Romantisme ala Remaja Penggerak Perubahan

Setiap pertengahan bulan Februari, sebagian remaja menganggapnya sebagai hari kasih sayang. Mereka yang sedang galau dengan momen ini akan mengatakan, “Begitulah cinta, deritanya tiada pernah berakhir”. Bagi Anda penikmat serial TV Sun Go Kong (Kera Sakti) era 90-an, Anda pasti bersepakat kalau kalimat ini demikian terkenal kala itu. Seperti kata si Pat Kay yang berkali-kali gagal dalam kisah cintanya.

Namun Saya masih meyakini, masih lebih banyak jumlah remaja kita yang masih “waras”, sehingga tak ada hari yang spesial untuk mengklaim nya sebagai hari cinta.

Kisah percintaan, mulai dari Romeo-Juliet, Laila-Majnun, sampai dengan Rahul-Anjali (di film India legendaris Kuch-Kuch Hotta Hai tahun 98), selalu memberikan pesan penting bahwa cinta itu selalu menggerakkan pelakunya. Menggerakkan untuk berkorban, melewati lautan, mendaki gunung dan bukit, hingga rela mati karena bucin (istilah Buta-Cinta yang populer hari ini).

Menurut sebagian orang, cinta memang resiprokal. 10 yang Anda terima, akan menuntut 10 lagi yang musti Anda berikan. Makin banyak yang Anda dapatkan, maka siap-siap Anda akan mengeluarkan sebanyak itu pula, Anda boleh sepakat atau tidak tentang hal ini. Tapi tidak dengan para remaja ini, cinta dan pengobanan mereka tak berharap balasan. Disaat banyak seumurannya yang terkena “virus merah jambu”. Cinta ala mereka adalah dengan mengobarkan semangat perubahan kepada orang-orang disekitarnya. Mereka gelisah dengan kondisi masyarakat dan alamnya yang terganggu. Sekaligus mengabarkan kepada kita, bahwa cinta yang besar itu, memantik inspirasi dan gagasan yang bermanfaat untuk dunia dimasa yang panjang.

Dua orang remaja yang hidup dimasa abad 21 ini menginspirasi jutaan remaja lainnya untuk ikut bersama-sama peduli dalam bidang pendidikan dan lingkungan. Namanya Malala Yousafzai dan Greta Thunberg. Mereka adalah pelopor pergerakan besar diabad ini.

Malala Yousafzai 

Malala merupakan gadis remaja dari Lembah Swat Pakistan yang saat pendudukan Taliban disana, terkena imbas kekejaman mereka. Malala merupakan putri dari seorang guru yang bernama Ziauddin Yousafyai. Seorang Ayah yang menjadi pendorong dan penyemangat putrinya untuk mencintai belajar.

Malala Yousafzai

Seperti remaja usia sekolahan yang lainnya, yang mengisi hari-harinya dengan berangkat sekolah diawal pagi, Taliban pada awalnya tidak masalah dengan hal ini. Seiring dengan berjalannya waktu, Taliban membuat pembatasan-pembatasan, termasuk diantaranya melarang perempuan disana untuk sekolah. Tidak hanya melakukan pelarangan untuk para siswi belajar di sekolah, bahkan ditambah dengan ancaman jika tetap nekat berangkat akan ada konsekuensi lanjutan.

Suatu hari, BBC (kantor berita internasional) datang memberikan kesempatan bagi para siswa yang ingin menulis catatan harian melalui blog (berbahasa urdu) seputar kejadian disekitar mereka. Malala berkeinginan untuk menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, bahkan disupport penuh oleh ayah dan ibunya.

Ibunya berkata “Kebenaran yang harus datang, dan kepalsuan harus mati”. Ya dengan cara inilah kebenaran akan bersuara lebih lantang dari sebelumnya.

Demi alasan keamanan, Malala diberikan nama anonim yakni Gul Makai. Malala rutin menulis kegiatan sehari-harinya, suasana hati dan ketakutan Malala beserta teman sebayanya yang ingin bersekolah secara normal, namun terhalang karena ancaman-ancaman yang ada. Ternyata tulisan Malala (walaupun dengan identitas anonim), berhasil memantik perhatian sekaligus keprihatinan dari banyak masyarakat, tidak hanya dari Pakistan saja, namun juga dari negara-negara lainnya terutama setelah tulisan tersebut ditransliterasi kedalam bahasa inggris.

Dengan cara inilah dunia jadi lebih tahu apa yang terjadi, bahwa keinginan remaja untuk meraih pendidikan, mendapatkan banyak halangan bahkan ancaman jiwa. Suara Malala lebih “lantang” lagi setelah identitas aslinya dibuka ke publik, waktu itu Taliban berhasil dipukul mundur sejenak oleh Pemerintah Pakistan. Mulai saat itu, Malala dengan identitas aslinya banyak diminta untuk berbicara tentang keprihatinan yang telah terjadi. Malala telah dikenal dunia. Hal inilah yang mengakibatkan Taliban “mengincar” Malala untuk menjadi target pembunuhan berikutnya.

Tanggal 9 Oktober 2012, siang hari saat sepulang dari sekolah, bus itu menjadi saksi bahwa percobaan pembunuhan kepada Malala benar-benar terjadi. Malala beserta teman-temannya menjadi sasaran penembakan anggota Taliban. Untungnya, Malala dan teman-temannya walaupun terkena tembakan berhasil diselamatkan. Dengan tindakan medis yang rumit bahkan hingga dilarikan sampai ke Inggris (dengan bantuan komunitas internasional), Malala berhasil melalui rangkaian operasi bedah di kepalanya. Proses recovery yang sangat panjang, dengan bantuan banyak ahli medis dan fisioterapis, membuat Malala mendapatkan “kehidupan baru”.

Kejadian-kejadian ini tidak membuat nyali Malala ciut, bahkan “nyanyian” Malala malah lebih kencang dari sebelumnya. Malala diundang dibanyak negara seperti AS, Nigeria, PBB dan forum-forum internasional  untuk menyemangati dan menginspirasi bahwa perjuangannya belum usai. Malala telah menjadi simbol bagi belasan juta remaja putri di Pakistan untuk memperjuangkan haknya dalam pendidikan.

Malala di forum PBB. Sumber : Aljazeera

Tahun 2013, Malala dinobatkan oleh Majalah Time sebagai 100 orang yang berpengaruh didunia.  Sementara setahun sesudahnya (tahun 2014), Malala memperoleh nobel perdamaian saat umurnya baru menginjak 17 tahun. Kiprah Malala, tidak hanya memiliki pengaruh kepada sebayanya di Pakistan, namun juga diseluruh dunia.

Greta Thunberg

Bagaimana dengan Greta Thunberg ?. Kisah remaja asal Swedia ini juga menginspirasi banyak orang untuk bergerak. Thunberg pertama kali mendapatkan liputan berita, saat dirinya menjadi demonstran tunggal di luar gedung parlemen Swedia pada Agustus 2018. Aktivis berusia 15 tahun itu mengajak remaja dunia lainnya untuk “mogok sekolah untuk iklim”. Thunberg mempopulerkan gerakan ‘Fridays for Future’ (gerakan setiap Jumat) yang mendorong pemerintahan Swedia untuk mengambil tindakan tegas dalam memerangi perubahan iklim, khususnya dalam mengurangi emisi karbon di lingkungan.

Akhir Tahun 2018, Thunberg diundang untuk memberikan pidato pada Konferensi PBB untuk bicara tentang perubahan iklim di Polandia. Kalimat-kalimat Thunberg itu menginspirasi banyak orang untuk mendukung gerakan ‘Fridays for Future’ yang dimulai olehnya.

Fridays for Future. Sumber : http://redgreenandblue.org/

Pada 20 September 2019, sekira 4 juta orang yang sebagian besar seumuran dengannya, turun ke jalan untuk melakukan 2500 aksi yang digelar lebih dari 160 negara ditujuh benua. Aksi ini tergolong sebagai unjuk rasa iklim terbesar dalam sejarah dunia.

Sempat masuk sebagai nominator penerima Nobel perdamaian, Thunberg mendapatkan ganjaran sebagai Ambassador of Conscience oleh organisasi hak asasi manusia Amnesty International. Majalah TIME juga menobatkan Greta Thunberg sebagai TIME Person of the year pada tahun 2020.

Greta di forum PBB. Sumber : https://static.theprint.in/

Greta Thunberg telah menginspirasi jutaan manusia lainnya diberbagai negara, bahwa masalah lingkungan hidup bukan hanya menjadi issue dinas lingkungan hidup semata, namun juga menjadi pembahasan di seluruh dunia. Bahkan tidak hanya dijaman ini saja, karena lingkungan hidup ini juga menjadi warisan generasi berikutnya. Seperti pada kalimatnya saat diwawancara, “Kita tidak bisa terus hidup seperti tidak ada hari esok, karena memang ada hari esok”.

