Category Archives: Pendidikan

Bekerja untuk keabadian

Vastly Zaitsev, seorang penembak jitu Uni Soviet pada Perang Dunia II mengisi karirnya dengan cara yang luar biasa. Bidikan senapan jarak jauhnya, pada akhirnya merontokkan mental pasukan-pasukan Jerman sehingga pada akhirnya perang Stallingrad ini dimenangkan oleh Soviet. Selidik punya selidik, ternyata kehebatan Zaitsev ini dipropagandakan sedemikian rupa oleh pimpinan-pimpinan Soviet melalui publikasi tulisan yang menggelora, digandakan berribu-ribu eksemplar, kemudian disebarkan lewat pesawat terbang agar bisa dibaca oleh semua orang, termasuk musuh-musuhnya sendiri, hal ini sekaligus membuat ciut nyali pasukan musuh sebagai strategi psy war. Diakhir adegan, Zaitsev, selain sebagai pasukan elit, merupakan simbol kemenangan Soviet untuk peperangan ini. Kisah epik bisa dilihat pada film Enemy at the Gates (dipublikasikan pada tahun 2001).

baca lanjutan...

MENJADI PEMATERI “GOAL SETTING” UNTUK MENYIAPKAN MASA ORIENTASI SISWA BARU

Membentuk siswa dengan kategori High Achiever

Ada latar belakang yang saya angkat ketika akan menyampaikan terkait dengan materi ini, jika ditulisan sebelumnya kita sedikit bahas tentang penemuan robot yang bisa menulis seperti manusia yang sudah diinisiasi oleh Future University Jepang pada 2016, sedangkan Google juga berhasil menemukan algoritma Artificial Intellegent agar komputer bisa menggambar secara natural, justru yang saya amati adalah apa latar belakang dari masing-masing penemu tersebut menemukan hal ini ?.

baca lanjutan...

Menjadi Juri Lomba Inovasi Media Pembelajaran “Board Game”

Sekolah Islam Terpadu (SIT) Nurul Fikri yang berada dibilangan Kota Depok Jawa Barat memang secara rutin berkomitmen mengembangkan kualitas Guru-guru nya. Setelah pada sesi sebelumnya diberikan tentang pelatihan pengantar pembuatan Board Game, inilah saatnya melihat mereka para guru berkompetisi membuat media pembelajarannya.

Sebagai informasi, bahwa Board Game ini merupakan kategori permainan dengan seperangkat aturan tertentu yang melibatkan pemainnya untuk terlibat secara penuh dalam permainan, hingga syarat-syarat terpenuhi untuk menempatkan salah saeorang pemainnya menjadi pemenang. Simpelnya, jika Anda pernah memainkan monopoli atau ular tangga dimasa lalu, nah dua permainan itu termasuk kategori Board Game.

Karena karakteristiknya yang memang “fun”, perangkat ini bisa dioptimalisasi untuk menjadi media pembelajaran, sehingga harapannya siswa tetap bisa belajar (dan terlibat) dengan cara yang asyik.

Lomba inovasi media ini setelah pada babak penyisihan diikuti sekitar 60an guru, akhirnya masuk pada babak final peserta 10 guru terbaik. Penjurian ini dilakukan oleh saya sendiri, Direktur Operasional Ust Rahmat Syehani, M.Pd dan juga praktisi desainer game board mas Brendan dari Bandung.

Nampak spanduk didepan sekolah yang menandakan bahwa gempita ajang ini sudah masuk sejak pintu gerbang.

juri media pembelajaran guru board game

Pada waktu yang telah ditentukan, peserta hanya memiliki wakt selama 5-7 menit untuk presentasikan overview dari game yang telah dibuatnya. Berupa latar belakang, tujuan, aturan permainan dan hal-hal terkait lainnya.

Sepuluh total finalis dibagi dalam 5 kelas, sehingga per kelas hanya ada dua peserta saja. Oh ya, selain kami para juri, ada juga tamu pengunjung yang ikut serta melihat proses lomba, untuk memberikan vote nya siapa peserta terfavorit.

48421227_2200359733307552_668963490181939200_n

Kategori dalam lomba ini cukup beragam, ada juga peserta dari Tim Quran yang membuat game untuk menguatkan hafalan siswa (murojaah), dari kepramukaan, matematika, kimia, BK dan dari mapel-mapel lainnya.

49089540_2200359856640873_8030179746354561024_n

Diakhir sesi, kami selfi bersama tim panitia yang luar biasa menyiapkan perhelatan ini dari awal sampai akhir, ada dari Learning Resources Center Bu Nita Heryanti, M.Pd, Pak Didik Andrianto, S.Pd, Bu Abid, Pak Seto dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

49178113_2200359973307528_3315007766535340032_n

Sertifikat untuk oleh-oleh sebelum kepulangan.

serti

Semoga ajang ini mampu memberikan pemantik para pendidik dimanapun berada, untuk selalu berkarya, membuat pembelajarannya lebih berkualitas dari hari ke hari, yang pada ujungnya berkontribusi untuk pencerdasan bangsa dimasa yang akan datang. Aamiin.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Menjadi Pemateri Consultant For Change di Binawan University

Sabtu yang lalu, sesuai yang telah dijadwalkan oleh panitia NICE Social Training Series, kami berkesempatan memberikan materi terkait dengan dunia konsultan, sesuai dengan materi yang pernah kami terima pada C4Change (Consultant for change) NAMA Foundation di Malaysia.

Training ini merupakan sesi untuk berbagi kembali (diseminasi) kepada segenap pengampu organisasi, praktisi, profesional dan akademisi. Sedianya semua materi ini jika disampaikan secara penuh, maka akan diselenggarakan dalam durasi 24 hari (2 module), sehingga dalam penyelenggaraan yang hanya 4 jam ini, sifatnya hanya overview materi-materi pokok untuk pengantar bagi yang berminat menggeluti materi ini.

Panggung utama untuk sesi pembukaan sebelum masuk materi.

Dalam sesi materi ini saya berduet dengan Mas Juna, rekan kami yang keren dari Rumah Kepemimpinan, yang barengan dengan saya di module 1 dan 2 saat di Malaysia.

Materi yang kami sepakati untuk disampaikan ada beberapa hal yakni sebagai berikut :

  1. Mindset (resume singkat materi ini bisa diakses ditulisan ini )
  2. SWOT Analysis for organization
  3. Loop infinity of change
  4. Community Platform
  5. Need analysis

Sehingga dalam pelaksanaannya kami berbagi siapa yang akan explore lebih dalam.

Sebelum masuk materi, kami coba cek levelisasi peserta menggunakan menti meter  dengan mempertanyakan apa yang terbesit ketika mendengar istilah “Mindset”
Hasil survey singkat kepada peserta

kemudian ditengah-tengah materi kami coba sharekan tentang bagaimana mengecek mindset kita dengan tools dari mindsetworks.com bagi Anda yang ingin mencoba juga, bisa akses dari sini http://bit.ly/cekmindset

Kebutuhan untuk mengetahui mindset diri sendiri ini menjadi penting karena mindset ini menjadi tolak ukur sejauh mana seseorang bisa upgrade diri untuk fase-fase yang lebih bermakna dalam kehidupan yang lebih baik.

Dari contoh-contoh tokoh yang memiliki growth mindset yang baik adalah diantaranya Michael Jordan dan Thomas Edison. Ketika berbagai tantangan dalam kehidupannya tidak menjadikannya surut dan melemah, namun malah membuatnya makin kuat dan menyejarah.
Sesi materi

Pada sesi analisis SWOT kami bagi menjadi empat kelompok untuk belajar menganalisis gambar dan fenomena ojeg online yang sedang marak di masyarakat.
Sesi Focus Group Discussion

Lanjutan sesi materi secara klasikal.
Sesi Presentasi

Diakhiri dengan sesi foto bersama peserta.
Clossing Session dan Foto bersama

Semoga pelatihan ini memiliki dampak positif kepada semua peserta. Memberikan wawasan lebih dan pengalaman berharga dalam mengelola organisasi di lingkungannya. Aamiin.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Publikasi Koran Nasional Media Indonesia

Alhamdulillah, tulisan Saya yang berjudul “Menjadi Guru 5.0 untuk Siapkan Generasi Pelita Masa Depan” masuk pada halaman opini Koran Nasional Media Indonesia pada 27 November 2018.

