Merawat Empati Menjaga Solidaritas

Artikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Disarankan untuk membacanya terlebih dahulu agar bisa nyambung dengan materi tulisan. Terima kasih.

Artikel ini dengan judul yang sama, masuk Republika Online dengan link sbb https://republika.co.id/berita/qcfel6282/merawat-empati-menjaga-solidaritas

——————————

Alcoa Inc, salah satu perusahaan pengolahan metal terbesar di Amerika dan sudah memiliki cabang di 10 negara, seperti perusahaan lainnya, walaupun sudah berusia seabad lebih berdiri dengan berbagai macam pencapaian yang prestisius, mengalami fase “up and down” yang bervariasi. Tahun 1987 nilai saham mereka jatuh, sebagian investor panik, sebagian lainnya mengusulkan adanya perubahan manajemen dan kepemimpinan baru. Kisah ini seperti disampaikan dalam “The Power of Habit” karya Charles Duhigg.

Akhirnya terjawab pada bulan Oktober 1987 itu, Paul O’Neill menjabat sebagai pimpinan mereka yang baru. Sebagai bagian dari perkenalan kepada investor dan analis saham yang hadir, mereka berharap di pidato perdana ini mereka akan mendengar sampaian visi dan misi yang meyakinkan mereka, strategi canggih yang bisa membawa Alcoa keluar dari “lubang jarum” itu serta rangkaian program hebat untuk bisa mengembalikan Alcoa pada puncak kejayaan. Namun, apa yang dibicarakan O’Neill di podium itu ?,

“Saya ingin membicarakan kepada Anda tentang keamanan dan keselamatan para pekerja. Setiap tahun banyak para pekerja Alcoa yang cidera parah. Setiap tahun banyak sekali pegawai Alcoa yang terluka karena bekerja. Mengingat karena para pekerja bekerja dekat peralatan bersuhu 1500 derajat celcius yang berpotensi merenggut lengan mereka. Saya berniat menjadikan Alcoa sebagai perusahaan paling aman di Amerika. Saya berniat mengejar nol cidera.”

Para hadirin bingung dan saling bertatap diantara mereka. Sepertinya harapan tentang pidato menggelegar tentang kehebatan program baru yang mereka idam-idamkan nampaknya baru saja pupus.

Setelah acara sambutan tersebut, seperti diaba-aba, banyak diantara investor yang mencari telepon umum (dikala itu belum ada gadget) untuk berdiskusi dengan klien mereka masing-masing seraya merekomendasikan agar menjual sahamnya, karena imbas tidak percayanya terhadap pimpinan baru ini. Sampai disini kita juga belajar bahwa kesan yang pertama kali, ikut mempengaruhi langkah-langkah berikutnya.

Bulan berganti bulan, setahun setelah pidato itu. Seolah berbalik 180 derajat dari anggapan pidato perdana tadi, Alcoa malah mencapai rekor perolehan laba tertinggi. Ketika O’Neil pensiun pada tahun 2000, pendapatan tahunan laba bersih lima kali lebih besar dibandingkan sewaktu Ia tiba. Tidak hanya pencapaian itu, kapitalisasi pasarnya telah naik 27 milliar dollar. Semua peningkatan itu seiring dengan peningkatan status Alcoa sebagai perusahaan paling aman di dunia. Bertahun-tahun telah berjalan, tidak ada laporan pegawai cidera karena melakukan pekerjaannya. O’Neill sendiri setelah pensiun dari Alcoa diminta oleh Presiden George W Bush untuk menjadi menteri keuangan.

Menarik mengamati kisah Alcoa ini dilihat dari sudut pandang “kebiasaan”. Selain dalam masa mendatang kita akan masuk pada fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau New Normal. Apa sesungguhnya yang dilakukan Paul O’Neill dkk merubah perusahaan yang hampir decline dengan raport keselamatan yang buruk, menjadi perusahaan yang sangat sehat, pertumbuhan laba yang mengagumkan, bahkan menjadi yang paling aman diseluruh bumi ?

Kebiasaan kunci

Pada dasarnya, manusia ataupun organisasi, adalah kumpulan kebiasaan yang tersusun setiap hari nya. Apa yang membentuk kita hari ini, adalah refleksi kebiasaan-kebiasaan yang sudah kita lakukan berkali-kali, rutin, refleks dan spontan dari 24 jam kita sehari-hari selama ini. Namun diantara sekian banyak kebiasaan kita selama ini, ada yang dinamakan “kebiasaan kunci”. Kebiasaan kunci ini akan memantik kebiasaan-kebiasaan lainnya sehingga bekerja sebagaimana harapan Anda. Semisal, jika Anda sebagai pegawai yang harus sudah siap berangkat kerja pada pukul 6 pagi tepat, sudah di KRL pada pukul 6.15, dan wajib sudah berada di kantor pukul 7 pagi. Maka kebiasaan kunci Anda adalah bangun selambatnya sebelum subuh, dan bisa jadi kebiasaan kunci Anda dimulai dari sejak kapan dimulainya tidur dimalam hari. Jika kebiasaan kunci ini dirubah, maka berubahlah kebiasaan-kebiasaan yang lain.

Begitu juga organisasi ataupun perusahaan sebesar Alcoa, sebelum O’Neill menerima tawaran memimpin Alcoa, dilandasi atas analisisnya bahwa keselamatan pekerja menjadi kata kunci yang wajib menjadi regulasi utama dalam beroperasinya Alcoa diseluruh divisi.

O’Neill percaya bahwa sejumlah kebiasaan memiliki kekuatan untuk memulai reaksi berantai, mengubah kebiasaan-kebiasaan lain seraya menyebar ke seluruh organisasi.

Ia mengidentifikasi satu tanda sederhana : cidera pegawai. Setiap kali ada yang cidera, pimpinan divisi harus melaporkannya kepada O’Neill dalam 24 jam dan mempresentasikan rencana untuk memastikan cidera tidak terjadi lagi dimasa selanjutnya. Dan ganjarannya sebagai reward : orang yang dipromosikan hanyalah yang mengikuti sistem tersebut.

Akibat kebijakan O’Neill ini lalu menggerakkan pimpinan divisi yang lain. Untuk mengontak O’Neill dalam 24 jam setelah cidera, mereka harus mendengar soal kecelakaan itu dari wakil divisinya segera setelah peristiwa tersebut terjadi. Jadi para wakil harus terus menerus berkomunikasi dengan manajer lapangan, dan para manajer lapangan membutuhkan para pekerja untuk menyampaikan peringatan begitu mereka melihat ada masalah dan memiliki daftar saran didekat mereka, sehingga bila wakil divisi meminta rencana, sudah ada satu kotak gagasan yang dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Untuk membuat itu terjadi, setiap unit harus membangun komunikasi baru yang mempermudah para pekerja berkedudukan paling rendah untuk menyampaikan gagasan kepada eksekutif berkedudukan lebih tinggi diatasnya secepat mungkin. Hampir semua rantai birokrasi yang panjang itu akhirnya dipangkas dan disederhanakan sehingga komunikasi berjalan dengan lancar dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Singkat cerita, kebijakan tentang keamanan dan keselamatan pegawai, ternyata berbimbas pada hal lain dan berdampak positif terhadap perusahaan, seperti supervisi yang lebih intens, jalur komunikasi yang dinamis, pemangkasan birokrasi dan tentu saja pekerja lebih semangat bekerja karena merasa diperhatikan lebih terkait kesehatannya.

Seperti diparagraf sebelumnya, inilah yang dimaksud kebiasaan kunci.

Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)

Adanya masa pandemi yang membuat kita berdiam diri di rumah tersebab PSBB semenjak beberapa bulan lalu, mau tidak mau juga berimbas kepada cara kita melihat lingkungan sekitar yang telah lama mungkin tidak kita tengok. Tempat ibadah yang telah lama kosong, sekolahan yang sepi dari para siswa dan ruang-ruang publik lainnya yang sudah lama sekali tidak kita sapa, rapat-rapat yang berganti menjadi pertemuan maya. Pertanyaan berikutnya apa kebiasaan kunci yang perlu kita rancang sehingga kita siap dengan kondisi pasca pandemi yang cepat atau lambat akan kita bertemu ?

  1. Berpikir positif dan memiliki rasa optimis

Laporan penelitian dari University of Pittsburgh School of Medicine menemukan bahwa wanita menopause yang memiliki sifat optimis mengalami penurunan jangka kematian dan memiliki hanya sedikit risiko terkena diabetes atau hipertensi (tekanan darah tinggi), yang sering kali dialami oleh teman-teman pesimis mereka.

Para peneliti menganalisis data dari 100.000 orang wanita dalam studi yang sedang berlangsung, dan hasilnya adalah wanita yang optimis memiliki risiko sebanyak 30% lebih rendah untuk meninggal karena penyakit jantung, dibandingkan dengan yang pesimis. Para wanita yang pesimis juga memiliki 23% kemungkinan untuk meninggal akibat kanker.

Artinya rasa optimis akan membantu kita untuk lebih survive dalam bertahan menghadapi masa pandemi ini. Persoalan psikologis yang barangkali dirasakan oleh sebagian kita karena terlalu lama di rumah juga mudah-mudahan bisa perlahan dikikis dengan rasa optimis dan tetap positif ini.

2. Merawat Empati

Slavoj Zizek, filsuf dari Slovenia ini melihat bahwa solidaritas di era pandemi berpeluang menciptakan suatu kemanusiaan jenis baru, yang akan membuat kita terhindar dari jebakan penghancuran diri dan sikap barbarisme. Pandemi ini juga mengajarkan kita bahwa aksi bantu membantu kepada pejuang lini terdepan seperti tenaga medis dan lainnya ini juga lebih mudah dilakukan. Varian ikhtiar bantuan kepada masyarakat terdampak juga beraneka macam dimasa seperti sekarang, mulai dari konser dari rumah, membelikan makanan kepada driver ojek online sampai dengan bantuan APD rumahan yang diinisiasi oleh berbagai unit usaha.

Upaya-upaya inilah yang harapannya makin bisa dirasakan dimasa depan, walaupun nanti kita sudah melewati masa pandemi. Dengan segala duka yang kita rasakan, pelajaran berbagi dimasa pandemi ini tetap bisa dirasakan sebagai hikmah.

Akhirnya kita berharap adanya warisan kebaikan terhadap sesama yang lebih panjang, upaya solidaritas yang tak lekang dimakan waktu.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.