Greta dan Malala dalam satu pertemuan di Oxford UK. Sumber : Instagram Greeta Thunberg

Dua remaja hebat diatas, memang tidak akan habis dibicarakan pada tulisan ini. Kecintaan mereka pada masyarakat dan lingkungannya, menimbulkan efek menggerakkan rasa kepedulian, pengorbanan, dan mengobarkan semangat baru. Tidak hanya pada negaranya saja, namun juga pada masyarakat dunia. Tidak hanya dikenal saat ini saja, namun juga dimasa-masa berikutnya.

Cinta memang tidak harus selalu berbalas pada masa yang sama, namun efek cinta nya, selalu berhasil melampaui ruang dan waktu.

Membangkitkan Raksasa di Kelas Kita

Tugas para orang tua dan guru dalam proses perkembangan anak-anak/para siswa, sejatinya adalah membawa mereka sampai pada potensi terjauhnya. Howard Gardner (pakar psikologi perkembangan AS) pada tahun 1983 pernah menulis tentang multiple intelligence (kecerdasan jamak) melalui bukunya yang berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, bahwa setiap manusia sebenarnya tersimpan berbagai macam kecerdasan dari lahirnya, mulai dari kecerdasan musik, logic-matematika, kinestetik (olah fisik) dan lainnya seperti diilustrasikan dengan sangat baik pada gambar berikut.

Illustrasi oleh JR Bee. Sumber Verywellmind.com

Ada 8 macam kecerdasan yang pada masanya Gardner berhasil mengidentifikasi betapa manusia ternyata memiliki sekian banyak potensi untuk mencapai titik terjauhnya. Jika kita masih melihat siswa atau anak-anak kita masih “tergopoh” pada satu hal, jangan-jangan tujuh yang lainnya belum secara seksama kita lihat lebih dalam.

Ada kisah menarik yang disarikan dari film Blind Side, dirilis tahun 2009, disutradarai oleh John Lee Hancock. Film ini diadaptasi berdasarkan kisah nyata, diambil dari buku The Blind Side: Evolution of a Game yang ditulis oleh Michael Lewis pada tahun 2006.

Kisah ini dimulai dari masa kecil Michael Oher yang lahir dan dibesarkan didaerah pinggiran kumuh di kota Memphis, Tennesse. Keluarganya termasuk kalangan ekonomi menengah ke bawah disana. Pada umur dimana Oher kecil masih butuh besarnya perhatian dari orang tuanya, Ayahnya sering keluar masuk penjara, sementara Ibunya kecanduan alkohol dan cocain. Walhasil tumbuh kembang Oher tidak optimal. Oher ini secara fisik sangat tinggi besar dibanding teman-temannya sehingga sering dipanggil Big Mike oleh yang lain.

Michael Oher di daerah pinggiran kumuh Memphis (Film The Blind Side, 2009)

Dia mengulang tahun pertama dan kedua sekolahnya, datang ke 11 sekolah lainnya karena sering pindah-pindah sekolah, sehingga Dia menghabiskan 9 tahun pertamanya di sekolah dasar. Di sekolahnya yang terakhir, IQ nya terhitung hanya 80, ditambah dengan kesulitan membaca dan memahami kosa kata baru. Hal ini membuat para gurunya kesulitan untuk memberikan pengajaran kepada Oher, sehingga sering sekali Oher hanya mendapatkan nilai E atau nol, karena dilembar jawaban hanya tertulis nama nya saja, tapi tidak dengan jawaban dari soal/pertanyaan ujian. Sampai disini sebenarnya para guru masih sering mendiskusikan dengan cara apa agar Oher bisa lebih baik lagi di esok hari. Para guru belum menyerah,  karena meyakini kalau Oher punya potensi.

Singkat  cerita, Leigh Anne dan Sean Tuohy, pasangan suami istri ini mengadopsi Oher. Leigh Anne merasa kasihan dengan Oher kecil karena latar belakang keluarganya yang kelam. Tidak hanya memberikan kesempatan tinggal di rumahnya, mensupport kebutuhan harian, membelikan baju baru dan berbagai perlengkapan sekolah lainnya, keluarga baik ini juga mencarikan guru privat tambahan untuk bisa datang ke rumahnya. Keluarga ini memang dikenal keluarga yang baik, selain juga memiliki kemampuan ekonomi yang mapan. Sean Tuohy merupakan bisnismen yang memiliki restoran tidak kurang dari 85 titik di kota itu.

Perhatian keluarga ini kepada Oher juga terlihat dari kemampuan melihat potensi Oher yang selama ini belum terlihat. Saat dilakukan psikotes, ketika pada banyak aspek, skornya sangat kecil, namun untuk bagian “naluri melindungi”, Oher memiliki skor 98. Skor ini sangat tinggi dan terlihat dari keseharian Oher. Bahkan pernah ada insiden kecelakaan berkendara bersama Oher dan anak kandung Anne (bernama SJ), karena naluri melindunginya yang tinggi, Oher menahan pecahan kaca mobil dengan lengannya, sehingga  SJ selamat dari kecelakaan mengerikan itu.

Leigh Anne dan Sean Tuohy memahami bahwa kekurangan Oher dalam bidang akademis, tertutupi oleh kemampuannya yang lain, yakni kemampuan “melindungi”. Hal ini pulalah yang menginspirasi mereka untuk mengasah kemampuan Oher dalam olah raga Football. Football ini termasuk olah raga favorit disana. Dengan karakteristik olah raga adu fisik yang cocok dengan badan Oher, dan kemampuan “melindungi” nya yang tinggi, maka melindungi bola agar tidak mudah direbut musuh-musuhnya menjadi keahlian Oher yang mumpuni. Waktu berjalan cepat, kemampuan Oher ini akhirnya dikenal oleh banyak club profesional disana, mereka sangat semangat untuk menawarkan dan mengundang Oher agar bisa bermain untuk tim nya. Akhirnya Oher memilih untuk masuk ke tim Ole Miss Rebel, seraya mendapatkan beasiswa ke Universitas Missisipi.

Poster Film The Blind Side, 2009.

Oher akhirnya dikenal sebagai pemain football yang sukses dengan banyak catatan prestasi dimasa depannya.

Apa yang terjadi pada Oher ini, anak-anak dengan latar belakang keluarga yang menyedihkan, ditambah dengan kemampuan akademik yang pas-pasan, bisa jadi banyak terjadi dalam kelas-kelas kita. Betapa banyak anak-anak kita yang seharusnya mereka memiliki potensi besar di sisi yang “tidak terlihat” hingga kini. Karena bisa jadi kita sibuk pada “sudut teropong” dari satu sisi, namun belum nampak pada sisi yang lain. Selaras dengan judul film The Blind Side (sisi buta), yang mengajarkan kita, bahwa selama ini banyak keterjebakan kita dengan salah melihat, karena hanya melihat dari satu sisi itu saja.

Apa pesan moral dari kisah Michael Oher ini ?, sesungguhnya saya kira banyak sekali, namun agar Anda makin penasaran menonton filmnya sendiri, saya ambilkan tiga saja.

1. Mencari dan menggali potensi terbaik dari para siswa kita.

Diskursus tentang kajian ini, teman-teman dari psikologi atau BK yang lebih paham, ada beberapa alat tes yang bisa mengukur baik secara genotip (gen, turunan dari orang tua) ataupun fenotip (kombinasi gen dan intervensi lingkungan). Cara pengambilannya juga bermacam, ada yang lewat sidik jari, ada juga dari pengambilan lewat tes tulis atau wawancara. Semakin kesini, beragam rupa tes ini dengan kelebihan dan kekurangannya akan lebih mengkayakan sekolah atau orang tua untuk memilih yang terbaik

Hasil penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) juga bisa menjadi gambaran,  bahwa sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia mengakui jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya. Survei pada 2017 itu juga menemukan ‘salah jurusan’ bisa berdampak pada studi. Jangan sampai keadaan ‘salah jurusan’ ini diperparah dengan kekeuhnya orang tua untuk memaksakan jurusan kuliah anak-anaknya.

2. Mendorong potensi ini mencapai titik terjauhnya

Tugas kita sebagai guru atau orang tua adalah membimbing dan memfasilitasi, jelaskan pilihan-pilihan itu beserta hal apa saja yang perlu dikuasainya saat ini dan dikuatkan nantinya. Memang tak banyak keluarga yang semampu keluarga Leigh Anne dan Sean Tuohy, namun dimasa keterbukaan informasi saat ini, akses terhadap informasi melalui dunia maya juga bisa mendorong tumbuhnya potensi anak-anak kita makin melejit. Dengan apa ?, yang paling awal pastikan anak-anak kita mencintai belajarnya. Uraian lebih lengkap bisa dibaca pada tulisan saya yang berjudul “Pemelajar otonom” yang sempat dipublish oleh harian nasional Republika.

3. Komunikasi yang baik antara pihak guru, orang tua, wali kelas dan BK.

Keunikan anak-anak kita dengan segala macam potensinya, akan juga membuat pola didiknya juga unik. Hal ini yang perlu dikomunikasikan dengan baik antar pihak ini. Temuan potensi Oher pada “naluri melindungi”, awalnya terjadi karena komunikasi yang apik antara orang tua angkatnya dengan wali kelasnya. Sehingga hal ini yang mendorong orang tua Oher untuk mencari jalan terbaik bagi potensinya.

Setiap sekolah memiliki cara yang beragam untuk merakit komunikasi yang harmonis ini. Bisa diawal tahun, pembagian raport, atau dilakukan secara rutin dengan jadwal yang disepakati. Dan sekali lagi, karena anak-anak kita unik, maka pembicaraan intens dan mendalam pastinya membutuhkan porsinya yang cukup.

Saya salut dengan peran guru seperti Pak Guru Nikumbh pada film Taare Zameen Paar (Like Star On Earth, film India produksi tahun 2007), dimana siswa yang bernama Ishaan Awasth, yang mendapatkan banyak label kemalasan dan kebodohan, belum bisa membaca pada umurnya yang 8 tahun, ternyata mengidap dyslexia (gejala psikologis yang membuat tiap kata/huruf yang tersusun pada tulisan terlihat terbolak balik acak). Pak Guru Nikumbh ini yang berkomunikasi dengan apik kepada orang tua Ishaan dengan membawa portofolio seninya. Diakhir cerita, bakat istimewa Ishaan ternyata di seni lukis.

Kita perlu dan patut curiga, di kelas-kita saat ini jangan-jangan masih banyak “raksasa” yang tertidur pulas, “raksasa” yang dengan potensi besarnya belum optimal kita pantik. Hayuk kita bangkitkan “raksasa” ini segera, karena dunia sangat membutuhkan mereka.

Yakinlah, diantara mereka akan ada yang jadi pemimpin Indonesia bahkan dunia dimasa mendatang. Tetap semangat mendidik generasi.

Kampus Mengajar; Mencari Guru Tangguh untuk Negeri

Anand Kumar, pagi itu Dia bergegas untuk segera menuju kelasnya, Dia akan mengajar Matematika kepada 30 siswanya yang spesial, di sekolah yang sama spesialnya.  Siswa-siswa istimewa itu Dia “dapatkan” dari Bihar, salah satu daerah termiskin di India. Para siswanya digratiskan memperoleh pendidikan dan pembelajaran dari sekolah yang didirikan Anand. Tidak hanya sekolah, bahkan juga tinggal dan menginap disana. 30 siswa ini merupakan hasil seleksi dari sekian banyak pelamar dari daerah-daerah miskin dan tertinggal, mereka memiliki mimpi yang tinggi, namun terkendala dengan keterbatasan ekonomi. Jangankan untuk mengincipi bangku pendidikan yang pantas, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja susah. Anand sendiri juga bukan dari golongan cukup, semangat juangnya yang tinggi seolah-olah mampu merontokkan berbagai kendala yang menghadang.

Anand Kumar mengajar mereka dengan sepenuh hati walau ditengah keterbatasan sarana, tidak ada gaji, sokongan dana yang cukup, terbatasnya sumber dan bahan ajar yang memadai, bahkan ancaman persaingan dan “ketidak sukaan” pejabat setempat.

Anand Kumar sedang mengajar. Sumber : newindianexpress.com

Ditengah keterbatasan yang beragam rupa itulah, Anand beserta para siswanya tetap suka cita menjalani proses pembelajaran yang ada. Mempraktekkan rumus-rumus dasar yang berada dibangku kelasnya, untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Konsep ini khas pada sekolah Anand, pembelajarannya melekat karena dipraktekkan sehari-hari, sehingga membantu pemahaman mereka lebih panjang.

Singkat cerita, ada satu momen dimana 30 siswanya mengikuti seleksi masuk kampus favorit disana, Indian Institue of Technology (IIT) namanya. Karena favorit, kampus ini banyak pelamar dan ikut melakukan seleksi masuk. Banyak orang yang ragu, mencibir dan cenderung meremehkan siswa-siswa Anand, mengingat betapa sangat “compang camping” nya para siswa dan keterbatasan mereka. Namun diluar dugaan, semua siswa Anand diterima masuk di IIT. Para siswa ini memulai dengan percaya, dengan pendidikan yang memadai, akan mampu memutuskan rantai kemiskinan di keluarga mereka, sehingga daya upaya mereka berlelah dalam belajar keras akhirnya membuahkan hasil.

Anand Kumar merupakan sosok istimewa, kisah nyata diatas ini terjadi benar adanya. Publikasi papernya tentang “Number Theory” pernah dipublikasikan pada jurnal “Mathematical Spectrum” setelah lulus SMA. Karena kepintarannya, dirinya bahkan sempat diterima di University of Cambridge UK, namun karena keterbatasan ekonomi keluarga diikuti oleh sakit dan meninggalnya orang tuanya, akhirnya urung berangkat ke Inggris sana. September 2014 lalu, pernah diundang ke Harvard University dan MIT AS, untuk berbicara tentang perjuangannya membangun sekolah itu.

Anand Kumar merasakan pada dirinya, hambatan ekonomi yang begitu rupa, menyebabkan cita-citanya kandas. Tidak hanya di India, bahkan di seluruh dunia, kemiskinan dan kebodohan merupakan sekutu abadi yang dapat memberangus generasi. Dengan apa lingkaran setan itu diputus ?, dengan pendidikan !.

Kemiskinan dan kebodohan merupakan sekutu abadi yang dapat memberangus generasi. Dengan apa lingkaran setan itu diputus ?, dengan pendidikan !.

Ada hal yang menarik jika sedikit kita sambungkan dengan perspektif Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998 asal India. Menurut Sen, kemampuan (kapabilitas) manusia untuk berkehendak dan leluasa memilih jalan kehidupannya merupakan modalitas yang teramat berharga, karena kapabilitas ini akan memberikan kemerdekaan kepada pemiliknya untuk menjadikannya mewujud nyata menjadi sesuatu yang bernilai. Kemudian, akses-akses penting terhadap berbagai sumber akan makin terbuka.

Amartya Sen, peraih nobel dalam bidang ekonomi tahun 1998

Jika pintu kesejahteraan itu selama ini masih tertutup rapat dan kuat, maka yang Anand lakukan adalah membuatkan kuncinya, dengan akses yang bernama pendidikan. Dengannya, kesempatan generasi berikutnya untuk hidup lebih baik dari leluhurnya, akan makin terbuka lebar-lebar.

Program Kampus Mengajar

Belum lama ini Mas Nadhiem, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI meluncurkan program Kampus Mengajar, program ini dianggap sebagai terobosan menarik dalam dunia pendidikan saat ini. Para mahasiswa pada semester 6 atau lebih tinggi diberikan kesempatan untuk mengajar di daerah 3 T (Terluar, Tertinggal, Terdepan) seluruh Indonesia. Para mahasiswa ini selama 12 minggu akan berada pada sekolah (terutama SD) dan melakukan proses pengajaran disana.

Mulai berjalannya pandemi sedari tahun lalu hingga saat ini ditambah dengan berbagai keterbasan yang ada, diprediksi banyak para siswa kita yang terputus pendidikannya, terutama para siswa yang masih belia. Untuk masa yang panjang dimana kita belum tahun kapan pandemi ini berakhir, program ini mudah-mudahan bisa menjadi solusi yang tepat.  

Bulan Oktober 2020 lalu Kemendikbud memprediksi bahwa Indonesia akan kekurangan 1 juta guru sepanjang kurun tahun 2020 sampai dengan 2024. Angkanya ditaksir terus menerus meningkat seiring dengan tahun berjalan. Para mahasiswa yang turun ke masyarakat ini diharapkan juga dapat mengisi “gap” kekurangan jumlah guru dibanyak sekolah.

Selaras dengan visi Anand Kumar dalam memajukan masyarakat India melalui jalur pendidikan pada paragraf sebelumnya, maka program ini juga melewati jalur yang sama (pendidikan), dan akan lebih baik malah jika kita bisa menyiapkan Anand-Anand berikutnya versi kita dimasa depan. Sehingga dimasa mendatang, Indonesia tidak kekurangan model seperti Anand ini.

Setidaknya ada beberapa unsur terkait yang musti padu-padankan agar pelaksanaannya dilapangan menjadi sinkron, yakni Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan, sekolah dan masyarakat. Ada beberapa sudut pandang perhatian :

1. Membangun “spirit kerelawanan” dari para mahasiswa.

Hasil survey dari Fidelity Charitable (sebuah lembaga independen yang mengelola dana filantropi di Amerika Serikat), pada bulan Mei 2020 menyatakan bahwa hampir setengah dari para responden milenial (seumuran dengan mahasiswa ini), 47 %, mengaku terpaksa mengurangi atau bahkan menghentikan kegiatan kerelawanannya selama masa pandemi ini.

Spirit yang melemah ini tentunya perlu menjadi perhatian. Masa pandemi covid19 yang panjang, ditambah Indonesia dengan letaknya di deretan cincin gunung berapi dan berbagai potensi bencana alam nya, dimasa yang akan panjang butuh support semesta, termasuk warga negaranya yang ambil bagian dalam penanganan bencana. Jika kurikulum penanggulangan bencana (mitigasi, antisipasi, edukasi dll) disekolah mendapatkan tempatnya secara strategis, akan menjadi aset penting dimasa depan.

2. Membekalkan keterampilan lapangan yang tepat guna untuk masyarakat.

Survey dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga perlu menjadi perhatian, stress nya anak-anak yang melakukan Belajar dari Rumah (BDR) semenjak masa pandemi ini, harapannya bisa mendapatkan treatment yang sesuai. Jumlah guru BK dan berbagai sarana yang terbatas harapannya perlu segera mendapat support dari program ini.

Pembekalan “stress healing” atau “stress management “ untuk para mahasiswa yang akan terjun ke lapangan, harapannya akan lebih mengakselerasi penyelesaian masalah-masalah yang selama ini ada. Tidak hanya masalah akademik, namun juga non akademik termasuk penanganan stress para siswa.

Kita sama-sama berharap dan berdoa, semoga banyak hal besar yang bisa diraih. Untuk hari ini dan nanti.

Kaca Mata Pertumbuhan

Namanya Mary, Dia baru berumur 7 tahun saat berada dikelas 1 SD, tak seperti teman-temannya yang lain yang “baru” sibuk belajar tentang penjumlahan 2+2, Mary malah mengerjakan segepok soal matematika yang diberikan oleh gurunya. Gurunya tahu kalo Mary berada dilevel yang berbeda dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Dengan jumlah soal yang lebih sukar dan banyak sekalipun, kecepatan Mary mengerjakan soal-soal itu nampak lebih sangat unggul dibanding teman-temannya. Bahkan saat dia berumur 6 tahun, buku berat ilmuwan matematika Charles Zimmer tentang “Transisi dalam Aljabar Tahap Lanjut” pun, sudah khatam dibacanya. Semua soalan matematika level mahasiswa, sudah selesai bagi Mary. Namun ada hal yang menciderai prestasi Mary, beberapa kali dirinya tersangkut kasus perkelahian dengan sebayanya, dan mengakibatkan cidera serius ketika berkelahi. Mary tak memiliki satupun teman. Ada masalah asosial yang mengakibatkan Marry tidak mudah memiliki kawan karib.

Alih-alih ingin menyekolahkan ke sekolah anak-anak berbakat, pamannya malah menyekolahkan ke “sekolah biasa”, dengan harapan agar Mary biasa bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. Walaupun berkali-kali dipanggil oleh guru dan kepala sekolahnya karena problem yang ditimbulkan Mary, Pamannya ini (wali asuh Mary) tetap bersikukuh bahwa Mary harus tetap sekolah di “sekolah biasa”.

Potongan cerita ini merupakan fragmen singkat dari film fiksi “Gifted” (berbakat) besutan sutradara Marc Webb tahun 2017. Memang bukan berdasarkan kisah nyata, namun kondisi ini yang biasanya umum ditemui oleh anak-anak dengan bakat khusus dan istimewa.  Anak dengan kemampuan luar biasa sejenis Mary ini, biasanya lebih sering “teralienasi” dalam hubungan perkawanan. Cenderung sibuk dengan bakat unggulnya, namun kering dalam hubungan sosial dengan manusia lainnya, sehingga unsur relasi kemanusiaannya menjadi tidak nampak terlihat.

Film “Gifted” dirilis pada tahun 2017

Tidak ada yang salah dengan kondisi anak-anak “gifted” ini. Tugas orang tua nya sebenarnya adalah memberikan akses seluas-luasnya kepada potensi unggulannya, sembari melengkapi unsur kemanusiaannya yang tentunya akan banyak dibutuhkan dimasa kehidupannya mendatang.   

Pada konteks ini, akses kepada kehidupan yang lebih bermakna dan agung, sebagaimana layaknya manusia yang lain yang tetap berhubungan dengan sisi kemanusiaannya berupa rasa empati, kasih sayang, peduli dan lain-lain, perlu mendapatkan tempat yang cukup dan difasilitasi oleh orang-orang disekitarnya. Ketersediaan “akses”, sekali lagi menjadi kata kunci penting dalam membangun manusia dengan seperangkat asset fitrah kemanusiaannya.

Saat ini, dimasa pandemi yang nampaknya belum terlihat titik ujungnya, perhatian kita didunia pendidikan juga masih “samar-samar” karena persimpangan jalan didepan sana belum terlihat jelas. Semenjak mulai nya pandemi pada Maret 2020 yang lalu hingga saat ini, upaya segenap pendidik dan sekolah untuk terus mengusahakan pendidikan berkualitas ditengah keterbatasan, terus menerus menemui ujian.

Hampir selama setahun ini, anak-anak kita sudah dan masih merasakan proses belajar dari rumah. Untuk anak-anak yang memiliki akses kepada teknologi, jaringan internet, komputer dan gawai, walaupun ada keterbatasan dalam pembelajarannya, tetap bisa mengikuti proses belajar ini. Namun untuk anak-anak yang tak memiliki akses kepada hal-hal ini, maka bisa dipastikan hampir setahun ini mereka tak bisa belajar, dikhawatirkan sejumlah anak “tak berakses” ini akan menghadapi Learning Loss.

Ada berbagai definisi dalam menguraikan istilah Learning Loss, namun cara termudah dalam mendeskripsikan Learning Loss ini adalah jika Anda sebagai guru mendapati siswa Anda sudah paham di bab 1 pada Februari 2020, namun di Februari 2021 (setahun berikutnya) anak ini masih berada dilevel pemahaman bab 1 yang sama, artinya kurang lebih selama setahun ini mereka tak belajar apapun. Barangkali secara fisik “nampak” terlihat belajar, namun tak ada pertumbuhan apapun dalam pemahaman belajarnya.

Ada hal yang menarik jika sedikit kita sambungkan dengan perspektif Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998 asal India, beliau menuliskan “Development as Freedom” (1999) bahwa pembangunan merupakan proses pelapangan kebebasan masyarakat. Interpretasi keberhasilan pembangunan manusia diukur dari kebebasannya dalam berkehendak.

Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998 asal India

Menurut Sen, kemampuan (kapabilitas) manusia untuk berkehendak dan leluasa memilih jalan kehidupannya merupakan modalitas yang teramat berharga, karena kapabilitas ini akan memberikan kemerdekaan kepada pemiliknya untuk menjadikannya mewujud nyata (functioning), menjadi sesuatu yang bernilai. Kemudian, akses-akses penting terhadap berbagai sumber akan makin terbuka.

Singkatnya (dengan ilustrasi yang lebih sederhana), jika Anda saat ini mampu untuk membeli mobil, ini dinamakan kapabilitas. Menjadikannya lebih bermakna, yakni dengan mobil Anda, bisa ke tempat wisata bersama keluarga dihari libur. Dengannya Anda akan dapat memperoleh momen kebersamaan,  refreshing melepas penat. Berbagai akses kebebasan untuk pergi kemanapun Anda miliki.

Kapabilitas sebagian anak-anak yang belajar dari rumah dikhawatirkan akan mengalami learning loss inilah yang menjadi soalan. Karena sebagian mereka tak punya kapabilitas kepemilikan soal perangkat teknologi, keterampilan penggunaan alat-alat TIK, maka sampai ujungnya, mereka tak punya akses kepada pembelajaran yang berkualitas. Benarkah demikian ?.

Kacamata pertumbuhan belajar yang kita gunakan, pada masa ini seyogyanya memang lebih luas dan komprehensif. Alih-alih kita berfokus pada “kehilangan” sehingga menggunakan istilah learning loss, kita berfokus pada “learning growth” (pertumbuhan belajar) apa yang telah mereka pelajari. Sehingga energi positif, dimasa yang benar-benar kita butuhkan dimasa ini dapat bertemu dengan sumber mata airnya.

  1. Kemampuan digital para siswa dan guru melonjak berlipat-lipat hampir setahunan ini. Para guru yang tadinya belum bisa menggunakan internet, saat ini mereka “dipaksa” untuk melakukan video conference hampir setiap hari dengan siswa mereka.
  2. Berbagai pelatihan online/webinar marak sekali kita dapatkan setiap pekan, baik dari lembaga pemerintah/swasta. Jika intervensi pemerintah lebih massif, maka peta jalan pembangunan kompetensi SDM pendidikan dalam pengembangan kemampuan digital akan lebih terang dimasa depan.
  3. Pada para siswa yang beruntung menggunakan gawai dan internet, maka keterampilan digital literacy/internet literacy menjadi penting untuk bekalan kehidupan dimasa depan. Apalagi dimasa depan, mereka akan kita siapkan menjadi “warga negara global” (Global Citizen), sehingga saat inilah, bahkan dimasa yang sulit ini, kesempatan untuk boosting kecepatan mereka.

Didepan sana masih banyak “kabut” yang menghalangi pandangan, namun dengan kacamata yang lebih positif, diujung sana kita akan bertemu dengan banyak keajaiban. Semoga saat ini, dimana kita bertemu dengan berbagai tantangan, dapat menjadi momentum pertumbuhan dan akselerasi kemajuan.

Pemelajar Otonom

Artikel ini masuk pada laman koran nasional Republika pada 22 Januari 2021. Bisa dibaca pada https://www.republika.id/posts/13542/pemelajar-otonom


Kolumnis The New York Times, Thomas L. Friedman, peraih penghargaan internasional bergengsi Pulitzer Prize tiga kali ini, pernah menyampaikan dalam tulisannya yang berjudul “After the Pandemic, a Revolution in Education and Work Awaits”, bahwa setelah pandemi akan ada banyak revolusi besar dalam dunia Pendidikan, salah satunya ada pada bagaimana pengelolaan pembelajaran dilakukan pada saat masa pandemi kini, dan setelah pandemi, kita akan kesulitan kembali pada cara-cara lama (seperti sebelum pandemi). Nampaknya, perubahan besar dalam ranah pendidikan ini menemui momentumnya, justru setelah kita dapat musibah besar ini. Lanjutnya, menyiapkan siswa dengan rasa ingin tahu dan passion belajar yang tinggi akan membentuk mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat yang akan memiliki kepemilikan pada pendidikannya, merupakan kunci penting dalam kita membangun pondasi besar dalam masa depannya kelak.

Tantangan dimasa awal tahun 2021, setelah banyaknya daerah dan sekolah yang mengundurkan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) karena grafik wabah covid19 yang makin tinggi, adalah terus menerus memperbaiki proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang telah berjalan sedari Maret 2020 lalu. Dengan berbagai catatan peristiwa yang kita hadapi kurang lebih 9 bulan kebelakang, anggap saja ini adalah fase pertama untuk kita menapakkan kaki kita dimasa yang sesungguhnya berbeda dengan yang selama ini kita alami (sebelum pandemi).

Ilustrasi PJJ

Pembelajar sepanjang hayat

Sejatinya, proses pembelajaran yang kita lakukan kepada para siswa kita (dengan adanya pandemic atau tidak) adalah menyiapkan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pembelajar sepanjang hayat ini mutlak diperlukan dalam keadaan apapun. Karena kehidupan ini senantiasa berubah dan berkembang, maka niscaya jika dalam menjalaninya adalah dengan terus menyiapkannya dengan sebaik-baiknya.  Dengan apa ?, dengan menjadikan mereka mencintai belajar.

Pendidikan dan belajar sepanjang hayat didefinisikan sebagai pengembangan potensi manusia melalui proses yang medukung secara terus menerus yang menstimulasi dan memberdayakan individu-individu agar memperoleh semua pengetahuan, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan, dan pemahaman.

Semuanya itu akan diperoleh dalam keseluruhan hidup individu dan kemudian menerapkannya dengan penuh percaya diri, penuh kreativitas, dan menyenangkan dalam seluruh peran, iklim, dan lingkungan (Longworth dan Davies, 1996:22). Pada point ini, menyiapkan pembelajar sepanjang hayat pada diri siswa, akan menjadikan mereka menyenangi belajar, tidak hanya di bangku kelas dan kuliah, namun juga setelah menyelesaikan pendidikan formal.

Perbedaan pada prinsip PJJ dibanding dengan pertemuan pembelajaran tradisional, salah satu hakikatnya adalah pada “kebebasan” pembelajar untuk menentukan waktu, sumber ajar yang lebih terbuka, bahkan hingga targetan belajar yang lebih personalize sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Jika pada pembelajaran tradisional semua proses dilakukan secara klasikal dalam satu kelas, bahkan materi dan goals pembelajarannya disesuikan dengan cara yang homogen untuk semua kebutuhan siswa sekelas, maka kebutuhan individual belum dapat difasilitasi secara lebih banyak.

Namun, pada pelaksanaan PJJ dengan skema online yang dilakukan dari rumah masing-masing, pembelajaran akan dapat diselenggarakan dengan lebih dinamis, tidak tersekat antar ruang dan waktu. Pembelajar yang lebih cepat (fast learner) akan dapat menggali banyak materi, disisi lain pembelajar yang butuh lebih banyak waktu (slow learner) dapat melakukan proses pengulangan (remediasi) sekaligus mencari referensi dari berbagai sumber yang ada di dunia maya dengan tak terbatas.

Pembelajar otonom

Dalam otonomi pembelajaran, peserta didik bertanggung jawab pada proses belajar mereka sendiri. Richards (2020)  memaparkan ada 5 prinsip untuk meraih pembelajaran yang otonom: keterlibatan aktif peserta didik, menyediakan pilihan dan sumber-sumber (resources), menawarkan pilihan-pilihan dan kesempatan-kesempatan pengambilan keputusan, mendukung pembelajar, dan mendorong praktik refleksi. Oleh sebab itu, Richards (2020) berpendapat bahwa di kelas-kelas yang mendorong pembelajaran otonom, peran guru lebih kepada menjadi fasilitator pembelajaran sehingga peran sebagai instruktur berkurang, peserta didik tidak diarahkan untuk terlalu bergantung kepada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kapasitas peserta didik untuk belajar ,kesadaran akan gaya belajar,  dan strategi belajar  mereka diperkuat.

Pengelolaan PJJ yang efektif, sejatinya akan mengakselerasi siswa menjadi pembelajar otonom yang dapat mengelola sendiri waktunya, goals, strategi, evaluasi dan memperbaiki proses yang dijalani. Sehingga dengannya, pengembangan kapasitas dirinya merupakan misi internal yang dimiliki dengan atau tanpa intervensi orang lain. Mampu melejitkan potensinya dengan mengoptimalkan sumber-sumber yang ada, dan akhirnya berdampak pada kemajuan dimasa mendatang.

Belajar Mandiri

Sejalan dengan ini, Carol Dweck, Ph.D, pakar Psikologi dari Stanford University dalam bukunya “Mindset” menggambarkan bahwa pribadi yang unggul, memiliki motivasi internal kuat berupa Growth Mindset (Mindset tumbuh) yang dengannya akan siap sedia berlelah untuk belajar dan menghadapi tantangan, serta menganggap segenap tantangan itu sebagai media untuk terus memperbaiki diri dan tumbuh.

Kita berharap dimasa pandemic yang masih kita jalani ini, sebagai momentum pertumbuhan, menjadikan para siswa ini sebagai pembelajar otonom (dengan medium PJJ atau PTM) yang mencintai belajarnya sepanjang hayat (life long learner), sehingga dimasa depan kita memiliki generasi pembelajar sejati.

Penerapan praktis Knowledge Management di dunia pendidikan (Seri Knowledge Management #3)

Artikel berikut merupakan rangkaian/series dari topik Knowledge Management. Disarankan membacanya runtut dari awal agar mendapatkan gambaran utuh Why, What dan How nya. Selamat mengikuti.

Part 1 : Mengapa Knowledge Management ?
http://dedysetyo.net/2020/11/25/mengapa-knowledge-management/

Part 2 : Berawal dari Kue
http://dedysetyo.net/2020/11/27/berawal-dari-kue-seri-knowledge-management-2/

Part 3 : Penerapan praktis Knowledge Management di dunia pendidikan
http://dedysetyo.net/2021/01/06/penerapan-praktis-knowledge-management-di-dunia-pendidikan-seri-knowledge-management-3/

Record Video Webinar
Implementasi Knowledge Management dalam Dunia Pendidikan
Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=iarei_VoNtM
Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=g3k6HK2AzcY


Pada awalnya Knowledge Management (KM) merupakan disiplin ilmu yang banyak digunakan dalam dunia industri atau perusahaan, inspirasi dari Ikujiro Nonaka pada tulisan sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan Knowledge Management yang tepat, akan dapat membantu memutuskan rantai masalah yang terjadi dengan efektif. Kabar baiknya, Knowledge Management ini sebagai disiplin ilmu yang banyak beririsan dengan disiplin ilmu lainnya, kalau kita mempelajari bagaimana SOP (Standard Operational Procedure) dibuat, sebagai sebuah perwujudan dari KM, maka kita juga belajar tentang disiplin Business Process Management. Pada dunia IT, KM juga berkorelasi dengan Data Mining dan Information System. Pada dunia manajemen, KM bersentuhan dengan disiplin Organization Management.

Namun bagaimana tantangan menerapkan Knowledge Management dalam dunia pendidikan, lebih spesifik di sekolah ?. Apa saja manfaat penerapan KM dalam dunia pendidikan ?. Saya kira paling tidak ada dua sektor yang berperan sebagai produsen sekaligus konsumen pengetahuan , yakni Manajemen dan Guru/Pendidik nya. Saya coba inventaris ada beberapa manfaat sebagai berikut.

Manfaat penerapan KM di sekolah

Lalu dari mana kita mulai ?. Uraian ini akan membahasnya lebih dalam.

Paling awal, tentunya kita pastikan bahwa kita tahu dimana saja operasional sekolah bekerja.

Wilayah Penerapan KM di sekolah

Layanan di sekolah, secara umum dan inti berada pada domain pembelajaran, proses utama pembelajaran dari guru kepada siswa, pengembangan dan pelatihan guru, manajemen dimana semua keputusan diambil dengan berbagai pertimbangan dan case yang melingkupi, dan layanan daya dukung lainnya, termasuk didalamnya Penerimaan Siswa Baru (PSB) dan pendukung pencapaian prestasi siswa.

Dalam perjalanannya, sejauh umur sebuah lembaga berdiri, maka akan ditemukan banyak sekali peristiwa yang menjadi latar belakang, persoalan bahkan bagaimana persoalan itu ditemukan solusinya. Hal ini biasanya terserak dimana-mana, kalau bicara tentang penerimaan siswa baru, ini bisa ditemukan dibagian kesiswaan atau kehumasan, tentang prestasi akademik siswa ada di bagian kurikulum, tentang pengembangan kompetensi guru, ada diwilayah SDM dan seterusnya. Namun ada istilah yang selalu dilibatkan disana, yakni : data, informasi dan pengetahuan.

Apa beda Data, Informasi dan Pengetahuan ?

Tiga istilah ini sering kita temui dalam penyelenggaraan pendidikan, bahkan sudah menjadi istilah umum dalam masyarakat. Apa sebenarnya definisi dan penerapan yang tepat dalam menggunakan tiga istilah ini ?

Agar lebih memudahkan dalam penggunaan tiga istilah ini, saya mulai dari contoh-contohnya.

Contoh Data  :

• Si A, dan B tidak hadir jam ke 3 PJJ pada hari senin

• Si C dan D, berhasil menambah 100 kosakata baru bahasa inggris pada bulan ke 2 di sekolah

Dua contoh diatas mewakili bagaimana Data diungkapkan, artinya masih mentah sekali dan masih butuh proses lebih lanjut. Data sejatinya merupakan entitas yang tidak membawa arti, kumpulan dari fakta dan catatan tentang suatu kejadian.

Contoh Informasi (bersifat generalisasi) :

• 75% siswa memiliki koneksi internet yang stabil pada hari senin

• 80 % siswa kelas 11, rerata penambahan kosakata baru minimal 100 kata, ada 80% siswa.

Lebih dalam dibandingkan dengan “Data ” sebelumnya, Informasi merupakan hasil kompilasi, pengolahan dan statistik dari suatu data yang terkumpul.

Contoh Knowledge (Pengetahuan) => Pola/Pattern :

• Jika guru sudah memiliki persiapan 10 menit sebelum kelas PJJ dimulai, sebagian besar siswa akan lebih fokus dan siap dalam pembelajaran

• Jika setiap siswa diberikan kesempatan berbicara dalam Bahasa inggris minimal 10 menit sehari, maka akan menambah kosakata nya minimal 100 kata dalam satu semester.

Sehingga Knowledge merupakan hasil kompilasi informasi yang berbentuk pola/pattern, rule bahkan sekaligus solusi dari permasalahan-permasalahan yang pernah ada. Knowledge ini dibandingkan dengan Data dan Informasi memiliki nilai tertinggi.

Lihat pada gambar dibawah, sekaligus penjelasan tentang bagaimana knowledge dibuat.

Pada bagan tersebut dijelaskan bahwa aliran pembuatan knowledge dimulai dari Data – Informasi – Pengetahuan. Empat wilayah yang kita sepakati akan digarap KM nya adalah pada

  • Manajemen dan Organisasi
  • Pembelajaran
  • Supporting Siswa
  • Pencapaian Siswa

Kemudian pada masing-masing wilayah tersebut, tahapan berikutnya adalah menentukan aktivitas mana yang kita deteksi ada “Knowledge” didalamnya, begitu juga dengan jenis knowledgenya, apakah dalam bentuk Tacit ataukah Explicit.

Tabel berikut ini memberikan contoh bahwa dimasing-masing wilayah dan aktivitasnya kita deteksi apa saja bentuk pengetahuan didalamnya.

Sebagai contoh, pada wilayah Pembelajaran, kita zoom in dibagian aktivitas Teaching and Learning, disana akan kita tangkap knowledge nya ada pada 5 hal yakni, Teaching activities, Teacher ethic and law, curriculum analysis, course evaluation dan report analysis.

Pada tulisan berikutnya, akan dibahas tentang bagaimana pembuatan pengetahuan baru ternyata dapat dimanajemen sedemikian rupa sehingga memunculkan pengetahauan-pengetahuan berikutnya, dan dahsyatnya ini bisa dikolaborasikan antar aktivitas dalam pembelajaran.

Demikian tulisan pada part ini, nantikan part berikutnya. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Index Judul dan URL Youtube Channel Dedy Setyo

Masih banyak butuh belajar dan saran masukan dari kawan sekalian, berikut kumpulan beberapa webinar dan tutorial ditahun 2020 (semenjak pandemi) yg sempat terekam, beberapa diantaranya dipecah beberapa bagian agar tak terlalu lama :D.

Jika sebelumnya, kita belajar menata kata demi kata menjadi kalimat dan paragraf, masa pandemi ini mengajarkan kita untuk “melompat” menjadi pembelajar cepat, diantaranya jadi yutuber kilat. 😀

Terima kasih, semoga bermanfaat.

[Index judul dan URL Youtube]

  1. Pengelolaan Problem Based Learning dalam pembelajaran Online
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=4N3Q9JNNu1M
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=HxWoIwAMWns
    Part 3 : https://www.youtube.com/watch?v=uDoZFw0TsPY
    Part 4 : https://www.youtube.com/watch?v=qPfMWEKHgIo
  2. Migrasi ke Online Learning dengan Efektif
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=2GoJ7bssuu4
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=RNbGpBkRTlA
    Part 3 : https://www.youtube.com/watch?v=_nSXF9K4LH4
  3. Dampak Resesi untuk Peningkatan Keberlanjutan di dunia pendidikan
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=IAKQU0x7iAk
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=MvW9ypynQZs
  4. Implementasi Knowledge Management dalam Dunia Pendidikan
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=iarei_VoNtM
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=g3k6HK2AzcY
  5. Menyiapkan lingkungan belajar dan model Hybrid Learning
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=QJZGvw489Pk
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=UHUTPsjabQg
  6. Trik Menulis di Media Online
    https://www.youtube.com/watch?v=bJ-yk0yphNc
  7. Membuat Video Animasi untuk Pembelajaran
    https://www.youtube.com/watch?v=tV9svZVvg6g
  8. Book Teaser : Easy Learning
    https://www.youtube.com/watch?v=O6qWI7jrRXQ
  9. Buat situs dan mudah dan gratis dengan Google Sites
    https://www.youtube.com/watch?v=4qZmJWIUsyw
  10. Tutorial Diskusi Online dengan Padlet
    https://www.youtube.com/watch?v=Iy0UEXw7aGE
  11. Hot Potatoes #1 Buat Teka Teki Silang dengan mudah
    https://www.youtube.com/watch?v=3TKqqBIs0x0
  12. Membuat Video Animasi Pembelajaran dengan Powtoon
    1. Part 1 : https://youtu.be/xh5-93zrTgQ
    2. Part 2 : https://youtu.be/B0KaRqhRf78
    3. Part 3 : https://youtu.be/EwFAOynHOKI
    4. Part 4 : https://youtu.be/rukd92EdYLc

Record Webinar Menyiapkan lingkungan belajar dan model Hybrid Learning

Serial Hybrid Learning yang barangkali teman-teman butuhkan

Part 1 : Menyiapkan Pembelajaran Hybrid sebagai Solusi
http://dedysetyo.net/2020/12/09/menyiapkan-pembelajaran-hybrid-sebagai-solusi-seri1/

Part 2 : Lingkungan Hybrid Learning
http://dedysetyo.net/2020/12/10/lingkungan-hybrid-learning-seri-2-hybrid-learning/

Part 3 : Model-model Pembelajaran Hybrid
http://dedysetyo.net/2021/01/02/model-model-pembelajaran-hybrid-seri-3-hybrid-learning/

Record Webinar Hybrid Learning :
http://dedysetyo.net/2021/01/02/menyiapkan-lingkungan-belajar-dan-model-hybrid-learning/


Pasca diputuskannya Surat Keputusan Bersama 4 menteri pada akhir November 2020 yang lalu, bahwa emban Pembelajaran Tatap Muka (PTM) diserahkan pada pemda, sekolah dan orang tua. Sejumlah pihak merasa gamang, diantaranya adalah sekolah dan guru, karena akan ada dua lingkungan belajar, baik itu Pembelajaran Tatap Muka dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berlangsung dalam satu waktu.

Lalu bagaimana sebaiknya sekolah dan guru bersiap ?, webinar ini menjawab dengan penyiapan hybrid learning pada lingkungan dan model-model belajarnya. Selamat menyimak dan belajar bersama.

Rangkaian webinar ini dilakukan bersama beberapa narasumber yakni, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Ibu Nahdiana, Bapak Dr. Uwes Chairuman, M.Pd (Dosen UNJ), dan saya sendiri Dedy Setyo Afrianto, M.Pd.

Part 1/2
Part 2/2

Semoga memberikan gambaran yang lebih komprehensif untuk menyiapkan hal-hal didalamnya pada sekolah Anda. Terima kasih.

Model-model Pembelajaran Hybrid (Seri 3 Hybrid Learning)

Serial Hybrid Learning yang barangkali teman-teman butuhkan

Part 1 : Menyiapkan Pembelajaran Hybrid sebagai Solusi
http://dedysetyo.net/2020/12/09/menyiapkan-pembelajaran-hybrid-sebagai-solusi-seri1/

Part 2 : Lingkungan Hybrid Learning
http://dedysetyo.net/2020/12/10/lingkungan-hybrid-learning-seri-2-hybrid-learning/

Part 3 : Model-model Pembelajaran Hybrid
http://dedysetyo.net/2021/01/02/model-model-pembelajaran-hybrid-seri-3-hybrid-learning/

Record Webinar Hybrid Learning :
http://dedysetyo.net/2021/01/02/menyiapkan-lingkungan-belajar-dan-model-hybrid-learning/


Tahapan berikutnya yang begitu juga pentingnya adalah menyiapkan model pembelajarannya, pada fase ini diperlukan untuk para guru dalam menerapkannya di pembelajaran. Pada lingkungan belajar (pada halaman sebelumnya) model ini masuk pada point ke empat.

John Spencer mengusulkan ada lima model pembelajaran hybrid yang bisa digunakan pada pembelajaran, lima ini sebenarnya melihat konteks kebutuhan dan kekuatan yang dimiliki sebagai kekhasan sekolah masing-masing. Seperti terjabar dalam table berikut

Model Pembelajaran Hybrid menurut John Spencer

1.     Differentiated Model

Pada model ini guru berada di kelas dan siswa (PTM) ada di ruangan yang sama dengan guru. Di tempat lain, siswa berada di rumah (PJJ) terhubung dengan koneksi internet dengan moda Synchronous (berada pada waktu yang sama, namun beda tempat)

Kata kunci dari model ini adalah

(pertama) walapun siswa (PTM) berada pada tempat yang sama dengan guru, mereka tetap menggunakan device (tablet atau laptop) yang terhubung dengan koneksi internet, sehingga siswa yang berada di kelas dengan yang berada di rumah dapat berinteraksi secara langsung, menggunakan aplikasi video conference yang disepakati. Dua tempat ini terhubung internet, guru memberikan instruksi dari kelas, siswa yang berada di rumah (PTM) dapat menyimak dan mengikuti pembelajaran.

(kedua) dalam implementasinya, sekolah menggunakan Learning management system (LMS) contoh : Google Classroom, Edmodo, Moodle dll untuk pengelolaan pembelajaran daringnya.

Model ini cocok digunakan untuk sekolah yang sebagian siswa nya dibatasi tidak bisa datang sama sekali ke sekolah dengan berbagai alasan (orang tua tidak berkenan atau tempat yang jauh dari sisi geografis).

Bagaimana contoh implementasi model pertama ini ?. Berikut diberikan bagaimana implementasinya. Nomor bertanda kurung merupakan urutan agar lebih mudah dibaca.

Step BelajarDi rumah  (PJJ)Di kelas (PTM)
Pendahuluan (Warm-Up)Siswa berada di rumah dan di kelas membaca dan mendalami wacana/teks yang diberikan melalui LMS.  (1)Siswa di kelas dan di rumah diberikan timer sehingga mereka tahu kapan akan berhenti, disisi lain ini merupakan kesempatan untuk melakukan presensi (kehadiran). (2)
Arahan  langsung (Direct instruction)Siswa yang berada di rumah diminta menonton video rekaman, link bisa disharekan melalui chat atau LMS. Siswa lain yang mute agar bisa focus. (3)Di kelas, siswa diputarkan video yang sama agar semua siswa dapat menyimak. (4)
Praktek terbimbing (Guided practice)Di rumah, siswa bertanya melalui Google Form ataupun didepan kelas, microphone dioptimalkan sehingga mereka mendengarkan dengan baik proses diskusi yang berjalan. (6)Siswa didalam kelas kumpul seperti biasa (protocol jarak), mereka dapat bertanya dan berdiskusi suatu topik (5)
Praktek mandiri (Independent practice)SIswa diskusi berkelompok menggunakan break out room dan berdiskusi masing-masing disana. (8)Semua siswa berkelompok secara mandiri untuk praktek dan membahas materi.  (7)
Penutup (Closure)Setiap siswa dapat menuliskan pada form yang disediakan jika ada feedback/pertanyaan untuk menutup semua aktivitas.Setiap siswa dapat menuliskan pada form yang disediakan jika ada feedback/pertanyaan untuk menutup semua aktivitas.

Pada model diatas, siswa PJJ dan PTM pada dasarnya diberikan kesempatan yang sama untuk belajar dengan topik yang sama, yang berbeda hanya pada proses deliverynya. Pembelajaran di kelas dapat ditransfer ke siswa PJJ, begitu juga disesi berbeda, PJJ dan PTM dapat melakukannya secara masing-masing.

Selanjutnya, kita akan buat bagaimana jika pembelajaran dilandaskan dari project.

Amati Langkah-langkah berikut

Step BelajarDi rumah  (PJJ)Di kelas (PTM)
Pendahuluan (Warm-Up)Siswa membaca arahan project dari LMSSiswa membaca arahan project dari LMS
Arahan  langsung (Direct instruction)Siswa yang berada di rumah diminta menonton video rekaman, link bisa disharekan melalui chat atau LMS. Siswa lain yang mute agar bisa focus. (1)Di kelas, siswa diputarkan video yang sama agar semua siswa dapat menyimak (2). Video ini merupakan penjelas pendek terkait project yang akan dilakukan, berupa Langkah-langkah riset atau konsep kunci jika akan ditautkan dengan project yang akan dilakukan. Maksimal 5 menit. (2)
Pengerjaan Project Siswa bekerja dari rumah bekerja sama dengan siswa yg lain (PJJ) menggunakan alat kolaborasi berbasis IT, mereka dapat menggunakan seperti google sheet dan trello untuk saling cek progress yang dilakukan, yang paling penting tentukan tahapan yang jelas dan deadline (3)Siswa di kelas dapat bekerja dengan sesame mereka, lakukan presentasi, diskusi, jika diperlukan untuk disimak oleh siswa yang PJJ, optimalkan speaker dan web cam yang ada (4)
Penutup (Closure)Siswa melakukan refleksi pembelajaran projectnya menggunakan online form dan project management tools seperti trello, google sheet dan google calendar dan menentukan goals berikutnya untuk esok hari.Siswa melakukan refleksi pembelajaran projectnya menggunakan online form dan project management tools seperti trello, google sheet dan google calendar dan menentukan goals berikutnya untuk esok hari.

Tabel diatas merupakan salah satu contoh jika akan melakukan pembelajaran dengan pendekatan project, jika dilakukan dengan efektif, model project based learning ini akan meningkatkan kemampuan siswa dalam hal berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi dan problem solving dimana selaras dengan pembelajaran HOTS dan abad 21.

2.     Multi Track Model

Kata kunci dari model ini adalah

(pertama) Siswa (PTM) berada pada tempat yang sama dengan guru, mereka tetap menggunakan device (tablet atau laptop) yang terhubung dengan koneksi internet, sehingga siswa yang berada di kelas dengan yang berada di rumah dapat berinteraksi secara langsung, menggunakan aplikasi video conference yang disepakati. Dua tempat ini terhubung internet, guru memberikan instruksi dari kelas, siswa yang berada di rumah (PTM) dapat menyimak dan mengikuti pembelajaran.

(kedua) Konsep penting model ini sebenarnya adalah menyediakan track yang berbeda antara PJJ dan PTM. Sehingga mengandaikan mereka seolah-olah memiliki dua kelas yang terpisah. Siswa dibuat kelompok versi PJJ, dan kelompok versi PTM, masing-masing versi saling terpisah satu sama lain.

(ketiga) Dalam implementasinya, sekolah menggunakan Learning management system (LMS) contoh : Google Classroom, Edmodo, Moodle dll untuk pengelolaan pembelajaran daringnya.

(keempat) Perhatian guru pada mode ini memungkinkan untuk berganti/bertukar dibatasi pada hari pertemuan.

Selanjutnya bagaimana penerapan pada mode ini ?. berikut merupakan contoh implementasinya.

Langkah belajarDi rumah (PJJ)Di kelas (PTM)
PendahuluanMasing-masing siswa dibentuk kelompok terpisah, PJJ sendiri, PTM sendiri. Orientasi pembelajaran disampaikan pada masing-masing mode. === Semua siswa login pada LMS dan kelompok nya masing-masing, mengikuti proses diskusi (tanya dan jawab). (1)Masing-masing siswa dibentuk kelompok terpisah, PJJ sendiri, PTM sendiri. Orientasi pembelajaran disampaikan pada masing-masing mode. === Untuk kelompok PTM video dapat ditayangkan melalui depan kelas. Point penting dianalisis dan telaah disesi pertemuan tersebut (2)
Arahan langsungSiswa pada kelompok PJJ diberikan link video sumber untuk ditelaah dan analisis, dan diberikan acuan point penting. Kelas dan kelompok PJJ dihari tersebut diberikan kesempatan untuk menjawab, waktu lebih fleksibel (masih dihari yang sama) (3)Proses interaktif lebih banyak pada proses belajar di kelas. Diskusi, tanya jawab, dan interaksi lainnya (4)
Praktek terbimbingDihari berikutnya, merupakan giliran focus guru kepada kelas yang berada pada kelompok PJJ. Refleksi dan interaksi dilakukan dengan mode online. (5)Pada kelas PTM, siswa diberikan kesempatan untuk menelaah bahan untuk diskusi antar kelompok dan presentasi. Pada tahap ini penting untuk memberikan tantangan kasus yang membutuhkan pemahaman mendalam.  (6)
Praktek mandiriMenyelesaikan proses yang sudah berjalan, diselesaikan dengan report progress pengerjaan. Pada kelas PJJ dapat dilakukan synchronous maupun asynchronous, menggunakan tools kolaboratif.  (8)Menyelesaikan proses yang sudah berjalan, diselesaikan dengan report progress pengerjaan.  (7)

3.     The Split A/B Model

Kata kunci dari model ini adalah

(pertama) Model ini diperuntukkan untuk sekolah atau kelas yang memungkinkan untuk penyelenggaraan Tatap Muka secara terbatas, sehingga dalam pelaksanaan pembelajarannya ada sesi tatap muka dan jarak jauh pada masing-masing kelompok.

(kedua) Siswa dibagi menjadi dua kelompok grup besar (flipped) tiga grup pada (rotation), masing-masing memiliki penjadwalan online PJJ dan PTM secara bergiliran

(ketiga) Pada pertemuan online digunakan untuk pendalaman materi bagi siswa : membaca, telaah, resume, quiz, tugas dan pendalaman lainnya. Sedangkan pada tatap muka digunakan untuk konfirmasi dan klarifikasi materi.

(keempat) Perhatian guru pada mode ini memungkinkan untuk berganti/bertukar dibatasi pada hari pertemuan.

3. 1 Flipped Classroom

Pada model ini, perhatian guru berada pada dua waktu yang berbeda, saat PJJ siswa diberikan orientasi terhadap materi yang akan dipelajari, sumber dan bahan yang sudah disiapkan dan dapat diakses pada LMS, sehingga siswa dapat membaca, telaah, mendalami dan mengerjakan komponen tes yang telah disiapkan oleh guru. Kemudian pada saat PTM, tugas guru adalah melakukan konfirmasi dan klarifikasi, pada saaat PTM inilah saatnya para siswa bertanya tentang banyak hal yang telah dipelajari secara mandiri. Pada saat PTM, dalam rangka mengecek pemahaman siswa, guru juga dapat memberikan penugasan untuk praktek atau project.

Gambar umum penerapan Flipped

Tahapan yang dilakukan

Saat belajar dari rumah (PJJ) :

Contoh penjadwalan pada Split A/B Model (Flipped )

3. 2 Rotation Station

Kata kunci dari model ini adalah

(pertama) Model ini diperuntukkan untuk sekolah atau kelas yang memungkinkan untuk penyelenggaraan Tatap Muka secara terbatas, sehingga dalam pelaksanaan pembelajarannya ada sesi tatap muka dan jarak jauh pada masing-masing kelompok.

(kedua) Siswa dibagi menjadi dua kelompok grup besar (flipped) tiga grup pada (rotation), masing-masing memiliki penjadwalan online PJJ dan PTM secara bergiliran

(ketiga) Pada pertemuan online digunakan untuk pendalaman materi bagi siswa : membaca, telaah, resume, quiz, tugas dan pendalaman lainnya. Sedangkan pada tatap muka digunakan untuk konfirmasi dan klarifikasi materi.

(keempat) Perhatian guru pada mode ini memungkinkan untuk berganti/bertukar dibatasi pada hari pertemuan.

Berikut merupakan contoh penjadwalannya, bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sekolah

GroupMTWThF
1TLOnlineOfflineTLOnline
2OnlineOfflineTLOnlineOffline
3OfflineTLOnlineOfflineTL

Bagaimana guru menyiapkannya ?, berikut merupakan contoh scenario ditiap station yang terjabarkan pada instruksi dan arahan per grupnya.

Semoga semakin menggambarkan tentang implementasi hybrid di kelas-kelas pembelajaran Anda nantinya.

Pembelajaran Hybrid : Antara Solusi & Tantangan di Masa Transisi

Dalam rangka menjawab tantangan pembelajaran dimasa transisi.

Whiteboard Edu
Mempersembahkan

“Pembelajaran Hybrid : Antara Solusi & Tantangan di Masa Transisi”

Training series akan dilaksanakan pada:

19 desember pukul 13.00-16.00

Keynote : Ibu Nahdiana
(Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta)
“Kebijakan penyelenggaraan pendidikan di masa transisi”

Pembicara inti: Dr. uwes anis chaeruman
(Dosen Universitas Negeri Jakarta)
” Best teaching method and assesment in Hybrid learning”

Pembicara 2 : Dedy Setyo A, M.Pd
(Praktisi dan konsultan E learning di berbagai pendidikan sejak tahun 2017)
“Menyiapkan Lingkungan dan Model Pembelajaran Hybrid”

Moderator : Nita Heryanti, M.Pd

FREE WEBINAR
(Pay 30K for e certificate)

Daftarkan diri anda pada tautan
http://bit.ly/WBE_09

KUOTA TERBATAS

Wassalam
WhiteBoard Edu