Buku : Easy Learning. Cara mudah menerapkan e-learning dari a sampai z untuk pemula


Judul buku

Easy Learning. Cara Mudah Penerapan e-learning dari A sampai Z untuk Pemula

Kenapa Anda perlu memiliki buku ini ?

  • Berdasarkan kasus nyata penerapannya dilapangan, sehingga tergambar gamblang langkah-langkahnya.
  • Penyampaian sederhana dan langsung berorientasi praktis, karena per bab merupakan gambaran tercapainya satu kompetensi tertentu
  • Berbasis open source sehingga software gratis, mudah diperoleh, dapat di customize sesuai dengan masing-masing kebutuhan user
  • Teknologi saat ini yang sedang naik daun sehingga tetap update
  • Pengaplikasiannya sangat fleksibel, bisa dalam lingkungan dengan jumlah kecil atau besar
  • Materi runut, mulai dari tahap strategis sampai dengan teknis dan operasional sehingga segmen pembaca dari berbagai kalangan dan pekerjaan

Sinopsis di cover belakang buku:

Dimasa teknologi informasi saat ini sudah akrab dengan keseharian kita, kita bisa mengeksplore lebih banyak kemanfaatannya jika dapat mengelolanya dengan efektif dalam dunia pendidikan.

E-learning dapat digunakan oleh semua orang, baik secara individual ataupun secara kelembagaan. Beragam profesi dan jenjang, mulai dari siswa, guru, mahasiswa, dosen, karyawan, manajer, owner ataupun bidang lainnya.

Bagaimana memulainya ?, buku ini menjelaskan kepada Anda langkah demi langkah untuk menerapkan di lembaga Anda.

Sebagai user, buku ini juga memberikan gambaran dan pemahaman tentang cara baru belajar yang lebih fun, mudah, interaktif dan tentunya efektif.

Disusun berdasarkan best practise, pengalaman-pengalaman ini disusun dengan runut dan simple agar mudah dipelajari bagi Anda yang baru memulai (pemula) bahkan bagi Anda yang akan mendalami lebih lanjut.

Keterampilan:

Pemula, Menengah, Lanjut

Jenis buku:

Tutorial, Referensi

Target pembaca:

Masyarakat umum, Mahasiswa, Praktisi teknologi, Komunitas, Dunia pendidikan, guru,

dosen, peserta didik dan lain-lain.

Penulis:
Dedy Setyo Afrianto, M.Pd

ISBN : 978-602-1277-72-0

Tebal : 224 Hal

Harga : Rp.65.000,- (Harga umum). Untuk harga versi promo silakan hubungi kontak dibawah.

Form Pemesanan silakan isi pada link berikut https://bit.ly/pesan_easy

Untuk Versi Digital, melalui Gramedia Online dapat dipesan melalui link ini

https://ebooks.gramedia.com/books/easy-learning-cara-mudah-menerapkan-e-learning-dari-a-sampai-z-untuk-pemula

Merawat Empati Menjaga Solidaritas

Artikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Disarankan untuk membacanya terlebih dahulu agar bisa nyambung dengan materi tulisan. Terima kasih.

Artikel ini dengan judul yang sama, masuk Republika Online dengan link sbb https://republika.co.id/berita/qcfel6282/merawat-empati-menjaga-solidaritas

——————————

Alcoa Inc, salah satu perusahaan pengolahan metal terbesar di Amerika dan sudah memiliki cabang di 10 negara, seperti perusahaan lainnya, walaupun sudah berusia seabad lebih berdiri dengan berbagai macam pencapaian yang prestisius, mengalami fase “up and down” yang bervariasi. Tahun 1987 nilai saham mereka jatuh, sebagian investor panik, sebagian lainnya mengusulkan adanya perubahan manajemen dan kepemimpinan baru. Kisah ini seperti disampaikan dalam “The Power of Habit” karya Charles Duhigg.

Akhirnya terjawab pada bulan Oktober 1987 itu, Paul O’Neill menjabat sebagai pimpinan mereka yang baru. Sebagai bagian dari perkenalan kepada investor dan analis saham yang hadir, mereka berharap di pidato perdana ini mereka akan mendengar sampaian visi dan misi yang meyakinkan mereka, strategi canggih yang bisa membawa Alcoa keluar dari “lubang jarum” itu serta rangkaian program hebat untuk bisa mengembalikan Alcoa pada puncak kejayaan. Namun, apa yang dibicarakan O’Neill di podium itu ?,

“Saya ingin membicarakan kepada Anda tentang keamanan dan keselamatan para pekerja. Setiap tahun banyak para pekerja Alcoa yang cidera parah. Setiap tahun banyak sekali pegawai Alcoa yang terluka karena bekerja. Mengingat karena para pekerja bekerja dekat peralatan bersuhu 1500 derajat celcius yang berpotensi merenggut lengan mereka. Saya berniat menjadikan Alcoa sebagai perusahaan paling aman di Amerika. Saya berniat mengejar nol cidera.”

Para hadirin bingung dan saling bertatap diantara mereka. Sepertinya harapan tentang pidato menggelegar tentang kehebatan program baru yang mereka idam-idamkan nampaknya baru saja pupus.

Setelah acara sambutan tersebut, seperti diaba-aba, banyak diantara investor yang mencari telepon umum (dikala itu belum ada gadget) untuk berdiskusi dengan klien mereka masing-masing seraya merekomendasikan agar menjual sahamnya, karena imbas tidak percayanya terhadap pimpinan baru ini. Sampai disini kita juga belajar bahwa kesan yang pertama kali, ikut mempengaruhi langkah-langkah berikutnya.

Bulan berganti bulan, setahun setelah pidato itu. Seolah berbalik 180 derajat dari anggapan pidato perdana tadi, Alcoa malah mencapai rekor perolehan laba tertinggi. Ketika O’Neil pensiun pada tahun 2000, pendapatan tahunan laba bersih lima kali lebih besar dibandingkan sewaktu Ia tiba. Tidak hanya pencapaian itu, kapitalisasi pasarnya telah naik 27 milliar dollar. Semua peningkatan itu seiring dengan peningkatan status Alcoa sebagai perusahaan paling aman di dunia. Bertahun-tahun telah berjalan, tidak ada laporan pegawai cidera karena melakukan pekerjaannya. O’Neill sendiri setelah pensiun dari Alcoa diminta oleh Presiden George W Bush untuk menjadi menteri keuangan.

Menarik mengamati kisah Alcoa ini dilihat dari sudut pandang “kebiasaan”. Selain dalam masa mendatang kita akan masuk pada fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau New Normal. Apa sesungguhnya yang dilakukan Paul O’Neill dkk merubah perusahaan yang hampir decline dengan raport keselamatan yang buruk, menjadi perusahaan yang sangat sehat, pertumbuhan laba yang mengagumkan, bahkan menjadi yang paling aman diseluruh bumi ?

Kebiasaan kunci

Pada dasarnya, manusia ataupun organisasi, adalah kumpulan kebiasaan yang tersusun setiap hari nya. Apa yang membentuk kita hari ini, adalah refleksi kebiasaan-kebiasaan yang sudah kita lakukan berkali-kali, rutin, refleks dan spontan dari 24 jam kita sehari-hari selama ini. Namun diantara sekian banyak kebiasaan kita selama ini, ada yang dinamakan “kebiasaan kunci”. Kebiasaan kunci ini akan memantik kebiasaan-kebiasaan lainnya sehingga bekerja sebagaimana harapan Anda. Semisal, jika Anda sebagai pegawai yang harus sudah siap berangkat kerja pada pukul 6 pagi tepat, sudah di KRL pada pukul 6.15, dan wajib sudah berada di kantor pukul 7 pagi. Maka kebiasaan kunci Anda adalah bangun selambatnya sebelum subuh, dan bisa jadi kebiasaan kunci Anda dimulai dari sejak kapan dimulainya tidur dimalam hari. Jika kebiasaan kunci ini dirubah, maka berubahlah kebiasaan-kebiasaan yang lain.

Begitu juga organisasi ataupun perusahaan sebesar Alcoa, sebelum O’Neill menerima tawaran memimpin Alcoa, dilandasi atas analisisnya bahwa keselamatan pekerja menjadi kata kunci yang wajib menjadi regulasi utama dalam beroperasinya Alcoa diseluruh divisi.

O’Neill percaya bahwa sejumlah kebiasaan memiliki kekuatan untuk memulai reaksi berantai, mengubah kebiasaan-kebiasaan lain seraya menyebar ke seluruh organisasi.

Ia mengidentifikasi satu tanda sederhana : cidera pegawai. Setiap kali ada yang cidera, pimpinan divisi harus melaporkannya kepada O’Neill dalam 24 jam dan mempresentasikan rencana untuk memastikan cidera tidak terjadi lagi dimasa selanjutnya. Dan ganjarannya sebagai reward : orang yang dipromosikan hanyalah yang mengikuti sistem tersebut.