Berikut pada halaman online nya

opini media indonesia

halaman diatas ini juga bisa diakses pada link

http://mediaindonesia.com/read/detail/200365-menjadi-guru-50-untuk-siapkan-generasi-pelita-masa-depan

Kalo dibawah ini tampilan pada versi koran cetaknya.
opini media indonesia --koran1 opini media indonesia --koran2

Tulisan ini dilatarbelakangi dari keinginan penulis pada Hari Guru Nasional 2018 untuk memberikan catatan dan refleksi bersama terkait tantangan-tantangan yang akan dihadapi generasi saat ini di masa depan.

Semoga memberikan manfaat untuk para pembaca.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Menjadi Guru 5.0 untuk Menyiapkan Generasi Pelita Masa Depan

Notes : Artikel ini dengan judul yang sama, masuk pada halaman opini harian nasional Media Indonesia. Bisa dibaca disini http://m.mediaindonesia.com/read/detail/200365-menjadi-guru-50-untuk-siapkan-generasi-pelita-masa-depan

——

Dan Brown, novelis ternama dengan capaian penjualan best seller, karyanya dinyatakan sebagai salah satu buku yang paling populer dalam sejarah buku sepanjang masa pada 2009, pernah menuliskan di novelnya yang berjudul Origins, tentang kemajuan teknologi yang sedemikian luar biasa bahwa dimasa depan komputer dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mampu membuat novel sendiri melalui serangkaian proses berpikir secara otomasi. Ternyata tak hanya berada dihalaman novel, peneliti dari Future University di Hakodate, Jepang pun pada 2016 berhasil membuktikan bahwa hal ini bukan isapan jempol semata, hasilnya adalah sebuah novel berjudul Konpyuta ga shosetsu wo kaku hi atau “Hari Sebuah Komputer Menulis Novel” berhasil ditulis oleh komputer dengan AI nya.

Ditempat lainnya, Scorpion, tayangan serial fiksi yang diinisiasi oleh Walter O’Brien sebagai CEO nya, hanya untuk sekedar informasi, beliau ini merupakan manusia ber IQ 197 sehingga menjadi salah satu manusia pemilik IQ tertinggi dalam sejarah manusia, dalam salah satu episode Scorpionnya pernah menyajikan tentang hebatnya komputer dimasa depan dengan kemampuan duplikasi menggambar selevel dengan skill Da Vinci. Tak hanya didunia fiksi semata, Google pada April 2017 yang lalu pun berhasil mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan komputer menggambar sketch dengan urutan motorik dan jaringan syaraf tiruannya sendiri. Nampaknya tak seberapa lama, khayalan Walter O’Brien ini sepertinya akan mewujud dalam dunia nyata.

Dua kisah diatas ini untuk memberikan ilustrasi kepada kita, bahwa impian manusia untuk kemajuan yang berkelanjutan terus menerus mencapai level tertingginya. Impian dimasa lalu tentang manusia yang bisa terbang dari satu pulau ke pulau yang lainpun saat ini telah kita nikmati pada teknologi tinggi dalam dunia penerbangan, baik di Indonesia ataupun Internasional. Begitupun juga, dimasa lalu ketika manusia ingin bercakap-cakap dengan melihat lawan bicaranyapun, saat ini dengan sangat mudah bisa dilakukan oleh siapapun.

Fase revolusi industri yang sudah mencapai 4.0 inipun sudah berada didepan kita, tantangan demi tantangan juga nampaknya bak tsunami dengan gelombang besarnya didepan sana yang siap menghempas siapapun. Fase yang sering dinamakan dengan era disrupsi inipun juga sudah menunjukkan korbannya satu persatu, dilevel global kita melihat adanya Kodak dan Nokia yang dulu menjadi pemimpin pasar foto dan komunikasi, namun saat ini dunia telah berubah, mereka tak lagi berada diatas, bahkan sudah tersisihkan. Ditaraf lokal, kita juga melihat adanya teknologi ojek online, dengan seabrek layanannya yang lebih memikat dan praktis, kalo dulu konsumen harus mencari ojeg pangkalan untuk bisa bepergian, saat ini mereka yang mendatangi konsumen, kalo dulu orang akan pesan makanan atau hantar barang harus keluar rumah, saat ini semuanya bisa dilakukan bahkan tanpa harus keluar rumah, lebih miring lagi biayanya. Layanan dengan berbagai kemudahan dan pendekatan privat inilah cikal bakal pemenuh kebutuhan masyarakat dimasa depan.

Dunia pendidikan juga menemui tantangannya sendiri, menurut Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, per maret 2018 yang lalu angka pengangguran lulusan perguruan tinggi kita masih mencapai 630.000 orang. Angka ini menyumbang 8,8 % dari 7 juta pengangguran di Indonesia. Angka ini membuat kita miris sehingga harus menata ulang pendidikan kita.

Berkaca pada Human Development Index

baca lanjutan...

Menjadi Pemateri Perancangan dan Pembuatan Media Pembelajaran di IAIN Bangka Belitung

Setelah hampir beberapa pekan komunikasi untuk agenda penyelenggaraan pelatihan pembuatan multimedia pembelajaran, akhirnya waktu yang sudah terjadwalkan tiba. Saya diberikan kesempatan untuk membersamai para mahasiswa IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung merancang dan membuat multimedia pembelajaran.

Di pagi hari, saya disambut oleh matahari yang cerah, diiringi oleh angin sejuk. Beberapa hari sebelumnya padahal sempat agak ragu karena ada tragedi pada dunia penerbangan di jurusan kota yang sama. Semoga pada korban diberikan khusnul khotimah, serta yang ditinggalkan diberikan kesabaran.

Dilanjutkan dengan sarapan pagi khas Pangkal pinang, untuk penambah energi dan semangat. Btw, yang muncul gambar dibawah ini gak semua gambar.. he.he. hanya sebagian sahaja. Terlalu banyak nanti kalo mau dibahas ttg makanan.

Goals dari  pelatihan ini sebenarnya untuk memberikan wawasan tentang bagaimana multimedia memberikan peningkatan mutu pembelajaran dengan lebih efektif. Karena mahasiswa peserta pelatihan ini pada akhirnya akan menjadi guru-guru yang akan mendidik putra-putri bangsa dimasa yang akan datang.

Tahap pertama, seperti yang sering saya lakukan adalah melakukan “scan” awal terkait dengan pemahaman materi untuk mengukur kedalaman materi yang akan diberikan, sehingga saya buat tools dua macam, yang pertama yakni dari pengetahuan istilah Multimedia yang dipahami apa saja.

Sesi awalan ini, saya menggunakan tools dari mentimeter untuk menjangkau semua peserta yang hadir, sehingga dari peserta yang terkoneksi berhasil mengumpulkan semua keyword yang berhubungan dengan istilah “multimedia”, muncul 3 kata yang beririsan paling banyak yakni : komputer, teknologi dan internet.

Tidak cukup disitu saja, saya lanjutkan dengan persepsi diri terkait multimedia, persepsi ini untuk menggali secara person dan rerata pada sekumpulan responden yang mencakup pemahaman, keminatan dan keterampilan.

Didapatkan asumsi awal bahwa, dari semua peserta yang hadir dan ikut mengisi kuisioner ini, memiliki keminatan yang tinggi dalam membuat media pembelajaran mandiri, namun masih memiliki skill belum sebesar dengan keminatan yang diinginkan.

Dalam strategi pengelolaan pelatihan ini, dikarenakan ada peserta kurang lebih 70 orang mahasiswa, sehingga sy coba buat kolaboratif antar tim.

Kita bagi menjadi 7 kelompok, sehingga per kelompok ada 10 anggota. Dengan menggunakan pendekatan ini, setap kelompok harus berkompetisi untuk menjdi yang terbaik melalui tantangan demi tantangan yang diberikan. Semua tantangan yang diberikan harus diupload sebagai tanda bahwa ybs telah mengerjakan tantangan tersebut

Portal pembelajarannya saya siapkan di : https://sites.google.com/view/dedy/home

Portal ini dibuat agar semua bahan yang dibutuhkan, serta perangkat penunjang pelatihan bisa diunduh dengan lebih mudah dan cepat.

Walhasil setelah melalui sesi demi sesi dari jam 8 s.d 15.00, akhirnya sesi perancangan dan pembuatan media ajar ini selesai.

Alhamdulillah, semua peserta telah menunaikan tugasnya untuk belajar dan mencoba merancang sebaik mungkin medianya sendiri. Kemudian diakhir sesi, kami berikan juga reward kepada kelompok.

Pihak Fakultas yang diwakili Bu Nurul Faqih memberikan simbolis penghargaan kepada kami.

Semoga bermanfaat, dan memberikan pengaruh positif pada terselenggaranya mutu pembelajaran yang akan lebih baik lagi. Baik saat nanti menjadi guru, atau sekarang untuk wahana pembelajaran. Terima kasih.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Mindset Tumbuh atau Tetap. Anda yang mana ?

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh buku Carol Dweck, Ph.D (judul aslinya “Mindset”) seorang profesor psikologi dari Standford University yang sangat berpengalaman dalam ranah ini, dengan hasil penelitiannya yang mencapai 20 tahun.  Kalo boleh jujur, baru 100an halaman yang sudah saya selesaikan..he..he.. Tapi agar bisa “mengikat” lebih kuat, saya putuskan untuk menulis resume buku atau refleksi yang saya dapatkan dalam beberapa bagian. Seperti kata Sayyidina Ali bin Abi Tholib bahwa ilmu itu ibarat kuda liar, ikatlah dengan pena dengan cara menuliskannya.

Seperti kita ketahui bahwa mindset ini dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan dan reflek berfikir kita dalam menghadapi masalah. Sehingga mindset inilah yang mengontrol kita karena tindakan kita sejatinya berasal dari mindset ini.

Dalam suatu penelitian, Dweck menguji satu kelompok siswa dengan tantangan menyelesaikan puzzle setahap demi setahap, dari yang paling mudah menuju ke yang paling sukar. Pada level pertama paling mudah, waktu penyelesaian sangat cepat, kelompok siswa yang diuji merasakan tantangan ini sangat mudah dilewati, sehingga semua peserta merasa senang, apalagi ketika diberikan pujian yang menyenangkan seperti “Kamu pintar”, “Kamu hebat” dan sebagainya. Masalah kemudian muncul ketika tim penguji memberikan puzzle level kesulitan berikutnya, dalam durasi waktu yang tak terlalu lama, sekelompok siswa menyatakan menyerah karena merasa tidak bisa menyelesaikan puzzle tersebut, sehingga meninggalkan tantangan tersebut. Sisanya yang lain, merasa tertantang, sehingga makin tekun mencari jalan keluar darimana penyelesaikan kasus yang diberikan. Walau dibutuhkan waktu tertentu untuk menyelesaikan puzzle ini, sekelompok siswa ini akhirnya berhasil menyelesaikan dengan cara mereka. Kemudian ketika ditawarkan apakah akan masuk pada puzzle level kesulitan berikutnya, mereka menyatakan siap bahkan jika harus membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Singkat cerita, pada akhirnya Dweck memberikan label pengelompokkan untuk dua macam gambaran ini, yakni untuk penyuka tantangan dengan Mindset tumbuh (growth mindset) dan kelompok “give up” dengan nama Mindset tetap (fixed mindset). Apa yang membedakan diantara keduanya ?, seperti pada kejadian penelitian diatas, bahwa growth mindset adalah potret mental, dimana para pemiliknya merupakan gambaran orang-orang penyuka tantangan, mencintai belajar, bahkan walau dengan ancaman kegagalan dan keletihan (waktu dengan durasi panjang), tak menciutkan keinginan untuk mencoba dan terus mencoba. Berbeda, dengan model growth, tipe fixed mindset merasa bahwa menyelesaikan tantangan dengan level yang lebih sukar akan memberikan kemungkinan labelisasi dari yang sebelumnya “pintar” atau “hebat”, menjadi tidak mendapatkannya lagi. Orang dengan tipe ini, biasanya hanya menyelesaikan masalah rata-rata, atau yang sering dijumpainya saja, enggan menghadapi tantangan baru, memiliki ketakutan jika tak mendapatkan pujian serupa dikemudian hari jika mendapatkan kegagalan.

Buku tentang mindset ini cukup lengkap memberikan gagasan sekaligus tantangan bagi pembacanya untuk merubah dirinya menjadi pembelajar sejati, yang tak mudah menyerah dan sedia untuk mencoba kesulitan-kesulitan baru. Karen sejatinya manusia diciptakan untuk menyelesaikan masalah yang ada disekitarnya. Tak terbayangkan jika saat dulu untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan jalan kaki bisa berhari-hari, maka saat ini bisa dilakukan lebih cepat dengan motor atau mobil. Jika untuk pergi naik haji saja, jaman dahulu orang Indonesia naik kapal yang membutuhkan waktu sekali jalan sampai dengan 6 bulan (pulang pergi butuh setahun), maka dengan adanya pesawat terbang urusan ini menjadi ringkat hanya 24 jam saja. Profil para penemu dan peletak tinta emas sejarah dimasa lalu merupakan orang-orang dengan mental growth mindset, yang senantiasa mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

mindset

Pada tulisan berikutnya akan diulas, tentang profil manusia growth mindset yang  akan memberikan inspirasi pada sejarah kemanusiaan seperti Michael Jordan dan Thomas Alva Edison dan lain-lain.

Semoga bermanfat.

Salam hangat,

Dedy Setyo A

Refleksi Kemerdekaan dan Tantangan Pendidikan Masa Depan

Rasa nikmat dan karunia yang begitu besar sebagai manusia sejatinya adalah nikmat kemerdekaan. Adanya kemerdekaan ini, potensi manusia sebagai sosok yang diberkan tugas memimpin muka bumi sebagai fitrahnya, menemukan momentumnya. Untuk kembali berbuat yang terbaik, berperan dalam tugas-tugas kehidupannya.

Adapun sebagai hamba Allah, nikmat kemerdekaan ini kita rasakan sebagai membebaskan diri dari penghambaan makhluk, hanya menyeru bahwa Allah-lah Sang Pemberi kebebasan sejati, yang menghantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Merayakan 73 tahun Indonesia telah merdeka, dengan cara memeriksa kembali apa-apa yang telah kita lakukan sebagai bangsa selama ini, dan juga merancang strategi untuk menaklukan “ombak” kehidupan dimasa depan.

Kita patut bersyukur bahwa peran-peran ulama, kyai, santri, anak-anak muda dan masyarakat secara luas, pada fase sejarah bangsa ini terus menerus memiliki kiprah yang tidak kecil dalam kancah perjuangan nasional, bisa kita sebutkan pada tahun 1908 adanya kebangkitan nasional yang diprakarsai oleh Soetomo merupakan tokoh muda, 1928 pada gelaran Soempah Pemoeda apalagi, ini event besar yang diinisiasi oleh pemuda Indonesia,  1945, adanya kemerdekaan Indonesia, pada hari sebelum kemerdekaan perbedaan gagasan antara kaum muda dan tua lah yang menyebabkan peristiwa Rengasdengklok, dan dilanjutkan dengan Proklamasi esok hari nya, disitu tercatat ada nama Wikana, Soekarni dll. Bahkan beberapa tahun sebelum 1945 kita catat ada pahlawan yang sekarang diabadikan menjadi nama jalan dibilangan Depok dan sekitarnya ada Margonda, juga merupakan pahlawan nasional yang bisa jadi sebagian dari kita belum tahu. Ada juga Daan Mogot, yang merupakan tokoh pahlawan yang membidani kemerdekaan RI. Tak terhitung hutang kita juga pada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, yang telah mengeluarkan resolusi jihad nya untuk memompa semangat perjuangan para ulama, kaum santri, dan masyarakat secara luas. 1974 peristiwa malari, sampai dengan 1998 adanya Reformasi dari orde baru ke fase berikutnya juga merupakan kiprah pemuda.

