Tag Archives: motivasi

Budaya Etika yang Terlewat

Mencermati peristiwa akhir-akhir ini adanya seorang wanita yang geram karena mengantri SPBU di Yogyakarta, menumpahkan kata-kata tak pantas di media sosial yang pada akhirnya berujung berbalas bully-an dari warga dunia maya dan tahanan dari kepolisian. Beritanya bisa dibaca disini. Tak lama sebelum itu, kurang lebih pada bulan April ditahun 2014 ini pula, seorang wanita juga mendapatkan pelajaran berharga, bahwa mengumpat di media sosial kepada ibu -ibu hamil penumpang KRL, tak lebih dan tak kurang juga akan mendapatkan balasan yang tak kalah pahitnya, berupa cibiran dan sanksi sosial.

Kita berdoa saja, dikemudian hari semoga tidak terulang kejadian serupa. Makian dan kata-kata tak sopan di media sosial, tidak akan berdampak positif kepada pelakunya, tapi sebaliknya akan membalik kepada pelakunya. Tentang dua peristiwa ini, saya tertarik mengulas bacaan lama saya tentang gaya komunikasi manusia (terutama sebagian masyarakat Indonesia).

Dilihat dari sejarahnya, menurut Melvin DeFleur (seorang pakar psikologi sosial dari Universitas Washington) dan Sandra J.Ball-Rokeach dalam bukunya Theories of Mass Communication (1989), setidaknya ada lima tahapan komunikasi sehingga antara satu orang bisa berinteraksi dengan yang lainnya.

1. The Age of Signs and Signals (Sinyal dan Simbol)

Pada masa ini, manusia satu dengan yang lainnya menuturkan idenya dengan bahasa simbol, mengungkapkan keinginannya dengan gambar atau penanda-penanda sederhana. Dengan media ini jelas antar manusia, komunikasi menjadi sangat terbatas. Karena berbagai keterbatasan inilah, konon konflik antar manusia menjadi sangat mudah terjadi. Manusia juga akan kesulitan menuangkan pendapatnya, yang dominan pada masa ini adalah komunikasi non verbal, yakni penggunaan bahasa isyarat untuk menyampaikan pesan-pesannya, bahasa tubuh menjadi sangat penting.

2. The Age of Speech and Language (Bahasa lisan)

Masuk pada era berikutnya, tradisi manusia berubah, penggunaan simbol berubah bentuk menjadi percakapan antar manusia dalam berinteraksi. Beberapa standar percakapan untuk penamaan benda, tanaman dan hewan telah disepakati. Walaupun tak begitu berubah banyak, pada masa ini interaksi sosial antar manusia sedikit demi sedikit telah menemukan maknanya.

3. The Age of Writing (Tulisan)

Pada zaman ini, standarisasi alfabet telah dibakukan secara perlahan dengan lengkap, lambat laun model penulisan menjadi gaya dan budaya antar manusia dalam berinteraksi. Masa ini lah yang membuat informasi begitu cepat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Gagasan yang dibuat direkam, dicatat dan dilipatgandakan sehingga manusia yang lain pun dapat menikmatinya. Para filsuf yang sezaman dengan Plato dan Aristoteles pun menuangkan perenungan dan pengalamannya sehingga menjadi pengetahuan, dari pengetahuan lah, ilmu-ilmu dan cabangnya terbentuk sehingga terklasifikasi dan memudahkan manusia lainnya untuk memanfaatkannya. Aktivitas para ilmuwan, selain meneliti dan melakukan percobaan-percobaan, adalah mendokumentasikan risalahnya agar dapat dikembangkan dikemudian hari. Selaras dengan apa yang pernah dikatakan seorang cendekiawan Indonesia, bahwa aktivitas ilmuwan dan ulama sebenarnya hanya berkutat di dua hal saja, membaca-menulis.

4. The Age of Print (Cetak dan Membaca)

Era ini dimulai dengan adanya penemuan mesin cetak, Johannes Gutenberg mengawali penemuan modern mesin cetak yang lebih canggih dibandingkan dengan penemuan dalam situs sejarah Cina dan  Korea (sekitar tahun 175 AD). Pada masa inilah dimana surat kabar dan surat cetak beserta buku-buku dapat terbit, setelah beberapa fase perkembangan komunikasi. Dengan adanya buku, budaya baru dimulai, bagi seorang penulis menyebarkan ide dan gagasannya menjadi lebih mudah.

