Tag Archives: moodle

Menjadi Narasumber Materi Manajemen Course pada Kelas e-learning

Sebagai bagian dari tindak lanjut coaching kelembagaan di lingkungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Mineral dan Batubara (Pusdiklat Minerba) Kementrian ESDM dalam pemanfaatan e-learning, beberapa hari yang lalu pada tanggal 4 dan 5 Mei 2015 di Bandung, Saya diundang untuk memberikan materi manajemen dan desain pembelajaran pada course.

Rangkaian acara ini merupakan tahapan yang harus dilalui ketika Pusdiklat Minerba yang telah memiliki sistem e-learning ini sudah pada tahap perancangan dan pembuatan course. Acara ini diikuti juga oleh bagian-bagian terkait diantaranya Bidang Informasi, Kurikulum, Standarisasi, Sarana Prasarana dan Widya Iswara selama 2 hari berturut-turut.

Selain saya yang berkontribusi sebagai narasumber materi manajemen course, diikuti juga oleh narasumber lainnya yang berasal dari IM4DC Australia yakni Mrs. Trish Andrews dan Mr. Charles Singer, sebagai informasi keduanya juga bekerja sebagai peneliti dan pengajar pada University of Queensland, Australia. Mereka menyampaikan tentang Desain Course dalam kelas jarak jauh pertambangan.
GB4A7770

 

Dalam pertemuan 2 hari tersebut, saya memberikan materi tentang pengelolaan course menggunakan Moodle pada topik-topik berikut ini :

1. Administrasi user
Pendaftaran
Edit Profile
Unggah foto
Enrollment method

2. Manajemen Course
Antarmuka course
Menambahkan bahan (file, gambar, video)
Membuat forum diskusi
Private message
Merancang chat room
Blog moodle
– Via posting
– RSS feed

3. Evaluasi dan assessment
Upload media SCORM
Membuat assignment
Mengenal tipe-tipe soal komputasional
Membuat Quiz
Manajemen bank soal
Import soal
Manajemen nilai/grading
Melihat perolehan nilai siswa
Tracking record siswa

Beberapa catatan materi ini bisa Anda baca pada blog ini dengan cuma-cuma.

Materi-materi ini sesungguhnya baru sebagian kecil pada pengelolaan Moodle, sehingga pada waktu-waktu berikutnya akan disusun agenda yang berkelanjutan agar bisa mempelajari Moodle dengan lebih mendalam.

GB4A7760

Akhirnya setelah pemberian materi 2 hari, pada penutupan acara kami sempatkan untuk mendokumentasikan kegiatan dan penyerahan buku saya kepada narasumber yang lainnya.

20150505_160155
Pemberian buku cinderamata kepada tim pengajar University of Queensland

 

Semoga materinya bermanfaat, sehingga tercipta hubungan yang baik untuk kedepannya bersama-sama sharing pengalaman dan pengetahuan.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Penilaian Berbasis Forum Pada Moodle

Setelah kita membahas berbagai macam penilaian dengan instrumen quiz dan penugasan. Kali ini kita akan membahas pola penilaian berbasis forum. Sebagai informasi, penilaian berbasis forum ini biasanya digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam hal menguraikan pendapat, konstruksi argumentasi dan keberanian berbeda pendapat dengan orang lain. Muaranya salah satunya misalnya pada berpikir kritis dan berpikir kreatif, 2 hal ini merupakan level berpikir tingkat tinggi yang dicanangkan oleh Unesco sebagai skill siswa di abad 21.

Menggunakan Moodle sebagai LMS multi fungsi, sangat mudah menggunakannya sehingga setiap tentor/guru bisa menggunakan kemampuan ini untuk mengukur dan mrangsang kemampuan para siswanya.

Langsung saja bagaimana caranya ?.

1. Pastikan anda sudah login sebagai teacher/admin.

2. Aktifkan tombol editing pada sisi kanan atas, “Turn editing on”

1

3. Tambahkan aktivitas baru pada salah satu section

4. Pilih “Forum” kemudian klik Add

2

5. Pada halaman berikutnya, silakan diisikan nama forum dan deskripsi (form no 1 dan 2). Untuk setting lampiran dan perhitungan kata, bisa diset pada form no 3 (maksimal ukuran kapasitas lampiran), 4 (jumlah berapa banyak file yang bisa diunggah) dan 5 (display penghitungan kata)

3

Masih dihalaman yang sama, ada pengaturan tentang langganan (subscription). Untuk lebih nyamannya saya biasanya set ke Auto agar setiap siswa otomatis bisa join ke dalam forum. Sementara pada Read tracking for this forum digunakan untuk melakukan pelacakan pada setiap posting yang dilakukan siswa.

Sementara pada penilaian (Ratings) bisa disetting tipe nya, apakah hendak dibuat perataan (Average), dihitung yang terbesar, atau yang pertama/terakhir posting. Untuk Scale kita set 100 agar bisa dinilai rentang 0 – 100. Akhiri dengan Save and display.
4

6. Setelah disimpan, maka akan masuk pada halaman baru yakni pada forum yang sudah dibuat. Untuk memulai pertanyaan/pemantik diskusi silakan buat topik baru klik pada Add a new discussion topic

5

Berikan judul dan isikan pesan sesuai dengan keinginan. Lanjutkan dengan klik Post to forum

6

7. Sudah terlihat pada layar disana, jika ingin memberikan balasan, silakan klik pada subject . Pada contoh kali ini, saya akan coba memberikan balasan menggunakan user siswa.

7

8. Setelah dilakukan balasan oleh user siwa, maka menggunakan akun teacher, komentar ini bisa dilakukan penilaian, semisal nilai 80.

8

9. Nah saat ini, sudah terlihat nilai yang telah diberikan yakni 80.
9

Demikian pembahasan melakukan penilaian berbasis forum. Semoga dengan menggunakan fitur ini, penilaian sudah lebih fleksibel karena tidak hanya pengerjaan soal dan penyerahan tugas semata, namun kita bisa memantau kemampuan siswa disisi lainnya. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Cara Mudah Instalasi Moodle pada PC Windows

Setelah sebelumnya kita telah berhasil melakukan instalasi Moodle pada server linux, pada tulisan ini akan dibahas instalasi Moodle pada lingkungan Windows. Sebagai bahan eksperimen Kita akan menggunakan PC yang telah terinstall Windows 7. Untuk software pelengkap servernya, program yang diperlukan berikutnya adalah XAMPP dan Moodle. Kita akan menggunakan XAMPP versi 5.6.8. Sebagai informasi, bagi Anda yang baru belajar mengutak atik didunia web programming, versi ini merupakan packing beberapa program yakni :

  • PHP 5.5.24 / 5.6.8
  • MySQL 5.6.24
  • phpMyAdmin 4.4.3
  • OpenSSL 1.0.1m (OS X and Linux)
  • XAMPP welcome page (beta)
  • Fix charset admin pages
  • OS X HOW-TO guides
  • SSL support for PostgreSQL PHP extension
  • PHP XMLRPC extension
  • PHP MSSQL extension

Paket sebanyak ini bisa didapatkan hanya dengan sekali install XAMPP ini. Untuk download bisa cek disini https://www.apachefriends.org/xampp-files/5.6.8/xampp-win32-5.6.8-0-VC11-installer.exe

Setelah terdownload, maka silakan lakukan instalasi. Seperti program windows kebanyakan, instalasi program ini memang didesain dengan mudah termasuk saat kita melakukan instalasinya. Untuk percobaan ini, Saya akan lakukan instalasi di partisi D:\xampp\xampp_new. Jika Anda memilih pada folder lain, silakan menyesuaikan ya.

Sebagai informasi, pada XAMPP ada folder “htdocs” yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan file-file pada servernya. Kalo diPC saya, maka tempatnya ada di D:\xampp\xampp_new\htdocs. Folder “htdocs” ini jangan didelete, dipindah atau rename karena akan memiliki pengaruh pada Moodle anda suatu saat nanti.

Kemudian, untuk Moodle nya, kita akan menggunakan yang versi 2.8.5 yang bisa didownload disini https://download.moodle.org/download.php/stable28/moodle-latest-28.zip

Besaran file ini kurang lebih sampai dengan 45 MB. Untuk memulai, setelah terdownload maka lakukan ekstrak pada folder htdocs, sehingga folder hasil ekstrak yang bernama “moodle” akan berposisi pada D:\xampp\xampp_new\htdocs\moodle. Untuk proses ekstrak nampak seperti pada dibawah ini.

1

Baik, setelah terkestrak dengan benar, maka langkah berikutnya adalah kita akan melakukan instalasi Moodle nya.

1. Untuk memulai instalasi Moodle, pastikan service pada Apache dan MySql nya berjalan dengan normal. Pada folder “xampp_new” ada file yang bernama “xampp_control.exe” yang bisa dieksekusi sebagai control panel xampp. Jika sudah running pada Apache dan MySql akan tampak seperti pada dibawah ini

xampp

2. Buka pada browser favorut anda, alamat http://localhost/moodle kemudian pilih bahasa untuk instalasi, kalo saya lebih senang dengan bahasa English (en) karena kalo di indonesiakan biasanya agak aneh terbacanya. Tapi sekali lagi, ini masalah selera saja ya. 😀

Setelah terbuka halamannya, maka klik Next
2

3. Pada halaman berikutnya, maka akan muncul form untuk diisi sesuai dengan alamat path instalasi kita. Pada Web address dan Moodle directory, akan muncul otomatis sesuai. Sedangkan Data directory sebenarnya fleksibel diisikan dimana saja, asalkan tidak sama dengan Moodle directory. Sebagai informasi, Data directory ini digunakan sebagai data cahing yang akan menyimpan semua data akses kita agar lebih cepat pada akses berikutnya. Pada Moodle, folder ini penting untuk dibuat. Akhiri dengan klik Next.
3

4. Pada halaman berikutnya, biarkan default saja pada MySQL kemudian lanjutkan dengan Next.
4

5. Tahap selanjutnya, kita akan membuat database  melalui phpMyAdmin. Buka pada tab baru di browser dengan alamat http://localhost/phpmyadmin. Pada Databases buat database baru dengan nama moodle.

5

6. Kembali pada tab sebelumnya, isikan Database name dengan moodle, sementara user dengan root. Untuk password biarkan saja kosong (blank), karena instalasi default pada xampp memang demikian. Lanjutkan dengan klik Next.

6

7. Pada halaman agreement, klik dengan Continue.
7

8. Halaman berikutnya, akan dilakukan checking komponen-komponen yang diperlukan Moodle. Jika semua paket yang diperlukan sudah lengkap, maka akan muncul teks “Your server environment meets all minimum requirements”. Lanjutkan dengan klik Continue.
8

9. Kemudian, tahap berikutnya merupakan fase instalasi, ini merupakan tahapan inti instalasi Moodle nya sehingga akan berlangsung relatif lama dengan masing-masing komponen akan muncul Success jika telah berhasil.

9

10. Jika instalasi telah selesai, maka masuk pada entry halaman admin, isikan username, password, dan komponen lainnya disini.

10

11. Jika telah selesai, maka akan terlihat halaman moodle nya melalui http://locahost/moodle

11

Oh ya, dalam instalasi moodle ketika menggunakan xampp, dalam beberapa kasus ketika telah terinstalasi akan muncul halaman blank sehingga tidak dapat diakses. Untuk mengatasinya sialakan buka halaman /moodle/admin/index.php dan temukan baris ini

redirect(“index.php?sessionstarted=1&lang=$CFG->lang”);

Berikan double slash di awal, sehingga agar tidak berfungsi menjadi

//redirect(“index.php?sessionstarted=1&lang=$CFG->lang”);

Demikian instalasi moodle pada PC Windows, semoga bermanfaat.

Salam,

Dedy Setyo

Konfigurasi Tayangan Live Broadcast Pada Moodle

Dalam pembelajaran jarak jauh, salah satu inovasi yang bisa dilakukan untuk percepatan penyerapan pembelajaran adalah menggunakan sarana broadcast streaming. Seperti layaknya kita menonton siaran televisi, walaupun satu arah, namun jika bisa dilakukan dengan baik maka peserta belajar akan mendapatkan outcome yang baik pula. Hal ini juga bisa menjadi siasat untuk memperoleh informasi/ilmu dari narasumber dari jarak yang jauh/ pada belahan dunia lainnya namun dilakukan secara real time. Semisal pada pembelajaran bahasa asing, kebutuhan untuk mendatangkan native speaker (penutur asli) bisa difasilitasi dengan tayangan broadcast melalui jaringan internet, kemudian disiarkan langsung melalui perantara Moodle kita.

Namun menyiapkan sistem penyiaran yang handal sekaligus mumpuni yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan ini tentu saja butuh biaya tak sedikit, diantaranya kita perlukan software broadcasternya (penyebar), hardware penyiapan studio, dan insentive SDM yang bisa mengelola dengan mahir hal-hal ini. Tapi jangan khawatir, saat ini beragam pilihan untuk melalukan broadcast sendiri nampaknya sudah banyak hadir dihadapan kita. Ada yang free, banyak juga yang berbayar. Tulisan ini membahas salah satu yang gratis diantaranya. Dengan backingan dari Google yang sudah tidak diragukan lagi kiprahnya di dunia maya, kalau sebelumnya Youtube yang sudah lama kita ketahui lebih banyak di wilayah layanan Video on Demand (VoD), saat ini youtube telah meluncurkan layanannya dalam bidang publikasi video streaming dengan nama youtube Live Events.

So, bagaimana cara memanfaatkan youtube Live Events ini sebagai broadcaster siaran langsung kita ?. Simak langkah-langkahnya dibawah ini. Oh ya, sebelum anda memulai langkah-langkah dibawah ini, diharapkan sudah tersedia webcam dan telah teruji dengan baik beserta koneksi internet yang memadai.

1. Pastikan anda telah memiliki akun gmail, dan sudah loginpada halaman youtube.com

2. Setelah login, nanti akan muncul pada halaman seperti dibawah ini, pada sisi pojok kanan atas ada gambar profile picture kita silakan klik, kemudian klik pada lagi pada opsi Video Manager

1

3. Kemudian akan muncul jendela Video Manager dibawah ini, silakan klik pada opsi Live Events
2

4. Akan muncul jendela selanjutnya, pada Basic Info sialakn diisi dengan nama channel, waktu publish dan keterangan singkat tentang materi. Akhiri dengan klik “Go Live Now”

3

5. Pada display “Ready to go!” siap untuk dilaunching dengan cara klik OK.
4

6. Akan muncul preview sekilas dari web cam anda, dari sini secara live sudah muncul seperti apa nanti tayangannya. Jika telah siap, sialkan klik Start Broadcast

5

7. Lanjutkan dengan klik OK

6

8. Ketika sudah live, maka sebagai salah satu opsi untuk menyebarkan (sharing) kita bisa memilih Links di Video Embed, silakan di copy saja pada salah satu course Moodle anda.

7

9. Masuk pada salah satu pekan. Tambahkan resource baru.

2

10. Kemudian, pilih Label dan lanjutkan dengan klik Add.

3

Kemudian pada menu ediotr, agar kode embed nya bisa terpakai, masuk pada mode HTML dengan cara klik edit HTML source

4

11. Silakan paste kode nya kemudian akhiri dengan klik Update

5

12.. Dan beginilah hasilnya, ta da.. ini hasil streaming saya menggunakan web cam PC di rumah, dari percobaan sederhana ini, terjadi delay sekitar 10 detik dari kondisi real. Dengan platform yang gratis ini, Saya sempat mencoba dalam durasi 4 menit kurang, hasilnya lumayan memuaskan. 🙂

8

Nah, jika telah live, maka hasil file nya akan otomatis tersimpan pada arsip video manager kita. Kita bisa melakukan publish atau unpublish sesuai kebutuhan kita.

9

Semoga tulisan ini bisa memberikan panduan bagi teman2 yang ingin mencoba melakukan publikasi live streaming sekaligus menampilkannya pada Moodle anda. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Strategi Perubahan Pembelajaran dari Kelas Tradisional Menuju e-learning

Beberapa provider e-learning menganggap bahwa jika ingin melakukan konversi dari pembelajaran tradisional kedalam pembelajaran e-learning, maka hanya tinggal memindahkan semua konten/media kedalam Learning Management System (LMS) maka pekerjaan itu sudah selesai.

Namun sebenarnya langkah ini belumlah selesai. Memindahkan semua file presentasi/bahan-bahan pembelajaran dari yang tadinya tercetak hanya menjadi via file-file saja barulah satu tahap. Jika ingin tuntas dan menyeluruh, menurut Christopher Pappas ( seorang profesional e-learning penemu jejaring The eLearning Industry) harusnya dilengkapi dengan 5 langkah berikut. Apa sajakah itu ?, mari simak kelanjutan tulisan ini. Artikel ini disarikan dari http://elearningindustry.com/.

1. Mengidentifikasi format kelas e-learning.

Langkah ini untuk memilah dan mengklasifikasi kelas pembelajaran dilakukan dengan synchronous atau asynchronous.

Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/
Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/

a. Synchronous

Pertemuan langsung/live secara waktu, bersamaan antara tutor dengan peserta didik. Pada mode ini beberapa media yang bisa digunakan antara lain : live conference, chat, broadcasting dan private message.

Dalam platform ini, tutor dan peserta didik menyepakati waktu yang akan digunakan, sehingga bisa secara real time bertemu dalam perantara jaringan internet. Dalam pembelajaran tatap muka jarak jauh ini, tutor juga memiliki kewenangan untuk memilih peserta. Untuk pelaksanaan real time conference ini beberapa provider sudah menyediakan layanannya baik secara publik atau private, secara berbayar atau gratis. Contoh provider yang telah mengembangkan layanan ini  antara lain Skype, Open Meeting, Big Blue Button, Google HangOut dll.

b. Asynchronous

Pertemuan antara tutor dan peserta didik tidak secara langsung, terdapat delay antara penyediaan media dan pembelajaran yang terjadi. Contoh media  yang digunakan : Forum, gambar, video, sound, e-mail dan teks.

Terjadinya delay waktu antara penyediaan media dengan pembelajaran, memberikan waktu lebih banyak kepada peserta didik untuk bisa mendalami lebih lanjut materi yang telah disediakan. Selain itu, peserta didik juga diberikan keluangan untuk mengkaji materi-materi dari sumber yang lain untuk pengkayaan bahan ajar. Salah satu kelemahan yang ditemukan pada mode ini adalah jika adanya pertanyaan atau topik diskusi yang membutuhkan klarifikasi atau jawaban dari tutor maka membutuhkan waktu yang sangat tentative, tergantung dari kesediaan tutornya. Walaupun begitu, tentu saja sumber belajar tidak hanya berasal dari tutor semata, namun bisa juga didapatkan dari rekan sejawat.

c. Hybrid/Blended Learning

Ini kombinasi mode antara synchronous dengan asynchronous dimana fase ini biasanya ditempuh untuk masa adaptasi penerapan e-learning di masa-masa awal. Mode ini memungkinkan adanya mixed penerapan e-learning dengan kelas tradisional, adapun berapa persentasenya (antara e-learning dengan tradisional) tergantung dari masing-masing institusi. Sebagai gambaran jika dilakukan fifty-fifty semisal untuk pertemuan 10 x, maka 5x dilakukan dengan konvensional dan 5x dengan e-learning. Kombinasi inipun dalam perjalanannya bisa berkurang/bertambah tergantung dari masa transisi dan evaluasi.

Sebagai ilustrasi seperti nampak pada gambar dibawah ini (pengajaran berbahasa asing).

chart-blended

Dari 3 pendekatan kelas pembelajaran diatas , jika ingin memilih, secara pribadi saya lebih merekomendasikan menggunakan Blended Learning. Hal ini didasari oleh kebutuhan, bahwa proses adaptasi dari pembelajaran tradisional tentu saja membutuhkan waktu dan persiapan yang tidak sedikit. Walaupun begitu, pemegang kebijakan dan pelaksana lapangan harus menyepakati kapan pelaksanaan blended ini akan dilakukan evaluasi dalam rentang waktu tertentu. Sebagai alat bantu evaluasi, berikut saya sajikan tabel untuk analisis keterlaksanaan mode blended ini.

evaluasi

Sebagai sebuah komponen evaluasi, form diatas bisa disesuaikan dengan kebutuhan institusi. Jika nilai telah beranjak naik dari waktu ke waktu, mode blended ini bisa berubah prosentasenya.

2. Pemilihan Model Desain Instruksional

Menurut Marina Arshavskiy (2013), Model Desain Instruksional pada e-learning sendiri paling tidak terdiri dari 7 tipe.

a. ADDIE Model

b. Seels and Glasgow ISD Model

c. Dick and Carrey Systems Approach Model

d. ASSURE Model

e. Rapid ISD Model

f. Four-Door (4 D) eLearning Model

g. SAM Model

Akan coba saya paparkan ADDIE dan ASSURE karena sering dipakai dalam pengembangan sistem.

ADDIE Model kepanjangan dari Analyze (analisis), Design (desain), Develop(membangun), Implement (terapkan), dan Evaluate (evaluasi). Model ini cukup umum dikenal sebagai model yang fleksibel yang sering dipakai untuk pengembangan sistem. Disiapkan untuk membantu proses step by step yang membantu sistem desainer untuk membuat program yang sesuai dengan framework.

Kemudian untuk ASSURE Model

dikembangkan oleh Heinich, Molenda, Russell dan Smaldino, berdasarkan 9 even Instruksional Gagne. Model ini mengasumsikan bahwa desain kelas menggunakan berbagai tipe media dan secara khusus sangat bermanfaat untuk desain kelas e-learning.

ASSURE kepanjangan dari:

  • A – Analyze Learner (Menganalisis Pembelajar)
  • S – State Objectives (Menentukan Tujuan Pembelajaran)
  • S – Select Media and Materials (Memilih media dan materi)
  • U – Utilize Media and Materials (Menggunakan media dan materi)
  • R – Require Learner Participation (Membutuhkan partisipasi pembelajar)
  • E – Evaluate and Revise (Evaluasi dan revisi)

ASSURE-Model

assure-model

Kemudian untuk membandingkan diantara 2 model tersebut, silakan disimak melalui tabel berikut

tek 3

Pada Assure terlihat bahwa evaluasi dilakukan pada akhir fase, sedanggkan pada Addie evaluasi dilakukan pada masing-masing step.

Untuk pemilihan modelnya silakan bisa memilih diantara Assure atau Addie, atau bisa juga dilaukan kolaborasi diantara keduanya.

3. Menggunakan dan memperhatikan interaksi

Menurut Moore (1989), salah satu pioner dan pakar dalam pembelajaran jarak jauh, serta editor American Journal of Distance Education dalam pembelajaran jarak jauh, setidaknya akan terjadi 3 interaksi :

a. Pembelajar pada konten

Merujuk pada poin ini, perhatian dari pembelajar kepada konten materi memegang peranan penting akan tingginya serapan pembelajaran. Sehingga penyedia materi yang baik seyogyanya memperhatikan faktor ini sebagai faktor penyukses pembelajaran dengan cara mengkonstruk materi dengan cara yang kreatif, inovatif dan interaktif.

b. Pembelajar pada tutor

Tutor yang baik dalam pembelajaran jarak jauh, walaupun tidak dituntut untuk selalu online 24 jam, namun kesediaan membantu pembelajar akan menjadi nilai plus. Apalagi dengan karakter sebagian besar pengguna yang lebih ‘touching’ ketika berinteraksi dengan manusia.

c. Pembelajar pada pembelajar yang lain

Kita sadari sepenuhnya bahwa pada model pembelajaran jarak jauh, siapa saja dapat menjadi narasumber. Sehingga sistem e-learning tidak hanya mengandalkan sepenuhnya pada materi online atau tutor.

4. Memilih teknologi pendidikan yang tepat

Berbagai Learning Management System yang tersebar luas menawarkan berbagai pilihan teknologi, untuk bisa memilihnya, pertimbangan interaksi diatas dapat menjadi salah satu rujukan.

Seperti contoh pada Moodle, yang sudah menyediakan berbagai fasilitas interaksi.

a. Pembelajar pada konten

Video embed,

Gambar,

Animasi,

Sound,

Wiki,

Media hypertext.

b. Pembelajar pada tutor

Live conference,

Personal Message,

Forum,

Broadcasting Video.

c. Pembelajar pada pembelajar yang lain

Chat,

Forum,

Personal Message,

Wiki.

5. Menata Prosedur dan Survey

Setelah melakukan 4 poin diatas, sebelum menawarkannya kepada peserta didik, ada beberapa hal yang akan dilakukan untuk pengecekan akhir.

a. Survey

Melakukan survey diawal, dilakukan untuk mengetahui keinginan pembelajar terhadap konten yang akan kita tawarkan yakni berkaitan dengan desain interface, kegunaan, akses, analisis pengguna.

b. Saran dan masukan dari expert

Masukann dari expert sangat dibutuhkan sebelum kita launching course kita yakni dari beragam latar belakang diantaranya : subject expert, instructional designer, developer e-learning, pengembang materi.

c. Setelah mendapatkan masukkan, kita bisa melakukan revisi tahap 1.

d. Setelah direvisi, maka minta report kembali kepada expert yang sama pada poin b diatas.

e. Analisis data hasil feedback yang kedua

f. Revisi sistem e-learning final.

