ping

Tangguhnya Pinguin di Hutan Kami

Pendahuluan

Perkenalkan, Saya adalah seorang guru di sebuah sekolah berasrama diujung barat pulau Jawa yang lumayan terpencil dari hingar bingar perkotaan, plus menyatu dengan hutan menambah nuansa masih alami sekaligus ‘ndeso’ (jauh dari kesan modern). Perlu diketahui bahwa sekolah berasrama kami ini memiliki luas yang tak kurang dari 30 hektar dengan kontur berbukit-bukit naik turun, sementara itu komplek siswa putra terpisah dengan para siswi dipisahkan oleh danau yang cukup luas. Jika rajin jalan setiap hari dari kawasan putra ke putri atau sebaliknya, dijamin akan gede-gede pula betis kami.he.he. 🙂

Setiap hari kami tinggal disini, ada yang bertugas di asrama, ada juga yang difasilitasi rumah guru. Singkatnya, dalam waktu 24 jam sehari atau 7 hari seminggu lah, kami bersama para siswa-siswi kami, mengajar mereka sesuai dengan amanah dan tanggung jawab masing-masing. Hal ini sebenarnya merupakan keuntungan bagi para siswa untuk belajar lebih banyak dari para gurunya karena tinggal sekompleks. Namun kendala geografis lah yang menyebabkan hal ini sulit dilakukan, jauh nya jarak dan medan yang lumayan berat menjadi masalah tersendiri. Untuk menanyakan perihal suatu hal atau berdiskusi dengan gurunya, para siswa harus menunggu ketika pertemuan formal di KBM esok harinya.

nf
Kondisi hijaunya sekolah kami dipotret dari satelit via gmap.

Suatu ketika setelah banyak berdiskusi dengan sebagian guru yang lainnya, tercetus mimpi untuk membangun model pembelajaran jarak jauh. Konsepnya sederhana, agar siswa bisa belajar setiap saat dan dimana saja, mau di sekolah ataupun di asrama mereka bisa berinteraksi dengan guru atau diskusi dengan siswa yang lainnya, namun tidak tergantung dengan koneksi internet. Karena jangankan koneksi internet yang kencang, beberapa provider pun ‘lempar handuk’ (menyerah) memasang koneksi internet di tempat kami, walhasil sekolah kami juga seperti nyaris terputus dari arus informasi yang up to date setiap harinya.

Sehingga akhirnya kami bangun koneksi jaringan intranet (lokal) perlahan-lahan sebisa kami. Kami memimpikan agar pembelajaran kepada siswa-siswi bisa berlangsung lebih efektif dan kontinyu. Toh mereka (siswa-siswi dan guru) rata-rata sudah punya laptop masing-masing, selain itu disebagian titik strategis sudah terpasang jaringan komputer baik dengan kabel ataupun wireless (walaupun seadanya). Tanpa koneksi internet pun, rasanya Kami optimis bisa membangun komunitas pembelajar disini asalkan para guru dan siswa kompak, serta ada keinginan untuk terus menerus belajar dan berbagi.

Saya kemudian memberanikan diri bertemu dengan para pengambil kebijakan di lembaga kami, kemudian dengan corat-coret konsep bagaimana pembelajarannya, teknologi yang akan mensupportnya, dan infrastruktur yang nantinya akan diperlukan. Setelah sowan sana sini, Alhamdulillah respon positif yang kami dapatkan. Kemudian sambil diskusi dengan teman-teman di Forum dan Komunitas Linux (walaupun gak rajin-rajin amat kopdar dengan teman-teman komunitas, kami beberapa kali terhubung melalui media internet), dialog cukup panjang ini akhirnya mengerucut pada satu hal, bahwa kami akan menggunakan Free Open Source Software (FOSS). Opsi ini merupakan pilihan logis dan solutif ditengah-tengah mahalnya software propiertary serta makin tingginya angka pembajakan yang terus menerus menggurita mengekang masyarakat. Komunitas FOSS juga solid mensupport jika ada masalah atau bugs yang muncul dalam penggunaannya.

Dengan segala pertimbangan dan diskusi, pilihan kami akhirnya tertuju pada Learning Management System (LMS) Moodle sebagai core untuk proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran siswa. Sementara Content Management Framework (CMF) Drupal untuk portal komunikasinya, dengan gaya blogging agar nampak santai namun tetap serius dalam penyebaran pengetahuan. Kedua sistem ini sudah banyak dipakai oleh lembaga-lembaga besar di Indonesia dan dunia (pemakai Moodle untuk portal pembelajaran di Indonesia diantaranya Pertamina dan Garuda Indonesia, sedangkan Drupal saat ini dipakai untuk website resmi pemerintah AS, Walt Disney, MotoGP dsb). Dahsyatnya kedua nya berplaform FOSS dan lisensi GPL sehingga tetap gratis untuk dipakai, fully customized serta banyak manualnya tersedia di Internet.

Mulai Membangun

Untuk servernya kami menggunakan Ubuntu server 12.04 dengan PC Server ala kadarnya berasal dari PC Desktop yang bisa dimanfaatkan, dengan beberapa kali waktu pengujian, nampaklah kehebatan Linux disini, walaupun PC bekas namun performa tetap moncer dan sangat enteng. Pada tahap awal kami ujikan dengan diakses secara bersamaan oleh satu kelas, nampak server kami tetap stabil dan tetap cool.

Tahapan berikutnya merupakan tahapan yang lebih menantang yakni mendata berapa banyak ruang kelas/asrama yang dapat terkoneksi ke jaringan lokal. Karena skenarionya server ini hanya akan diakses dikomplek sekolah kami saja, maka pengecekan di ruang-ruang kelas dan kantor serta asrama menjadi penting untuk dilakukan. Dari pendataan ini nanti kami akan mengevaluasi dan mengajukan bilamana diperlukan perangkat jaringan baru agar desain pembelajaran ini lebih cepat bisa diterapkan.

Kurang lebih 2 minggu lamanya dilakukan pengecekan dan analisis kebutuhan lapangan, akhirnya dibuatlah konstruksi jaringan seperti dibawah ini.

9
Gambar 1. Denah lokasi perangkat jaringan, designed by MT

Tahap Ujicoba

Singkat kata, setelah semuanya kami siapkan, akhirnya kami coba koneksi dengan jangkauan yang lebih luas. Tahap pengujian ini bukannya tanpa masalah, dengan tantangan kontur yang berbukit serta medan yang teramat luas. Beberapa kali koneksi didua wilayah putra-putri tidak bisa terhubung. Lagi-lagi komunitas linux yang friendly siap sedia membantu kami via tutorial-tutorial yang bermanfaat. Akhirnya pengujian lagi dan Alhamdulillah satu masalah telah terpecahkan, kedua wilayah sekarang sudah bisa terhubung dengan baik.

Inilah saatnya !
Setelah masa uji coba dirasa cukup, akhirnya kami mulai demokan ke forum guru, sekitar 2 jam diberikan sesi untuk presentasi, ternyata tanggapan dan reaksinya cukup beragam. Ada yang antusias, namun ada juga yang masih menilai pesimis, terutama pengajar senior yang sudah merasa pada ‘zona nyaman’ nya. Awalnya kami sempat down, namun perasaan ini pupus sudah ketika kami sosialisasikan ke para siswa, melihat wajah mereka yang berbinar-binar, serta antusiasme yang tinggi untuk mencoba mengutak atik sistem ini, mereka mengaku senang dan bersemangat untuk belajar karena informasi saat ini telah menjadi mudah untuk ditemukan, interaksi dengan para guru menjadi gampang dan pembelajaran dapat dilakukan dimana saja. Nampaknya hal-hal inilah yang menjadi penyemangat kami untuk menuntaskan pekerjaan yang tinggal sedikit ini.

1
Gambar 2. Para Siswa saat menggunakan sistem ini.

 

2
Gambar 3. Saat sedang di perpustakaan
3
Gambar 4. Pembelajaran di laboratorium komputer

 

4
Gambar 5. Terkoneksi juga dengan para karyawan

Dengan dukungan segenap stakeholder, beberapa kali program pelatihan untuk guru berhasil kami lakukan, manual book nya juga sudah rapi terbukukan. Perlahan namun pasti, model pembelajaran ini setidaknya memberikan warna baru model pembelajaran ditengah-tengah kami.

Bahkan dalam beberapa kesempatan, model pembelajaran kami pun mendapatkan pujian dari dinas pendidikan setempat. Kami juga diminta untuk melakukan presentasi pada forum yang diselenggarakan oleh Balai penyediaan media belajar Provinsi Banten yang dihadiri oleh hampir semua Kepala Sekolah di provinsi ini. Tak cukup disitu, terhitung beberapa kali kunjungan sekolah-sekolah lain, jurusan Pasca Sarjana Teknologi Pendidikan di salah satu Universitas, dinas pemerintahan terkait juga silih berganti mendatangi kami untuk silaturahmi dan studi banding. Semoga hal ini semakin menyemangati kami untuk berkarya lebih banyak.

Sedikit demi sedikit, dengan berbagai saran dan masukan sistem ini kami lengkapi konten pembelajarannya agar lebih menarik dan memberikan semangat kepada semua penggunanya.
Beberapa tampilan diantaranya sebagai berikut

5
Gambar 6. Tampilan depan

 

6
Gambar 7. Display Video Sharing karya siswa pada portal pembelajaran
7
Gambar 8. Display kelas virtual pembelajaran
8
Gambar 9. Grafik perolehan nilai pengerjaan siswa

Demikian coretan ini Saya selesaikan, semoga bisa memberi inspirasi kebaikan untuk yang membacanya.

Sukses dan salam hangat untuk semua.

 

Dedy Setyo Afrianto
dedy@dedysetyo.net

#Catatan : Artikel ini dilombakan dan masih dalam proses penilaian juri www.Linux.or.id dengan URL asli di http://www.linux.or.id/tangguhnya-pinguin-di-hutan-kami.html

About dedy setyo

Tetap bangga dan mencintai pekerjaannya sebagai Pengajar, Pendidik, Peneliti, Pegiat teknologi dan narasumber dalam ranah pendidikan khususnya media pendidikan spesialisasi media digital, e-learning dan Open Source untuk pendidikan. Selengkapnya disini. Bisa dihubungi melalui e-mail : dedy@dedysetyo.net atau Call/SMS : 087770030903 WA : 085718904956 atau FB, atau

One thought on “Tangguhnya Pinguin di Hutan Kami”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab soal ini : * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.