Category Archives: Umum

3 Tips Menulis Artikel di Media – Video Animasi

Bagi sebagian orang yang hendak memulai menulis, kadang menjadi hal yang menakutkan untuk mengawali.

Terlebih jika perasaan takut ini makin menghantui ketika banyaknya kekhawatiran.

3 Tips menulis artikel di media ini disajikan dengan animasi, semoga bisa membantu Anda untuk memahami lebih baik dan mudah.

1. Keep reading and connecting the dots

2. Write what you did, and do what you wrote

3. Just Write it !

Tetap semangat menulis.

Diskusi dan konsultasi hubungi Dedy Setyo Afrianto (WA 085718904956 atau email : dedy@dedysetyo.net).

Seminar Online Mengelola Pembelajaran Jarak Jauh bersama JSIT Pusat

Flyer kegiatan bersama Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia

Bagi rekan-rekan guru yang telah melakukan #teachfromhome sejak beberapa bulan yang lalu, kita perlu tekan “pause button” sebentar dan melakukan refleksi efektifitas pengelolaan pembelajaran yang sudah kita lakukan.

Yuk kita sama2 diskusi untuk “tarik nafas” sejenak, lalu kita siapkan bekalan terbaik PJJ dimasa depan. Sila bisa diikuti seminar online diatas. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto.

Artikel dedy setyo Masuk Media Online Nasional

Alhamdulillah, wa syukurillah, artikel yang berjudul “Merawat Empati Menjaga Solidaritas” berhasil masuk media online Republika. Bagi pembaca yang ingin membaca secara lengkap (2 halaman), silakan menuju ke link berikut

https://republika.co.id/berita/qcfel6282/merawat-empati-menjaga-solidaritas

Semoga dapat menyebarkan kebaikan seluas-luasnya, memberikan inspirasi kepada yang lain. Terima kasih.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Merawat Empati Menjaga Solidaritas

Artikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Disarankan untuk membacanya terlebih dahulu agar bisa nyambung dengan materi tulisan. Terima kasih.

Artikel ini dengan judul yang sama, masuk Republika Online dengan link sbb https://republika.co.id/berita/qcfel6282/merawat-empati-menjaga-solidaritas

——————————

Alcoa Inc, salah satu perusahaan pengolahan metal terbesar di Amerika dan sudah memiliki cabang di 10 negara, seperti perusahaan lainnya, walaupun sudah berusia seabad lebih berdiri dengan berbagai macam pencapaian yang prestisius, mengalami fase “up and down” yang bervariasi. Tahun 1987 nilai saham mereka jatuh, sebagian investor panik, sebagian lainnya mengusulkan adanya perubahan manajemen dan kepemimpinan baru. Kisah ini seperti disampaikan dalam “The Power of Habit” karya Charles Duhigg.

Akhirnya terjawab pada bulan Oktober 1987 itu, Paul O’Neill menjabat sebagai pimpinan mereka yang baru. Sebagai bagian dari perkenalan kepada investor dan analis saham yang hadir, mereka berharap di pidato perdana ini mereka akan mendengar sampaian visi dan misi yang meyakinkan mereka, strategi canggih yang bisa membawa Alcoa keluar dari “lubang jarum” itu serta rangkaian program hebat untuk bisa mengembalikan Alcoa pada puncak kejayaan. Namun, apa yang dibicarakan O’Neill di podium itu ?,

“Saya ingin membicarakan kepada Anda tentang keamanan dan keselamatan para pekerja. Setiap tahun banyak para pekerja Alcoa yang cidera parah. Setiap tahun banyak sekali pegawai Alcoa yang terluka karena bekerja. Mengingat karena para pekerja bekerja dekat peralatan bersuhu 1500 derajat celcius yang berpotensi merenggut lengan mereka. Saya berniat menjadikan Alcoa sebagai perusahaan paling aman di Amerika. Saya berniat mengejar nol cidera.”

Para hadirin bingung dan saling bertatap diantara mereka. Sepertinya harapan tentang pidato menggelegar tentang kehebatan program baru yang mereka idam-idamkan nampaknya baru saja pupus.

Setelah acara sambutan tersebut, seperti diaba-aba, banyak diantara investor yang mencari telepon umum (dikala itu belum ada gadget) untuk berdiskusi dengan klien mereka masing-masing seraya merekomendasikan agar menjual sahamnya, karena imbas tidak percayanya terhadap pimpinan baru ini. Sampai disini kita juga belajar bahwa kesan yang pertama kali, ikut mempengaruhi langkah-langkah berikutnya.

