Pemelajar Otonom

Artikel ini masuk pada laman koran nasional Republika pada 22 Januari 2021. Bisa dibaca pada https://www.republika.id/posts/13542/pemelajar-otonom


Kolumnis The New York Times, Thomas L. Friedman, peraih penghargaan internasional bergengsi Pulitzer Prize tiga kali ini, pernah menyampaikan dalam tulisannya yang berjudul “After the Pandemic, a Revolution in Education and Work Awaits”, bahwa setelah pandemi akan ada banyak revolusi besar dalam dunia Pendidikan, salah satunya ada pada bagaimana pengelolaan pembelajaran dilakukan pada saat masa pandemi kini, dan setelah pandemi, kita akan kesulitan kembali pada cara-cara lama (seperti sebelum pandemi). Nampaknya, perubahan besar dalam ranah pendidikan ini menemui momentumnya, justru setelah kita dapat musibah besar ini. Lanjutnya, menyiapkan siswa dengan rasa ingin tahu dan passion belajar yang tinggi akan membentuk mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat yang akan memiliki kepemilikan pada pendidikannya, merupakan kunci penting dalam kita membangun pondasi besar dalam masa depannya kelak.

Tantangan dimasa awal tahun 2021, setelah banyaknya daerah dan sekolah yang mengundurkan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) karena grafik wabah covid19 yang makin tinggi, adalah terus menerus memperbaiki proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang telah berjalan sedari Maret 2020 lalu. Dengan berbagai catatan peristiwa yang kita hadapi kurang lebih 9 bulan kebelakang, anggap saja ini adalah fase pertama untuk kita menapakkan kaki kita dimasa yang sesungguhnya berbeda dengan yang selama ini kita alami (sebelum pandemi).

Ilustrasi PJJ

Pembelajar sepanjang hayat

Sejatinya, proses pembelajaran yang kita lakukan kepada para siswa kita (dengan adanya pandemic atau tidak) adalah menyiapkan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pembelajar sepanjang hayat ini mutlak diperlukan dalam keadaan apapun. Karena kehidupan ini senantiasa berubah dan berkembang, maka niscaya jika dalam menjalaninya adalah dengan terus menyiapkannya dengan sebaik-baiknya.  Dengan apa ?, dengan menjadikan mereka mencintai belajar.

Pendidikan dan belajar sepanjang hayat didefinisikan sebagai pengembangan potensi manusia melalui proses yang medukung secara terus menerus yang menstimulasi dan memberdayakan individu-individu agar memperoleh semua pengetahuan, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan, dan pemahaman.

Semuanya itu akan diperoleh dalam keseluruhan hidup individu dan kemudian menerapkannya dengan penuh percaya diri, penuh kreativitas, dan menyenangkan dalam seluruh peran, iklim, dan lingkungan (Longworth dan Davies, 1996:22). Pada point ini, menyiapkan pembelajar sepanjang hayat pada diri siswa, akan menjadikan mereka menyenangi belajar, tidak hanya di bangku kelas dan kuliah, namun juga setelah menyelesaikan pendidikan formal.

Perbedaan pada prinsip PJJ dibanding dengan pertemuan pembelajaran tradisional, salah satu hakikatnya adalah pada “kebebasan” pembelajar untuk menentukan waktu, sumber ajar yang lebih terbuka, bahkan hingga targetan belajar yang lebih personalize sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Jika pada pembelajaran tradisional semua proses dilakukan secara klasikal dalam satu kelas, bahkan materi dan goals pembelajarannya disesuikan dengan cara yang homogen untuk semua kebutuhan siswa sekelas, maka kebutuhan individual belum dapat difasilitasi secara lebih banyak.

Namun, pada pelaksanaan PJJ dengan skema online yang dilakukan dari rumah masing-masing, pembelajaran akan dapat diselenggarakan dengan lebih dinamis, tidak tersekat antar ruang dan waktu. Pembelajar yang lebih cepat (fast learner) akan dapat menggali banyak materi, disisi lain pembelajar yang butuh lebih banyak waktu (slow learner) dapat melakukan proses pengulangan (remediasi) sekaligus mencari referensi dari berbagai sumber yang ada di dunia maya dengan tak terbatas.

Pembelajar otonom

Dalam otonomi pembelajaran, peserta didik bertanggung jawab pada proses belajar mereka sendiri. Richards (2020)  memaparkan ada 5 prinsip untuk meraih pembelajaran yang otonom: keterlibatan aktif peserta didik, menyediakan pilihan dan sumber-sumber (resources), menawarkan pilihan-pilihan dan kesempatan-kesempatan pengambilan keputusan, mendukung pembelajar, dan mendorong praktik refleksi. Oleh sebab itu, Richards (2020) berpendapat bahwa di kelas-kelas yang mendorong pembelajaran otonom, peran guru lebih kepada menjadi fasilitator pembelajaran sehingga peran sebagai instruktur berkurang, peserta didik tidak diarahkan untuk terlalu bergantung kepada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kapasitas peserta didik untuk belajar ,kesadaran akan gaya belajar,  dan strategi belajar  mereka diperkuat.

Pengelolaan PJJ yang efektif, sejatinya akan mengakselerasi siswa menjadi pembelajar otonom yang dapat mengelola sendiri waktunya, goals, strategi, evaluasi dan memperbaiki proses yang dijalani. Sehingga dengannya, pengembangan kapasitas dirinya merupakan misi internal yang dimiliki dengan atau tanpa intervensi orang lain. Mampu melejitkan potensinya dengan mengoptimalkan sumber-sumber yang ada, dan akhirnya berdampak pada kemajuan dimasa mendatang.

Belajar Mandiri

Sejalan dengan ini, Carol Dweck, Ph.D, pakar Psikologi dari Stanford University dalam bukunya “Mindset” menggambarkan bahwa pribadi yang unggul, memiliki motivasi internal kuat berupa Growth Mindset (Mindset tumbuh) yang dengannya akan siap sedia berlelah untuk belajar dan menghadapi tantangan, serta menganggap segenap tantangan itu sebagai media untuk terus memperbaiki diri dan tumbuh.

Kita berharap dimasa pandemic yang masih kita jalani ini, sebagai momentum pertumbuhan, menjadikan para siswa ini sebagai pembelajar otonom (dengan medium PJJ atau PTM) yang mencintai belajarnya sepanjang hayat (life long learner), sehingga dimasa depan kita memiliki generasi pembelajar sejati.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.