Sampai disini, semoga 5 step diatas berhasil membantu anda yang ingin melakukan konversi dari pembelajaran tradisional kepada e-learning.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo

 Referensi :

  • http://elearningindustry.com/top-5-tips-to-convert-your-traditional-course-into-an-elearning-format
  • Arshavskiy, Marina. “Instructional Design for ELearning Essential Guide”. www.yourelearningworld.com. 2013.
  • http://lisahalverson.com/2011/01/25/moore-on-interaction-transactional-distance/

Menambahkan Eksternal Storage Dropbox Kedalam Moodle

Menambahkan kapasitas tambahan pada Moodle Site kita memang akan memberikan banyak keuntungan, selain tentu saja tidak memenuhi dan memberatkan kerja server kita, bagi user/admin yang gemar melakukan penyimpanan pada drive di Cloud akan langsung bisa mengkoneksikan Moodle nya dengan file-file favorit nya sehingga tidak perlu melakukan upload file/data berkali-kali. Pada Moodle versi 2.0 keatas, fitur ini sudah diadaptasi dengan baik sehingga sangat memudahkan user/admin.

Setelah pada tulisan sebelumnya kita membahas integrasi antara Moodle dengan ownCloud dan Google Drive, pada artikel ini kita akan membahas penerapan Dropbox pada Moodle. Ayo ikuti bahasannya secara bertahap.

Berikutnya apa saja yang diperlukan ?, tentu saja pastikan telah memiliki akun dropbox nya. Iya, hanya itu saja, sangat simple bukan ?.

Setting pada Dropbox

1. Silakan login pada akun dropbox Anda di dropbox.com

2. Kalau sudah login, silakan menuju https://www.dropbox.com/developers

3. Pada halaman baru, silakan klik pada App Console dilanjutkan dengan membuat app baru dengan cara klik Create app

1

4. Kemudian pada halaman Dropbox Platform app, pilih beberapa opsi seperti pada dibawah ini :

Create a new Dropbox Platform app : pilih Dropbox API app

What type of data does your app need to store on Dropbox ? : pilih Files and datastores

Can your app be limited to its own folder ? : No

 

2

Dilanjutkan dengan opsi seperti dibawah ini :

What type of files does your app need access to ? : Pilih Specific file types, pada opsi ini kita diberikan opsi memilih type file maksimal 3 type.

Last question, what type of files will your app use ? : Pilih Text files, Documents, Images.

Provide an app name : isikan nama app nya, contoh moodlededy2.

Akhiri dengan klik Create app
3

5. Pada halaman baru akan muncul App key dan App secret.

Nah dua informasi tersebut akan dipakai pada setting Moodle, silakan sementara bisa dikopikan pada notepad terlebih dahulu.

3-1

Setting pada sistem Moodle

Setelah pada dropbox kita selesaikan setingannya, maka berikutnya akan kita atur pada sistem Moodle nya. Apa saja yang perlu kita config ?, silakan simak langkah-langkah berikut ini :

1. Login sebagai admin moodle

2. Masuk pada Site Administration >> Plugins >> Repositories >> Manage repositories

pada form “Dropbox” silakan ubah status yang sebelumnya Disabled menjadi Enabled and visible

4

3. Maka akan muncul halaman baru Dropbox configuration

pada isian API key dan secret, silakan masukkan kode yang diperoleh pada poin 5 diatas.
5Setelah diisikan API dan secret nya akhiri dengan Save

4. Nah, setelah dikonfigurasi, berikutnya kita ujicobakan dengan cara menambahkan media/file baru apakah sudah muncul atau belum pada sumber storage nya.

5. Masuk pada salah satu course, kemudian tambahkan media baru.

Pada name dan description isikan keterangannya. Kemudian pada files tambahkan file nya dengan klik Add

6

6. Pada halaman baru, sudah muncul sumber file dari Dropbox, lanjutkan dengan klik Login

7

7. Maka akan muncul request apakah akan diijinkan atau tidak, lanjutkan dengan klik Allow.

8

8. Maka akan muncul display, semua file yang telah disimpan pada dropboxnya. Kemudian pilih salah satu file nya.

9

Akan muncul sejenak preview file yang terpilih.

10

9. Nah kembali pada halaman sebelumnya, maka sudah muncul file nya. Akhiri dengan klik Save and display
11

10. Maka sudah muncul file gambar yang tadi sudah kita masukkan.

12

Sampai disini integrasi Dropbox dan Moodle sudah selesai kita lakukan. Sehingga storage server kita akan lebih lapang dan sumber media lebih bervariasi dari mana saja asalnya. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Setting SMTP Gmail Pada Moodle

Setelah pada tulisan sebelumnya membahas tentang konfigurasi form registrasi beserta custom nya, maka pada artikel ini akan dibahas kelanjutan setting e-mail setelah pendaftaran pada moodle.

Informasi sekilas, bahwa SMTP (Simple Mail Transfer Protocol) sendiri merupakan protokol yang digunakan untuk mode pengiriman e-mail. Pada Moodle, e-mail ini salah satunya dipakai untuk notifikasi kepada user setelah dilakukan pendaftaran, selain itu, e-mail pada moodle banyak digunakan untuk informasi kepada user ketika sudah masuk pada course pembelajaran.

Namun pada realitanya, untuk pengaturan mail server pada masing-masing server memang tidak mudah. Paling tidak kita harus belajar tentang bagaimana proses email bisa dikirimkan dan diterima ke server lainnya. Tulisan ini untuk menyederhanakan, bahwa Google menyediakan port SMTP yang bisa digunakan oleh publik, sehingga anda bisa melakukan pengiriman e-mail pada moodle lewat perantara e-mail punya gmail, namun syaratnya Anda harus memiliki akun gmail. Mudah sekali bukan ?.

Walaupun diberikannya kemudahan oleh gmail tersebut, tidak bisa dipungkiri fasilitas dari gmail ini memang ada keterbatasan (seperti dikutip dari https://docs.moodle.org/25/en/Email_setup_gmail )

1. Tidak mensupport multi sender.

2. Limit pengiriman per harinya hanya 500 email untuk 500 alamat email yg unik.

Baik, sekarang kita akan ujicoba melakukan registrasi menggunakan form sebelumnya.

Seperti nampak pada form dibawah ini, kita akan isikan sesuai dengan permintaan. Akhiri dengan klik Create my new account

1

Setelah diisikan dengan lengkap, maka form registrasi ini harusnya akan mengirimkan notifikasi pendaftaram kepada peserta yang baru masuk. Namun setelah saya lakukan pengecekan pada email. Ternyata tidak didapati e-mail apa-apa dari moodle. Hal ini karena belum saya lakukan setting mail server pada hosting saya.

