Category Archives: e-learning

Tulisan tentang e-learning

Narasumber pelatihan pengantar e-learning dan project based learning

Sabtu pagi yang lalu, alhamdulillah diberikan kesempatan untuk dapat membersamai guru-guru keren dan hebat dari Ummul Quro Depok. Training ini bertajuk, “Pelatihan Guru Hebat. Pemanfaatan e-elarning dan Metode Project Based Learning (PjBL) untuk Pembelajaran”.

Pelatihan ini merupakan sesi pertama, sebagai overview terkait penyamaan persepsi tentang e-learning. Kemudian dilanjutkan bagaimana merakitnya menggunakan metode PjBL.

Peserta pelatihan ini hampir mencapai 90 orang yang terdiri dari guru SDIT dan SMPIT Ummul Quro Depok. Para peserta sangat antusias mulai dari pk. 09.00 dan berakhir pada pk.12.00 WIB. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Bidang Pendidikan (Peningkatan Intelektual) yang dikoordinasikan oleh Ustadzah Rukoyah dan Ustadz Nowo.

baca lanjutan...

Menjadi Narasumber Presentasi Penerapan e-learning di Universitas Borobudur Jakarta

Setelah sebelumnya kami berkomunikasi melalui telepon, akhirnya saya hadir memenuhi undangan untuk mempresentasikan dan berbagi pengalaman tentang penerapan e-learning di Universitas Borobudur Jakarta. Pagi-pagi sekali saya berangkat ke kampus tersebut, khawatir bakalan nyari-nyari dan takut nyasar. Eh, Alhamdulillah setelah keluar tol Cawang langsung ketemu karena bangunan kampusnya yang tinggi megah.

Setelah sampai, mampir ke Masjid (yang megah juga) untuk sholat dhuha sebentar, lalu lanjut menuju gedung Rektorat tempat berlangsungnya acara.

borobudur

Dihadiri oleh para pejabat kampus Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan dan pengampu kebijakan lainnya, saya mempresentasikan tentang “Penerapan e-learning; Potensi dan Tantangannya”. Materi ini memang baru pengantar sebelum sesi pendalaman materi konversi dokumen administrasi dan workshop penggunaan e-learning nya.

borobudur2

Dalam penerapannya, e-learning dituntut untuk bisa men “deliver” semua aktivitas pembelajaran jarak jauh yang nantinya akan digunakan pada kampus ini, semua jurusan dan mata kuliah tak terkecuali. Sehingga dalam masa persiapan ini, memang wajib untuk bekerja keras mentransformasikan segala komponen pendukung, agar pada saatnya nanti, kampus ini secara kelembagaan, baik dari dosen maupun mahasiswanya sudah bisa menggunakan sistem ini dengan baik dan sesuai harapannya.

borobudur3

Setelah sesi presentasi rampung, akhirnya disepakati untuk materi lanjutan berupa workshop konversi dokumen dan pelatihan penggunaannya.

baca lanjutan...

Menjadi Narasumber Materi Manajemen Course pada Kelas e-learning

Sebagai bagian dari tindak lanjut coaching kelembagaan di lingkungan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Mineral dan Batubara (Pusdiklat Minerba) Kementrian ESDM dalam pemanfaatan e-learning, beberapa hari yang lalu pada tanggal 4 dan 5 Mei 2015 di Bandung, Saya diundang untuk memberikan materi manajemen dan desain pembelajaran pada course.

Rangkaian acara ini merupakan tahapan yang harus dilalui ketika Pusdiklat Minerba yang telah memiliki sistem e-learning ini sudah pada tahap perancangan dan pembuatan course. Acara ini diikuti juga oleh bagian-bagian terkait diantaranya Bidang Informasi, Kurikulum, Standarisasi, Sarana Prasarana dan Widya Iswara selama 2 hari berturut-turut.

Selain saya yang berkontribusi sebagai narasumber materi manajemen course, diikuti juga oleh narasumber lainnya yang berasal dari IM4DC Australia yakni Mrs. Trish Andrews dan Mr. Charles Singer, sebagai informasi keduanya juga bekerja sebagai peneliti dan pengajar pada University of Queensland, Australia. Mereka menyampaikan tentang Desain Course dalam kelas jarak jauh pertambangan.
GB4A7770

 

Dalam pertemuan 2 hari tersebut, saya memberikan materi tentang pengelolaan course menggunakan Moodle pada topik-topik berikut ini :

1. Administrasi user
Pendaftaran
Edit Profile
Unggah foto
Enrollment method

2. Manajemen Course
Antarmuka course
Menambahkan bahan (file, gambar, video)
Membuat forum diskusi
Private message
Merancang chat room
Blog moodle
– Via posting
– RSS feed

3. Evaluasi dan assessment
Upload media SCORM
Membuat assignment
Mengenal tipe-tipe soal komputasional
Membuat Quiz
Manajemen bank soal
Import soal
Manajemen nilai/grading
Melihat perolehan nilai siswa
Tracking record siswa

Beberapa catatan materi ini bisa Anda baca pada blog ini dengan cuma-cuma.

Materi-materi ini sesungguhnya baru sebagian kecil pada pengelolaan Moodle, sehingga pada waktu-waktu berikutnya akan disusun agenda yang berkelanjutan agar bisa mempelajari Moodle dengan lebih mendalam.

GB4A7760

Akhirnya setelah pemberian materi 2 hari, pada penutupan acara kami sempatkan untuk mendokumentasikan kegiatan dan penyerahan buku saya kepada narasumber yang lainnya.

20150505_160155
Pemberian buku cinderamata kepada tim pengajar University of Queensland

 

Semoga materinya bermanfaat, sehingga tercipta hubungan yang baik untuk kedepannya bersama-sama sharing pengalaman dan pengetahuan.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Penilaian Berbasis Forum Pada Moodle

Setelah kita membahas berbagai macam penilaian dengan instrumen quiz dan penugasan. Kali ini kita akan membahas pola penilaian berbasis forum. Sebagai informasi, penilaian berbasis forum ini biasanya digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam hal menguraikan pendapat, konstruksi argumentasi dan keberanian berbeda pendapat dengan orang lain. Muaranya salah satunya misalnya pada berpikir kritis dan berpikir kreatif, 2 hal ini merupakan level berpikir tingkat tinggi yang dicanangkan oleh Unesco sebagai skill siswa di abad 21.

Menggunakan Moodle sebagai LMS multi fungsi, sangat mudah menggunakannya sehingga setiap tentor/guru bisa menggunakan kemampuan ini untuk mengukur dan mrangsang kemampuan para siswanya.

Langsung saja bagaimana caranya ?.

1. Pastikan anda sudah login sebagai teacher/admin.

2. Aktifkan tombol editing pada sisi kanan atas, “Turn editing on”

1

3. Tambahkan aktivitas baru pada salah satu section

4. Pilih “Forum” kemudian klik Add

2

5. Pada halaman berikutnya, silakan diisikan nama forum dan deskripsi (form no 1 dan 2). Untuk setting lampiran dan perhitungan kata, bisa diset pada form no 3 (maksimal ukuran kapasitas lampiran), 4 (jumlah berapa banyak file yang bisa diunggah) dan 5 (display penghitungan kata)

3

Masih dihalaman yang sama, ada pengaturan tentang langganan (subscription). Untuk lebih nyamannya saya biasanya set ke Auto agar setiap siswa otomatis bisa join ke dalam forum. Sementara pada Read tracking for this forum digunakan untuk melakukan pelacakan pada setiap posting yang dilakukan siswa.

Sementara pada penilaian (Ratings) bisa disetting tipe nya, apakah hendak dibuat perataan (Average), dihitung yang terbesar, atau yang pertama/terakhir posting. Untuk Scale kita set 100 agar bisa dinilai rentang 0 – 100. Akhiri dengan Save and display.
4

6. Setelah disimpan, maka akan masuk pada halaman baru yakni pada forum yang sudah dibuat. Untuk memulai pertanyaan/pemantik diskusi silakan buat topik baru klik pada Add a new discussion topic

5

Berikan judul dan isikan pesan sesuai dengan keinginan. Lanjutkan dengan klik Post to forum

6

7. Sudah terlihat pada layar disana, jika ingin memberikan balasan, silakan klik pada subject . Pada contoh kali ini, saya akan coba memberikan balasan menggunakan user siswa.

7

8. Setelah dilakukan balasan oleh user siwa, maka menggunakan akun teacher, komentar ini bisa dilakukan penilaian, semisal nilai 80.

8

9. Nah saat ini, sudah terlihat nilai yang telah diberikan yakni 80.
9

Demikian pembahasan melakukan penilaian berbasis forum. Semoga dengan menggunakan fitur ini, penilaian sudah lebih fleksibel karena tidak hanya pengerjaan soal dan penyerahan tugas semata, namun kita bisa memantau kemampuan siswa disisi lainnya. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Cara Mudah Instalasi Moodle pada PC Windows

Setelah sebelumnya kita telah berhasil melakukan instalasi Moodle pada server linux, pada tulisan ini akan dibahas instalasi Moodle pada lingkungan Windows. Sebagai bahan eksperimen Kita akan menggunakan PC yang telah terinstall Windows 7. Untuk software pelengkap servernya, program yang diperlukan berikutnya adalah XAMPP dan Moodle. Kita akan menggunakan XAMPP versi 5.6.8. Sebagai informasi, bagi Anda yang baru belajar mengutak atik didunia web programming, versi ini merupakan packing beberapa program yakni :
  • PHP 5.5.24 / 5.6.8
  • MySQL 5.6.24
  • phpMyAdmin 4.4.3
  • OpenSSL 1.0.1m (OS X and Linux)
  • XAMPP welcome page (beta)
  • Fix charset admin pages
  • OS X HOW-TO guides
  • SSL support for PostgreSQL PHP extension
  • PHP XMLRPC extension
  • PHP MSSQL extension

Paket sebanyak ini bisa didapatkan hanya dengan sekali install XAMPP ini. Untuk download bisa cek disini https://www.apachefriends.org/xampp-files/5.6.8/xampp-win32-5.6.8-0-VC11-installer.exe

Setelah terdownload, maka silakan lakukan instalasi. Seperti program windows kebanyakan, instalasi program ini memang didesain dengan mudah termasuk saat kita melakukan instalasinya. Untuk percobaan ini, Saya akan lakukan instalasi di partisi D:\xampp\xampp_new. Jika Anda memilih pada folder lain, silakan menyesuaikan ya.

Sebagai informasi, pada XAMPP ada folder “htdocs” yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan file-file pada servernya. Kalo diPC saya, maka tempatnya ada di D:\xampp\xampp_new\htdocs. Folder “htdocs” ini jangan didelete, dipindah atau rename karena akan memiliki pengaruh pada Moodle anda suatu saat nanti.

Kemudian, untuk Moodle nya, kita akan menggunakan yang versi 2.8.5 yang bisa didownload disini https://download.moodle.org/download.php/stable28/moodle-latest-28.zip

Besaran file ini kurang lebih sampai dengan 45 MB. Untuk memulai, setelah terdownload maka lakukan ekstrak pada folder htdocs, sehingga folder hasil ekstrak yang bernama “moodle” akan berposisi pada D:\xampp\xampp_new\htdocs\moodle. Untuk proses ekstrak nampak seperti pada dibawah ini.

1

Baik, setelah terkestrak dengan benar, maka langkah berikutnya adalah kita akan melakukan instalasi Moodle nya.

1. Untuk memulai instalasi Moodle, pastikan service pada Apache dan MySql nya berjalan dengan normal. Pada folder “xampp_new” ada file yang bernama “xampp_control.exe” yang bisa dieksekusi sebagai control panel xampp. Jika sudah running pada Apache dan MySql akan tampak seperti pada dibawah ini

xampp

2. Buka pada browser favorut anda, alamat http://localhost/moodle kemudian pilih bahasa untuk instalasi, kalo saya lebih senang dengan bahasa English (en) karena kalo di indonesiakan biasanya agak aneh terbacanya. Tapi sekali lagi, ini masalah selera saja ya. 😀

Setelah terbuka halamannya, maka klik Next
2

3. Pada halaman berikutnya, maka akan muncul form untuk diisi sesuai dengan alamat path instalasi kita. Pada Web address dan Moodle directory, akan muncul otomatis sesuai. Sedangkan Data directory sebenarnya fleksibel diisikan dimana saja, asalkan tidak sama dengan Moodle directory. Sebagai informasi, Data directory ini digunakan sebagai data cahing yang akan menyimpan semua data akses kita agar lebih cepat pada akses berikutnya. Pada Moodle, folder ini penting untuk dibuat. Akhiri dengan klik Next.
3

baca lanjutan...

Konfigurasi Tayangan Live Broadcast Pada Moodle

Dalam pembelajaran jarak jauh, salah satu inovasi yang bisa dilakukan untuk percepatan penyerapan pembelajaran adalah menggunakan sarana broadcast streaming. Seperti layaknya kita menonton siaran televisi, walaupun satu arah, namun jika bisa dilakukan dengan baik maka peserta belajar akan mendapatkan outcome yang baik pula. Hal ini juga bisa menjadi siasat untuk memperoleh informasi/ilmu dari narasumber dari jarak yang jauh/ pada belahan dunia lainnya namun dilakukan secara real time. Semisal pada pembelajaran bahasa asing, kebutuhan untuk mendatangkan native speaker (penutur asli) bisa difasilitasi dengan tayangan broadcast melalui jaringan internet, kemudian disiarkan langsung melalui perantara Moodle kita.

baca lanjutan...

Integrasi Moodle dengan Big Blue Button untuk Live Conference

Komunikasi memang dibutuhkan oleh semua manusia, jarak yang berjauhan membuat orang membutuhkan media untuk menghubungkannya. Teknologi saat ini dengan perkembangannya yang begitu pesat, memungkinkan antar manusia yang satu dengan yang lainnya untuk berkomunikasi tatap muka melalui transmisi data. Sekilas info, jika anda akrab dengan komunikasi tatap muka Skype, didapatkan pada November 2014 kemarin techno Kompas melaporkan sudah terhitung 300 juta orang penggunanya, fantastis bukan ?. Ide ini nampaknya menarik jika bisa kita implementasikan untuk pembelajaran e-learning. Namun menggunakan skype dengan jumlah user lebih dari 2 orang akan dikenakan kredit biaya. Berpikir untuk mengintegrasikannya Live Conference dengan Moodle ?. Begini solusinya.

Menggunakan produk open source, kali ini kita akan mencoba mengintegrasikan Moodle dengan live  conference sendiri di jaringan/server anda. Sehingga anda nantinya dapat melakukan meeting/diskusi lebih dari dua orang yang akan melakukan pembicaraan. Kabar baiknya semuanya free alias gratisan !.  Tulisan ini ditujukan untuk anda yang ingin ngoprek tentang pembuatan komunikasi tatap muka gratis. Kita akan menggunakan Big Blue Button (berikutnya disingkat BBB).

Sekedar informasi, BBB ini merupakan produk open source dengan lisensi GNU GPL sehingga memungkinkan untuk penggunanya memodifikasi source code sesuai dengan kebutuhan masing-masing usernya. Ketika tulisan ini dibuat sudah sampai versi 0.9 beta. Untuk ujicoba penggunanya, BBB menyediakan versi trial yang bisa diintegrasikan dengan Moodle kita.

Bagaimana caranya ?. Mari kita mulai.

Sebelumnya pastikan browser pc anda sudah terinstal dengan flash player ( https://get.adobe.com/flashplayer ) dan java (http://java.com/en/download/)

1. Lakukan instalasi plugin BBB pada moodle anda. Akses disini https://moodle.org/plugins/view/mod_bigbluebuttonbn kemudian lakukan Download.

1

2. Setelah terdownload, maka upload pada folder /mod didalam instalasi moodle anda di server. Kemudian ekstrak sehingga mendapatkan satu folder baru : bigbluebuttonbn.

2

3. Login pada akun admin moodle anda.

4. Maka akan muncul halaman dibawah ini. Berupa notifikasi bahwa ada plugin baru yang terdeteksi. Segera lakukan upgrade database dengan cara klik Upgrade Moodle database now.

baca lanjutan...

Strategi Perubahan Pembelajaran dari Kelas Tradisional Menuju e-learning

Beberapa provider e-learning menganggap bahwa jika ingin melakukan konversi dari pembelajaran tradisional kedalam pembelajaran e-learning, maka hanya tinggal memindahkan semua konten/media kedalam Learning Management System (LMS) maka pekerjaan itu sudah selesai.

Namun sebenarnya langkah ini belumlah selesai. Memindahkan semua file presentasi/bahan-bahan pembelajaran dari yang tadinya tercetak hanya menjadi via file-file saja barulah satu tahap. Jika ingin tuntas dan menyeluruh, menurut Christopher Pappas ( seorang profesional e-learning penemu jejaring The eLearning Industry) harusnya dilengkapi dengan 5 langkah berikut. Apa sajakah itu ?, mari simak kelanjutan tulisan ini. Artikel ini disarikan dari http://elearningindustry.com/.

1. Mengidentifikasi format kelas e-learning.

Langkah ini untuk memilah dan mengklasifikasi kelas pembelajaran dilakukan dengan synchronous atau asynchronous.

Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/
Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/

a. Synchronous

Pertemuan langsung/live secara waktu, bersamaan antara tutor dengan peserta didik. Pada mode ini beberapa media yang bisa digunakan antara lain : live conference, chat, broadcasting dan private message.

Dalam platform ini, tutor dan peserta didik menyepakati waktu yang akan digunakan, sehingga bisa secara real time bertemu dalam perantara jaringan internet. Dalam pembelajaran tatap muka jarak jauh ini, tutor juga memiliki kewenangan untuk memilih peserta. Untuk pelaksanaan real time conference ini beberapa provider sudah menyediakan layanannya baik secara publik atau private, secara berbayar atau gratis. Contoh provider yang telah mengembangkan layanan ini  antara lain Skype, Open Meeting, Big Blue Button, Google HangOut dll.

b. Asynchronous

Pertemuan antara tutor dan peserta didik tidak secara langsung, terdapat delay antara penyediaan media dan pembelajaran yang terjadi. Contoh media  yang digunakan : Forum, gambar, video, sound, e-mail dan teks.

Terjadinya delay waktu antara penyediaan media dengan pembelajaran, memberikan waktu lebih banyak kepada peserta didik untuk bisa mendalami lebih lanjut materi yang telah disediakan. Selain itu, peserta didik juga diberikan keluangan untuk mengkaji materi-materi dari sumber yang lain untuk pengkayaan bahan ajar. Salah satu kelemahan yang ditemukan pada mode ini adalah jika adanya pertanyaan atau topik diskusi yang membutuhkan klarifikasi atau jawaban dari tutor maka membutuhkan waktu yang sangat tentative, tergantung dari kesediaan tutornya. Walaupun begitu, tentu saja sumber belajar tidak hanya berasal dari tutor semata, namun bisa juga didapatkan dari rekan sejawat.

c. Hybrid/Blended Learning

Ini kombinasi mode antara synchronous dengan asynchronous dimana fase ini biasanya ditempuh untuk masa adaptasi penerapan e-learning di masa-masa awal. Mode ini memungkinkan adanya mixed penerapan e-learning dengan kelas tradisional, adapun berapa persentasenya (antara e-learning dengan tradisional) tergantung dari masing-masing institusi. Sebagai gambaran jika dilakukan fifty-fifty semisal untuk pertemuan 10 x, maka 5x dilakukan dengan konvensional dan 5x dengan e-learning. Kombinasi inipun dalam perjalanannya bisa berkurang/bertambah tergantung dari masa transisi dan evaluasi.

Sebagai ilustrasi seperti nampak pada gambar dibawah ini (pengajaran berbahasa asing).

chart-blended

Dari 3 pendekatan kelas pembelajaran diatas , jika ingin memilih, secara pribadi saya lebih merekomendasikan menggunakan Blended Learning. Hal ini didasari oleh kebutuhan, bahwa proses adaptasi dari pembelajaran tradisional tentu saja membutuhkan waktu dan persiapan yang tidak sedikit. Walaupun begitu, pemegang kebijakan dan pelaksana lapangan harus menyepakati kapan pelaksanaan blended ini akan dilakukan evaluasi dalam rentang waktu tertentu. Sebagai alat bantu evaluasi, berikut saya sajikan tabel untuk analisis keterlaksanaan mode blended ini.

evaluasi

Sebagai sebuah komponen evaluasi, form diatas bisa disesuaikan dengan kebutuhan institusi. Jika nilai telah beranjak naik dari waktu ke waktu, mode blended ini bisa berubah prosentasenya.

2. Pemilihan Model Desain Instruksional

Menurut Marina Arshavskiy (2013), Model Desain Instruksional pada e-learning sendiri paling tidak terdiri dari 7 tipe.

a. ADDIE Model

b. Seels and Glasgow ISD Model

c. Dick and Carrey Systems Approach Model

d. ASSURE Model

e. Rapid ISD Model

f. Four-Door (4 D) eLearning Model

g. SAM Model

Akan coba saya paparkan ADDIE dan ASSURE karena sering dipakai dalam pengembangan sistem.

ADDIE Model kepanjangan dari Analyze (analisis), Design (desain), Develop(membangun), Implement (terapkan), dan Evaluate (evaluasi). Model ini cukup umum dikenal sebagai model yang fleksibel yang sering dipakai untuk pengembangan sistem. Disiapkan untuk membantu proses step by step yang membantu sistem desainer untuk membuat program yang sesuai dengan framework.

Kemudian untuk ASSURE Model

dikembangkan oleh Heinich, Molenda, Russell dan Smaldino, berdasarkan 9 even Instruksional Gagne. Model ini mengasumsikan bahwa desain kelas menggunakan berbagai tipe media dan secara khusus sangat bermanfaat untuk desain kelas e-learning.

ASSURE kepanjangan dari:

  • A – Analyze Learner (Menganalisis Pembelajar)
  • S – State Objectives (Menentukan Tujuan Pembelajaran)
  • S – Select Media and Materials (Memilih media dan materi)
  • U – Utilize Media and Materials (Menggunakan media dan materi)
  • R – Require Learner Participation (Membutuhkan partisipasi pembelajar)
  • E – Evaluate and Revise (Evaluasi dan revisi)

ASSURE-Model

assure-model

Kemudian untuk membandingkan diantara 2 model tersebut, silakan disimak melalui tabel berikut

tek 3

Pada Assure terlihat bahwa evaluasi dilakukan pada akhir fase, sedanggkan pada Addie evaluasi dilakukan pada masing-masing step.

baca lanjutan...

Menambahkan Eksternal Storage Dropbox Kedalam Moodle

Menambahkan kapasitas tambahan pada Moodle Site kita memang akan memberikan banyak keuntungan, selain tentu saja tidak memenuhi dan memberatkan kerja server kita, bagi user/admin yang gemar melakukan penyimpanan pada drive di Cloud akan langsung bisa mengkoneksikan Moodle nya dengan file-file favorit nya sehingga tidak perlu melakukan upload file/data berkali-kali. Pada Moodle versi 2.0 keatas, fitur ini sudah diadaptasi dengan baik sehingga sangat memudahkan user/admin.

Setelah pada tulisan sebelumnya kita membahas integrasi antara Moodle dengan ownCloud dan Google Drive, pada artikel ini kita akan membahas penerapan Dropbox pada Moodle. Ayo ikuti bahasannya secara bertahap.

Berikutnya apa saja yang diperlukan ?, tentu saja pastikan telah memiliki akun dropbox nya. Iya, hanya itu saja, sangat simple bukan ?.

Setting pada Dropbox

1. Silakan login pada akun dropbox Anda di dropbox.com

2. Kalau sudah login, silakan menuju https://www.dropbox.com/developers

3. Pada halaman baru, silakan klik pada App Console dilanjutkan dengan membuat app baru dengan cara klik Create app

1

4. Kemudian pada halaman Dropbox Platform app, pilih beberapa opsi seperti pada dibawah ini :

Create a new Dropbox Platform app : pilih Dropbox API app

What type of data does your app need to store on Dropbox ? : pilih Files and datastores

Can your app be limited to its own folder ? : No

 

2

Dilanjutkan dengan opsi seperti dibawah ini :

What type of files does your app need access to ? : Pilih Specific file types, pada opsi ini kita diberikan opsi memilih type file maksimal 3 type.

Last question, what type of files will your app use ? : Pilih Text files, Documents, Images.

Provide an app name : isikan nama app nya, contoh moodlededy2.

Akhiri dengan klik Create app
3

5. Pada halaman baru akan muncul App key dan App secret.

Nah dua informasi tersebut akan dipakai pada setting Moodle, silakan sementara bisa dikopikan pada notepad terlebih dahulu.

3-1

Setting pada sistem Moodle

Setelah pada dropbox kita selesaikan setingannya, maka berikutnya akan kita atur pada sistem Moodle nya. Apa saja yang perlu kita config ?, silakan simak langkah-langkah berikut ini :

1. Login sebagai admin moodle

2. Masuk pada Site Administration >> Plugins >> Repositories >> Manage repositories

pada form “Dropbox” silakan ubah status yang sebelumnya Disabled menjadi Enabled and visible

4

3. Maka akan muncul halaman baru Dropbox configuration

pada isian API key dan secret, silakan masukkan kode yang diperoleh pada poin 5 diatas.
5Setelah diisikan API dan secret nya akhiri dengan Save

4. Nah, setelah dikonfigurasi, berikutnya kita ujicobakan dengan cara menambahkan media/file baru apakah sudah muncul atau belum pada sumber storage nya.

5. Masuk pada salah satu course, kemudian tambahkan media baru.

Pada name dan description isikan keterangannya. Kemudian pada files tambahkan file nya dengan klik Add

6

6. Pada halaman baru, sudah muncul sumber file dari Dropbox, lanjutkan dengan klik Login

7

7. Maka akan muncul request apakah akan diijinkan atau tidak, lanjutkan dengan klik Allow.

8

8. Maka akan muncul display, semua file yang telah disimpan pada dropboxnya. Kemudian pilih salah satu file nya.

9

Akan muncul sejenak preview file yang terpilih.

10

9. Nah kembali pada halaman sebelumnya, maka sudah muncul file nya. Akhiri dengan klik Save and display
11

10. Maka sudah muncul file gambar yang tadi sudah kita masukkan.

12

Sampai disini integrasi Dropbox dan Moodle sudah selesai kita lakukan. Sehingga storage server kita akan lebih lapang dan sumber media lebih bervariasi dari mana saja asalnya. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

 

Dedy Setyo

Setting SMTP Gmail Pada Moodle

Setelah pada tulisan sebelumnya membahas tentang konfigurasi form registrasi beserta custom nya, maka pada artikel ini akan dibahas kelanjutan setting e-mail setelah pendaftaran pada moodle.

Informasi sekilas, bahwa SMTP (Simple Mail Transfer Protocol) sendiri merupakan protokol yang digunakan untuk mode pengiriman e-mail. Pada Moodle, e-mail ini salah satunya dipakai untuk notifikasi kepada user setelah dilakukan pendaftaran, selain itu, e-mail pada moodle banyak digunakan untuk informasi kepada user ketika sudah masuk pada course pembelajaran.

Namun pada realitanya, untuk pengaturan mail server pada masing-masing server memang tidak mudah. Paling tidak kita harus belajar tentang bagaimana proses email bisa dikirimkan dan diterima ke server lainnya. Tulisan ini untuk menyederhanakan, bahwa Google menyediakan port SMTP yang bisa digunakan oleh publik, sehingga anda bisa melakukan pengiriman e-mail pada moodle lewat perantara e-mail punya gmail, namun syaratnya Anda harus memiliki akun gmail. Mudah sekali bukan ?.

Walaupun diberikannya kemudahan oleh gmail tersebut, tidak bisa dipungkiri fasilitas dari gmail ini memang ada keterbatasan (seperti dikutip dari https://docs.moodle.org/25/en/Email_setup_gmail )

1. Tidak mensupport multi sender.

2. Limit pengiriman per harinya hanya 500 email untuk 500 alamat email yg unik.

Baik, sekarang kita akan ujicoba melakukan registrasi menggunakan form sebelumnya.

Seperti nampak pada form dibawah ini, kita akan isikan sesuai dengan permintaan. Akhiri dengan klik Create my new account

1

Setelah diisikan dengan lengkap, maka form registrasi ini harusnya akan mengirimkan notifikasi pendaftaram kepada peserta yang baru masuk. Namun setelah saya lakukan pengecekan pada email. Ternyata tidak didapati e-mail apa-apa dari moodle. Hal ini karena belum saya lakukan setting mail server pada hosting saya.

Nah sekarang, kita akan coba setting menggunakan SMTP gmail. Langkah-langkahnya demikian :

1. Login menggunakan akun admin.

2. Masuk pada Site administration >> Plugins >> Message outputs >> Email
2

3. Setelah masuk pada halaman baru, pada form isikan sebagai berikut :

SMTP hosts: smtp.gmail.com:465

SMTP security: SSL

SMTP username: Akun gmail anda, isikan lengkap dengan @gmail.com

SMTP password: Password akun gmail

Setelah diisi semua, akhiri dengan save.
3

4. Oke, setelah itu untuk mengujicoba, lakukan logout pada admin kemudian masuk pada form registrasi.

5

Setelah diisi semua seperti pada tampilan diatas, harusnya dalam beberapa saat anda akan menerima email seperti ini :

6

Mudah sekali bukan ?. Nampak pada pengirim (sender), akan muncul e-mail gmail anda yang tadi sudah dimasukkan seperti ini.
4

Samapi disini sebenarnya kita sudah selesai seting gmail pada moodle anda, namun beberapa admin moodle biasanya ingin melakukan custom terhadap redaksi e-mail yang dikirimkan seperti nampak diatas menggunakan bahasa sendiri. Bagaimana melakukannya ?

1. Masuk pada Site Administration >> Language >> Language customisation

8

2. Pada jendela baru klik pada English (en), ini karena seting bahasa masih default menggunakan bahasa Inggris, pada teulisan lain akan dibahas menggunakan pack bahasa Indonesia.
9

akan loading beberapa saat, kemudian muncul ke halaman baru  untuk melakukan Filter, karena banyak istilah pada moodle.

Show strings : pilih moodle.php

Only string contained : kita akan mengisikan isi email sebelumnya untuk melakukan filter, misalnya kita isikan “To confirm your new account, please go to this web address”

Klik Show strings untuk memunculkan hasil filternya.

Berikutnya dihalaman yang sama, setelah muncul teks yang dimaksud, tuliskan teks sesuai dengan keinginan kita, misalkan “Konfirmasi email pendaftaran”.

Jangan lupa akhiri dengan Save changes to the language packs
10

3. Untuk melakukan ujicoba pendaftaran lagi menggunakan email yang sama, maka akun sebelumnya harus didelete, kecuali jika anda ingin mencoba pakai email yang lain. Untuk delete, klik pada Site Administration >> Users >> Accounts >> Browse list of users

14

Klik delete pada akun usernya.
11

4. Sekarang kita isikan lagi form isian pendaftarannya seperti ini. Akhiri dengan klik Create my new accounts

5

5. Maka email yang didapatkan saat ini sudah berubah redaksi tesknya.
12

Silakan melakukan ujicoba dengan redaksi teks lain agar lebih mudah dipahami oleh semua user baru anda. Selamat mencoba 🙂

Salam hangat,

 

Dedy Setyo.