menarik bukan ?. Mari kita mulai.

Semua file-file yang diperlukan beserta dokumen pendukung bisa dilihat dan didownload disini

#Oh ya sekilas info, tutorial ini adalah tulisan yang saya lombakan di ajang kompetisi menulis tutorial dengan url asli disini. Jika berkenan bisa berkunjung ke halaman aslinya, trus bisa vote saya pake akun sosmed anda di bagian bawah..he.he 🙂

Persiapan :

Silakan download softwarenya disini kemudian install di PC anda, silakan bisa menggunakan Windows XP/7 .
Siapkan kisi-kisi penulisan soal anda. Untuk sample ditutorial ini sudah saya sajikan disini. Agar nyambung dengan tutorial ini, sebaiknya kisi-kisi silahkan dibaca sekilas juga tidak apa-apa.

1

Menggunakan rangkuman kisi-kisi tersebut, total ada 10 soal yang akan kita buat, didalamnya terdapat 7 varian soal.

Langkah-langkah :

1. Buka program aplikasi Wondershare Quiz Creator yang telah diinstal
2. Membuat quiz baru. Klik Create a new quiz

Pada sisi sebelah kiri, sekilas ada 10 tipe soal yang dapat kita buat untuk komposisi quiz kita. Oke, sekarang kita mulai buat soal. Pada soal Multiple Choice, klik kanan kemudian klik New Question

Pada halaman berikutnya, silakan tuliskan soalnya, kemudian feedback jika dijawab benar/salah beserta poin pada soal ini. Akhiri OK untuk selesai.

Setelah ditekan OK, maka akan terlihat soal yang telah berhasil dibuat. Seperti pada tampilan dibawah ini.

3. Berikutnya kita akan membuat soal yang kedua dengan Matching. Pada lajur kiri link Matching klik kanan untuk membuat soal baru, klik New Question.

Setelah terbuka jendela baru, silakan diisikan pertanyaan, diikuti dengan kriteria soal penjodohan. Karena pada saat diujikan nantinya, soal penjodohan ini akan mengacak sendiri antar opsi dengan jawaban.

Set juga poin untuk soal ini jika terjawab benar.

4. Baik, setelah 2 soal sebelumnya berhasil dibuat. Sekarang kita akan membuat soal ke 3 dengan type Fill in the blank. Pada tipe ini sebenarnya lebih populer disebut dengan soal isian pendek. Penilaian oleh komputer menekankan isian siswa jika dianggap benar maka harus akurat dengan jawaban setiap karakternya. Pada link Fill in the blank silakan klik kanan untuk membuat soal baru. Lanjutkan dengan New Question.

Tuliskan soal untuk isian pendek ini, kemudian kita juga dapat menyisipkan gambar ke badan soal, sebagai pendukung atau penjelas maksud soal. Siapkan opsi jawaban benar yang boleh dimasukkan oleh siswa. Akhiri dengan memasukkan poin benar dan OK.

5. Tiga soal dengan tipe-tipe berbeda sudah terbuat. Sekarang kita akan membuat tipe soal terakhir yakni Multiple Response. Tipe soal ini hampir mirip dengan pilihan ganda, namun bedanya adalah siswa dimungkinkan untuk memilih jawaban lebih dari satu, dan berapa jawaban benar tidak diberitahukan. Hal ini tentunya benar-benar menguji apakah siswa benar-benar memahami kompetensi yang sedang diujikan.

Silakan diisikan soalnya, dilanjutkan dengan memilih opsi-opsi pilihan jawaban. Tanda checklist (ü) berarti opsi tersebut merupakan jawaban benar. Akhiri pengeditan soal dengan klik OK.

#Dikarenakan limit keterbatasan ruang untuk penulisan tutorial ini, soal-soal berikutnya silakan dibuat dengan eksplorasi sendiri.

6. Publikasi Soal. Hal ini berbeda dengan penyimpanan biasa yang masih memungkinkan, dikarenakan dengan adanya publikasi kita akan membuat soal ini diformat sesuai dengan skenario evaluasi kita. Pada dasarnya ada 6 macam skenario publikasi, namun kali ini kita akan membuat format publikasi evaluasi mandiri yakni pilih CD/EXE. Menggunakan format ini, kita dapat membuat soal kita di burning melalui CD ROM/File sehingga siswa dapat mengerjakan tidak harus kolektif/bersama-sama.

