Berawal dari Kue (Seri Knowledge Management #2)

Berawal dari Kue (Seri Knowledge Management #2)

Artikel berikut merupakan rangkaian/series dari topik Knowledge Management. Disarankan membacanya runtut dari awal agar mendapatkan gambaran utuh Why, What dan How nya. Selamat mengikuti.

Part 1 : Mengapa Knowledge Management ?
http://dedysetyo.net/2020/11/25/mengapa-knowledge-management/

Part 2 : Berawal dari Kue
http://dedysetyo.net/2020/11/27/berawal-dari-kue-seri-knowledge-management-2/

Part 3 : Penerapan praktis Knowledge Management di dunia pendidikan
http://dedysetyo.net/2021/01/06/penerapan-praktis-knowledge-management-di-dunia-pendidikan-seri-knowledge-management-3/

Record Video Webinar
Implementasi Knowledge Management dalam Dunia Pendidikan
Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=iarei_VoNtM
Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=g3k6HK2AzcY


Ya betul, tidak ada yang salah dengan yang Anda baca, semuanya berawal dari kue, Namanya Ms Ikuko Tanaka, seorang engineer (programmer komputer), pada tahun 1984/1985 lalu beliau mendapatkan tantangan dari bos nya di Matsushita Electric untuk mengembangkan mesin pembuat roti, yang mudah namun enak dan bisa diproduksi dalam skala besar. Tantangan ini mulanya diterima, walau setelah dilakukan uji coba dengan skala terbatas, tak dinyana ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Kue yang sudah dimasak oleh mesin itu, diluar terlihat matang (bahkan gosong), namun dibagian dalamnya masih mentah, pun masih kurang enak, volume tidak sesuai dan lain sebagainya.

Ilustrasi Cake Machine

Setelah hasil kurang memuaskan itu Ms Ikuko Tanaka menyerahkan proposal kepada bosnya untuk ikut magang ke Osaka International Hotel, belajar langsung dari ahlinya untuk pembuatan kue tersebut. Magangnya ini juga bukan sehari dua hari, namun berbulan-bulan hingga Tanaka sampai pada titik yang diharapkannya. Jadilah bersama Chef dari dapur hotel terbaik itu, Tanaka mengikuti, mengamati, mencatat sampai dengan simulasi pembuatan kuenya.

Setelah proses magang yang berbulan-bulan itu selesai, Tanaka merangkum, membuat intisari, lalu meringkasnya jadi prosedur dan langkah-langkah yang kemudian dibuat algoritma komputasi.

Proses ini diulangi, direvisi dan dievaluasi terus menerus hingga mendapatkan resep terbaik dan mesin yang dihasilkan juga menghasilkan produk yang kualitasnya sesuai harapan Tanaka.

Singkat cerita, setahun setelah magang itu dilakukan, mesin yang dihasilkan Matsushita Electric melalui Tanaka berhasil mencetak rekor penjualan kue terbesar di Jepang, bahkan masuk pada hall of fame penjualan terbanyak.

Kisah menarik yang dilakukan oleh Ms Tanaka ini menginspirasi Jepang lainnya, Ikujiro Nonaka, pada 1995 beliau memiliki gagasan bahwa : Pengetahuan adalah satu-satunya kunci kompetitif. Karena dengan Pengetahuan, perusahaan atau organisasi manapun dapat mencapai titik terjauhnya. Saat ini, pengetahuan bahkan menjadi asset yang lebih berharga bahkan dari pada asset fisik yang dimiliki oleh organisasi.

Ikujiro Nonaka, Bapak Knowledge Management

Masih dari Nonaka, bahwa perusahaan yang sukses, sesungguhnya mampu untuk menghasilkan pengetahuan baru, menyebarkannya dalam perusahaan, yang pada akhirnya bisa diimplementasikan dalam teknologi atau produk baru. Sehingga makin banyak pengetahuan baru yang bisa diproduksi oleh organisasi, seyogyanya kemajuan organisasi akan lebih melesat dimasa depan.

Knowledge Management

Nonaka memiliki teori berdasarkan banyak kisah yang telah diamati, bahwa Pengetahuan itu seharusnya bisa dispiralisasi untuk melahirkan pengetahuan – pengetahuan berikutnya.

Pada diri manusia, sebenarnya kita merupakan kumpulan pengalaman dimasa lalu, bahkan kita bisa membentuknya jadi lebih berharga pengalaman-pengalaman itu untuk kehidupan berikutnya, berbagai macam input dalam kehidupan (bekerja, belajar, bersosialisasi dan beragam aktivitas lainnya) ini terekam pada diri kita, ini yang dinamakan dengan Tacit Knowledge.

Jika pada sekian banyak Tacit itu dapat kita dokumentasikan pada proses berikutnya, melalui menulis, merekam, dll kemudian bisa dinikmati oleh manusia lainnya, ini akan menjadi Explicit knowledge.

Untuk lebih mudahnya, silakan diamati gambar sebagai berikut

Knowledge Spiral. Sumber : Romi Satria Wahono – Knowledge Management

Kita mulai dari kiri atas, Tacit ke tacit, ini dimaknai bahwa pengetahuan dari pengalaman dan skill yang sudah melekat ini dapat membentuk skill baru, sebagai contoh jika ada pertanyaan, “berapa banyak takaran garam pada masakan nasi goreng untuk 50 porsi dalam sekali masak ?”, Cheff yang sudah ahli barangkali hanya mengatakan “secukupnya”, lalu menaburkannya dengan sejumput yang hanya dia sendiri yang tahu artinya skill ini memang sudah melekat dengan dirinya.

Adanya pengetahuan tacit ini jika “ditularkan” dan dikembangakan dengan cara yang tepat, akan menghasilkan tacit baru. Kemampuan “banana kick” yang apik dari seorang atlit sepakbola professional, bisa direplikasi (walaupun pastinya tidak akan bisa identic 100%), jika dipelajari dengan seksama dan berulang-ulang. Pada tahapan ini dinamakan Socialization.

Tahap berikutnya, dari Tacit ke Explicit, ini merupakan tahapan dari pengetahuan yang melekat tadi, menjadi dokumentasi tertulis, dibuat bukunya, dibakukan menjadi uraian tertulis sehingga bisa dinikmati oleh banyak orang. Sebagai contoh, proses yang dialami oleh Nonaka tadi, dari pengalaman berinteraksi berbulan-bulan dengan chef nya, lalu dicatat dengan rapi dan dibakukan prosedur dan tahapannya. Tahapan ini dinamakan Externalization, seperti Namanya, ini mirip “mengeluarkan” apa-apa yang dimiliki pemilik pengetahuan menjadi dokumen.

Lalu pada tahapan berikutnya, dari explicit ke explicit, ini dinamakan Combination. Dari tulisan-tulisan berbagai sumber yang ada, semisal tentang resep-resep sebelumya, lalu dikombinasikan dengan resep terbaru dengan berbagai bahan yang berbeda, ini akan menjadi resep baru.

Yang terakhir, adanya resep baru tadi diujicobakan, berulang-ulang sampai dengan melekatnya menjadi skill baru yang menetap pada diri seseorang, dari explicit ke tacit. Ini dinamakan internalization.

Empat tahapan/mode ini, sejatinya akan terus berulang jika ada pengetahuan baru, baik itu berlaku untuk personal atau organisasi. Inilah yang dinamakan spiralisasi. Sehingga siklus hidup pengetahuan akan lebih berumur Panjang dan memiliki kemanfaatan lebih kepada personal maupun organisasinya.

Demikian, semoga bermanfaat kepada kita dalam mengelola pengetahuan yang kita peroleh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.