Saya jadi ingat didalam salah satu sekuel film yang berjudul “Enemy at the Gates” yang menceritakan seorang prajurit Uni Sovyet yang bernama Vasily Grigoryevich Zaytsev, dengan pencitraan menggunakan media cetak ini pulalah, ribuan propaganda dicetak kemudian disebarkan untuk menakut-nakuti musuh-musuhnya akan keterampilan mematikan seorang Vasily yang bisa menembak dari satuan jarak kilo meter, pada masa itu jarak sejauh ini menjadi demikian sensasional dan luar biasa.

Pada masa ini pula budaya baru terbentuk, yakni budaya membaca. Budaya membaca memungkinkan kebiasaan ini terjadi dalam setiap tempat dan waktu, pada negara yang sudah maju peradabannya tak jarang kita dapati pada pusat keramaian saat mengantri, kebanyakan dari mereka menyibukkan dirinya dengan membaca, sehingga wajib kiranya dalam setiap tas mereka kala bepergian setidaknya ada satu buku yang stand by untuk dibaca setiap saat.

Wisatawan mancanegara membaca buku di ruang tunggu Terminal Giwangan, Yogyakarta.
Budaya baca Jepang di Kereta

Budaya membaca juga menjadi salah satu indikator kemajuan bangsa, hasil survey yang pernah dibuat oleh United Nations Developmet Programme  (UNDP) bahwa rasio gemar membaca di Indonesia hanya 0,001% atau satu berbanding 1.000 orang. Artinya jika ada 1000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang gemar membaca.

Data dan Fakta Bacaan Orang Indonesia (Fadli Zon Library, 2013)

Hal ini juga dikuatkan oleh laporan yang dilakukan United Nation Development Program (UNDP) atau Organisasi Program Pembanggunan milik PBB bahwa indeks pembangunan manusia Indonesia berada pada posisi 121 dari 187 negara di dunia. Indeks pembangunan manusia sendiri adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia.

5. The Age of Mass Communication (Komunikasi masa/Internet)

Pada masa ini lah, seperti yang kita rasakan sekarang, channel TV begitu banyak menghiasi layar kaca kita dengan beragam acaranya. Tak kalah dengan itu, Internet dengan berita online dan media sosialnya bertubi-tubi menawarkan hujan informasi yang tidak lagi diupdate tiap hari, namun tiap jam bahkan per menit.

Saya jadi sedikit khawatir, kejadian 2 fenomena diawal tulisan ini (dan mungkin saja banyak lainnya yang tak ter blow-up). Bisa jadi mengindikasikan adanya budaya kita yang terlewat, jenjang komunikasi yang harusnya secara bertahap dilewati, namun oleh sebagian masyarakat kita nampaknya terlewat. Kalau fase di negara yang sudah maju yang terurut “Lisan-Tulisan-Membaca-Berinternet”, maka di sebagian masyarakat kita nampaknya hanya di by pass (lompat) menjadi “Lisan–Berinternet”, sehingga budaya ini tidak utuh kita punyai, karena fase etika “tulisan dan membaca” belum menyatu dan masih rapuh dalam kehidupan kita.

Padahal membaca dan menulis akan memberikan kita tuntunan cara dan etika (bersosial), percaya atau tidak minimalnya akan memperkaya diksi dan pengkayaan pemahaman kata, sekaligus dalam perspektif lain memberikan penyiapan-penyiapan kepada kita untuk berinteraksi dengan baik secara universal melalui budaya literasi. Sama seperti anak umur 3 tahun yang kita berikan pisau, maka bisa kita hitung kira-kira akan lebih banyak manfaat ataukah bencana yang ditimbulkannya, mirip dengan generasi labil yang tiba-tiba diberikan perangkat canggih nan modern. Tumpulnya etika dalam bersosialisasi melalui internet, dikhawatirkan (hanya) euforia dalam berinternet lah yang mendominasi gaya dan budaya baru ini. Berinternetnya orang-orang seperti ini hanya tuntutan tren dan gaya modern agar tidak dianggap kuno dan ndeso. Agar tetap exist dalam pembicaraan bersama dengan teman kongkow, namun serasa kering nasihat. Berinternet (dikhawatirkan) tidak lagi menjadi produktif dengan menambah ilmu dan pengetahuan baru, namun hanya ajang narsisme.

Akhir kata, tulisan ini tadinya hanya untuk memotivasi agar Saya lebih santun dan cerdas dalam berinternet, namun jika sekiranya ada manfaatnya kepada teman-teman sekalian maka akan menjadi rasa syukur Saya secara pribadi.

Semoga kedepan, budaya baru berinternet kita menjadi lebih sehat, produktif dan mencerdaskan masyarakat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Menulislah dan Datangkan Keajaiban

Hari Sabtu kemarin (15/2/14) memang hari yang menyenangkan buat saya, walaupun hari itu full agenda, pagi jam 5.30 sudah harus manasin mobil buat dipake seharian, jam 6 teng harus sudah berangkat ke SMAN Kramatwatu, Serang.. pulang dari sana jam 13.00 trus dilanjut berangkat ke Cimanggis, Depok sore harinya sampe hari minggu.  Hari sabtu yang hebat karena ketemu dengan sahabat-sahabat yang hebat, selalu semangat dan mau belajar. Setelah ku azzamkan berangkat tak molor, akhirnya diiringi sayup hujan, jam 7.30 sampe juga di pintu tol Cilegon Timur untuk menjemput narasumber kami hari itu Bp. Wijaya Kusumah yang akrab disapa Om Jay. Akhirnya setelah janjian dan ketemu jam 8an, dilanjut menuju lokasi acara.

Lagi mejeng didepan sambil memberikan sambutan dikit
Lagi mejeng didepan sambil memberikan sambutan dikit. Sumber foto : wijayalabs.com
Foto bareng omjay disela-sela acara
Foto bareng omjay disela-sela acara

Dimulai dengan menunggu teman2 yang lain dan rentetan sambutan..he.he (saya juga diantara oknumnya yang dipaksa untuk menyambut..he.he) Hari itu Om Jay memaparkan materi tentang menulis, motivasi menulis dan betapa manfaat segudang dari menulis. Mulai dari berkarya untuk mendokumentasikan catatan/peristiwa sampai dengan berprestasi lewat menulis. Memang sedemikian dahsyat kalo kita mau bersungguh2 di dunia tulis menulis ini, jika mungkin banyak orang yang pesimis (bahkan nyinyir) untuk apa kita menulis, maka kata omjay, “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”..

Saya sendiri termasuk yang merasakan “keajaiban” menulis ini, sejak saya lumayan rutin menulis diblog ini (walaupun masih blogger newbi..he.he) tak seberapa lama sekira 4 bulan setelah itu, banyak komunikasi dari teman-teman baru, sahabat baru di dunia maya ataupun nyata, project dari kementrian ataupun mengisi workshop di internal mereka pun jadi rutin, diskusi dengan teman-teman baru diberbagai daerah di Indonesia (bahkan diluar negeri) pun hampir tiap hari saya lakukan.. Mulai dari yang bingung nyari judul skripsi, tesis ataupun hanya mengerjakan tugas pun rasanya HP ataupun inbox email/FB tak pernah kering.. Senang rasanya punya teman-teman baru.. Tak berhenti disitu, tulisan-tulisan yang sudah terkumpul pun sudah satu yang jadi buku, sisanya menyusul untuk jadi naskah judul buku selanjutnya, dapat royalti, transferan, undangan ngisi seminar dimana-mana, ah anggap saja jadi bonusnya.. 🙂 Paling uenak memang nambah teman2 baru dan sodara dimana2..

Masih ingat tentang kisah Pak Habibie pasca kematian istri tercintanya Bu Ainun ?, konon sangat sedihnya beliau saat itu, kata psikolog pribadinya, hanya ada 2 pilihan solusi (tolong koreksi kalau crita ini salah ya 🙂 ), 1. Pak habibie tinggal di Rumah Sakit Jiwa untuk menenangkan jiwanya, atau 2. Berikan kesempatan untuk beliau mengenang kisah cintanya.. akhirnya, pak Habibie memilih opsi yang kedua dengan cara menuliskan buku kenangan cintanya beberapa lama kemudian beliau pulih kembali, dan woww,.. selain jadi buku non fiksi terlaris, juga berhasil diangkat ke layar lebar dan sedemikian laris tiketnya terjual habis.. So, kalo sekarang masih sehat, menulis lah selagi kamu sehat #itu pesannya..he

Tulisan ini ujungnya kemana ya ?..he.he jadi bingung saya..

Okelah, bagi yang mau mulai menulis, segeralah mulai, bagi yang sudah exist didunia tulis menulis, maka istiqomahlah.. 🙂

Sebagai penutup, saya akan kutipkan kata-kata hebat dari Pramudya Ananta Toer, bunyinya begini, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Salam hangat,

Dedy Setyo.

