Category Archives: Kuliah

4 Perbandingan pendapat para ahli Teknologi Pembelajaran tentang Instructional Technology

1. Instructional technology is “the theory and practice of design, development, utilization, management, and evaluation of processes and resources for learning,” according to the Association for Educational Communications and Technology (AECT) Definitions and Terminology Committee

Yang berarti bahwa :

Instructional Technology adalah praktek dan teori disain, pengembangan, pemanfaatan, manajemen, dan evaluasi sumber daya dan proses untuk belajar,” menurut Asosiasi untuk dan Komunikasi Bidang pendidikan Teknologi ( AECT)

baca lanjutan...

Strategi Penerapan Contextual Teaching and Learning di Kelas (tulisan ke 2 dari 2 tulisan–habis)

Uraian dibawah ini merupakan lanjutan tulisan dengan judul yang sama disini. Melanjutkan paparan tentang bagaimana menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning dalam kelas-kelas kita yang ternyata tidak terlalu sulit untuk pengaplikasiannya.

3. Menggabungkan Sekolah dengan Pekerjaan

 Sekolah dan Kerja

Otak selalu ingin melihat makna di dalamnya. Dalam memahami sesuatu otak selalu mengingat penggunaannya dalam situasi kehidupan nyata. Apa yang telah dipelajari siswa akan ditanyakan apa manfaatnya dalam praktis kehidupannya. Oleh karena itu, menggabungkan sekolah dengan pekerjaan sangat masuk akal. Sudarmiatin (2009: 112) menyebutnya sebagai pengajaran berbasis kerja (Worked Based Learning). Pengajaran berbasis kerja (Worked Based Learning) yaitu pengajaran dengan pendekatan yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran dan menggunakan materi tersebut di tempat kerja. Jadi tempat kerja atau sejenisnya dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa (lihat pasal 36 ayat (3) huruf f UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003).

baca lanjutan...

Strategi Penerapan Contextual Teaching and Learning di Kelas (tulisan ke 1 dari 2 tulisan)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan ini tentang pengertian Contextual Teaching and Learning (CTL), dilatarbelakangi oleh keprihatinan bahwa pembelajaran konvensional yang masih dominan dalam budaya dan model pembelajaran kita ternyata seringkali tidak dapat menggali utuh kemampuan siswa,  membatasi siswa untuk mengexplore pengetahuan dan tidak kontekstual dalam lingkungan pribadi siswa sehingga kemampuan yang mereka dapatkan dalam bangku sekolah tidak dapat secara penuh dioptimalkan dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa sehari-hari dimasyarakatnya.

baca lanjutan...

Penilaian Berbasis Komputer dalam E-Learning: Sebuah Kerangka untuk Membangun Pertanyaan dan Tugas untuk Platform Teknologi

Tulisan ini merupakan seri berikutnya dari kuliah sub kajian Analisis Jurnal Internasional terpublikasi tentang Teknologi Pendidikan, Teknologi Pembelajaran dan Evaluasi. Pada judul ini membahas tentang evaluasi berbasis komputer dalam e-learning ternyata memiliki varian yang beragam untuk mengukur kemampuan siswa. Dari total 25 model evaluasi, saya baru membahas 11 diantaranya, dilengkapi dengan gambar peraga tiap modelnya diharapkan akan mempermudah dalam pengkajian. Ditulis sebagai pendahuluan dan “pemantik” bagi Anda yang minat dalam bahasan ini. Seperti rule dalam analisis sebelumnya, bagi Anda yang berminat pada file lengkap jurnal ini, silakan share URL halaman ini di wall fb anda, kemudian segera laporkan ke saya . Dalam waktu 2 x 24 jam setelah saya baca maka akan saya kirimkan langsung gratis tis tis.. tanpa biaya sepeser pun. Selamat membaca !

baca lanjutan...

Mengkombinasikan Game Software dengan Pendidikan; Evaluasi Keefektifan Pembelajaran

Tulisan dibawah ini merupakan analisis jurnal pendidikan Internasional yang difokuskan pada Teknologi Pembelajaran, Game pendidikan, dan Media. Merupakan bagian dari serial lanjutan kuliah yang bisa diakses dari sini. Didedikasikan untuk teman-teman yang fokus pada minat study ini dan yang sedang penelitian membutuhkan jurnal yang terkait. Bagi yang menginginkan file jurnal aslinya silakan share URL tulisan ini di wall FB anda dan kabari sy via akun FB dedy setyo. Saya targetkan kurang dari 2 x 24 jam akan terkirim ke e-mail Anda. Gratis tis tanpa dipungut biaya sepeser pun.he.he.. Selamat membaca !.

baca lanjutan...

Kekuatan Video Sebagai Media Pembelajaran

Tahukah Anda artis-artis yang populer gara-gara video rekaman pribadinya muncul di situs video sharing ?. Jika iya, maka diantara beberapa jawabannya adalah Justin Bieber, penyanyi bernama lengkap Justin Drew Bieber ini “muncul” ke permukaan dunia hiburan setelah video rekamannya pada kontes menyanyi “Stratford Star” di Ontario yang dipublikasikan di YouTube oleh ibu Justin pada tahun 2007. Baru dua tahun kemudian (2009) namanya dikenal oleh publik Amerika Serikat. Saya coba sebutkan lagi contohnya, pernah ingat tayangan yang marak di berbagai media Indonesia beberapa tahun silam tentang tayangan lagu “Keong Racun” oleh Sinta dan Jojo ?. hampir-hampir mirip dengan kisah Bieber tadi, video lipsync diperankan oleh Sinta (Sinta Nurmansyah) dan Jojo (Jovita Adityasari), dua orang mahasiswi asal Kota Cimahi-Jawa Barat, yang kemudian diunggah di situs YouTube juga. Sampai dengan tulisan ini dibuat “keong racun” dilihat oleh 7,767,105 (Tujuh Juta Tujuh Ratus Enam Puluh Tujuh Ribu Seratus Lima) orang, 8693 komentar.

baca lanjutan...

Pengantar Contextual Teaching and Learning

Sebagai pendahuluan, tulisan dibawah ini dan serial “kuliah” berikutnya merupakan bahan diskusi dan tulisan saya dan teman-teman saat menempuh study di Pasca Sarjana jurusan Teknologi Pembelajaran. Harapannya bagi pembaca pada umumnya, ataupun teman-teman guru pada khususnya dapat memiliki khasanah baru tentang dunia pengajaran. Selamat membaca !.

Setelah melewati fase gelombang perubahan pertama (era agraris) dan kedua (era industrialisasi), menurut Futurolog berkebangsaan Amerika Serikat Alvin Toffler (dalam Abdul Hayyie al Kattani:2002), dunia tengah mengalami gelombang perubahan ketiga yaitu era informasi  Fase ini ditandai dengan ledakan informasi yang luar biasa. Keterbukaan dan penetrasi informasi terus menyelinap sampai pada sudut-sudut paling sempit dalam kehidupan manusia. Menurutnya, kemajuan peradaban suatu bangsa sangat ditentukan oleh kecerdasannya dalam menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain, ketidakmampuan dalam menyerap informasi secara maksimal akan mengakibatkan ketertinggalan peradaban suatu bangsa.

baca lanjutan...