contextual learning cooperative learning

Strategi Penerapan Contextual Teaching and Learning di Kelas (tulisan ke 1 dari 2 tulisan)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan ini tentang pengertian Contextual Teaching and Learning (CTL), dilatarbelakangi oleh keprihatinan bahwa pembelajaran konvensional yang masih dominan dalam budaya dan model pembelajaran kita ternyata seringkali tidak dapat menggali utuh kemampuan siswa,  membatasi siswa untuk mengexplore pengetahuan dan tidak kontekstual dalam lingkungan pribadi siswa sehingga kemampuan yang mereka dapatkan dalam bangku sekolah tidak dapat secara penuh dioptimalkan dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa sehari-hari dimasyarakatnya.

Merupakan kumpulan dari “mozaik” yang terserak beberapa waktu yang lalu kami melakukan pengujian terhadap proses pembelajaran Contextual Teaching and Learning yang ternyata memiliki banyak kelebihan untuk diterapkan dalam pembelajaran kita. Ada beberapa strategi dalam menerapkan CTL di kelas-kelas kita, 4 macam strategi ini akan kami paparkan dalam 2 tulisan agar lebih fokusnya dalam penjabaran.

Berdasarkan komponennya, CTL mengkolaborasikan antara cara belajar dengan strategi belajar lainnya, seperti konstruktivisme, Inquiry, problem based learning, cooperative learning, dan worked based learning. Lalu bagaimana CTL dapat dipraktikkan di dalam maupun di luar kelas?Menurut Elaine B. Johnson (2009 : 66), CTL memberikan dua pertanyaan penting bagi para siswa; “konteks-konteks apakah yang tepat untuk dicari oleh manusia?” dan “Langkah-langkah kreatif apakah yang harus saya ambil untuk membentuk dan memberi makna pada konteks?” CTL dapat diimplementasikan antara lain dengan cara:

1. Mata Pelajaran yang Saling Berhubungan (Linked Courses)

ctl

Setiap mata pelajaran mempunyai tujuan, penilaian, dan nilai akhir yang terpisah. Namun demikian, setiap mata pelajaran dapat disatukan oleh materi yang saling melengkapi dan topik yang sama. Strategi ini memerlukan kerjasama yang solid di antara para guru sebagai teamwork yang baik. Pembelajaran harus direncanakan dan dirumuskan secara bersama-sama. Menurut Elaine B. Johnson (2009 : 116), para guru dari mata pelajaran yang saling berhubungan berunding untuk memastikan bahwa materi di satu kelas melengkapi dan memperkukuh proses belajar yang terjadi di kelas lain. Strategi demikian kita mengenalnya sebagai model pembelajaran tematik. Model pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran (Indrati, 2009). Pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Pembelajaran tematik menyediakan keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak pada siswa untuk memunculkan dinamika dalam pendidikan.

Ciri khas pembelajaran tematik menurut Yuke Indrati (2009) yaitu: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa; 3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam lingkungannya; dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.

Dengan penerapan pembelajaran tematik belajar akan lebih bermakna karena siswa mengalami apa yang dipelajarinya sehingga membantu siswa membangun kebermaknaan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui kaitan antar satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Selain itu, apa yang dipelajari akan lebih mudah diingat, dipahami, dan diolah serta digunakan untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupannya.

2. Mata Pelajaran Terpadu

linked

Strategi demikian disebut juga multidisipliner atau lintas kurikulum. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (dalam Indrawati, 2009: 14-15) pembelajaran terpadu merupakan pendekatan dalam pengembangan kurikulum yang bersifat integrative  yang menuntut model-model pengetahuan yang lebih komprehensif – terpadu. Pelajaran tersusun atas satuan-satuan pelajaran. Dalam satuan-satuan pelajaran tersebut batas-batas ilmu menjadi hilang. Pengorganisasian tema-tema pelajaran berdasarkan atas fenomena-fenomena alam, proses kerja ilmiah, dan problema-problema yang ada.

Mata pelajaran terpadu diajarkan secara tim, dengan serangkaian tujuan dan penilaian yang sesuai dengan gabungan dari didiplin ilmu yang digabungkan. Barab & Landa (dalam B. Johnson, 2009 : 121) menegaskan bahwa mata pelajaran terpadu dapat berhasil dengan baik apabila mata pelajaran ini menggabungkan semua komponen dari system pengajaran dan pembelajaran kontekstual. Komponen-komponen CTL menjamin bahwa mata pelajaran terpadu adalah pengalaman yang berpusat pada siswa, mengakomodasi siswa dari kebudayaan dan latar belakang yang berbeda, dan cocok dengan beragama minat, bakat, dan gaya belajar.

Beberapa ciri model kurikulum terintegrasi menurut Nana (dalam Indrawati, 2009: 14-15) adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan tema-tema besar yang dapat mencakup semua ilmu atau suatu membentuk satu kesatuan yang terdiri atas idea atau konsep yang besar yang dapat mencakup semua ilmu atau suatu proses kerja ilmu, fenomena alam, atau masalah sosial yang membutuhkan pemecahan secara ilmiah
  2. Menyatukan kegiatan belajar dari beberapa disiplin ilmu. Kegiatan belajar melibatkan isi dan proses dari satu atau beberapa ilmu sosial atau perilaku yang mempunyai hubungan dengan tema yang dipilih atau dikerjakan
  3. Menyatukan berbagai cara atau metode belajar. Kegiatan belajar ditekankan pada pengalaman konkret yang bertolak dari minat dan kebutuhan siswa serta disesuaikan dengan keadaan setempat.

Mata pelajaran terpadu menyatukan mata pelajaran yang berbeda ke dalam satu kesatuan makna dan mengaitkannya dengan kehidupan siswa. Elaine B. Johnson (2009:119) mencontohkan, di sebuah sekolah menengah pertama di Kentucky, para siswa kelas tujuh mengambil mata pelajaran terpadu yang menggabungkan ilmu pengetahuan, matematika, bahasa dan sastra, dan ilmu sosial saat mempelajari Yunani kuno. Mereka belajar tentang sejarah, hukum, arsitektur, ilmu pengetahuan, dan drama Yunani.

Silakan baca lanjutan tulisan ini disini.

 

About dedy setyo

Tetap bangga dan mencintai pekerjaannya sebagai Pengajar, Pendidik, Peneliti, Pegiat teknologi dan narasumber dalam ranah pendidikan khususnya media pendidikan spesialisasi media digital, e-learning dan Open Source untuk pendidikan. Selengkapnya disini. Bisa dihubungi melalui e-mail : dedy@dedysetyo.net atau Call/SMS : 087770030903 WA : 085718904956 atau FB, atau

One thought on “Strategi Penerapan Contextual Teaching and Learning di Kelas (tulisan ke 1 dari 2 tulisan)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab soal ini : * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.