Category Archives: Kuliah

Menjadi Pemateri Consultant For Change di Binawan University

Sabtu yang lalu, sesuai yang telah dijadwalkan oleh panitia NICE Social Training Series, kami berkesempatan memberikan materi terkait dengan dunia konsultan, sesuai dengan materi yang pernah kami terima pada C4Change (Consultant for change) NAMA Foundation di Malaysia.

Training ini merupakan sesi untuk berbagi kembali (diseminasi) kepada segenap pengampu organisasi, praktisi, profesional dan akademisi. Sedianya semua materi ini jika disampaikan secara penuh, maka akan diselenggarakan dalam durasi 24 hari (2 module), sehingga dalam penyelenggaraan yang hanya 4 jam ini, sifatnya hanya overview materi-materi pokok untuk pengantar bagi yang berminat menggeluti materi ini.

Panggung utama untuk sesi pembukaan sebelum masuk materi.

Dalam sesi materi ini saya berduet dengan Mas Juna, rekan kami yang keren dari Rumah Kepemimpinan, yang barengan dengan saya di module 1 dan 2 saat di Malaysia.

Materi yang kami sepakati untuk disampaikan ada beberapa hal yakni sebagai berikut :

  1. Mindset (resume singkat materi ini bisa diakses ditulisan ini )
  2. SWOT Analysis for organization
  3. Loop infinity of change
  4. Community Platform
  5. Need analysis

Sehingga dalam pelaksanaannya kami berbagi siapa yang akan explore lebih dalam.

Sebelum masuk materi, kami coba cek levelisasi peserta menggunakan menti meter  dengan mempertanyakan apa yang terbesit ketika mendengar istilah “Mindset”
Hasil survey singkat kepada peserta

kemudian ditengah-tengah materi kami coba sharekan tentang bagaimana mengecek mindset kita dengan tools dari mindsetworks.com bagi Anda yang ingin mencoba juga, bisa akses dari sini http://bit.ly/cekmindset

Kebutuhan untuk mengetahui mindset diri sendiri ini menjadi penting karena mindset ini menjadi tolak ukur sejauh mana seseorang bisa upgrade diri untuk fase-fase yang lebih bermakna dalam kehidupan yang lebih baik.

Dari contoh-contoh tokoh yang memiliki growth mindset yang baik adalah diantaranya Michael Jordan dan Thomas Edison. Ketika berbagai tantangan dalam kehidupannya tidak menjadikannya surut dan melemah, namun malah membuatnya makin kuat dan menyejarah.
Sesi materi

Pada sesi analisis SWOT kami bagi menjadi empat kelompok untuk belajar menganalisis gambar dan fenomena ojeg online yang sedang marak di masyarakat.
Sesi Focus Group Discussion

Lanjutan sesi materi secara klasikal.
Sesi Presentasi

Diakhiri dengan sesi foto bersama peserta.
Clossing Session dan Foto bersama

Semoga pelatihan ini memiliki dampak positif kepada semua peserta. Memberikan wawasan lebih dan pengalaman berharga dalam mengelola organisasi di lingkungannya. Aamiin.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Journey Notes Consultant For Change (C4C) Part2

Before you read more deeply, i just wanna tell to you, that this is my private notes actually. My way to memorize that i ve got from training, so if some day i need this reference, i just search it from my own blog. So, you can read and take it as reference also when you like it. But don’t forget to have some literature as compared as well. You can read it from beginning part for know what the objectives i post this article.

Material that i wanna post i get from Michael Porter theory, btw Porter is an American academic known for his theories on economics, business strategy, and social causes. He is the Bishop William Lawrence University Professor at Harvard Business School, and he was one of the founders of the consulting firm The Monitor Group (now part of Deloitte) and FSG, a social impact consultancy (ref).  He said about five forces framework as a tool to analyze the business. In my opinion, this theory is not just we can use it in business area, in other sector like education (or politic, ?) we can use it well also.

For more easier five force that i mean, please see picture bellow

bargaining powers

There are they

Industry Rivalry. In business environment, we know that very competitive. Who have service better, cheaper price, more comfortable that can give to customers, will be choosen by customers. When customers have choosed the sellers, will win in the competition. This is a simple condition in the business field.

Threat New Entrance. But what about new entrants, as a step process to monitoring “boxing ring” every day. Every business entity have to read condition any time. Using self evaluation more frequently about own powers and weakness hopefully making a good self awareness also. Not only knowing own self, we can also monitoring new competitors about what they have, what they give to customers, what the new thing. So, don’t be over confidence about big power that we have right now, keep do self evaluation be routines activity in organization.

 

Bargaining of suppliers. For a goods business, having routines supplier means have continuous relationship. But some times, we know that some big company who have loyal customers with big amount, always have price control to suppliers. I can give sample, if A Company having 1000 customers every day, always order 1000 kg materials every day. which is give more benefit to supplier, bigger than B Company in big comparation. Then there are many suppliers can to do that. This condition will making new chance A Company, to give pressure to supplier. To lowered the price, or they will leaved it and break. So, every company have to think about the possibilities of this.

#continue to next post

Strategi Perubahan Pembelajaran dari Kelas Tradisional Menuju e-learning

Beberapa provider e-learning menganggap bahwa jika ingin melakukan konversi dari pembelajaran tradisional kedalam pembelajaran e-learning, maka hanya tinggal memindahkan semua konten/media kedalam Learning Management System (LMS) maka pekerjaan itu sudah selesai.

Namun sebenarnya langkah ini belumlah selesai. Memindahkan semua file presentasi/bahan-bahan pembelajaran dari yang tadinya tercetak hanya menjadi via file-file saja barulah satu tahap. Jika ingin tuntas dan menyeluruh, menurut Christopher Pappas ( seorang profesional e-learning penemu jejaring The eLearning Industry) harusnya dilengkapi dengan 5 langkah berikut. Apa sajakah itu ?, mari simak kelanjutan tulisan ini. Artikel ini disarikan dari http://elearningindustry.com/.

1. Mengidentifikasi format kelas e-learning.

Langkah ini untuk memilah dan mengklasifikasi kelas pembelajaran dilakukan dengan synchronous atau asynchronous.

Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/
Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/

a. Synchronous

Pertemuan langsung/live secara waktu, bersamaan antara tutor dengan peserta didik. Pada mode ini beberapa media yang bisa digunakan antara lain : live conference, chat, broadcasting dan private message.

Dalam platform ini, tutor dan peserta didik menyepakati waktu yang akan digunakan, sehingga bisa secara real time bertemu dalam perantara jaringan internet. Dalam pembelajaran tatap muka jarak jauh ini, tutor juga memiliki kewenangan untuk memilih peserta. Untuk pelaksanaan real time conference ini beberapa provider sudah menyediakan layanannya baik secara publik atau private, secara berbayar atau gratis. Contoh provider yang telah mengembangkan layanan ini  antara lain Skype, Open Meeting, Big Blue Button, Google HangOut dll.

b. Asynchronous

Pertemuan antara tutor dan peserta didik tidak secara langsung, terdapat delay antara penyediaan media dan pembelajaran yang terjadi. Contoh media  yang digunakan : Forum, gambar, video, sound, e-mail dan teks.

Terjadinya delay waktu antara penyediaan media dengan pembelajaran, memberikan waktu lebih banyak kepada peserta didik untuk bisa mendalami lebih lanjut materi yang telah disediakan. Selain itu, peserta didik juga diberikan keluangan untuk mengkaji materi-materi dari sumber yang lain untuk pengkayaan bahan ajar. Salah satu kelemahan yang ditemukan pada mode ini adalah jika adanya pertanyaan atau topik diskusi yang membutuhkan klarifikasi atau jawaban dari tutor maka membutuhkan waktu yang sangat tentative, tergantung dari kesediaan tutornya. Walaupun begitu, tentu saja sumber belajar tidak hanya berasal dari tutor semata, namun bisa juga didapatkan dari rekan sejawat.

c. Hybrid/Blended Learning

Ini kombinasi mode antara synchronous dengan asynchronous dimana fase ini biasanya ditempuh untuk masa adaptasi penerapan e-learning di masa-masa awal. Mode ini memungkinkan adanya mixed penerapan e-learning dengan kelas tradisional, adapun berapa persentasenya (antara e-learning dengan tradisional) tergantung dari masing-masing institusi. Sebagai gambaran jika dilakukan fifty-fifty semisal untuk pertemuan 10 x, maka 5x dilakukan dengan konvensional dan 5x dengan e-learning. Kombinasi inipun dalam perjalanannya bisa berkurang/bertambah tergantung dari masa transisi dan evaluasi.

Sebagai ilustrasi seperti nampak pada gambar dibawah ini (pengajaran berbahasa asing).

chart-blended

Dari 3 pendekatan kelas pembelajaran diatas , jika ingin memilih, secara pribadi saya lebih merekomendasikan menggunakan Blended Learning. Hal ini didasari oleh kebutuhan, bahwa proses adaptasi dari pembelajaran tradisional tentu saja membutuhkan waktu dan persiapan yang tidak sedikit. Walaupun begitu, pemegang kebijakan dan pelaksana lapangan harus menyepakati kapan pelaksanaan blended ini akan dilakukan evaluasi dalam rentang waktu tertentu. Sebagai alat bantu evaluasi, berikut saya sajikan tabel untuk analisis keterlaksanaan mode blended ini.

evaluasi

Sebagai sebuah komponen evaluasi, form diatas bisa disesuaikan dengan kebutuhan institusi. Jika nilai telah beranjak naik dari waktu ke waktu, mode blended ini bisa berubah prosentasenya.

2. Pemilihan Model Desain Instruksional

Menurut Marina Arshavskiy (2013), Model Desain Instruksional pada e-learning sendiri paling tidak terdiri dari 7 tipe.

a. ADDIE Model

b. Seels and Glasgow ISD Model

c. Dick and Carrey Systems Approach Model

d. ASSURE Model

e. Rapid ISD Model

f. Four-Door (4 D) eLearning Model

g. SAM Model

Akan coba saya paparkan ADDIE dan ASSURE karena sering dipakai dalam pengembangan sistem.

ADDIE Model kepanjangan dari Analyze (analisis), Design (desain), Develop(membangun), Implement (terapkan), dan Evaluate (evaluasi). Model ini cukup umum dikenal sebagai model yang fleksibel yang sering dipakai untuk pengembangan sistem. Disiapkan untuk membantu proses step by step yang membantu sistem desainer untuk membuat program yang sesuai dengan framework.

Kemudian untuk ASSURE Model

dikembangkan oleh Heinich, Molenda, Russell dan Smaldino, berdasarkan 9 even Instruksional Gagne. Model ini mengasumsikan bahwa desain kelas menggunakan berbagai tipe media dan secara khusus sangat bermanfaat untuk desain kelas e-learning.

ASSURE kepanjangan dari:

  • A – Analyze Learner (Menganalisis Pembelajar)
  • S – State Objectives (Menentukan Tujuan Pembelajaran)
  • S – Select Media and Materials (Memilih media dan materi)
  • U – Utilize Media and Materials (Menggunakan media dan materi)
  • R – Require Learner Participation (Membutuhkan partisipasi pembelajar)
  • E – Evaluate and Revise (Evaluasi dan revisi)

ASSURE-Model

assure-model

Kemudian untuk membandingkan diantara 2 model tersebut, silakan disimak melalui tabel berikut

tek 3

Pada Assure terlihat bahwa evaluasi dilakukan pada akhir fase, sedanggkan pada Addie evaluasi dilakukan pada masing-masing step.

Untuk pemilihan modelnya silakan bisa memilih diantara Assure atau Addie, atau bisa juga dilaukan kolaborasi diantara keduanya.

3. Menggunakan dan memperhatikan interaksi

Menurut Moore (1989), salah satu pioner dan pakar dalam pembelajaran jarak jauh, serta editor American Journal of Distance Education dalam pembelajaran jarak jauh, setidaknya akan terjadi 3 interaksi :

a. Pembelajar pada konten

Merujuk pada poin ini, perhatian dari pembelajar kepada konten materi memegang peranan penting akan tingginya serapan pembelajaran. Sehingga penyedia materi yang baik seyogyanya memperhatikan faktor ini sebagai faktor penyukses pembelajaran dengan cara mengkonstruk materi dengan cara yang kreatif, inovatif dan interaktif.

b. Pembelajar pada tutor

Tutor yang baik dalam pembelajaran jarak jauh, walaupun tidak dituntut untuk selalu online 24 jam, namun kesediaan membantu pembelajar akan menjadi nilai plus. Apalagi dengan karakter sebagian besar pengguna yang lebih ‘touching’ ketika berinteraksi dengan manusia.

c. Pembelajar pada pembelajar yang lain

Kita sadari sepenuhnya bahwa pada model pembelajaran jarak jauh, siapa saja dapat menjadi narasumber. Sehingga sistem e-learning tidak hanya mengandalkan sepenuhnya pada materi online atau tutor.

4. Memilih teknologi pendidikan yang tepat

Berbagai Learning Management System yang tersebar luas menawarkan berbagai pilihan teknologi, untuk bisa memilihnya, pertimbangan interaksi diatas dapat menjadi salah satu rujukan.

Seperti contoh pada Moodle, yang sudah menyediakan berbagai fasilitas interaksi.

a. Pembelajar pada konten

Video embed,

Gambar,

Animasi,

Sound,

Wiki,

Media hypertext.

b. Pembelajar pada tutor

Live conference,

Personal Message,

Forum,

Broadcasting Video.

c. Pembelajar pada pembelajar yang lain

Chat,

Forum,

Personal Message,

Wiki.

5. Menata Prosedur dan Survey

Setelah melakukan 4 poin diatas, sebelum menawarkannya kepada peserta didik, ada beberapa hal yang akan dilakukan untuk pengecekan akhir.

a. Survey

Melakukan survey diawal, dilakukan untuk mengetahui keinginan pembelajar terhadap konten yang akan kita tawarkan yakni berkaitan dengan desain interface, kegunaan, akses, analisis pengguna.

b. Saran dan masukan dari expert

Masukann dari expert sangat dibutuhkan sebelum kita launching course kita yakni dari beragam latar belakang diantaranya : subject expert, instructional designer, developer e-learning, pengembang materi.

c. Setelah mendapatkan masukkan, kita bisa melakukan revisi tahap 1.

d. Setelah direvisi, maka minta report kembali kepada expert yang sama pada poin b diatas.

e. Analisis data hasil feedback yang kedua

f. Revisi sistem e-learning final.

Sampai disini, semoga 5 step diatas berhasil membantu anda yang ingin melakukan konversi dari pembelajaran tradisional kepada e-learning.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo

 Referensi :

  • http://elearningindustry.com/top-5-tips-to-convert-your-traditional-course-into-an-elearning-format
  • Arshavskiy, Marina. “Instructional Design for ELearning Essential Guide”. www.yourelearningworld.com. 2013.
  • http://lisahalverson.com/2011/01/25/moore-on-interaction-transactional-distance/

Road Map Penerapan e-learning di Lembaga Pendidikan

Pengalaman mengembangkan dan menerapkan e-learning di lembaga sendiri sejak 6 tahun silam (sejak tahun 2007) memberikan pelajaran penting bahwa grusa-grusu (istilah bahasa jawa yang berarti buru-buru) pada endingnya akan memberikan kelelahan ketimbang hasil memuaskan yang dicari. Bagaimana tidak, dari course yang disiapkan dari seluruh kelas dan guru, yang akhirnya bisa terlibat kuat dengan model pendekatan pembelajaran ini tidak sampai 50 % dari keseluruhan kelas. Selaras dengan temuan (Dublin, 2003) dan (Delio, 2000) bahwa ketika e-learning itu diwajibkan kepada perseorangan maka sekurangnya 30% orang akan menolaknya. Kalau dari siswa, minat mereka malah sebaliknya, antusiasme dan motivasi mereka malah luar biasa besar, sampai-sampai mata mereka berbinar2 kalau saya sedang menggunakan metode ini..he.he #lebay.

Tantangan lain yang tak kalah pelik adalah urusan pengelolaan infrastruktur yang luar biasa complicated. Mulai dari perangkat pc/laptop yang tak semua mereka memilikinya (saat itu), urusan jaringan komputer yang wajib merambah dahsyatnya kontur sekolah kami yang berada di pedalaman hutan dengan cakupan sekitar 30 hektar lebih seperti pada penampakan berikut

map nfbs
Peta Lokasi Nurul Fikri Boarding School dari ketinggian 200 kaki

Ditambah lagi dengan kesiapan penyediaaan bahan ajar dan media berbasis soft file dan siap edar dengan segera, membuat berbagai persiapan nampaknya perlu dipikirkan dengan matang, serta tentunya hal-hal pendukung penting lainnya…

Kalau boleh saya simpulkan beberapa problem yang akan dihadapi oleh setiap lembaga yang akan menerapkan dan  mengembangkan e-learning di institusinya adalah sebagai berikut :

  • Infrastruktur

Berupa perangkat jaringan baik itu jaringan intranet/internet sebagai supporting system utama. Ditambah dengan keberadaan server yang siap online 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

  • Sumber Daya Manusia

Budaya manusia bekerja tidak bisa dengan mudahnya kita ubah tanpa pendekatan yang komprehensif dari segala sisi, nah e-learning ini percaya atau tidak, mau atau tidak, tentunya akan menjadi hal yang merubah gaya mereka bekerja. Terutama guru sebagai aktor utama dalam kelas-kelas pembelajaran, karena tanpanya maka mustahil e-learning akan berjalan.

  • Konten

Meliputi bahan/media ajar baik yang berupa tacit atau explicit. Karena segenap pembelajaran akan dilakukan jarak jauh, maka penyiapan bahan ajar dan media berbentuk soft file yang valid dan reliable sangatlah penting kiranya.

  • Jaminan Mutu

Mencakup kualitas teknis dari sistem yang kita bangun tentunya, apakah siap untuk meng-handle setiap aktivitas pembelajaran.

Membuat Peta

Nah sekarang, apa yang harus dilakukan untuk mencapai implementasi e-learning yang berkualitas ?.  Roadmap merupakan ibarat peta yang menjadi penunjuk arah jalan kita kedepan.

Merujuk pada dokumen TIER1 Performance sebuah organisasi yang berpengalaman dalam peningkatan performance SDM yang terdiri dari expert pembelajaran, desainer dan pengembang teknologi memaparkan beberapa tahapan yakni dengan ilustrasi sebagai berikut  :

elearning-roadmap - Copy
E-learning Road Map Versi Tier1

Akan coba saya paparkan satu persatu tahapannya, disertai deskripsi dan hasil yang diharapkan, yakni

1. Develop Strategy

Memperkenalkan e-learning kepada segenap stakeholder institusi, komparasi antara konvensional dengan e-learning standard.

hasil yang diharapkan: Pemahaman dan persepsi bersama tentang e-learning

2. Create Content and Users

Mengidentifikasi content, course dan user group yang dibutuhkan

hasil yang diharapkan: Terbentuk tim untuk : 1). Administrasi dan Pencatatan user. 2). Ketersediaan bahan ajar dan media.3). Perekapan evaluasi/assessment dan tindaklanjut.

3. Create Pilot Course

Membuat dan implementasi course e-learning dari materi.

hasil yang diharapkan:  Terbentuk petugas dan penanggung jawab course

4. Develop Marketing Plan

Membangun perencanaan marketing dan sosialisasi kepada pihak user dan stakeholder terkait

hasil yang diharapkan: Seting strategi pemasaran di lingkup users

5. Build Processes, Skills and Standards

Membangun proses, skill, control dan standar yang berulang serta konsisten dalam rangka migrasi skala besar pembelajaran ke e-learning

hasil yang diharapkan: Training admin dan pengelola

6. Launch Learning Management System (LMS) to Users

Implementasikan LMS online untuk mengantarkan, mengelola, tracking dan melaporkan aktivitas pembelajaran

hasil yang diharapkan: Sistem e-learning siap diakses dan dipergunakan

7. Assess and Improve

Implementasi program yang terstruktur dan berkelanjutan dalam rangka mengukur skill dan pembelajaran yang telah berlangsung

hasil yang diharapkan: Mengingkatnya skill penggunaan e-learning

Dengan 7 macam tahapan diatas, tentunya masing-masing bisa lebih di detailkan parameter tercapainya hasil sesuai dengan kultur organisasi anda. Sebaiknya roadmap ini memang idealnya sudah ada di benak para pemegang kebijakan, sehingga penerapan e-learning dengan adanya daya dukung yang kuat dari segala sisi harapannya akan lebih memaksimalkan perjalanannya.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo.

Video; Meningkatkan Pembelajaran Melalui Gambar Bergerak (tulisan 4 dari 4 tulisan–habis)

Dalam bukunya yang berjudul “Instructional Technology and Media for Learning”, Sharon E Smaldino menjelaskan begitu banyak media yang dapat digunakan untuk mendorong percepatan penerimaan siswa terhadap pembelajaran. Khusus pada bab tentang video, tulisan ini merupakan terjemah dari catatan beliau agar lebih mudah dipahami dan berguna untuk penelitian bagi teman-teman yang membutuhkan literatur ini. Karena total ada 16 halaman (A4), saya sajikan dalam 4 tulisan berseri. Selamat membaca !

1. Seri 1. Berisi Materi : Pemanfaatan Video di Ruang Kelas, Special Attributes

2. Seri 2. Berisi Materi : Digital Video Format, Bentuk Video Analog, Kelebihan dan Kekurangan Video, Memilih Video.

3. Seri 3. Berisi Materi : Memproduksi Video dan Contoh-contoh Produksi Video Inspiratif

4. Seri 4. Berisi Materi : Memilih dan Menggunakan Video


SELECTING AND USING VIDEO (Memilih dan Menggunakan Video)

A.   Analisis Siswa

Pengembangan pembelajaran dimulai dengan mengidentifikasi karakteristik siswa dan karakteristik pembelajaran.

  • Tentukan tingkat pengalaman siswa dalam menggunakan video.
  • Pertimbangkan tingkat perkembangan mereka sebagai factor menentukan tujuan pembelajaran.

B.    Rumuskan Standard dan Tujuan.

Tujuan menyediakan panduan bagi guru dan siswa dalam mencapai hasil pembelajaran.

  • Pertimbangkan pencapaian dan hasil yang diharapkan sesuai kondisi kelas dan sekolah.
  • Pertimbangkan skill/kemampuan yang diperlukan dalam membuat video / standar yang ada dalam kurikulum.

C.    Pilih Strategi, Teknologi, Media dan materi.

Setelah kamu memahami karakteristik dan prestasi belajar siswa, gunakan informasi tentang video yang ada di bab ini sebagai dasar untuk memilih, memodifikasi, atau merancang strategi, teknologi, media dan materi. Aturlah penggunaan  untuk menyesuaikan dengan kebiasaan tertentu dari topic dan tujuan.

  • Pertama, berkonsultasilah dengan bagian media disekolahmu untuk mengetahui apa yang tersedia di media center.
  • Tinjau ulang dan taksirlah baik dari sisi komersial (biaya) dan materi yang tersedia sebelum menggunakannya dengan siswamu.
  • Gunakan rubric pilihan “selection rubric:Video” untuk panduan keputusan pilihan.
  • Periksa batasan hak cipta disemua bahan yang kamu  pakai sebagai bahan ajar dan yang akan siswa gunakan.

D.    Penggunaan Teknologi, Media dan Materi.

Cara seorang guru menggunakan media dan bahan ajar dalam pembelajaran akan mempengaruhi cara belajar siswa.

  • Ikuti anjuran yang telah dibahas dalam bab ini untuk memfasilitasi pembelajaran siswamu, modifikasi bahan ajar yang digunakan sesuai kebutuhan.
  • Perlengkapan video, dan sumber yang kamu pakai akan menentukan bagaimana kamu menjadwalkan pengalaman pembelajaran siswamu.
  • Jika kamu punya akses ke sebuah sistem video playback diruang kelas, kamu bisa berharap untuk membuat sebuah pusat pembelajaran. Jika kamu punya keterbatasan akses keperalatan dan materi video, kamu bias meminta siswa untuk melihat video terpilih secara bersama.Tergantung pada ketersediaan perlengkapan, kamu memungkinkan siswa untuk membuat video mereka sendiri.

E.    Melibatkan Partisispasi Siswa

Libatkan siswamu dalam pembelajaran untuk memastikan mereka terhubung dalam pembelajaranmu.

  • Perkenalkan dan jelaskan materi video yang ada dalam tujuan pembelajaranmu.
  • Minta siswa untuk melakukan kegiatan khusus berdasar kemampuan untuk menggunakan apa yang telah mereka pelajari dari video. Siswa akan menemukan lebih banyak nilai daei materi jika mereka dapat menghubungkan apa yang mereka pelajari dengan kenyataan.
  • Minta siswa untuk melihat video  tertentu dan menganalisanya dengan baik dalam laporan tertulis atau dipresentasikan secara lisan.
  • Minta siswa membuat video pendek dengan topic pilihan mereka sendiri dan tayangkan dikelas.

 

F.     Evaluasi dan Revisi

Ini adalah penting untuk mempertimbangkan bagaimana materi video membantu siswa memahami materi.

  • Nilai siswa atas kualitas video buatan mereka dan bagamana baik mereka mengintegrasikannya kedalam pembelajaran mereka yang lain.
  • Revisi pilihanmu dari materi sesudah kamu menentukan seberapa baik mereka bekerja. Pastikan bahwa seluruh bahan yang dipakai terhindar dari masalah hak cipta.

 

ASSURE CLASSROOM PRACTICE  ( Praktek diruang kelas)

Bab 11 ‘Assure Classroom Challenges” berdasar pada gabungan antara beberapa pelajaran (interdisipliner) di kelas V oleh Scott James. Bab 11 bagian yang menyertakan “ Assure learning with technology and Media” DVD meliputi sebuah pembelajaran dalam action video Scot James yang menerapkan pelajaran dikelas V dan menyediakan wawasan /pandangan dalam mencapai keberhasilan dalam pelajaran dimana siswa membuat video.

Assure Classroom Practice ini memaparkan rencana pengajaran yang digunakan oleh Scot James, Guru kelas V, yang membuat sebuah pelajaran interdisipliner yang meminta  siswa membuat video digital. Mr. James ingin meningkatkan kesadaran siswa atas bencana alam ketika mengajarkan kemampuan menulis paparan. Untuk menghadapi tantangan ini, siswa secara berpasangan memilih bencana alam yang mereka ambil dari internet maupun penelitian diperpustakaan. Siswa menulis scenario untuk dipakai ketika mereka membuat siaran berita dengan video digital. Dibawah ini adalah rancangan pembelajaran Scott James untuk pelajaran pembuatan siaran berita bencana alam.

Scott James,

Kelas V,

Topik : Bencana alam

 

A.    Analisis Siswa

Karakteristik Umum.

Murid kelas V Scott James adalah multi etnis dari ekonomi menengah bawah. Terdistribusi secara merata baik siswa perempuan maupun laki-laki, dengan usia antara 9 dan 10 tahun. Tingkat kemampuan memahami bacaan bervariasi dari rendah sampai tinggi.

Kompetensi awal.

Siswa secara umum dapat melakukan penelitian online.

Siswa sudah dapat menggunakan iMovie software untuk mengedit video digital.

Metode Pembelajaran

Siswa Scott belajar lebih baik dengan kegiatan yang berhubungan dunia mereka dan topic yang mereka pilih sendiri. Tingkat ketertarikan dan motivasi akan meningkat ketika mereka menggunakan teknologi. Kenyamanan siswa dalam berbicara berubah sangat besar ketika mereka berbicara dan berakting didalam video. Perbedaan juga terlihat dalam gaya belajar siswa yang berhubungan dengan gambar dan suara dalam hasil akhir video digital siaran berita mereka. Beberapa siswa lebih memilih pendekatan tradisional sedangkan yang lain lebih suka dengan pendekatan yang kreatif dan menarik.

 

B.    Tetapkan Standar dan Tujuan Pembelajaran

Standar Kurikulum.

(1). Standar Kurikulum Nasional bagi guru bahasa Inggris, Standar kurikulum 4 : Siswa menyesuaikan penggunaan mereka dalam berbicara, menulis dan bahasa gambar (kaidah, gaya, kosa kata) untuk berkomunikasi secara efektif dengan bermacam orang dan bermacam tujuan. (2). Standar Pendidikan sains nasional untuk siswa kelas V-VIII: Susunan system bumi. Pola global dari pergerakan atmosfer mempengaruhi cuaca local. Samudera mempunyai efek dominan pada iklim, sebab air samudera menyerap sebagian besar panas matahari.

Standar Teknologi

Standar teknologi pendidikan untuk siswa. Siswa menggunakan alat-alat teknologi untuk meningkatkan pembelajaran, meningkatkan produktivitas, dan promosi kreatifitas.

Tujuan Pembelajaran.

Tujuan pembelajaran dari pelajaran ini adalah :

  • Menggunakan internet dan penelitian di perpustakaan terkait bencana alam yang siswa pilih. Siswa menulis sebuah scenario siaran berita untuk seorang pembawa acara dan scenario untuk reporter liputan.
  • Gunakan scenario itu untuk menulis storyboard untuk siaran berita tersebut, juga tayangan laporan reporter dilapangan.
  • Masing-masing siswa berperan sebagai pembawa acara sedang yang lain sebagai reporter yang melaporkan siaran berita dan direkam dengan video digital.
  • Siswa menggunakan iMovie software untuk meng-edit hasil karya mereka hingga tercipta hasil akhir video siaran berita mereka.

 

C.    Pemilihan Strategi, Teknologi, Media dan Materi.

Pemilihan Strategi.

Scot James memilih Teacher and student centered strategi untuk topic bencana alam. Teacher centered strategi meliputi penjelasan mendetil  dari tujuan pembelajaran dan bagaimana secara berpasangan siswa mengadakan penelitian untuk membuat sebuah siaran berita tentang bencana alam. The student centered strategies berisi tindakan siswa yang mencari materi dengan internet, menulis scenario, memvideokan dan mengedit hingga tercipta hasil akhir video siaran bencana alam.

Pemilihan teknologi dan media

Pelajaran ini mencakup siswa menggunakan computer, video camera digital, dan iMovie software untuk meng-edit siaran berita bencana alam. Scott menggunakan beberapa panduan untuk menilai ketepatan pemilihan teknologi dan medianya.

  • Sesuaikan dengan standar, hasil belajar dan tujuan.
  • Bahasa yang sesuai dengan usia siswa.
  • Tingkat ketertarikan dan waktu. Dengan membebaskan siswa memilih bencana alam yang ingin mereka teliti dan untuk membuat siaran berita mereka sendiri, akan meningkatkan ketertarikan dan kepedulian mereka.
  • Kualitas teknik
  • Mudah dipakai
  • Bebas keraguan. Siswa memakai banyak referensi selama penelitian mereka untuk memastikan isi bebas keraguan.
  • Petunjuk dan panduan pemakaian. Penggunaan iMovie bagi siswa kelas V terkadang tidak mudah, jadi siswa bias saling bertanya diantara mereka atau kepada Mr. James.

 

Pemilihan Bahan Ajar (Materi).

Scott James memilih websites yang ramah untuk anak-anak“ Kid Friendly” saat mereka melakukan penelitian secara online.

 

D.    Penggunaan Teknologi, Media dan Materi

Tinjau dahulu teknologi, media dan bahan ajar.

Scott meninjau websites kid friendly dan iMovie software untuk meyakinkan kalau disitu tersedia materi yang akan digunakan siswa dan membantu siswa.

Siapkan teknologi, media dan bahan ajar.

Scott menyiapkan sebuah lembar penilaian yang memaparkan apa yang diminta dari pelajaran tersebut dan criteria yang dipakai untuk menilai hasil akhir siswa.

Siapkan Lingkungan

Scott menguji sambungan internet pada laptop dan computer dan meyakinkan bahwa iMovie software sudah terinstal. Dia juga menguji Video camera digital apakah dapat merekam dengan baik dan dapat didownload kekomputer.

Menyiapkan Siswa

Siswa dikelas Mr. James sudah dapat menggunakan internet dan iMovie sebelumnya, sehingga dia hanya perlu memberikan gambaran diawal pelajaran.

Menyiapkan pengalaman belajar

Scott memulai pelajarannya dengan memberikan tujuan dan kegiatan pembelajaran baru kemudian meminta siswa membuat video siaran berita mengenai bencana alam.

 

E.    Meminta partisipasi siswa

Kegiatan praktek siswa.

Siswa dikelas Scott James menggunakan computer, internet, dan iMovie software untuk melengkapi siaran berita bencana alam mereka. Siswa secara berpasangan memilih sebuah bencana alam dan kemudian memakai internet dan perpustakaan untuk menemukan informasi yang mereka perlukan. Siswa menggunakan informasi tersebut untuk menulis berita dari pembawa acara dan liputan langsung reporter. Siswa kemudian merekam penampilan tersebut dan meng-editnya dengan iMovie.

Umpan balik.

Scott James menyediakan umpan balik secara terus menerus semenjak siswa mengadakan penelitian, menulis scenario, mempresentasikan, dan meng-editnya.

 

F.     Evaluasi dan Revisi

Penilaian hasil belajar / pencapaian siswa.

Scott menilai hasil belajar siswa dengan cara :(1). Demonstrasi  isi pengetahuan  seperti yang terlihat dalam scenario dan tayangan. (2). Demonstrasi kemampuan teknologi. Scott menilai ketrampilan ini berdasar hasil akhir / video siaran berita bencana alam dengan criteria penilaian seperti di tujuan pembelajaran.

 

Penilaian dari strategi, teknologi dan media

Scott menilai strategi pelajaran melalui komunikasi dengan siswa. Dia juga menilai hasil karya siswa untuk mengetahui apakah strategi yang dipakai efektif.

Revisi

Sesudah menilai hasil karya siswa Scott meniympulkan bahwa topic pelajaran ini sukses. Tetapi dia merasa waktu 3 minggu yang digunakan terlalu lama. Jadi dia merevisi pembelajaran dengan meminjam banyak kamera digital untuk mengurangi waktu yang diperlukan untuk merekam.

 

Video; Meningkatkan Pembelajaran Melalui Gambar Bergerak (tulisan 3 dari 4 tulisan)

Dalam bukunya yang berjudul “Instructional Technology and Media for Learning”, Sharon E Smaldino menjelaskan begitu banyak media yang dapat digunakan untuk mendorong percepatan penerimaan siswa terhadap pembelajaran. Khusus pada bab tentang video, tulisan ini merupakan terjemah dari catatan beliau agar lebih mudah dipahami dan berguna untuk penelitian bagi teman-teman yang membutuhkan literatur ini. Karena total ada 16 halaman (A4), saya sajikan dalam 4 tulisan berseri. Selamat membaca !

1. Seri 1. Berisi Materi : Pemanfaatan Video di Ruang Kelas, Special Attributes

2. Seri 2. Berisi Materi : Digital Video Format, Bentuk Video Analog, Kelebihan dan Kekurangan Video, Memilih Video.

3. Seri 3. Berisi Materi : Memproduksi Video dan Contoh-contoh Produksi Video Inspiratif

4. Seri 4. Berisi Materi : Memilih dan Menggunakan Video


H.    PRODUCING VIDEO (Memproduksi video)

Video karya siswa dapat mempromosikan/menjelaskan proses belajar siswa. Siswa terhubung kedalam isu-isu budaya, politik, scentific, keuangan, dan lingkungan. selain itu, menciptakan video membantu membangun keterampilan melek teknologi. Gairah Siswa pada teknologi bisa memacu eksplorasi aktif dunia mereka. Menggabungkan dua hal tadi  bisa memacu semangat  belajar karena pengalaman itu menyenangkan mereka. Membuat video mendorong kesadaran siswa, mengembangan kreativitas, meningkatkan  keterlibatan, dan jembatan dengan kehidupan di luar kelas. Selain itu, membuat video  memungkinkan guru untuk membuat bahan-bahan untuk pelajaran mereka.

Membuat Video dapat diajarkan dengan menggunakan teknologi seperti iMovie software. (lihat keterampilan-pembangun iMovie tutorial). Pengajaran tentang teknologi seharusnya tidak menjadi fokus kurikulum.Mendapatkan ketrampilan menggunakan teknologi adalah dengan menghasilkan. Siswa sekolah dasar dan menengah dapat terlibat dalam pembuatan scenario, merekam, mengedit dan merevisi produksi video mereka sendiri. siswa dapat mengambil peran sebagai penulis, editor, operator kamera, dan aktor. Mereka harus berganti/ memutar peran.

Guru dapat membantu dalam perencanaan tetapi harus memungkinkan siswa untuk kreatif. Sama halnya  dengan semua media produksi, perencanaan produksi diperlukan. Pembuatan Storyboard (lihat capter 3) dapat digunakan oleh siswa dari segala usia untuk memfasilitasi perencanaan dan pembuatan  video. Penulisan storyboard akan sangat membantu ketika sekelompok siswa secara bersama terlibat dalam perancangan sebuah video. ( Kidspiration, inspirasi (inspirasi www.. com). Software/ Perangkat lunak dapat digunakan untuk pra-dan pasca produksi.

perancangan video

Videografi memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi banyak pelajaran dikurikulum melalui proses aktif membuat video. Sebagai tambahan dalam keterampilan membuat  video, siswa belajar memecahkan masalah, penjadwalan, analisis, penelitian, perencanaan, imajinasi dan keterampilan komunikasi, semua ketrampilan nyata. Mereka menjadi pemikir yang lebih baik, komunikator yang lebih baik, dan pemecah masalah yang lebih baik. Siswa dapat berbagi pembuatan video di portofolio mereka dan dapat menunjukkan ini kepada masyarakat, sekolah, kelas, atau di rumah.

Guru atau siswa membuat video sebenarnya dapat digunakan untuk  salah satu tujuan yang dijelaskan sebelumnya. Ini adalah kemampuan yang unik untuk menangkap tayangan/adegan dan suara untuk diputar kembali. Penggunaan/ Aplikasi yang bermanfaat /menguntungkan dari aspek pembuatan  video termasuk.

•    dramatisasi cerita siswa, lagu, dan puisi.
•    kegiatan yang ditingkatkan/diperkuat oleh umpan balik segera.
•    latihan atletik.
•    pelatihan ketrampilan
•    interpersonel teknik.
•    dokumenter siswa tentang sekolah atau  isu dilingkungan.
•    pelestarian cerita rakyat setempat.
•    demonstrasi penelitian ilmiah dan latihan keselamatan.
•    replay dari perjalanan lapangan dalam kelas berikutnya.
•     informasi karir mengenai bussinesses lokal

Pertumbuhan sejumlah pusat media sekolah sekarang menambah dilingkungan mereka sebuah studio video kecil untuk siswa membuat video. Siswa Banyak yang datang ke sekolah sudah dengan pengalaman menggunakan kamera portabel.

1. Recording (Merekam)
Hand-held kamera/ kamera tenteng biasanya dilengkapi dengan mikrofon tertanam didepan kamera. Mikrofon ini punya control otomatis yang mengatur volume secara otomatis untuk menjaga suara pada tingkat terdengar. Kamera mendengar (merekam suara) sebaik dapat  melihat (merekam adegan).

Masalahnya adalah bahwa mikrofon ini menguatkan/merekam semua suara dalam jangkauan mereka, termasuk langkah kaki, batuk, kebisingan jalan dll, seiring dengan suara yang Anda inginkan. Oleh karena itu Anda mungkin ingin memotong bilt in mikrofon dengan cara menghubungkannya dengan mikrofon terpisah mungkin lebih sesuai untuk tujuan tertentu Anda.

The lavaliere, atau neck mike (mike leher), adalah pilihan terbaik untuk merekam pembicara tunggal. ini dapat dijepitkan didasi atau gaun, ditempatkan  di sekitar leher, bahkan tersembunyi di bawah pakaian yang ringan. Sebuah meja dapat digunakan untuk menempatkan mikrofon untuk beberapa pembicara yang duduk di meja. Untuk situasi di mana ada kebisingan di latar belakang yang tidak diinginkan atau pembicara bergerak, mikrofon langsung adalah yang terbaik.

2.  Editing (Mengedit).
Editing video digital mengacu pada makna adegan video dapat diambil terpisah dan disatukan kembali menggunakan komputer dan perangkat lunak/software. Dengan beberapa camcorder digital bukan dengan videotape, sedangkan yang lain menggunakan videotape  khusus untuk merekam dalam modus digital. Setelah shooting video, Anda dapat melihat ini pada kamera yang terintegrasi pada monitor LCD. Anda juga dapat menghubungkan kamera ke monitor televisi, atau Anda dapat mentransfer gambar ke komputer. Banyak camcorder memungkinkan Anda untuk mengedit tepat di kamera, atau Anda dapat mentransfer gambar ke komputer. Banyak camcordes memungkinkan Anda untuk bisa mengedit di kamera.

Dengan menggunakan kabel khusus untuk mentransfer video, kamu dapat menghubungkan camcorder, baik analog maupun digital, ke computer untuk menyalin tayangan video secara langsung ke hard drive computer. Anda dan siswa anda kemudian dapat mengedit video didalam computer, tanpa menggunakan camcorder. Kamu juga dapat menggunakan computer sebagai sarana tayang: menggunakan sebuah kamera digital untuk media gerak, memindahkan tayangan dari sumber analog dapat ditayangkan dilayar tanpa disimpan.

Ada beberapa metode untuk menyimpan video di computer. Salah satunya adalah QuickTime, digunakan dengan Mac OS dan Windows operating system. Banyak aplikasi seperti, Compton’s Multimedia Encyclopedia, digabung dengan QuickTime “movies”. Siswa dapat membuat video mereka dengan menambahkan gambar, grafik dan teks kedalam portofolio atau proyek mereka.

Dengan membuat videomu sendiri kamu dapat menujukannya kepada audience khusus dengan isi khusus. Pembuatan dapat disiapkan dan mudah diperbarui. Perlengkapan yang dibutuhkan adalah (karma, computer, dan software) yang sudah dibeli/ sudah dipunyai. Pembuatan video dirumah tidak mahal. Software untuk pembuatan video dirumah meliputinApple’s iMovie dan Avid Technology’s cinema dan VideoShop. Software ini sudah tersedia, tidak mahal dan mudah digunakan. Anak kecil dengan mudah dapat mempelajari dan menggunakan software dan kamera video dengan mudah.

RINGKASAN
Dimasa ini siswa terbiasa belajar melalui televisi dan media gerak yang lain. Ada banyak hal yang menyenangkan dalam menggunakan video diruang kelas. Video menyediakan karakteristik khusus yang  dapat disediakan dalam pembelajaran- khususnya yang melibatkan gerak. Bab ini menerangkan ciri khusus video seiring dengan kelebihan dan keterbatasannya. Kita juga memaparkan bagaimana memilih, membuat dan mengintegrasikan video dalam pembelajaran. Membuat video bisa mendidik siswa dan memungkinkan guru untuk menampilkan bahan yang mungkin  tersedia.

Menggunakan Video dalam ruang kelas

Tips ini diterapkan untuk meningkatkan kualitas presentasi video kepada kelompok :
•    Sightlines – Periksa cahaya, tempat duduk dan control suara untuk memastika setiaporang dalam melihat dan mendengarkan presentasi.
•    Kontrol Cahaya – Ketika menggunakan proyek video dengan video kaset atau DVD, perhatikan cahaya. Matikan cahaya jika konten terang tidak tersedia. Jika anda menggunakan TV, anda dapat menggunakan cahaya normal ruangan.
•    Set mental – Dapatkan mental siswa dengan mempersiapkan review bahan yang terkait dan menanyakan tentang topic yang disediakan.
•    Organisasikan dengan cermat – susun poin utama yang dapat dimunculkan oleh presentasi
•    Kosakata – Preview setiap kosakata yang baru.
•    Segmen singkat – Tunjukan hanya 8 sampai 12 menit dari video dalam satu tayangan (lebih pendek untuk siswa yang lebih muda). Lebih bagus daripada memunculkan video selama 30 menit dari mulai s.d selesai, meningkatkan perhatian pemirsa dengan teknik berikut : Perkenalkan segmen pertama selama 10 menit video, berhenti dan berikan poin rehat yang sesuai. Diskusikan segmen tersebut dan kemudian kenalkan segmen kedua dan mengulang prosedur. Tentu saja anda dapat memilih bagian tertentu saja yang penting, tidak harus menunjukkan semua bagian.
•    Role Model – Paling penting, dapatkan saran dalam program secara mandiri. Lihat secara seksama dan responlah ketika presenter menanyakan untuk respon
•    Follow up – Kuatkan kembali presentasi dengan aktivitas follow up yang bermakna.

Media Files : Video (Contoh Produksi Video yang pernah beredar beserta penerbit dan deskripsinya)

1. Matematika.. Siapa yang membutuhkannya ?
FASE Productions Video

Video ini diperuntukkan bagi orang tua dan anak-anaknya. Ini memberikan perspektif dalam penghargaan dan kesempatan membuka bagi siapa saja  yang memiliki kemampuan matematika. Ini tantangan mitos tentang matematika, memberikan keceriaan dalam subjek konsep dan mempengaruhi pemirsa untuk berfikir dan berbicara tentang matematika dalam cara yang lebih positif.

2. Daur Ulang adalah mengasyikkan
Bulfrog Films Video

Tiga perangkat untuk anak-anak untuk mengeksplorasi 3 Rs yakni reduce, recycle and reuse (mengurangi, daurulang dan menggunakan kembali). Untuk mengajarkan terhadap mereka , mereka pergi ke area kosong, pusat daur ulang dan supermarket local untuk mencari tahu apa solusi yang dapat mereka upayakan dalam mengatasi krisis air bersih. Mereka menmukan kekuatan mereka sendiri untuk mendaur ulang dan memilih apa yang mereka beli, untuk keuntungan dunia mereka. Bantuan studi ini diberikan untuk para guru dan siswa.

3. Merencanakan pendekatan untuk membaca
Agency For Instructional Technology Video
Empat anggota band rock menggunakan strategi membaca untuk menolong mereka mengorganisasi kelompok mereka, memilih kostum, menemukan gaya dan memainkan tarian. Pembaca yang lain menggunakan strategi untuk membawa peneliti dalam perpustakaan dan membaca majalah gulat. Rappers menjelaskan bagaimana  melakukan preview, dan asisten pesulap mengelabuhi dan membaca untuk menyimpan pesulap dari kampak yang terjatuh.

4. Kreatifitas Setiap hari
CRM Learning Video
Fotografer National Geographic Dewitt Jones menggunakan cerita yang mngesankan dan foto inspirasinya sendiri  untuk menunjukkan bahwa setiap orang dapat lebih kreatif dalam setiap hal untuk menyelesaikan masalah dengan sesama.

5. Satu Wanita Satu pilihan
PBS Video Video

Dalam usia yang ke 70  perjuangan kesetaraan wanita, dari aliansi pergerakan massa. Video documenter ini menggambarkan sejarah pergerakan wanita dari konvensi penurunan Seneca tahun 1848, ketika Elizabeth Cady Stanton menawarkan pilihan kepada wanita untuk memilih, dalam peperangan terakhir  untuk untuk Amandemen undang-undang yang ke 19 tahun 1920.

6. Apakah kamu kecanduan ?
Human Relations Media Video

Sebuah penghargaan kemenangan video yang disutradai memfokuskan pada 3 orang pemuda yang kecanduan. 2 tenaga medis menyediakan definisi tentang kecanduan dan memandu siswa melalui analisis terhadap kecanduan. Pada akhirnya video ini member tekanan pada penyembuhan.

Copyright Concern (Perhatikan hak cipta video)

UU hak cipta tahun 1976 tidak mencakup pendidikan yang menggunakan salinan rekaman video dari siaran yang berhak cipta. komite negosiasi disusun oleh perwakilan dari industri, pendidikan, dan pemerintah menyetujui sebuah  pedoman  merekam vidio yang digunakan untuk  pendidikan. pedoman berikut ini hanya berlaku untuk institusi pendidikan non-profit/ nirlaba.

Anda dapat melakukan hal sebagai berikut:
•     Minta ahli media  /  teknologi untuk merekam program untuk Anda  jika anda tidak dapat melalukannya atau jika anda kurang peralatan. permintaan merekam harus berasal dari guru.
•    Pertahankan rekaman siaran untuk jangka waktu 45 hari, setelah itu Anda harus menghapus program itu.
•    Gunakan rekaman di kelas masing-masing kelas selama 10 hari dari 45 hari, dan a kali kedua jika instruksi/ pelajaran perlu diperkuat.
•    Miliki staf profesional untuk melihat program beberapa kali untuk proses evaluasi selama periode 45-hari penuh.
•    Buat dalam jumlah terbatas  sesuai aturan.
•    masuk ke dalam suatu perjanjian lisensi dengan pemegang hak cipta untuk melanjutkan penggunaan program ini.
Anda dan ahli media tidak boleh melakukan hal berikut :
•    Merekam layanan premium TV kabel seperti HBO tanpa ijin.
•    Merubah isi asli dari suatu program.
•    Mengeluarkan Notice hak cipta dari suatu program.
•    Merekam sebuah program sebagai antisipasi permintaan penggunaan.
•    Mempertahankan program dan salinannya sesudah 45 hari.
Ingat bahwa panduan ini bukan bagian dari tindakan hak cipta namun lebih kesepakatan antara produsen dan pendidik. Anda harus menerima mereka sebagai pedoman yang beritikad baik.

Presentasi Penerapan e-learning; Potensi dan Tantangannya

Hai pengunjung setia DedySetyo.Net !, tak terasa hari-hari ini tlah berlalu, tahu2 dah akhir pekan aja..he he, maklumlah..kerjaan gak berhenti2. Di pagi yang syahdu ini, saya sempatkan untuk share tentang slide presentasi beberapa hari yang lalu terkait dengan penerapan e-learning. Ya, e-learning telah menjadi fenomena tersendiri, banyak kemajuan pembelajaran yang akan dicapai oleh peserta didik jika menggunakan media ini. Tujuan presentasi ini pada dasarnya adalah untuk pembentukan tim guru inti yang akan menjadi model penerapan, sehingga untuk masalah edukasi, sosialisasi dan pemasyarakatan e-learning menjadi lebih ringan dari sebelumnya. Saya bagikan juga data bagaimana banyak lembaga yang telah mencapai effisiensi karena menggunakan elearning. 

Silakan di review ya..

Semoga bermanfaat !

elearning presentasi

 

 

Video; Meningkatkan Pembelajaran Melalui Gambar Bergerak (tulisan 2 dari 4 tulisan)

Dalam bukunya yang berjudul “Instructional Technology and Media for Learning”, Sharon E Smaldino menjelaskan begitu banyak media yang dapat digunakan untuk mendorong percepatan penerimaan siswa terhadap pembelajaran. Khusus pada bab tentang video, tulisan ini merupakan terjemah dari catatan beliau agar lebih mudah dipahami dan berguna untuk penelitian bagi teman-teman yang membutuhkan literatur ini. Karena total ada 16 halaman (A4), saya sajikan dalam 4 tulisan berseri. Selamat membaca !

1. Seri 1. Berisi Materi : Pemanfaatan Video di Ruang Kelas, Special Attributes

2. Seri 2. Berisi Materi : Digital Video Format, Bentuk Video Analog, Kelebihan dan Kekurangan Video, Memilih Video.

3. Seri 3. Berisi Materi : Memproduksi Video dan Contoh-contoh Produksi Video Inspiratif

4. Seri 4. Berisi Materi : Memilih dan Menggunakan Video


A.    DIGITAL VIDEO FORMAT ( Bentuk video digital)

Seperti audio yang dapat digitalkan, adegan video  dalam bentuk analog (konvensional) dapat di rubah kedalam bentuk digital. Dengan penyimpanan video digital di DVDs atau dalam computer. Kita dapat mengedit isi dan bagian dari tayangan tersebut.

Dua bentuk video adalah analog (kovensional) dan digital. Analog sementara ini  sudah diganti dengan digital. Sinyal dari video analog adalah bahwa tayangan dikirim oleh modulasi sinyal transmisi secara terus menerus sedang video digital dalam bentuk 1s dan 0s. Analog video  ditayangkan lewat serangkaian kilasan / adegan  dan video digital ditayangkan lewat cahaya dan warna  yang kuat dalam titik yang tepat.  Sebab sinyal digital dapat  diperbanyak, disimpan  dan dipindahkan dengan lebih akurat daripada sinyal analog. Sistem video yang lebih baik adalah video digital.

Tayangan video digital dapat dirubah, disimpan dan diperbanyak, ditransfer dari satu komputer ke komputer yang lain, dan kembali diputar tanpa kehilangan mutu. Tersedia kualitas tertinggi dari tayangan, berkalilipat dibanding videocassette. Bentuk digital menurunkan biaya dan meningkatkan kemudahan dalam membawanya. Ini memungkinkan produksi video dalam berbagai bidang, dimanapun diinginkan : Laboratorium sains, ruang kelas, kantor konseling, lapangan atletik, rumah sakit atau dimanapun. Sama pentingnya, kesederhanaan systemnya memungkinkan  bagi non professional / amatir seperti murid dan guru menciptakan video pembelajaran  sendiri . Keuntungan lain dari video digital adalah dapat diedit menggunakan software  dikomputer, yang memudahkan dalam memanipulasi tayangan. Kualitas tayangan video tidak akan turun selama diedit dan digandakan seperti yang terjadi pada  kualitas videocassette. Video digital juga bisa ditayangkan dalam berbagai kecepatan , memungkinkan siswa untuk mempelajari tayangan dari gerak lambat sampai ke cepat. Gambar diam juga dapat direkam oleh  video digital. Akhirnya, ini cepat dan mudah untuk memindahkan video kekomputer dengan menggunakan koneksi kecepatan tinggi (high-speed connection). Koneksi ini memindahkan sejumlah besar isi video tanpa perlu dipadatkan, yang mana pasti kualitas tayangan tidak akan berkurang. Dibawah ini adalah macam video digital

  1. DVD ( Digital Videodisch)

DVD adalah sebuah penyimpan data digital dan pemutar gambar gerak video. DVD bentuknya sama dengan CD tetapi dapat  menyimpan banyak data, cukup  untuk 4 film panjang (dengan masa putar hampir 9 jam). Kapasitas  simpan DVD sangat besar, sampai 17 GB, maka sesuai untuk menyimpan film. DVD  tidak dapat diakses oleh CDROM. Media optic pembaca DVD adalah DVD ROM. DVD menyediakan suara dan gambar berkualitas tinggidibanding VC biasa.

  1. Computer – based Video ( Video berbasis computer)

Siswa / guru dapat menyiapkan presentasi dengan video di computer. Dengan menggunakan rangkaian video atau rangkaian gambar dari benda yang mereka rekam atau mengambil dari DVD. Mereka dapat memanipulasi gambar dan suara seperti mereka memanipulasi teks. Siswa dapat menggunakan petikan adegan dari video sebagai bagian dari presentasi, menggantikan suara asli dengan narasi mereka sendiri. Video karya siswa bisa dijadikan alat penilaian. Video Karya siswa dengan pendekatan multimedia bisa digunakan sebagai pendamping atau pengganti karya dengan kata/kalimat  seperti paper/ makalah. Siswa dapat mempelajari suatu topik dengan buku, data base, CD atau media lain yang dapat direkam oleh video, diedit lalu ditayangkan didepan kelas. Jangan lupa untuk selalu mencantumkan hak cipta.

  1. Internet Video (Video di Internet)

Sekarang banyak websites yang menyiarkan rekaman dari suatu peristiwa, kegiatan ilmiah, atau laporan budaya  di internet. Beberapa siaran ada yang langsung ada juga yang merupakan rekaman. “Live Cam” kamera pengamat dapat membawa siswa ke kebun binatang untuk mengobservasi perilaku binatang. Siaran internet ini menggunakan compressed video atau streaming video.

  1. Compressed Video (Video yang dipadatkan)

Compressed video  menyimpan video dengan cara dipadatkan bagian- bagian adegannya sehingga file yang dibutuhkan untuk menyimpan video tersebut lebih kecil dari sebenarnya. Compressed video biasanya digunakan untuk mengirim video lewat internet.

  1. Streaming Video  (Video yang mengalir / diputar)

Video juga dapat dikirim lewat internet menggunakan streaming video. “Streaming” artinya file belum diunduh secara komplit sebelum video ini diputar. Isi video biasanya diunduh ke computer pengguna dalam sebuah rangkaian paket kecil informasi yang hadir sesaat sebelum pengguna melihat/mendengar video itu. Isi video tidak disimpan dalam memori komputer tetapi hanya mengalir kedalam memori aktif, kemudian ditayangkan dan kemudian dihapus.

B.    BENTUK VIDEO ANALOG

Video Cassette

Banyak  dari kita merekamsebuah program TV di Videocassette untuk dilihat nanti/ diputar ulang. Banyak juga sekolah dan pusat sumber belajar mempunyai penyimpanan materi dalam bentuk video cassette. Banyak juga kelas yang sudah bias mengakses TV layar lebar yang ditanam didinding secara permanen yang terhubung ke sentral, yang memungkinkan untuk memutar video yang diminta pada waktu tertentu. Sistem ini bias digunakan untuk menyiarkan informasi pagi (berita terkini) keseluruh penjuru sekolah.

C.    ADVANTAGES (Manfaat / Kelebihan)

1.     Motion  (gerakan)

Tayangan yang bergerak mempunyai manfaat lebih banyak dari gambar diam dalam menggambarkan suatu konsep dimana gerak penting untuk dipelajari ( seperti ketrampilan gerak : lari, lempar, lompat dll).

2.     Process (Proses)

Cara melakukan sesuatu, seperti tahapan pertemuan (rapat), penelitian ilmiah, dimana rangkaian tahapan (gerak) secara kritis diamati, dengan video hal ini dapat  dipantau secara efektif.

3.     Risk – Free Observation  (Penelitian bebas resiko)

Video memungkinkan pembelajar untuk menyelidiki peristiwa alam yang terlalu berbahaya untuk diamati secara langsung seperti gerhana matahari, letusan gunung berapi, tsunami, ataupun perang.

4.     Dramatization  (Menggugah perasaan)

Hiburan dapat lebih  menggugah perasaan,  seperti melukiskan peristiwa bersejarah atau kehidupan seorang tokoh dalam sebuah drama yang direkam. Ini memungkinkan siswa untuk dapat mempelajari  peristiwa bersejarah dalam hubungan antar manusia.

5.      Skill Learning  (Mempelajari suatu ketrampilan)

Penelitian mengindikasikan bahwa menguasai suatu ketrampilan fisik membutuhkan pengamatan dan latihan berulang. Melalui  video siswa dapat melihat suatu tayangan berulangkali untuk mendapatkan hasil yang sama. Mereka juga bias mengamati video penampilan mereka sendiri sebagai umpan balik dan perbandingan.

6.     Affective Learning (Pembelajaran Sikap)

Karena sangat potensial mempengaruhi emosi, video sangat berguna dalam membentuk kepribadian dan sikap social siswa. Film dokumentasi  dan iklan berbentuk video banyak ditemukan dalam rangka menarik perhatian pemirsa.

7.     Problem Solving (Pemecahan Masalah)

Awal atau akhir dari suatu drama seringkali menayangkan situasi yang tak terpecahkan. Ini dipersilahkan bagi pemirsa untuk mendiskusikan / mengusulkan cara pemecahan masalahnya.

8.     Cultural Understanding (Pemahaman Budaya)

Kita dapat mengembangkan pemahaman yang mendalam dari suatu budaya lain dengan menonton tayangan kehidupan suatu budaya mereka sehari-hari. Video ethnographic mewakili  tujuan ini, misalnya : The Hunter, The Tribe that hides from man, The Nuer, and River  sand.

9.     Establishing Commonality  (Pembiasaan)

Dengan melihat video bersama, suatu kelompok masyarakat yang berbeda pendapat dapat membangun sebuah dasar pemikiran yang sama  berdasar  pengalaman dan mendiskusikan suatu masalah secara efektif.

D.    LIMITATION (Keterbatasan/ kelemahan)

1.     Fixed Pace (Alur tetap)

Meskipun video dapat dihentikan untuk suatu diskusi, ini tidak selalu dilakukan pada saat penayangan karena tayangan terus mengalir tanpa jeda. Beberapa penonton mungkin ada yang tertinggal informasi tetapi ada juga yang sudah menunggu dengan tidak sabar point selanjutnya.

2.     Still Phenomenon  ( Gambar diam)

Video sangat bermanfaat untuk menayangkan konsep dengan unsure gerak, tetapi kurang cocok untuk topic lain dimana menuntut detail secara terperinci dari misalnya sebuah tayangan / gambar tunggal (peta, diagram).

3.     Misinterpretation (Salah Persepsi)

Film dokumentasi atau suatu drama sering menampilkan  konflik yang sulit/komplek. Sebuah percakapan / tindakan ada yang dimaksudkan sebagai sindiran / kiasan tetapi mungkin saja diambil secara harfiah / mentah oleh penonton yang masih muda / naïf.

4.     Abstract, Nonvisual Instruction (Ikhtisar, Instruksi nonvisual )

Video jarang menayangkan ringkasan/ikhtisar, informasi nonvisual. Media yang disediakan untuk kata hanya teks. Filsafat dan matematika kurang bisa dipresentasikan dengan baik dalam video kecuali kalau materi tertentu yang dibicarakan memungkinkan mereka untuk menggambarkan / menerangkan menggunakan asal mula ukuran / hitungan, tayangan grafik, perbandingan yang disesuaikan.

Technology For Diverse Learners (Teknologi Untuk Pembelajar Yang Berbeda)

Siswa dengan ketidakmampuan belajar karena gangguan pendengaran.

Tulisan dibawah gambar selalu disediakan di TV atau video yang lain. “Captioning” yang terdiri dari sebuah sebuah kotak teks dibawah area tonton. Teks menyediakan pemirsa pemirsa dengan kesulitan pendengaran punya kesempatan untuk membaca apa yang lain dengar melalui saluran audio dari suatu video.

Siswa dengan ketidakmampuan belajar karena gangguan penglihatan.

Tehnik yang disebut video descriptive (paparan) disediakan bagi siswa dengan visual lemah. Sebuah narasi memaparkan adegan yang sedang ditayangkan. Siswa yang kurang secara visual dapat mendengar paparan dan menangkap maksud tayangan. Layanan ini banyak disediakan disiaran TV. Banyak video pembelajaran juga menyediakan sarana ini.

When to Use Video (Kapan menggunakan Video ?)

Beberapa penggunaan video memiliki nilai kemanfaatan.

Panduan

Contoh

Mengajarkan untuk berbagi ide Siswa –siswa dengan keterbatasan kemampuan fisik menolong sesama mereka menggunakan kamera digital tripod yang dilengkapi dengan alat bantu untuk mengungkapkan cerita.
Mengajarkan bagaimana proses Siswa pada tingkat dasar belajar bagaimana alumunium dapat di daur ulang dengan menyaksikan video yang menunjukkan bagaimana proses daur ulang itu terjadi.
Observasi dengan bebas resiko Siswa pada sekolah menengah melihat video  tentang erupsi pada gunung meletus di hawai
Dramatisasi even Siswa pada tingkat dasar melihat video yang menunjukkan evolusi alat transportasi
Belajar kemampuan untuk tugas Siswa kelas seni dalam level menengah melihat video yang menjelaskan tahapan dalam menggambar bayangan
Belajar tentang sesama Murid TK menonton sebuah video untuk lebih baik memahami rasa dan menantang siswa dalam ketidakberdayaannya.
Penerapan pemecahan masalah dalam topik yang didiskusikan Siswa sekolah menengah dalam bermacam bidang diberikan materi untuk melakukan review dokumen yang menjelaskan populasi yang padat penduduk dan mendiskusikan tentang solusi yag memungkinkan
Pemahaman budaya dan membangun kesamaan Siswa sekolah atas dalam sekolah yang sedang meningkat populasi siswa dalam latar belakang multi etnik melihat rekaman video yang menjelaskan kesamaan antar etnik.

 

INTEGRATION (Integrasi/Penggabungan)

Kita sekarang mengajar generasi video.  Konsekuensinya video dapat meningkatkan pembelajaran siswa. Masa ini, guru perlu menggabungkan (integrates) video dalam materi pembelajarannya. Untuk integrasi itulah akan dibahas dalam sub bab ini.

E.    SELECTING VIDEOS (Memilih Video)

1.     Evaluating Videos (Mengevaluasi Video)

Informasi untuk mencari video terdapat dalam chapter 4. Setelah anda menemukan beberapa video yang potensial untuk dipakai, seharusnya kemudian ditayangkan (preview) dan di evaluasi (Gambar 11.6). Beberapa sekolah dan organisasi memiliki standar penilaian yang siap digunakan. Beberapa diantaranya sangat detail dan cermat, menutup setiap faktor kemungkinan, sementara yang lain sangat longgar. Sebuah penilaian yang baik akan cukup singkat dan tidak mengintimidasi tapi cukup lengkap untuk menolong individu memilih materi yang dapat digunakan saat ini dan dimasa mendatang. Ini bias terdiri dari  rekaman publik yang anda dapat digunakan juga video dari pembelian atau sewa untuk judul-judul tertentu. “Pemilihan rubrik : Video” di akhir Bab terdiri atas kriteria yang paling sering digunakan, terutama penelitian yang sungguh dilakukan mengindikasikan sebuah perbedaan. Area khusus untuk mengevaluasi video adalah vital dan penggunaannya dalam membantu pembelajaran kognitif.

Evaluasi dan melakukan penayangan juga memberikan kesempatan untuk membuat catatan untuk yang bisa didiskusikan dari suatu video dalam kelas dan untuk mencatat poin penting dalam video untuk menjelaskan atau menekankan sesuatu pada siswa.

2.     Sponsored Videos (Video bersponsor)

Perusahaan swasta, asosiasi dan agen pemerintah mensponsori video untuk beragam alasan. Perusahaan swasta mungkin membuat video untuk mempromosikan produk mereka atau untuk meningkatkan image di mata masyarakat. Asosiasi dan agen pemerintah mensponsori video semisal untuk menanamkan kebiasaan kesehatan untuk hidup yang lebih baik, pelestarian sumber daya alam, dan penggunaan yang tepat dari area taman dan rekreasi. banyak dari vidio yang disponsori ini membuat bahan ajar bermanfaat. Mereka juga  memiliki banyak manfaat karena digratiskan atau dijual murah.

Sebuah jumlah tertentu caution/ peringatan, bagaimanapun,  menggunakan programs yang disponsori untuk tujuan pembelajaran. Beberapa instructional pribadi video yang dihasilkan mungkin  terang-terangan mementingkan diri sendiri, atau produk  yang tidak cocok untuk mendukung intructional tertentu., misalnya, pembuatan minuman beralkohol atau batang rokok. Beberapa materi/ isi program  pemerintah mungkin   cukup dekat dengan iklan  menyebabkan materi pembelajaran terlihat  bersama dengan konten mereka, karena produk sponsor harus selalu ditayangkan.

Ketika benar diseleksi, bahan yang disponsori  dapat sebagai tambahan pembelajaran dikelas yang berharga. Layanan modern gambar berbicara adalah salah satu distributor utama video disponsori. Sebuah sumber yang sangat baik dalam pembentukan dapat ditemukan di situs www.prenhall.com pendamping / smaldino.

Video; Meningkatkan Pembelajaran Melalui Gambar Bergerak (tulisan 1 dari 4 tulisan)

Dalam bukunya yang berjudul “Instructional Technology and Media for Learning”, Sharon E Smaldino menjelaskan begitu banyak media yang dapat digunakan untuk mendorong percepatan penerimaan siswa terhadap pembelajaran. Khusus pada bab tentang video, tulisan ini merupakan terjemah dari catatan beliau agar lebih mudah dipahami dan berguna untuk penelitian bagi teman-teman yang membutuhkan literatur ini. Karena total ada 16 halaman (A4), saya sajikan dalam 4 tulisan berseri. Selamat membaca !

1. Seri 1. Berisi Materi : Pemanfaatan Video di Ruang Kelas, Special Attributes

2. Seri 2. Berisi Materi : Digital Video Format, Bentuk Video Analog, Kelebihan dan Kekurangan Video, Memilih Video.

3. Seri 3. Berisi Materi : Memproduksi Video dan Contoh-contoh Produksi Video Inspiratif

4. Seri 4. Berisi Materi : Memilih dan Menggunakan Video


Outline / isi / garis besar

  1. Pengantar
  2. Video di ruang kelas
  3. Atribut / ciri  khusus
  4. Format / bentuk video digital
  5. Format / bentuk video analog
  6. Keuntungan / kelebihan
  7. Keterbatasan / kekurangan
  8. Penggabungan / integrasi
  9. Pemilihan video
  10. Memproduksi video
  11. Rangkuman

Tujuan : Memahami  dengan tepat aplikasi video dalam suatu ruang kelas P-12.

Hasil pengetahuan / Tujuan pembelajaran     :

1.      Membuat contoh-contoh asli dari aplikasi  video di dalam masing-masing domain intruksional – kognitif, afektif, motorik, dan interpersonal

2.      Mendeskripsikan aplikasi-aplikasi instruksional khususnya yang tepat untuk video

3.      Mendeskripsikan atribut/simbol-simbol video

4.      Mengidentifikasi lima format video secara umum dan membandingkan suatu karakteristik, keuntungan, dan keterbatasan pada masing-masing format

5.      Mendeskripsikan teknik-teknik untuk memproduksi video oleh siswa dan guru

6.      Outline suatu proses untuk pemilihan video, memasukkan paling sedikit lima kriteria penilaian

Pengantar

Buku ini menawarkan pendekatan sistematis bagi guru  dalam penggunaan teknologi dan media untuk memajukan pembelajaran siswa. Pada bab ini kita akan mengenal lebih dalam suatu karakteristik dan efektifitas  menggunakan video dalam pembelajaran. Video dapat diproduksi oleh siswa sama baiknya seperti yang dibuat oleh guru. Awalnya,  konsep video  sama dengan siaran televisi, tetapi konsep ini telah diperluas/dikembangkan  dalam 60 tahun yang lalu. Sudah terdapat bentuk media elektronik yang melibatkan  “gambar bergerak” untuk menyampaikan pesan yang  disebut sebagai video. Pada tulisan ini kita menggunakan  istilah (term) untuk merujuk pada perangkat elektronik yang menyimpan gambar bergerak (videocassettes, DVD, komputer berbasis video/computer based video, dan video internet). Teknologi baru telah berkembang sebab pemancar informasi elektronik  lebih murah dan lebih efesien daripada pemindahan informasi, barang-barang, dan orang secara fisik. Bab ini akan menyampaikan informasi dalam berbagai macam tipe teknologi video yang  tersedia bagi guru dan bagaimana ini digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran siswa.

A.    VIDEO DIRUANG KELAS

Menurut Nugent (2005), banyak guru menggunakan video untuk mengantarkan suatu topik, dalam menyampaikan materi, menyediakan pengulangan (remediasi), dan untuk pengayaan (promote).  video dapat digunakan di semua lingkungan instruksional melalui kelas-kelas, kelompok-kelompok kecil, dan individu siswa.

Para siswa mampu menumbuhkan kemampuan melalui program televisi berdurasi pendek  lebih baik daripada program berjangka 30 menit. Seperti dibanyak tayangan, jalan sesama (sesame street) berubah tema/adegan setiap beberapa menit. Video-video singkat di dalam video yang berdurasi panjang memberikan keleluasaan maksimal bagi guru dalam memajukan pembelajaran khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan siswa.  Suatu kecenderungan (trend) hari ini adalah menayangkan media video berdurasi pendek, bagian-bagian singkat dimana guru dapat memasangkan dalam bermacam cara untuk mendukung bermacam penggunaan skenario (Nugen, 2005, p.61).

Pelatihan berbasis video melalui banyak soundtracks dapat mengatasi perbedaan tipe-tipe pembelajar. Teks dapat dimainkan dalam banyak bahasa dan digunakan  pada subjudul atau keterangan isi video. Banyak DVD menawarkan kemampuan untuk memperlihatkan (view) suatu obyek dari beragam sudut pandang yang dipilih oleh penguna. Disk menawarkan pencarian indeks dengan judul, bab, track atau kode waktu untuk panduan secara cepat. Barcodes dapat disisipkan pada materi teks untuk mengakses bagian-bagian video pada DVD.

Video tersedia dalam banyak tema dan untuk semua type pembelajar dalam semua domain instruksional-kognitif, afektif, motorik dan hubungan atarpribadi (interpersonal). Mereka dapat membawa pembelajar hampir kemanapun, melebihi batas dinding kelas. Objek yang sangat besar yang tidak mungkin dibawa kedalam kelas  dapat dipelajari sama baiknya dengan obyek kecil yang tidak mungkin dilihat dengan mata telanjang. Peristiwa yang terlalu berbahaya untuk diobservasi, seperti suatu gerhana matahari, dapat dipelajari dengan aman. Waktu dan biaya perjalanan lapangan (field trip) dapat dihindari. Banyak perusahaan dan taman nasional menyediakan video wisata untuk mengamati garis pertemuan, pelayanan, dan gambaran alam.

  1. Domain kognitif

Didalam domain kognitif, pembelajar dapat mengobservasi kejadian dramatis dari peristiwa sejarah  dan rekaman aktual peristiwa yang baru saja terjadi. Warna, suara, dan gerakan membuat kepribadian/tayangan menjadi hidup. Video dapat meningkatkan/lebih bermakna dari suatu buku teks dengan memperlihatkan proses, hubungan-hubungan, dan teknik. Para siswa dapat membaca buku melalui tontonan video. Anda dapat meminta siswa  membaca sebelum memperlihatkan (video) sebagai pengantar menuju tema atau menggunakan video untuk menarik siswa untuk membaca suatu topik tertentu.

  1. Domain afektif

Ketika ada unsur  emosi atau suatu hasrat (desire) dalam pembelajaran afektif, video biasanya bekerja/berhasil baik. Model-model peran dan pesan dramatis video dapat mempengaruhi sikap-sikap. Oleh karena potensi besar video dalam mempengaruhi emosi, maka video dapat digunakan dalam membentuk sikap individu dan sosial. Program-program film dokumenter (documentary) sering ditemukan untuk mendapatkan dampak yang dapat diukur pada sikap siswa. Film Dokumenter telah dibuat selama the Great Depression, sebagai contoh, yang membawa penderitaan dari jaman itu pada siswa yang tidak pernah mengetahui waktu itu. Pemahaman budaya dapat dikembangkan seusai memperlihatkan video penggambaran/tayangan manusia di seluruh bagian dunia.

  1. Domain motorik

Video merupakan hal besar untuk memperlihatkan bagaimana sesuatu itu  bekerja. Sebagai contoh, adanya suatu video pendidikan singkat yang disebut Colonial Cooper. Dibuat di Colonial Williamsburg, video tersebut memperlihatkan bagaimana di abad ke-18 pekerja ahli  telah membuat suatu senjata. Mendemonstrasikan suatu keterampilan motorik dapat lebih mudah terlihat melalui media daripada  di kehidupan nyata. Jika Anda sedang mengajarkan proses tahap demi tahap, Anda dapat menunjukkannya dalam waktu yang nyata, mempercepatnya sampai memberikan sebuah kejelasan, atau  melambatkannya pada tampilan detail yang spesifik. Melalui DVD Anda dapat menghentikan suatu adegan agar seksama mempelajarinya atau menggerakkan forward (meneruskan) satu frame di suatu waktu. Perekaman  tampilan (performance) siswa dapat dipakai sebagai umpan balik. Pembelajar dapat mengamati performance mereka dan juga menerima umpan balik dari teman dan guru.

  1. Domain interpersonal

Dengan melihat program video secara bersama-sama, suatu kelompok pembelajar yang berbeda dapat membangun dasar pengalaman bersama sebagai suatu katalisator untuk diskusi. Ketika siswa sedang belajar keterampilan interpersonal, seperti pemecahan masalah  dan hubungan pertemanan, mereka dapat mengamati orang lain lewat video untuk demonstrasi dan analisis. Mereka dapat mempraktikkan kemampuan interpersonal  mereka dan direkam, menyaksikan diri mereka sendiri, dan menerima umpan balik dari teman sebaya dan instruktur. Bermain peran vignettes dapat dianalisa untuk menentukan (determine) apa yang terjadi dan menanyakan kepada pembelajar apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Membuka-menutup dramatisasi dapat menyampaikan konfrontasi tak terpecahkan (unresolved konfrontas)i, meninggalkannya pada pemirsa (viewer) untuk mendiskusikan berbagai cara pemufakatan/ pemecahan  melalui suatu masalah.

  1. Virtual Field Trips

Video bisa membawa siswa pada tempat dimana mereka tidak dapat mengunjunginya. Anda dapat membawa siswa Anda ke Hutan hujan Amazon, hutan rimba di New Guinea, atau padang rumput frozen Arctic. Banyak dari kita tidak akan pernah melakukan perjalanan ke Afrika atau menghabiskan beberapa bulan ke gunung-gunung di padang Alaska  untuk mengamati perilaku binatang buas. Kita bisa pergi ke tempat-tempat tersebut dan banyak yang lainnya melalui video.

  1. Documentary

Video merupakan media utama untuk mendokumentasikan kejadian aktual dan membawanya ke dalam kelas. Suatu documentary menghubungkan melalui fakta, bukan fiksi atau versi-versi yang dikhayalkan dari fakta (gambar 11.1). Usahanya untuk menggambarkan kebenaran esensial sejarah   tentang situasi nyata dan manusia. Jaringan komersial (siaran, dan kabel) dan suatu Sistem Penyiaran Publik secara tetap memproduksi dokumentasi penting. To the Ends of the Earth memungkinkan siswa pada pengalaman kisah suatu perjalanan laut yang berbahaya berdasar pada novel William Golding’s dengan judul sama. Miniseri The Civil War merupakan satu contoh presentasi dokumentasi suatu periode kritis sejarah Amerika. Program seperti NOVA dan National Gegraphic khususnya dokumentasi ilmiah, budaya dan alam. Virtual tersebut ditayangkan di TV melalui video.

  1. Dramatization (Dramatisasi / menggugah perasaan)

Video mempunyai kekuatan untuk membuat siswa anda terpesona dan memunculkan sisi kemanusiaannya. Contohnya, program televisi seperti CSI, dapat membawa mereka kedunia peradilan (forensic) untuk mengamati  tentang apa yang terjadi selama investigasi kejahatan. Tampilan film melalui video menawarkan banyak  pilihan bagi siswa dan guru.

  1. Video Storytelling ( Penjabaran cerita)

Kita senang mendengarkan dan menceritakan berbagai kisah. Cerita dapat menjadi hiburan yang berisi keterangan. Penjabaran cerita adalah kemampuan yang penting untuk membangun siswa menjadi kreatif saat mereka membangun berbagai kemampuan yang mereka miliki. Kemampuan visual, kemampuan menulis, dan kemampuan membuat video. Tujuannya seharusnya mengajar siswa untuk mengekspresikan idenya melalui cerita.Dalam prosesnya para siswa dapat melakukan keduanya, mengajar dan belajar satu sama lain.

 

B.     SPECIAL ATTRIBUTES ( CIRI-CIRI KHUSUS)

            Kebanyakan kita berpikir bahwa video  adalah sebuah media yang dirancang untuk menghasilkan gambaran nyata dari dunia disekitar kita. Kita seringkali lupa bahwa dasar pembuatan video adalah kemampuan memanipulasi / merekayasa  waktu dan ruang. Rekayasa ruang dan waktu tidak hanya menyajikan akhir yang kreatif dan menggugah perasaan, ini juga berpengaruh terhadap pendidikan.

  1. Manipulation of Time ( Manipulasi waktu)

Video memungkinkan kita untuk mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengamati  suatu peristiwa. Sebagai contoh; ini akan memakan waktu bagi siswa untuk betul-betul mengamati sebuah jalan layang dibangun, tetapi dengan video yang diedit dengan cermat akan menghasilkan tayangan bagian- bagian penting dari suatu peristiwa dalam beberapa menit. Kita juga bisa memindahkan segmen waktu, contohnya anda mungkin terbiasa dengan adegan hari ini yang berlanjut dengan besok kita tahu adegan itu telah berganti hari meski malam tidak ditayangkan.

  1. Compression of time ( Pemadatan waktu).

Video dapat memadatkan waktu yang diperlukan untuk meneliti suatu peristiwa. Bunga sudah mekar sebelum kita mengedipkan mata, bintang dapat melintasi langit malam. Teknik ini dikenal sebagai “time lapse” jangka waktu/ selang waktu yang sangat bermanfaat dalam pendidikan. Sebagai contoh ; proses kepompong menjadi kupu-kupu sangat lama untuk diamati secara nyata, tetapi dengan bantuan videography time lapse, kupu-kupu dapat muncul dari kepompong dalam hitungan menit.

  1. Expansion of Time ( perpanjangan waktu).

Waktu bisa juga diperluas/diperlama dengan tehnik “slow motion” gerak lambat. Beberapa kejadian terjadi begitu cepat sehingga terlalu cepat untuk dilihat dengan mata telanjang. Videography dengan kecepatan dapat memperlambat gerakan sehingga kita dapat mengamati proses tersebut.

  1. Manipulation of Space  ( manipulasi ruang)

Video memungkinkan tayangan alam semesta yang luas dan yang sempit yang mana dilihat dari jarak yang sangat dekat atau dilihat dari jarak yang sangat jarak jauh. Siswa dapat mengamati bumi dari satelit ruang angkasa, sebaliknya siswa dapat juga mengamati pembelahan sel lewat mikroskop.

  1. Animation (animasi)

Waktu dan ruang dapat juga dimanipulasi oleh animasi. Ini adalah teknik yang mengambil keuntungan dari gambar secara terus menerus/ berurutan untuk memberikan gerak dari obyek yang tidak bergerak. Ada banyak jenis membuat animasi, tetapi pada dasarnya animasi dibuat dari serangkaian gambar, foto, atau gambar dari computer.

  1. Understanding Video Convention (Memahami kaidah dalam video )

Kebanyakan dari kita  sudah bisa menerima alat dan teknik yang digunakan video untuk merekayasa waktu dan ruang. Kita tahu bahwa atlit yang melompat dan berhenti diudara bukan karena membeku tetapi itu hanya  kilas balik bukan kejadian sebenarnya. Guru harus mampu menerangkan makna kaidah video itu saat siswa  belajar memahami kilas balik. Video tidak sendirian  dalam menerima kaidah interpretasi dan apresiasi. Tehnik kilas balik juga digunakan di karya sastra dan biasanya sudah diterima pembaca.

Komponen Contextual Teaching and Learning (CTL) (tulisan ke-2 dari 2 tulisan–habis)

Melanjutkan empat komponen CTL sebelumnya, bahasan di bawah ini menguraikan tentang komponen berikutnya. Selamat membaca !.

5. Pemodelan (Modelling)
Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model, model dapat dirancang dengan melibatkan siswa, model juga dapat didatangkan dari luar. Pemodelan artinya, dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang biasa ditiru. Misalnya, guru memperagakan bagaimana prosedur dalam penggunan alat tertentu seperti alat musik, alat praktik laboratorium, cara kerja mesin dan lain-lain. Dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan misalnya, guru bersama siswa memperagakan bagaimana cara partai politik dalam berupaya mendapatkan dukungan massa, bagaimana prosedur pengadilan dalam menyelesaikan kasus pidana dan sebagainya.

Dengan pemodelan maka akan terhindar dari pembelajaran yang cenderung teoritis-abstrak sehingga terjadi verbalisme. Pemodelan bisa juga dilakukan oleh siswa yang mempuyai kemampuan yang lebih dibandingkan dengan temannya. Seperti memperagakan cara kerja suatu alat sebagai hasil karya ilmiah, membacakan cerpen ataupun puisi di depan teman-temannya. Dengan demikian pemodelan menjadikan belajar lebih bermakna sebab siswa diajak seperti menghadapi situasi yang sebenarnya sering ditemukan dalam  kenyataan hidup sehari-hari.

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang telah kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan refleksi maka siswa akan menyadari tujuan belajar mereka. Siswa secara mandiri akan mengikuti rencana belajar serta mengukur kemajuan diri sendiri dalam pembelajaran. Selain itu, siswa akan menyadari tentang kemampuan akademik apa yang sudah dikuasai dan pengetahuan belum didapatkannya. Dengan demikian dia akan terus menerus melakukan evaluasi baik rencana maupun target, serta pengalaman belajarnya.

7. Mencapai Standar Akademik yang Tinggi
Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anak mereka sukses dalam pendidikannya. Namun, penguasaan materi yang bersifat hafalan (baca: tumpukan informasi tanpa makna) yang didapat dari kelas-kelas kovensional berdampak pada ketidakmampuan siswa dalam menjawab tantangan perubahan jaman di abad teknologi saat ini. Ada kesenjangan yang luar biasa antara belajar untuk mengetahui (learning to know) dengan belajar untuk melakukan (learning to do). Laporran dari SCANS (dalam B. Johnson: 2009 : 263) menyarankan agar keduanya tidak dipisahkan.

Standar akademik, sering disebut standar muatan adalah apa-apa yang harus diketahui dan dikuasai oleh siswa setelah menyelesaikan sebuah tugas, kegiatan, tugas praktik, atau setelah duduk di kelas tertentu. Kata “standar” memiliki arti yang sama dengan “tujuan”, ‘kompetensi”, “tujuan akademik”, dan “hasil”. (B. Johnson: 2009:261). CTL menghendaki para siswa mencapai standar tinggi. Jika sekolah standar akademik tinggi maka siswa dituntut untuk bekerja keras dan lebih kompetitif. Dengan demikian akan membuat siswa merasa lebih percaya diri untuk memilih masa depan. Standar unggul kompetensi lulusan sekolah harus terus ditingkatkan.  Untuk itu sekolah perlu melakukan uji mutu misalnya dengan melakukan studi banding ke berbagai sekolah dalamdan luar negeri.
8. Penilaian Otentik (Authentic Assessment)
Menilai peserta didik yang hanya berasal dari hasil tes formatif maupun sumatif sangat tidak memadai. Penilaian semacam itu tidak memberikan informasi serta gambaran yang utuh tentang kompetensi peserta didik. Penilaian demikian hanya bertujuan untuk mengetahui apakah suatu program pendidikan, pengajaran, ataupun pelatihan telah dikuasai oleh siswa atau belum. Angka atau nilai tertentu biasanya dijadikan passing grade (patokan) untuk menentukan penguasaan program tersebut. Jika melampau passing grade yang telah ditetapkan, maka siswa tersebut dinyatakan lulus, dan sebaliknya. Penilaian demikian sangat bersifat parsial, sebab penentuan kelulusan (baca: keberhasilan) siswa hanya berdasarkan nilai akhir ujian akhir.

Model pembelajaran CTL menggunakan penilaian otentik (Authentic Assessment). Penilaian otentik merupakan bentuk penilaian yang dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Penilaian ini dilakuan secara menyeluruh yang meliputi proses dan hasil pertumbuhan dan perkembangan wawasan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dicapai oleh warga belajar (Budimansyah, 2002 : 106). Dalam pembelajaran CTL, penilaian autentik dapat membantu siswa untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu. Menurut Elaine B. Johnson (2002: 165), penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar-mengajar.

Penilaian otentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secra terpadu dan kontekstual, dan memberi kesempatan kepada siswa untuk maju terus sesuai potensi yang dimiliki. Brooks&Brooks (dalam B. Johnson, 2002: 172), menegaskan bahwa  bentuk penilaian seperti ini lebih baik daripada menghafalkan teks, siswa dituntut untuk menggunakan ketrampilan berpikir yang lebih tinggi agar dapat membantu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Adapun bentuk-bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru adalah portofolio, tugas kelompok (proyek), demonstrasi (show case), dan laporan tertulis.

Referensi :

  • B. Johnson, Elaine, 2009, Contextual Teaching & Learning; Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, Penerbit MLC, Bandung.
  • Budimansyah, Dasim, 2002, Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio, PT. Genesindo, Bandung.
  • Depdiknas, 2003, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional, Depdiknas, Jakarta.
  • Deporter, Bobbi & Mike Hernacki, 2001, Quantum Learning; Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Penerbit Kaifa, Bandung.
  • Dryden, Gordon, Jeannette Vos, 2002, Revolusi Cara Belajar; Belajar akan Efektif kalau Anda dalam Keadaan ‘Fun”, Bagian II Sekolah Masa Depan, Penerbit Kaifa, Bandung.
  • Hamalik, Oemar, 2004, Proses Belajar Mengajar, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
  • Hayyie al Kattani, Abdul, Rekayasa Masa Depan Islam
  • Dengan Revitalisasi Warisan Klasik Islam (Turats) Sebagai Ilustrasi, 2002, pcinu-mesir.tripod.com
  • Indrati, Yuke, 2009, Pembelajaran Tematik Kelas Awal SD, puskur.net
  • Indrawati, 2009, Model Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar untuk Guru SD, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
  • Isjoni, 2009, Efektifitas Model Pembelajaran Cooperative Learning, xpresiriau.com
  • Isjoni, 2010, Mengapa Pembelajaran Kontekstual, xpresiriau.com
  • Isjoni, 2010, Pembelajaran Konstektual dan Motivasi Siswa, xpresiriau.com
  • Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  • Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi –lampiran
  • Sanjaya, Wina, 2009, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana, Jakarta.
  • Sudarmiatin, 2009, Entrepreneurship dan Metode Pembelajarannya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Jurnal Ekonomi Bisnis, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang
  • Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • Warpala, I Wayan Sukra, 2009,  Pendekatan Pembelajaran Konvensional, edukasi.kompasiana.com
  • Warsita, Bambang, 2008, Teknologi Pembelajaran; Landasan & Aplikasinya, PT. Rinela Cipta, Jakarta.