Bulan berganti bulan, setahun setelah pidato itu. Seolah berbalik 180 derajat dari anggapan pidato perdana tadi, Alcoa malah mencapai rekor perolehan laba tertinggi. Ketika O’Neil pensiun pada tahun 2000, pendapatan tahunan laba bersih lima kali lebih besar dibandingkan sewaktu Ia tiba. Tidak hanya pencapaian itu, kapitalisasi pasarnya telah naik 27 milliar dollar. Semua peningkatan itu seiring dengan peningkatan status Alcoa sebagai perusahaan paling aman di dunia. Bertahun-tahun telah berjalan, tidak ada laporan pegawai cidera karena melakukan pekerjaannya. O’Neill sendiri setelah pensiun dari Alcoa diminta oleh Presiden George W Bush untuk menjadi menteri keuangan.

Menarik mengamati kisah Alcoa ini dilihat dari sudut pandang “kebiasaan”. Selain dalam masa mendatang kita akan masuk pada fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau New Normal. Apa sesungguhnya yang dilakukan Paul O’Neill dkk merubah perusahaan yang hampir decline dengan raport keselamatan yang buruk, menjadi perusahaan yang sangat sehat, pertumbuhan laba yang mengagumkan, bahkan menjadi yang paling aman diseluruh bumi ?

Kebiasaan kunci

Pada dasarnya, manusia ataupun organisasi, adalah kumpulan kebiasaan yang tersusun setiap hari nya. Apa yang membentuk kita hari ini, adalah refleksi kebiasaan-kebiasaan yang sudah kita lakukan berkali-kali, rutin, refleks dan spontan dari 24 jam kita sehari-hari selama ini. Namun diantara sekian banyak kebiasaan kita selama ini, ada yang dinamakan “kebiasaan kunci”. Kebiasaan kunci ini akan memantik kebiasaan-kebiasaan lainnya sehingga bekerja sebagaimana harapan Anda. Semisal, jika Anda sebagai pegawai yang harus sudah siap berangkat kerja pada pukul 6 pagi tepat, sudah di KRL pada pukul 6.15, dan wajib sudah berada di kantor pukul 7 pagi. Maka kebiasaan kunci Anda adalah bangun selambatnya sebelum subuh, dan bisa jadi kebiasaan kunci Anda dimulai dari sejak kapan dimulainya tidur dimalam hari. Jika kebiasaan kunci ini dirubah, maka berubahlah kebiasaan-kebiasaan yang lain.

Begitu juga organisasi ataupun perusahaan sebesar Alcoa, sebelum O’Neill menerima tawaran memimpin Alcoa, dilandasi atas analisisnya bahwa keselamatan pekerja menjadi kata kunci yang wajib menjadi regulasi utama dalam beroperasinya Alcoa diseluruh divisi.

O’Neill percaya bahwa sejumlah kebiasaan memiliki kekuatan untuk memulai reaksi berantai, mengubah kebiasaan-kebiasaan lain seraya menyebar ke seluruh organisasi.

Ia mengidentifikasi satu tanda sederhana : cidera pegawai. Setiap kali ada yang cidera, pimpinan divisi harus melaporkannya kepada O’Neill dalam 24 jam dan mempresentasikan rencana untuk memastikan cidera tidak terjadi lagi dimasa selanjutnya. Dan ganjarannya sebagai reward : orang yang dipromosikan hanyalah yang mengikuti sistem tersebut.

Akibat kebijakan O’Neill ini lalu menggerakkan pimpinan divisi yang lain. Untuk mengontak O’Neill dalam 24 jam setelah cidera, mereka harus mendengar soal kecelakaan itu dari wakil divisinya segera setelah peristiwa tersebut terjadi. Jadi para wakil harus terus menerus berkomunikasi dengan manajer lapangan, dan para manajer lapangan membutuhkan para pekerja untuk menyampaikan peringatan begitu mereka melihat ada masalah dan memiliki daftar saran didekat mereka, sehingga bila wakil divisi meminta rencana, sudah ada satu kotak gagasan yang dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Untuk membuat itu terjadi, setiap unit harus membangun komunikasi baru yang mempermudah para pekerja berkedudukan paling rendah untuk menyampaikan gagasan kepada eksekutif berkedudukan lebih tinggi diatasnya secepat mungkin. Hampir semua rantai birokrasi yang panjang itu akhirnya dipangkas dan disederhanakan sehingga komunikasi berjalan dengan lancar dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Singkat cerita, kebijakan tentang keamanan dan keselamatan pegawai, ternyata berbimbas pada hal lain dan berdampak positif terhadap perusahaan, seperti supervisi yang lebih intens, jalur komunikasi yang dinamis, pemangkasan birokrasi dan tentu saja pekerja lebih semangat bekerja karena merasa diperhatikan lebih terkait kesehatannya.

Seperti diparagraf sebelumnya, inilah yang dimaksud kebiasaan kunci.

Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)

Adanya masa pandemi yang membuat kita berdiam diri di rumah tersebab PSBB semenjak beberapa bulan lalu, mau tidak mau juga berimbas kepada cara kita melihat lingkungan sekitar yang telah lama mungkin tidak kita tengok. Tempat ibadah yang telah lama kosong, sekolahan yang sepi dari para siswa dan ruang-ruang publik lainnya yang sudah lama sekali tidak kita sapa, rapat-rapat yang berganti menjadi pertemuan maya. Pertanyaan berikutnya apa kebiasaan kunci yang perlu kita rancang sehingga kita siap dengan kondisi pasca pandemi yang cepat atau lambat akan kita bertemu ?

  1. Berpikir positif dan memiliki rasa optimis

Laporan penelitian dari University of Pittsburgh School of Medicine menemukan bahwa wanita menopause yang memiliki sifat optimis mengalami penurunan jangka kematian dan memiliki hanya sedikit risiko terkena diabetes atau hipertensi (tekanan darah tinggi), yang sering kali dialami oleh teman-teman pesimis mereka.

Para peneliti menganalisis data dari 100.000 orang wanita dalam studi yang sedang berlangsung, dan hasilnya adalah wanita yang optimis memiliki risiko sebanyak 30% lebih rendah untuk meninggal karena penyakit jantung, dibandingkan dengan yang pesimis. Para wanita yang pesimis juga memiliki 23% kemungkinan untuk meninggal akibat kanker.

Artinya rasa optimis akan membantu kita untuk lebih survive dalam bertahan menghadapi masa pandemi ini. Persoalan psikologis yang barangkali dirasakan oleh sebagian kita karena terlalu lama di rumah juga mudah-mudahan bisa perlahan dikikis dengan rasa optimis dan tetap positif ini.

2. Merawat Empati

Slavoj Zizek, filsuf dari Slovenia ini melihat bahwa solidaritas di era pandemi berpeluang menciptakan suatu kemanusiaan jenis baru, yang akan membuat kita terhindar dari jebakan penghancuran diri dan sikap barbarisme. Pandemi ini juga mengajarkan kita bahwa aksi bantu membantu kepada pejuang lini terdepan seperti tenaga medis dan lainnya ini juga lebih mudah dilakukan. Varian ikhtiar bantuan kepada masyarakat terdampak juga beraneka macam dimasa seperti sekarang, mulai dari konser dari rumah, membelikan makanan kepada driver ojek online sampai dengan bantuan APD rumahan yang diinisiasi oleh berbagai unit usaha.

Upaya-upaya inilah yang harapannya makin bisa dirasakan dimasa depan, walaupun nanti kita sudah melewati masa pandemi. Dengan segala duka yang kita rasakan, pelajaran berbagi dimasa pandemi ini tetap bisa dirasakan sebagai hikmah.

Akhirnya kita berharap adanya warisan kebaikan terhadap sesama yang lebih panjang, upaya solidaritas yang tak lekang dimakan waktu.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Kekuatan Kebiasaan

Namanya Lisa Allen, seperti dicantumkan dalam buku The Power of Habit yang ditulis oleh Charles Duhigg ini, saat diwawancara pada umur 34 tahun itu, terlihat sangat bugar, cerdas, memiliki banyak karya yang menginspirasi dan mempunyai sederet gelar bergengsi. Namun jika mundur sejenak saat dia menginjak umur 22 tahun, maka tidak seperti saat 34, dimasa lalunya, Lisa merupakan tipe orang dengan beberapa masalah pribadi dan keluarganya. Obesitas, kecanduan obat, bermalas-malasan sepanjang waktu, lilitan utang dan perceraian, merupakan deretan kisah menyedihkan yang dihadapi oleh pemudi dengan umur yang masih demikian belia. Namun seperti yang Anda tahu, 12 tahun sesudahnya semuanya berubah sangat drastis.

Kisah Lisa ini menginspirasi para ilmuwan untuk meneliti sejauh mana dan faktor apa yang membuat orang bisa berubah. Seperti dilanjutkan dalam uraian wawancara berikutnya, Lisa berhasil mengurai kata kunci yang bernama “kebiasaan” sehingga grafik habit nya menjadi sangat positif dan lebih baik dari waktu ke waktu. Hal pertama yang dirubah olehnya adalah kesehatan fisik, mulai dari memiliki program olah raga yang setiap pagi dijalani secara konsisten, memilih makanan dan minuman sehat yang hanya dibutuhkan oleh tubuh. Yang perlahan tapi pasti, ketika fisiknya sudah menjadi semakin fit dan sehat, maka satu persatu kebiasaanya hariannya ikut dirubah. Menjadi rajin membaca dan menulis, melanjutkan studinya, lebih relijius, selaras dengan cemerlangnya karir dan akhirnya 180 derajat hidupnya berubah.

Manusia, seperti kita dan yang lainnya, pada dasarnya adalah kumpulan kebiasaan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Setiap orang memiliki jatah yang sama setiap harinya. Namun yang membedakan diantara mereka adalah “kebiasaan”. Sebagai contoh seperti pesepakbola David Beckham yang rela meluangkan dan menyisihkan waktunya 4 hingga 5 jam perhari dimasa mudanya untuk melatih tendangan bebasnya secara rutin dan sungguh-sungguh, maka dimasa berikutnya kita kenal Beckham sebagai seorang pesepak bola yang ahli dalam tendangan bebas. Legenda basket NBA, Michael Jordan, seorang yang dimasa lalunya pernah dikeluarkan dari klub basket sekolahnya dan bahkan pernah tidak dipanggil oleh dua klub NBA diawal karirnya, merubah dan mengasah diri sedemikian rupa sehingga pada akhirnya menjadi seorang jenius dalam dunia basket.

Seperti Lisa dan beberapa nama diatas, sebenarnya seberapa lama manusia membutuhkan waktu untuk merubah kebiasaannya ?

Salah satu asumsi yang paling terkenal berasal dari buku Psycho Cybernetics oleh Maxwell Maltz. Buku yang dipublikasikan pada 1960 ini menyebutkan bahwa pasien-pasien Maltz membutuhkan waktu 21 hari untuk terbiasa dengan wajah baru mereka setelah menjalani operasi plastik.

Namun, studi yang dilaksanakan pada tahun 2009 terhadap 96 orang menemukan bahwa membentuk kebiasaan baru tidak pasti membutuhkan waktu 21 hari. Para peneliti justru menemukan bahwa waktunya bervariasi, antara 18 hingga 254 hari, tergantung pada masing-masing individu, walaupun rata-rata memerlukan waktu 66 hari. Hal yang sama juga bisa dikatakan mengenai upaya untuk menghentikan sebuah kebiasaan. Kepribadian, motivasi, lingkungan dan kondisi, serta jenis kebiasaan yang ingin diubah turut berpengaruh pada kecepatan seseorang untuk mengubah sebuah kebiasaan.

Kebiasaan yang membentuk manusia, atau manusia yang membentuk kebiasaan ?

Pertanyaan ini, walaupun tidak sama persis, sama dengan pertanyaan “mana lebih dulu antara telur atau ayam ?”. Semoga uraian berikutnya bisa membantu menjawab.

Prof Rhenald Kasali dalam bukunya “Self Driving” menyatakan bahwa sesungguhnya manusia merupakan “Driver” dalam kehidupannya sendiri. Setelah orang tua melahirkan dan membesarkan kita, dimana mereka menganggap bahwa kita sudah punya kesiapan yang cukup untuk memutuskan sesuatu tentang hidup kita, maka “mandat” dari orang tua berpindah kepada pundak anaknya yang telah dewasa.

Sehingga sebagai “driver” yang baik dalam kehidupan kita masing-masing, maka kita wajib punya “peta” agar terarah, yakni berupa cita-cita hidup kita. “Kendaraan” yang nyaman dan mumpuni, yakni berupa fisik, jiwa, akal sehat yang membantu kita menuju cita-cita. Setelah itu kendali terbaik adalah kita sendiri dalam tubuh kita masing-masing. Merumuskan kebiasaan-kebiasaan dan secara rutin menjalankannya, maka kitalah yang memiliki saham terbesar tentang diri kita kelak.

Kemudian, diri kita dimasa depan, sejatinya adalah kumpulan-kumpulan kebiasaan kita dimasa lalu. Apa yang kita lihat saat ini dalam diri kita, adalah refleksi apa yang terjadi dan kita lakukan dimasa sebelumnya. Sehingga secara sadar atau tidak, cara kita melihat diri kita hari ini, akan terrefleksi dimasa depan kita nanti.

Bagaimana dengan Anda ?, yuk bersama-sama jadi lebih baik dan makin positif.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Sains sebagai alat menghadapi pandemic dari masa ke masa

Laporan riset dari Data-Driven Innovation Lab yang dimotori oleh Singapore University of Technology and Design diakhir April 2020 menunjukkan bahwa masa pandemi di sejumlah negara akan berakhir beberapa bulan kedepan sampai dengan akhir tahun 2020, untuk Indonesia sendiri diprediksi akan selesai pada tanggal 31 Juli 2020. Beberapa lembaga lain baik dalam ataupun luar negeri juga mencoba dengan pendekatan sains dan ilmiah untuk menghitung dan memperkirakan seberapa lama masa pandemic ini akan berakhir. Dengan kompleksitas dan varibel-variabel yang terlibat, tentu saja kita perlu berterima kasih atas kerja keras yang telah mereka lakukan.

Perihal ramal-meramal terkait situasi yang akan terjadi dimasa depan, para ilmuwan dengan pendekatan sains telah lama melakukan, sehari-hari kita juga sering menggunakan ramalan cuaca melalui teknologi, bisa dari internet atau juga dari weather forecasting media TV/radio apakah hari esok akan hujan atau cerah, sehingga kita bisa menyiapkan apakah akan membawa payung atau tidak untuk aktivitas outdoor kita. Karena benar, ramalan cuaca ini sangat penting terutama untuk beberapa tipikal mode transportasi laut atau udara yang padanya tingkat keselamatan sangat menentukan sekali tergantung dari hasil prediksi cuaca ini. Bagaimana sains sangat penting dan berpengaruh sekali terhadap aktivitas sehari-hari kita sudah tidak ada kesangsian lagi untuk hal ini.

Ramalan cuaca

Lalu bagaimana peranan sains pada masa lalu ?, Bagaimana pula Islam merawat tradisi sains ?. Ada fakta-fakta yang relatif sama dimasa lalu dimana zaman itu juga pernah bertemu dengan wabah penyakit besar yang bernama Black Death (berasal dari Pes) pada pertengahan hingga akhir abad 14. Saking mematikannya, hingga menewaskan hampir 60 % populasi masyarakat di Eropa. Penyebaran wabah Pes bermula dari serangga (umumnya kutu) yang terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat termasuk di antaranya tikus dan marmot yang terinfeksi wabah. Setelah tikus tersebut mati, kutu menggigit manusia dan menyebarkannya kepada manusia. Lalu bagaimana posisi umat Islam di Eropa saat itu ?.

Sebagai ilustrasi sederhana, dimasa itu Andalusia di Eropa merupakan sebuah tempat dimana ilmu pengetahuan berkembang sangat luas, banyak ilmuwan islam yang dengan karya-karyanya menginsipari negara lain untuk giat dan mempelajari pengetahuan dan sains dari ilmuwan Islam. Bahkan bahasa arab menjadi bahasa Internasional yang bisa menghubungkan antar bangsa dan menjadi in jika ingin masuk dalam komunikasi antar negara.

Ilustrasi Andalusia

Mulai abad ke 10 Kordoba (Andalusia – Spanyol)telah memiliki 70 perpustakaan, salah satu perpustakaan terbesar di Kordoba memiliki 500.000 naskah. Sebagai perbandingan, perpustakaan lain di eropa saat itu hanya memiliki tak lebih dari 400 naskah, bahkan universitas Paris di abad 14, baru memiliki sekitar 2.000 buku. Pada tiap tahunnya di Al-Andalus diterbitkan kurang lebih 60.000 buku, termasuk risalah-risalah, puisi, polemik dan antologi.

Sebagian besar sejarawan menuliskan, dibawah ke-Khalifahan Kordoba, Al-Andalus merupakan mercusuar untuk belajar segala ilmu pengetahuan. Kordoba menjadi salah satu pusat kebudayaan, pusat ekonomi terkemuka, baik di Basin Mediteranean dan dunia Islam masa itu.

Terbayang betapa “cahaya pengetahuan” Andalusia sangat terang disaat Eropa sedang “gelap-gelapnya”. Di masa itu pula di Eropa yang sebagian besar masih berpaham fatalistik, bahwa jika ingin selamat maka tunduk patuhlah pada gereja (haram untuk berbeda pendapat), sehingga adanya wabah itu, sebagian besar dari mereka beranggapan sebagai kutukan gereja kepada orang-orang yang tidak menurut pada perintah.

Andalusia (Spanyol) pada masa itu juga ikut terimbas the Black Death. Hanya saja, para sarjana Muslim setempat lebih lanjut meneliti apa penyebab dan bagaimana metode penanganannya. Di antara mereka adalah Ahmad bin Ali bin Khatimah. Ilmuwan dari Almeria itu menulis Tahsil al-Gharad al-Qasid fii Tafil al-Marad al- Wafid sekitar tahun 1349. Beliau menduga buruknya kualitas udara sebagai pemicu persebaran wabah.

Ilmuwan lainnya, Ibnu al-Khatib mengarang kitab Muqni’at al-Sail ‘an al-Marad al-Hail. Di dalamnya, sosok asal Granada itu menjelaskan hipotesis tentang transmisi atau penularan penyakit.

Gagasan al-Khatib belakangan diadopsi oleh ahli biolog Prancis, Louis Pasteur, ratusan tahun kemudian. Salah satu uraian Muqni’at mengenai antisipasi wabah: Kebanyakan orang-orang yang telah mengadakan kontak dengan seorang penderita wabah akan meninggal dunia.

Sementara itu, mereka yang tidak begitu (berinteraksi) akan tetap sehat. Pakaian atau keranjang (yang sebelum nya dipakai penderita wabah) boleh jadi membawa penyakit ke dalam rumah; bahkan, sebuah anting sekalipun dapat berakibat fatal bila dipasang pada telinga seseorang (yang sehat).

Penyakit itu dapat muncul dari suatu rumah di suatu kota, kemudian ia menyebar dari orang ke orang tetangga, saudara, atau tamu rumah itu. Di masa kita saat inilah, dalam menghadapi covid-19, kita memiliki istilah yakni Social Distancing dan Physical Distancing yang memiliki makna sama dengan kondisi saat itu. Singkat kata, pada akhirnya dengan tetap melakukan “isolasi mandiri”, maka wabah ini perlahan tapi pasti akan masuk pada angka yang semakin minimalis dan akan menghilang.

Begitulah dimasa lalu kita diajarkan, sains telah menjadi salah satu alat penting untuk menghadapi wabah besar ini dengan segala bentuknya. Jika dimasa lalu kita diajarkan dengan pelajaran penting dan berakhir dengan keberhasilan, lagi-lagi pengalaman adalah guru terhebat yang kita bisa belajar banyak darinya.

Sehingga hari-hari ini, dimasa Ramadhan ini, kampanye tagar #tetapdirumah #dirumahaja bersama keluarga tercinta kita, nampaknya wajib benar-benar kita lakukan dengan istiqomah, seraya di bulan penuh berkah ini kita terus berdoa kepada Allah agar memampukan kita menghadapi masa-masa sulit ini.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Bekerja untuk keabadian

Vastly Zaitsev, seorang penembak jitu Uni Soviet pada Perang Dunia II mengisi karirnya dengan cara yang luar biasa. Bidikan senapan jarak jauhnya, pada akhirnya merontokkan mental pasukan-pasukan Jerman sehingga pada akhirnya perang Stallingrad ini dimenangkan oleh Soviet. Selidik punya selidik, ternyata kehebatan Zaitsev ini dipropagandakan sedemikian rupa oleh pimpinan-pimpinan Soviet melalui publikasi tulisan yang menggelora, digandakan berribu-ribu eksemplar, kemudian disebarkan lewat pesawat terbang agar bisa dibaca oleh semua orang, termasuk musuh-musuhnya sendiri, hal ini sekaligus membuat ciut nyali pasukan musuh sebagai strategi psy war. Diakhir adegan, Zaitsev, selain sebagai pasukan elit, merupakan simbol kemenangan Soviet untuk peperangan ini. Kisah epik bisa dilihat pada film Enemy at the Gates (dipublikasikan pada tahun 2001).

Lain lagi dengan kisah Buya Hamka, beliau merupakan profil lengkap seorang guru, ulama, politisi, sastrawan sekaligus penulis. Beliau tergolong penulis yang produktif, tak kurang dari 118 judul buku sudah beliau hasilkan, meliputi banyak bidang kajian, seperti politik, sejarah, budaya, akhlak, dan ilmu-ilmu keislaman. Dari sekian banyak karyanya, paling berpengaruh tentu saja adalah Tafsir Al-Quran 30 juz yang dinamakan Tafsir Al Azhar. Tafsir ini memiliki pengaruh besar, tidak hanya digunakan oleh muslim Indonesia, namun menyebar sampai dengan Malaysia, Brunei, bahkan sampai dengan Thailand. Tafsir ini diselesaikan Hamka saat di jeruji tahanan selama 2 tahun 4 bulan. Tulisan beliau dalam bentuk sastra, beberapa diantaranya “Dibawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck”, walaupun karya lama generasi 1930an, namun karya beliau masih relevan untuk menjadi bacaan inspiratif antar generasi, sehingga masih sangat populer ketika diangkat pada versi layar lebar. Memang benar, karya-karya menyejarah, seperti punya cara tersendiri agar tetap bersinar tak terbatas ruang dan waktu.

Buya Hamka

Dua kisah diatas, walaupun hanya fragmen kecil dari sebuah film dan karya pemikiran, namun kita tahu bahwa ketajaman pena, memiliki imbas dahsyat untuk mempengaruhi orang lain dengan skala yang luas, tak terbatas ruang dan waktu. Tulisan yang memiliki value tinggi, bisa mempengaruhi pembacanya, akan memiliki dampak lebih efektif dan eskalatif.

Semakin banyak karya bermutu tinggi yang beredar dimasyarakat, pada akhirnya akan berimbas pada budaya, moralitas, nilai keluhuran, pola pikir masyarakat dan kualitas SDM yang lebih membaik dari waktu ke waktu. Namun, untuk sampai pada hal ini, peran serta masyarakat jua lah yang memiliki peran signifikan. Karena pada dasarnya, masyarakat berperan sebagai “produsen” ide dan gagasan (melalui media tulis), disatu sisi juga berperan sebagai “konsumen”, penikmat ide tersebut. Titik sambung antara banyaknya karya berkualitas dan peningkatan mutu SDM inilah dinamakan literasi (kemampuan membaca dan menulis). Sederhananya, masyarakat berperan ganda dalam peningkatan mutu literasi ini.

Level literasi masyarakat memiliki kontribusi besar untuk menentukan kemajuan sebuah bangsa, banyak riset yang menjelaskan bagaimana kemampuan literasi manusia, memiliki relasi positif terhadap kecerdasan, penalaran dan bahkan kemampuan matematika. Literasi ini, pada akhirnya memiliki sumbangsih yang besar terhadap kemajuan negeri. Namun, Indonesia masih memiliki sejumlah PR untuk mengatasi hal ini.

Penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015 menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Ini adalah hasil penelitian terhadap 70 negara. Indonesia berada pada ranking 62 dari 70 negara yang disurvei.

PISA 2015

Problem ini, tentunya butuh penuntasan dengan menjadikan pendidikan sebagai kata kuncinya. Sebagaimana kita pahami bahwa faktor penting pendidikan salah satunya ada pada guru. Guru memiliki peran besar untuk dapat menjadikan level literasi ini menjadi lebih baik. Kemudian, bagaimana guru dapat berperan dengan profesinya ?, dengan cara menginspirasi mereka !.

Cara terbaik mendekatkan para siswa dengan baca-tulis, bisa dilakukan dengan pendalaman materi dengan mengoptimalkan sumber lain diluar buku paket, cara ini bisa men trigger keingintahuan siswa dengan bacaan lain, sekaligus menjadikan referensi tambahan yang bermanfaat untuk mencintai membaca.
Berikutnya, menulis adalah aktivitas yang manfaatnya tidak hanya dirasakan disaat ini dan ditempat ini. Lebih dari itu, menulis, apalagi di era teknologi saat ini, merupakan “alat edar ide” terbaik dan terluas. Lebih massif dibanding era Zaitsev tentu saja, setiap orang bisa dengan cepat dan mudah membacanya, dimanapun dan kapanpun. Begitu juga manfaatnya bisa dirasakan diwaktu-waktu kedepan, bahkan untuk generasi sesudah kita. Betapa banyak tulisan-tulisan di jagat maya yang sudah ditulis dari belasan atau puluhan tahun yang lalu, yang masih bisa kita baca di internet hingga sekarang. Begitu juga dengan karya kita saat ini, jika ada pencerahan didalamnya, maka “suluh” ini bisa dinikmati bahkan sampai masa yang panjang. Benarlah bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Semoga kita bisa menjadi inspirator kebaikan untuk masa yang panjang lewat menulis ini.

Sebagai penutup, Kami kutipkan epilog dari Pramoedya.


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

Narasumber pelatihan pengantar e-learning dan project based learning

Sabtu pagi yang lalu, alhamdulillah diberikan kesempatan untuk dapat membersamai guru-guru keren dan hebat dari Ummul Quro Depok. Training ini bertajuk, “Pelatihan Guru Hebat. Pemanfaatan e-elarning dan Metode Project Based Learning (PjBL) untuk Pembelajaran”.

Pelatihan ini merupakan sesi pertama, sebagai overview terkait penyamaan persepsi tentang e-learning. Kemudian dilanjutkan bagaimana merakitnya menggunakan metode PjBL.

Peserta pelatihan ini hampir mencapai 90 orang yang terdiri dari guru SDIT dan SMPIT Ummul Quro Depok. Para peserta sangat antusias mulai dari pk. 09.00 dan berakhir pada pk.12.00 WIB. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Bidang Pendidikan (Peningkatan Intelektual) yang dikoordinasikan oleh Ustadzah Rukoyah dan Ustadz Nowo.

Sesi penyampaian materi dan dialog dengan peserta

Pelatihan ini diselingi dengan sesi survey terkait dengan gamabran umum yang didapatkan oleh peserta jika mendengar kata terkait e-learning, hasilnya kita buat cloud words yang menjadi seperti berikut

Cloud words dari peserta jika mendengar e-learning

yang dapat disimpulkan sejenak, bahwa sebagian peserta sudah pernah mendengar istilah e-learning.

Kemudian, saya ingin melakukan survey juga terkait penggunaan sosial media yang aktif dipakai oleh para guru

Paling banyak para peserta,menggunakan Instagram sebesar 39 %

Menggunakan Instagram sebagai medsos, artinya para peserta yang sebagian atau hampir semua guru, merupakan profil yang giat menggunakan medsos kekinian, hal ini bisa dipahami bahwa naik daunnya Instagram saat ini di Indonesia, merupakan salah satu media yang digandrungi generasi milenial saat ini, dibanding dengan generasi sebelumnya seperti Facebook dan twitter dari masa popularitasnya yang relatif lebih dulu muncul ke masyarakat.

Hal ini menjadi potensi tersendiri, sebelum kita berbincang banyak terkait dengan e-learning, maka kecakapan guru dalam menggunakan piranti tersebut memang sudah memiliki pengalaman terlebih dahulu.

Hasil survey terkait persepsi peserta terhadap daya dukung e-learning di lembaganya

Hasil survey diatas menunjukkan bahwa, pada kesiapan SDM, tingkat persepsi peserta menunjukkan pada point 6.6 yang notabene paling banyak dibandingkan faktor dukung yang lain.

Penyajian materi

Walhasil, setelah kurang lebih tiga jam sesi materi ini berakhir, disela-sela materi ada satu peserta dan satu kelompok yang mendapatkan buku saya yang berjudul “The Power of ownCloud” sebagai oleh-oleh untuk mereka.

Cover buku The Power of ownCloud

Semoga pelatihan ini membawa banyak manfaat, menjadi inspirasi untuk akselerasi mutu pembelajaran di masa yang akan datang.

Salam hangat,

Dedy Setyo.

Sesi foto penutupan dan pemberian cindera mata oleh panitia

MENJADI PEMATERI “GOAL SETTING” UNTUK MENYIAPKAN MASA ORIENTASI SISWA BARU

Membentuk siswa dengan kategori High Achiever

Ada latar belakang yang saya angkat ketika akan menyampaikan terkait dengan materi ini, jika ditulisan sebelumnya kita sedikit bahas tentang penemuan robot yang bisa menulis seperti manusia yang sudah diinisiasi oleh Future University Jepang pada 2016, sedangkan Google juga berhasil menemukan algoritma Artificial Intellegent agar komputer bisa menggambar secara natural, justru yang saya amati adalah apa latar belakang dari masing-masing penemu tersebut menemukan hal ini ?.

Ditambah lagi dengan background tokoh-tokoh fenomenal dibidangnya masing-masing. Kalau kita kenal dengan Michael Jordan (MJ), mantan atlet basket Chicago Bulls peraih hall of fame NBA. Yang ternyata dimasa mudanya tertolak 3x untuk bisa masuk sekolah nya yang unggul dalam bidang Basket. Diakhir, kita tahu bahwa MJ seorang fenomenal dengan raihan prestasi yang sulit dikejar oleh generasi sesudahnya. Thomas Edison sosok yang brilian, dengan tanpa putus asa melakukan eksperimen dan ujicoba ribuan kali, hingga menemukan lampu bolam yang kemanfaatannya bisa kita nikmati hingga saat ini.

Ada apa dengan MJ dan Edison ?, boleh kita namakan mereka dalam kategori High Achiever. lalu kemudian, bagaimana merakit kemampuan siswa-siswa di sekolah kita menjadi High Achiever dimasa depannya kelak ?. Menarik untuk dikaji bahwa High Achiever dibentuk bukan karena ketidak sengajaan, namun atas proses yang panjang dan tak kenal lelah.

Menjadi High Achiever, setidaknya ada beberapa syarat yg musti terpenuhi yakni sebagai berikut :

  1. Self Regulated Learner

SRL ini merupakan kemampuan untuk mengorganisasi diri, membuat strategi dan mempersiapkan diri agar bisa belajar lebih banyak. Ketika kemampuan ini dimiliki, maka siswa akan belajar dengan sendirinya dan merekonstruksi pengetahuan dalam diri untuk menjadi lebih bermanfaat.

Secara sederhana, SRL ini dipahami dengan bahasa yang lebih sederhana, karena jam reguler di kelas hanya berlangsung dari jam sekian s.d jam sekian, maka sisanya sejatinya merupakan waktu-waktu yang seharusnya bisa menjadi lebih berharga untuk proses belajar, namun tentunya dengan syarat siswa ini memiliki kemampuan SRL ini.

2. Goal Setting

Bahwa setiap manusia yang memiliki tujuan, maka Goal Setting merupakan titik akhir kemana destinasi setiap siswa dalam pencapaian tertentu.

Goal ini dengan SRL ibarat tali temali, karena SRL yang baik maka selalu memiliki goal dalam arahnya.

Pencapaian goal ini nantinya bisa dirumuskan melalui rumus SMART (Spesifically, Measurement, Achievable, Realistic, Timely).

3. Self Efficacy

Merupakan kepercayaan diri bahwa siswa dapat menyelesaikan tantangan dengan kesulitan tertentu, hal ini biasanya dimulai dari pengalaman empiris sebelumnya . Siswa dengan kemampuan efficacy tingi, cenderung dapat menyelesaikan tantangan-tantangan yang dihadapi nanti.

Demikian, semoga bermanfaat.

Berikut beberapa dokumentasi dalam kegiatan ini

Suasana pelatihan Becoming High Achiever

Salam hangat,

Dedy Setyo