disruption-innovation-light-bulb

Refleksi Kemerdekaan dan Tantangan Pendidikan Masa Depan

Rasa nikmat dan karunia yang begitu besar sebagai manusia sejatinya adalah nikmat kemerdekaan. Adanya kemerdekaan ini, potensi manusia sebagai sosok yang diberkan tugas memimpin muka bumi sebagai fitrahnya, menemukan momentumnya. Untuk kembali berbuat yang terbaik, berperan dalam tugas-tugas kehidupannya.

Adapun sebagai hamba Allah, nikmat kemerdekaan ini kita rasakan sebagai membebaskan diri dari penghambaan makhluk, hanya menyeru bahwa Allah-lah Sang Pemberi kebebasan sejati, yang menghantarkan kita pada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Merayakan 73 tahun Indonesia telah merdeka, dengan cara memeriksa kembali apa-apa yang telah kita lakukan sebagai bangsa selama ini, dan juga merancang strategi untuk menaklukan “ombak” kehidupan dimasa depan.

Kita patut bersyukur bahwa peran-peran ulama, kyai, santri, anak-anak muda dan masyarakat secara luas, pada fase sejarah bangsa ini terus menerus memiliki kiprah yang tidak kecil dalam kancah perjuangan nasional, bisa kita sebutkan pada tahun 1908 adanya kebangkitan nasional yang diprakarsai oleh Soetomo merupakan tokoh muda, 1928 pada gelaran Soempah Pemoeda apalagi, ini event besar yang diinisiasi oleh pemuda Indonesia,  1945, adanya kemerdekaan Indonesia, pada hari sebelum kemerdekaan perbedaan gagasan antara kaum muda dan tua lah yang menyebabkan peristiwa Rengasdengklok, dan dilanjutkan dengan Proklamasi esok hari nya, disitu tercatat ada nama Wikana, Soekarni dll. Bahkan beberapa tahun sebelum 1945 kita catat ada pahlawan yang sekarang diabadikan menjadi nama jalan dibilangan Depok dan sekitarnya ada Margonda, juga merupakan pahlawan nasional yang bisa jadi sebagian dari kita belum tahu. Ada juga Daan Mogot, yang merupakan tokoh pahlawan yang membidani kemerdekaan RI. Tak terhitung hutang kita juga pada Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, yang telah mengeluarkan resolusi jihad nya untuk memompa semangat perjuangan para ulama, kaum santri, dan masyarakat secara luas. 1974 peristiwa malari, sampai dengan 1998 adanya Reformasi dari orde baru ke fase berikutnya juga merupakan kiprah pemuda.

Diluar tahun-tahun diatas, barangkali ada catatan sejarah lain yang melimpah ruah dan lagi-lagi membuktikan bahwa pemuda lah, menjadi figur sentral dalam perubahan bangsa ini.

Selanjutnya, apa saja yang menjadi tantangan para pemuda ini kedepan ?.

Bahwa gelombang perubahan didepan sana sudah mulai terlihat dan dirasakan. Saat ini dimana kita sudah masuk pada fase Revolusi Industri 4.0, dan tahun Disruption, mau tidak mau, sukarela atau terpaksa, membuat kita wajib untuk belajar terus-menerus berinovasi dengan kemampuan terbaik yang kita punya. Fase inilah yang membuat era digitalisasi menjadi titik perhatian baru, menggeser kebiasaan masyarakat, ditambah dengan menghempaskan mereka-mereka yang tidak mau berubah dan mengadaptasi perubahan. Kalau kita kenal dengan Kodak  sebagai raja produsen alat potret pada masanya, saat ini hanyalah menjadi kenangan saja setelah setiap smart phone memiliki fungsi foto, bahkan masih ditambah bisa diedit dengan level terbaik. Jaman dulu, kita masih kenal Nokia dengan mottonya “Connecting People” yang begitu mendominasi pasar HP, setelah masa android tiba, namanya meredup (untuk tidak dibilang menghilang), dan diganti dengan “penguasa” alat komunikasi lainnya. Era digital juga merambah kepada industri transportasi dan layanan jasa manusia era ini, adanya ojeg daring, dengan berbagai layanannya menjamur sekali sehingga membuat ojeg konvensional seperti kebakaran jenggot dengan isu penolakan dibeberapa tempat. Bagaimanapun, ketika era digitalisasi ini masuk seperti gelombang besar, maka siapapun yang enggan berubah, maka akan tergusur atau mati. Seperti kisah kodak nokia diatas.

Bagaimana dengan dunia pendidikan ?. Tantangan yang dihadapi para siswa saat ini juga tidak mudah. Skill abad 21 yang diperlukan untuk dikuasai siswa menjadi mutlak untuk dikuasai, beberapa akan diuraikan lewat catatan pendek ini

Kolaborasi

Masa yang akan datang, dimana persaingan sudah tidak lagi antar daerah, namun sudah antar negara (bahkan sudah mulai terasa saat ini), mewajibkan anak-anak kita memiliki skill flexibility menghadapi keadaan, bukannya berfikir strict, kemampuan flexibility ini menunjang agar anak-anak kita lebih lentur dalam menghadapi keadaan. Siap memiliki plan B, C dan seterusnya untuk menghadapi persoalan. Ditambah lagi dengan kemampuan bahasa asing yang memadai, sehingga adanya komunikasi yang baik dengan rekannya yang lain (bahkan antar negara), akan membuat kerja sama yang apik, pertukaran ilmu dan budaya, menjadi lebih arif dalam perbedaan, dan tidak kaget dengan heterogenitas.

Intellectual Curiosity

Istilah ini saya dapatkan dari buku Creating Innovators tulisan Tomy Wagner, didalam salah satu halamannya, beliau mengutip saat sesi wawancara dengan pencari bakat Google yang bernama Judy gilbert. “Apa kompetensi yang anda syaratkan untuk menerima pegawai Google ?” tanya Tomy. Pertanyaan ini tentu saja kita mahfum, bahwa saat meraksasanya google saat ini, dimana didominasi oleh orang-orang terbaik didalamnya, serta begitu dirindukannya oleh bakat-bakat terbaik untuk bekerja disana, menjadi kunci penting untuk menerima SDM  didalamnya. Lalu apa jawab om Judy ?, “tentu saja kami merekrut orang pintar disini, yang pintar coding dan memiliki skill diatas rata-rata, kemudian ada skill lagi yang kami syaratkan, yakni Intellectual Curiosity, kemampuan untuk bisa “mengendus masalah”, mencari tahu ada dimana sekaligus menyelesaikannya. Alih-alih untuk menyalahkan orang lain terhadap masalah itu, atau menunggu orang lain untuk menyelesaikannya, orang dengan bakat ini akan menyelesaikannya dengan cara terbaik yang dia mampu. Singkat kata, kemampuan ini, tentu saja memiliki syarat orang yang mau belajar terus, atau pembelajar sejati. bagaimana tidak, ketika masalah baru muncul, tentu saja dia harus bisa mempelajari teknik penyelesaian terbaru.

Semoga catatan singkat ini memiliki andil dalam perubahan ke arah yang baik, untuk anak-anak bangsa di masa depan yang akan mengisi bumi ini dengan sepenuh kebaikan.

Smoga bermanfaat !

Salam hangat,

Dedy Setyo

*Tulisan ini merupakan bahan yang sama saat penulis menjadi pembina upacara 17an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab soal ini : * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.