Kekuatan Kebiasaan Man running

Kekuatan Kebiasaan

Namanya Lisa Allen, seperti dicantumkan dalam buku The Power of Habit yang ditulis oleh Charles Duhigg ini, saat diwawancara pada umur 34 tahun itu, terlihat sangat bugar, cerdas, memiliki banyak karya yang menginspirasi dan mempunyai sederet gelar bergengsi. Namun jika mundur sejenak saat dia menginjak umur 22 tahun, maka tidak seperti saat 34, dimasa lalunya, Lisa merupakan tipe orang dengan beberapa masalah pribadi dan keluarganya. Obesitas, kecanduan obat, bermalas-malasan sepanjang waktu, lilitan utang dan perceraian, merupakan deretan kisah menyedihkan yang dihadapi oleh pemudi dengan umur yang masih demikian belia. Namun seperti yang Anda tahu, 12 tahun sesudahnya semuanya berubah sangat drastis.

Kisah Lisa ini menginspirasi para ilmuwan untuk meneliti sejauh mana dan faktor apa yang membuat orang bisa berubah. Seperti dilanjutkan dalam uraian wawancara berikutnya, Lisa berhasil mengurai kata kunci yang bernama “kebiasaan” sehingga grafik habit nya menjadi sangat positif dan lebih baik dari waktu ke waktu. Hal pertama yang dirubah olehnya adalah kesehatan fisik, mulai dari memiliki program olah raga yang setiap pagi dijalani secara konsisten, memilih makanan dan minuman sehat yang hanya dibutuhkan oleh tubuh. Yang perlahan tapi pasti, ketika fisiknya sudah menjadi semakin fit dan sehat, maka satu persatu kebiasaanya hariannya ikut dirubah. Menjadi rajin membaca dan menulis, melanjutkan studinya, lebih relijius, selaras dengan cemerlangnya karir dan akhirnya 180 derajat hidupnya berubah.

Manusia, seperti kita dan yang lainnya, pada dasarnya adalah kumpulan kebiasaan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Setiap orang memiliki jatah yang sama setiap harinya. Namun yang membedakan diantara mereka adalah “kebiasaan”. Sebagai contoh seperti pesepakbola David Beckham yang rela meluangkan dan menyisihkan waktunya 4 hingga 5 jam perhari dimasa mudanya untuk melatih tendangan bebasnya secara rutin dan sungguh-sungguh, maka dimasa berikutnya kita kenal Beckham sebagai seorang pesepak bola yang ahli dalam tendangan bebas. Legenda basket NBA, Michael Jordan, seorang yang dimasa lalunya pernah dikeluarkan dari klub basket sekolahnya dan bahkan pernah tidak dipanggil oleh dua klub NBA diawal karirnya, merubah dan mengasah diri sedemikian rupa sehingga pada akhirnya menjadi seorang jenius dalam dunia basket.

Seperti Lisa dan beberapa nama diatas, sebenarnya seberapa lama manusia membutuhkan waktu untuk merubah kebiasaannya ?

Salah satu asumsi yang paling terkenal berasal dari buku Psycho Cybernetics oleh Maxwell Maltz. Buku yang dipublikasikan pada 1960 ini menyebutkan bahwa pasien-pasien Maltz membutuhkan waktu 21 hari untuk terbiasa dengan wajah baru mereka setelah menjalani operasi plastik.

Namun, studi yang dilaksanakan pada tahun 2009 terhadap 96 orang menemukan bahwa membentuk kebiasaan baru tidak pasti membutuhkan waktu 21 hari. Para peneliti justru menemukan bahwa waktunya bervariasi, antara 18 hingga 254 hari, tergantung pada masing-masing individu, walaupun rata-rata memerlukan waktu 66 hari. Hal yang sama juga bisa dikatakan mengenai upaya untuk menghentikan sebuah kebiasaan. Kepribadian, motivasi, lingkungan dan kondisi, serta jenis kebiasaan yang ingin diubah turut berpengaruh pada kecepatan seseorang untuk mengubah sebuah kebiasaan.

Kebiasaan yang membentuk manusia, atau manusia yang membentuk kebiasaan ?

Pertanyaan ini, walaupun tidak sama persis, sama dengan pertanyaan “mana lebih dulu antara telur atau ayam ?”. Semoga uraian berikutnya bisa membantu menjawab.

Prof Rhenald Kasali dalam bukunya “Self Driving” menyatakan bahwa sesungguhnya manusia merupakan “Driver” dalam kehidupannya sendiri. Setelah orang tua melahirkan dan membesarkan kita, dimana mereka menganggap bahwa kita sudah punya kesiapan yang cukup untuk memutuskan sesuatu tentang hidup kita, maka “mandat” dari orang tua berpindah kepada pundak anaknya yang telah dewasa.

Sehingga sebagai “driver” yang baik dalam kehidupan kita masing-masing, maka kita wajib punya “peta” agar terarah, yakni berupa cita-cita hidup kita. “Kendaraan” yang nyaman dan mumpuni, yakni berupa fisik, jiwa, akal sehat yang membantu kita menuju cita-cita. Setelah itu kendali terbaik adalah kita sendiri dalam tubuh kita masing-masing. Merumuskan kebiasaan-kebiasaan dan secara rutin menjalankannya, maka kitalah yang memiliki saham terbesar tentang diri kita kelak.

Kemudian, diri kita dimasa depan, sejatinya adalah kumpulan-kumpulan kebiasaan kita dimasa lalu. Apa yang kita lihat saat ini dalam diri kita, adalah refleksi apa yang terjadi dan kita lakukan dimasa sebelumnya. Sehingga secara sadar atau tidak, cara kita melihat diri kita hari ini, akan terrefleksi dimasa depan kita nanti.

Bagaimana dengan Anda ?, yuk bersama-sama jadi lebih baik dan makin positif.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.