Category Archives: Inspirasi

Bekerja untuk keabadian

Vastly Zaitsev, seorang penembak jitu Uni Soviet pada Perang Dunia II mengisi karirnya dengan cara yang luar biasa. Bidikan senapan jarak jauhnya, pada akhirnya merontokkan mental pasukan-pasukan Jerman sehingga pada akhirnya perang Stallingrad ini dimenangkan oleh Soviet. Selidik punya selidik, ternyata kehebatan Zaitsev ini dipropagandakan sedemikian rupa oleh pimpinan-pimpinan Soviet melalui publikasi tulisan yang menggelora, digandakan berribu-ribu eksemplar, kemudian disebarkan lewat pesawat terbang agar bisa dibaca oleh semua orang, termasuk musuh-musuhnya sendiri, hal ini sekaligus membuat ciut nyali pasukan musuh sebagai strategi psy war. Diakhir adegan, Zaitsev, selain sebagai pasukan elit, merupakan simbol kemenangan Soviet untuk peperangan ini. Kisah epik bisa dilihat pada film Enemy at the Gates (dipublikasikan pada tahun 2001).

baca lanjutan...

Menjadi Guru 5.0 untuk Menyiapkan Generasi Pelita Masa Depan

Notes : Artikel ini dengan judul yang sama, masuk pada halaman opini harian nasional Media Indonesia. Bisa dibaca disini http://m.mediaindonesia.com/read/detail/200365-menjadi-guru-50-untuk-siapkan-generasi-pelita-masa-depan

——

Dan Brown, novelis ternama dengan capaian penjualan best seller, karyanya dinyatakan sebagai salah satu buku yang paling populer dalam sejarah buku sepanjang masa pada 2009, pernah menuliskan di novelnya yang berjudul Origins, tentang kemajuan teknologi yang sedemikian luar biasa bahwa dimasa depan komputer dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah mampu membuat novel sendiri melalui serangkaian proses berpikir secara otomasi. Ternyata tak hanya berada dihalaman novel, peneliti dari Future University di Hakodate, Jepang pun pada 2016 berhasil membuktikan bahwa hal ini bukan isapan jempol semata, hasilnya adalah sebuah novel berjudul Konpyuta ga shosetsu wo kaku hi atau “Hari Sebuah Komputer Menulis Novel” berhasil ditulis oleh komputer dengan AI nya.

Ditempat lainnya, Scorpion, tayangan serial fiksi yang diinisiasi oleh Walter O’Brien sebagai CEO nya, hanya untuk sekedar informasi, beliau ini merupakan manusia ber IQ 197 sehingga menjadi salah satu manusia pemilik IQ tertinggi dalam sejarah manusia, dalam salah satu episode Scorpionnya pernah menyajikan tentang hebatnya komputer dimasa depan dengan kemampuan duplikasi menggambar selevel dengan skill Da Vinci. Tak hanya didunia fiksi semata, Google pada April 2017 yang lalu pun berhasil mengembangkan teknologi AI yang memungkinkan komputer menggambar sketch dengan urutan motorik dan jaringan syaraf tiruannya sendiri. Nampaknya tak seberapa lama, khayalan Walter O’Brien ini sepertinya akan mewujud dalam dunia nyata.

Dua kisah diatas ini untuk memberikan ilustrasi kepada kita, bahwa impian manusia untuk kemajuan yang berkelanjutan terus menerus mencapai level tertingginya. Impian dimasa lalu tentang manusia yang bisa terbang dari satu pulau ke pulau yang lainpun saat ini telah kita nikmati pada teknologi tinggi dalam dunia penerbangan, baik di Indonesia ataupun Internasional. Begitupun juga, dimasa lalu ketika manusia ingin bercakap-cakap dengan melihat lawan bicaranyapun, saat ini dengan sangat mudah bisa dilakukan oleh siapapun.

Fase revolusi industri yang sudah mencapai 4.0 inipun sudah berada didepan kita, tantangan demi tantangan juga nampaknya bak tsunami dengan gelombang besarnya didepan sana yang siap menghempas siapapun. Fase yang sering dinamakan dengan era disrupsi inipun juga sudah menunjukkan korbannya satu persatu, dilevel global kita melihat adanya Kodak dan Nokia yang dulu menjadi pemimpin pasar foto dan komunikasi, namun saat ini dunia telah berubah, mereka tak lagi berada diatas, bahkan sudah tersisihkan. Ditaraf lokal, kita juga melihat adanya teknologi ojek online, dengan seabrek layanannya yang lebih memikat dan praktis, kalo dulu konsumen harus mencari ojeg pangkalan untuk bisa bepergian, saat ini mereka yang mendatangi konsumen, kalo dulu orang akan pesan makanan atau hantar barang harus keluar rumah, saat ini semuanya bisa dilakukan bahkan tanpa harus keluar rumah, lebih miring lagi biayanya. Layanan dengan berbagai kemudahan dan pendekatan privat inilah cikal bakal pemenuh kebutuhan masyarakat dimasa depan.

Dunia pendidikan juga menemui tantangannya sendiri, menurut Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, per maret 2018 yang lalu angka pengangguran lulusan perguruan tinggi kita masih mencapai 630.000 orang. Angka ini menyumbang 8,8 % dari 7 juta pengangguran di Indonesia. Angka ini membuat kita miris sehingga harus menata ulang pendidikan kita.

Berkaca pada Human Development Index

baca lanjutan...

Menjadi Juara ke 3 dalam Lomba Menulis Linux

Alhamdulillah, setelah melewati semua sesi lomba, mulai dari posting tulisan, pengumpulan view dan penilaian lanjutan. Akhirnya tulisan saya yang berjudul “Tangguhnya Pinguin di Hutan Kami” dinobatkan sebagai juara ke 3 dalam ajang lomba penulisan penggunaan Linux dan Open Source oleh website resmi Linux Indonesia www.Linux.or.id. Tulisannya bisa dibaca disini atau disitu. Lomba ini memakan waktu yang lumayan lama, selang dari tanggal posting 7 September 2014 kemudian muncullah kandidat 15 besar dari smua tulisan yang ada di 1 November, dilanjutkan dengan pengumuman 6 besar (3 Juara dan 3 harapan juara) pada 17 November 2014 ini.

Capture pengumuman dari www.Linux.or.id yang bisa dibaca langsung disini http://www.linux.or.id/pemenang-sayembara-menulis-linux-id-2014.html

menang

Terus terang bagi saya sendiri, menulis memang salah satu hobi yang lumayan addict, walaupun gak banyak2 tulisan dalam satu bulan, tentu saja dengan berbagai kesibukan yang ada (sok sibuk..he.he), selalu saja ingin meluangkan waktu dan membuat perencanaan judul2 paling tidak 5 posting kedepan. Sebagian biasanya berhasil dituliskan, sebagian yang lain kadang-kadang lupa untuk didokumentasikan outline nya, sehingga pas ada waktu luang ehh malah mati gaya mau nulis apaan.. he.he. Karena sudah seneng, lebih-lebih pas ada kesempatan lomba, jadinya serasa tertantang untuk menulis sebagus dan se-bermanfaat mungkin. Semoga saja 😉

Menulis di blog itu bagi saya tidak hanya sekedar meluapkan pikiran, namun lebih dari itu bisa menuangkan emosi, mengalirkan gagasan yang tersumbat dan bisa juga media dokumentasi pribadi, so rasanya ingin sekali tetap produktif dengan menulis. Kalo toh  bisa bermanfaat untuk orang lain ya Alhamdulillah, kalo enggak ya sukur-sukur bisa jadi arsip pribadi..he.he

Semoga saja saya gak makin gede kepala, namun ingin tetap produktif dan (terus berusaha) kreatif kedepannya. Semoga bermanfaat. 😉

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

 

Tangguhnya Pinguin di Hutan Kami

Pendahuluan

Perkenalkan, Saya adalah seorang guru di sebuah sekolah berasrama diujung barat pulau Jawa yang lumayan terpencil dari hingar bingar perkotaan, plus menyatu dengan hutan menambah nuansa masih alami sekaligus ‘ndeso’ (jauh dari kesan modern). Perlu diketahui bahwa sekolah berasrama kami ini memiliki luas yang tak kurang dari 30 hektar dengan kontur berbukit-bukit naik turun, sementara itu komplek siswa putra terpisah dengan para siswi dipisahkan oleh danau yang cukup luas. Jika rajin jalan setiap hari dari kawasan putra ke putri atau sebaliknya, dijamin akan gede-gede pula betis kami.he.he. 🙂

Setiap hari kami tinggal disini, ada yang bertugas di asrama, ada juga yang difasilitasi rumah guru. Singkatnya, dalam waktu 24 jam sehari atau 7 hari seminggu lah, kami bersama para siswa-siswi kami, mengajar mereka sesuai dengan amanah dan tanggung jawab masing-masing. Hal ini sebenarnya merupakan keuntungan bagi para siswa untuk belajar lebih banyak dari para gurunya karena tinggal sekompleks. Namun kendala geografis lah yang menyebabkan hal ini sulit dilakukan, jauh nya jarak dan medan yang lumayan berat menjadi masalah tersendiri. Untuk menanyakan perihal suatu hal atau berdiskusi dengan gurunya, para siswa harus menunggu ketika pertemuan formal di KBM esok harinya.

nf
Kondisi hijaunya sekolah kami dipotret dari satelit via gmap.

Suatu ketika setelah banyak berdiskusi dengan sebagian guru yang lainnya, tercetus mimpi untuk membangun model pembelajaran jarak jauh. Konsepnya sederhana, agar siswa bisa belajar setiap saat dan dimana saja, mau di sekolah ataupun di asrama mereka bisa berinteraksi dengan guru atau diskusi dengan siswa yang lainnya, namun tidak tergantung dengan koneksi internet. Karena jangankan koneksi internet yang kencang, beberapa provider pun ‘lempar handuk’ (menyerah) memasang koneksi internet di tempat kami, walhasil sekolah kami juga seperti nyaris terputus dari arus informasi yang up to date setiap harinya.

Sehingga akhirnya kami bangun koneksi jaringan intranet (lokal) perlahan-lahan sebisa kami. Kami memimpikan agar pembelajaran kepada siswa-siswi bisa berlangsung lebih efektif dan kontinyu. Toh mereka (siswa-siswi dan guru) rata-rata sudah punya laptop masing-masing, selain itu disebagian titik strategis sudah terpasang jaringan komputer baik dengan kabel ataupun wireless (walaupun seadanya). Tanpa koneksi internet pun, rasanya Kami optimis bisa membangun komunitas pembelajar disini asalkan para guru dan siswa kompak, serta ada keinginan untuk terus menerus belajar dan berbagi.

Saya kemudian memberanikan diri bertemu dengan para pengambil kebijakan di lembaga kami, kemudian dengan corat-coret konsep bagaimana pembelajarannya, teknologi yang akan mensupportnya, dan infrastruktur yang nantinya akan diperlukan. Setelah sowan sana sini, Alhamdulillah respon positif yang kami dapatkan. Kemudian sambil diskusi dengan teman-teman di Forum dan Komunitas Linux (walaupun gak rajin-rajin amat kopdar dengan teman-teman komunitas, kami beberapa kali terhubung melalui media internet), dialog cukup panjang ini akhirnya mengerucut pada satu hal, bahwa kami akan menggunakan Free Open Source Software (FOSS). Opsi ini merupakan pilihan logis dan solutif ditengah-tengah mahalnya software propiertary serta makin tingginya angka pembajakan yang terus menerus menggurita mengekang masyarakat. Komunitas FOSS juga solid mensupport jika ada masalah atau bugs yang muncul dalam penggunaannya.

Dengan segala pertimbangan dan diskusi, pilihan kami akhirnya tertuju pada Learning Management System (LMS) Moodle sebagai core untuk proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran siswa. Sementara Content Management Framework (CMF) Drupal untuk portal komunikasinya, dengan gaya blogging agar nampak santai namun tetap serius dalam penyebaran pengetahuan. Kedua sistem ini sudah banyak dipakai oleh lembaga-lembaga besar di Indonesia dan dunia (pemakai Moodle untuk portal pembelajaran di Indonesia diantaranya Pertamina dan Garuda Indonesia, sedangkan Drupal saat ini dipakai untuk website resmi pemerintah AS, Walt Disney, MotoGP dsb). Dahsyatnya kedua nya berplaform FOSS dan lisensi GPL sehingga tetap gratis untuk dipakai, fully customized serta banyak manualnya tersedia di Internet.

Mulai Membangun

Untuk servernya kami menggunakan Ubuntu server 12.04 dengan PC Server ala kadarnya berasal dari PC Desktop yang bisa dimanfaatkan, dengan beberapa kali waktu pengujian, nampaklah kehebatan Linux disini, walaupun PC bekas namun performa tetap moncer dan sangat enteng. Pada tahap awal kami ujikan dengan diakses secara bersamaan oleh satu kelas, nampak server kami tetap stabil dan tetap cool.

Tahapan berikutnya merupakan tahapan yang lebih menantang yakni mendata berapa banyak ruang kelas/asrama yang dapat terkoneksi ke jaringan lokal. Karena skenarionya server ini hanya akan diakses dikomplek sekolah kami saja, maka pengecekan di ruang-ruang kelas dan kantor serta asrama menjadi penting untuk dilakukan. Dari pendataan ini nanti kami akan mengevaluasi dan mengajukan bilamana diperlukan perangkat jaringan baru agar desain pembelajaran ini lebih cepat bisa diterapkan.

Kurang lebih 2 minggu lamanya dilakukan pengecekan dan analisis kebutuhan lapangan, akhirnya dibuatlah konstruksi jaringan seperti dibawah ini.

9
Gambar 1. Denah lokasi perangkat jaringan, designed by MT

Tahap Ujicoba

Singkat kata, setelah semuanya kami siapkan, akhirnya kami coba koneksi dengan jangkauan yang lebih luas. Tahap pengujian ini bukannya tanpa masalah, dengan tantangan kontur yang berbukit serta medan yang teramat luas. Beberapa kali koneksi didua wilayah putra-putri tidak bisa terhubung. Lagi-lagi komunitas linux yang friendly siap sedia membantu kami via tutorial-tutorial yang bermanfaat. Akhirnya pengujian lagi dan Alhamdulillah satu masalah telah terpecahkan, kedua wilayah sekarang sudah bisa terhubung dengan baik.

Inilah saatnya !
Setelah masa uji coba dirasa cukup, akhirnya kami mulai demokan ke forum guru, sekitar 2 jam diberikan sesi untuk presentasi, ternyata tanggapan dan reaksinya cukup beragam. Ada yang antusias, namun ada juga yang masih menilai pesimis, terutama pengajar senior yang sudah merasa pada ‘zona nyaman’ nya. Awalnya kami sempat down, namun perasaan ini pupus sudah ketika kami sosialisasikan ke para siswa, melihat wajah mereka yang berbinar-binar, serta antusiasme yang tinggi untuk mencoba mengutak atik sistem ini, mereka mengaku senang dan bersemangat untuk belajar karena informasi saat ini telah menjadi mudah untuk ditemukan, interaksi dengan para guru menjadi gampang dan pembelajaran dapat dilakukan dimana saja. Nampaknya hal-hal inilah yang menjadi penyemangat kami untuk menuntaskan pekerjaan yang tinggal sedikit ini.

1
Gambar 2. Para Siswa saat menggunakan sistem ini.

 

2
Gambar 3. Saat sedang di perpustakaan
3
Gambar 4. Pembelajaran di laboratorium komputer

 

4
Gambar 5. Terkoneksi juga dengan para karyawan

Dengan dukungan segenap stakeholder, beberapa kali program pelatihan untuk guru berhasil kami lakukan, manual book nya juga sudah rapi terbukukan. Perlahan namun pasti, model pembelajaran ini setidaknya memberikan warna baru model pembelajaran ditengah-tengah kami.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, model pembelajaran kami pun mendapatkan pujian dari dinas pendidikan setempat. Kami juga diminta untuk melakukan presentasi pada forum yang diselenggarakan oleh Balai penyediaan media belajar Provinsi Banten yang dihadiri oleh hampir semua Kepala Sekolah di provinsi ini. Tak cukup disitu, terhitung beberapa kali kunjungan sekolah-sekolah lain, jurusan Pasca Sarjana Teknologi Pendidikan di salah satu Universitas, dinas pemerintahan terkait juga silih berganti mendatangi kami untuk silaturahmi dan studi banding. Semoga hal ini semakin menyemangati kami untuk berkarya lebih banyak.

Sedikit demi sedikit, dengan berbagai saran dan masukan sistem ini kami lengkapi konten pembelajarannya agar lebih menarik dan memberikan semangat kepada semua penggunanya.
Beberapa tampilan diantaranya sebagai berikut

5
Gambar 6. Tampilan depan

 

6
Gambar 7. Display Video Sharing karya siswa pada portal pembelajaran
7
Gambar 8. Display kelas virtual pembelajaran
8
Gambar 9. Grafik perolehan nilai pengerjaan siswa

Demikian coretan ini Saya selesaikan, semoga bisa memberi inspirasi kebaikan untuk yang membacanya.

Sukses dan salam hangat untuk semua.

 

Dedy Setyo Afrianto
dedy@dedysetyo.net

#Catatan : Artikel ini dilombakan dan masih dalam proses penilaian juri www.Linux.or.id dengan URL asli di http://www.linux.or.id/tangguhnya-pinguin-di-hutan-kami.html

Budaya Etika yang Terlewat

Mencermati peristiwa akhir-akhir ini adanya seorang wanita yang geram karena mengantri SPBU di Yogyakarta, menumpahkan kata-kata tak pantas di media sosial yang pada akhirnya berujung berbalas bully-an dari warga dunia maya dan tahanan dari kepolisian. Beritanya bisa dibaca disini. Tak lama sebelum itu, kurang lebih pada bulan April ditahun 2014 ini pula, seorang wanita juga mendapatkan pelajaran berharga, bahwa mengumpat di media sosial kepada ibu -ibu hamil penumpang KRL, tak lebih dan tak kurang juga akan mendapatkan balasan yang tak kalah pahitnya, berupa cibiran dan sanksi sosial.

Kita berdoa saja, dikemudian hari semoga tidak terulang kejadian serupa. Makian dan kata-kata tak sopan di media sosial, tidak akan berdampak positif kepada pelakunya, tapi sebaliknya akan membalik kepada pelakunya. Tentang dua peristiwa ini, saya tertarik mengulas bacaan lama saya tentang gaya komunikasi manusia (terutama sebagian masyarakat Indonesia).

Dilihat dari sejarahnya, menurut Melvin DeFleur (seorang pakar psikologi sosial dari Universitas Washington) dan Sandra J.Ball-Rokeach dalam bukunya Theories of Mass Communication (1989), setidaknya ada lima tahapan komunikasi sehingga antara satu orang bisa berinteraksi dengan yang lainnya.

1. The Age of Signs and Signals (Sinyal dan Simbol)

Pada masa ini, manusia satu dengan yang lainnya menuturkan idenya dengan bahasa simbol, mengungkapkan keinginannya dengan gambar atau penanda-penanda sederhana. Dengan media ini jelas antar manusia, komunikasi menjadi sangat terbatas. Karena berbagai keterbatasan inilah, konon konflik antar manusia menjadi sangat mudah terjadi. Manusia juga akan kesulitan menuangkan pendapatnya, yang dominan pada masa ini adalah komunikasi non verbal, yakni penggunaan bahasa isyarat untuk menyampaikan pesan-pesannya, bahasa tubuh menjadi sangat penting.

2. The Age of Speech and Language (Bahasa lisan)

Masuk pada era berikutnya, tradisi manusia berubah, penggunaan simbol berubah bentuk menjadi percakapan antar manusia dalam berinteraksi. Beberapa standar percakapan untuk penamaan benda, tanaman dan hewan telah disepakati. Walaupun tak begitu berubah banyak, pada masa ini interaksi sosial antar manusia sedikit demi sedikit telah menemukan maknanya.

3. The Age of Writing (Tulisan)

Pada zaman ini, standarisasi alfabet telah dibakukan secara perlahan dengan lengkap, lambat laun model penulisan menjadi gaya dan budaya antar manusia dalam berinteraksi. Masa ini lah yang membuat informasi begitu cepat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Gagasan yang dibuat direkam, dicatat dan dilipatgandakan sehingga manusia yang lain pun dapat menikmatinya. Para filsuf yang sezaman dengan Plato dan Aristoteles pun menuangkan perenungan dan pengalamannya sehingga menjadi pengetahuan, dari pengetahuan lah, ilmu-ilmu dan cabangnya terbentuk sehingga terklasifikasi dan memudahkan manusia lainnya untuk memanfaatkannya. Aktivitas para ilmuwan, selain meneliti dan melakukan percobaan-percobaan, adalah mendokumentasikan risalahnya agar dapat dikembangkan dikemudian hari. Selaras dengan apa yang pernah dikatakan seorang cendekiawan Indonesia, bahwa aktivitas ilmuwan dan ulama sebenarnya hanya berkutat di dua hal saja, membaca-menulis.

4. The Age of Print (Cetak dan Membaca)

Era ini dimulai dengan adanya penemuan mesin cetak, Johannes Gutenberg mengawali penemuan modern mesin cetak yang lebih canggih dibandingkan dengan penemuan dalam situs sejarah Cina dan  Korea (sekitar tahun 175 AD). Pada masa inilah dimana surat kabar dan surat cetak beserta buku-buku dapat terbit, setelah beberapa fase perkembangan komunikasi. Dengan adanya buku, budaya baru dimulai, bagi seorang penulis menyebarkan ide dan gagasannya menjadi lebih mudah.

Saya jadi ingat didalam salah satu sekuel film yang berjudul “Enemy at the Gates” yang menceritakan seorang prajurit Uni Sovyet yang bernama Vasily Grigoryevich Zaytsev, dengan pencitraan menggunakan media cetak ini pulalah, ribuan propaganda dicetak kemudian disebarkan untuk menakut-nakuti musuh-musuhnya akan keterampilan mematikan seorang Vasily yang bisa menembak dari satuan jarak kilo meter, pada masa itu jarak sejauh ini menjadi demikian sensasional dan luar biasa.

Pada masa ini pula budaya baru terbentuk, yakni budaya membaca. Budaya membaca memungkinkan kebiasaan ini terjadi dalam setiap tempat dan waktu, pada negara yang sudah maju peradabannya tak jarang kita dapati pada pusat keramaian saat mengantri, kebanyakan dari mereka menyibukkan dirinya dengan membaca, sehingga wajib kiranya dalam setiap tas mereka kala bepergian setidaknya ada satu buku yang stand by untuk dibaca setiap saat.

Wisatawan mancanegara membaca buku di ruang tunggu Terminal Giwangan, Yogyakarta.
Budaya baca Jepang di Kereta

Budaya membaca juga menjadi salah satu indikator kemajuan bangsa, hasil survey yang pernah dibuat oleh United Nations Developmet Programme  (UNDP) bahwa rasio gemar membaca di Indonesia hanya 0,001% atau satu berbanding 1.000 orang. Artinya jika ada 1000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang gemar membaca.

Data dan Fakta Bacaan Orang Indonesia (Fadli Zon Library, 2013)

Hal ini juga dikuatkan oleh laporan yang dilakukan United Nation Development Program (UNDP) atau Organisasi Program Pembanggunan milik PBB bahwa indeks pembangunan manusia Indonesia berada pada posisi 121 dari 187 negara di dunia. Indeks pembangunan manusia sendiri adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup untuk semua negara di seluruh dunia.

5. The Age of Mass Communication (Komunikasi masa/Internet)

Pada masa ini lah, seperti yang kita rasakan sekarang, channel TV begitu banyak menghiasi layar kaca kita dengan beragam acaranya. Tak kalah dengan itu, Internet dengan berita online dan media sosialnya bertubi-tubi menawarkan hujan informasi yang tidak lagi diupdate tiap hari, namun tiap jam bahkan per menit.

Saya jadi sedikit khawatir, kejadian 2 fenomena diawal tulisan ini (dan mungkin saja banyak lainnya yang tak ter blow-up). Bisa jadi mengindikasikan adanya budaya kita yang terlewat, jenjang komunikasi yang harusnya secara bertahap dilewati, namun oleh sebagian masyarakat kita nampaknya terlewat. Kalau fase di negara yang sudah maju yang terurut “Lisan-Tulisan-Membaca-Berinternet”, maka di sebagian masyarakat kita nampaknya hanya di by pass (lompat) menjadi “Lisan–Berinternet”, sehingga budaya ini tidak utuh kita punyai, karena fase etika “tulisan dan membaca” belum menyatu dan masih rapuh dalam kehidupan kita.

Padahal membaca dan menulis akan memberikan kita tuntunan cara dan etika (bersosial), percaya atau tidak minimalnya akan memperkaya diksi dan pengkayaan pemahaman kata, sekaligus dalam perspektif lain memberikan penyiapan-penyiapan kepada kita untuk berinteraksi dengan baik secara universal melalui budaya literasi. Sama seperti anak umur 3 tahun yang kita berikan pisau, maka bisa kita hitung kira-kira akan lebih banyak manfaat ataukah bencana yang ditimbulkannya, mirip dengan generasi labil yang tiba-tiba diberikan perangkat canggih nan modern. Tumpulnya etika dalam bersosialisasi melalui internet, dikhawatirkan (hanya) euforia dalam berinternet lah yang mendominasi gaya dan budaya baru ini. Berinternetnya orang-orang seperti ini hanya tuntutan tren dan gaya modern agar tidak dianggap kuno dan ndeso. Agar tetap exist dalam pembicaraan bersama dengan teman kongkow, namun serasa kering nasihat. Berinternet (dikhawatirkan) tidak lagi menjadi produktif dengan menambah ilmu dan pengetahuan baru, namun hanya ajang narsisme.

Akhir kata, tulisan ini tadinya hanya untuk memotivasi agar Saya lebih santun dan cerdas dalam berinternet, namun jika sekiranya ada manfaatnya kepada teman-teman sekalian maka akan menjadi rasa syukur Saya secara pribadi.

Semoga kedepan, budaya baru berinternet kita menjadi lebih sehat, produktif dan mencerdaskan masyarakat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Film Pendek tentang Karya-karya Ilmuwan Muslim yang Menginspirasi

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh posting saya sebelumnya.

Ijinkan saya bercerita tentang film pendek terbaik yang pernah saya lihat, bukti kisah nyata ilmuwan muslim yang melegenda : Ibnu Haitsam, Ibnu Farnas, Az Zahrawi dan Al-Astrulabi.

Saat saya dulu pernah ngefans nya dengan Wright bersaudara sebagai penemu pesawat, ternyata Ibnu Farnas jauh-jauh hari sudah punya rancangan kendaraan terbangnya. Ahli cahaya Ibnu Haitsam juga lah yang mengilhami Bacon dan Kepler untuk mencipta mikroskop dan teleskop. Tak ketinggalan juga kiprah dan temuan ilmuwan yang lainnya.

Nama mereka sangat bersinar pada zamannya disaat barat sedang gelap-gelapnya..

Penyajiannya ringan, namun visualisasinya amat menarik. Dibintangi juga oleh aktor ternama Ben Kengsley. Pantas saja hampir 20 penghargaan tingkat dunia disabet oleh film pendek ini. Bagus sekali untuk inspirasi anak-anak kita saat ini. Yang berminat sila tengok kesini

http://www.youtube.com/watch?v=JZDe9DCx7Wk

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Menulislah dan Datangkan Keajaiban

Hari Sabtu kemarin (15/2/14) memang hari yang menyenangkan buat saya, walaupun hari itu full agenda, pagi jam 5.30 sudah harus manasin mobil buat dipake seharian, jam 6 teng harus sudah berangkat ke SMAN Kramatwatu, Serang.. pulang dari sana jam 13.00 trus dilanjut berangkat ke Cimanggis, Depok sore harinya sampe hari minggu.  Hari sabtu yang hebat karena ketemu dengan sahabat-sahabat yang hebat, selalu semangat dan mau belajar. Setelah ku azzamkan berangkat tak molor, akhirnya diiringi sayup hujan, jam 7.30 sampe juga di pintu tol Cilegon Timur untuk menjemput narasumber kami hari itu Bp. Wijaya Kusumah yang akrab disapa Om Jay. Akhirnya setelah janjian dan ketemu jam 8an, dilanjut menuju lokasi acara.
Lagi mejeng didepan sambil memberikan sambutan dikit
Lagi mejeng didepan sambil memberikan sambutan dikit. Sumber foto : wijayalabs.com
Foto bareng omjay disela-sela acara
Foto bareng omjay disela-sela acara

Dimulai dengan menunggu teman2 yang lain dan rentetan sambutan..he.he (saya juga diantara oknumnya yang dipaksa untuk menyambut..he.he) Hari itu Om Jay memaparkan materi tentang menulis, motivasi menulis dan betapa manfaat segudang dari menulis. Mulai dari berkarya untuk mendokumentasikan catatan/peristiwa sampai dengan berprestasi lewat menulis. Memang sedemikian dahsyat kalo kita mau bersungguh2 di dunia tulis menulis ini, jika mungkin banyak orang yang pesimis (bahkan nyinyir) untuk apa kita menulis, maka kata omjay, “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”..

Saya sendiri termasuk yang merasakan “keajaiban” menulis ini, sejak saya lumayan rutin menulis diblog ini (walaupun masih blogger newbi..he.he) tak seberapa lama sekira 4 bulan setelah itu, banyak komunikasi dari teman-teman baru, sahabat baru di dunia maya ataupun nyata, project dari kementrian ataupun mengisi workshop di internal mereka pun jadi rutin, diskusi dengan teman-teman baru diberbagai daerah di Indonesia (bahkan diluar negeri) pun hampir tiap hari saya lakukan.. Mulai dari yang bingung nyari judul skripsi, tesis ataupun hanya mengerjakan tugas pun rasanya HP ataupun inbox email/FB tak pernah kering.. Senang rasanya punya teman-teman baru.. Tak berhenti disitu, tulisan-tulisan yang sudah terkumpul pun sudah satu yang jadi buku, sisanya menyusul untuk jadi naskah judul buku selanjutnya, dapat royalti, transferan, undangan ngisi seminar dimana-mana, ah anggap saja jadi bonusnya.. 🙂 Paling uenak memang nambah teman2 baru dan sodara dimana2..

Masih ingat tentang kisah Pak Habibie pasca kematian istri tercintanya Bu Ainun ?, konon sangat sedihnya beliau saat itu, kata psikolog pribadinya, hanya ada 2 pilihan solusi (tolong koreksi kalau crita ini salah ya 🙂 ), 1. Pak habibie tinggal di Rumah Sakit Jiwa untuk menenangkan jiwanya, atau 2. Berikan kesempatan untuk beliau mengenang kisah cintanya.. akhirnya, pak Habibie memilih opsi yang kedua dengan cara menuliskan buku kenangan cintanya beberapa lama kemudian beliau pulih kembali, dan woww,.. selain jadi buku non fiksi terlaris, juga berhasil diangkat ke layar lebar dan sedemikian laris tiketnya terjual habis.. So, kalo sekarang masih sehat, menulis lah selagi kamu sehat #itu pesannya..he

Tulisan ini ujungnya kemana ya ?..he.he jadi bingung saya..

Okelah, bagi yang mau mulai menulis, segeralah mulai, bagi yang sudah exist didunia tulis menulis, maka istiqomahlah.. 🙂

Sebagai penutup, saya akan kutipkan kata-kata hebat dari Pramudya Ananta Toer, bunyinya begini, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

Salam hangat,

Dedy Setyo.

Alhamdulillah.. juara ketiga lomba nulis tutorial teknologi pendidikan

Setelah menunggu kurang lebih 9 bulan lamanya, Alhamdulillah tulisan saya yang berjudul “Membuat Quiz Interaktif semudah memasak mie instan !” mendapatkan juara ketiga dalam lomba yang diadakan secara resmi oleh Forum Multimedia Edukasi Prop. Jawa Tengah. Mendapatkan juara atau hadiah bagi saya merupakan bonus saja, karena memang hobi saya nulis tutorial..he.he. Bisa dicek kalo sebagian besar tulisan di blog ini didominasi oleh tutorial dan petunjuk praktis dalam melakukan sesuatu. Biasanya karena saya penasaran habis mbaca sesuatu, trus saya utak atik sampe sesuai dengan harapan, baru saya dokumentasikan. Proses nulis ini memang tadinya sebagai backup hasil eksplorasi panjang, daripada bercecer dimana-mana dan lupa, sebagian saya rapikan kembali untuk dijadikan naskah buku, sebagiannya lagi saya ikutkan lomba (iseng2 berhadiah he.he ..)

Berikut ini capture pengumumannya

pengumuman

Bulan Maret 2013 tahun lalu memang sedang semangat-semangatnya nyari kompetisi, mulai dari kompetisi blog guru, buat media pembelajaran dll.. Nah kebetulan pas lagi browsing (saya memang seneng nyari lomba2 untuk menambah semangat berkarya), trus dapet informasi kalo ada lomba nulis tutorial teknologi pendidikan. Jenis lomba ini memang tergolong lomba terlama yang pernah saya ikuti. Mulai dari kita mengajukan tulisan, proses seleksi, ditampilkan berbulan-bulan sampai dengan pengumuman memang sebaiknya gak usah ditungguin..he.he. biarkan mengalir apa adanya.. 😉

baca lanjutan...

Majalah Linux Gratis, Mau ?

Proses menulis, bagi saya adalah proses yang unik sekaligus ajaib, bagaimana tidak, Anda bisa saja suatu waktu kebanjiran ide namun tak punya cukup waktu untuk menuliskannya. Disaat lainnya juga, pas saat waktu luang banyak, tiba-tiba seret ide sehingga untuk membuat satu kalimat utuh pun tak terasa sudah bermenit-menit, jari jemari sudah standby diatas keybard, eh tak satupun huruf yang anda tekan. he.he.

Ada beberapa cara sih yang bisa anda googling tentang tips lancar ide menulis ini, mulai dari banyak baca, banyak diskusi sampai dengan banyak jalan2.. dan menurut saya yang paling asyik adalah bareng komunitas !. Ya begitulah, di suatu komunitas, kita bisa berkumpul dengan teman-teman “satu frekuensi” (baca : satu pikiran). Hari gini memang ga selalu kopdar ketemuan dengan mereka, lewat forum/milis/grup pun okey, tak masalah. Yang paling penting, tetap menjaga semangat dan berbagi ide lancar terus.

Ide pentingnya yaitu tetap produktif dengan cara apapun. Ya, dengan produktif menurut saya adalah menjaga akal dan pikiran kita tetap sehat dan muda!. Nggak tergerus penyakit ketuaan dan tergencet “zona nyaman”.

Salahsatu teman di komunitas Open Source (mas Agus Muhajir), menginisiasi dengan nerbitkan tulisan-tulisan dari kontributor bertemakan opensource dan dikemas dengan format e-magazine. Saya sendiri kemudian memilah dan menyeleksi postingan saya di blog ini, dan terpilihlah yang temanya OwnCloud, karena hit read nya paling banyak dalam beberapa bulan. Inginnya kedepan terus menerus support tulisan yang bermanfaat agar hidup banyak berkahnya.. Amiin.

OKe langsung saja yang ingin ngeliat penampakannya majalahnya kayak gini

cover
Cover e-majalah Linux Biasawae edisi November 2013

Bagi yang mau download atau cuman mau baca-baca aja bisa lewat sini 

Semuanya gratiss tiss. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Inspirasi Technopreneurship; Solusi agar bangsa mandiri secara ekonomi

Data Human Development Index yang diberikan oleh UNDP melalui website resminya bekerja sama dengan Google Labs http://hdr.undp.org menunjukkan bahwa rangking Indonesia terus menerus turun dari rentang tahun 1980 (ranking 69) sampai dengan tahun 2005 (ranking 110) dari 174 negara. Ditambah dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Februari 2012, pekerja dari jenjang pendidikan SD ke bawah masih tetap mendominasi yaitu sebesar 55,5 juta orang (49,21 persen), sedangkan pekerja berpendidikan diploma sekitar 3,1 juta orang (2,77 persen) dan pekerja penyandang gelar sarjana sebesar 7,2 juta orang (6,43 persen). (sumber : http://www.bps.go.id/?news=928). Data-data tersebut merupakan potret bahwa pendidikan dan pengangguran merupakan problem serius yang menjangkiti negeri ini. Di satu sisi, pengangguran dan kemiskinan masih menjalar kemana-mana, di sisi lain, pendidikan pun hadir tak memberikan solusi jitu bagaimana agar pengangguran bisa ditekan sekecil-kecilnya.

Di ranah pendidikan dan pembelajaran, hal yang masih nyata terlihat yang selama ini terjadi dalam dunia pembelajaran dan sebagian besar di daerah manapun di tanah air. Krisis metode pembelajaran serta muatan solutif dalam mengakhiri masalah sosial ini perlu dicarikan titik terangnya. Kelas-kelas pembelajaran konvensional atau konservatif perlu di tata ulang agar siswa mendapatkan cara berpikir yang benar, kreatif serta solutif. Sebagaimana dikatakan oleh Philip R. Wallace (pakar pendidikan) tentang Pendekatan konservatif bahwa pendekatan konvensional memandang proses pembelajaran yang dilakukan sebagaimana umumnya guru mengajarkan materi kepada siswanya. Guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, sedangkan siswa lebih banyak sebagai penerima. Hal inilah yang patut untuk dibenahi segera.

Kelas-kelas pembelajaran di sekitar kita inilah yang pada dasarnya memiliki potensi untuk mengubah bangsa ini menjadi lebih besar, mencetak pemikir dan insan yang berdaya saing, sekaligus berkarakter mandiri dalam berkehidupan. Salah satunya mandiri secara ekonomi dan membuka peluang pekerjaan selebar-lebarnya.

Entrepreneurship adalah sebuah karakter kombinatif yang merupakan perpaduan/peleburan sikap kompetitif, visioner, kejujuran, pelayanan, pemberdayaan, pantang menyerah, dan kemandirian. Karakter ini bersatu dan menjadi kebutuhan langsung dalam proses wirausaha.

Persaingan global yang sangat ketat sehingga inovasi usaha harus diiringi dengan berbagai macam rekayasa teknologi untuk mendapatkan keuntungan dan performa dari usaha tersebut. Pemanfaatan teknologi mutakhir tepat guna dalam pengembangan usaha yang berdasarkan pada jiwa entrepreneur yang mapan akan dapat mengoptimalkan proses sekaligus hasil dari unit usaha yang dikembangkan. Technopreneurship merupakan sebuah kolaborasi antara penerapan teknologi sebagai instrumen serta jiwa usaha mandiri (entrepreneurship) sebagai kebutuhan. Technopreneurship adalah suatu karakter integral antara kompetensi penerapan teknologi serta spirit membangun usaha. Dari sini, tumbuhlah unit usaha yang teknologi: unit usaha yang memanfaatkan teknologi aplikatif dalam proses inovasi, produksi, marketisasi, dan lain sebagainya.

Beberapa hal ini adalah gagasan jangka menengah dan panjang terkait “pembudayaan” jiwa technopreneur di masyarakat.

1. Integrasi penerapan materi technopreneurship dalam kurikulum pendidikan menengah dan tinggi

Technopreneurship-Speech

Teknologi yang telah dimiliki dikreasikan dan diinovasikan untuk menyokong pengembangan unit usaha. Hal ini dapat dilakukan secara nyata dalam proses produksi (contoh: Apple Inc, Microsoft dan Google), marketing (contoh: e-Bay), accounting, dan lain sebagainya. Kreativitas dan pemanfaatan teknologi dengan tepat adalah hal utama dalam mengembangkan jiwa technopreneurship. Kita pun juga bisa belajar dari negara lain, inovasi di bidang Teknologi Informasi membuat India dan China berkembang dan menjadi incaran industri dunia barat baik bagi outsourcing maupun penanaman modal.

Muatan materi technopreneurship akan lebih strategis jika dipadukan dengan materi keterampilan berteknologi (TIK) dalam pendidikan tingkat menengah (SMA/SMK). Membuat siswa mahir akan kemampuan TIK tentu sudah baik, namun membuat mereka mampu berpikir dan menyusun kemampuan TIK nya di masyarakat, akan sangat baik lagi. Jika pada kurikulum KTSP sudah ditekankan pada sisipan kewirausahaan, technopreneur secara spesifik lebih memiliki ‘daya jual’ untuk itu.

Kecilnya angka serapan lulusan sarjana (6,43 %) di lapangan pekerjaan, adalah salah satu gambaran masih belum survival nya output perguruan tinggi. Ditambah lagi dengan laporan sensus oleh Wall Street Journal pada November 2011 (sumber : okezone.com diposting pada 15 November 2011), menerangkan bahwa masih adanya jurusan yang berkaitan dengan computer namun memiliki angka pengangguran dengan sumbangsih cukup besar sampai dengan 9,5% dari total pengangguran yang ada. Hal ini perlu disiasati dengan pemberian materi terkait dengan pengupayaan mandiri pembuatan lapangan pekerjaan melalui penyiapan perancangan usaha, strategi sekaligus ilmu marketing product yang mumpuni. Jika hal ini diberikan dengan optimal, harapannya angka pengangguran akan turun signifikan.

2. Pemberdayaan masyarakat melalui fasilitas teknologi yang disiapkan pemerintah

techno2

Kementrian Kominfo memiliki program dalam rangka membuat masyarakat Indonesia dapat terkoneksi ke internet, program ini dinamakan PLIK(Pusat Layanan Internet Kecamatan) dan MPLIK (Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan) sejak akhir 2009. Walaupun masih terus dievaluasi perjalanannya, program ini sebenarnya strategis karena langsung bersentuhan dengan masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Melalui PLIK dan MPLIK, masyarakat diberikan warnet/beberapa computer (yang terkoneksi internet) sehingga mereka bisa akses kapanpun saat diperlukan.

Program ini akan lebih berdaya guna jika diberikan muatan sarat edukasi langsung ke masyarakat. Masyarakat pada kelas menengah ke bawah, dalam hal penggunaan teknologi masih sangatlah awam. Fokus pengembangan kompetensi/kemampuan masyarakat yang selama ini dibebankan kepada lembaga formil pendidikan, akan terasa lebih ringan jika ada komunitas-komunitas yang peduli terhadap pengembangan skil masyarakat misalnya melalui training-training /seminar-seminar teknologi. Sangat hebat lagi jika efek edukasi ini membuat masyarakat berdaya dan memanfaatkannya untuk menambah penghasilan baru. Keberadaan komunitas-komunitas yang punya dedikasi ini perlu diperkuat atau disokong secara serius oleh pemerintah daerah.

Akhirnya, technopreneurship adalah salahsatu gagasan sekaligus solusi bagi kemajuan ekonomi dan sosial. Menuju Indonesia yang berdikari, mandiri secara ekonomi, kreatif dan inovatif dalam berkarya adalah cita-cita bersama-sama. Dengan potensi sebesar bangsa ini, jika tergarap dengan baik, akuntabel dan professional. Indonesia akan memimpin di kancah dunia. Semoga !

Referensi :

  • Wallace, P.R (1992). Mathematical Analysis of Physical Problems. Dover Publications.
  • UNDP. 2011. Peringkat HDI UNDP www.hdr.undp.org diakses pada tanggal 10 Agustus 2011
  • Website resmi Badan Pusat Statistik http://www.bps.go.id/?news=928
  • http://kampus.okezone.com/read/2011/11/14/373/529393/inilah-jurusan-kuliah-dengan-tingkat-pengangguran-tertinggi

baca lanjutan...