Akibat kebijakan O’Neill ini lalu menggerakkan pimpinan divisi yang lain. Untuk mengontak O’Neill dalam 24 jam setelah cidera, mereka harus mendengar soal kecelakaan itu dari wakil divisinya segera setelah peristiwa tersebut terjadi. Jadi para wakil harus terus menerus berkomunikasi dengan manajer lapangan, dan para manajer lapangan membutuhkan para pekerja untuk menyampaikan peringatan begitu mereka melihat ada masalah dan memiliki daftar saran didekat mereka, sehingga bila wakil divisi meminta rencana, sudah ada satu kotak gagasan yang dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Untuk membuat itu terjadi, setiap unit harus membangun komunikasi baru yang mempermudah para pekerja berkedudukan paling rendah untuk menyampaikan gagasan kepada eksekutif berkedudukan lebih tinggi diatasnya secepat mungkin. Hampir semua rantai birokrasi yang panjang itu akhirnya dipangkas dan disederhanakan sehingga komunikasi berjalan dengan lancar dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Singkat cerita, kebijakan tentang keamanan dan keselamatan pegawai, ternyata berbimbas pada hal lain dan berdampak positif terhadap perusahaan, seperti supervisi yang lebih intens, jalur komunikasi yang dinamis, pemangkasan birokrasi dan tentu saja pekerja lebih semangat bekerja karena merasa diperhatikan lebih terkait kesehatannya.

Seperti diparagraf sebelumnya, inilah yang dimaksud kebiasaan kunci.

Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)

Adanya masa pandemi yang membuat kita berdiam diri di rumah tersebab PSBB semenjak beberapa bulan lalu, mau tidak mau juga berimbas kepada cara kita melihat lingkungan sekitar yang telah lama mungkin tidak kita tengok. Tempat ibadah yang telah lama kosong, sekolahan yang sepi dari para siswa dan ruang-ruang publik lainnya yang sudah lama sekali tidak kita sapa, rapat-rapat yang berganti menjadi pertemuan maya. Pertanyaan berikutnya apa kebiasaan kunci yang perlu kita rancang sehingga kita siap dengan kondisi pasca pandemi yang cepat atau lambat akan kita bertemu ?

  1. Berpikir positif dan memiliki rasa optimis

Laporan penelitian dari University of Pittsburgh School of Medicine menemukan bahwa wanita menopause yang memiliki sifat optimis mengalami penurunan jangka kematian dan memiliki hanya sedikit risiko terkena diabetes atau hipertensi (tekanan darah tinggi), yang sering kali dialami oleh teman-teman pesimis mereka.

Para peneliti menganalisis data dari 100.000 orang wanita dalam studi yang sedang berlangsung, dan hasilnya adalah wanita yang optimis memiliki risiko sebanyak 30% lebih rendah untuk meninggal karena penyakit jantung, dibandingkan dengan yang pesimis. Para wanita yang pesimis juga memiliki 23% kemungkinan untuk meninggal akibat kanker.

Artinya rasa optimis akan membantu kita untuk lebih survive dalam bertahan menghadapi masa pandemi ini. Persoalan psikologis yang barangkali dirasakan oleh sebagian kita karena terlalu lama di rumah juga mudah-mudahan bisa perlahan dikikis dengan rasa optimis dan tetap positif ini.

2. Merawat Empati

Slavoj Zizek, filsuf dari Slovenia ini melihat bahwa solidaritas di era pandemi berpeluang menciptakan suatu kemanusiaan jenis baru, yang akan membuat kita terhindar dari jebakan penghancuran diri dan sikap barbarisme. Pandemi ini juga mengajarkan kita bahwa aksi bantu membantu kepada pejuang lini terdepan seperti tenaga medis dan lainnya ini juga lebih mudah dilakukan. Varian ikhtiar bantuan kepada masyarakat terdampak juga beraneka macam dimasa seperti sekarang, mulai dari konser dari rumah, membelikan makanan kepada driver ojek online sampai dengan bantuan APD rumahan yang diinisiasi oleh berbagai unit usaha.

Upaya-upaya inilah yang harapannya makin bisa dirasakan dimasa depan, walaupun nanti kita sudah melewati masa pandemi. Dengan segala duka yang kita rasakan, pelajaran berbagi dimasa pandemi ini tetap bisa dirasakan sebagai hikmah.

Akhirnya kita berharap adanya warisan kebaikan terhadap sesama yang lebih panjang, upaya solidaritas yang tak lekang dimakan waktu.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Kekuatan Kebiasaan

Namanya Lisa Allen, seperti dicantumkan dalam buku The Power of Habit yang ditulis oleh Charles Duhigg ini, saat diwawancara pada umur 34 tahun itu, terlihat sangat bugar, cerdas, memiliki banyak karya yang menginspirasi dan mempunyai sederet gelar bergengsi. Namun jika mundur sejenak saat dia menginjak umur 22 tahun, maka tidak seperti saat 34, dimasa lalunya, Lisa merupakan tipe orang dengan beberapa masalah pribadi dan keluarganya. Obesitas, kecanduan obat, bermalas-malasan sepanjang waktu, lilitan utang dan perceraian, merupakan deretan kisah menyedihkan yang dihadapi oleh pemudi dengan umur yang masih demikian belia. Namun seperti yang Anda tahu, 12 tahun sesudahnya semuanya berubah sangat drastis.

Kisah Lisa ini menginspirasi para ilmuwan untuk meneliti sejauh mana dan faktor apa yang membuat orang bisa berubah. Seperti dilanjutkan dalam uraian wawancara berikutnya, Lisa berhasil mengurai kata kunci yang bernama “kebiasaan” sehingga grafik habit nya menjadi sangat positif dan lebih baik dari waktu ke waktu. Hal pertama yang dirubah olehnya adalah kesehatan fisik, mulai dari memiliki program olah raga yang setiap pagi dijalani secara konsisten, memilih makanan dan minuman sehat yang hanya dibutuhkan oleh tubuh. Yang perlahan tapi pasti, ketika fisiknya sudah menjadi semakin fit dan sehat, maka satu persatu kebiasaanya hariannya ikut dirubah. Menjadi rajin membaca dan menulis, melanjutkan studinya, lebih relijius, selaras dengan cemerlangnya karir dan akhirnya 180 derajat hidupnya berubah.

Manusia, seperti kita dan yang lainnya, pada dasarnya adalah kumpulan kebiasaan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Setiap orang memiliki jatah yang sama setiap harinya. Namun yang membedakan diantara mereka adalah “kebiasaan”. Sebagai contoh seperti pesepakbola David Beckham yang rela meluangkan dan menyisihkan waktunya 4 hingga 5 jam perhari dimasa mudanya untuk melatih tendangan bebasnya secara rutin dan sungguh-sungguh, maka dimasa berikutnya kita kenal Beckham sebagai seorang pesepak bola yang ahli dalam tendangan bebas. Legenda basket NBA, Michael Jordan, seorang yang dimasa lalunya pernah dikeluarkan dari klub basket sekolahnya dan bahkan pernah tidak dipanggil oleh dua klub NBA diawal karirnya, merubah dan mengasah diri sedemikian rupa sehingga pada akhirnya menjadi seorang jenius dalam dunia basket.

Seperti Lisa dan beberapa nama diatas, sebenarnya seberapa lama manusia membutuhkan waktu untuk merubah kebiasaannya ?

Salah satu asumsi yang paling terkenal berasal dari buku Psycho Cybernetics oleh Maxwell Maltz. Buku yang dipublikasikan pada 1960 ini menyebutkan bahwa pasien-pasien Maltz membutuhkan waktu 21 hari untuk terbiasa dengan wajah baru mereka setelah menjalani operasi plastik.

Namun, studi yang dilaksanakan pada tahun 2009 terhadap 96 orang menemukan bahwa membentuk kebiasaan baru tidak pasti membutuhkan waktu 21 hari. Para peneliti justru menemukan bahwa waktunya bervariasi, antara 18 hingga 254 hari, tergantung pada masing-masing individu, walaupun rata-rata memerlukan waktu 66 hari. Hal yang sama juga bisa dikatakan mengenai upaya untuk menghentikan sebuah kebiasaan. Kepribadian, motivasi, lingkungan dan kondisi, serta jenis kebiasaan yang ingin diubah turut berpengaruh pada kecepatan seseorang untuk mengubah sebuah kebiasaan.

Kebiasaan yang membentuk manusia, atau manusia yang membentuk kebiasaan ?

Pertanyaan ini, walaupun tidak sama persis, sama dengan pertanyaan “mana lebih dulu antara telur atau ayam ?”. Semoga uraian berikutnya bisa membantu menjawab.

Prof Rhenald Kasali dalam bukunya “Self Driving” menyatakan bahwa sesungguhnya manusia merupakan “Driver” dalam kehidupannya sendiri. Setelah orang tua melahirkan dan membesarkan kita, dimana mereka menganggap bahwa kita sudah punya kesiapan yang cukup untuk memutuskan sesuatu tentang hidup kita, maka “mandat” dari orang tua berpindah kepada pundak anaknya yang telah dewasa.

Sehingga sebagai “driver” yang baik dalam kehidupan kita masing-masing, maka kita wajib punya “peta” agar terarah, yakni berupa cita-cita hidup kita. “Kendaraan” yang nyaman dan mumpuni, yakni berupa fisik, jiwa, akal sehat yang membantu kita menuju cita-cita. Setelah itu kendali terbaik adalah kita sendiri dalam tubuh kita masing-masing. Merumuskan kebiasaan-kebiasaan dan secara rutin menjalankannya, maka kitalah yang memiliki saham terbesar tentang diri kita kelak.

Kemudian, diri kita dimasa depan, sejatinya adalah kumpulan-kumpulan kebiasaan kita dimasa lalu. Apa yang kita lihat saat ini dalam diri kita, adalah refleksi apa yang terjadi dan kita lakukan dimasa sebelumnya. Sehingga secara sadar atau tidak, cara kita melihat diri kita hari ini, akan terrefleksi dimasa depan kita nanti.

Bagaimana dengan Anda ?, yuk bersama-sama jadi lebih baik dan makin positif.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Sains sebagai alat menghadapi pandemic dari masa ke masa

Laporan riset dari Data-Driven Innovation Lab yang dimotori oleh Singapore University of Technology and Design diakhir April 2020 menunjukkan bahwa masa pandemi di sejumlah negara akan berakhir beberapa bulan kedepan sampai dengan akhir tahun 2020, untuk Indonesia sendiri diprediksi akan selesai pada tanggal 31 Juli 2020. Beberapa lembaga lain baik dalam ataupun luar negeri juga mencoba dengan pendekatan sains dan ilmiah untuk menghitung dan memperkirakan seberapa lama masa pandemic ini akan berakhir. Dengan kompleksitas dan varibel-variabel yang terlibat, tentu saja kita perlu berterima kasih atas kerja keras yang telah mereka lakukan.

Perihal ramal-meramal terkait situasi yang akan terjadi dimasa depan, para ilmuwan dengan pendekatan sains telah lama melakukan, sehari-hari kita juga sering menggunakan ramalan cuaca melalui teknologi, bisa dari internet atau juga dari weather forecasting media TV/radio apakah hari esok akan hujan atau cerah, sehingga kita bisa menyiapkan apakah akan membawa payung atau tidak untuk aktivitas outdoor kita. Karena benar, ramalan cuaca ini sangat penting terutama untuk beberapa tipikal mode transportasi laut atau udara yang padanya tingkat keselamatan sangat menentukan sekali tergantung dari hasil prediksi cuaca ini. Bagaimana sains sangat penting dan berpengaruh sekali terhadap aktivitas sehari-hari kita sudah tidak ada kesangsian lagi untuk hal ini.

Ramalan cuaca

Lalu bagaimana peranan sains pada masa lalu ?, Bagaimana pula Islam merawat tradisi sains ?. Ada fakta-fakta yang relatif sama dimasa lalu dimana zaman itu juga pernah bertemu dengan wabah penyakit besar yang bernama Black Death (berasal dari Pes) pada pertengahan hingga akhir abad 14. Saking mematikannya, hingga menewaskan hampir 60 % populasi masyarakat di Eropa. Penyebaran wabah Pes bermula dari serangga (umumnya kutu) yang terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat termasuk di antaranya tikus dan marmot yang terinfeksi wabah. Setelah tikus tersebut mati, kutu menggigit manusia dan menyebarkannya kepada manusia. Lalu bagaimana posisi umat Islam di Eropa saat itu ?.

Sebagai ilustrasi sederhana, dimasa itu Andalusia di Eropa merupakan sebuah tempat dimana ilmu pengetahuan berkembang sangat luas, banyak ilmuwan islam yang dengan karya-karyanya menginsipari negara lain untuk giat dan mempelajari pengetahuan dan sains dari ilmuwan Islam. Bahkan bahasa arab menjadi bahasa Internasional yang bisa menghubungkan antar bangsa dan menjadi in jika ingin masuk dalam komunikasi antar negara.

Ilustrasi Andalusia

Mulai abad ke 10 Kordoba (Andalusia – Spanyol)telah memiliki 70 perpustakaan, salah satu perpustakaan terbesar di Kordoba memiliki 500.000 naskah. Sebagai perbandingan, perpustakaan lain di eropa saat itu hanya memiliki tak lebih dari 400 naskah, bahkan universitas Paris di abad 14, baru memiliki sekitar 2.000 buku. Pada tiap tahunnya di Al-Andalus diterbitkan kurang lebih 60.000 buku, termasuk risalah-risalah, puisi, polemik dan antologi.

Sebagian besar sejarawan menuliskan, dibawah ke-Khalifahan Kordoba, Al-Andalus merupakan mercusuar untuk belajar segala ilmu pengetahuan. Kordoba menjadi salah satu pusat kebudayaan, pusat ekonomi terkemuka, baik di Basin Mediteranean dan dunia Islam masa itu.

Terbayang betapa “cahaya pengetahuan” Andalusia sangat terang disaat Eropa sedang “gelap-gelapnya”. Di masa itu pula di Eropa yang sebagian besar masih berpaham fatalistik, bahwa jika ingin selamat maka tunduk patuhlah pada gereja (haram untuk berbeda pendapat), sehingga adanya wabah itu, sebagian besar dari mereka beranggapan sebagai kutukan gereja kepada orang-orang yang tidak menurut pada perintah.

Andalusia (Spanyol) pada masa itu juga ikut terimbas the Black Death. Hanya saja, para sarjana Muslim setempat lebih lanjut meneliti apa penyebab dan bagaimana metode penanganannya. Di antara mereka adalah Ahmad bin Ali bin Khatimah. Ilmuwan dari Almeria itu menulis Tahsil al-Gharad al-Qasid fii Tafil al-Marad al- Wafid sekitar tahun 1349. Beliau menduga buruknya kualitas udara sebagai pemicu persebaran wabah.

Ilmuwan lainnya, Ibnu al-Khatib mengarang kitab Muqni’at al-Sail ‘an al-Marad al-Hail. Di dalamnya, sosok asal Granada itu menjelaskan hipotesis tentang transmisi atau penularan penyakit.

Gagasan al-Khatib belakangan diadopsi oleh ahli biolog Prancis, Louis Pasteur, ratusan tahun kemudian. Salah satu uraian Muqni’at mengenai antisipasi wabah: Kebanyakan orang-orang yang telah mengadakan kontak dengan seorang penderita wabah akan meninggal dunia.

Sementara itu, mereka yang tidak begitu (berinteraksi) akan tetap sehat. Pakaian atau keranjang (yang sebelum nya dipakai penderita wabah) boleh jadi membawa penyakit ke dalam rumah; bahkan, sebuah anting sekalipun dapat berakibat fatal bila dipasang pada telinga seseorang (yang sehat).

Penyakit itu dapat muncul dari suatu rumah di suatu kota, kemudian ia menyebar dari orang ke orang tetangga, saudara, atau tamu rumah itu. Di masa kita saat inilah, dalam menghadapi covid-19, kita memiliki istilah yakni Social Distancing dan Physical Distancing yang memiliki makna sama dengan kondisi saat itu. Singkat kata, pada akhirnya dengan tetap melakukan “isolasi mandiri”, maka wabah ini perlahan tapi pasti akan masuk pada angka yang semakin minimalis dan akan menghilang.

Begitulah dimasa lalu kita diajarkan, sains telah menjadi salah satu alat penting untuk menghadapi wabah besar ini dengan segala bentuknya. Jika dimasa lalu kita diajarkan dengan pelajaran penting dan berakhir dengan keberhasilan, lagi-lagi pengalaman adalah guru terhebat yang kita bisa belajar banyak darinya.

Sehingga hari-hari ini, dimasa Ramadhan ini, kampanye tagar #tetapdirumah #dirumahaja bersama keluarga tercinta kita, nampaknya wajib benar-benar kita lakukan dengan istiqomah, seraya di bulan penuh berkah ini kita terus berdoa kepada Allah agar memampukan kita menghadapi masa-masa sulit ini.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Mengelola disiplin positif pembelajaran jarak jauh

Masa belajar di rumah yang sepertinya akan tetap panjang saat ini, perlu kita rawat dengan baik agar tidak menjadi kontraproduktif dengan semangat belajar siswa di rumah. Hal ini butuh penyiapan dari berbagai sisi, mental, spiritual, fisik dan ditambah hal-hal pendukung lainnya seperti kemampuan teknis dan sarana.

Bagaimana memanajemen pembelajaran jarak jauh agar tetap produktif dan sejalur dengan pertumbuhan kompetensi siswa ?

Seminar berikutnya dalam rangka tetap menjaga semangat disiplin positif di era pembelajaran jarak jauh. Bagi yang berminat dan berkesempatan bisa join bareng kita. Informasi lebih lanjut baca twitpict dibawah ini ya. Tetap semangat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Buku Cloud Computing “The Power of ownCloud. 10 Langkah Mudah Membangun dan Mengelola Sendiri Teknologi Cloud di Lingkungan Anda”

Outline


Ingin belajar cloud computing tapi gak tahu mulai dari mana ?
Mau ngembangin cloud computing sendiri, tapi nyari referensinya gak ada ?
Sudah ketemu panduannya, tapi gak ada yang cocok ?

Jawabannya ada disini. Baca bukunya, pahami teorinya, praktekan materinya..

Buku ini menjawab penasaran Kamu sama cloud computing..

“The Power of ownCloud. 10 Langkah Mudah Membangun dan Mengelola Sendiri Teknologi Cloud di Lingkungan Anda”


 

Kenapa buku ini menarik ?

– Berdasarkan kasus nyata penerapannya dilapangan
– Penyampaian sederhana dan langsung berorientasi praktis, karena per bab merupakan gambaran tercapainya satu kompetensi tertentu
– Berbasis open source sehingga software gratis, mudah diperoleh, dapat di customize sesuai dengan masing-masing kebutuhan user
– Pengaplikasiannya sangat fleksibel, bisa dalam lingkungan dengan jumlah user kecil atau besar

Bagaimana kata para pakar tentang buku ini ?

 

onno

(Onno W. Purbo – Pakar IT dan Open Source)

“Membaca sepintas karya mas Dedy, buku cloud ini akan sangat bermanfaat bagi mereka yang ingin membangun cloud untuk keperluan sehari-harinya maupun untuk keperluan profesional lainnya. Dibahas detail teknik cara membuatnya sehingga kita dapat membuat sendiri cloud tersebut. Semoga buku ini bisa membantu kita semua dalam membangun infrastruktur yang merakyat.”

 

romi

(Romi Satria Wahono – Founder IlmuKomputer.Com dan CEO Brainmatics.Com)

“Ketika teknologi cloud computing berkembang semakin rumit, mas Dedy Setyo Afrianto berhasil menyajikan dengan bahasa yang mudah, plus contoh penerapan yang lebih nyata. Buku wajib bagi yang tertarik membangun sendiri cloud computing.”

 

rus

(Rusmanto – Pakar Linux dan Open Source, Pemred Majalah Komputer InfoLinux)

“Buku ini merupakan bidang keahlian komputer yang sedang menjadi trend namun belum banyak ditulis dalam bahasa Indonesia. Untuk itu kami mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Saudara Dedy Setyo Afrianto yang telah berhasil menyusun buku ini dan mendedikasikan karyanya untuk pendidikan dan pengembangan teknologi informasi di Indonesia. “

Cover Buku

Daftar isi buku :

1. Prolog
a. Tentang Cloud Computing
b. Sekilas ownCloud
c. Studi Kasus Lapangan
d. Persiapan server, koneksi dan software

2. Instalasi dan Konfigurasi ownCloud diserver anda
a. Masalah dan Solusi Instalasi ownCloud
b. Penggunaan ownCloud untuk Manajemen File dan Folder Upload dan Download
i. Pembuatan, rename dan delete file-Folder
ii. Sharing user
iii. Penulisan Kolaborasi

3. Setting Mudah ukuran file maksimal di ownCloud

4. Sinkronisasi Antar Device
a. PC Windows
b. – PC Linux Ubuntu
– Mounting ownCloud pada folder Ubuntu
c. Smartphone Android

5. Media Sharing dengan Mudah di ownCloud

6. Mencicipi performa ownCloud sebagai Music Server

7. a. Menambahkan kapasitas penyimpanan ownCloud dari harddisk local dan Dropbox
b. Menambahkan kapasitas penyimpanan ownCloud dengan Google Drive
c. Integrasi ownCloud sebagai eksternal storage di LMS Moodle

8. Penggunaan Contact dan Sinkronisasinya di gadget android

9. Penggunaan Calendar dan sinkronisasinya di PC Windows

10. Pembahasan Modul ownCloud
a. User Photo
b. Internal Message

Daftar Pustaka
Profil Penulis

 

Sumbangsih terhadap dunia akademik

Sebagai informasi, tulisan-tulisan Kami secara perlahan namun pasti, ikut turut serta dalam kontribusinya di dunia penelitian dan akademik. Ini (sebagian kecil) capture daftar pustaka dari berbagai penelitian/skripsi/tesis/digital library.

referensi dedy

(klik gambar diatas untuk memperbesar)

Testimoni para pembaca

Beberapa testimoni dari para pembaca buku ini.

TESTI4

testi5

testi7

testi8

testi9

testi10

Buku ini bisa dengan mudah didapatkan via Gramedia pada link ini https://www.gramedia.com/products/the-power-of-owncloud-membangun-dan-mengelola-sendiri

atau toko2 buku lain disini atau disana yg tersebar di Indonesia.

Webinar Education bersama dedy setyo

Para Pemimpin dan Pendidik hebat..

WhiteBoard Edu kembali mempersembahkan:
Be wonderful leader and teacher training

Dengan judul

Bagaimana Bermigrasi kepada Pembelajaran Online dengan Efektif?

Bersama coach :
Dedy Setyo Afrianto
Praktisi & Konsultan E learning

Daftarkan diri anda di tautan

http://bit.ly/BeWonderfulTeacher

FREE

Pelaksanaan:

Sabtu 19 september
Pukul 09.00-11.00
Via Zoom

Link akan diberikan 3 jam sebelum acara melalui WAG

Nara hubung :
Lily D ( wa.me/6281297786222 )
Izza ( wa.me/6281319364918 )

Salam
WhiteBoard Edu

3 Tips Menulis Artikel di Media – Video Animasi

Bagi sebagian orang yang hendak memulai menulis, kadang menjadi hal yang menakutkan untuk mengawali.

Terlebih jika perasaan takut ini makin menghantui ketika banyaknya kekhawatiran.

3 Tips menulis artikel di media ini disajikan dengan animasi, semoga bisa membantu Anda untuk memahami lebih baik dan mudah.

1. Keep reading and connecting the dots

2. Write what you did, and do what you wrote

3. Just Write it !

Tetap semangat menulis.

Diskusi dan konsultasi hubungi Dedy Setyo Afrianto (WA 085718904956 atau email : dedy@dedysetyo.net).

Book Teaser : Easy Learning – Cara Mudah Menerapkan e-learning dari A sampai Z untuk Pemula

Book Teaser Easy Learning – Cara Mudah Menerapkan e-learning dari A sampai Z untuk Pemula by Dedy Setyo Afrianto.

Buku ini akan membantu Anda secara step by step bagaimana menerapkan e-learning dan menggunakannya dengan efektif.

Berbasis dari pengalaman terbaik penulis sejak tahun 2007 dari berbagai lembaga pendidikan, disusun runtut dari fase strategis sampai dengan teknis, harapannya akan mempermudah bagi Anda yang baru akan memulai, atau bisa juga untuk mendalami kajian ilmu ini.

Pemesanan dapat melalui WA 085718904956 atau isikan form bit.ly/pesan_easy.

Selamat belajar.

Seminar Online Mengelola Pembelajaran Jarak Jauh bersama JSIT Pusat

Flyer kegiatan bersama Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia

Bagi rekan-rekan guru yang telah melakukan #teachfromhome sejak beberapa bulan yang lalu, kita perlu tekan “pause button” sebentar dan melakukan refleksi efektifitas pengelolaan pembelajaran yang sudah kita lakukan.

Yuk kita sama2 diskusi untuk “tarik nafas” sejenak, lalu kita siapkan bekalan terbaik PJJ dimasa depan. Sila bisa diikuti seminar online diatas. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto.

Artikel dedy setyo Masuk Media Online Nasional

Alhamdulillah, wa syukurillah, artikel yang berjudul “Merawat Empati Menjaga Solidaritas” berhasil masuk media online Republika. Bagi pembaca yang ingin membaca secara lengkap (2 halaman), silakan menuju ke link berikut

https://republika.co.id/berita/qcfel6282/merawat-empati-menjaga-solidaritas

Semoga dapat menyebarkan kebaikan seluas-luasnya, memberikan inspirasi kepada yang lain. Terima kasih.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Berbagi Semangat, Berbagi Inspirasi..