Oke, sangat mudah untuk publikasi ini, silakan klik Publish pada toolbar

Kemudian pada jendela Quiz Publishing, silakan pilih opsi CD/EXE seperti nampak pada kotak merah disamping.

Setidaknya ada 3 macam hal yang akan disetting, yakni Quiz Title (untuk memberikan judul quiz), Options (format pilihan publish), Folder (tempat penyimpanan file hasil akhir). Ketika sudah diseting ketiganya, lanjutkan dengan klik Publish pada bagian kanan bawah.

Jika progres telah selesai, maka ini adalah hasil akhirnya. Pada file dengan tipe “Application” ini sudah siap untuk dicoba. Ini tampilan akhirnya.

Computer Based Learning Jaringan Komputer SMA

Pembelajaran berbasis komputer (Computer Based Learning) menggunakan animasi berbasis flash sebagai media bantu pembelajaran jaringan komputer di SMA. Pada pengukuran kejelasan tujuan pembelajaran, media ini mendapatkan skor 4,3 pada skor maks 5,0 yang artinya memuaskan. (Nurhaeni, Laksmi : 2011). Media ini alhamdulillah juga turut berperan dalam memenangkan lomba inovasi guru Nurul Fikri se-indonesia pada desember 2012.

Pengukuran kualitas yang lainnya silakan bisa dilirik melalui presentasi disini

capture

Kemudian untuk melihat penerapan dikelas, saya coba tautkan disini..

Semoga bermanfaat..

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Proposal Penerapan dan Pengembangan e-learning di Lembaga Pendidikan Anda

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi pada saat ini telah merambah berbagai macam bidang. Merubah cara pandang kita, budaya kerja kita dan berbagai macam kebiasaan kita, semisal jika dulu kita akan berbelanja harus datang ke pasar/mall, maka saat ini kita sudah sangat akrab dengan belanja online dalam istilah IT nya dinamakan e-commerce sehingga untuk berbelanja maka tak perlu kemana-mana karena barang akan dihantarkan langsung ke depan pintu rumah kita. Jika pada zaman dahulu kita sering berkirim surat dengan sahabat kita yang berada pada negara lain, dan tentu saja ini memakan waktu, biaya dan tenaga maka saat ini kita telah akrab dengan surel (surat elektronik atau e-mail) sehingga pesan kita akan tersampaikan bukan lagi pada hitungan hari/minggu, tapi hanya dalam hitungan detik dan tidak akan salah alamat. Jika pada masa-masa sebelumnya kita kenal KTP sebagai kartu identitas kita, maka pemerintah hari ini telah menggalakkan penggunaan e-ktp untuk sentralisasi data masyarakat dalam satu database.

Ini adalah sekelumit contoh bagaimana penggunaan teknologi telah berpengaruh dalam sisi kehidupan kita, tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Kelas-kelas konvensional dimana seorang tentor/guru harus bertatap muka untuk pembelajaran dengan peserta didik adalah model klasik, saat ini pembelajaran pun dapat dilakukan dengan jarak jauh (distance learning), begitupun dengan menghantarkan bahan ajar, media ajar, bahkan evaluasi dapat dilakukan oleh tentor/guru dalam waktu yang singkat dan menyebar ke segala arah. Partisipasi aktif peserta didik pun diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk bertanya, berdiskusi, menjawab pertanyaan, sampai dengan menggali sendiri informasi sebanyak-banyaknya informasi dilanjutkan dengan mengkonstruksi pengetahuannya sehingga bertambahlah pengalaman belajar dan mengikat makna, sampai disini harapannya tujuan dan esensi pembelajaran yang sesungguhnya akan didapatkan. Hal inilah yang dinamakan e-learning.

Mari kita cermati data-data berikut, dalam bukunya yang berjudul “The E-Learning Question and Answer Book”, Penerbit Amacom Publishing tahun 2003. Allan Henderson memaparkan bahwa perusahaan-perusahaan di Amerika dapat menghemat 50 – 70 % untuk biaya training dengan e-learning dibandingkan dengan metode konvensional (laporan Training Magazine). Dilanjutkan dengan laporan bahwa IBM berhasil membukukan keuntungan sebesar $375 juta dalam penggunaan e-learning pada tahun 2001. Sementara Hawlet Packard salah satu perusahaan elektronik terbesar di dunia pun berhasil mencatat keuntungan $5,5 juta karena mengubah pola training konvensional menjadi e-learning untuk karyawan-karyawannya. Contoh-contoh inilah yang menjadi bukti bahwa dalam penerapannya e-learning ternyata mampu menekan biaya menjadi sangat kecil karena dalam e-learning semua sumber/media belajar berbasis digital/paperless (tanpa biaya cetak), komunikasi dan transportasi pun dapat dihemat karena pembelajaran pun dapat dilakukan jarak jauh serta lebih interaktif. Untuk aspek lainnya, berikut kami paparkan perbandingan antara pembelajaran konvensional dengan e-learning, yakni sebagai berikut :

perbandingan

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang berperan penting sebagai garda terdepan dalam mencerdaskan masyarakat dan putra putri bangsa, menggunakan media e-learning ini sebagai daya dukung untuk pengembangan kompetensi dan pengetahuan akan mempercepat tujuan pembelajaran dan penyerapan materi sehingga berdampak positif untuk lembaga pada khususnya dan segenap masyarakat Indonesia pada umumnya.

Bersama ini, ijinkanlah kami sampaikan proposal penerapan dan pengembangan e-learning jika kiranya lembaga pendidikan dimana anda bernaung memiliki keinginan atau master plan untuk akselerasi proses pembelajaran kedepan. Silakan unduh atau lihat saja disini.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto.

Teknik Mudah Membangun Server e-learning dengan Moodle

Apa kabar pengunjung dedysetyo.net ?, semoga kabar baik dan bahagia untuk kawan-kawan semua. Setelah beberapa lama vakum dari dunia tulis menulis, akhirnya kesempatan menulis pun datang, mood baik juga sedang muncul, so tunggu apa lagi ? mari menulis.. 😉

Tutorial ini sebenarnya kalau boleh jujur sudah agak banyak beredar di dunia maya, namun dilatarbelakangi sebagai penambah referensi sejenis bagi kawan-kawan yang membutuhkan dan catatan pribadi agar tak lupa, tidak ada salahnya saya tuangkan juga disini. Oh ya, khawatir anda kaget karena tidak sesuai ekspektasi anda, tutorial ini saya sajikan bagi pemula lho (yang baru belajar) di dunia opensource, linux, terminal dan konco2nya.. he.he 🙂

Niatan saya, tulisan dengan tajuk “e-learning” ini akan saya sajikan berseri agar lebih lengkap dan berjenjang.  Iya, membangun sistem e-learning dewasa ini sedikit demi sedikit telah menjadi kebutuhan lembaga/organisasi yang ingin melakukan perubahan. E-learning sendiri oleh Darin E. Hartley [Hartley, 2001] didefinisikan sebagai berikut;

e-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

kata kuncinya adalah pada pelibatan media internet/intranet/jaringan komputer yang lain dalam rangka untuk membantu atau menunjang proses belajar mengajar.

Nah, membangun sistem e-learning menggunakan platform open source yang lumayan populer diantaranya adalah menggunakan moodle. Dikombinasikan dengan penggunaan server berbasis ubuntu 12.04 (turunan debian) kita akan coba lakukan instalasi di server lokal kita, instalasi di server hosting insyaAlloh tidak jauh berbeda koq..

Untuk tipologinya begini :

PC SERVER (Ubuntu server 12.04, pakai IP 192.168.0.10)  <– PC CLIENT (Windows XP/7, pakai IP 192.168.0.2)

tipologi ini sengaja saya susun bagi anda yang baru mau belajar ngoprek server, namun masih malu2 ke terminal (text mode maksudnya..he) dan rada malas baca howto 😉

apa saja yang di butuhkan ?

1. PC Server sudah terinstall ubuntu server 12.04, yang belum punya sila didownload

2. Source moodle versi 22, yang sudah stable bisa didownload disini.

3. Untuk remote nya saya paling hobi pake winscp dan putty silakan instalkan di PC CLIENT.

setelah semua bahan-bahan diatas lengkap di PC anda.

nah, anda nanti banyak bermain dan melakukan instalasi melalui PC CLIENT nya ya..

sebelumnya pastikan pc servernya bisa diremote dengan lakukan perintah :

apt-get install ssh

untuk instalasi paket ssh agar server bisa diremote

perintah diatas sebenarnya opsional bagi anda yang ketika instalasi OS nya lupa melakukan checklist install paket ssh.

sudo /etc/init.d/ssh start

untuk mengaktifkan service ssh

setelah servernya selesai di set agar bisa di remote, kita mulai ya ?

