pendidikan dedy

Pengantar Contextual Teaching and Learning

Sebagai pendahuluan, tulisan dibawah ini dan serial “kuliah” berikutnya merupakan bahan diskusi dan tulisan saya dan teman-teman saat menempuh study di Pasca Sarjana jurusan Teknologi Pembelajaran. Harapannya bagi pembaca pada umumnya, ataupun teman-teman guru pada khususnya dapat memiliki khasanah baru tentang dunia pengajaran. Selamat membaca !.

Setelah melewati fase gelombang perubahan pertama (era agraris) dan kedua (era industrialisasi), menurut Futurolog berkebangsaan Amerika Serikat Alvin Toffler (dalam Abdul Hayyie al Kattani:2002), dunia tengah mengalami gelombang perubahan ketiga yaitu era informasi  Fase ini ditandai dengan ledakan informasi yang luar biasa. Keterbukaan dan penetrasi informasi terus menyelinap sampai pada sudut-sudut paling sempit dalam kehidupan manusia. Menurutnya, kemajuan peradaban suatu bangsa sangat ditentukan oleh kecerdasannya dalam menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain, ketidakmampuan dalam menyerap informasi secara maksimal akan mengakibatkan ketertinggalan peradaban suatu bangsa.

Berdasarkan argumentasi tersebut, maka  pendidikan sesungguhnya memegang peranan penting dan strategis terutama dalam upaya menyerap dan memanfaatkan informasi bagi kemajuan  peradaban bangsa Indonesia. Dari sekian banyak persoalan yang melingkupi dunia pendidikan di Indonesia, maka upaya peningkatan mutu pendidikan, baik mutu dari jenjang sekolah dasar sampai pada jenjang perguruan tinggi merupakan masalah memerlukan perhatian utama.

Jika tantangannya adalah maksimalisasi dalam penguasaan informasi untuk kemudian secara cerdas dipergunakan untuk kemajuan bangsa, maka mengaitkannya  dengan tentang bagaimana pendidikan dan proses pembelajaran diselenggarakan di negara kita, adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Menurut Pasal 19 Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.

Apa yang dipaparkan dan diinginkan oleh PP tersebut merupakan tantangan sekaligus peluang bagi para guru untuk mengeksplorasi kemampuannya dalam melaksanakan proses belajar dan mengajar. Oleh sebab itu, proses pembelajaran dengan model belajar konvensional sangat tidak memadai, walaupun faktanya model belajar ini yang paling banyak disukai dan sering digunakan oleh para guru. Menurut Ardhana, et al (dalam I Wayan Sukra Warpala, 2009), dari hasil survei pada 2004 terhadap beberapa SD di Buleleng (Bali) dan Kota Malang menemukan bahwa 80% guru menyatakan paling sering menggunakan metode ceramah untuk pembelajaran sains. Sedangkan dari pandangan siswa, 90% menyampaikan bahwa gurunya mengajar dengan cara menerangkan, 58,8% berpendapat dengan cara memberikan PR, dan 43,6% menyampaikan dengan cara meringkas, serta jarang sekali melakukan pengamatan di luar kelas. Terkait dengan temuan ini, kegiatan mengajar yang dilakukan oleh para guru tersebut merupakan aktivitas menyimpan informasi dalam pikiran siswa yang pasif dan dianggap kosong. Siswa hanya menerima informasi verbal dari buku-buku dan guru atau ahli.

Model belajar konvensional merupakan proses pembelajaran yang cenderung verbalisme. Guru lebih berperan sebagai sumber informasi utama. Guru mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa dengan cara berceramah, sedangkan siswa lebih banyak sebagai penerima, sehingga cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis siswanya.  Selain itu, penyampaian materi sangat terikat urutan materi dalam kurikulum secara ketat melalui buku teks yang tersedia. Dalam pembelajaran konvensional, sudah sampai mana materi yang telah disampaikan kepada siswa merupakan pertanyaan utama yang harus dijawab oleh guru, daripada menjawab pertanyaan kompetensi apa yang telah dikuasai siswa. Untuk itu, guru menekankan drill agar siswa mampu mengungkapkan kembali isi buku teks tersebut. Akibatnya,  keterampilan proses (hands-on activities), dan pemberian  kesempatan untuk menampilkan unjuk kerja secara langsung (doing direct performance), serta belajar dengan cara memperagakan (demonstrating) kurang mendapat perhatian. Selain itu, belajar konvensional sangat terbatasi oleh sekat-sekat dinding kelas, dan antar mata pelajaran tidak ada kesalinghubungan sekalipun berada pada satu rumpun pelajaran.

Model belajar konvensional mengasumsikan bahwa modalitas (gaya) belajar siswa itu sama. Cara konvensional cenderung mengabaikan fakta bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar yang unik dan bersifat individual, yaitu auditorial, visual, dan kinestetik. Bagi siswa dengan gaya belajar auditorial memang belajar dengan cara mendengarkan merupakan cara belajar terbaik, meskipun mempertahankan agar siswa tetap tertarik dengan apa yang sedang dipelajari juga bukan perkara mudah. Namun, tidak demikian bagi siswa dengan gaya belajar visual yang selain memproses informasi dalam bentuk teks, juga perlu melihat dalam bentuk gambar ataupun diagram. Sementara siswa yang kinestetik lebih mengandalkan aktivitas fisik melalui pengalaman nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Berdasarkan pengalaman Gordon Dryden dan Jeannette Vos (2002: 349), para pelajar kinestetik adalah yang paling beresiko gagal dalam kelas konvensional. Mereka perlu bergerak, merasakan, menyentuh, atau bertindak—jika  metode pengajarannya tidak memungkinkan mereka melukakannya, mereka merasa ditinggalkan, tidak terlibat, bosan.  Akibat dari keterbatasan praktik pembelajaran konvensional (tradisional) juga pernah dirasakan oleh para siswa dan mahasiswa di sekolah-sekolah Amerika sebelum strategi atau model pembelajaran (CTL/Contextual Teaching and Learning) mendapat perhatian dari Departemen Pendidikan Amerika, seperti yang diungkapkan oleh Elaine B. Johnson (2009 : 38-39). Menurutnya,

siswaSekolah-sekolah Amerika tidak hanya mengecewakan bagi remaja-remaja berusia 16 dan 18 tahun yang meninggalkan sekolah, tetapi juga merugikan orang-orang. Yang sudah 2 dan 4 tahun kuliah di akademi dan perguruan tinggi. Sebagian besar mahasiswa tahun pertama tiba di kampus tanpa persiapan melakukan perkuliahan. Biasanya, para mahasiswa ini dibatasi oleh kosakata yang miskin sehingga mereka tidak mampu memahami teks yang lebih rumit ataupun menemukan hal-hal yang agak tersembunyi. Mereka sering melewatkan detail-detail penting dan jarang memahami logika dari suatu pendapat tertulis. Karena mereka sulit memahami bacaan, banyak mahasiswa tahun pertama mengalami kesulitan menghadapi tugas membaca yang biasanya diberian di perkuliahan. Tak heran kebanyakan perguruan tinggi dan universitas Amerika menawarkan kelas-kelas perbaikan bahasa Inggris. Tak heran banyak mahasiswa yang drop-out.

Sementara itu, laporan Secretary Commission on Achieving Necessary Skills/SCANS – lembaga yang dibentuk oleh Kementerian Tenaga Kerja Amerika Serikat di bawah Program Amerika 2000 di era Presiden George Bush – seperti dikutip oleh Dryden (2002:271) memperkirakan bahwa kurang dari separo kaum muda (Amerika) yang memiliki kemampuan minimum (yang diperlukan) dalam hal membaca dan menulis; bahkan, lebih sedikit lagi yang dapat memahami matematika. Pada saat ini sekolah hanya mengajarkan, secara tidak langsung, keterampilan mendengarkan dan berbicara. Sedangkan hasil studi Sir Christopher Ball yang diberi judul More Means Different (dalam Dryden, 2002:271), menyatakan bahwa angkatan kerja di Inggris tidak terdidik, tidak terlatih, dan tidak memenuhi syarat. Sebanyak 47 persen dari potensi karyawan Inggris di dunia industry tidak memenuhi persyaratan yang dibutuhkan.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya dialami oleh negara berkembang tetap juga di negara maju seperti Amerika dan Inggris. Bahwa ada kelemahan yang serius yaitu  ketidakmampuan dunia pendidikan dalam menjawab tantangan abad teknologi saat ini. Di sisi lain, guru sebagai ujung tombak pendidikan sekaligus sebagai agen perubahan (agent of  change) harus dapat menjawab tantangan ini. Salah satunya dengan dengan menguasai berbagai strategi atau model pembelajaran – selanjutnya kami menggunakan istilah model pembelajaran.

Guru dapat mencoba mengaplikasikan dari begitu banyak model pembelajaran di dalam proses pembelajaran mata pelajaran yang diasuhnya. Salah satunya dengan menerapkan strategi model belajar kontekstual (CTL). Menurut Isjoni (2010), pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey pada 1916 yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan yang atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya. Pembelajaran ini menekankan pada daya pikir yang tinggi, transfer ilmu pengetahuan, mengumpulkan dan menganalisis data, memecahkan masalah-masalah tertentu baik secara individu maupun kelompok. Dengan demikian, guru dituntut untuk menggunakan model pembelajaran kontekstual dan memberikan kegiatan yang bervariasi, sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa, mengaktifkan siswa dan guru, mendorong berkembangnya kemampuan baru, menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah, responsif, serta rumah dan lingkungan masyara-kat. Pada akhirnya siswa memiliki motivasi tinggi untuk belajar.

Sebenarnya model pembelajaran CTL bukanlah model pembelajaran yang relatif baru. Sekolah-sekolah kejuruan (SMK) seperti Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), dan Sekolah Teknik Menengah (STM) sudah lama mempraktikkan model belajar CTL ini. Model belajar CTL selama ini dianggap sebagai model belajar yang paling tepat diterapkan  di sekolah kejuruan. Hal ini sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) diselenggarakannya sekolah kejuruan di Indonesia yaitu bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya (PP No 19 Tahun 2005 pasal 26). Namun fakta menunjukkan, peralatan praktik di beberapa SMK masih berada di bawah standar nasional yaitu sekitar 55 persen (Kompas.com : 2009). Jadi jika masih ada sekolah kejuruan justru mempraktikkan  pembelajaran konvensional karena kurangnya penguasaan guru atas berbagai model pembelajaran, serta minimnya peralatan praktik di laboratorium, maka sekolah kejuruan yang demikian layak disebut sebagai sekolah sastra karena peserta didiknya sangat menguasai kompetensi teoritis (hapalan teori) daripada kompetensi praktis.

Referensi :

  • B. Johnson, Elaine, 2009, Contextual Teaching & Learning; Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, Penerbit MLC, Bandung.
  • Budimansyah, Dasim, 2002, Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio, PT. Genesindo, Bandung.
  • Depdiknas, 2003, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional, Depdiknas, Jakarta.
  • Deporter, Bobbi & Mike Hernacki, 2001, Quantum Learning; Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Penerbit Kaifa, Bandung.
  • Dryden, Gordon, Jeannette Vos, 2002, Revolusi Cara Belajar; Belajar akan Efektif kalau Anda dalam Keadaan ‘Fun”, Bagian II Sekolah Masa Depan, Penerbit Kaifa, Bandung.
  • Hamalik, Oemar, 2004, Proses Belajar Mengajar, PT. Bumi Aksara, Jakarta.
  • Hayyie al Kattani, Abdul, Rekayasa Masa Depan Islam
  • Dengan Revitalisasi Warisan Klasik Islam (Turats) Sebagai Ilustrasi, 2002, pcinu-mesir.tripod.com
  • Indrati, Yuke, 2009, Pembelajaran Tematik Kelas Awal SD, puskur.net
  • Indrawati, 2009, Model Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar untuk Guru SD, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA)
  • Isjoni, 2009, Efektifitas Model Pembelajaran Cooperative Learning, xpresiriau.com
  • Isjoni, 2010, Mengapa Pembelajaran Kontekstual, xpresiriau.com
  • Isjoni, 2010, Pembelajaran Konstektual dan Motivasi Siswa, xpresiriau.com
  • Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
  • Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi –lampiran
  • Sanjaya, Wina, 2009, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Kencana, Jakarta.
  • Sudarmiatin, 2009, Entrepreneurship dan Metode Pembelajarannya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Jurnal Ekonomi Bisnis, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang
  • Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
  • Warpala, I Wayan Sukra, 2009,  Pendekatan Pembelajaran Konvensional, edukasi.kompasiana.com
  • Warsita, Bambang, 2008, Teknologi Pembelajaran; Landasan & Aplikasinya, PT. Rinela Cipta, Jakarta.

About dedy setyo

Tetap bangga dan mencintai pekerjaannya sebagai Pengajar, Pendidik, Peneliti, Pegiat teknologi dan narasumber dalam ranah pendidikan khususnya media pendidikan spesialisasi media digital, e-learning dan Open Source untuk pendidikan. Selengkapnya disini. Bisa dihubungi melalui e-mail : dedy@dedysetyo.net atau Call/SMS : 087770030903 WA : 085718904956 atau FB, atau

One thought on “Pengantar Contextual Teaching and Learning”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab soal ini : * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.