Diluar tahun-tahun diatas, barangkali ada catatan sejarah lain yang melimpah ruah dan lagi-lagi membuktikan bahwa pemuda lah, menjadi figur sentral dalam perubahan bangsa ini.

Selanjutnya, apa saja yang menjadi tantangan para pemuda ini kedepan ?.

Bahwa gelombang perubahan didepan sana sudah mulai terlihat dan dirasakan. Saat ini dimana kita sudah masuk pada fase Revolusi Industri 4.0, dan tahun Disruption, mau tidak mau, sukarela atau terpaksa, membuat kita wajib untuk belajar terus-menerus berinovasi dengan kemampuan terbaik yang kita punya. Fase inilah yang membuat era digitalisasi menjadi titik perhatian baru, menggeser kebiasaan masyarakat, ditambah dengan menghempaskan mereka-mereka yang tidak mau berubah dan mengadaptasi perubahan. Kalau kita kenal dengan Kodak  sebagai raja produsen alat potret pada masanya, saat ini hanyalah menjadi kenangan saja setelah setiap smart phone memiliki fungsi foto, bahkan masih ditambah bisa diedit dengan level terbaik. Jaman dulu, kita masih kenal Nokia dengan mottonya “Connecting People” yang begitu mendominasi pasar HP, setelah masa android tiba, namanya meredup (untuk tidak dibilang menghilang), dan diganti dengan “penguasa” alat komunikasi lainnya. Era digital juga merambah kepada industri transportasi dan layanan jasa manusia era ini, adanya ojeg daring, dengan berbagai layanannya menjamur sekali sehingga membuat ojeg konvensional seperti kebakaran jenggot dengan isu penolakan dibeberapa tempat. Bagaimanapun, ketika era digitalisasi ini masuk seperti gelombang besar, maka siapapun yang enggan berubah, maka akan tergusur atau mati. Seperti kisah kodak nokia diatas.

Bagaimana dengan dunia pendidikan ?. Tantangan yang dihadapi para siswa saat ini juga tidak mudah. Skill abad 21 yang diperlukan untuk dikuasai siswa menjadi mutlak untuk dikuasai, beberapa akan diuraikan lewat catatan pendek ini

Kolaborasi

Masa yang akan datang, dimana persaingan sudah tidak lagi antar daerah, namun sudah antar negara (bahkan sudah mulai terasa saat ini), mewajibkan anak-anak kita memiliki skill flexibility menghadapi keadaan, bukannya berfikir strict, kemampuan flexibility ini menunjang agar anak-anak kita lebih lentur dalam menghadapi keadaan. Siap memiliki plan B, C dan seterusnya untuk menghadapi persoalan. Ditambah lagi dengan kemampuan bahasa asing yang memadai, sehingga adanya komunikasi yang baik dengan rekannya yang lain (bahkan antar negara), akan membuat kerja sama yang apik, pertukaran ilmu dan budaya, menjadi lebih arif dalam perbedaan, dan tidak kaget dengan heterogenitas.

Intellectual Curiosity

Istilah ini saya dapatkan dari buku Creating Innovators tulisan Tomy Wagner, didalam salah satu halamannya, beliau mengutip saat sesi wawancara dengan pencari bakat Google yang bernama Judy gilbert. “Apa kompetensi yang anda syaratkan untuk menerima pegawai Google ?” tanya Tomy. Pertanyaan ini tentu saja kita mahfum, bahwa saat meraksasanya google saat ini, dimana didominasi oleh orang-orang terbaik didalamnya, serta begitu dirindukannya oleh bakat-bakat terbaik untuk bekerja disana, menjadi kunci penting untuk menerima SDM  didalamnya. Lalu apa jawab om Judy ?, “tentu saja kami merekrut orang pintar disini, yang pintar coding dan memiliki skill diatas rata-rata, kemudian ada skill lagi yang kami syaratkan, yakni Intellectual Curiosity, kemampuan untuk bisa “mengendus masalah”, mencari tahu ada dimana sekaligus menyelesaikannya. Alih-alih untuk menyalahkan orang lain terhadap masalah itu, atau menunggu orang lain untuk menyelesaikannya, orang dengan bakat ini akan menyelesaikannya dengan cara terbaik yang dia mampu. Singkat kata, kemampuan ini, tentu saja memiliki syarat orang yang mau belajar terus, atau pembelajar sejati. bagaimana tidak, ketika masalah baru muncul, tentu saja dia harus bisa mempelajari teknik penyelesaian terbaru.

Semoga catatan singkat ini memiliki andil dalam perubahan ke arah yang baik, untuk anak-anak bangsa di masa depan yang akan mengisi bumi ini dengan sepenuh kebaikan.

Smoga bermanfaat !

Salam hangat,

Dedy Setyo

*Tulisan ini merupakan bahan yang sama saat penulis menjadi pembina upacara 17an.

Journey Notes Consultant For Change (C4C) Part1

Anyway this is a little report about training that I have been choosen from NAMA Foundation. Yes, NAMA Foundation is a organization who have activity to empoweering others, educate peoples which coming from many sector. Back again to what iam writing right now, just highlighted to you, this is only my way to documentation i ever got, so if I need someday, i just access my blog.

notice : May you found any text un normally wkwk, un structured, and absurd also.. 🙂

Prolog

long time ago, if i not mistaken, in march 2018, we have information about this agenda, there are seven or eight line, to recruit any peoples form seven country. in short story, we ve just submit our curriculum vitae to english, and then every transportation and acomodation will be covered by NAMA Foundation.

After 2 month, i forgot about this event, but suddenly i got e-mail from foreigner, inform to me that i have to prepare passport and journey to Kuala Lumpur, Malaysia. btw form Indonesia just have choosen 8 participant. Waduh, this is important event i think.

First day.

This is my new experience can meet many peoples form any countries, any background activity and knowledge. btw this is very good moment to meet them who have any incredible experience, some of them are graduated from Ph.D program in their country.

Material

i got about “the infinite loop of change” from Mr. Houssari Mouhammad (our speaker, thanks a lot for many experience and knowledge you ve share to us 🙂 ), he said there are four change step process are :

1. Awareness

Awareness is a situation that as a leader have to know about the condition. May we not face it face to face, but the problem has really happen in our organization. So, how we know if there is a problem in our organization.

This is first step that we split it into two part, form internal we can do research, what exactly happen in our organization through HR Departement, Management etc based on our target yearly or monthly.

from external we can know from our customer needs, what is customer need right now, this is still same with 5 month ago, or change it.

2. Will

We must make sure that we have “will” for change. Related with step before, our evidences that we faced in level awareness, supposed to be can be reason to making will to our organization.

In operational level, “will” can be some agreement from management until departement to change in where areas to priority to change.

3. Plan

Next step after will get the areas that have priorities to change is making a good plan. We know from good quotes, “making a good plan, is half of successful, but if not have a plan, equal with making planing to failed”.

Making good plan, can be start from, “where is the new target or destination?”

4. Change

So, after we have a plan, so lets executed it. Not really to long, because can be our plan can’t exist if the problem really leave from our organization.

Oya, don’t forget that this is a loop that mean there are 4 step always have not finish line yet, so after you execute the change, you should start from first step (awareness).  Because the change is a life time. So who can not change, will be ready for falling down.

IMG-20180511-WA0006

Taking picture with Tanzanian participant and Indonesian

IMG-20180511-WA0049

Sharing session

IMG-20180511-WA0036

With Yamani