Mengapa Knowledge Management ? (Seri Knowledge Management #1)

Mengapa Knowledge Management ? (Seri Knowledge Management #1)

Knowledge is a powerful weapon, Arm yourself with it

(Richa Som)

Artikel berikut merupakan rangkaian/series dari topik Knowledge Management. Disarankan membacanya runtut dari awal agar mendapatkan gambaran utuh Why, What dan How nya. Selamat mengikuti.

Part 1 : Mengapa Knowledge Management ?
http://dedysetyo.net/2020/11/25/mengapa-knowledge-management/

Part 2 : Berawal dari Kue
http://dedysetyo.net/2020/11/27/berawal-dari-kue-seri-knowledge-management-2/

Part 3 : Penerapan praktis Knowledge Management di dunia pendidikan
http://dedysetyo.net/2021/01/06/penerapan-praktis-knowledge-management-di-dunia-pendidikan-seri-knowledge-management-3/

Record Video Webinar
Implementasi Knowledge Management dalam Dunia Pendidikan
Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=iarei_VoNtM
Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=g3k6HK2AzcY


Agar lebih memudahkan memahami kenapa kita akan menggunakan Knowledge Management, artikel ini disajikan dengan cerita pendek.

Pak D merupakan seorang laboran di laboratorium komputer di sebuah sekolah semenjak laboratorium itu berdiri dari sejak 5 tahun yang lalu. Pekerjaannya dibilang sangat rutin, mulai dari membuka lab dari sebelum jam 7 pagi, menyalakan komputer untuk digunakan di pembelajaran jam 7 nya, mematikan lagi sebelum rehat siang, sampai dengan maintenance jika ada kerusakan-kerusakan perangkat, baik yang kecil – kecil berupa perangkat yang onderdilnya mulai mengendor, ataupun harus bongkar pasang sparepart penting didalam casing komputer.

Karena rutin dan berulang nya pekerjaan itu, hampir-hampir semuanya berjalan sangat otomatis setiap harinya, buka tutup pintu, service dan maintenance dan lain sebagainya.

Pada suatu ketika, karena cuti menikah, Pak D tidak bekerja seminggu setelah hajatan di rumahnya. Lalu, apa yang terjadi ?. Ada Guru lain yang ditugaskan untuk menggantikan pekerjaan Pak D di Laboratorium, dengan harapan semua urusan rutin itu bisa dihandel dengan baik oleh penggantinya. Namun apa yang terjadi, ternyata tak sesuai harapan. Dihari pertama pengganti pengganti Pak D bekerja, sebagian komputer di laboratorium itu tak bisa menyala, butuh waktu cukup lama untuk menemukan saklar-saklar penting modifikasi Pak D. Dengan alasan keamanan listrik di lab, rupanya pak D memodifikasi beberapa arus listrik ke beberapa part di sisi-sisi Lab.

Dimasa cutinya, dengan terpaksa Pak D disibukkan dengan panggilan telepon mendadak dari koleganya itu. Alhamdulillah setelah mencoba utak atik hampir setengah hari, masalah terselesaikan dengan baik, komputer berhasil menyala. Apakah masalahnya selesai ?, ternyata tidak.

Komputer server yang berada pada Lab itu, juga tidak berhasil dinyalakan, usut punya usut, itupun setelah bolak balik telepon lagi Pak D yang kesekian kalinya, ternyata ada kata sandi via BIOS yang dihidupkan, dan aktifnya melalui keyboard yang dipijit dengan kombinasi huruf-angka walau saat komputernya masih mati. Lha siapa yang tahu.

Masih punya perasaan yang tak enak, akhirnya kolega Pak D ini berinisiatif menanyakan, “kejutan” apalagi yang dibutuhkan untuk ditangani agar Lab bisa beroperasi dan para siswa bisa belajar dengan normal. Ternyata benar, diluar dua hal sebelumnya, sekira ada 3 hal lagi yang perlu “ditangani” dengan cepat dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Akhirnya, setelah hampir seharian dilakukan penanganan, Lab berhasil diaktifkan, itupun dengan resiko tidak ada KBM sama sekali, karena berkali-kali siswa datang ke Lab namun, pembelajaran tak bisa dilakukan dengan normal.

Insight apa yang Anda dapatkan dari kisah diatas ?. wait, tunggu dulu, masih ada satu kisah lagi untuk teman-teman sekalian.

Kisah berikutnya, merupakan cerita yang berbeda, namun dilakoni oleh Pak D juga.

Sekira setelah 3 tahun dari cuti pernikahannya tadi, Pak D diberikan amanah baru sebagai Manajer Pusat Sumber Belajar, sebagai gambaran, pekerjaannya ini memiliki tugas untuk mengkoordinasikan penggunaan semua laboratorium yang ada di sekolahnya.

Salah satu goalsnya, bagaimana agar intensitas dan efektivitas penggunaan lab nya selalu naik dari tahun ke tahun. Tantangan ini tidak mudah dijawab, karena sebelum Pak D menjabat, banyak laporan yang menyatakan bahwa sarang laba-laba sudah terlalu banyak menempel di kursi, meja dan alat-alat lab, tidak hanya disatu lab, tapi menjalar hampir disemua lab.

Ilustrasi Sarang Laba-laba
Ilustrasi Sarang Laba-laba

Tanda-tanda ini, menunjukkan isyarat sederhana bahwa lab-lab itu terlalu lama tidak digunakan oleh para guru dan siswa dalam pembelajarannya.

Lalu apa yang dilakukan Pak D ?

Pak D mencari tahu, berapa intensitas penggunaan semua lab itu. Caranya ?, melalui menghitung prosentase dalam sepekan, lalu terakumulasi per bulan dan semester. Pada sudut pandang kompetensi dasar yang diajarkan guru, berapa persen yang berisi materi-materi dengan pendekatan dominan praktikum. Pendekatan dari sisi guru, bagaimana dan seberapa jauh wawasan dan keterampilan para guru dalam menggunakan alat-alat lab.

3 Soal awalan tadi dibuat assessment nya, lalu dengan pendekatan statistik diukur secara berkala, dengan tentunya perlahan-lahan sambal melengkapi semua peralatan di lab.

Setelah lima bulan menjabat, suasana lab tidak lagi menjadi hening seperti sebelumnya, namun menjadi riuh dengan eksperimen para siswa dalam berbagai percobaan sains, skill keterampilan para siswa makin beragam, yang pada akhirnya pembelajaran makin bermutu dan menyenangkan.

Invest in improvement of statistics – SG urges Member States - CARICOM

Bagaimana dengan insight cerita pertama dan kedua ini ?

Ya benar, ini yang sedang kita bicarakan. Kalau dicerita pertama, jika pengetahuan ini dimiliki oleh hanya satu orang “key person” saja, maka jika orang itu pergi, pengetahuannya akan ikut pergi. Lalu cerita selanjutnya akan menyedihkan, dimana semua fungsi-fungsi penting dalam system akan hilang dan mubadzir. Peralatan “kunci” pada sebuah aktivitas, akan tidak bisa digunakan (useless).

Hal ini kalo kita sebagai Pak D, maka rasa2nya tidak jadi soal terlalu Panjang. Namun kalau kita mengelola lembaga tadi, kita akan kerepotan dibuatnya. Baik dalam jangka waktu dekat ataupun masa yang lebih panjang.

Kalau di cerita kedua, pengetahuan ternyata applicable, setelah diolah dan dikembangkan sedemikian rupa, dapat menjadi senjata untuk memutuskan mata rantai masalah, tidak hanya itu bermanfaat juga untuk kemajuan pembelajaran dan efektifitas pengajaran.

SDM pada Lembaga datang dan pergi, ada yang resign, pensiun, meninggal, rotasi, cuti dan lain sebagainya. Namun Lembaga yang kita Kelola, akan berumur lebih Panjang dari pada SDM-SDM itu.

Dua latar belakang ini sering didapati pada Lembaga-lembaga di sekitar kita, tak terkecuali pada Lembaga Pendidikan Anda. Berbagai hal yang kita dapati sehari-hari, akumulatif hingga bertahun-tahun sampai dengan saat ini, akan menjadi “kekayaan” yang luar biasa, tidak hanya kepada individu nya, tetapi kepada masa depan lembaganya.

Orang boleh datang dan pergi, namun pengetahuan yang memiliki value tinggi ini, akan berimpact besar pada kemajuan lembaganya. Kita akan bahas berikutnya.

Lalu bagaimana Knowledge Management bisa berperan lebih jauh disana ?. Ikuti terus series tulisan ini ya.

Semoga bermanfaat.

 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: