Tag Archives: menulis

Bekerja untuk keabadian

Vastly Zaitsev, seorang penembak jitu Uni Soviet pada Perang Dunia II mengisi karirnya dengan cara yang luar biasa. Bidikan senapan jarak jauhnya, pada akhirnya merontokkan mental pasukan-pasukan Jerman sehingga pada akhirnya perang Stallingrad ini dimenangkan oleh Soviet. Selidik punya selidik, ternyata kehebatan Zaitsev ini dipropagandakan sedemikian rupa oleh pimpinan-pimpinan Soviet melalui publikasi tulisan yang menggelora, digandakan berribu-ribu eksemplar, kemudian disebarkan lewat pesawat terbang agar bisa dibaca oleh semua orang, termasuk musuh-musuhnya sendiri, hal ini sekaligus membuat ciut nyali pasukan musuh sebagai strategi psy war. Diakhir adegan, Zaitsev, selain sebagai pasukan elit, merupakan simbol kemenangan Soviet untuk peperangan ini. Kisah epik bisa dilihat pada film Enemy at the Gates (dipublikasikan pada tahun 2001).

baca lanjutan...

Menjadi Juara ke 3 dalam Lomba Menulis Linux

Alhamdulillah, setelah melewati semua sesi lomba, mulai dari posting tulisan, pengumpulan view dan penilaian lanjutan. Akhirnya tulisan saya yang berjudul “Tangguhnya Pinguin di Hutan Kami” dinobatkan sebagai juara ke 3 dalam ajang lomba penulisan penggunaan Linux dan Open Source oleh website resmi Linux Indonesia www.Linux.or.id. Tulisannya bisa dibaca disini atau disitu. Lomba ini memakan waktu yang lumayan lama, selang dari tanggal posting 7 September 2014 kemudian muncullah kandidat 15 besar dari smua tulisan yang ada di 1 November, dilanjutkan dengan pengumuman 6 besar (3 Juara dan 3 harapan juara) pada 17 November 2014 ini.

Capture pengumuman dari www.Linux.or.id yang bisa dibaca langsung disini http://www.linux.or.id/pemenang-sayembara-menulis-linux-id-2014.html

menang

Terus terang bagi saya sendiri, menulis memang salah satu hobi yang lumayan addict, walaupun gak banyak2 tulisan dalam satu bulan, tentu saja dengan berbagai kesibukan yang ada (sok sibuk..he.he), selalu saja ingin meluangkan waktu dan membuat perencanaan judul2 paling tidak 5 posting kedepan. Sebagian biasanya berhasil dituliskan, sebagian yang lain kadang-kadang lupa untuk didokumentasikan outline nya, sehingga pas ada waktu luang ehh malah mati gaya mau nulis apaan.. he.he. Karena sudah seneng, lebih-lebih pas ada kesempatan lomba, jadinya serasa tertantang untuk menulis sebagus dan se-bermanfaat mungkin. Semoga saja 😉

Menulis di blog itu bagi saya tidak hanya sekedar meluapkan pikiran, namun lebih dari itu bisa menuangkan emosi, mengalirkan gagasan yang tersumbat dan bisa juga media dokumentasi pribadi, so rasanya ingin sekali tetap produktif dengan menulis. Kalo toh  bisa bermanfaat untuk orang lain ya Alhamdulillah, kalo enggak ya sukur-sukur bisa jadi arsip pribadi..he.he

Semoga saja saya gak makin gede kepala, namun ingin tetap produktif dan (terus berusaha) kreatif kedepannya. Semoga bermanfaat. 😉

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

 

Tangguhnya Pinguin di Hutan Kami

Pendahuluan

Perkenalkan, Saya adalah seorang guru di sebuah sekolah berasrama diujung barat pulau Jawa yang lumayan terpencil dari hingar bingar perkotaan, plus menyatu dengan hutan menambah nuansa masih alami sekaligus ‘ndeso’ (jauh dari kesan modern). Perlu diketahui bahwa sekolah berasrama kami ini memiliki luas yang tak kurang dari 30 hektar dengan kontur berbukit-bukit naik turun, sementara itu komplek siswa putra terpisah dengan para siswi dipisahkan oleh danau yang cukup luas. Jika rajin jalan setiap hari dari kawasan putra ke putri atau sebaliknya, dijamin akan gede-gede pula betis kami.he.he. 🙂

Setiap hari kami tinggal disini, ada yang bertugas di asrama, ada juga yang difasilitasi rumah guru. Singkatnya, dalam waktu 24 jam sehari atau 7 hari seminggu lah, kami bersama para siswa-siswi kami, mengajar mereka sesuai dengan amanah dan tanggung jawab masing-masing. Hal ini sebenarnya merupakan keuntungan bagi para siswa untuk belajar lebih banyak dari para gurunya karena tinggal sekompleks. Namun kendala geografis lah yang menyebabkan hal ini sulit dilakukan, jauh nya jarak dan medan yang lumayan berat menjadi masalah tersendiri. Untuk menanyakan perihal suatu hal atau berdiskusi dengan gurunya, para siswa harus menunggu ketika pertemuan formal di KBM esok harinya.

nf
Kondisi hijaunya sekolah kami dipotret dari satelit via gmap.

Suatu ketika setelah banyak berdiskusi dengan sebagian guru yang lainnya, tercetus mimpi untuk membangun model pembelajaran jarak jauh. Konsepnya sederhana, agar siswa bisa belajar setiap saat dan dimana saja, mau di sekolah ataupun di asrama mereka bisa berinteraksi dengan guru atau diskusi dengan siswa yang lainnya, namun tidak tergantung dengan koneksi internet. Karena jangankan koneksi internet yang kencang, beberapa provider pun ‘lempar handuk’ (menyerah) memasang koneksi internet di tempat kami, walhasil sekolah kami juga seperti nyaris terputus dari arus informasi yang up to date setiap harinya.

Sehingga akhirnya kami bangun koneksi jaringan intranet (lokal) perlahan-lahan sebisa kami. Kami memimpikan agar pembelajaran kepada siswa-siswi bisa berlangsung lebih efektif dan kontinyu. Toh mereka (siswa-siswi dan guru) rata-rata sudah punya laptop masing-masing, selain itu disebagian titik strategis sudah terpasang jaringan komputer baik dengan kabel ataupun wireless (walaupun seadanya). Tanpa koneksi internet pun, rasanya Kami optimis bisa membangun komunitas pembelajar disini asalkan para guru dan siswa kompak, serta ada keinginan untuk terus menerus belajar dan berbagi.

Saya kemudian memberanikan diri bertemu dengan para pengambil kebijakan di lembaga kami, kemudian dengan corat-coret konsep bagaimana pembelajarannya, teknologi yang akan mensupportnya, dan infrastruktur yang nantinya akan diperlukan. Setelah sowan sana sini, Alhamdulillah respon positif yang kami dapatkan. Kemudian sambil diskusi dengan teman-teman di Forum dan Komunitas Linux (walaupun gak rajin-rajin amat kopdar dengan teman-teman komunitas, kami beberapa kali terhubung melalui media internet), dialog cukup panjang ini akhirnya mengerucut pada satu hal, bahwa kami akan menggunakan Free Open Source Software (FOSS). Opsi ini merupakan pilihan logis dan solutif ditengah-tengah mahalnya software propiertary serta makin tingginya angka pembajakan yang terus menerus menggurita mengekang masyarakat. Komunitas FOSS juga solid mensupport jika ada masalah atau bugs yang muncul dalam penggunaannya.

Dengan segala pertimbangan dan diskusi, pilihan kami akhirnya tertuju pada Learning Management System (LMS) Moodle sebagai core untuk proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran siswa. Sementara Content Management Framework (CMF) Drupal untuk portal komunikasinya, dengan gaya blogging agar nampak santai namun tetap serius dalam penyebaran pengetahuan. Kedua sistem ini sudah banyak dipakai oleh lembaga-lembaga besar di Indonesia dan dunia (pemakai Moodle untuk portal pembelajaran di Indonesia diantaranya Pertamina dan Garuda Indonesia, sedangkan Drupal saat ini dipakai untuk website resmi pemerintah AS, Walt Disney, MotoGP dsb). Dahsyatnya kedua nya berplaform FOSS dan lisensi GPL sehingga tetap gratis untuk dipakai, fully customized serta banyak manualnya tersedia di Internet.

Mulai Membangun

Untuk servernya kami menggunakan Ubuntu server 12.04 dengan PC Server ala kadarnya berasal dari PC Desktop yang bisa dimanfaatkan, dengan beberapa kali waktu pengujian, nampaklah kehebatan Linux disini, walaupun PC bekas namun performa tetap moncer dan sangat enteng. Pada tahap awal kami ujikan dengan diakses secara bersamaan oleh satu kelas, nampak server kami tetap stabil dan tetap cool.

Tahapan berikutnya merupakan tahapan yang lebih menantang yakni mendata berapa banyak ruang kelas/asrama yang dapat terkoneksi ke jaringan lokal. Karena skenarionya server ini hanya akan diakses dikomplek sekolah kami saja, maka pengecekan di ruang-ruang kelas dan kantor serta asrama menjadi penting untuk dilakukan. Dari pendataan ini nanti kami akan mengevaluasi dan mengajukan bilamana diperlukan perangkat jaringan baru agar desain pembelajaran ini lebih cepat bisa diterapkan.

Kurang lebih 2 minggu lamanya dilakukan pengecekan dan analisis kebutuhan lapangan, akhirnya dibuatlah konstruksi jaringan seperti dibawah ini.

9
Gambar 1. Denah lokasi perangkat jaringan, designed by MT

Tahap Ujicoba

Singkat kata, setelah semuanya kami siapkan, akhirnya kami coba koneksi dengan jangkauan yang lebih luas. Tahap pengujian ini bukannya tanpa masalah, dengan tantangan kontur yang berbukit serta medan yang teramat luas. Beberapa kali koneksi didua wilayah putra-putri tidak bisa terhubung. Lagi-lagi komunitas linux yang friendly siap sedia membantu kami via tutorial-tutorial yang bermanfaat. Akhirnya pengujian lagi dan Alhamdulillah satu masalah telah terpecahkan, kedua wilayah sekarang sudah bisa terhubung dengan baik.

Inilah saatnya !
Setelah masa uji coba dirasa cukup, akhirnya kami mulai demokan ke forum guru, sekitar 2 jam diberikan sesi untuk presentasi, ternyata tanggapan dan reaksinya cukup beragam. Ada yang antusias, namun ada juga yang masih menilai pesimis, terutama pengajar senior yang sudah merasa pada ‘zona nyaman’ nya. Awalnya kami sempat down, namun perasaan ini pupus sudah ketika kami sosialisasikan ke para siswa, melihat wajah mereka yang berbinar-binar, serta antusiasme yang tinggi untuk mencoba mengutak atik sistem ini, mereka mengaku senang dan bersemangat untuk belajar karena informasi saat ini telah menjadi mudah untuk ditemukan, interaksi dengan para guru menjadi gampang dan pembelajaran dapat dilakukan dimana saja. Nampaknya hal-hal inilah yang menjadi penyemangat kami untuk menuntaskan pekerjaan yang tinggal sedikit ini.

1
Gambar 2. Para Siswa saat menggunakan sistem ini.

 

2
Gambar 3. Saat sedang di perpustakaan
3
Gambar 4. Pembelajaran di laboratorium komputer

 

4
Gambar 5. Terkoneksi juga dengan para karyawan

Dengan dukungan segenap stakeholder, beberapa kali program pelatihan untuk guru berhasil kami lakukan, manual book nya juga sudah rapi terbukukan. Perlahan namun pasti, model pembelajaran ini setidaknya memberikan warna baru model pembelajaran ditengah-tengah kami.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, model pembelajaran kami pun mendapatkan pujian dari dinas pendidikan setempat. Kami juga diminta untuk melakukan presentasi pada forum yang diselenggarakan oleh Balai penyediaan media belajar Provinsi Banten yang dihadiri oleh hampir semua Kepala Sekolah di provinsi ini. Tak cukup disitu, terhitung beberapa kali kunjungan sekolah-sekolah lain, jurusan Pasca Sarjana Teknologi Pendidikan di salah satu Universitas, dinas pemerintahan terkait juga silih berganti mendatangi kami untuk silaturahmi dan studi banding. Semoga hal ini semakin menyemangati kami untuk berkarya lebih banyak.

Sedikit demi sedikit, dengan berbagai saran dan masukan sistem ini kami lengkapi konten pembelajarannya agar lebih menarik dan memberikan semangat kepada semua penggunanya.
Beberapa tampilan diantaranya sebagai berikut

5
Gambar 6. Tampilan depan

 

6
Gambar 7. Display Video Sharing karya siswa pada portal pembelajaran
7
Gambar 8. Display kelas virtual pembelajaran
8
Gambar 9. Grafik perolehan nilai pengerjaan siswa

Demikian coretan ini Saya selesaikan, semoga bisa memberi inspirasi kebaikan untuk yang membacanya.

Sukses dan salam hangat untuk semua.

 

Dedy Setyo Afrianto
dedy@dedysetyo.net

#Catatan : Artikel ini dilombakan dan masih dalam proses penilaian juri www.Linux.or.id dengan URL asli di http://www.linux.or.id/tangguhnya-pinguin-di-hutan-kami.html

Budaya Etika yang Terlewat

Mencermati peristiwa akhir-akhir ini adanya seorang wanita yang geram karena mengantri SPBU di Yogyakarta, menumpahkan kata-kata tak pantas di media sosial yang pada akhirnya berujung berbalas bully-an dari warga dunia maya dan tahanan dari kepolisian. Beritanya bisa dibaca disini. Tak lama sebelum itu, kurang lebih pada bulan April ditahun 2014 ini pula, seorang wanita juga mendapatkan pelajaran berharga, bahwa mengumpat di media sosial kepada ibu -ibu hamil penumpang KRL, tak lebih dan tak kurang juga akan mendapatkan balasan yang tak kalah pahitnya, berupa cibiran dan sanksi sosial.

Kita berdoa saja, dikemudian hari semoga tidak terulang kejadian serupa. Makian dan kata-kata tak sopan di media sosial, tidak akan berdampak positif kepada pelakunya, tapi sebaliknya akan membalik kepada pelakunya. Tentang dua peristiwa ini, saya tertarik mengulas bacaan lama saya tentang gaya komunikasi manusia (terutama sebagian masyarakat Indonesia).

Dilihat dari sejarahnya, menurut Melvin DeFleur (seorang pakar psikologi sosial dari Universitas Washington) dan Sandra J.Ball-Rokeach dalam bukunya Theories of Mass Communication (1989), setidaknya ada lima tahapan komunikasi sehingga antara satu orang bisa berinteraksi dengan yang lainnya.

1. The Age of Signs and Signals (Sinyal dan Simbol)

Pada masa ini, manusia satu dengan yang lainnya menuturkan idenya dengan bahasa simbol, mengungkapkan keinginannya dengan gambar atau penanda-penanda sederhana. Dengan media ini jelas antar manusia, komunikasi menjadi sangat terbatas. Karena berbagai keterbatasan inilah, konon konflik antar manusia menjadi sangat mudah terjadi. Manusia juga akan kesulitan menuangkan pendapatnya, yang dominan pada masa ini adalah komunikasi non verbal, yakni penggunaan bahasa isyarat untuk menyampaikan pesan-pesannya, bahasa tubuh menjadi sangat penting.

2. The Age of Speech and Language (Bahasa lisan)

Masuk pada era berikutnya, tradisi manusia berubah, penggunaan simbol berubah bentuk menjadi percakapan antar manusia dalam berinteraksi. Beberapa standar percakapan untuk penamaan benda, tanaman dan hewan telah disepakati. Walaupun tak begitu berubah banyak, pada masa ini interaksi sosial antar manusia sedikit demi sedikit telah menemukan maknanya.

3. The Age of Writing (Tulisan)

Pada zaman ini, standarisasi alfabet telah dibakukan secara perlahan dengan lengkap, lambat laun model penulisan menjadi gaya dan budaya antar manusia dalam berinteraksi. Masa ini lah yang membuat informasi begitu cepat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Gagasan yang dibuat direkam, dicatat dan dilipatgandakan sehingga manusia yang lain pun dapat menikmatinya. Para filsuf yang sezaman dengan Plato dan Aristoteles pun menuangkan perenungan dan pengalamannya sehingga menjadi pengetahuan, dari pengetahuan lah, ilmu-ilmu dan cabangnya terbentuk sehingga terklasifikasi dan memudahkan manusia lainnya untuk memanfaatkannya. Aktivitas para ilmuwan, selain meneliti dan melakukan percobaan-percobaan, adalah mendokumentasikan risalahnya agar dapat dikembangkan dikemudian hari. Selaras dengan apa yang pernah dikatakan seorang cendekiawan Indonesia, bahwa aktivitas ilmuwan dan ulama sebenarnya hanya berkutat di dua hal saja, membaca-menulis.

4. The Age of Print (Cetak dan Membaca)

Era ini dimulai dengan adanya penemuan mesin cetak, Johannes Gutenberg mengawali penemuan modern mesin cetak yang lebih canggih dibandingkan dengan penemuan dalam situs sejarah Cina dan  Korea (sekitar tahun 175 AD). Pada masa inilah dimana surat kabar dan surat cetak beserta buku-buku dapat terbit, setelah beberapa fase perkembangan komunikasi. Dengan adanya buku, budaya baru dimulai, bagi seorang penulis menyebarkan ide dan gagasannya menjadi lebih mudah.

Saya jadi ingat didalam salah satu sekuel film yang berjudul “Enemy at the Gates” yang menceritakan seorang prajurit Uni Sovyet yang bernama Vasily Grigoryevich Zaytsev, dengan pencitraan menggunakan media cetak ini pulalah, ribuan propaganda dicetak kemudian disebarkan untuk menakut-nakuti musuh-musuhnya akan keterampilan mematikan seorang Vasily yang bisa menembak dari satuan jarak kilo meter, pada masa itu jarak sejauh ini menjadi demikian sensasional dan luar biasa.

Pada masa ini pula budaya baru terbentuk, yakni budaya membaca. Budaya membaca memungkinkan kebiasaan ini terjadi dalam setiap tempat dan waktu, pada negara yang sudah maju peradabannya tak jarang kita dapati pada pusat keramaian saat mengantri, kebanyakan dari mereka menyibukkan dirinya dengan membaca, sehingga wajib kiranya dalam setiap tas mereka kala bepergian setidaknya ada satu buku yang stand by untuk dibaca setiap saat.

Wisatawan mancanegara membaca buku di ruang tunggu Terminal Giwangan, Yogyakarta.
Budaya baca Jepang di Kereta

Budaya membaca juga menjadi salah satu indikator kemajuan bangsa, hasil survey yang pernah dibuat oleh United Nations Developmet Programme  (UNDP) bahwa rasio gemar membaca di Indonesia hanya 0,001% atau satu berbanding 1.000 orang. Artinya jika ada 1000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang gemar membaca.

Data dan Fakta Bacaan Orang Indonesia (Fadli Zon Library, 2013)

Hal ini juga dikuatkan oleh laporan yang dilakukan United Nation Development Program (UNDP) atau Organisasi Program Pembanggunan milik PBB bahwa indeks pembangunan manusia Indonesia berada pada posisi 121 dari 187 negara di dunia. Indeks pembangunan manusia sendiri adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia.

5. The Age of Mass Communication (Komunikasi masa/Internet)

Pada masa ini lah, seperti yang kita rasakan sekarang, channel TV begitu banyak menghiasi layar kaca kita dengan beragam acaranya. Tak kalah dengan itu, Internet dengan berita online dan media sosialnya bertubi-tubi menawarkan hujan informasi yang tidak lagi diupdate tiap hari, namun tiap jam bahkan per menit.

Saya jadi sedikit khawatir, kejadian 2 fenomena diawal tulisan ini (dan mungkin saja banyak lainnya yang tak ter blow-up). Bisa jadi mengindikasikan adanya budaya kita yang terlewat, jenjang komunikasi yang harusnya secara bertahap dilewati, namun oleh sebagian masyarakat kita nampaknya terlewat. Kalau fase di negara yang sudah maju yang terurut “Lisan-Tulisan-Membaca-Berinternet”, maka di sebagian masyarakat kita nampaknya hanya di by pass (lompat) menjadi “Lisan–Berinternet”, sehingga budaya ini tidak utuh kita punyai, karena fase etika “tulisan dan membaca” belum menyatu dan masih rapuh dalam kehidupan kita.

Padahal membaca dan menulis akan memberikan kita tuntunan cara dan etika (bersosial), percaya atau tidak minimalnya akan memperkaya diksi dan pengkayaan pemahaman kata, sekaligus dalam perspektif lain memberikan penyiapan-penyiapan kepada kita untuk berinteraksi dengan baik secara universal melalui budaya literasi. Sama seperti anak umur 3 tahun yang kita berikan pisau, maka bisa kita hitung kira-kira akan lebih banyak manfaat ataukah bencana yang ditimbulkannya, mirip dengan generasi labil yang tiba-tiba diberikan perangkat canggih nan modern. Tumpulnya etika dalam bersosialisasi melalui internet, dikhawatirkan (hanya) euforia dalam berinternet lah yang mendominasi gaya dan budaya baru ini. Berinternetnya orang-orang seperti ini hanya tuntutan tren dan gaya modern agar tidak dianggap kuno dan ndeso. Agar tetap exist dalam pembicaraan bersama dengan teman kongkow, namun serasa kering nasihat. Berinternet (dikhawatirkan) tidak lagi menjadi produktif dengan menambah ilmu dan pengetahuan baru, namun hanya ajang narsisme.

Akhir kata, tulisan ini tadinya hanya untuk memotivasi agar Saya lebih santun dan cerdas dalam berinternet, namun jika sekiranya ada manfaatnya kepada teman-teman sekalian maka akan menjadi rasa syukur Saya secara pribadi.

Semoga kedepan, budaya baru berinternet kita menjadi lebih sehat, produktif dan mencerdaskan masyarakat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Menulislah dan Datangkan Keajaiban

Hari Sabtu kemarin (15/2/14) memang hari yang menyenangkan buat saya, walaupun hari itu full agenda, pagi jam 5.30 sudah harus manasin mobil buat dipake seharian, jam 6 teng harus sudah berangkat ke SMAN Kramatwatu, Serang.. pulang dari sana jam 13.00 trus dilanjut berangkat ke Cimanggis, Depok sore harinya sampe hari minggu.  Hari sabtu yang hebat karena ketemu dengan sahabat-sahabat yang hebat, selalu semangat dan mau belajar. Setelah ku azzamkan berangkat tak molor, akhirnya diiringi sayup hujan, jam 7.30 sampe juga di pintu tol Cilegon Timur untuk menjemput narasumber kami hari itu Bp. Wijaya Kusumah yang akrab disapa Om Jay. Akhirnya setelah janjian dan ketemu jam 8an, dilanjut menuju lokasi acara.
Lagi mejeng didepan sambil memberikan sambutan dikit
Lagi mejeng didepan sambil memberikan sambutan dikit. Sumber foto : wijayalabs.com
Foto bareng omjay disela-sela acara
Foto bareng omjay disela-sela acara

Dimulai dengan menunggu teman2 yang lain dan rentetan sambutan..he.he (saya juga diantara oknumnya yang dipaksa untuk menyambut..he.he) Hari itu Om Jay memaparkan materi tentang menulis, motivasi menulis dan betapa manfaat segudang dari menulis. Mulai dari berkarya untuk mendokumentasikan catatan/peristiwa sampai dengan berprestasi lewat menulis. Memang sedemikian dahsyat kalo kita mau bersungguh2 di dunia tulis menulis ini, jika mungkin banyak orang yang pesimis (bahkan nyinyir) untuk apa kita menulis, maka kata omjay, “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”..

Saya sendiri termasuk yang merasakan “keajaiban” menulis ini, sejak saya lumayan rutin menulis diblog ini (walaupun masih blogger newbi..he.he) tak seberapa lama sekira 4 bulan setelah itu, banyak komunikasi dari teman-teman baru, sahabat baru di dunia maya ataupun nyata, project dari kementrian ataupun mengisi workshop di internal mereka pun jadi rutin, diskusi dengan teman-teman baru diberbagai daerah di Indonesia (bahkan diluar negeri) pun hampir tiap hari saya lakukan.. Mulai dari yang bingung nyari judul skripsi, tesis ataupun hanya mengerjakan tugas pun rasanya HP ataupun inbox email/FB tak pernah kering.. Senang rasanya punya teman-teman baru.. Tak berhenti disitu, tulisan-tulisan yang sudah terkumpul pun sudah satu yang jadi buku, sisanya menyusul untuk jadi naskah judul buku selanjutnya, dapat royalti, transferan, undangan ngisi seminar dimana-mana, ah anggap saja jadi bonusnya.. 🙂 Paling uenak memang nambah teman2 baru dan sodara dimana2..

Masih ingat tentang kisah Pak Habibie pasca kematian istri tercintanya Bu Ainun ?, konon sangat sedihnya beliau saat itu, kata psikolog pribadinya, hanya ada 2 pilihan solusi (tolong koreksi kalau crita ini salah ya 🙂 ), 1. Pak habibie tinggal di Rumah Sakit Jiwa untuk menenangkan jiwanya, atau 2. Berikan kesempatan untuk beliau mengenang kisah cintanya.. akhirnya, pak Habibie memilih opsi yang kedua dengan cara menuliskan buku kenangan cintanya beberapa lama kemudian beliau pulih kembali, dan woww,.. selain jadi buku non fiksi terlaris, juga berhasil diangkat ke layar lebar dan sedemikian laris tiketnya terjual habis.. So, kalo sekarang masih sehat, menulis lah selagi kamu sehat #itu pesannya..he

Tulisan ini ujungnya kemana ya ?..he.he jadi bingung saya..

Okelah, bagi yang mau mulai menulis, segeralah mulai, bagi yang sudah exist didunia tulis menulis, maka istiqomahlah.. 🙂

Sebagai penutup, saya akan kutipkan kata-kata hebat dari Pramudya Ananta Toer, bunyinya begini, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Salam hangat,

Dedy Setyo.

Motivasi Menulis Habiburrahman El Shirazy

Menurut saya, menulis merupakan aktivitas yang gampang-gampang susah. Gampang jika memang sudah menjadi habit (kebiasaan) kita, susah jika jarang dilakukan dan malas untuk menambah input bahan tulisan, apalagi mendokumentasikannya dengan kurang baik. Semoga kita tidak tergolong yang kedua, he he. Ya, begitulah, “gampang-gampang susah” setidaknya lebih banyak gampangnya daripada susahnya. Hal yang paling mendasar untuk seorang penulis, biasanya kesulitannya terletak di bagaimana mencari inspirasi tentang bahan menulis yang sesuai dan yang pas dengan tematik yang menjadi tembakan kita.

kang abik dedy

Menurut kang abik (nama pena Habiburrahman El Shirazy) penulis Novel-novel Best Seller (Ayat-Ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Ketika Cinta Bertasbih dan berbagai macam-macam judul lainnya) berdasarkan tingkat keuletan penulisnya, terbagi atas dua macam. Continue reading Motivasi Menulis Habiburrahman El Shirazy