Category Archives: Umum

Narasumber pelatihan pengantar e-learning dan project based learning

Sabtu pagi yang lalu, alhamdulillah diberikan kesempatan untuk dapat membersamai guru-guru keren dan hebat dari Ummul Quro Depok. Training ini bertajuk, “Pelatihan Guru Hebat. Pemanfaatan e-elarning dan Metode Project Based Learning (PjBL) untuk Pembelajaran”.

Pelatihan ini merupakan sesi pertama, sebagai overview terkait penyamaan persepsi tentang e-learning. Kemudian dilanjutkan bagaimana merakitnya menggunakan metode PjBL.

Peserta pelatihan ini hampir mencapai 90 orang yang terdiri dari guru SDIT dan SMPIT Ummul Quro Depok. Para peserta sangat antusias mulai dari pk. 09.00 dan berakhir pada pk.12.00 WIB. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Bidang Pendidikan (Peningkatan Intelektual) yang dikoordinasikan oleh Ustadzah Rukoyah dan Ustadz Nowo.

baca lanjutan...

MENJADI PEMATERI “GOAL SETTING” UNTUK MENYIAPKAN MASA ORIENTASI SISWA BARU

Membentuk siswa dengan kategori High Achiever

Ada latar belakang yang saya angkat ketika akan menyampaikan terkait dengan materi ini, jika ditulisan sebelumnya kita sedikit bahas tentang penemuan robot yang bisa menulis seperti manusia yang sudah diinisiasi oleh Future University Jepang pada 2016, sedangkan Google juga berhasil menemukan algoritma Artificial Intellegent agar komputer bisa menggambar secara natural, justru yang saya amati adalah apa latar belakang dari masing-masing penemu tersebut menemukan hal ini ?.

baca lanjutan...

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MEDIA BELAJAR BAHASA INDONESIA DI AL IZHAR JAKARTA

Alhamdulillah. setelah cukup lama tak jalan-jalan lagi di daerah Jakarta dan sekitarnya, siang itu (27/2/16) saya diundang untuk berbagi pengalaman tentang perancangan dan pembuatan media pembelajaran. Kali ini undangannya cukup menarik dan menantang, menarik karena ini salah satu topik yang jadi core keilmuan saya, menantang karena para peserta adalah para guru-guru hebat di Perguruan Al-Izhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Sekilas info, bahwa Al-Izhar ini adalah salah satu sekolah favorit dibilangan Jakarta Selatan dengan tata kelola lingkungan yang adem, hijau dan bersih. Bangunan-bangunannya pun tampak bercita rasa seni tinggi.

baca lanjutan...

Menjadi Juri Lomba Inovasi Media Pembelajaran “Board Game”

Sekolah Islam Terpadu (SIT) Nurul Fikri yang berada dibilangan Kota Depok Jawa Barat memang secara rutin berkomitmen mengembangkan kualitas Guru-guru nya. Setelah pada sesi sebelumnya diberikan tentang pelatihan pengantar pembuatan Board Game, inilah saatnya melihat mereka para guru berkompetisi membuat media pembelajarannya.

Sebagai informasi, bahwa Board Game ini merupakan kategori permainan dengan seperangkat aturan tertentu yang melibatkan pemainnya untuk terlibat secara penuh dalam permainan, hingga syarat-syarat terpenuhi untuk menempatkan salah saeorang pemainnya menjadi pemenang. Simpelnya, jika Anda pernah memainkan monopoli atau ular tangga dimasa lalu, nah dua permainan itu termasuk kategori Board Game.

Karena karakteristiknya yang memang “fun”, perangkat ini bisa dioptimalisasi untuk menjadi media pembelajaran, sehingga harapannya siswa tetap bisa belajar (dan terlibat) dengan cara yang asyik.

Lomba inovasi media ini setelah pada babak penyisihan diikuti sekitar 60an guru, akhirnya masuk pada babak final peserta 10 guru terbaik. Penjurian ini dilakukan oleh saya sendiri, Direktur Operasional Ust Rahmat Syehani, M.Pd dan juga praktisi desainer game board mas Brendan dari Bandung.

Nampak spanduk didepan sekolah yang menandakan bahwa gempita ajang ini sudah masuk sejak pintu gerbang.

juri media pembelajaran guru board game

Pada waktu yang telah ditentukan, peserta hanya memiliki wakt selama 5-7 menit untuk presentasikan overview dari game yang telah dibuatnya. Berupa latar belakang, tujuan, aturan permainan dan hal-hal terkait lainnya.