1. buka winscp di client, kemudian lakukan remote ke server 192.168.0.10

2. buka directory /var/www

3. silakan copy kan file source moodle ke directory tersebut

4. Setelah dicopy lakukan ekstrak dengan klik kanan(cek gambar di bawah ini)

1

nah terlihat ketika sudah di ekstrak maka akan muncul satu folder baru bernama “moodle”

2

5. Menggunakan browser favorit anda, kita akan lakukan instalasi via browser dengan membuka alamat http://192.168.0.10/moodle

silakan sesuaikan IP server anda jika beda dengan contoh tutorial ini.

Akan muncl opsi pilihan bahasa ketika akan melakukan instalasi, lanjutkan dengan klik NEXT

3

6. moodle membutuhkan folder untuk menyimpan data yang tidak bisa diakses oleh user umum, namanya “moodledata”. Ikuti saja path bawaan, lanjutkan dengan next.

4

jika muncul peringatan seperti dibawah ini, artinya kita sendiri yang harus membuat foldernya dan memberikan struktur aksesnya. Jangan khawatir, menggunakan winscp sangat mudah untuk dilakukan.

6

buat folder “moodledata” di directory var, kemudian seting properties permission menjadi 777 dan OK

5

7. Pada jendela pemilihan type database, pilih MySQL dan klik NEXT

7

8. Di jendela berikutnya Database settings, kita akan memberikan akses pada database yang nanti akan kita buat. Semisal buat nama database : moodle, isian lainnya silakan isikan sesuai keinginan anda. Setelah semua form terisi, tahan dulu, jangan buru2 klik NEXT karena akan percuma.

10

kita buat database dengan putty yang telah anda download, aplikasi putty ini bisa dipakai dengan hanya double klik saja. Kemudian login ke alamat server anda diikuti dengan user dan password.

anda bisa mengetahui versi mysql anda dengan cara ketik :

mysql -v

kemudian login di mysql anda dengan perintah

mysql -u root -p

silakan masukkan password akun anda.

8

 kita buat database baru nama moodle dengan perintah

create database moodle;

ikuti dengan enter

9

Silakan masuk lagi pada jendela Database settings kemudian lakukan Next

10

Masuk ke halaman baru, kita buat satu halaman bernama config.php pada direktori /var/www/moodle

11

Pake winscp caranya sangat mudah seperti ini

12

berikan nama config.php
13

sebagai contoh, silakan cek file disini sesuaikan dengan kebutuhan server anda.

berikan permission 777 pada file config.php tersebut dan lakukan OK.

14

lanjutkan dengan klik Next>>

15

Pada halaman agreement seperti dibawah ini, lakukan Continue.

16

Masuk pada halaman server check inilah ada unicode (warna merah) yang harus disesuaikan dengan kebutuhan moodle

17

menggunakan putty lagi, silakan lakukan beberapa entry di database;

use moodle;

18

ketik perintah berikut

ALTER DATABASE  `moodle` DEFAULT CHARACTER SET utf8 COLLATE utf8_unicode_ci;

19

kita cek kembali di jendela browser sebelumnya dengan cara refresh/ tekan F5 dan continue

20

ketika semua pesyaratan dianggap cukup, maka kita bisa lanjut ke tahapan berikutnya, menurut saya yang ini tinggal yang mudah2 saja..

21

masukkan atribut user akun admin moodle. Khusus pada isian password memang agak spesial karena kita harus mengisikan minimal 8 karakter, minimal 1 angka, min 1 huruf besar, min 1 huruf kecil dan min 1 meta keyword semacam : !@#$%…dst

22

Berikan isian untuk nama portalnya dan deskripsi. Untuk mudahnya registrasi user, set pada Self Registration : E-mail based..

23

Semuanya telah selesai, server e-learning baru anda siap untuk dipakai.

24

 

Mudah bukan ?. yang penting tetap mencoba dan berusaha, jangan sungkan untuk bertanya atau googling jika ketemu masalah.. nantikan seri e-learning berikutnya.

Selamat mencoba.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo.