strategic-mindset-768x391

Mindset Tumbuh atau Tetap. Anda yang mana ?

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh buku Carol Dweck, Ph.D (judul aslinya “Mindset”) seorang profesor psikologi dari Standford University yang sangat berpengalaman dalam ranah ini, dengan hasil penelitiannya yang mencapai 20 tahun.  Kalo boleh jujur, baru 100an halaman yang sudah saya selesaikan..he..he.. Tapi agar bisa “mengikat” lebih kuat, saya putuskan untuk menulis resume buku atau refleksi yang saya dapatkan dalam beberapa bagian. Seperti kata Sayyidina Ali bin Abi Tholib bahwa ilmu itu ibarat kuda liar, ikatlah dengan pena dengan cara menuliskannya.

Seperti kita ketahui bahwa mindset ini dibentuk oleh pengalaman, pengetahuan dan reflek berfikir kita dalam menghadapi masalah. Sehingga mindset inilah yang mengontrol kita karena tindakan kita sejatinya berasal dari mindset ini.

Dalam suatu penelitian, Dweck menguji satu kelompok siswa dengan tantangan menyelesaikan puzzle setahap demi setahap, dari yang paling mudah menuju ke yang paling sukar. Pada level pertama paling mudah, waktu penyelesaian sangat cepat, kelompok siswa yang diuji merasakan tantangan ini sangat mudah dilewati, sehingga semua peserta merasa senang, apalagi ketika diberikan pujian yang menyenangkan seperti “Kamu pintar”, “Kamu hebat” dan sebagainya. Masalah kemudian muncul ketika tim penguji memberikan puzzle level kesulitan berikutnya, dalam durasi waktu yang tak terlalu lama, sekelompok siswa menyatakan menyerah karena merasa tidak bisa menyelesaikan puzzle tersebut, sehingga meninggalkan tantangan tersebut. Sisanya yang lain, merasa tertantang, sehingga makin tekun mencari jalan keluar darimana penyelesaikan kasus yang diberikan. Walau dibutuhkan waktu tertentu untuk menyelesaikan puzzle ini, sekelompok siswa ini akhirnya berhasil menyelesaikan dengan cara mereka. Kemudian ketika ditawarkan apakah akan masuk pada puzzle level kesulitan berikutnya, mereka menyatakan siap bahkan jika harus membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.

Singkat cerita, pada akhirnya Dweck memberikan label pengelompokkan untuk dua macam gambaran ini, yakni untuk penyuka tantangan dengan Mindset tumbuh (growth mindset) dan kelompok “give up” dengan nama Mindset tetap (fixed mindset). Apa yang membedakan diantara keduanya ?, seperti pada kejadian penelitian diatas, bahwa growth mindset adalah potret mental, dimana para pemiliknya merupakan gambaran orang-orang penyuka tantangan, mencintai belajar, bahkan walau dengan ancaman kegagalan dan keletihan (waktu dengan durasi panjang), tak menciutkan keinginan untuk mencoba dan terus mencoba. Berbeda, dengan model growth, tipe fixed mindset merasa bahwa menyelesaikan tantangan dengan level yang lebih sukar akan memberikan kemungkinan labelisasi dari yang sebelumnya “pintar” atau “hebat”, menjadi tidak mendapatkannya lagi. Orang dengan tipe ini, biasanya hanya menyelesaikan masalah rata-rata, atau yang sering dijumpainya saja, enggan menghadapi tantangan baru, memiliki ketakutan jika tak mendapatkan pujian serupa dikemudian hari jika mendapatkan kegagalan.

Buku tentang mindset ini cukup lengkap memberikan gagasan sekaligus tantangan bagi pembacanya untuk merubah dirinya menjadi pembelajar sejati, yang tak mudah menyerah dan sedia untuk mencoba kesulitan-kesulitan baru. Karen sejatinya manusia diciptakan untuk menyelesaikan masalah yang ada disekitarnya. Tak terbayangkan jika saat dulu untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan jalan kaki bisa berhari-hari, maka saat ini bisa dilakukan lebih cepat dengan motor atau mobil. Jika untuk pergi naik haji saja, jaman dahulu orang Indonesia naik kapal yang membutuhkan waktu sekali jalan sampai dengan 6 bulan (pulang pergi butuh setahun), maka dengan adanya pesawat terbang urusan ini menjadi ringkat hanya 24 jam saja. Profil para penemu dan peletak tinta emas sejarah dimasa lalu merupakan orang-orang dengan mental growth mindset, yang senantiasa mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

mindset

Pada tulisan berikutnya akan diulas, tentang profil manusia growth mindset yang  akan memberikan inspirasi pada sejarah kemanusiaan seperti Michael Jordan dan Thomas Alva Edison dan lain-lain.

Semoga bermanfat.

Salam hangat,

Dedy Setyo A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab soal ini : * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.