Sepuluh total finalis dibagi dalam 5 kelas, sehingga per kelas hanya ada dua peserta saja. Oh ya, selain kami para juri, ada juga tamu pengunjung yang ikut serta melihat proses lomba, untuk memberikan vote nya siapa peserta terfavorit.

48421227_2200359733307552_668963490181939200_n

Kategori dalam lomba ini cukup beragam, ada juga peserta dari Tim Quran yang membuat game untuk menguatkan hafalan siswa (murojaah), dari kepramukaan, matematika, kimia, BK dan dari mapel-mapel lainnya.

49089540_2200359856640873_8030179746354561024_n

Diakhir sesi, kami selfi bersama tim panitia yang luar biasa menyiapkan perhelatan ini dari awal sampai akhir, ada dari Learning Resources Center Bu Nita Heryanti, M.Pd, Pak Didik Andrianto, S.Pd, Bu Abid, Pak Seto dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

49178113_2200359973307528_3315007766535340032_n

Sertifikat untuk oleh-oleh sebelum kepulangan.

serti

Semoga ajang ini mampu memberikan pemantik para pendidik dimanapun berada, untuk selalu berkarya, membuat pembelajarannya lebih berkualitas dari hari ke hari, yang pada ujungnya berkontribusi untuk pencerdasan bangsa dimasa yang akan datang. Aamiin.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Menjadi Pemateri Consultant For Change di Binawan University

Sabtu yang lalu, sesuai yang telah dijadwalkan oleh panitia NICE Social Training Series, kami berkesempatan memberikan materi terkait dengan dunia konsultan, sesuai dengan materi yang pernah kami terima pada C4Change (Consultant for change) NAMA Foundation di Malaysia.

Training ini merupakan sesi untuk berbagi kembali (diseminasi) kepada segenap pengampu organisasi, praktisi, profesional dan akademisi. Sedianya semua materi ini jika disampaikan secara penuh, maka akan diselenggarakan dalam durasi 24 hari (2 module), sehingga dalam penyelenggaraan yang hanya 4 jam ini, sifatnya hanya overview materi-materi pokok untuk pengantar bagi yang berminat menggeluti materi ini.

Panggung utama untuk sesi pembukaan sebelum masuk materi.

Dalam sesi materi ini saya berduet dengan Mas Juna, rekan kami yang keren dari Rumah Kepemimpinan, yang barengan dengan saya di module 1 dan 2 saat di Malaysia.

Materi yang kami sepakati untuk disampaikan ada beberapa hal yakni sebagai berikut :

  1. Mindset (resume singkat materi ini bisa diakses ditulisan ini )
  2. SWOT Analysis for organization
  3. Loop infinity of change
  4. Community Platform
  5. Need analysis

Sehingga dalam pelaksanaannya kami berbagi siapa yang akan explore lebih dalam.

Sebelum masuk materi, kami coba cek levelisasi peserta menggunakan menti meter  dengan mempertanyakan apa yang terbesit ketika mendengar istilah “Mindset”
Hasil survey singkat kepada peserta

kemudian ditengah-tengah materi kami coba sharekan tentang bagaimana mengecek mindset kita dengan tools dari mindsetworks.com bagi Anda yang ingin mencoba juga, bisa akses dari sini http://bit.ly/cekmindset

Kebutuhan untuk mengetahui mindset diri sendiri ini menjadi penting karena mindset ini menjadi tolak ukur sejauh mana seseorang bisa upgrade diri untuk fase-fase yang lebih bermakna dalam kehidupan yang lebih baik.

Dari contoh-contoh tokoh yang memiliki growth mindset yang baik adalah diantaranya Michael Jordan dan Thomas Edison. Ketika berbagai tantangan dalam kehidupannya tidak menjadikannya surut dan melemah, namun malah membuatnya makin kuat dan menyejarah.
Sesi materi

Pada sesi analisis SWOT kami bagi menjadi empat kelompok untuk belajar menganalisis gambar dan fenomena ojeg online yang sedang marak di masyarakat.
Sesi Focus Group Discussion

Lanjutan sesi materi secara klasikal.
Sesi Presentasi

Diakhiri dengan sesi foto bersama peserta.
Clossing Session dan Foto bersama

Semoga pelatihan ini memiliki dampak positif kepada semua peserta. Memberikan wawasan lebih dan pengalaman berharga dalam mengelola organisasi di lingkungannya. Aamiin.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Belanja Era Milenial Ditengah Kepungan Raksasa Disrupsi

