PART 1 – Menanamkan Self Regulated LEarner untuk siswa saat belajar dari rumah

PART 1 – Menanamkan Self Regulated LEarner untuk siswa saat belajar dari rumah

Siswa Mengaku Bingung dengan Penerapan Belajar Jarak Jauh
Belajar dari rumah sebagai aktivitas utama siswa ketika masa pandemi

Masa belajar dari rumah yang telah berlangsung dari bulan Maret 2020 yang lalu membuat banyak pihak harus menerima dengan sukarela ataupun terpaksa. Catatan dari UNESCO lebih dari 91 % siswa diseluruh dunia mau tak mau harus belajar dari rumah, sehingga pembelajaran berlangsung melalui daring. Kondisi ini tidak ada yang bisa memprediksi akan berlangsung sampai kapan, termasuk juga di Indonesia.

“Emergency Exit” ini menurut mas menteri Nadiem, adalah pilihan pahit yang harus dipilih dalam rangka untuk menjaga kesehatan dan keselamatan para siswa, guru dan warga sekolah.

Dalam prakteknya, tidak ada yang mudah dalam menjalankan kebijakan belajar dari rumah ini, mulai dari kesenjangan jaringan internet didaerah-daerah “blank spot” di Indonesia, hingga kepemilikan gawai yang belum merata diantara orang tua dan siswa.

Interaksi yang minim (hanya 20,1 %) antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran memberikan kontribusi “saham” terjadinya miskom pembelajaran, walhasil pembelajaran yang harusnya berfungsi membelajarkan, siswa menilai perubahan mode menjadi pemberian tugas yang bertubi-tubi, sehingga kondisi stress saat belajar di rumah tidak hanya dialami oleh siswa saja, namun orang tua juga ketiban tugas-tugas ini.

Infografis | Masalah Belajar Jarak Jauh

Selain hal-hal yang terurai pada infografis diatas, ada masalah mendesak tentang bagaimana siswa (dari berbagai level sekolah) dapat mengoptimalkan waktunya selama berada di rumah. Hal ini jugalah yang menjadi keluhan banyaknya orang tua tentang efektivitas waktu anak-anaknya belajar dari rumah, yang notabene lebih banyak waktu “nge-game” via gadget nya, dari pada belajarnya. Tak jarang, kondisi ini mengakibatkan adanya kondisi saling menyalahkan antara pihak orang tua dengan pihak sekolah.

Kemandirian Belajar

Sekilas, dengan banyaknya waktu saat di rumah, Siswa diharapkan akan dapat belajar dan mengeksplorasi banyak hal.

Banyak nya opsi kegiatan pembelajaran lainnya yang bisa dipilih, mulai dari memasak, berkebun, membantu orang tua dalam melakukan pekerjaan rumah juga menjadi kesempatan terbaik untuk mengambil “jeda” diantara rutinitas pengerjaan tugas-tugas sekolah.

14 Hari di Rumah Harus Tetap Asik dan Bermanfaat | Sahabat Keluarga

Namun melimpahnya waktu yang tersedia ketika di rumah dan banyaknya opsi untuk melakukan banyak hal, apakah menjamin terjadinya belajar efektif ?.

Memposisikan saat belajar di sekolah dengan di rumah adalah sama persis, sepertinya kurang bijak. Saat di sekolah dimana keseluruhan jadwalnya sudah diatur sedemikian rupa, guru masuk ke kelas-kelas dengan topik dan materi yang sudah ditentukan, terjadilah pembelajaran. Namun saat di rumah, memposisikan siswa seolah2 berada di sekolah, kondisi ini menjadi banyak tantangannya (sekaligus masalahnya). Namun ada hal dimana mentrigger keterlibatan siswa dalam proses pembelajarannya sendiri, akan dapat menopang pembelajaran menjadi lebih menantang sekaligus asyik dari sisi siswa.

Pada pendekatan Student Centered Learning (SCL) dimana siswa berperilaku sebagai pusat belajar, sesungguhnya siswalah yang memiliki otonomi sepenuhnya, menentukan waktu nya, materinya, sekaligus caranya.

SCL memberikan kesempatan pada siswa untuk mengorganisasi dirinya, sehingga kemandirian belajar ini akan tumbuh secara internal yang pada akhirnya, siswa memilih tantangannya sendiri, lambat laun keinginan belajar itu datang karena dirinya ingin belajar, bukan karena paksaan orang tua atau guru-gurunya.

K. Gallie, D. Joubert. Faculty of Arts, Health and Sciences,
Central Queensland University. Oktober 2004

Kalau siswa sudah semakin mandiri dengan pembelajarannya, lalu dimanakah peran guru ?. ketika pada Teacher centred (pembelajaran berpusat pada guru) Guru berfungsi untuk mengirim (transmitter) struktur pengetahuan, maka pada tahap SCL, guru memfasilitasi pemahaman dan pembangunan kapasitas intelektual, seperti disampaikan pada K. Gallie dkk (K. Gallie, D. Joubert. Faculty of Arts, Health and Sciences, Central Queensland University. Oktober 2004).

Self Regulated Learner (SRL)

Pintrich (2000) dan Zimmerman (2002) mendefinisikan bahwa SRL adalah proses aktif dan konstruktif dimana pembelajar menentukan target belajarnya sendiri, lalu mencoba untuk memonitor perkembangannya, membuat regulasi (waktu, penghargaan dan konsekuensi) dan mengontrol motivasi, perilaku, terbimbing dandibatasi oleh goals/target dan mengkondisikan lingkungan belajarnya.

Secara singkat ada 4 faktor yakni sebagai berikut

  1. Perencanaan dan setting goal
  2. Monitoring/evaluasi diri
  3. Kontrol (waktu, motivasi, lingkungan)
  4. Refleksi
Fig. 1

Pembelajar-pembelajar unggul sejatinya mereka lahir bukan karena semua talent (bawaan) dari lahir, namun berkat dari proses dan desain yang baik terkait dengan proses belajarnya.

Tulisan berikutnya akan membahas tentang komponen penting, strategi dan penerapan Self Regulated Learner, tetap selalu simak ya.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.