elearning convert

Strategi Perubahan Pembelajaran dari Kelas Tradisional Menuju e-learning

Beberapa provider e-learning menganggap bahwa jika ingin melakukan konversi dari pembelajaran tradisional kedalam pembelajaran e-learning, maka hanya tinggal memindahkan semua konten/media kedalam Learning Management System (LMS) maka pekerjaan itu sudah selesai.

Namun sebenarnya langkah ini belumlah selesai. Memindahkan semua file presentasi/bahan-bahan pembelajaran dari yang tadinya tercetak hanya menjadi via file-file saja barulah satu tahap. Jika ingin tuntas dan menyeluruh, menurut Christopher Pappas ( seorang profesional e-learning penemu jejaring The eLearning Industry) harusnya dilengkapi dengan 5 langkah berikut. Apa sajakah itu ?, mari simak kelanjutan tulisan ini. Artikel ini disarikan dari http://elearningindustry.com/.

1. Mengidentifikasi format kelas e-learning.

Langkah ini untuk memilah dan mengklasifikasi kelas pembelajaran dilakukan dengan synchronous atau asynchronous.

Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/
Gambar diambil dari http://www.cognitivedesignsolutions.com/

a. Synchronous

Pertemuan langsung/live secara waktu, bersamaan antara tutor dengan peserta didik. Pada mode ini beberapa media yang bisa digunakan antara lain : live conference, chat, broadcasting dan private message.

Dalam platform ini, tutor dan peserta didik menyepakati waktu yang akan digunakan, sehingga bisa secara real time bertemu dalam perantara jaringan internet. Dalam pembelajaran tatap muka jarak jauh ini, tutor juga memiliki kewenangan untuk memilih peserta. Untuk pelaksanaan real time conference ini beberapa provider sudah menyediakan layanannya baik secara publik atau private, secara berbayar atau gratis. Contoh provider yang telah mengembangkan layanan ini  antara lain Skype, Open Meeting, Big Blue Button, Google HangOut dll.

b. Asynchronous

Pertemuan antara tutor dan peserta didik tidak secara langsung, terdapat delay antara penyediaan media dan pembelajaran yang terjadi. Contoh media  yang digunakan : Forum, gambar, video, sound, e-mail dan teks.

Terjadinya delay waktu antara penyediaan media dengan pembelajaran, memberikan waktu lebih banyak kepada peserta didik untuk bisa mendalami lebih lanjut materi yang telah disediakan. Selain itu, peserta didik juga diberikan keluangan untuk mengkaji materi-materi dari sumber yang lain untuk pengkayaan bahan ajar. Salah satu kelemahan yang ditemukan pada mode ini adalah jika adanya pertanyaan atau topik diskusi yang membutuhkan klarifikasi atau jawaban dari tutor maka membutuhkan waktu yang sangat tentative, tergantung dari kesediaan tutornya. Walaupun begitu, tentu saja sumber belajar tidak hanya berasal dari tutor semata, namun bisa juga didapatkan dari rekan sejawat.

c. Hybrid/Blended Learning

Ini kombinasi mode antara synchronous dengan asynchronous dimana fase ini biasanya ditempuh untuk masa adaptasi penerapan e-learning di masa-masa awal. Mode ini memungkinkan adanya mixed penerapan e-learning dengan kelas tradisional, adapun berapa persentasenya (antara e-learning dengan tradisional) tergantung dari masing-masing institusi. Sebagai gambaran jika dilakukan fifty-fifty semisal untuk pertemuan 10 x, maka 5x dilakukan dengan konvensional dan 5x dengan e-learning. Kombinasi inipun dalam perjalanannya bisa berkurang/bertambah tergantung dari masa transisi dan evaluasi.

Sebagai ilustrasi seperti nampak pada gambar dibawah ini (pengajaran berbahasa asing).

chart-blended

Dari 3 pendekatan kelas pembelajaran diatas , jika ingin memilih, secara pribadi saya lebih merekomendasikan menggunakan Blended Learning. Hal ini didasari oleh kebutuhan, bahwa proses adaptasi dari pembelajaran tradisional tentu saja membutuhkan waktu dan persiapan yang tidak sedikit. Walaupun begitu, pemegang kebijakan dan pelaksana lapangan harus menyepakati kapan pelaksanaan blended ini akan dilakukan evaluasi dalam rentang waktu tertentu. Sebagai alat bantu evaluasi, berikut saya sajikan tabel untuk analisis keterlaksanaan mode blended ini.

evaluasi

Sebagai sebuah komponen evaluasi, form diatas bisa disesuaikan dengan kebutuhan institusi. Jika nilai telah beranjak naik dari waktu ke waktu, mode blended ini bisa berubah prosentasenya.

2. Pemilihan Model Desain Instruksional

Menurut Marina Arshavskiy (2013), Model Desain Instruksional pada e-learning sendiri paling tidak terdiri dari 7 tipe.

a. ADDIE Model

b. Seels and Glasgow ISD Model

c. Dick and Carrey Systems Approach Model

d. ASSURE Model

e. Rapid ISD Model

f. Four-Door (4 D) eLearning Model

g. SAM Model

Akan coba saya paparkan ADDIE dan ASSURE karena sering dipakai dalam pengembangan sistem.

ADDIE Model kepanjangan dari Analyze (analisis), Design (desain), Develop(membangun), Implement (terapkan), dan Evaluate (evaluasi). Model ini cukup umum dikenal sebagai model yang fleksibel yang sering dipakai untuk pengembangan sistem. Disiapkan untuk membantu proses step by step yang membantu sistem desainer untuk membuat program yang sesuai dengan framework.

Kemudian untuk ASSURE Model

dikembangkan oleh Heinich, Molenda, Russell dan Smaldino, berdasarkan 9 even Instruksional Gagne. Model ini mengasumsikan bahwa desain kelas menggunakan berbagai tipe media dan secara khusus sangat bermanfaat untuk desain kelas e-learning.

ASSURE kepanjangan dari:

  • A – Analyze Learner (Menganalisis Pembelajar)
  • S – State Objectives (Menentukan Tujuan Pembelajaran)
  • S – Select Media and Materials (Memilih media dan materi)
  • U – Utilize Media and Materials (Menggunakan media dan materi)
  • R – Require Learner Participation (Membutuhkan partisipasi pembelajar)
  • E – Evaluate and Revise (Evaluasi dan revisi)

ASSURE-Model

assure-model

Kemudian untuk membandingkan diantara 2 model tersebut, silakan disimak melalui tabel berikut

tek 3

Pada Assure terlihat bahwa evaluasi dilakukan pada akhir fase, sedanggkan pada Addie evaluasi dilakukan pada masing-masing step.

Untuk pemilihan modelnya silakan bisa memilih diantara Assure atau Addie, atau bisa juga dilaukan kolaborasi diantara keduanya.

3. Menggunakan dan memperhatikan interaksi

Menurut Moore (1989), salah satu pioner dan pakar dalam pembelajaran jarak jauh, serta editor American Journal of Distance Education dalam pembelajaran jarak jauh, setidaknya akan terjadi 3 interaksi :

a. Pembelajar pada konten

Merujuk pada poin ini, perhatian dari pembelajar kepada konten materi memegang peranan penting akan tingginya serapan pembelajaran. Sehingga penyedia materi yang baik seyogyanya memperhatikan faktor ini sebagai faktor penyukses pembelajaran dengan cara mengkonstruk materi dengan cara yang kreatif, inovatif dan interaktif.

b. Pembelajar pada tutor

Tutor yang baik dalam pembelajaran jarak jauh, walaupun tidak dituntut untuk selalu online 24 jam, namun kesediaan membantu pembelajar akan menjadi nilai plus. Apalagi dengan karakter sebagian besar pengguna yang lebih ‘touching’ ketika berinteraksi dengan manusia.

c. Pembelajar pada pembelajar yang lain

Kita sadari sepenuhnya bahwa pada model pembelajaran jarak jauh, siapa saja dapat menjadi narasumber. Sehingga sistem e-learning tidak hanya mengandalkan sepenuhnya pada materi online atau tutor.

4. Memilih teknologi pendidikan yang tepat

Berbagai Learning Management System yang tersebar luas menawarkan berbagai pilihan teknologi, untuk bisa memilihnya, pertimbangan interaksi diatas dapat menjadi salah satu rujukan.

Seperti contoh pada Moodle, yang sudah menyediakan berbagai fasilitas interaksi.

a. Pembelajar pada konten

Video embed,

Gambar,

Animasi,

Sound,

Wiki,

Media hypertext.

b. Pembelajar pada tutor

Live conference,

Personal Message,

Forum,

Broadcasting Video.

c. Pembelajar pada pembelajar yang lain

Chat,

Forum,

Personal Message,

Wiki.

5. Menata Prosedur dan Survey

Setelah melakukan 4 poin diatas, sebelum menawarkannya kepada peserta didik, ada beberapa hal yang akan dilakukan untuk pengecekan akhir.

a. Survey

Melakukan survey diawal, dilakukan untuk mengetahui keinginan pembelajar terhadap konten yang akan kita tawarkan yakni berkaitan dengan desain interface, kegunaan, akses, analisis pengguna.

b. Saran dan masukan dari expert

Masukann dari expert sangat dibutuhkan sebelum kita launching course kita yakni dari beragam latar belakang diantaranya : subject expert, instructional designer, developer e-learning, pengembang materi.

c. Setelah mendapatkan masukkan, kita bisa melakukan revisi tahap 1.

d. Setelah direvisi, maka minta report kembali kepada expert yang sama pada poin b diatas.

e. Analisis data hasil feedback yang kedua

f. Revisi sistem e-learning final.

Sampai disini, semoga 5 step diatas berhasil membantu anda yang ingin melakukan konversi dari pembelajaran tradisional kepada e-learning.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo

 Referensi :

  • http://elearningindustry.com/top-5-tips-to-convert-your-traditional-course-into-an-elearning-format
  • Arshavskiy, Marina. “Instructional Design for ELearning Essential Guide”. www.yourelearningworld.com. 2013.
  • http://lisahalverson.com/2011/01/25/moore-on-interaction-transactional-distance/

About dedy setyo

Tetap bangga dan mencintai pekerjaannya sebagai Pengajar, Pendidik, Peneliti, Pegiat teknologi dan narasumber dalam ranah pendidikan khususnya media pendidikan spesialisasi media digital, e-learning dan Open Source untuk pendidikan. Selengkapnya disini. Bisa dihubungi melalui e-mail : dedy@dedysetyo.net atau Call/SMS : 087770030903 WA : 085718904956 atau FB, atau

2 thoughts on “Strategi Perubahan Pembelajaran dari Kelas Tradisional Menuju e-learning”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab soal ini : * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.