Saat artikel ini ditulis, dunia maya sedang heboh dengan temuan Google baru-baru ini yang bernama Google Duplex. Apa yang baru ?, seperti Google Assistant (program buatan Google yang bisa diperintahkan dengan suara) yang selama ini sudah ada diponsel android, namun lebih cerdas dan “manusiawi” dengan AI (Artificial Intelligent) nya, seperti mampu melakukan pemesanan atau reservasi di restoran. Tidak hanya memesan, bahkan mampu melakukan dialog yang sama persis seperti manusia sungguhan, bahkan ketika bagian pemesanan restoran menyampaikan diwaktu tertantu sudah full booked, maka si Duplex ini bisa mengusulkan untuk reschedule, begitu juga dengan ekspresi “mmh..” atau semacamnya yang teramat mirip dengan manusia sungguhan.

Masih ingat dengan petugas dipintu toll ?, kalau dulu jamak ketika kita melewati pintu toll ada petugas yang menerima pembayaran kita, per November 2017 yang lalu, setelah massifnya penggunaan kartu e-toll, hampir 1300an petugas ini dialih fungsikan ke tempat yang lain oleh Dinas Jasa Marga Tbk. Dengan kata lain, tugas mereka digantikan oleh mesin, yang pastinya lebih cepat dan akurat.

Pada dua kisah diatas, kalau kita cermati, dalam waktu yang tak seberapa jauh, profesi serupa dalam aktivitas kerja bisa jadi akan tergantikan oleh komputer.

Saat ini juga sedang marak dengan adanya hari nasional “baru”, yakni Hari Belanja Online Nasional, hari yang tentunya digemari oleh pencinta belanja online, karena menawarkan diskon besar-besaran disejumlah toko online yang sudah punya pasar di Indonesia. Bagi Anda yang hobi belanja, tentu saja toko online ini menawarkan sejumlah layanan kemudahan untuk pelanggannya. Jika dulu untuk belanja kita musti keluar rumah, maka dengannya kita cukup duduk manis di dalam rumah. Kalau sebelumnya kita belanja satu produk dengan hanya satu harga, maka sekarang, puluhan bahkan ratusan pilihan lain siap-siap menawarkan kepada kita dalam satu layar plus ditambah diskon-diskon yang teramat menarik.

Fenomena baru tentang kecanggihan teknologi yang menggusur cara konvensional ini sejatinya memang sudah ada didepan mata. Saya coba tunjukkan contoh beberapa dinegara tetangga dan juga Indonesia.

Oktober 2017, Giant Malaysia mengumumkan penutupan lima gerainya di Negeri Jiran. Kelima gerai yang tutup terletak di Sri Manjung, Sungai Petani, Shah Alam City Centre Mall, Sibu, dan Selayang Lama. Ketika itu, GCH Retail Malaysia selaku pemilik Giant Malaysia mengatakan, keputusan menutup toko tak terhindarkan sebagai upaya “menata kembali operasional untuk meningkatkan efektivitas dan produktivitas”. Begitu juga dengan di negara Singapura. Raksasa swalayan Giant tergulung badai kelesuan ritel. Gerai mereka di mal terbesar Singapura, VivoCity, dipastikan tutup awal 2019. Gerai itu menyusul cabang lainnya yang terlebih dulu tutup di Junction 10 dan Jalan Tenteram.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia ?.

Setelah PT Matahari Department Store Tbk menutup dua toko Matahari Department Store di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M, kini giliran PT Mitra Adi Perkasa Tbk yang bakal menutup toko Lotus Department Store di gedung Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat. Disisi lain, toko retail konvensional juga sudah menunjukkan kelesuannya, salah satunya dibuktikan dengan  total belanja iklan dari 16 toko online terbesar di Indonesia sejak Januari hingga September 2017 mencapai Rp 1,25 triliun, sementara total belanja iklan tiga department store terbesar di Indonesia, yakni Matahari, Metro dan Ramayana, pada periode yang sama hanya Rp 40,41 miliar.

Sebagian catatan diatas ini untuk menunjukkan bahwa era disrupsi itu sudah benar-benar ada.

Lalu bagaimana bersiap menghadapi “badai” disrupsi ini.

  1. Ubah mindset

Carol Dweck, seorang professor psikologi dari Standford University dalam bukunya yang berjudul  “Mindset” memberikan gambaran bahwa, pada mental manusia terbagi atas fixed mindset (tetap) dan growth mindset (tumbuh). Fixed mindset merupakan kondisi mental seseorang dimana lebih sering pada “zona nyaman” sehingga sukarnya menerima tantangan baru, kondisi ini menyebabkannya keengganan berubah untuk menghadapi tantangan-tantangan baru disekitarnya. Alih-alih mencoba untuk menyelesaikan tantangan yang ada didepannya, malah cenderung menyerah dengan situasi yang ada. Padahal dunia yang serba cepat ini cenderung berubah setiap saat. Seperti gambaran diatas, bahwa dinamika kehidupan dengan tantangannya menuntut untuk selalu berubah, apa-apa yang dengan dahulu kita anggap sudah berjaya, dengan cara yang sama, belum tentu akan meraih keberhasilan yang sama.

Yang kedua, growth mindset, mental ini membuat pemiliknya selalu siap menjadi pembelajar setiap saat. Tantangan yang dihadapi dianggap sebagai wahana untuk belajar selalu, adapun jika dalam perjalanannya ketika menghadapi kegagalan, maka adalah ajang baru untuk mendapatkan pengalaman berharga. Jatuh bangunnya perjalanan, merupakan momentum yang baik untuk selalu memperbaiki diri setiap saat.

Tipikal growth inilah yang sedianya ada pada era ini, selalu belajar hal yang baru, pada dasarnya, bukan pintarnya seseorang atau organisasi yang menjadi indikator kesuksesan dimasa ini, namun kemampuan untuk survive disegala situasi, belajar dari kesalahan kemudian bangkit lagi setelah mengevaluasi dan memperbaiki dirinya. Senada dengan kalimat mendiang Steve Jobs, “Stay Hungry Stay Foolish”.

  1. Inovasi dan perubahan

Tony Wagner, peneliti senior Learning Policy Institute, Amerika, dalam bukunya yang berjudul “Creating Innovators” menyampaikan point penting bahwa kita akan tiba disuatu masa, dimana ketika setiap orang memiliki akses terhadap informasi yang sama, setiap pihak bisa meng-googling apapun yang dia mau, mencari tahu peristiwa dengan kecepatan dan sumber yang sama-sama beragam. Apa kemudian yang menjadi pembeda keunggulan antara satu pihak dengan pihak yang lain ?, jawabannya adalah inovasi. Walau inovasi ini berasal dari kemampuan manusia menyerap sejauh mana informasi dan akumulasi pengalaman, trigger penting munculnya inovasi terletak dari keberanian mencoba hal yang baru. Ingin selalu belajar, mindset yang tumbuh diracik dengan kreatifitas dan ide baru, akan menghasilkan inovasi.

  1. Kolaborasi

Ingat dengan salah satu quote dari Quentin Reynolds, seorang jurnalis yang banyak melakukan peliputan pada era Perang Dunia II yang berbunyi “If you can’t lick ‘em, joint ‘em” (Kalau kau tidak bisa mengalahkan musuhmu, jadikan dia temanmu)?. Memiliki pesan penting bahwa era ini tidak selalu tentang kompetisi, ini masa dimana kita bisa belajar dari yang lain melalui kolaborasi. Atau kondisi dimana kita berdamai dengan kompetitor kita, untuk misi dan kontribusi yang lebih besar.

Semoga dengan kolaborasi yang baik, mampu mengoptimalkan potensi semua pihak.

Salam hangat,

Dedy Setyo

 

 Catatan Kaki

https://www.dream.co.id/dinar/jasa-marga-tegaskan-tak-ada-karyawan-yang-dirumahkan-171013m.html

https://properti.kompas.com/read/2018/10/12/160000521/giant-tutup-gerai-di-mal-terbesar-singapura

https://properti.kompas.com/read/2017/10/28/190000821/banyak-toko-tutup-pemerintah-diminta-adil-terhadap-ritel-online

https://properti.kompas.com/read/2017/10/28/193732721/tergerus-bisnis-online-iklan-ritel-konvensional-terus-menyusut

Menjadi Guru 5.0 untuk Menyiapkan Generasi Pelita Masa Depan

Notes : Artikel ini dengan judul yang sama, masuk pada halaman opini harian nasional Media Indonesia. Bisa dibaca disini http://m.mediaindonesia.com/read/detail/200365-menjadi-guru-50-untuk-siapkan-generasi-pelita-masa-depan

——

Dan Brown, novelis ternama dengan capaian penjualan best seller, karyanya dinyatakan sebagai salah satu buku yang paling populer dalam sejarah buku sepanjang masa pada 2009, pernah menuliskan di novelnya yang berjudul Origins, tentang kemajuan teknologi yang sedemikian luar biasa bahwa dimasa depan komputer dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mampu membuat novel sendiri melalui serangkaian proses berpikir secara otomasi. Ternyata tak hanya berada dihalaman novel, peneliti dari Future University di Hakodate, Jepang pun pada 2016 berhasil membuktikan bahwa hal ini bukan isapan jempol semata, hasilnya adalah sebuah novel berjudul Konpyuta ga shosetsu wo kaku hi atau “Hari Sebuah Komputer Menulis Novel” berhasil ditulis oleh komputer dengan AI nya.

Ditempat lainnya, Scorpion, tayangan serial fiksi yang diinisiasi oleh Walter O’Brien sebagai CEO nya, hanya untuk sekedar informasi, beliau ini merupakan manusia ber IQ 197 sehingga menjadi salah satu manusia pemilik IQ tertinggi dalam sejarah manusia, dalam salah satu episode Scorpionnya pernah menyajikan tentang hebatnya komputer dimasa depan dengan kemampuan duplikasi menggambar selevel dengan skill Da Vinci. Tak hanya didunia fiksi semata, Google pada April 2017 yang lalu pun berhasil mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan komputer menggambar sketch dengan urutan motorik dan jaringan syaraf tiruannya sendiri. Nampaknya tak seberapa lama, khayalan Walter O’Brien ini sepertinya akan mewujud dalam dunia nyata.

Dua kisah diatas ini untuk memberikan ilustrasi kepada kita, bahwa impian manusia untuk kemajuan yang berkelanjutan terus menerus mencapai level tertingginya. Impian dimasa lalu tentang manusia yang bisa terbang dari satu pulau ke pulau yang lainpun saat ini telah kita nikmati pada teknologi tinggi dalam dunia penerbangan, baik di Indonesia ataupun Internasional. Begitupun juga, dimasa lalu ketika manusia ingin bercakap-cakap dengan melihat lawan bicaranyapun, saat ini dengan sangat mudah bisa dilakukan oleh siapapun.

Fase revolusi industri yang sudah mencapai 4.0 inipun sudah berada didepan kita, tantangan demi tantangan juga nampaknya bak tsunami dengan gelombang besarnya didepan sana yang siap menghempas siapapun. Fase yang sering dinamakan dengan era disrupsi inipun juga sudah menunjukkan korbannya satu persatu, dilevel global kita melihat adanya Kodak dan Nokia yang dulu menjadi pemimpin pasar foto dan komunikasi, namun saat ini dunia telah berubah, mereka tak lagi berada diatas, bahkan sudah tersisihkan. Ditaraf lokal, kita juga melihat adanya teknologi ojek online, dengan seabrek layanannya yang lebih memikat dan praktis, kalo dulu konsumen harus mencari ojeg pangkalan untuk bisa bepergian, saat ini mereka yang mendatangi konsumen, kalo dulu orang akan pesan makanan atau hantar barang harus keluar rumah, saat ini semuanya bisa dilakukan bahkan tanpa harus keluar rumah, lebih miring lagi biayanya. Layanan dengan berbagai kemudahan dan pendekatan privat inilah cikal bakal pemenuh kebutuhan masyarakat dimasa depan.

Dunia pendidikan juga menemui tantangannya sendiri, menurut Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, per maret 2018 yang lalu angka pengangguran lulusan perguruan tinggi kita masih mencapai 630.000 orang. Angka ini menyumbang 8,8 % dari 7 juta pengangguran di Indonesia. Angka ini membuat kita miris sehingga harus menata ulang pendidikan kita.

Berkaca pada Human Development Index

baca lanjutan...

Mindset Tumbuh atau Tetap. Anda yang mana ?

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh buku Carol Dweck, Ph.D (judul aslinya “Mindset”) seorang profesor psikologi dari Standford University yang sangat berpengalaman dalam ranah ini, dengan hasil penelitiannya yang mencapai 20 tahun.  Kalo boleh jujur, baru 100an halaman yang sudah saya selesaikan..he..he.. Tapi agar bisa “mengikat” lebih kuat, saya putuskan untuk menulis resume buku atau refleksi yang saya dapatkan dalam beberapa bagian. Seperti kata Sayyidina Ali bin Abi Tholib bahwa ilmu itu ibarat kuda liar, ikatlah dengan pena dengan cara menuliskannya.

Seperti kita ketahui bahwa mindset ini dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan dan reflek berfikir kita dalam menghadapi masalah. Sehingga mindset inilah yang mengontrol kita karena tindakan kita sejatinya berasal dari mindset ini.

Dalam suatu penelitian, Dweck menguji satu kelompok siswa dengan tantangan menyelesaikan puzzle setahap demi setahap, dari yang paling mudah menuju ke yang paling sukar. Pada level pertama paling mudah, waktu penyelesaian sangat cepat, kelompok siswa yang diuji merasakan tantangan ini sangat mudah dilewati, sehingga semua peserta merasa senang, apalagi ketika diberikan pujian yang menyenangkan seperti “Kamu pintar”, “Kamu hebat” dan sebagainya. Masalah kemudian muncul ketika tim penguji memberikan puzzle level kesulitan berikutnya, dalam durasi waktu yang tak terlalu lama, sekelompok siswa menyatakan menyerah karena merasa tidak bisa menyelesaikan puzzle tersebut, sehingga meninggalkan tantangan tersebut. Sisanya yang lain, merasa tertantang, sehingga makin tekun mencari jalan keluar darimana penyelesaikan kasus yang diberikan. Walau dibutuhkan waktu tertentu untuk menyelesaikan puzzle ini, sekelompok siswa ini akhirnya berhasil menyelesaikan dengan cara mereka. Kemudian ketika ditawarkan apakah akan masuk pada puzzle level kesulitan berikutnya, mereka menyatakan siap bahkan jika harus membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Singkat cerita, pada akhirnya Dweck memberikan label pengelompokkan untuk dua macam gambaran ini, yakni untuk penyuka tantangan dengan Mindset tumbuh (growth mindset) dan kelompok “give up” dengan nama Mindset tetap (fixed mindset). Apa yang membedakan diantara keduanya ?, seperti pada kejadian penelitian diatas, bahwa growth mindset adalah potret mental, dimana para pemiliknya merupakan gambaran orang-orang penyuka tantangan, mencintai belajar, bahkan walau dengan ancaman kegagalan dan keletihan (waktu dengan durasi panjang), tak menciutkan keinginan untuk mencoba dan terus mencoba. Berbeda, dengan model growth, tipe fixed mindset merasa bahwa menyelesaikan tantangan dengan level yang lebih sukar akan memberikan kemungkinan labelisasi dari yang sebelumnya “pintar” atau “hebat”, menjadi tidak mendapatkannya lagi. Orang dengan tipe ini, biasanya hanya menyelesaikan masalah rata-rata, atau yang sering dijumpainya saja, enggan menghadapi tantangan baru, memiliki ketakutan jika tak mendapatkan pujian serupa dikemudian hari jika mendapatkan kegagalan.

Buku tentang mindset ini cukup lengkap memberikan gagasan sekaligus tantangan bagi pembacanya untuk merubah dirinya menjadi pembelajar sejati, yang tak mudah menyerah dan sedia untuk mencoba kesulitan-kesulitan baru. Karen sejatinya manusia diciptakan untuk menyelesaikan masalah yang ada disekitarnya. Tak terbayangkan jika saat dulu untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan jalan kaki bisa berhari-hari, maka saat ini bisa dilakukan lebih cepat dengan motor atau mobil. Jika untuk pergi naik haji saja, jaman dahulu orang Indonesia naik kapal yang membutuhkan waktu sekali jalan sampai dengan 6 bulan (pulang pergi butuh setahun), maka dengan adanya pesawat terbang urusan ini menjadi ringkat hanya 24 jam saja. Profil para penemu dan peletak tinta emas sejarah dimasa lalu merupakan orang-orang dengan mental growth mindset, yang senantiasa mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

mindset

Pada tulisan berikutnya akan diulas, tentang profil manusia growth mindset yang  akan memberikan inspirasi pada sejarah kemanusiaan seperti Michael Jordan dan Thomas Alva Edison dan lain-lain.

Semoga bermanfat.

Salam hangat,

Dedy Setyo A

Refleksi Kemerdekaan dan Tantangan Pendidikan Masa Depan

Rasa nikmat dan karunia yang begitu besar sebagai manusia sejatinya adalah nikmat kemerdekaan. Adanya kemerdekaan ini, potensi manusia sebagai sosok yang diberkan tugas memimpin muka bumi sebagai fitrahnya, menemukan momentumnya. Untuk kembali berbuat yang terbaik, berperan dalam tugas-tugas kehidupannya.

Adapun sebagai hamba Allah, nikmat kemerdekaan ini kita rasakan sebagai membebaskan diri dari penghambaan makhluk, hanya menyeru bahwa Allah-lah Sang Pemberi kebebasan sejati, yang menghantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Merayakan 73 tahun Indonesia telah merdeka, dengan cara memeriksa kembali apa-apa yang telah kita lakukan sebagai bangsa selama ini, dan juga merancang strategi untuk menaklukan “ombak” kehidupan dimasa depan.

Kita patut bersyukur bahwa peran-peran ulama, kyai, santri, anak-anak muda dan masyarakat secara luas, pada fase sejarah bangsa ini terus menerus memiliki kiprah yang tidak kecil dalam kancah perjuangan nasional, bisa kita sebutkan pada tahun 1908 adanya kebangkitan nasional yang diprakarsai oleh Soetomo merupakan tokoh muda, 1928 pada gelaran Soempah Pemoeda apalagi, ini event besar yang diinisiasi oleh pemuda Indonesia,  1945, adanya kemerdekaan Indonesia, pada hari sebelum kemerdekaan perbedaan gagasan antara kaum muda dan tua lah yang menyebabkan peristiwa Rengasdengklok, dan dilanjutkan dengan Proklamasi esok hari nya, disitu tercatat ada nama Wikana, Soekarni dll. Bahkan beberapa tahun sebelum 1945 kita catat ada pahlawan yang sekarang diabadikan menjadi nama jalan dibilangan Depok dan sekitarnya ada Margonda, juga merupakan pahlawan nasional yang bisa jadi sebagian dari kita belum tahu. Ada juga Daan Mogot, yang merupakan tokoh pahlawan yang membidani kemerdekaan RI. Tak terhitung hutang kita juga pada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, yang telah mengeluarkan resolusi jihad nya untuk memompa semangat perjuangan para ulama, kaum santri, dan masyarakat secara luas. 1974 peristiwa malari, sampai dengan 1998 adanya Reformasi dari orde baru ke fase berikutnya juga merupakan kiprah pemuda.

Diluar tahun-tahun diatas, barangkali ada catatan sejarah lain yang melimpah ruah dan lagi-lagi membuktikan bahwa pemuda lah, menjadi figur sentral dalam perubahan bangsa ini.

Selanjutnya, apa saja yang menjadi tantangan para pemuda ini kedepan ?.

Bahwa gelombang perubahan didepan sana sudah mulai terlihat dan dirasakan. Saat ini dimana kita sudah masuk pada fase Revolusi Industri 4.0, dan tahun Disruption, mau tidak mau, sukarela atau terpaksa, membuat kita wajib untuk belajar terus-menerus berinovasi dengan kemampuan terbaik yang kita punya. Fase inilah yang membuat era digitalisasi menjadi titik perhatian baru, menggeser kebiasaan masyarakat, ditambah dengan menghempaskan mereka-mereka yang tidak mau berubah dan mengadaptasi perubahan. Kalau kita kenal dengan Kodak  sebagai raja produsen alat potret pada masanya, saat ini hanyalah menjadi kenangan saja setelah setiap smart phone memiliki fungsi foto, bahkan masih ditambah bisa diedit dengan level terbaik. Jaman dulu, kita masih kenal Nokia dengan mottonya “Connecting People” yang begitu mendominasi pasar HP, setelah masa android tiba, namanya meredup (untuk tidak dibilang menghilang), dan diganti dengan “penguasa” alat komunikasi lainnya. Era digital juga merambah kepada industri transportasi dan layanan jasa manusia era ini, adanya ojeg daring, dengan berbagai layanannya menjamur sekali sehingga membuat ojeg konvensional seperti kebakaran jenggot dengan isu penolakan dibeberapa tempat. Bagaimanapun, ketika era digitalisasi ini masuk seperti gelombang besar, maka siapapun yang enggan berubah, maka akan tergusur atau mati. Seperti kisah kodak nokia diatas.

Bagaimana dengan dunia pendidikan ?. Tantangan yang dihadapi para siswa saat ini juga tidak mudah. Skill abad 21 yang diperlukan untuk dikuasai siswa menjadi mutlak untuk dikuasai, beberapa akan diuraikan lewat catatan pendek ini

Kolaborasi

Masa yang akan datang, dimana persaingan sudah tidak lagi antar daerah, namun sudah antar negara (bahkan sudah mulai terasa saat ini), mewajibkan anak-anak kita memiliki skill flexibility menghadapi keadaan, bukannya berfikir strict, kemampuan flexibility ini menunjang agar anak-anak kita lebih lentur dalam menghadapi keadaan. Siap memiliki plan B, C dan seterusnya untuk menghadapi persoalan. Ditambah lagi dengan kemampuan bahasa asing yang memadai, sehingga adanya komunikasi yang baik dengan rekannya yang lain (bahkan antar negara), akan membuat kerja sama yang apik, pertukaran ilmu dan budaya, menjadi lebih arif dalam perbedaan, dan tidak kaget dengan heterogenitas.

Intellectual Curiosity

Istilah ini saya dapatkan dari buku Creating Innovators tulisan Tomy Wagner, didalam salah satu halamannya, beliau mengutip saat sesi wawancara dengan pencari bakat Google yang bernama Judy gilbert. “Apa kompetensi yang anda syaratkan untuk menerima pegawai Google ?” tanya Tomy. Pertanyaan ini tentu saja kita mahfum, bahwa saat meraksasanya google saat ini, dimana didominasi oleh orang-orang terbaik didalamnya, serta begitu dirindukannya oleh bakat-bakat terbaik untuk bekerja disana, menjadi kunci penting untuk menerima SDM  didalamnya. Lalu apa jawab om Judy ?, “tentu saja kami merekrut orang pintar disini, yang pintar coding dan memiliki skill diatas rata-rata, kemudian ada skill lagi yang kami syaratkan, yakni Intellectual Curiosity, kemampuan untuk bisa “mengendus masalah”, mencari tahu ada dimana sekaligus menyelesaikannya. Alih-alih untuk menyalahkan orang lain terhadap masalah itu, atau menunggu orang lain untuk menyelesaikannya, orang dengan bakat ini akan menyelesaikannya dengan cara terbaik yang dia mampu. Singkat kata, kemampuan ini, tentu saja memiliki syarat orang yang mau belajar terus, atau pembelajar sejati. bagaimana tidak, ketika masalah baru muncul, tentu saja dia harus bisa mempelajari teknik penyelesaian terbaru.

Semoga catatan singkat ini memiliki andil dalam perubahan ke arah yang baik, untuk anak-anak bangsa di masa depan yang akan mengisi bumi ini dengan sepenuh kebaikan.

Smoga bermanfaat !

Salam hangat,

Dedy Setyo

*Tulisan ini merupakan bahan yang sama saat penulis menjadi pembina upacara 17an.

Journey Notes Consultant For Change (C4C) Part2

Before you read more deeply, i just wanna tell to you, that this is my private notes actually. My way to memorize that i ve got from training, so if some day i need this reference, i just search it from my own blog. So, you can read and take it as reference also when you like it. But don’t forget to have some literature as compared as well. You can read it from beginning part for know what the objectives i post this article.

Material that i wanna post i get from Michael Porter theory, btw Porter is an American academic known for his theories on economics, business strategy, and social causes. He is the Bishop William Lawrence University Professor at Harvard Business School, and he was one of the founders of the consulting firm The Monitor Group (now part of Deloitte) and FSG, a social impact consultancy (ref).  He said about five forces framework as a tool to analyze the business. In my opinion, this theory is not just we can use it in business area, in other sector like education (or politic, ?) we can use it well also.

For more easier five force that i mean, please see picture bellow

bargaining powers

There are they

Industry Rivalry. In business environment, we know that very competitive. Who have service better, cheaper price, more comfortable that can give to customers, will be choosen by customers. When customers have choosed the sellers, will win in the competition. This is a simple condition in the business field.

Threat New Entrance. But what about new entrants, as a step process to monitoring “boxing ring” every day. Every business entity have to read condition any time. Using self evaluation more frequently about own powers and weakness hopefully making a good self awareness also. Not only knowing own self, we can also monitoring new competitors about what they have, what they give to customers, what the new thing. So, don’t be over confidence about big power that we have right now, keep do self evaluation be routines activity in organization.

 

Bargaining of suppliers. For a goods business, having routines supplier means have continuous relationship. But some times, we know that some big company who have loyal customers with big amount, always have price control to suppliers. I can give sample, if A Company having 1000 customers every day, always order 1000 kg materials every day. which is give more benefit to supplier, bigger than B Company in big comparation. Then there are many suppliers can to do that. This condition will making new chance A Company, to give pressure to supplier. To lowered the price, or they will leaved it and break. So, every company have to think about the possibilities of this.

#continue to next post