Penyebaran Informasi; Media ditangan kita

Perkembangan dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi salah satunya ditandai oleh hilangnya sekat ruang dan waktu antar manusia satu dengan yang lainnya, ditempat satu dan ditempat lainnya. Dalam beberapa detik informasi menjadi tersebarkan dengan sangat mudahnya, publikasi menjadi hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja, siapa yang mau maka dialah yang akan menjadi penyebar informasi. Komponen penting dalam dunia komunikasi dan informasi inilah yang sering kita nikmati dalam dunia Internet inilah yang disebut jejaring web (website). Website didunia ini menurut sumber http://www.worldwidewebsize.com/ (per 8 Januari 2013) telah mencapai angka yang fantastis, berikut saya sajikan datanya :

index google

Data di atas ini menunjukkan pada tiga bulan terakhir sejak tulisan ini dibuat, google telah berhasil menemukan index setidaknya 43 Miliar halaman web yang telah beredar di dunia maya. Walaupun pergerakannya sempat menemui pasang surut di akhir 2012, google berhasil meng-index perolehan angka yang naik lumayan signifikan sampai dengan pekan pertama di tahun 2013 ini. Mantab bukan ?.
Continue reading Penyebaran Informasi; Media ditangan kita

Kenapa kita (harus) menulis ?

Jika menulis dianggap sebagai sebuah kesadaran, mungkin bisa dibilang saya (agak) terlambat mendapatkan “hidayah” ini. he he. maksud saya adalah, menulis seharusnya bisa dianggap sebagai sebuah kebutuhan. Entah itu kebutuhan publikasi, kebutuhan akademis/intelektual (tak akan mungkin anda akan mendapatkan gelar apapun tanpa melewati proses menulis ex. skripsi, tesis atau disertasi), bahkan bisa dianggap sebagai kebutuhan rekreasi. Kenapa menulis menjadi kebutuhan rekreasi ?, iya, menurut literatur yang saya baca bahwa rekreasi merupakan aktivitas penyegaran dari aktivitas yang menjadi rutinitas sehari-hari disamping pekerjaan reguler kita.  Jika biasanya anda bekerja dikantor setiap hari selama minimal 8 jam, maka lambat laun anda akan mengalami kebosanan, makin anda bosan, semakin pula anda akan tidak produktif. Hal ini bisa disiasati dengan kegiatan rekreatif namun tetap “produktif”, menurut bahasa saya inilah menulis.

Disadari atau tidak, menulis ternyata telah menjadi kehiduan bagian umat manusia sejak dulu, sejak dimulainya jaman sejarah manusia. Manusia telah melakukan aktivitas tulis menuls dimulai dari simbol-simbol yang terukir dibatu dan goa. Pada jaman kita saat ini, kita dapat mengetahui sejarah peradaban manusia dari peninggalan nenek moyang kita dulu. Bahkan kita tahu peradaban yang tertua adalah dari peradaban di dekat sungai eufrat dan tigris ya dari peninggalan merekalah kita belajar. Dikehidupan kita sekarang ini, sejak teknologi SMS diperkenalkan tahun 1992 oleh ilmuwan Inggris Neil Papworth, sejak saat itulah kita dapat berkomunikasi dengan teman atau saudara kita beribu-ribu kilometer jauhnya dan dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan komunikasi lewat suara. Dibarengi juga oleh Mark Zuckenberg lewat karya fenomenalnya (red. facebook), maka “update status” pun menjadi aktivitas wajib kita hampir setiap hari. Inipun masih ditambah dengan kekuatan ribuan bahkan jutaan blog yang beredar di internet beserta jejaring sosial yang lainnya di dunia maya. So, sampai disini sebenarnya menulis sudah menjadi gaya hidup kita, sadar atau tidak sadar. Continue reading Kenapa kita (harus) menulis ?

Motivasi Menulis Habiburrahman El Shirazy

Menurut saya, menulis merupakan aktivitas yang gampang-gampang susah. Gampang jika memang sudah menjadi habit (kebiasaan) kita, susah jika jarang dilakukan dan malas untuk menambah input bahan tulisan, apalagi mendokumentasikannya dengan kurang baik. Semoga kita tidak tergolong yang kedua, he he. Ya, begitulah, “gampang-gampang susah” setidaknya lebih banyak gampangnya daripada susahnya. Hal yang paling mendasar untuk seorang penulis, biasanya kesulitannya terletak di bagaimana mencari inspirasi tentang bahan menulis yang sesuai dan yang pas dengan tematik yang menjadi tembakan kita.

kang abik dedy

Menurut kang abik (nama pena Habiburrahman El Shirazy) penulis Novel-novel Best Seller (Ayat-Ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Ketika Cinta Bertasbih dan berbagai macam-macam judul lainnya) berdasarkan tingkat keuletan penulisnya, terbagi atas dua macam. Continue reading Motivasi Menulis Habiburrahman El Shirazy