Category Archives: Inspirasi

3 Tips Menulis Artikel di Media – Video Animasi

Bagi sebagian orang yang hendak memulai menulis, kadang menjadi hal yang menakutkan untuk mengawali.

Terlebih jika perasaan takut ini makin menghantui ketika banyaknya kekhawatiran.

3 Tips menulis artikel di media ini disajikan dengan animasi, semoga bisa membantu Anda untuk memahami lebih baik dan mudah.

1. Keep reading and connecting the dots

2. Write what you did, and do what you wrote

3. Just Write it !

Tetap semangat menulis.

Diskusi dan konsultasi hubungi Dedy Setyo Afrianto (WA 085718904956 atau email : dedy@dedysetyo.net).

Artikel dedy setyo Masuk Media Online Nasional

Alhamdulillah, wa syukurillah, artikel yang berjudul “Merawat Empati Menjaga Solidaritas” berhasil masuk media online Republika. Bagi pembaca yang ingin membaca secara lengkap (2 halaman), silakan menuju ke link berikut

https://republika.co.id/berita/qcfel6282/merawat-empati-menjaga-solidaritas

Semoga dapat menyebarkan kebaikan seluas-luasnya, memberikan inspirasi kepada yang lain. Terima kasih.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Merawat Empati Menjaga Solidaritas

Artikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Disarankan untuk membacanya terlebih dahulu agar bisa nyambung dengan materi tulisan. Terima kasih.

Artikel ini dengan judul yang sama, masuk Republika Online dengan link sbb https://republika.co.id/berita/qcfel6282/merawat-empati-menjaga-solidaritas

——————————

Alcoa Inc, salah satu perusahaan pengolahan metal terbesar di Amerika dan sudah memiliki cabang di 10 negara, seperti perusahaan lainnya, walaupun sudah berusia seabad lebih berdiri dengan berbagai macam pencapaian yang prestisius, mengalami fase “up and down” yang bervariasi. Tahun 1987 nilai saham mereka jatuh, sebagian investor panik, sebagian lainnya mengusulkan adanya perubahan manajemen dan kepemimpinan baru. Kisah ini seperti disampaikan dalam “The Power of Habit” karya Charles Duhigg.

Akhirnya terjawab pada bulan Oktober 1987 itu, Paul O’Neill menjabat sebagai pimpinan mereka yang baru. Sebagai bagian dari perkenalan kepada investor dan analis saham yang hadir, mereka berharap di pidato perdana ini mereka akan mendengar sampaian visi dan misi yang meyakinkan mereka, strategi canggih yang bisa membawa Alcoa keluar dari “lubang jarum” itu serta rangkaian program hebat untuk bisa mengembalikan Alcoa pada puncak kejayaan. Namun, apa yang dibicarakan O’Neill di podium itu ?,

“Saya ingin membicarakan kepada Anda tentang keamanan dan keselamatan para pekerja. Setiap tahun banyak para pekerja Alcoa yang cidera parah. Setiap tahun banyak sekali pegawai Alcoa yang terluka karena bekerja. Mengingat karena para pekerja bekerja dekat peralatan bersuhu 1500 derajat celcius yang berpotensi merenggut lengan mereka. Saya berniat menjadikan Alcoa sebagai perusahaan paling aman di Amerika. Saya berniat mengejar nol cidera.”

Para hadirin bingung dan saling bertatap diantara mereka. Sepertinya harapan tentang pidato menggelegar tentang kehebatan program baru yang mereka idam-idamkan nampaknya baru saja pupus.

Setelah acara sambutan tersebut, seperti diaba-aba, banyak diantara investor yang mencari telepon umum (dikala itu belum ada gadget) untuk berdiskusi dengan klien mereka masing-masing seraya merekomendasikan agar menjual sahamnya, karena imbas tidak percayanya terhadap pimpinan baru ini. Sampai disini kita juga belajar bahwa kesan yang pertama kali, ikut mempengaruhi langkah-langkah berikutnya.

Bulan berganti bulan, setahun setelah pidato itu. Seolah berbalik 180 derajat dari anggapan pidato perdana tadi, Alcoa malah mencapai rekor perolehan laba tertinggi. Ketika O’Neil pensiun pada tahun 2000, pendapatan tahunan laba bersih lima kali lebih besar dibandingkan sewaktu Ia tiba. Tidak hanya pencapaian itu, kapitalisasi pasarnya telah naik 27 milliar dollar. Semua peningkatan itu seiring dengan peningkatan status Alcoa sebagai perusahaan paling aman di dunia. Bertahun-tahun telah berjalan, tidak ada laporan pegawai cidera karena melakukan pekerjaannya. O’Neill sendiri setelah pensiun dari Alcoa diminta oleh Presiden George W Bush untuk menjadi menteri keuangan.

Menarik mengamati kisah Alcoa ini dilihat dari sudut pandang “kebiasaan”. Selain dalam masa mendatang kita akan masuk pada fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau New Normal. Apa sesungguhnya yang dilakukan Paul O’Neill dkk merubah perusahaan yang hampir decline dengan raport keselamatan yang buruk, menjadi perusahaan yang sangat sehat, pertumbuhan laba yang mengagumkan, bahkan menjadi yang paling aman diseluruh bumi ?

Kebiasaan kunci

Pada dasarnya, manusia ataupun organisasi, adalah kumpulan kebiasaan yang tersusun setiap hari nya. Apa yang membentuk kita hari ini, adalah refleksi kebiasaan-kebiasaan yang sudah kita lakukan berkali-kali, rutin, refleks dan spontan dari 24 jam kita sehari-hari selama ini. Namun diantara sekian banyak kebiasaan kita selama ini, ada yang dinamakan “kebiasaan kunci”. Kebiasaan kunci ini akan memantik kebiasaan-kebiasaan lainnya sehingga bekerja sebagaimana harapan Anda. Semisal, jika Anda sebagai pegawai yang harus sudah siap berangkat kerja pada pukul 6 pagi tepat, sudah di KRL pada pukul 6.15, dan wajib sudah berada di kantor pukul 7 pagi. Maka kebiasaan kunci Anda adalah bangun selambatnya sebelum subuh, dan bisa jadi kebiasaan kunci Anda dimulai dari sejak kapan dimulainya tidur dimalam hari. Jika kebiasaan kunci ini dirubah, maka berubahlah kebiasaan-kebiasaan yang lain.

Begitu juga organisasi ataupun perusahaan sebesar Alcoa, sebelum O’Neill menerima tawaran memimpin Alcoa, dilandasi atas analisisnya bahwa keselamatan pekerja menjadi kata kunci yang wajib menjadi regulasi utama dalam beroperasinya Alcoa diseluruh divisi.

O’Neill percaya bahwa sejumlah kebiasaan memiliki kekuatan untuk memulai reaksi berantai, mengubah kebiasaan-kebiasaan lain seraya menyebar ke seluruh organisasi.

Ia mengidentifikasi satu tanda sederhana : cidera pegawai. Setiap kali ada yang cidera, pimpinan divisi harus melaporkannya kepada O’Neill dalam 24 jam dan mempresentasikan rencana untuk memastikan cidera tidak terjadi lagi dimasa selanjutnya. Dan ganjarannya sebagai reward : orang yang dipromosikan hanyalah yang mengikuti sistem tersebut.

Akibat kebijakan O’Neill ini lalu menggerakkan pimpinan divisi yang lain. Untuk mengontak O’Neill dalam 24 jam setelah cidera, mereka harus mendengar soal kecelakaan itu dari wakil divisinya segera setelah peristiwa tersebut terjadi. Jadi para wakil harus terus menerus berkomunikasi dengan manajer lapangan, dan para manajer lapangan membutuhkan para pekerja untuk menyampaikan peringatan begitu mereka melihat ada masalah dan memiliki daftar saran didekat mereka, sehingga bila wakil divisi meminta rencana, sudah ada satu kotak gagasan yang dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Untuk membuat itu terjadi, setiap unit harus membangun komunikasi baru yang mempermudah para pekerja berkedudukan paling rendah untuk menyampaikan gagasan kepada eksekutif berkedudukan lebih tinggi diatasnya secepat mungkin. Hampir semua rantai birokrasi yang panjang itu akhirnya dipangkas dan disederhanakan sehingga komunikasi berjalan dengan lancar dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Singkat cerita, kebijakan tentang keamanan dan keselamatan pegawai, ternyata berbimbas pada hal lain dan berdampak positif terhadap perusahaan, seperti supervisi yang lebih intens, jalur komunikasi yang dinamis, pemangkasan birokrasi dan tentu saja pekerja lebih semangat bekerja karena merasa diperhatikan lebih terkait kesehatannya.

Seperti diparagraf sebelumnya, inilah yang dimaksud kebiasaan kunci.

Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)

Adanya masa pandemi yang membuat kita berdiam diri di rumah tersebab PSBB semenjak beberapa bulan lalu, mau tidak mau juga berimbas kepada cara kita melihat lingkungan sekitar yang telah lama mungkin tidak kita tengok. Tempat ibadah yang telah lama kosong, sekolahan yang sepi dari para siswa dan ruang-ruang publik lainnya yang sudah lama sekali tidak kita sapa, rapat-rapat yang berganti menjadi pertemuan maya. Pertanyaan berikutnya apa kebiasaan kunci yang perlu kita rancang sehingga kita siap dengan kondisi pasca pandemi yang cepat atau lambat akan kita bertemu ?

  1. Berpikir positif dan memiliki rasa optimis

Laporan penelitian dari University of Pittsburgh School of Medicine menemukan bahwa wanita menopause yang memiliki sifat optimis mengalami penurunan jangka kematian dan memiliki hanya sedikit risiko terkena diabetes atau hipertensi (tekanan darah tinggi), yang sering kali dialami oleh teman-teman pesimis mereka.

Para peneliti menganalisis data dari 100.000 orang wanita dalam studi yang sedang berlangsung, dan hasilnya adalah wanita yang optimis memiliki risiko sebanyak 30% lebih rendah untuk meninggal karena penyakit jantung, dibandingkan dengan yang pesimis. Para wanita yang pesimis juga memiliki 23% kemungkinan untuk meninggal akibat kanker.

Artinya rasa optimis akan membantu kita untuk lebih survive dalam bertahan menghadapi masa pandemi ini. Persoalan psikologis yang barangkali dirasakan oleh sebagian kita karena terlalu lama di rumah juga mudah-mudahan bisa perlahan dikikis dengan rasa optimis dan tetap positif ini.

2. Merawat Empati

Slavoj Zizek, filsuf dari Slovenia ini melihat bahwa solidaritas di era pandemi berpeluang menciptakan suatu kemanusiaan jenis baru, yang akan membuat kita terhindar dari jebakan penghancuran diri dan sikap barbarisme. Pandemi ini juga mengajarkan kita bahwa aksi bantu membantu kepada pejuang lini terdepan seperti tenaga medis dan lainnya ini juga lebih mudah dilakukan. Varian ikhtiar bantuan kepada masyarakat terdampak juga beraneka macam dimasa seperti sekarang, mulai dari konser dari rumah, membelikan makanan kepada driver ojek online sampai dengan bantuan APD rumahan yang diinisiasi oleh berbagai unit usaha.

Upaya-upaya inilah yang harapannya makin bisa dirasakan dimasa depan, walaupun nanti kita sudah melewati masa pandemi. Dengan segala duka yang kita rasakan, pelajaran berbagi dimasa pandemi ini tetap bisa dirasakan sebagai hikmah.

Akhirnya kita berharap adanya warisan kebaikan terhadap sesama yang lebih panjang, upaya solidaritas yang tak lekang dimakan waktu.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Kekuatan Kebiasaan

Namanya Lisa Allen, seperti dicantumkan dalam buku The Power of Habit yang ditulis oleh Charles Duhigg ini, saat diwawancara pada umur 34 tahun itu, terlihat sangat bugar, cerdas, memiliki banyak karya yang menginspirasi dan mempunyai sederet gelar bergengsi. Namun jika mundur sejenak saat dia menginjak umur 22 tahun, maka tidak seperti saat 34, dimasa lalunya, Lisa merupakan tipe orang dengan beberapa masalah pribadi dan keluarganya. Obesitas, kecanduan obat, bermalas-malasan sepanjang waktu, lilitan utang dan perceraian, merupakan deretan kisah menyedihkan yang dihadapi oleh pemudi dengan umur yang masih demikian belia. Namun seperti yang Anda tahu, 12 tahun sesudahnya semuanya berubah sangat drastis.

Kisah Lisa ini menginspirasi para ilmuwan untuk meneliti sejauh mana dan faktor apa yang membuat orang bisa berubah. Seperti dilanjutkan dalam uraian wawancara berikutnya, Lisa berhasil mengurai kata kunci yang bernama “kebiasaan” sehingga grafik habit nya menjadi sangat positif dan lebih baik dari waktu ke waktu. Hal pertama yang dirubah olehnya adalah kesehatan fisik, mulai dari memiliki program olah raga yang setiap pagi dijalani secara konsisten, memilih makanan dan minuman sehat yang hanya dibutuhkan oleh tubuh. Yang perlahan tapi pasti, ketika fisiknya sudah menjadi semakin fit dan sehat, maka satu persatu kebiasaanya hariannya ikut dirubah. Menjadi rajin membaca dan menulis, melanjutkan studinya, lebih relijius, selaras dengan cemerlangnya karir dan akhirnya 180 derajat hidupnya berubah.

Manusia, seperti kita dan yang lainnya, pada dasarnya adalah kumpulan kebiasaan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Setiap orang memiliki jatah yang sama setiap harinya. Namun yang membedakan diantara mereka adalah “kebiasaan”. Sebagai contoh seperti pesepakbola David Beckham yang rela meluangkan dan menyisihkan waktunya 4 hingga 5 jam perhari dimasa mudanya untuk melatih tendangan bebasnya secara rutin dan sungguh-sungguh, maka dimasa berikutnya kita kenal Beckham sebagai seorang pesepak bola yang ahli dalam tendangan bebas. Legenda basket NBA, Michael Jordan, seorang yang dimasa lalunya pernah dikeluarkan dari klub basket sekolahnya dan bahkan pernah tidak dipanggil oleh dua klub NBA diawal karirnya, merubah dan mengasah diri sedemikian rupa sehingga pada akhirnya menjadi seorang jenius dalam dunia basket.

Seperti Lisa dan beberapa nama diatas, sebenarnya seberapa lama manusia membutuhkan waktu untuk merubah kebiasaannya ?

Salah satu asumsi yang paling terkenal berasal dari buku Psycho Cybernetics oleh Maxwell Maltz. Buku yang dipublikasikan pada 1960 ini menyebutkan bahwa pasien-pasien Maltz membutuhkan waktu 21 hari untuk terbiasa dengan wajah baru mereka setelah menjalani operasi plastik.

Namun, studi yang dilaksanakan pada tahun 2009 terhadap 96 orang menemukan bahwa membentuk kebiasaan baru tidak pasti membutuhkan waktu 21 hari. Para peneliti justru menemukan bahwa waktunya bervariasi, antara 18 hingga 254 hari, tergantung pada masing-masing individu, walaupun rata-rata memerlukan waktu 66 hari. Hal yang sama juga bisa dikatakan mengenai upaya untuk menghentikan sebuah kebiasaan. Kepribadian, motivasi, lingkungan dan kondisi, serta jenis kebiasaan yang ingin diubah turut berpengaruh pada kecepatan seseorang untuk mengubah sebuah kebiasaan.

Kebiasaan yang membentuk manusia, atau manusia yang membentuk kebiasaan ?

Pertanyaan ini, walaupun tidak sama persis, sama dengan pertanyaan “mana lebih dulu antara telur atau ayam ?”. Semoga uraian berikutnya bisa membantu menjawab.

Prof Rhenald Kasali dalam bukunya “Self Driving” menyatakan bahwa sesungguhnya manusia merupakan “Driver” dalam kehidupannya sendiri. Setelah orang tua melahirkan dan membesarkan kita, dimana mereka menganggap bahwa kita sudah punya kesiapan yang cukup untuk memutuskan sesuatu tentang hidup kita, maka “mandat” dari orang tua berpindah kepada pundak anaknya yang telah dewasa.

Sehingga sebagai “driver” yang baik dalam kehidupan kita masing-masing, maka kita wajib punya “peta” agar terarah, yakni berupa cita-cita hidup kita. “Kendaraan” yang nyaman dan mumpuni, yakni berupa fisik, jiwa, akal sehat yang membantu kita menuju cita-cita. Setelah itu kendali terbaik adalah kita sendiri dalam tubuh kita masing-masing. Merumuskan kebiasaan-kebiasaan dan secara rutin menjalankannya, maka kitalah yang memiliki saham terbesar tentang diri kita kelak.

Kemudian, diri kita dimasa depan, sejatinya adalah kumpulan-kumpulan kebiasaan kita dimasa lalu. Apa yang kita lihat saat ini dalam diri kita, adalah refleksi apa yang terjadi dan kita lakukan dimasa sebelumnya. Sehingga secara sadar atau tidak, cara kita melihat diri kita hari ini, akan terrefleksi dimasa depan kita nanti.

Bagaimana dengan Anda ?, yuk bersama-sama jadi lebih baik dan makin positif.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Sains sebagai alat menghadapi pandemic dari masa ke masa

Laporan riset dari Data-Driven Innovation Lab yang dimotori oleh Singapore University of Technology and Design diakhir April 2020 menunjukkan bahwa masa pandemi di sejumlah negara akan berakhir beberapa bulan kedepan sampai dengan akhir tahun 2020, untuk Indonesia sendiri diprediksi akan selesai pada tanggal 31 Juli 2020. Beberapa lembaga lain baik dalam ataupun luar negeri juga mencoba dengan pendekatan sains dan ilmiah untuk menghitung dan memperkirakan seberapa lama masa pandemic ini akan berakhir. Dengan kompleksitas dan varibel-variabel yang terlibat, tentu saja kita perlu berterima kasih atas kerja keras yang telah mereka lakukan.

Perihal ramal-meramal terkait situasi yang akan terjadi dimasa depan, para ilmuwan dengan pendekatan sains telah lama melakukan, sehari-hari kita juga sering menggunakan ramalan cuaca melalui teknologi, bisa dari internet atau juga dari weather forecasting media TV/radio apakah hari esok akan hujan atau cerah, sehingga kita bisa menyiapkan apakah akan membawa payung atau tidak untuk aktivitas outdoor kita. Karena benar, ramalan cuaca ini sangat penting terutama untuk beberapa tipikal mode transportasi laut atau udara yang padanya tingkat keselamatan sangat menentukan sekali tergantung dari hasil prediksi cuaca ini. Bagaimana sains sangat penting dan berpengaruh sekali terhadap aktivitas sehari-hari kita sudah tidak ada kesangsian lagi untuk hal ini.

Ramalan cuaca

Lalu bagaimana peranan sains pada masa lalu ?, Bagaimana pula Islam merawat tradisi sains ?. Ada fakta-fakta yang relatif sama dimasa lalu dimana zaman itu juga pernah bertemu dengan wabah penyakit besar yang bernama Black Death (berasal dari Pes) pada pertengahan hingga akhir abad 14. Saking mematikannya, hingga menewaskan hampir 60 % populasi masyarakat di Eropa. Penyebaran wabah Pes bermula dari serangga (umumnya kutu) yang terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat termasuk di antaranya tikus dan marmot yang terinfeksi wabah. Setelah tikus tersebut mati, kutu menggigit manusia dan menyebarkannya kepada manusia. Lalu bagaimana posisi umat Islam di Eropa saat itu ?.

Sebagai ilustrasi sederhana, dimasa itu Andalusia di Eropa merupakan sebuah tempat dimana ilmu pengetahuan berkembang sangat luas, banyak ilmuwan islam yang dengan karya-karyanya menginsipari negara lain untuk giat dan mempelajari pengetahuan dan sains dari ilmuwan Islam. Bahkan bahasa arab menjadi bahasa Internasional yang bisa menghubungkan antar bangsa dan menjadi in jika ingin masuk dalam komunikasi antar negara.

Ilustrasi Andalusia

Mulai abad ke 10 Kordoba (Andalusia – Spanyol)telah memiliki 70 perpustakaan, salah satu perpustakaan terbesar di Kordoba memiliki 500.000 naskah. Sebagai perbandingan, perpustakaan lain di eropa saat itu hanya memiliki tak lebih dari 400 naskah, bahkan universitas Paris di abad 14, baru memiliki sekitar 2.000 buku. Pada tiap tahunnya di Al-Andalus diterbitkan kurang lebih 60.000 buku, termasuk risalah-risalah, puisi, polemik dan antologi.

Sebagian besar sejarawan menuliskan, dibawah ke-Khalifahan Kordoba, Al-Andalus merupakan mercusuar untuk belajar segala ilmu pengetahuan. Kordoba menjadi salah satu pusat kebudayaan, pusat ekonomi terkemuka, baik di Basin Mediteranean dan dunia Islam masa itu.

Terbayang betapa “cahaya pengetahuan” Andalusia sangat terang disaat Eropa sedang “gelap-gelapnya”. Di masa itu pula di Eropa yang sebagian besar masih berpaham fatalistik, bahwa jika ingin selamat maka tunduk patuhlah pada gereja (haram untuk berbeda pendapat), sehingga adanya wabah itu, sebagian besar dari mereka beranggapan sebagai kutukan gereja kepada orang-orang yang tidak menurut pada perintah.

Andalusia (Spanyol) pada masa itu juga ikut terimbas the Black Death. Hanya saja, para sarjana Muslim setempat lebih lanjut meneliti apa penyebab dan bagaimana metode penanganannya. Di antara mereka adalah Ahmad bin Ali bin Khatimah. Ilmuwan dari Almeria itu menulis Tahsil al-Gharad al-Qasid fii Tafil al-Marad al- Wafid sekitar tahun 1349. Beliau menduga buruknya kualitas udara sebagai pemicu persebaran wabah.

Ilmuwan lainnya, Ibnu al-Khatib mengarang kitab Muqni’at al-Sail ‘an al-Marad al-Hail. Di dalamnya, sosok asal Granada itu menjelaskan hipotesis tentang transmisi atau penularan penyakit.

Gagasan al-Khatib belakangan diadopsi oleh ahli biolog Prancis, Louis Pasteur, ratusan tahun kemudian. Salah satu uraian Muqni’at mengenai antisipasi wabah: Kebanyakan orang-orang yang telah mengadakan kontak dengan seorang penderita wabah akan meninggal dunia.

Sementara itu, mereka yang tidak begitu (berinteraksi) akan tetap sehat. Pakaian atau keranjang (yang sebelum nya dipakai penderita wabah) boleh jadi membawa penyakit ke dalam rumah; bahkan, sebuah anting sekalipun dapat berakibat fatal bila dipasang pada telinga seseorang (yang sehat).

Penyakit itu dapat muncul dari suatu rumah di suatu kota, kemudian ia menyebar dari orang ke orang tetangga, saudara, atau tamu rumah itu. Di masa kita saat inilah, dalam menghadapi covid-19, kita memiliki istilah yakni Social Distancing dan Physical Distancing yang memiliki makna sama dengan kondisi saat itu. Singkat kata, pada akhirnya dengan tetap melakukan “isolasi mandiri”, maka wabah ini perlahan tapi pasti akan masuk pada angka yang semakin minimalis dan akan menghilang.

Begitulah dimasa lalu kita diajarkan, sains telah menjadi salah satu alat penting untuk menghadapi wabah besar ini dengan segala bentuknya. Jika dimasa lalu kita diajarkan dengan pelajaran penting dan berakhir dengan keberhasilan, lagi-lagi pengalaman adalah guru terhebat yang kita bisa belajar banyak darinya.

Sehingga hari-hari ini, dimasa Ramadhan ini, kampanye tagar #tetapdirumah #dirumahaja bersama keluarga tercinta kita, nampaknya wajib benar-benar kita lakukan dengan istiqomah, seraya di bulan penuh berkah ini kita terus berdoa kepada Allah agar memampukan kita menghadapi masa-masa sulit ini.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Bekerja untuk keabadian

Vastly Zaitsev, seorang penembak jitu Uni Soviet pada Perang Dunia II mengisi karirnya dengan cara yang luar biasa. Bidikan senapan jarak jauhnya, pada akhirnya merontokkan mental pasukan-pasukan Jerman sehingga pada akhirnya perang Stallingrad ini dimenangkan oleh Soviet. Selidik punya selidik, ternyata kehebatan Zaitsev ini dipropagandakan sedemikian rupa oleh pimpinan-pimpinan Soviet melalui publikasi tulisan yang menggelora, digandakan berribu-ribu eksemplar, kemudian disebarkan lewat pesawat terbang agar bisa dibaca oleh semua orang, termasuk musuh-musuhnya sendiri, hal ini sekaligus membuat ciut nyali pasukan musuh sebagai strategi psy war. Diakhir adegan, Zaitsev, selain sebagai pasukan elit, merupakan simbol kemenangan Soviet untuk peperangan ini. Kisah epik bisa dilihat pada film Enemy at the Gates (dipublikasikan pada tahun 2001).

Lain lagi dengan kisah Buya Hamka, beliau merupakan profil lengkap seorang guru, ulama, politisi, sastrawan sekaligus penulis. Beliau tergolong penulis yang produktif, tak kurang dari 118 judul buku sudah beliau hasilkan, meliputi banyak bidang kajian, seperti politik, sejarah, budaya, akhlak, dan ilmu-ilmu keislaman. Dari sekian banyak karyanya, paling berpengaruh tentu saja adalah Tafsir Al-Quran 30 juz yang dinamakan Tafsir Al Azhar. Tafsir ini memiliki pengaruh besar, tidak hanya digunakan oleh muslim Indonesia, namun menyebar sampai dengan Malaysia, Brunei, bahkan sampai dengan Thailand. Tafsir ini diselesaikan Hamka saat di jeruji tahanan selama 2 tahun 4 bulan. Tulisan beliau dalam bentuk sastra, beberapa diantaranya “Dibawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck”, walaupun karya lama generasi 1930an, namun karya beliau masih relevan untuk menjadi bacaan inspiratif antar generasi, sehingga masih sangat populer ketika diangkat pada versi layar lebar. Memang benar, karya-karya menyejarah, seperti punya cara tersendiri agar tetap bersinar tak terbatas ruang dan waktu.

Buya Hamka

Dua kisah diatas, walaupun hanya fragmen kecil dari sebuah film dan karya pemikiran, namun kita tahu bahwa ketajaman pena, memiliki imbas dahsyat untuk mempengaruhi orang lain dengan skala yang luas, tak terbatas ruang dan waktu. Tulisan yang memiliki value tinggi, bisa mempengaruhi pembacanya, akan memiliki dampak lebih efektif dan eskalatif.

Semakin banyak karya bermutu tinggi yang beredar dimasyarakat, pada akhirnya akan berimbas pada budaya, moralitas, nilai keluhuran, pola pikir masyarakat dan kualitas SDM yang lebih membaik dari waktu ke waktu. Namun, untuk sampai pada hal ini, peran serta masyarakat jua lah yang memiliki peran signifikan. Karena pada dasarnya, masyarakat berperan sebagai “produsen” ide dan gagasan (melalui media tulis), disatu sisi juga berperan sebagai “konsumen”, penikmat ide tersebut. Titik sambung antara banyaknya karya berkualitas dan peningkatan mutu SDM inilah dinamakan literasi (kemampuan membaca dan menulis). Sederhananya, masyarakat berperan ganda dalam peningkatan mutu literasi ini.

Level literasi masyarakat memiliki kontribusi besar untuk menentukan kemajuan sebuah bangsa, banyak riset yang menjelaskan bagaimana kemampuan literasi manusia, memiliki relasi positif terhadap kecerdasan, penalaran dan bahkan kemampuan matematika. Literasi ini, pada akhirnya memiliki sumbangsih yang besar terhadap kemajuan negeri. Namun, Indonesia masih memiliki sejumlah PR untuk mengatasi hal ini.

Penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015 menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Ini adalah hasil penelitian terhadap 70 negara. Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei.

PISA 2015

Problem ini, tentunya butuh penuntasan dengan menjadikan pendidikan sebagai kata kuncinya. Sebagaimana kita pahami bahwa faktor penting pendidikan salah satunya ada pada guru. Guru memiliki peran besar untuk dapat menjadikan level literasi ini menjadi lebih baik. Kemudian, bagaimana guru dapat berperan dengan profesinya ?, dengan cara menginspirasi mereka !.

Cara terbaik mendekatkan para siswa dengan baca-tulis, bisa dilakukan dengan pendalaman materi dengan mengoptimalkan sumber lain diluar buku paket, cara ini bisa men trigger keingintahuan siswa dengan bacaan lain, sekaligus menjadikan referensi tambahan yang bermanfaat untuk mencintai membaca.
Berikutnya, menulis adalah aktivitas yang manfaatnya tidak hanya dirasakan disaat ini dan ditempat ini. Lebih dari itu, menulis, apalagi di era teknologi saat ini, merupakan “alat edar ide” terbaik dan terluas. Lebih massif dibanding era Zaitsev tentu saja, setiap orang bisa dengan cepat dan mudah membacanya, dimanapun dan kapanpun. Begitu juga manfaatnya bisa dirasakan diwaktu-waktu kedepan, bahkan untuk generasi sesudah kita. Betapa banyak tulisan-tulisan di jagat maya yang sudah ditulis dari belasan atau puluhan tahun yang lalu, yang masih bisa kita baca di internet hingga sekarang. Begitu juga dengan karya kita saat ini, jika ada pencerahan didalamnya, maka “suluh” ini bisa dinikmati bahkan sampai masa yang panjang. Benarlah bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Semoga kita bisa menjadi inspirator kebaikan untuk masa yang panjang lewat menulis ini.

Sebagai penutup, Kami kutipkan epilog dari Pramoedya.


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

Menjadi Guru 5.0 untuk Menyiapkan Generasi Pelita Masa Depan

Notes : Artikel ini dengan judul yang sama, masuk pada halaman opini harian nasional Media Indonesia. Bisa dibaca disini http://m.mediaindonesia.com/read/detail/200365-menjadi-guru-50-untuk-siapkan-generasi-pelita-masa-depan

——

Dan Brown, novelis ternama dengan capaian penjualan best seller, karyanya dinyatakan sebagai salah satu buku yang paling populer dalam sejarah buku sepanjang masa pada 2009, pernah menuliskan di novelnya yang berjudul Origins, tentang kemajuan teknologi yang sedemikian luar biasa bahwa dimasa depan komputer dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mampu membuat novel sendiri melalui serangkaian proses berpikir secara otomasi. Ternyata tak hanya berada dihalaman novel, peneliti dari Future University di Hakodate, Jepang pun pada 2016 berhasil membuktikan bahwa hal ini bukan isapan jempol semata, hasilnya adalah sebuah novel berjudul Konpyuta ga shosetsu wo kaku hi atau “Hari Sebuah Komputer Menulis Novel” berhasil ditulis oleh komputer dengan AI nya.

Ditempat lainnya, Scorpion, tayangan serial fiksi yang diinisiasi oleh Walter O’Brien sebagai CEO nya, hanya untuk sekedar informasi, beliau ini merupakan manusia ber IQ 197 sehingga menjadi salah satu manusia pemilik IQ tertinggi dalam sejarah manusia, dalam salah satu episode Scorpionnya pernah menyajikan tentang hebatnya komputer dimasa depan dengan kemampuan duplikasi menggambar selevel dengan skill Da Vinci. Tak hanya didunia fiksi semata, Google pada April 2017 yang lalu pun berhasil mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan komputer menggambar sketch dengan urutan motorik dan jaringan syaraf tiruannya sendiri. Nampaknya tak seberapa lama, khayalan Walter O’Brien ini sepertinya akan mewujud dalam dunia nyata.

Dua kisah diatas ini untuk memberikan ilustrasi kepada kita, bahwa impian manusia untuk kemajuan yang berkelanjutan terus menerus mencapai level tertingginya. Impian dimasa lalu tentang manusia yang bisa terbang dari satu pulau ke pulau yang lainpun saat ini telah kita nikmati pada teknologi tinggi dalam dunia penerbangan, baik di Indonesia ataupun Internasional. Begitupun juga, dimasa lalu ketika manusia ingin bercakap-cakap dengan melihat lawan bicaranyapun, saat ini dengan sangat mudah bisa dilakukan oleh siapapun.

Fase revolusi industri yang sudah mencapai 4.0 inipun sudah berada didepan kita, tantangan demi tantangan juga nampaknya bak tsunami dengan gelombang besarnya didepan sana yang siap menghempas siapapun. Fase yang sering dinamakan dengan era disrupsi inipun juga sudah menunjukkan korbannya satu persatu, dilevel global kita melihat adanya Kodak dan Nokia yang dulu menjadi pemimpin pasar foto dan komunikasi, namun saat ini dunia telah berubah, mereka tak lagi berada diatas, bahkan sudah tersisihkan. Ditaraf lokal, kita juga melihat adanya teknologi ojek online, dengan seabrek layanannya yang lebih memikat dan praktis, kalo dulu konsumen harus mencari ojeg pangkalan untuk bisa bepergian, saat ini mereka yang mendatangi konsumen, kalo dulu orang akan pesan makanan atau hantar barang harus keluar rumah, saat ini semuanya bisa dilakukan bahkan tanpa harus keluar rumah, lebih miring lagi biayanya. Layanan dengan berbagai kemudahan dan pendekatan privat inilah cikal bakal pemenuh kebutuhan masyarakat dimasa depan.

Dunia pendidikan juga menemui tantangannya sendiri, menurut Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, per maret 2018 yang lalu angka pengangguran lulusan perguruan tinggi kita masih mencapai 630.000 orang. Angka ini menyumbang 8,8 % dari 7 juta pengangguran di Indonesia. Angka ini membuat kita miris sehingga harus menata ulang pendidikan kita.

Berkaca pada Human Development Index (Index Pembangunan Manusia) yang dirilis oleh PBB pada tahun 2016 yang diukur dari angka harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup, Indonesia berada pada ranking 113 dari 188 negara. Angka ini tentu saja membuat kita perlu bekerja keras untuk mendongkrak posisi ini agar lebih berkembang dari waktu ke waktu.

Belum lagi kasus menyedihkan didunia pendidikan yang sebagian masih diisi dengan kasus bullying, tawuran antar pelajar, narkoba dan lain sebagainya yang masih membuat kita mengelus dada untuk kejadian-kejadian serupa di tanah air.

Tantangan abad 22

National Academy for Engineering (USA), seperti disampaikan oleh Prof Musthak Al Atabi dalam bukunya “Think Like An Engineer”, mengidentifikasi setidaknya ada 14 tantangan besar yang dihadapi manusia pada abad 22 mendatang. Beberapa diantaranya saya coba ulas disini.

  1. Membuat energi matahari lebih ekonomis

Energi matahari merupakan sumber energi yang luar biasa yang belum bisa ditandingi oleh buatan manusia sejauh ini. Walaupun hanya fraksi saja yang didapatkan oleh kita, namun sudah mampu menyuplai kebutuhan 10.000 kali energi yang dibutuhkan oleh umat manusia di seluruh bumi. Tapi masalahnya hingga saat ini adalah teknologi untuk menangkapnya masih kurang efisien (kurang ekonomis). Sehingga kebutuhan untuk membuat teknologi untuk menangkap energi matahari lebih efisien dimasa depan akan sangat membantu manusia dalam kehidupannya.

  1. Penyediaan akses kepada air yang bersih

Satu dari setiap enam orang yang hidup saat ini tidak memiliki akses untuk memperoleh air yang bersih. Akses kepada air bersih dan sanitasi yang memadai mutlak menjadi kebutuhan manusia, baik saat ini lebih-lebih dimasa depan dimana populasi manusia dari sisi jumlah akan lebih banyak dari saat ini. Walaupun 70% bumi dikelilingi oleh air, namun kebanyakan yang tersedia tidak bisa diakses oleh manusia, karena tercemari atau air garam (laut). Para pakar kedepan, menjadi kunci untuk penyediaan air bersih ini, baik untuk minum dan aktivitas lainnya, seperti bercocok tanam, dengan menyediakan teknologi yang dapat menyediakan air sehingga dapat digunakan oleh sebanyak-banyaknya kegunaan kehidupan.

  1. Meningkatkan peran virtual reality

Walaupun virtual reality saat ini sudah digunakan dalam games dan entertainmen, meningkatkan fungsi virtual reality dalam dunia medis misalnya, akan memberikan impact positif yang lebih banyak. Ini akan membantu dokter dengan operasi virtual terlebih dahulu, sebelum melakukan operasi yang sebenarnya, akan membuat resiko lebih terminimalisir.

Beberapa hal diatas tidak akan bisa dicapai, jika pendidikan hari ini belum bertemu dengan titik optimalnya. Kemudian, berbicara tentang pendidikan, faktor sentral yang menjadi ujung tombak kualitas pendidikan adalah guru. Guru-guru terbaik lah yang akan membuat kualitas pendidikan lebih maju. Jika pendidikan telah maju, maka kapasitas bangsa ini akan terus menerus menuju garis terdepan. Sehingga tak lebih dan tak kurang, guru menjadi salah satu pilar penting dalam kemajuan peradaban melalui jalur pendidikan. Kalau pendidikan Finlandia, Jepang dan Korea bisa dikatakan dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia saat ini, mereka sudah mulai jauh-jauh hari bahkan sedari tahun 60 -70an yang lalu.

Menghadapi era revolusi industri 4.0 pun, kapasitas guru sedianya juga sudah sampai versi 4.0, lebih baik lagi jika sudah sampai 5.0. Ini tidak hanya sekedar angka-angka an, namun analoginya sederhana, tidak mungkin versi 2.0 akan memiliki daya saing di versi 4.0. Sehingga menjadi penting untuk merumuskan apa saja kapasitas guru 5.0

  1. Intellectual curiosity

Judy Gilbert (direktur talent Google) ketika ditanya prasayarat apa yang dibutuhkan oleh Google ketika merekrut SDM nya, seperti kita tahu saat ini, bahwa Google merupakan salah satu perusahaan multinasional di dunia yang dikejar oleh talenta terbaik. Gilbert menjawab, “tentu saja kami merekrut orang dengan skill terbaik, memiliki kemampuan coding yang oke, namun diluar itu semua, kami butuh SDM yang bisa melihat masalah, kemudian menyelesaikannya, alih-alih menunggu orang lain untuk menyelesaikan masalah itu, orang ini berusaha dengan kemampuan terbaiknya, menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk fix it (menyelesaikan problem tersebut)”, inilah yang dimaksud kemampuan Intellectual Curiosity. Dimasa depan, dimana tantangan dan problem menjadi lebih variatif, kemampuan guru untuk skill ini menjadi penting, kemudian mentransfer nilai-nilai ini kepada siswanya agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.

  1. Berpikir kritis, memecahkan masalah dan kolaborasi

Tony Wagner dalam The Global Achievement Gap merumuskan tujuh skill penting untuk bisa survive dimasa depan, tiga diantaranya adalah berpikir kritis, memecahkan masalah dan kolaborasi. Tiga skill ini dianggap penting untuk menhadapi krisis dunia dimasa depan. Ketika dunia akan sampai pada titik dimana energi fosil sudah semakin limit, maka energi alternatif akan membantu manusia untuk lebih survive dan membantu kehidupan. Kemudian untuk mencapai kondisi itu, maka kolaborasi menjadi kunci bahwa setiap elemen dalam kehidupan memiliki kontribusi untuk kehidupan menjadi lebih baik.

Guru dengan kemampuan ini, akan melibatkan siswa untuk ikut andil melihat problem, serta memecahkan masalah dengan kolaboratif, sehingga dengannya, siswa akan dididik memandang lebih utuh bahwa setiap probel akan bisa diatasi dengan kerja sama dengan banyak pihak.

  1. Teladan kebaikan

Inilah skill yang tidak bisa diwakilkan oleh benda/barang/teknologi apapun. Skill ini (walau lebih dekat kepada karakter) menjadi pembeda antara guru dengan hanya sebagai penyampai informasi. Jika saat ini teknologi dengan kecanggihannya bisa mentransfer pengetahuan dengan tanpa jarak dan waktu, maka peran penyampai informasi (saja) akan segera punah. Teknologi dengan berbagai pendekatannya yang menyenangkan akan dengan sangat mudah menghanguskan peran guru dimasa depan, sekali lagi jika peran guru hanya sebagai penyampai pengetahuan. Namun jika sebagai teladan, maka peran guru akan senantiasa sangat vital dan tak akan lekang oleh waktu. Hal ini menjadi catatan penting untuk berbenah terus menerus dimasa kini dan nanti. Peran-peran keteladanan dalam kebaikan inilah fungsi vital sejatinya guru, baik dikelas ataupun diluar kelas. Jika teladan ini ada pada setiap guru, maka tak akan susah para siswa menemukan sosok inspiratif disekitarnya. Karena kebaikan itu menular, semakin banyak mentor kebaikan, maka akan semakin banyak pula agen kebaikan.

Semoga hari guru tahun ini, menjadi momentum yang baik untuk terus menerus menjadi teladan kebaikan. Pengawal moral dan lini terdepan dalam kemajuan bangsa.

Teruslah menjadi lentera yang menyinari dunia.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Catatan kaki

Al Athabi, Musthak (2014). Think Like An Engineer. School of Engineering Taylor’s University, Malaysia.

http://teknologi.metrotvnews.com/news-teknologi/zNAxyLvK-novel-ciptaan-kecerdasan-buatan-lolos-babak-pertama-kompetisi-menulis-jepang

https://www.liputan6.com/tekno/read/2921331/google-kembangkan-kecerdasan-buatan-untuk-buat-gambar-sketsa

http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/03/26/630000-orang-sarjana-masih-menganggur-421873

http://www.id.undp.org/content/dam/indonesia/2017/doc/INS-2016_human_development_report.pdf

Menjadi Juara ke 3 dalam Lomba Menulis Linux

Alhamdulillah, setelah melewati semua sesi lomba, mulai dari posting tulisan, pengumpulan view dan penilaian lanjutan. Akhirnya tulisan saya yang berjudul “Tangguhnya Pinguin di Hutan Kami” dinobatkan sebagai juara ke 3 dalam ajang lomba penulisan penggunaan Linux dan Open Source oleh website resmi Linux Indonesia www.Linux.or.id. Tulisannya bisa dibaca disini atau disitu. Lomba ini memakan waktu yang lumayan lama, selang dari tanggal posting 7 September 2014 kemudian muncullah kandidat 15 besar dari smua tulisan yang ada di 1 November, dilanjutkan dengan pengumuman 6 besar (3 Juara dan 3 harapan juara) pada 17 November 2014 ini.

Capture pengumuman dari www.Linux.or.id yang bisa dibaca langsung disini http://www.linux.or.id/pemenang-sayembara-menulis-linux-id-2014.html

menang

Terus terang bagi saya sendiri, menulis memang salah satu hobi yang lumayan addict, walaupun gak banyak2 tulisan dalam satu bulan, tentu saja dengan berbagai kesibukan yang ada (sok sibuk..he.he), selalu saja ingin meluangkan waktu dan membuat perencanaan judul2 paling tidak 5 posting kedepan. Sebagian biasanya berhasil dituliskan, sebagian yang lain kadang-kadang lupa untuk didokumentasikan outline nya, sehingga pas ada waktu luang ehh malah mati gaya mau nulis apaan.. he.he. Karena sudah seneng, lebih-lebih pas ada kesempatan lomba, jadinya serasa tertantang untuk menulis sebagus dan se-bermanfaat mungkin. Semoga saja 😉

Menulis di blog itu bagi saya tidak hanya sekedar meluapkan pikiran, namun lebih dari itu bisa menuangkan emosi, mengalirkan gagasan yang tersumbat dan bisa juga media dokumentasi pribadi, so rasanya ingin sekali tetap produktif dengan menulis. Kalo toh  bisa bermanfaat untuk orang lain ya Alhamdulillah, kalo enggak ya sukur-sukur bisa jadi arsip pribadi..he.he

Semoga saja saya gak makin gede kepala, namun ingin tetap produktif dan (terus berusaha) kreatif kedepannya. Semoga bermanfaat. 😉

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

 

Tangguhnya Pinguin di Hutan Kami

Pendahuluan

Perkenalkan, Saya adalah seorang guru di sebuah sekolah berasrama diujung barat pulau Jawa yang lumayan terpencil dari hingar bingar perkotaan, plus menyatu dengan hutan menambah nuansa masih alami sekaligus ‘ndeso’ (jauh dari kesan modern). Perlu diketahui bahwa sekolah berasrama kami ini memiliki luas yang tak kurang dari 30 hektar dengan kontur berbukit-bukit naik turun, sementara itu komplek siswa putra terpisah dengan para siswi dipisahkan oleh danau yang cukup luas. Jika rajin jalan setiap hari dari kawasan putra ke putri atau sebaliknya, dijamin akan gede-gede pula betis kami.he.he. 🙂

Setiap hari kami tinggal disini, ada yang bertugas di asrama, ada juga yang difasilitasi rumah guru. Singkatnya, dalam waktu 24 jam sehari atau 7 hari seminggu lah, kami bersama para siswa-siswi kami, mengajar mereka sesuai dengan amanah dan tanggung jawab masing-masing. Hal ini sebenarnya merupakan keuntungan bagi para siswa untuk belajar lebih banyak dari para gurunya karena tinggal sekompleks. Namun kendala geografis lah yang menyebabkan hal ini sulit dilakukan, jauh nya jarak dan medan yang lumayan berat menjadi masalah tersendiri. Untuk menanyakan perihal suatu hal atau berdiskusi dengan gurunya, para siswa harus menunggu ketika pertemuan formal di KBM esok harinya.

nf
Kondisi hijaunya sekolah kami dipotret dari satelit via gmap.

Suatu ketika setelah banyak berdiskusi dengan sebagian guru yang lainnya, tercetus mimpi untuk membangun model pembelajaran jarak jauh. Konsepnya sederhana, agar siswa bisa belajar setiap saat dan dimana saja, mau di sekolah ataupun di asrama mereka bisa berinteraksi dengan guru atau diskusi dengan siswa yang lainnya, namun tidak tergantung dengan koneksi internet. Karena jangankan koneksi internet yang kencang, beberapa provider pun ‘lempar handuk’ (menyerah) memasang koneksi internet di tempat kami, walhasil sekolah kami juga seperti nyaris terputus dari arus informasi yang up to date setiap harinya.

Sehingga akhirnya kami bangun koneksi jaringan intranet (lokal) perlahan-lahan sebisa kami. Kami memimpikan agar pembelajaran kepada siswa-siswi bisa berlangsung lebih efektif dan kontinyu. Toh mereka (siswa-siswi dan guru) rata-rata sudah punya laptop masing-masing, selain itu disebagian titik strategis sudah terpasang jaringan komputer baik dengan kabel ataupun wireless (walaupun seadanya). Tanpa koneksi internet pun, rasanya Kami optimis bisa membangun komunitas pembelajar disini asalkan para guru dan siswa kompak, serta ada keinginan untuk terus menerus belajar dan berbagi.

Saya kemudian memberanikan diri bertemu dengan para pengambil kebijakan di lembaga kami, kemudian dengan corat-coret konsep bagaimana pembelajarannya, teknologi yang akan mensupportnya, dan infrastruktur yang nantinya akan diperlukan. Setelah sowan sana sini, Alhamdulillah respon positif yang kami dapatkan. Kemudian sambil diskusi dengan teman-teman di Forum dan Komunitas Linux (walaupun gak rajin-rajin amat kopdar dengan teman-teman komunitas, kami beberapa kali terhubung melalui media internet), dialog cukup panjang ini akhirnya mengerucut pada satu hal, bahwa kami akan menggunakan Free Open Source Software (FOSS). Opsi ini merupakan pilihan logis dan solutif ditengah-tengah mahalnya software propiertary serta makin tingginya angka pembajakan yang terus menerus menggurita mengekang masyarakat. Komunitas FOSS juga solid mensupport jika ada masalah atau bugs yang muncul dalam penggunaannya.

Dengan segala pertimbangan dan diskusi, pilihan kami akhirnya tertuju pada Learning Management System (LMS) Moodle sebagai core untuk proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran siswa. Sementara Content Management Framework (CMF) Drupal untuk portal komunikasinya, dengan gaya blogging agar nampak santai namun tetap serius dalam penyebaran pengetahuan. Kedua sistem ini sudah banyak dipakai oleh lembaga-lembaga besar di Indonesia dan dunia (pemakai Moodle untuk portal pembelajaran di Indonesia diantaranya Pertamina dan Garuda Indonesia, sedangkan Drupal saat ini dipakai untuk website resmi pemerintah AS, Walt Disney, MotoGP dsb). Dahsyatnya kedua nya berplaform FOSS dan lisensi GPL sehingga tetap gratis untuk dipakai, fully customized serta banyak manualnya tersedia di Internet.

Mulai Membangun

Untuk servernya kami menggunakan Ubuntu server 12.04 dengan PC Server ala kadarnya berasal dari PC Desktop yang bisa dimanfaatkan, dengan beberapa kali waktu pengujian, nampaklah kehebatan Linux disini, walaupun PC bekas namun performa tetap moncer dan sangat enteng. Pada tahap awal kami ujikan dengan diakses secara bersamaan oleh satu kelas, nampak server kami tetap stabil dan tetap cool.

Tahapan berikutnya merupakan tahapan yang lebih menantang yakni mendata berapa banyak ruang kelas/asrama yang dapat terkoneksi ke jaringan lokal. Karena skenarionya server ini hanya akan diakses dikomplek sekolah kami saja, maka pengecekan di ruang-ruang kelas dan kantor serta asrama menjadi penting untuk dilakukan. Dari pendataan ini nanti kami akan mengevaluasi dan mengajukan bilamana diperlukan perangkat jaringan baru agar desain pembelajaran ini lebih cepat bisa diterapkan.

Kurang lebih 2 minggu lamanya dilakukan pengecekan dan analisis kebutuhan lapangan, akhirnya dibuatlah konstruksi jaringan seperti dibawah ini.

9
Gambar 1. Denah lokasi perangkat jaringan, designed by MT

Tahap Ujicoba

Singkat kata, setelah semuanya kami siapkan, akhirnya kami coba koneksi dengan jangkauan yang lebih luas. Tahap pengujian ini bukannya tanpa masalah, dengan tantangan kontur yang berbukit serta medan yang teramat luas. Beberapa kali koneksi didua wilayah putra-putri tidak bisa terhubung. Lagi-lagi komunitas linux yang friendly siap sedia membantu kami via tutorial-tutorial yang bermanfaat. Akhirnya pengujian lagi dan Alhamdulillah satu masalah telah terpecahkan, kedua wilayah sekarang sudah bisa terhubung dengan baik.

Inilah saatnya !
Setelah masa uji coba dirasa cukup, akhirnya kami mulai demokan ke forum guru, sekitar 2 jam diberikan sesi untuk presentasi, ternyata tanggapan dan reaksinya cukup beragam. Ada yang antusias, namun ada juga yang masih menilai pesimis, terutama pengajar senior yang sudah merasa pada ‘zona nyaman’ nya. Awalnya kami sempat down, namun perasaan ini pupus sudah ketika kami sosialisasikan ke para siswa, melihat wajah mereka yang berbinar-binar, serta antusiasme yang tinggi untuk mencoba mengutak atik sistem ini, mereka mengaku senang dan bersemangat untuk belajar karena informasi saat ini telah menjadi mudah untuk ditemukan, interaksi dengan para guru menjadi gampang dan pembelajaran dapat dilakukan dimana saja. Nampaknya hal-hal inilah yang menjadi penyemangat kami untuk menuntaskan pekerjaan yang tinggal sedikit ini.

1
Gambar 2. Para Siswa saat menggunakan sistem ini.

 

2
Gambar 3. Saat sedang di perpustakaan

3
Gambar 4. Pembelajaran di laboratorium komputer

 

4
Gambar 5. Terkoneksi juga dengan para karyawan

Dengan dukungan segenap stakeholder, beberapa kali program pelatihan untuk guru berhasil kami lakukan, manual book nya juga sudah rapi terbukukan. Perlahan namun pasti, model pembelajaran ini setidaknya memberikan warna baru model pembelajaran ditengah-tengah kami.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, model pembelajaran kami pun mendapatkan pujian dari dinas pendidikan setempat. Kami juga diminta untuk melakukan presentasi pada forum yang diselenggarakan oleh Balai penyediaan media belajar Provinsi Banten yang dihadiri oleh hampir semua Kepala Sekolah di provinsi ini. Tak cukup disitu, terhitung beberapa kali kunjungan sekolah-sekolah lain, jurusan Pasca Sarjana Teknologi Pendidikan di salah satu Universitas, dinas pemerintahan terkait juga silih berganti mendatangi kami untuk silaturahmi dan studi banding. Semoga hal ini semakin menyemangati kami untuk berkarya lebih banyak.

Sedikit demi sedikit, dengan berbagai saran dan masukan sistem ini kami lengkapi konten pembelajarannya agar lebih menarik dan memberikan semangat kepada semua penggunanya.
Beberapa tampilan diantaranya sebagai berikut

5
Gambar 6. Tampilan depan

 

6
Gambar 7. Display Video Sharing karya siswa pada portal pembelajaran

7
Gambar 8. Display kelas virtual pembelajaran

8
Gambar 9. Grafik perolehan nilai pengerjaan siswa

Demikian coretan ini Saya selesaikan, semoga bisa memberi inspirasi kebaikan untuk yang membacanya.

Sukses dan salam hangat untuk semua.

 

Dedy Setyo Afrianto
dedy@dedysetyo.net

#Catatan : Artikel ini dilombakan dan masih dalam proses penilaian juri www.Linux.or.id dengan URL asli di http://www.linux.or.id/tangguhnya-pinguin-di-hutan-kami.html

Budaya Etika yang Terlewat

Mencermati peristiwa akhir-akhir ini adanya seorang wanita yang geram karena mengantri SPBU di Yogyakarta, menumpahkan kata-kata tak pantas di media sosial yang pada akhirnya berujung berbalas bully-an dari warga dunia maya dan tahanan dari kepolisian. Beritanya bisa dibaca disini. Tak lama sebelum itu, kurang lebih pada bulan April ditahun 2014 ini pula, seorang wanita juga mendapatkan pelajaran berharga, bahwa mengumpat di media sosial kepada ibu -ibu hamil penumpang KRL, tak lebih dan tak kurang juga akan mendapatkan balasan yang tak kalah pahitnya, berupa cibiran dan sanksi sosial.

Kita berdoa saja, dikemudian hari semoga tidak terulang kejadian serupa. Makian dan kata-kata tak sopan di media sosial, tidak akan berdampak positif kepada pelakunya, tapi sebaliknya akan membalik kepada pelakunya. Tentang dua peristiwa ini, saya tertarik mengulas bacaan lama saya tentang gaya komunikasi manusia (terutama sebagian masyarakat Indonesia).

Dilihat dari sejarahnya, menurut Melvin DeFleur (seorang pakar psikologi sosial dari Universitas Washington) dan Sandra J.Ball-Rokeach dalam bukunya Theories of Mass Communication (1989), setidaknya ada lima tahapan komunikasi sehingga antara satu orang bisa berinteraksi dengan yang lainnya.

1. The Age of Signs and Signals (Sinyal dan Simbol)

Pada masa ini, manusia satu dengan yang lainnya menuturkan idenya dengan bahasa simbol, mengungkapkan keinginannya dengan gambar atau penanda-penanda sederhana. Dengan media ini jelas antar manusia, komunikasi menjadi sangat terbatas. Karena berbagai keterbatasan inilah, konon konflik antar manusia menjadi sangat mudah terjadi. Manusia juga akan kesulitan menuangkan pendapatnya, yang dominan pada masa ini adalah komunikasi non verbal, yakni penggunaan bahasa isyarat untuk menyampaikan pesan-pesannya, bahasa tubuh menjadi sangat penting.

2. The Age of Speech and Language (Bahasa lisan)

Masuk pada era berikutnya, tradisi manusia berubah, penggunaan simbol berubah bentuk menjadi percakapan antar manusia dalam berinteraksi. Beberapa standar percakapan untuk penamaan benda, tanaman dan hewan telah disepakati. Walaupun tak begitu berubah banyak, pada masa ini interaksi sosial antar manusia sedikit demi sedikit telah menemukan maknanya.

3. The Age of Writing (Tulisan)

Pada zaman ini, standarisasi alfabet telah dibakukan secara perlahan dengan lengkap, lambat laun model penulisan menjadi gaya dan budaya antar manusia dalam berinteraksi. Masa ini lah yang membuat informasi begitu cepat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Gagasan yang dibuat direkam, dicatat dan dilipatgandakan sehingga manusia yang lain pun dapat menikmatinya. Para filsuf yang sezaman dengan Plato dan Aristoteles pun menuangkan perenungan dan pengalamannya sehingga menjadi pengetahuan, dari pengetahuan lah, ilmu-ilmu dan cabangnya terbentuk sehingga terklasifikasi dan memudahkan manusia lainnya untuk memanfaatkannya. Aktivitas para ilmuwan, selain meneliti dan melakukan percobaan-percobaan, adalah mendokumentasikan risalahnya agar dapat dikembangkan dikemudian hari. Selaras dengan apa yang pernah dikatakan seorang cendekiawan Indonesia, bahwa aktivitas ilmuwan dan ulama sebenarnya hanya berkutat di dua hal saja, membaca-menulis.

4. The Age of Print (Cetak dan Membaca)

Era ini dimulai dengan adanya penemuan mesin cetak, Johannes Gutenberg mengawali penemuan modern mesin cetak yang lebih canggih dibandingkan dengan penemuan dalam situs sejarah Cina dan  Korea (sekitar tahun 175 AD). Pada masa inilah dimana surat kabar dan surat cetak beserta buku-buku dapat terbit, setelah beberapa fase perkembangan komunikasi. Dengan adanya buku, budaya baru dimulai, bagi seorang penulis menyebarkan ide dan gagasannya menjadi lebih mudah.

Saya jadi ingat didalam salah satu sekuel film yang berjudul “Enemy at the Gates” yang menceritakan seorang prajurit Uni Sovyet yang bernama Vasily Grigoryevich Zaytsev, dengan pencitraan menggunakan media cetak ini pulalah, ribuan propaganda dicetak kemudian disebarkan untuk menakut-nakuti musuh-musuhnya akan keterampilan mematikan seorang Vasily yang bisa menembak dari satuan jarak kilo meter, pada masa itu jarak sejauh ini menjadi demikian sensasional dan luar biasa.

Pada masa ini pula budaya baru terbentuk, yakni budaya membaca. Budaya membaca memungkinkan kebiasaan ini terjadi dalam setiap tempat dan waktu, pada negara yang sudah maju peradabannya tak jarang kita dapati pada pusat keramaian saat mengantri, kebanyakan dari mereka menyibukkan dirinya dengan membaca, sehingga wajib kiranya dalam setiap tas mereka kala bepergian setidaknya ada satu buku yang stand by untuk dibaca setiap saat.

Wisatawan mancanegara membaca buku di ruang tunggu Terminal Giwangan, Yogyakarta.

Budaya baca Jepang di Kereta

Budaya membaca juga menjadi salah satu indikator kemajuan bangsa, hasil survey yang pernah dibuat oleh United Nations Developmet Programme  (UNDP) bahwa rasio gemar membaca di Indonesia hanya 0,001% atau satu berbanding 1.000 orang. Artinya jika ada 1000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang gemar membaca.

Data dan Fakta Bacaan Orang Indonesia (Fadli Zon Library, 2013)

Hal ini juga dikuatkan oleh laporan yang dilakukan United Nation Development Program (UNDP) atau Organisasi Program Pembanggunan milik PBB bahwa indeks pembangunan manusia Indonesia berada pada posisi 121 dari 187 negara di dunia. Indeks pembangunan manusia sendiri adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia.

5. The Age of Mass Communication (Komunikasi masa/Internet)

Pada masa ini lah, seperti yang kita rasakan sekarang, channel TV begitu banyak menghiasi layar kaca kita dengan beragam acaranya. Tak kalah dengan itu, Internet dengan berita online dan media sosialnya bertubi-tubi menawarkan hujan informasi yang tidak lagi diupdate tiap hari, namun tiap jam bahkan per menit.

Saya jadi sedikit khawatir, kejadian 2 fenomena diawal tulisan ini (dan mungkin saja banyak lainnya yang tak ter blow-up). Bisa jadi mengindikasikan adanya budaya kita yang terlewat, jenjang komunikasi yang harusnya secara bertahap dilewati, namun oleh sebagian masyarakat kita nampaknya terlewat. Kalau fase di negara yang sudah maju yang terurut “Lisan-Tulisan-Membaca-Berinternet”, maka di sebagian masyarakat kita nampaknya hanya di by pass (lompat) menjadi “Lisan–Berinternet”, sehingga budaya ini tidak utuh kita punyai, karena fase etika “tulisan dan membaca” belum menyatu dan masih rapuh dalam kehidupan kita.

Padahal membaca dan menulis akan memberikan kita tuntunan cara dan etika (bersosial), percaya atau tidak minimalnya akan memperkaya diksi dan pengkayaan pemahaman kata, sekaligus dalam perspektif lain memberikan penyiapan-penyiapan kepada kita untuk berinteraksi dengan baik secara universal melalui budaya literasi. Sama seperti anak umur 3 tahun yang kita berikan pisau, maka bisa kita hitung kira-kira akan lebih banyak manfaat ataukah bencana yang ditimbulkannya, mirip dengan generasi labil yang tiba-tiba diberikan perangkat canggih nan modern. Tumpulnya etika dalam bersosialisasi melalui internet, dikhawatirkan (hanya) euforia dalam berinternet lah yang mendominasi gaya dan budaya baru ini. Berinternetnya orang-orang seperti ini hanya tuntutan tren dan gaya modern agar tidak dianggap kuno dan ndeso. Agar tetap exist dalam pembicaraan bersama dengan teman kongkow, namun serasa kering nasihat. Berinternet (dikhawatirkan) tidak lagi menjadi produktif dengan menambah ilmu dan pengetahuan baru, namun hanya ajang narsisme.

Akhir kata, tulisan ini tadinya hanya untuk memotivasi agar Saya lebih santun dan cerdas dalam berinternet, namun jika sekiranya ada manfaatnya kepada teman-teman sekalian maka akan menjadi rasa syukur Saya secara pribadi.

Semoga kedepan, budaya baru berinternet kita menjadi lebih sehat, produktif dan mencerdaskan masyarakat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo