Tag Archives: inspirasi

Budaya Etika yang Terlewat

Mencermati peristiwa akhir-akhir ini adanya seorang wanita yang geram karena mengantri SPBU di Yogyakarta, menumpahkan kata-kata tak pantas di media sosial yang pada akhirnya berujung berbalas bully-an dari warga dunia maya dan tahanan dari kepolisian. Beritanya bisa dibaca disini. Tak lama sebelum itu, kurang lebih pada bulan April ditahun 2014 ini pula, seorang wanita juga mendapatkan pelajaran berharga, bahwa mengumpat di media sosial kepada ibu -ibu hamil penumpang KRL, tak lebih dan tak kurang juga akan mendapatkan balasan yang tak kalah pahitnya, berupa cibiran dan sanksi sosial.

Kita berdoa saja, dikemudian hari semoga tidak terulang kejadian serupa. Makian dan kata-kata tak sopan di media sosial, tidak akan berdampak positif kepada pelakunya, tapi sebaliknya akan membalik kepada pelakunya. Tentang dua peristiwa ini, saya tertarik mengulas bacaan lama saya tentang gaya komunikasi manusia (terutama sebagian masyarakat Indonesia).

Dilihat dari sejarahnya, menurut Melvin DeFleur (seorang pakar psikologi sosial dari Universitas Washington) dan Sandra J.Ball-Rokeach dalam bukunya Theories of Mass Communication (1989), setidaknya ada lima tahapan komunikasi sehingga antara satu orang bisa berinteraksi dengan yang lainnya.

1. The Age of Signs and Signals (Sinyal dan Simbol)

Pada masa ini, manusia satu dengan yang lainnya menuturkan idenya dengan bahasa simbol, mengungkapkan keinginannya dengan gambar atau penanda-penanda sederhana. Dengan media ini jelas antar manusia, komunikasi menjadi sangat terbatas. Karena berbagai keterbatasan inilah, konon konflik antar manusia menjadi sangat mudah terjadi. Manusia juga akan kesulitan menuangkan pendapatnya, yang dominan pada masa ini adalah komunikasi non verbal, yakni penggunaan bahasa isyarat untuk menyampaikan pesan-pesannya, bahasa tubuh menjadi sangat penting.

2. The Age of Speech and Language (Bahasa lisan)

Masuk pada era berikutnya, tradisi manusia berubah, penggunaan simbol berubah bentuk menjadi percakapan antar manusia dalam berinteraksi. Beberapa standar percakapan untuk penamaan benda, tanaman dan hewan telah disepakati. Walaupun tak begitu berubah banyak, pada masa ini interaksi sosial antar manusia sedikit demi sedikit telah menemukan maknanya.

3. The Age of Writing (Tulisan)

Pada zaman ini, standarisasi alfabet telah dibakukan secara perlahan dengan lengkap, lambat laun model penulisan menjadi gaya dan budaya antar manusia dalam berinteraksi. Masa ini lah yang membuat informasi begitu cepat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Gagasan yang dibuat direkam, dicatat dan dilipatgandakan sehingga manusia yang lain pun dapat menikmatinya. Para filsuf yang sezaman dengan Plato dan Aristoteles pun menuangkan perenungan dan pengalamannya sehingga menjadi pengetahuan, dari pengetahuan lah, ilmu-ilmu dan cabangnya terbentuk sehingga terklasifikasi dan memudahkan manusia lainnya untuk memanfaatkannya. Aktivitas para ilmuwan, selain meneliti dan melakukan percobaan-percobaan, adalah mendokumentasikan risalahnya agar dapat dikembangkan dikemudian hari. Selaras dengan apa yang pernah dikatakan seorang cendekiawan Indonesia, bahwa aktivitas ilmuwan dan ulama sebenarnya hanya berkutat di dua hal saja, membaca-menulis.

4. The Age of Print (Cetak dan Membaca)

Era ini dimulai dengan adanya penemuan mesin cetak, Johannes Gutenberg mengawali penemuan modern mesin cetak yang lebih canggih dibandingkan dengan penemuan dalam situs sejarah Cina dan  Korea (sekitar tahun 175 AD). Pada masa inilah dimana surat kabar dan surat cetak beserta buku-buku dapat terbit, setelah beberapa fase perkembangan komunikasi. Dengan adanya buku, budaya baru dimulai, bagi seorang penulis menyebarkan ide dan gagasannya menjadi lebih mudah.

Saya jadi ingat didalam salah satu sekuel film yang berjudul “Enemy at the Gates” yang menceritakan seorang prajurit Uni Sovyet yang bernama Vasily Grigoryevich Zaytsev, dengan pencitraan menggunakan media cetak ini pulalah, ribuan propaganda dicetak kemudian disebarkan untuk menakut-nakuti musuh-musuhnya akan keterampilan mematikan seorang Vasily yang bisa menembak dari satuan jarak kilo meter, pada masa itu jarak sejauh ini menjadi demikian sensasional dan luar biasa.

Pada masa ini pula budaya baru terbentuk, yakni budaya membaca. Budaya membaca memungkinkan kebiasaan ini terjadi dalam setiap tempat dan waktu, pada negara yang sudah maju peradabannya tak jarang kita dapati pada pusat keramaian saat mengantri, kebanyakan dari mereka menyibukkan dirinya dengan membaca, sehingga wajib kiranya dalam setiap tas mereka kala bepergian setidaknya ada satu buku yang stand by untuk dibaca setiap saat.

Wisatawan mancanegara membaca buku di ruang tunggu Terminal Giwangan, Yogyakarta.
Budaya baca Jepang di Kereta

Budaya membaca juga menjadi salah satu indikator kemajuan bangsa, hasil survey yang pernah dibuat oleh United Nations Developmet Programme  (UNDP) bahwa rasio gemar membaca di Indonesia hanya 0,001% atau satu berbanding 1.000 orang. Artinya jika ada 1000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang gemar membaca.

Data dan Fakta Bacaan Orang Indonesia (Fadli Zon Library, 2013)

Hal ini juga dikuatkan oleh laporan yang dilakukan United Nation Development Program (UNDP) atau Organisasi Program Pembanggunan milik PBB bahwa indeks pembangunan manusia Indonesia berada pada posisi 121 dari 187 negara di dunia. Indeks pembangunan manusia sendiri adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia.

5. The Age of Mass Communication (Komunikasi masa/Internet)

Pada masa ini lah, seperti yang kita rasakan sekarang, channel TV begitu banyak menghiasi layar kaca kita dengan beragam acaranya. Tak kalah dengan itu, Internet dengan berita online dan media sosialnya bertubi-tubi menawarkan hujan informasi yang tidak lagi diupdate tiap hari, namun tiap jam bahkan per menit.

Saya jadi sedikit khawatir, kejadian 2 fenomena diawal tulisan ini (dan mungkin saja banyak lainnya yang tak ter blow-up). Bisa jadi mengindikasikan adanya budaya kita yang terlewat, jenjang komunikasi yang harusnya secara bertahap dilewati, namun oleh sebagian masyarakat kita nampaknya terlewat. Kalau fase di negara yang sudah maju yang terurut “Lisan-Tulisan-Membaca-Berinternet”, maka di sebagian masyarakat kita nampaknya hanya di by pass (lompat) menjadi “Lisan–Berinternet”, sehingga budaya ini tidak utuh kita punyai, karena fase etika “tulisan dan membaca” belum menyatu dan masih rapuh dalam kehidupan kita.

Padahal membaca dan menulis akan memberikan kita tuntunan cara dan etika (bersosial), percaya atau tidak minimalnya akan memperkaya diksi dan pengkayaan pemahaman kata, sekaligus dalam perspektif lain memberikan penyiapan-penyiapan kepada kita untuk berinteraksi dengan baik secara universal melalui budaya literasi. Sama seperti anak umur 3 tahun yang kita berikan pisau, maka bisa kita hitung kira-kira akan lebih banyak manfaat ataukah bencana yang ditimbulkannya, mirip dengan generasi labil yang tiba-tiba diberikan perangkat canggih nan modern. Tumpulnya etika dalam bersosialisasi melalui internet, dikhawatirkan (hanya) euforia dalam berinternet lah yang mendominasi gaya dan budaya baru ini. Berinternetnya orang-orang seperti ini hanya tuntutan tren dan gaya modern agar tidak dianggap kuno dan ndeso. Agar tetap exist dalam pembicaraan bersama dengan teman kongkow, namun serasa kering nasihat. Berinternet (dikhawatirkan) tidak lagi menjadi produktif dengan menambah ilmu dan pengetahuan baru, namun hanya ajang narsisme.

Akhir kata, tulisan ini tadinya hanya untuk memotivasi agar Saya lebih santun dan cerdas dalam berinternet, namun jika sekiranya ada manfaatnya kepada teman-teman sekalian maka akan menjadi rasa syukur Saya secara pribadi.

Semoga kedepan, budaya baru berinternet kita menjadi lebih sehat, produktif dan mencerdaskan masyarakat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Tentang Pengabdian

Teringat ungkapan seorang teman guru yang sangat mencintai profesinya ketika saya tanya kenapa nggak beralih profesi saja.

“Saya sehari-hari guru, cuman di waktu lain saya ngajar juga di beberapa perguruan tinggi, mengisi seminar dan menjadi narasumber di kuliah-kuliah, waktu luang untuk menulis buku dan jadi konsultan IT di perusahaan swasta dan pemerintahan.

Jadi guru menurut saya adalah ungkapan rasa syukur saya untuk berbakti kepada ummat, berbagi pengetahuan yang saya bisa, ketemu wajah polos anak-anak murid yang haus akan ilmu setiap hari merupakan refreshing yang mahal harganya..”

Semoga berkah ilmunya kawan.. 
#InspiringQuotes

Pengingatan Kepada Diri

#Pengingatan, terutama untuk diri saya pribadi.

Jangan sombong. Kerupawananmu itu sementara sebelum keriput atau luka dan penyakit.

Jangan sombong.
Kekayaanmu itu sementara sebelum kerugian dan perampasan.

Jangan sombong.
Ilmu dan keahlianmu itu sementara sebelum lupa, pikun, atau penyakit.

Jangan sombong.
Ketenaranmu itu sementara sebelum kesalahan, aib atau fitnah.

Jangan sombong.
Kekuasaamu itu sementara sebelum turunmu, jatuhmu, atau diperkarakanmu.

Jangan sombong.
Kehidupan duniamu ini sementara sebelum matimu, yang diteruskan dalam keabadian kehidupan akhiratmu.

Jangan sombong.
-Mario Teguh-

Film Pendek tentang Karya-karya Ilmuwan Muslim yang Menginspirasi

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh posting saya sebelumnya.

Ijinkan saya bercerita tentang film pendek terbaik yang pernah saya lihat, bukti kisah nyata ilmuwan muslim yang melegenda : Ibnu Haitsam, Ibnu Farnas, Az Zahrawi dan Al-Astrulabi.

Saat saya dulu pernah ngefans nya dengan Wright bersaudara sebagai penemu pesawat, ternyata Ibnu Farnas jauh-jauh hari sudah punya rancangan kendaraan terbangnya. Ahli cahaya Ibnu Haitsam juga lah yang mengilhami Bacon dan Kepler untuk mencipta mikroskop dan teleskop. Tak ketinggalan juga kiprah dan temuan ilmuwan yang lainnya.

Nama mereka sangat bersinar pada zamannya disaat barat sedang gelap-gelapnya..

Penyajiannya ringan, namun visualisasinya amat menarik. Dibintangi juga oleh aktor ternama Ben Kengsley. Pantas saja hampir 20 penghargaan tingkat dunia disabet oleh film pendek ini. Bagus sekali untuk inspirasi anak-anak kita saat ini. Yang berminat sila tengok kesini

http://www.youtube.com/watch?v=JZDe9DCx7Wk

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Reportase Diskusi Tradisi Intelektual Ulama Dalam Sejarah Peradaban Islam

Hari ini, Kamis (27/2/2014) agenda Bidang Akademik, dimana saya berkiprah, mengadakan silaturahmi dan diskusi ke SMA Islam Terpadu Nurul Fikri Cimanggis, Depok. Setelah kami berangkat jam 4 pagi lebih dikit, perjalanan pagi ini memang sangat sejuk karena hampir sepanjang jalan hujan pun tak pernah absen membasuh mobil kami. Kami berangkat berempat ditambah dengan driver andalan Kami.

Diskusi dengan narasumber Ust Dr. Adian Husaini (Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam- Universitas Ibn Khaldun Bogor) ini bertajuk “Tradisi Intelektual Ulama Dalam Sejarah Peradaban Islam” ini sangat menarik, beliau merupakan seorang pakar pemikiran Islam yang produktif melakukan counter terhadap paham Sipilis (Sekularism, Pluralism, Liberalism). Beberapa bukunya sempat saya rampungkan baca saat kuliah dulu. Baik, kembali kepada materi diskusinya, Ust Adian menukil sebuah buku karangan Tim Wallace-Murphy yang berjudul “What Islam Did For Us : Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization” dalam salahsatu babnya membahas tentang “Hutang Barat terhadap Islam” (The West Debt to Islam). Dipaparkan bahwa, ditengah gencarnya berbagai serangan terhadap Islam melalui berbagai media di barat, buku ini dengan data-data sejarah memberikan arus lain dalam menilai Islam dari kaca mata barat.

Pengakuan Wallace-Murphy ini sangatlah penting, dimanakan letak hutang budi Barat terhadap Islam ?.Dalam urainnya ternyata buku ini menguak bagaimana transfer Ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat pada zaman yang dikenal di Barat sebagai zaman pertengahan, ketika itulah justru Andalusia yang dipimpin kaum muslim menjadi pusat kebudayaan terbesar, bukan hanya di daratan Eropa tetapi juga di seluruh kawasan Laut Tengah (Al-Andalus became not merely the greatest cultural centre in Europe but in entire Mediterranean basin)

Satu hal yang menjadi perhatian kita, dan layak untuk dijadikan contoh dari Barat, kata Beliau, barat cukup mau dan mampu belajar mengejar ketertinggalan setelah hampir 500 tahun tertinggal dari peradaban Islam. Jika hal ini bisa kita (muslim) lakukan saat ini, dengan segala masalah yang kita hadapi saat ini (kemiskinan, kebodohan, kesehatan dan ketertinggalan disegala bidang..) maka tak akan mustahil juga bahwa dikemudian hari kita akan dapat menyusul barat. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Wallace-Murphy terhadap pertanyaan “Can the World of Islam solve its own problems ?”, bahwa kaum muslim telah membuktikan di masa lalu, dan berkat prinsip-prinsip ajaran Islam maka akan mampu menyelesaikan maslaahnya sendiri.

Satu pelajaran penting dari karya Tim Wallace-Murphy itu adalah kesadaran akan hakekat ajaran Islam itu sendiri. Namun perlu dicatat, peradaban Tinggi dalam bidang Sains itu juga membawa umat Islam kepada kehancuran, ketika konsep adab justru diabaikan. Umat Islam tergoda oleh penyakit al-wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.

Sejarah menujukkan, kejatuhan Islam di Andalusia tahun 1492, di Bagdad tahun 1215, juga Jerusalem tahun 1099, juga terjadi dimasa zaman keemasan Islam. Semoga pelajaran-pelajaran ini dapat menjadi hikmah bagi kita semua. Wallahu a’lam.

#Sesi foto dengan ust Adian Husaini

ust adian

 

Semoga bermanfaat,

Salam hangat

 

Dedy Setyo.

 

Referensi :

– Makalah “Ketika Sains Islam Memimpin” oleh Dr. Adian Husaini, disampaikan saat diskusi di SMA IT NF DEPOK, 27 Februari 2014.

– Buku “What Islam Did For Us : Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization“, oleh Tim Wallace-Murphy (London : Watkins Publishing, 2006)

Menulislah dan Datangkan Keajaiban

Hari Sabtu kemarin (15/2/14) memang hari yang menyenangkan buat saya, walaupun hari itu full agenda, pagi jam 5.30 sudah harus manasin mobil buat dipake seharian, jam 6 teng harus sudah berangkat ke SMAN Kramatwatu, Serang.. pulang dari sana jam 13.00 trus dilanjut berangkat ke Cimanggis, Depok sore harinya sampe hari minggu.  Hari sabtu yang hebat karena ketemu dengan sahabat-sahabat yang hebat, selalu semangat dan mau belajar. Setelah ku azzamkan berangkat tak molor, akhirnya diiringi sayup hujan, jam 7.30 sampe juga di pintu tol Cilegon Timur untuk menjemput narasumber kami hari itu Bp. Wijaya Kusumah yang akrab disapa Om Jay. Akhirnya setelah janjian dan ketemu jam 8an, dilanjut menuju lokasi acara.

Lagi mejeng didepan sambil memberikan sambutan dikit
Lagi mejeng didepan sambil memberikan sambutan dikit. Sumber foto : wijayalabs.com
Foto bareng omjay disela-sela acara
Foto bareng omjay disela-sela acara

Dimulai dengan menunggu teman2 yang lain dan rentetan sambutan..he.he (saya juga diantara oknumnya yang dipaksa untuk menyambut..he.he) Hari itu Om Jay memaparkan materi tentang menulis, motivasi menulis dan betapa manfaat segudang dari menulis. Mulai dari berkarya untuk mendokumentasikan catatan/peristiwa sampai dengan berprestasi lewat menulis. Memang sedemikian dahsyat kalo kita mau bersungguh2 di dunia tulis menulis ini, jika mungkin banyak orang yang pesimis (bahkan nyinyir) untuk apa kita menulis, maka kata omjay, “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”..

Saya sendiri termasuk yang merasakan “keajaiban” menulis ini, sejak saya lumayan rutin menulis diblog ini (walaupun masih blogger newbi..he.he) tak seberapa lama sekira 4 bulan setelah itu, banyak komunikasi dari teman-teman baru, sahabat baru di dunia maya ataupun nyata, project dari kementrian ataupun mengisi workshop di internal mereka pun jadi rutin, diskusi dengan teman-teman baru diberbagai daerah di Indonesia (bahkan diluar negeri) pun hampir tiap hari saya lakukan.. Mulai dari yang bingung nyari judul skripsi, tesis ataupun hanya mengerjakan tugas pun rasanya HP ataupun inbox email/FB tak pernah kering.. Senang rasanya punya teman-teman baru.. Tak berhenti disitu, tulisan-tulisan yang sudah terkumpul pun sudah satu yang jadi buku, sisanya menyusul untuk jadi naskah judul buku selanjutnya, dapat royalti, transferan, undangan ngisi seminar dimana-mana, ah anggap saja jadi bonusnya.. 🙂 Paling uenak memang nambah teman2 baru dan sodara dimana2..

Masih ingat tentang kisah Pak Habibie pasca kematian istri tercintanya Bu Ainun ?, konon sangat sedihnya beliau saat itu, kata psikolog pribadinya, hanya ada 2 pilihan solusi (tolong koreksi kalau crita ini salah ya 🙂 ), 1. Pak habibie tinggal di Rumah Sakit Jiwa untuk menenangkan jiwanya, atau 2. Berikan kesempatan untuk beliau mengenang kisah cintanya.. akhirnya, pak Habibie memilih opsi yang kedua dengan cara menuliskan buku kenangan cintanya beberapa lama kemudian beliau pulih kembali, dan woww,.. selain jadi buku non fiksi terlaris, juga berhasil diangkat ke layar lebar dan sedemikian laris tiketnya terjual habis.. So, kalo sekarang masih sehat, menulis lah selagi kamu sehat #itu pesannya..he

Tulisan ini ujungnya kemana ya ?..he.he jadi bingung saya..

Okelah, bagi yang mau mulai menulis, segeralah mulai, bagi yang sudah exist didunia tulis menulis, maka istiqomahlah.. 🙂

Sebagai penutup, saya akan kutipkan kata-kata hebat dari Pramudya Ananta Toer, bunyinya begini, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Salam hangat,

Dedy Setyo.

Reportase Perjalanan Menjadi Narasumber Pengelolaan Pembelajaran Jarak Jauh

Akhir Oktober 2013 kemarin, sebagai salah satu dari tindak lanjut penerapan e-learning di Pusdiklat Mineral Batubara, Bandung yakni dilaksanakan pelatihan untuk admin dan tim pengelola. Karena setelah saya hitung-hitung perjalanan lumayan jauh dari anyer sampai dengan bandung sekira 6 jam-an, maka langsung saya jadwalkan berangkat  dari anyer jam 3 pagi !. Mantab banget kan ?..he.he. begitulah, selalu ada perjuangan dalam hal yang kita lakukan, biasanya manisnya akan kita rasakan kemudian.. (itupun kalo ada, he.he)

Perjalanan pagi hari memang segar sekali, diiringi rasa kantuk yang luar biasa, saya ditemani pak Riki (driver dimana saya bekerja sekarang) melewati kabut pagi itu. Dapat informasi juga kalo ternyata, salah satu trik agar terbebas dari kemacetan di jakarta-bandung, yakni sudah melewati kebon jeruk sebelum jam 6, tul gak sih ?. karena pak Riki memang pakar jalanan jakarta, maka silakan saja di gas sekenceng-kencengnya pak Innova nya, begitu kata saya dalam hati. Wal hasil, target itu pun terpenuhi. Lebih dari itu bahkan tak disangka dan dinyana, kami pun sudah sampe km.57 tol Cipularang pas pk.6.30 WIB. Jam segitu rasanya di rest area tak nampak penjual nasi uduk berkeliaran, ya sudah, ketimbang perut kosong masuk angin, jadiin sajalah makanan yang ada disana, yang penting nasi putih bisa masuk ke perut ini. he. he

Selesai istirahat sejenak, kami pun lanjut meneruskan perjalanan ini. Lebih cepat dari yang kami perkirakan sebelumnya, jam 8 kurang kami sudah sampai di gedung pusdiklat minerba dimana acara berlangsung. Alhamdulillah sampai juga dengan selamat. Tadinya saya janjian dengan panitia jam 9 sampe, dan ini lebih cepat dari perkiraan saya.

Jam 9 tepat kami pun mulai acara sesuai agenda, ternyata di sana sedang ada acara raker, sehingga beberapa peserta tidak bisa hadir. Tak masalah, presentasi langsung saya sajikan tentang strategi pemasaran marketing dari SHIFT learning dan teknis mengelola serta manajemen course di e-learning sekira ada 10 hal yang dibahas.

Membahas teknik pemasaran di mata saya selalu menarik, biacara tentang mempromosikan e-learning, ibarat anda sedang jualan produk agar bagaimana laku keras di kalangan customer (user) anda. Singkat saja, setelah diiringi dengan diskusi sana-sini, akhirnya sesi acara pun selesai. dilanjutkan dengan foto-foto di salah satu sudut gedung yang baru dibangun.

Menjadi Narasumber Materi Pengelolaan Pembelajaran Jarak Jauh @Pusdiklat Minerba Bandung, 29 Oktober 2013
Narasumber Materi Pengelolaan Pembelajaran Jarak Jauh @Pusdiklat Minerba Bandung, 29 Oktober 2013

Bada dhuhur, setelah makan siang, kami beranjak pulang menuju Anyer kembali dengan hati gembira. Memang saya senang bertemu dengan teman-teman/sahabat baru, yakinlah, seperti nabi berujar, bahwa silaturahmi akan memanjangkan umur dan rejekimu.

Demikian reportase perjalanan kami, semoga ada hal yang bermanfaat dan sampai jumpa kembali ditulisan berikutnya.

#Seperti biasa, jika anda berminat dengan slide presentasinya, silakan share alamat url halaman ini di wall fb anda, kemudian laporkan ke saya dan secepatnya saya kirimkan via message gratisss tiss..

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

 

Reportase Pengembangan Standarisasi Akademik di Cisarua Bogor

Selama dua hari ini (9-10 Oktober 2013) kami diundang oleh Ketua Yayasan Sekolah Islam Terpadu Nurul Fikri (SIT NF) Cimanggis, Depok Ust Dr. Fahmi Alaydroes, M.Ed di villa akafa kawasan Cisarua Bogor. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh inginnya dua lembaga pendidikan yakni Nurul Fikri Boarding School dan SIT NF membuat frame bersama tentang standarisasi kompetensi lulusan/produk dimasing-masing lembaga. Ini merupakan pertemuan kedua setelah kali pertama ditanggal 12 September lalu juga diadakan serupa di Gedung C, SMA IT NF Depok. Peserta dari kedua lembaga adalah masing-masing terdiri dari Pimpinan, kepala bidang akademik dan sub bidang di bawahnya, sedangkan saya sendiri mewakili Learning Resources Center NFBS. Hasil dari pertemuan bersama yang di follow up lebih lanjut adalah adanya 7 tahapan yang akan diselesaikan satu demi satu yakni :

  1. Rumuskan kembali dengan lebih jelas kompetensi lulusan dengan indikator yang jelas
  2. Merancang seluruh program inti dan pendukung untuk mencapai kompetensi tersebut
  3. Merumuskan standar kompetensi guru dan kinerja untuk melaksanakan program tadi
  4. Melakukan pendekatan evaluasi dan supervisi terhadap proses guru mengajar dan hasil belajar
  5. Melakukan tindak lanjut terhadap hasil evaluasi dan supervisi
  6. Merumuskan fasilitas penunjang termasuk budaya
  7. Membuat kerangka kerja umum ataupun per kompetensi lulusan

Setelah pagi hari kami berangkat dari anyer tepat jam 4 pagi, dengan harapan karena acara dimulai jam 10, maka selambatnya kami bisa sampai dilokasi lebih awal. Perjalanan berlangsung lancar, dan tidak ada kemacetan berarti. Akhirnya, tiba lah sampai di tempat tujuan.. tha dha…dan setelah saya cek di gadget, wow suhu disini 18 derajat celcius lho. wuidih,,sejuk sekali..

1
Gedung Villa dilihat dari kejauhan
2
Dilihat jarak dekat

Alhamdulillah kami sudah sampai, istirahat sejenak , sambil nunggu teman2 dari cimanggis, akhirnya kami mulai pembahasan. Diskusi dimulai dari brainstorming tentang profile lulusan, penyamaan persepsi dan definisi sampai dengan munculnya usulan-usulan dan pencatatan. Setelah dijeda sejenak untuk sholat dhuhur dan makan siang, tepat jam 13.30 kami mulai lagi..dan berakhirlah di sore hari jam 17.00 tepat. Acara dilanjutkan dengan agenda masing-masing, jalan-jalan dihalaman sekitar, dari pada diceritakan, berikut saya cuplikkan beberapa foto bidikan amatiran saya..he.he

DSCF1838
Saat mulai jalan-jalan
DSCF1842
Suasana alam sekitar
DSCF1853
Gang kampung
DSCF1863
Sunset di ufuk barat

Oke, perjalanan disore hari ini selesai dan kami pulang kembali ke basecamp sebelum jam 18.00 WIB. Setelah sholat dan makan malam, acara diskusi pun berlanjut kembali…

Demikian, laporan reportase perjalanan kami, dilain waktu akan saya share perjalanan lainnya.. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Inspirasi Technopreneurship; Solusi agar bangsa mandiri secara ekonomi

Data Human Development Index yang diberikan oleh UNDP melalui website resminya bekerja sama dengan Google Labs http://hdr.undp.org menunjukkan bahwa rangking Indonesia terus menerus turun dari rentang tahun 1980 (ranking 69) sampai dengan tahun 2005 (ranking 110) dari 174 negara. Ditambah dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Februari 2012, pekerja dari jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi yaitu sebesar 55,5 juta orang (49,21 persen), sedangkan pekerja berpendidikan diploma sekitar 3,1 juta orang (2,77 persen) dan pekerja penyandang gelar sarjana sebesar 7,2 juta orang (6,43 persen). (sumber : http://www.bps.go.id/?news=928). Data-data tersebut merupakan potret bahwa pendidikan dan pengangguran merupakan problem serius yang menjangkiti negeri ini. Di satu sisi, pengangguran dan kemiskinan masih menjalar kemana-mana, di sisi lain, pendidikan pun hadir tak memberikan solusi jitu bagaimana agar pengangguran bisa ditekan sekecil-kecilnya.

Di ranah pendidikan dan pembelajaran, hal yang masih nyata terlihat yang selama ini terjadi dalam dunia pembelajaran dan sebagian besar di daerah manapun di tanah air. Krisis metode pembelajaran serta muatan solutif dalam mengakhiri masalah sosial ini perlu dicarikan titik terangnya. Kelas-kelas pembelajaran konvensional atau konservatif perlu di tata ulang agar siswa mendapatkan cara berpikir yang benar, kreatif serta solutif. Sebagaimana dikatakan oleh Philip R. Wallace (pakar pendidikan) tentang Pendekatan konservatif bahwa pendekatan konvensional memandang proses pembelajaran yang dilakukan sebagaimana umumnya guru mengajarkan materi kepada siswanya. Guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, sedangkan siswa lebih banyak sebagai penerima. Hal inilah yang patut untuk dibenahi segera.

Kelas-kelas pembelajaran di sekitar kita inilah yang pada dasarnya memiliki potensi untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih besar, mencetak pemikir dan insan yang berdaya saing, sekaligus berkarakter mandiri dalam berkehidupan. Salah satunya mandiri secara ekonomi dan membuka peluang pekerjaan selebar-lebarnya.

Entrepreneurship adalah sebuah karakter kombinatif yang merupakan perpaduan/peleburan sikap kompetitif, visioner, kejujuran, pelayanan, pemberdayaan, pantang menyerah, dan kemandirian. Karakter ini bersatu dan menjadi kebutuhan langsung dalam proses wirausaha.

Persaingan global yang sangat ketat sehingga inovasi usaha harus diiringi dengan berbagai macam rekayasa teknologi untuk mendapatkan keuntungan dan performa dari usaha tersebut. Pemanfaatan teknologi mutakhir tepat guna dalam pengembangan usaha yang berdasarkan pada jiwa entrepreneur yang mapan akan dapat mengoptimalkan proses sekaligus hasil dari unit usaha yang dikembangkan. Technopreneurship merupakan sebuah kolaborasi antara penerapan teknologi sebagai instrumen serta jiwa usaha mandiri (entrepreneurship) sebagai kebutuhan. Technopreneurship adalah suatu karakter integral antara kompetensi penerapan teknologi serta spirit membangun usaha. Dari sini, tumbuhlah unit usaha yang teknologi: unit usaha yang memanfaatkan teknologi aplikatif dalam proses inovasi, produksi, marketisasi, dan lain sebagainya.

Beberapa hal ini adalah gagasan jangka menengah dan panjang terkait “pembudayaan” jiwa technopreneur di masyarakat.

1. Integrasi penerapan materi technopreneurship dalam kurikulum pendidikan menengah dan tinggi

Technopreneurship-Speech

Teknologi yang telah dimiliki dikreasikan dan diinovasikan untuk menyokong pengembangan unit usaha. Hal ini dapat dilakukan secara nyata dalam proses produksi (contoh: Apple Inc, Microsoft dan Google), marketing (contoh: e-Bay), accounting, dan lain sebagainya. Kreativitas dan pemanfaatan teknologi dengan tepat adalah hal utama dalam mengembangkan jiwa technopreneurship. Kita pun juga bisa belajar dari negara lain, inovasi di bidang Teknologi Informasi membuat India dan China berkembang dan menjadi incaran industri dunia barat baik bagi outsourcing maupun penanaman modal.

Muatan materi technopreneurship akan lebih strategis jika dipadukan dengan materi keterampilan berteknologi (TIK) dalam pendidikan tingkat menengah (SMA/SMK). Membuat siswa mahir akan kemampuan TIK tentu sudah baik, namun membuat mereka mampu berpikir dan menyusun kemampuan TIK nya di masyarakat, akan sangat baik lagi. Jika pada kurikulum KTSP sudah ditekankan pada sisipan kewirausahaan, technopreneur secara spesifik lebih memiliki ‘daya jual’ untuk itu.

Kecilnya angka serapan lulusan sarjana (6,43 %) di lapangan pekerjaan, adalah salah satu gambaran masih belum survival nya output perguruan tinggi. Ditambah lagi dengan laporan sensus oleh Wall Street Journal pada November 2011 (sumber : okezone.com diposting pada 15 November 2011), menerangkan bahwa masih adanya jurusan yang berkaitan dengan computer namun memiliki angka pengangguran dengan sumbangsih cukup besar sampai dengan 9,5% dari total pengangguran yang ada. Hal ini perlu disiasati dengan pemberian materi terkait dengan pengupayaan mandiri pembuatan lapangan pekerjaan melalui penyiapan perancangan usaha, strategi sekaligus ilmu marketing product yang mumpuni. Jika hal ini diberikan dengan optimal, harapannya angka pengangguran akan turun signifikan.

2. Pemberdayaan masyarakat melalui fasilitas teknologi yang disiapkan pemerintah

techno2

Kementrian Kominfo memiliki program dalam rangka membuat masyarakat Indonesia dapat terkoneksi ke internet, program ini dinamakan PLIK(Pusat Layanan Internet Kecamatan) dan MPLIK (Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan) sejak akhir 2009. Walaupun masih terus dievaluasi perjalanannya, program ini sebenarnya strategis karena langsung bersentuhan dengan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Melalui PLIK dan MPLIK, masyarakat diberikan warnet/beberapa computer (yang terkoneksi internet) sehingga mereka bisa akses kapanpun saat diperlukan.

Program ini akan lebih berdaya guna jika diberikan muatan sarat edukasi langsung ke masyarakat. Masyarakat pada kelas menengah ke bawah, dalam hal penggunaan teknologi masih sangatlah awam. Fokus pengembangan kompetensi/kemampuan masyarakat yang selama ini dibebankan kepada lembaga formil pendidikan, akan terasa lebih ringan jika ada komunitas-komunitas yang peduli terhadap pengembangan skil masyarakat misalnya melalui training-training /seminar-seminar teknologi. Sangat hebat lagi jika efek edukasi ini membuat masyarakat berdaya dan memanfaatkannya untuk menambah penghasilan baru. Keberadaan komunitas-komunitas yang punya dedikasi ini perlu diperkuat atau disokong secara serius oleh pemerintah daerah.

Akhirnya, technopreneurship adalah salahsatu gagasan sekaligus solusi bagi kemajuan ekonomi dan sosial. Menuju Indonesia yang berdikari, mandiri secara ekonomi, kreatif dan inovatif dalam berkarya adalah cita-cita bersama-sama. Dengan potensi sebesar bangsa ini, jika tergarap dengan baik, akuntabel dan professional. Indonesia akan memimpin di kancah dunia. Semoga !

Referensi :

  • Wallace, P.R (1992). Mathematical Analysis of Physical Problems. Dover Publications.
  • UNDP. 2011. Peringkat HDI UNDP www.hdr.undp.org diakses pada tanggal 10 Agustus 2011
  • Website resmi Badan Pusat Statistik http://www.bps.go.id/?news=928
  • http://kampus.okezone.com/read/2011/11/14/373/529393/inilah-jurusan-kuliah-dengan-tingkat-pengangguran-tertinggi

 

Guru dan Perubahan

Tak dapat disangkal, guru merupakan sosok penting yang mengawal perubahan di awal abad XXI.

Guru berpikir jauh ke depan, bukan terbelenggu ilmu masa lalu, sebab tak banyak orang yang melihat anak-anak telah hidup di sebuah peradaban yang berbeda dengannya. Sementara kurikulum baru yang belum tentu sempurna sudah dihujat, kaum muda mengatakan kurikulum lama sudah tidak relevan mengisi masa depan mereka.

Untuk pertama kali dalam sejarah, dunia kerja dan sekolah di- isi empat generasi sekaligus, generasi kertas-pensil, generasi komputer, generasi internet, dan generasi telepon pintar. Terjadi celah antargenerasi, ”tulis dan temui saya” (generasi kertas), ”telepon saja” (generasi komputer), ”kirim via surel” (generasi internet), tetapi generasi terbaru mengatakan, ”Cukup SMS saja”. Yang tua rapat dengan perjalanan dinas, yang muda pakai skype.

Generasi kertas bersekolah dalam sistem linier terpisah-pisah antarsubyek, sedangkan kaum muda belajar integratif, lingkungannya dinamis, bersenang- senang, dan multitasking. Sekolah bahkan tidak lagi memisahkan kelas (teori) dari lab.

Lewat studinya, The Institute for the Future, University of Phoenix (2012), menemukan, kaum muda akan mengalami usia lanjut yang mengubah peta belajar dan karier. Mereka pensiun di usia 70 tahun, harus terbiasa dalam budaya belajar seumur hidup dan merawat otaknya. Generasi yang terakses jaringan TI bisa lebih cepat dari orangtuanya merencanakan masa depan. Pandangan mereka sama sekali bertentangan dengan celoteh kaum tua di media massa atau suara sumbang yang menentang pembaruan. Ketika guru kolot yang baru belajar Facebook mengagung-agungkan Wikipedia, kaum muda sudah menjelajahi literatur terbaru di kampus Google.

teaching-with-technology

Saat orang tua berpikir kuliah di fakultas tradisional (hukum, ekonomi, kedokteran), generasi baru mengeksploitasi ilmu masa depan (TI kreatif, manajemen ketel cerdas, atau perdapuran kreatif). Cita-citanya menjadi koki, perancang busana, atau profesi independen lain. Ketika geologiman generasi kertas menambang di perut bumi, mereka merancang robot-robot raksasa untuk menambang di meteor. Bila eksekutif tua rindu diterima di Harvard, generasi baru pilih The Culinary Institute of America.

Bahasa dan fisika

Sulit bagi generasi kertas menerima pendidikan yang integratif. Bagi kami, fisika dan bahasa adalah dua subyek terpisah, beda guru dan keahlian. Satu otak kiri, satunya otak kanan. Kita mengerti karena dibesarkan dalam rancang belajar elemen, bukan integratif. Dengan cara lama itu, bingkai berpikir kita bahasa diajarkan sarjana sastra, fisika diajarkan orang MIPA. Dari model sekolah itu wajar kebanyakan aktuaris kurang senyum, ilmunya sangat serius, matematika. Namun, saat meluncurkan program MM Aktuaria minggu lalu, saya bertemu direktur aktuaria sebuah perusahaan asuransi lulusan Kanada yang punya hobi melukis dan mudah senyum. Mengapa di sini orang pintar susah senyum?

Sewaktu mengambil program doktor, saya menyaksikan Gary Stanley Becker (Nobelis Ekonomi, 1992) menurunkan rumus matematika Teori Ekonomi Kawin-Cerai dengan bahasa yang indah. Mendengarkan kuliahnya, saya bisa melihat dengan jelas mengapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa membuat keluarga-keluarga Indonesia berevolusi menjadi orangtua tunggal.

Rendahnya komunikasi dan pengambilan putusan dalam pen- didikan dasar jelas akan membuat generasi baru kesulitan meraih pintu masa depannya. Di Jepang, seorang kandidat doktor asal Indonesia digugurkan komite penguji bukan karena kurang pandai, melainkan buruk bahasanya. Ia hanya pakai bahasa jari dengan kalimat ”from this, and then this …, this…, this…, and proof”. Waktu saya tanya, para penguji berkata, ”Sahabatku, tanpa bahasa yang baik, orang ini tak bisa ke mana-mana. Ia harus belajar berbahasa kembali.”

Tanpa kemampuan integratif, kemampuan kuantitatif, anak- anak pintar Indonesia tak akan mencapai impiannya. Jadi, kurikulum mutlak harus diperbaiki. Jangan hanya ngomel atau saling menyalahkan. Ini saat mengawal perubahan. Namun, catatan saya, Indonesia butuh life skills, yakni keterampilan melihat multiperspektif untuk menjaga persatuan dalam keberagaman, assertiveness untuk buang sifat agresif, dan asal omong dalam berdemokrasi. Indonesia butuh mental yang tumbuh, jiwa positif memulai cara-cara baru, keterampilan berpikir kritis melawan mitos, dan metode pengajaran yang menyemangati, bukan budaya menghukum dan bikin bingung.

Inilah saat guru dan orangtua berubah. Dimulai dari kesadaran, dunia baru beda dengan dunia kita. Cara berpikir kita harus bisa mengawal anak-anak jadi pemenang di akhir abad XXI dengan rentang usia jauh lebih panjang.

Oleh :

RHENALD KASALI, Guru Besar FE UI (Kompas, 7 Februari 2013)