Nah sekarang, kita akan coba setting menggunakan SMTP gmail. Langkah-langkahnya demikian :

1. Login menggunakan akun admin.

2. Masuk pada Site administration >> Plugins >> Message outputs >> Email
2

3. Setelah masuk pada halaman baru, pada form isikan sebagai berikut :

SMTP hosts: smtp.gmail.com:465

SMTP security: SSL

SMTP username: Akun gmail anda, isikan lengkap dengan @gmail.com

SMTP password: Password akun gmail

Setelah diisi semua, akhiri dengan save.
3

4. Oke, setelah itu untuk mengujicoba, lakukan logout pada admin kemudian masuk pada form registrasi.

5

Setelah diisi semua seperti pada tampilan diatas, harusnya dalam beberapa saat anda akan menerima email seperti ini :

6

Mudah sekali bukan ?. Nampak pada pengirim (sender), akan muncul e-mail gmail anda yang tadi sudah dimasukkan seperti ini.
4

Samapi disini sebenarnya kita sudah selesai seting gmail pada moodle anda, namun beberapa admin moodle biasanya ingin melakukan custom terhadap redaksi e-mail yang dikirimkan seperti nampak diatas menggunakan bahasa sendiri. Bagaimana melakukannya ?

1. Masuk pada Site Administration >> Language >> Language customisation

8

2. Pada jendela baru klik pada English (en), ini karena seting bahasa masih default menggunakan bahasa Inggris, pada teulisan lain akan dibahas menggunakan pack bahasa Indonesia.
9

akan loading beberapa saat, kemudian muncul ke halaman baru  untuk melakukan Filter, karena banyak istilah pada moodle.

Show strings : pilih moodle.php

Only string contained : kita akan mengisikan isi email sebelumnya untuk melakukan filter, misalnya kita isikan “To confirm your new account, please go to this web address

Klik Show strings untuk memunculkan hasil filternya.

Berikutnya dihalaman yang sama, setelah muncul teks yang dimaksud, tuliskan teks sesuai dengan keinginan kita, misalkan “Konfirmasi email pendaftaran”.

Jangan lupa akhiri dengan Save changes to the language packs
10

3. Untuk melakukan ujicoba pendaftaran lagi menggunakan email yang sama, maka akun sebelumnya harus didelete, kecuali jika anda ingin mencoba pakai email yang lain. Untuk delete, klik pada Site Administration >> Users >> Accounts >> Browse list of users

14

Klik delete pada akun usernya.
11

4. Sekarang kita isikan lagi form isian pendaftarannya seperti ini. Akhiri dengan klik Create my new accounts

5

5. Maka email yang didapatkan saat ini sudah berubah redaksi tesknya.
12

Silakan melakukan ujicoba dengan redaksi teks lain agar lebih mudah dipahami oleh semua user baru anda. Selamat mencoba 🙂

Salam hangat,

 

Dedy Setyo.

Manajemen Form Registrasi Pada Moodle

Pada bahasan kali ini, kita akan belajar memanajemen form registrasi user. Seperti kita ketahui, penggunaan Moodle dalam pembelajaran pastilah melibatkan banyak user/peserta. Karena penambahan user jika semuanya full dilakukan oleh Admin, tentu saja akan memakan banyak waktu dan energi yang tidak sedikit. Masih mungkin jika semua user yang akan masuk kedalam course kita, kita sudah punya list identitasnya, jika tidak tentu saja akan merepotkan Admin. Masalahnya ternyata secara default moodle belum mengaktifkan pendaftaran untuk user. Kita akan bahas agar ketemu solusinya.

Sehingga kita akan mengaktifkan form registrasi agar semua user umum bisa melakukan registrasi secara mandiri. Registrasi bisa dilakukan kapan pun dan dimanapun oleh masing-masing user, dan Admin hanya tinggal melakukan perekapan saja siapa-siapa saja yang telah melakukan pendaftaran.

Nah selain mengaktifkan form registrasi, ada hal lain yang biasanya tidak jarang dikeluhkan oleh beberapa admin moodle, yakni dibutuhkannya form-form yang tidak tersedia secara default seperti form untuk identitas diri (Alamat, no HP, Jenis kelamin dll). Selain itu, nampaknya ada form registrasi dari default moodle yang keberadaannya sendiri jarang/tidak terpakai. Semisalnya form Negara/Country. Karena pembelajaran kita hanya untuk orang Indonesia saja atau lokal, maka form ini bisa dipastikan tidak berguna jika tetap muncul pada layar, maka kita akan menghilangkannya.

Secara singkat, berdasarkan sedikit prolog diatas kita akan membahas secara satu persatu materi-materi berikut ini :

a. Mengaktifkan form registrasi user

b. Menambahkan form sendiri yang dibutuhkan

c. Menghilangkan form negara asal/country

Maka dari itu, silakan simak bahasannya karena akan dikupas secara detail dan bertahap.

Kita mulai dari point pertama.

a. Mengaktifkan form registrasi user

1. Pastikan anda telah login sebagai admin dalam sistem moodle yang telah dibangun.

2. Masuk pada Site Administration >> Plugins >> Authentication >> Manage Authentication.

Ketika sudah muncul pada jendela, pada Self registration pilih Email-based-self-registration

1

Kalau sudah dirubah, akhiri dengan klik Save changes
2

Hanya begitu saja, sebenarnya. Untuk mengujinya, silakan log out dari akun admin.

Setelah log out dilakukan, pada sudut kanan atas klik Login
3

Pada halaman baru, sudah muncul link Create new account disana. Silakan klik.
4

Maka akan muncul form registrasi user seperti dibawah ini.
5

Oke, sekarang kita beranjak ke point kedua.

b. Menambahkan form sendiri yang dibutuhkan.

Seperti sudah diuraikan diatas, Bahwa latar belakang pembahasan poin kedua ini adalah untuk menambahkan komponen form yang tadinya secara default belum tersedia disana. Pada contoh kali ini, kita akan menambahkan form dengan kategori : Identitas Pribadi, dimana muatannya ada 3 isian form, yakni no hp, jenis kelamin dan alamat.

Perlu saya sampaikan diawal sebelum menambahkan 3 komponen form ini, masing-masing memiliki jenis isian yang berbeda. Langsung saja kita buat.

1. Masuk sebagai admin.

2. Klik pada link Site Administration >> Users >> Accounts >> User profile fields

6

3. Kita buat nama kategori profil terlebih dahulu, klik Create a new profile category
7

Berikan nama : Identitas Pribadi, lanjutkan dengan klik Save changes.
8

4. Setelah dibuat kategorinya, berikutnya adalah menambahkan form pada kategori tersebut. Klik Create a new profile field :

9

Karena kita akan menambahkan no hp, maka pilih Text input
10

5. Nah masuk pada setting nya, isikan beberapa komponen. Perlu diingat pada form dengan tanda asterix * maka wajib untuk diisikan.

Short name : nohp

Name : Nomor HP

Description : deskripsi untuk memudahkan user mengisikan.

Kemudian yang perlu diatur untuk diset Yes antara lain :

Is this field required ? : Maksudnya form ini ketika sudah muncul maka wajib untuk diisikan user.

Display on signup page ? : Muncul pada pendaftaran

Category : Kita daftarkan no hp pada kategori Identitas Pribadi.

Kemudian akhiri dengan klik Save changes.

Lengkapnya lihat seperti dibawah ini.
11

6. Setelah form no hp ditambahkan, berikutnya kita akan memberikan form baru jenis kelamin. Karena jenis kelamin ini sifatnya memilih, maka kita pilih Menu of Choices

12

Pada setting selanjutnya kita atur ketentuan seperti poin 5 diatas. Hanya ada perbedaan pada isian Menu options, isikan baris satu Laki-laki, pada baris dua Perempuan. Harap diingat, masing-masing opsi dipisahkan oleh baris. Akhiri dengan Save changes.
13

Untuk form terakhir, kita akan membuat form alamat, yang berbeda disini karena alamat biasanya dituliskan dalam jumlah teks yang panjang maka, kita pilih Text area

14

Pada setting, sama dengan poin 5. Akhiri dengan Save changes.

15

Sampai disini pembuatan form selesai. Untuk menguji nya silakan logout dari admin. Kemudian menuju pada form registrasi.

16

Sudah terlihat dengan jelas, bahwa Identitas Pribadi berhasil kita tambahkan dengan baik. Oh ya, sekedar informasi, urutan tiap komponen formnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan mana yang paling atas atau bawah.

17

Setelah 2 point diatas selesai, di poin ketiga ini berikutnya akan kita bahas.

c. Menghilangkan form negara asal/country

Kenapa poin ini saya munculkan, karena seringkali moodle kita hanya dipakai oleh orang Indonesia sehingga form Country tidak berguna ketika ada disana, maka sebaiknya kita delete saja. Begini tampilan awal sebelum didelete.

18

Kita perlu mengedit kode pada file /login/signup_form.php sehingga pastikan anda bisa masuk pada FTP ke hosting/servernya.

Silakan buka file tersebut, dan lihat pada baris 89 dan 90. Berikan “//” (tanpa petik) agar dua baris itu tidak berfungsi (menjadi komen). Hasil akhirnya begini :

// $mform->addElement(‘select’, ‘country’, get_string(‘country’), $country);
// $mform->addRule(‘country’, get_string(‘missingcountry’), ‘required’, null, ‘server’);

 

19

Jika sudah, maka akhiri dengan save. Sekilas info, pada moodle 2.5 ini terletak pada baris 89 dan 90, untuk versi yang lain bisa jadi sama atau berbeda.

Untuk mencobanya, silakan kembali ke halaman registrasi atau refresh saja browsernya.

20

Terlihat sudah hilang form country nya. Gampang sekali bukan ?. Kali ini form kita yang tersedia hanya form yang berguna saja. Selamat mencoba.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Menambahkan Eksternal Storage Google Drive di Moodle

Ini salah satu bahasan favorit saya, kolaborasi Moodle dengan sistem lainnya. Seperti kita tahu, bahwa optimalisasi sistem e-learning kita, salah satunya dilakukan dengan adanya pengkayaan media. Maksudnya adalah, dengan makin banyaknya media atau bahan ajar yang bisa dipakai, tentu saja lebih menarik dan sisi lain variasi materi akan lebih plus. Materi dengan format apapun bisa kita masukkan ke dalam moodle kita sehingga pembahasan suatu topik akan lebih banyak sumbernya.

Namun hal ini tentu saja akan membebani server kita, karena semua muatan ini kan pastinya memiliki ukuran-ukuran. Dari yang kecil sampai dengan yang besar. Dari yang satuan Kilo Byte sampai dengan Mega Byte bahkan Giga Byte. Lama kelamaan kapasitas free space di hard disk kita akan berkurang dan lama kelamaan akan habis. Untungnya, menggunakan moodle sebagai salah satu platform terbaik Learning Management System (LMS), mengijinkan kita untuk mengkolaboarasikan dengan layanan Cloud Storage yang telah banyak tersedia di Internet, baik itu yang sifatnya gratis atau berbayar, mulai dari Google Drive, Box, Dropbox, Picasa, Flickr dan lain sebagainya.

Tulisan ini akan mengulas penggunaan google drive sebagai alat bantu penambah ruang dalam moodle kita. Dengan menggunakan Google Drive, kita akan memperoleh kapasitas free 15 GB. Sekilas info, dengan google drive ini Kita bisa mengunggah file-file untuk dibackup, misalnya file-file penting anda jika khawatir nantinya hilang atau terkena virus, atau bisa juga agar bisa diakses dari tempat manapun asalkan masih konek internet sehingga lebih mobile, dan fungsi-fungsi lainnya. Kapasitas ini sudah termasuk dengan layanan email kita.

Untuk memulai, syaratnya tentu saja anda harus punya akun email di gmail. So, jika anda belum memilikinya pastikan sudah daftar ya.

Langkah-langkahnya begini :

1. Login ke dalam akun gmail anda. Tidak perlu saya jabarkan caranya disini.

2. Masuk ke dalam sistem moodle anda sebagai admin.

3. Kemudian menuju link Site Administration >> Plugins >> Repositories >> Manage repositories

1

4. Pada baris Google Drive dari yang sebelumnya Disabled ganti menjadi Enabled and visible

2

5. Maka otomatis anda akan di arahkan ke dalam halaman baru, untuk konfigurasi plugin ini. Halaman ini membutuhkan pengisian Client ID dan Secret yang didapatkan dari google.

3

Untuk bisa mengisi halaman ini, silakan anda menuju link https://code.google.com/apis/console#access

Anda akan diminta menchecklist Agreement Terms of Service

klik saja tombol Accept disana.
4

6. OAuth Merupakan sejenis API atau protocol yang mengijinkan hubungan antara 2 atau lebih sistem yang berbeda. Kita akan membuat 1 client ID disana. Klik Create new Client ID
5

7. Pada halaman berikutnya, kita akan disajikan pilihan type client ID yang hendak dibuat. Pilih Web Application saja.

Kemudian isikan alamat url moodle anda pada Authorized Javascript Origins  sementara pada Authorized Redirect URIS isikan url moodle ditambahkan “/admin/oauth2callback”

Akhiri dengan klik Create Client ID.

6

8. kemudian akan muncul satu halaman baru, yang berisi informasi tentang Client ID dan secret. Silakan copy dan paste pada halaman sebelumnya.
7

Jika sudah terisikan, kemudian lakukan Save.

8

9. Ada setingan lagi yang harus kita lakukan, yakni menyalakan DriveAPI pada kumpulan APIs kita di alamat tadi

https://code.google.com/apis/console#access

Pada Drive API tombol yang tadinya OFF silakan klik agar berubah menjadi ON.

13

10. Nah, selesai di setingan google tadi, kemudian kita uji cobakan menambahkan sumber file baru. Masuk pada salah satu course untuk menambahkan resource.

9

11. Kemudian pada jendela Resource, pilih File lanjutkan dengan klik Add.

10

12. Silakan masukan nama dan deskripsinya. Untuk menambahkan file klik Add.

11

13. Disana sudah terlihat sumber dari G Drive, untuk pertama kali klik Login dan lanjutkan dengan Accept jika ada permintaan persetujuan.

12

14. Tak seberapa lama akan muncul semua folder yang pernah kita upload sebelumnya.

14

Sebagai contoh, akan saya buka salah satu folder dan file PDF disana.

15

15. Setelah menambahkan file, maka anda akan masuk pada satu halaman yang tadi diisikan. Untuk melihat hasil sisipan media kita, klik Save and Display.
16

16. Tunggu sejenak, maka akan keluar display file PDF kita yang tadi sudah kita sisipkan.

17

Gampang sekali bukan ?, anda bisa mencoba-cobanya dengan cara menyisipkan file dengan berbaga format. Selain lebih praktis, aman, dan tentu saja tak akan mengurangi kapasitas harddisk server anda.

Dalam pengujian saya, ketika saya sudah log out dari akun gmail sekalipun, tak ada masalah bagi file yang telah disisipkan. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Memonitor Aktivitas User Pada Kelas e-learning Secara Otomatis

Pada kelas e-learning yang sering terjadi biasanya kegelisahan guru pembimbing/tentor dalam memonitor peseta didik terhadap keaktifan menerima bahan/media ajar. Seberapa besar atensi yang dilakukan oleh peserta didik, kesulitan untuk dimonitor secara intensif. Apalagi jika peserta sudah sedemikian banyak dan waktu pembelajaran dilakukan secara Asynchronous (tidak real time/bersamaan).

Untungnya hal ini bukan menjadi masalah jika kita mengelola kelas e-learning kita menggunakan pernagkat Moodle. Sebagai salah satu Learning Management System (LMS) yang cukup populer didunia, fitur-fitur moodle secara berkala terupdate dengan lengkap, serta menjawab masalah-masalah yang terjadi dan sering ditemui dalam pembelajaran e-learning.

Menggunakan Progress Bar, peserta didik akan tahu sejauh mana akses materi yang dia lakukan serta berapa persen aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan. Untuk pengajar/tentor, secara komunal akan diberikan laporan, berapa banyak peserta didiknya yang telah melakukan capaian-capaian. Progress Bar ini sendiri merupakan block yang kita tempatan pada salah satu sisi kelas virtual kita, yang akan memonitor dengan lengkap apa-apa yang telah dilakukan peserta. Sepengetahuan saya, ada beberapa plugin sejenis yang bisa kita manfaatkan untuk hal ini. Tulisan ini akan membahas Progress Bar terlebih dahulu.

Oh ya, sebagai informasi, kali ini saya menggunakan moodle 2.5. Selain itu, pastikan anda telah memberikan pointer tugas-tugas, bahan ajar atau quiz agar bisa dijadikan patokan prosentase aktivitas user/peserta.

Bagaimana caranya ?, pertama pastikan untuk mengujicobanya anda memiliki satu akun admin dan satu akun user untuk uji coba.

berikut langkah-langkahnya :

1. Login sebagai admin dalam sistem e-learning anda.

2. Buka link pluginnya disini, untuk melakukan download. Nanti akan muncul halaman seperti dibawah ini, kemudian klik Download.

1

3. Setelah terdownload, kemudian masuk pada halaman Site Administration >> Plugins >> Install add-ons

Perhatikan, pada pengalaman saya, untuk melakukan instalasi plugin baru melalui sistem nya langsung (tanpa bantuan FTP), kita harus meberikan akses permission 775 ke dalam folder block

4. Pilih Plugin type : Block

ZIP Package : pilih file yang telah terdownload tadi, klik Choose a file.

2

Masuk pada halaman berikutnya, klik Upload a file, pilih file  klik Choose File arahkan pada file yang dimaksud, akhiri dengan klik Upload this file.

3

Kembali pada halaman sebelumnya, maka sudah terlihat file yang telah dipilih. Lanjutkan dengan klik Install add-on from the ZIP file.
4

5. Akan muncul halaman berikutnya, yang akan melakukan validasi file yang telah kita upload secara otomatis. Muncul teks Validation passed! maka lanjutkan dengan klik Install add-on!
56. Finalisasi instal plugin akan selesai, setelah dilakukan Upgrade database moodle. Klik Upgrade Moodle database now
6

7. Terlihat notifikasi Sukses disana.
7

8. Masuk pada kelas virtual yang telah kita buat, hidupkan mode ubah (Turn Editing On). pilih salah satu block misalnya disisi kiri, kemudian tambahkan blok baru Progress Bar

8

9. Sudah terlihat disana, blok progress bar telah muncul. Didalam kelas saya, sudah tersedia dua bahan ajar, sehingga masing-masing bernilai 50%. Untuk mencobanya silahkan login menggunakan akun user. Semuanya berwarna merah, artinya belum ada yang dibaca/lihat.

9

10. Nah, ketika saya sudah coba membaca salah satu bahan, maka otomatis berubah menjadi hijau 50%. Artinya sistem sudah mendeteksi aktivitas user.

10

Pada tampilan admin, proses perekapan juga bisa dengan mudah dilakukan. Sampai disini saat ini, sekarang kita sudah bisa melakukan monitoring terhadap semua peserta. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo