Kecerdasan Bersyukur

Anda boleh bersepakat atau tidak, Saya punya perumpamaan bahwa “kesyukuran” itu sama seperti skill lain yang bisa diasah dan dikembangkan. Jika Anda ingin ahli dalam bidang kuliner, maka mencoba menu-menu masakan baru setiap harinya, memastikan indra pengecap yang lebih “perasa” dalam setiap kesempatan memasak, merupakan upaya yang inline untuk menjadikan Anda master dalam hal masak ini.

Konon, menurut Malcolm Gladwell dibukunya yang berjudul “Outliers”, jika kita ingin ahli dalam bidang apapun, berlatih 10.000 jam dicicil secara kontinyu setiap hari akan menjadikan kita seorang master pada waktunya nanti. Gladwell selalu meyakini, bahwa kepakaran seseorang sebenarnya bisa dilatih dan diasah.

Malcolm Gladwell Penulis Outliers. Sumber : www.cbsnews.com

Begitu juga dengan bersyukur, mengasah kemampuan ini setiap harinya, adalah dengan merasakan karunia-Nya baik yang bisa kita ketahui dan yang tidak kita ketahui. Baiklah, jika penglihatan (indera mata) kita masih terang benderang saat ini, mampu melihat rupawannya teman-teman kita dalam jarak 100 meter, ini merupakan nikmat yang kita ketahui. Namun adakah nikmat yang tidak kita ketahui namun selalu dirasakan ?, ternyata banyak. Jantung kita yang sehat ini, umumnya berdetak sekira 70 kali per menit, ternyata bukan dalam kendali kita, ada kuasa Allah yang luar biasa pada peristiwa ini, makin lebih lambat atau lebih cepat denyutnya dalam waktu satu menit akan membuat ketidak normalan berikutnya pada tubuh kita yang lain.

Berikutnya, “rejeki kita tahu dimana pemiliknya, namun kita belum tentu tahu dimana rejeki kita”. Jika kita saat ini masih merasakan nikmatnya bernafas dengan udara segar dipagi hari, maka ini sejatinya merupakan sebesar-besarnya kenikmatan. Ya, oksigen yang memenuhi paru-paru kita di pagi hari itu, dihasilkan oleh proses fotosintesis tumbuhan dengan berbagai macam tahapan yang demikian kompleks. Pertanyaannya kemudian, apakah kita tahu dari proses fotosintesis tumbuhan mana yang mengirimkan oksigen itu ke sistem respirasi (pernafasan) kita ?, jawabannya kita tidak tahu. Betul, kita tidak pernah tahu dari tumbuhan mana oksigen itu berasal, apakah dari taman tetangga sebelah, ataukah dari pohon diseberang sana yang pernah ditanam oleh teman kita yang lain. Ajaibnya, oksigen yang masuk ke hidung kita ini, seperti punya GPS yang presisi, kemana dia akan “meluncur”. Ada rahasia Allah pada proses ini, mirip kendali jumlah detak jantung dan aliran darah yang senantiasa berjalan pada tubuh kita ini, manusia tak pernah tahu, yang dia tahu, dia bisa bernafas, jantungnya berdenyut dan darahnya mengalir.

Pepohonan. Sumber : bbci.co.uk

Dalam garam yang membuat masakan istri kita jadi lebih berasa, ada rahasia-Nya juga. Kita tidak pernah tahu dari deburan ombak samudera mana dia berasal, dari petani garam yang mana air laut itu diambil. Bisa jadi, deburan ombak ini berasal dari selat sunda, sudah terhitung bulan atau tahun dia ada disana, berdebur-debur, menghantam karang dan angin, menunggu dihantarkan kepada alamat si pemilik nya. Kemudian ada petani garam yang mengambil beberapa ember untuk dijadikan garam, dijemurnya ia, dari 10 ember itu hanya menjadi 5 ember saja, dengan beragam proses yang terjadi, akhirnya gegaraman ini dijual di pabrik garam di Lampung sana. Beberapa truk mengambilnya untuk dihantarkan ke pasar-pasar tradisional ke berbagai titik, ada yang ke pasar induk Jakarta, ada juga ke Bogor, dan berbagai daerah atau tempat lainnya. Beberapa pedagang eceran yang dekat wilayah kita, membeli dalam jumlah banyak, agar bisa dijual lagi ke pedagang sayur yang sering mampir ke komplek perumahan kita. Istri kita suatu pagi membeli beberapa gram, agar sayuran yang dimasaknya siang itu jadi lebih terasa nikmat. Kemudian setelah sayur mayur yang dimasak matang, tiba waktunya untuk makan siang. Lalu hanya beberapa langkah saja dari tempat kita berpijak, dilanjutkan beberapa suap sayur berisi garam dari selat sunda ini memenuhi lambung kita.

Alangkah indahnya, rejeki kita memang akan selalu tahu akan kemana dia pergi, diwaktu dan kesempatan yang paling tepat, sementara Kita, jika tlah tertakdir dari Allah untuk kita, maka tak akan meleset tempat dan waktunya.

Menurut Ibn al-Qayyim dalam kitabnya, Madarij as-Salikin, cerdas bersyukur berada di tiga tempat. Pertama, berada pada hatinya, mengakui (itiraf) bahwa ada Sang Pemberi Rejeki yang mengaturnya dengan skenario yang maha detail dan terperinci, tak akan pernah meleset walau sedikitpun.

Kedua, ada pada lisan dan perbuatannya. Bibirnya mengucap alhamdulillah seraya diiringi dengan pendayagunaan nikmat itu sesuai dengan tujuan kemanfaatannya. Jika motor Anda masih normal berjalan dengan baik, maka menggunakannya kepada tempat-tempat yang diridhoi Nya, adalah cara terbaik sebagai manifestasi kesyukuran.

Ketiga, menundukkan kenikmatan untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiyatan. Akal yang sehat, digunakan untuk berpikir kreatif dan inovatif, pendengaran yang masih peka, digunakan untuk mendengarkan yang akan menambah kemanfaatan dalam kehidupan, sehingga makin maslahat kegunaannya, sebagai indikator sederhana bahwa kita sedang bersyukur.

Saya, orang yang masih belajar ini, mencoba mentadaburi rasa syukur ini, mirip dengan prasyarat keimanan. Bahwa iman itu ada di niat (dalam hati), lisan (ucapan) dan amalan (perbuatan). Maka mengasah kesyukuran, identik dengan melatih kita untuk lebih beriman. Semakin kita berupaya untuk bersyukur, maka semoga Allah perkenankan untuk terus memupuk rasa keimanan kita dan kecintaan kita kepada Nya. Semoga kita masih diberikan kesempatan untuk mesyukuri nikmat-nikmat dari Nya.

Lomba Menulis AISEI

Beberapa waktu yang lalu, dalam momen yang sangat baik, Saya Alhamdulillah berkesempatan mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan oleh AISEI (Association For International Minded School Educators Indonesia). Lomba ini diikuti oleh teman-teman penulis hebat dari seluruh Indonesia. Setelah melewati proses seleksi dan akhirnya diumumkan, Alhamdulillah diberi tempat sebagai Juara 2 pada ajang ini, walau masih terbata-bata mengeja kata dan peristiwa.

Sertifikat Penghargaan Juara 2 Lomba Menulis Tingkat Nasional

Siang ini, salah satu kiriman hadiahnya tetiba sampai di rumah saya. Yakni berupa paket printer keren dari Epson langsung.

Saya dan Hadiah Printer keren dari Epson

Sekali lagi, terima kasih kepada segenap panitia, dewan juri, AISEI, Epson dan teman-teman penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Semoga terus senantiasa memberikan semangat untuk berkarya.

Romantisme ala Remaja Penggerak Perubahan

Setiap pertengahan bulan Februari, sebagian remaja menganggapnya sebagai hari kasih sayang. Mereka yang sedang galau dengan momen ini akan mengatakan, “Begitulah cinta, deritanya tiada pernah berakhir”. Bagi Anda penikmat serial TV Sun Go Kong (Kera Sakti) era 90-an, Anda pasti bersepakat kalau kalimat ini demikian terkenal kala itu. Seperti kata si Pat Kay yang berkali-kali gagal dalam kisah cintanya.

Namun Saya masih meyakini, masih lebih banyak jumlah remaja kita yang masih “waras”, sehingga tak ada hari yang spesial untuk mengklaim nya sebagai hari cinta.

Kisah percintaan, mulai dari Romeo-Juliet, Laila-Majnun, sampai dengan Rahul-Anjali (di film India legendaris Kuch-Kuch Hotta Hai tahun 98), selalu memberikan pesan penting bahwa cinta itu selalu menggerakkan pelakunya. Menggerakkan untuk berkorban, melewati lautan, mendaki gunung dan bukit, hingga rela mati karena bucin (istilah Buta-Cinta yang populer hari ini).

Menurut sebagian orang, cinta memang resiprokal. 10 yang Anda terima, akan menuntut 10 lagi yang musti Anda berikan. Makin banyak yang Anda dapatkan, maka siap-siap Anda akan mengeluarkan sebanyak itu pula, Anda boleh sepakat atau tidak tentang hal ini. Tapi tidak dengan para remaja ini, cinta dan pengobanan mereka tak berharap balasan. Disaat banyak seumurannya yang terkena “virus merah jambu”. Cinta ala mereka adalah dengan mengobarkan semangat perubahan kepada orang-orang disekitarnya. Mereka gelisah dengan kondisi masyarakat dan alamnya yang terganggu. Sekaligus mengabarkan kepada kita, bahwa cinta yang besar itu, memantik inspirasi dan gagasan yang bermanfaat untuk dunia dimasa yang panjang.

Dua orang remaja yang hidup dimasa abad 21 ini menginspirasi jutaan remaja lainnya untuk ikut bersama-sama peduli dalam bidang pendidikan dan lingkungan. Namanya Malala Yousafzai dan Greta Thunberg. Mereka adalah pelopor pergerakan besar diabad ini.

Malala Yousafzai 

Malala merupakan gadis remaja dari Lembah Swat Pakistan yang saat pendudukan Taliban disana, terkena imbas kekejaman mereka. Malala merupakan putri dari seorang guru yang bernama Ziauddin Yousafyai. Seorang Ayah yang menjadi pendorong dan penyemangat putrinya untuk mencintai belajar.

Malala Yousafzai

Seperti remaja usia sekolahan yang lainnya, yang mengisi hari-harinya dengan berangkat sekolah diawal pagi, Taliban pada awalnya tidak masalah dengan hal ini. Seiring dengan berjalannya waktu, Taliban membuat pembatasan-pembatasan, termasuk diantaranya melarang perempuan disana untuk sekolah. Tidak hanya melakukan pelarangan untuk para siswi belajar di sekolah, bahkan ditambah dengan ancaman jika tetap nekat berangkat akan ada konsekuensi lanjutan.

Suatu hari, BBC (kantor berita internasional) datang memberikan kesempatan bagi para siswa yang ingin menulis catatan harian melalui blog (berbahasa urdu) seputar kejadian disekitar mereka. Malala berkeinginan untuk menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, bahkan disupport penuh oleh ayah dan ibunya.

Ibunya berkata “Kebenaran yang harus datang, dan kepalsuan harus mati”. Ya dengan cara inilah kebenaran akan bersuara lebih lantang dari sebelumnya.

Demi alasan keamanan, Malala diberikan nama anonim yakni Gul Makai. Malala rutin menulis kegiatan sehari-harinya, suasana hati dan ketakutan Malala beserta teman sebayanya yang ingin bersekolah secara normal, namun terhalang karena ancaman-ancaman yang ada. Ternyata tulisan Malala (walaupun dengan identitas anonim), berhasil memantik perhatian sekaligus keprihatinan dari banyak masyarakat, tidak hanya dari Pakistan saja, namun juga dari negara-negara lainnya terutama setelah tulisan tersebut ditransliterasi kedalam bahasa inggris.

Dengan cara inilah dunia jadi lebih tahu apa yang terjadi, bahwa keinginan remaja untuk meraih pendidikan, mendapatkan banyak halangan bahkan ancaman jiwa. Suara Malala lebih “lantang” lagi setelah identitas aslinya dibuka ke publik, waktu itu Taliban berhasil dipukul mundur sejenak oleh Pemerintah Pakistan. Mulai saat itu, Malala dengan identitas aslinya banyak diminta untuk berbicara tentang keprihatinan yang telah terjadi. Malala telah dikenal dunia. Hal inilah yang mengakibatkan Taliban “mengincar” Malala untuk menjadi target pembunuhan berikutnya.

Tanggal 9 Oktober 2012, siang hari saat sepulang dari sekolah, bus itu menjadi saksi bahwa percobaan pembunuhan kepada Malala benar-benar terjadi. Malala beserta teman-temannya menjadi sasaran penembakan anggota Taliban. Untungnya, Malala dan teman-temannya walaupun terkena tembakan berhasil diselamatkan. Dengan tindakan medis yang rumit bahkan hingga dilarikan sampai ke Inggris (dengan bantuan komunitas internasional), Malala berhasil melalui rangkaian operasi bedah di kepalanya. Proses recovery yang sangat panjang, dengan bantuan banyak ahli medis dan fisioterapis, membuat Malala mendapatkan “kehidupan baru”.

Kejadian-kejadian ini tidak membuat nyali Malala ciut, bahkan “nyanyian” Malala malah lebih kencang dari sebelumnya. Malala diundang dibanyak negara seperti AS, Nigeria, PBB dan forum-forum internasional  untuk menyemangati dan menginspirasi bahwa perjuangannya belum usai. Malala telah menjadi simbol bagi belasan juta remaja putri di Pakistan untuk memperjuangkan haknya dalam pendidikan.

Malala di forum PBB. Sumber : Aljazeera

Tahun 2013, Malala dinobatkan oleh Majalah Time sebagai 100 orang yang berpengaruh didunia.  Sementara setahun sesudahnya (tahun 2014), Malala memperoleh nobel perdamaian saat umurnya baru menginjak 17 tahun. Kiprah Malala, tidak hanya memiliki pengaruh kepada sebayanya di Pakistan, namun juga diseluruh dunia.

Greta Thunberg

Bagaimana dengan Greta Thunberg ?. Kisah remaja asal Swedia ini juga menginspirasi banyak orang untuk bergerak. Thunberg pertama kali mendapatkan liputan berita, saat dirinya menjadi demonstran tunggal di luar gedung parlemen Swedia pada Agustus 2018. Aktivis berusia 15 tahun itu mengajak remaja dunia lainnya untuk “mogok sekolah untuk iklim”. Thunberg mempopulerkan gerakan ‘Fridays for Future’ (gerakan setiap Jumat) yang mendorong pemerintahan Swedia untuk mengambil tindakan tegas dalam memerangi perubahan iklim, khususnya dalam mengurangi emisi karbon di lingkungan.

Akhir Tahun 2018, Thunberg diundang untuk memberikan pidato pada Konferensi PBB untuk bicara tentang perubahan iklim di Polandia. Kalimat-kalimat Thunberg itu menginspirasi banyak orang untuk mendukung gerakan ‘Fridays for Future’ yang dimulai olehnya.

Fridays for Future. Sumber : http://redgreenandblue.org/

Pada 20 September 2019, sekira 4 juta orang yang sebagian besar seumuran dengannya, turun ke jalan untuk melakukan 2500 aksi yang digelar lebih dari 160 negara ditujuh benua. Aksi ini tergolong sebagai unjuk rasa iklim terbesar dalam sejarah dunia.

Sempat masuk sebagai nominator penerima Nobel perdamaian, Thunberg mendapatkan ganjaran sebagai Ambassador of Conscience oleh organisasi hak asasi manusia Amnesty International. Majalah TIME juga menobatkan Greta Thunberg sebagai TIME Person of the year pada tahun 2020.

Greta di forum PBB. Sumber : https://static.theprint.in/

Greta Thunberg telah menginspirasi jutaan manusia lainnya diberbagai negara, bahwa masalah lingkungan hidup bukan hanya menjadi issue dinas lingkungan hidup semata, namun juga menjadi pembahasan di seluruh dunia. Bahkan tidak hanya dijaman ini saja, karena lingkungan hidup ini juga menjadi warisan generasi berikutnya. Seperti pada kalimatnya saat diwawancara, “Kita tidak bisa terus hidup seperti tidak ada hari esok, karena memang ada hari esok”.

Greta dan Malala dalam satu pertemuan di Oxford UK. Sumber : Instagram Greeta Thunberg

Dua remaja hebat diatas, memang tidak akan habis dibicarakan pada tulisan ini. Kecintaan mereka pada masyarakat dan lingkungannya, menimbulkan efek menggerakkan rasa kepedulian, pengorbanan, dan mengobarkan semangat baru. Tidak hanya pada negaranya saja, namun juga pada masyarakat dunia. Tidak hanya dikenal saat ini saja, namun juga dimasa-masa berikutnya.

Cinta memang tidak harus selalu berbalas pada masa yang sama, namun efek cinta nya, selalu berhasil melampaui ruang dan waktu.

Membangkitkan Raksasa di Kelas Kita

Tugas para orang tua dan guru dalam proses perkembangan anak-anak/para siswa, sejatinya adalah membawa mereka sampai pada potensi terjauhnya. Howard Gardner (pakar psikologi perkembangan AS) pada tahun 1983 pernah menulis tentang multiple intelligence (kecerdasan jamak) melalui bukunya yang berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences, bahwa setiap manusia sebenarnya tersimpan berbagai macam kecerdasan dari lahirnya, mulai dari kecerdasan musik, logic-matematika, kinestetik (olah fisik) dan lainnya seperti diilustrasikan dengan sangat baik pada gambar berikut.

Illustrasi oleh JR Bee. Sumber Verywellmind.com

Ada 8 macam kecerdasan yang pada masanya Gardner berhasil mengidentifikasi betapa manusia ternyata memiliki sekian banyak potensi untuk mencapai titik terjauhnya. Jika kita masih melihat siswa atau anak-anak kita masih “tergopoh” pada satu hal, jangan-jangan tujuh yang lainnya belum secara seksama kita lihat lebih dalam.

Ada kisah menarik yang disarikan dari film Blind Side, dirilis tahun 2009, disutradarai oleh John Lee Hancock. Film ini diadaptasi berdasarkan kisah nyata, diambil dari buku The Blind Side: Evolution of a Game yang ditulis oleh Michael Lewis pada tahun 2006.

Kisah ini dimulai dari masa kecil Michael Oher yang lahir dan dibesarkan didaerah pinggiran kumuh di kota Memphis, Tennesse. Keluarganya termasuk kalangan ekonomi menengah ke bawah disana. Pada umur dimana Oher kecil masih butuh besarnya perhatian dari orang tuanya, Ayahnya sering keluar masuk penjara, sementara Ibunya kecanduan alkohol dan cocain. Walhasil tumbuh kembang Oher tidak optimal. Oher ini secara fisik sangat tinggi besar dibanding teman-temannya sehingga sering dipanggil Big Mike oleh yang lain.

Michael Oher di daerah pinggiran kumuh Memphis (Film The Blind Side, 2009)

Dia mengulang tahun pertama dan kedua sekolahnya, datang ke 11 sekolah lainnya karena sering pindah-pindah sekolah, sehingga Dia menghabiskan 9 tahun pertamanya di sekolah dasar. Di sekolahnya yang terakhir, IQ nya terhitung hanya 80, ditambah dengan kesulitan membaca dan memahami kosa kata baru. Hal ini membuat para gurunya kesulitan untuk memberikan pengajaran kepada Oher, sehingga sering sekali Oher hanya mendapatkan nilai E atau nol, karena dilembar jawaban hanya tertulis nama nya saja, tapi tidak dengan jawaban dari soal/pertanyaan ujian. Sampai disini sebenarnya para guru masih sering mendiskusikan dengan cara apa agar Oher bisa lebih baik lagi di esok hari. Para guru belum menyerah,  karena meyakini kalau Oher punya potensi.

Singkat  cerita, Leigh Anne dan Sean Tuohy, pasangan suami istri ini mengadopsi Oher. Leigh Anne merasa kasihan dengan Oher kecil karena latar belakang keluarganya yang kelam. Tidak hanya memberikan kesempatan tinggal di rumahnya, mensupport kebutuhan harian, membelikan baju baru dan berbagai perlengkapan sekolah lainnya, keluarga baik ini juga mencarikan guru privat tambahan untuk bisa datang ke rumahnya. Keluarga ini memang dikenal keluarga yang baik, selain juga memiliki kemampuan ekonomi yang mapan. Sean Tuohy merupakan bisnismen yang memiliki restoran tidak kurang dari 85 titik di kota itu.

Perhatian keluarga ini kepada Oher juga terlihat dari kemampuan melihat potensi Oher yang selama ini belum terlihat. Saat dilakukan psikotes, ketika pada banyak aspek, skornya sangat kecil, namun untuk bagian “naluri melindungi”, Oher memiliki skor 98. Skor ini sangat tinggi dan terlihat dari keseharian Oher. Bahkan pernah ada insiden kecelakaan berkendara bersama Oher dan anak kandung Anne (bernama SJ), karena naluri melindunginya yang tinggi, Oher menahan pecahan kaca mobil dengan lengannya, sehingga  SJ selamat dari kecelakaan mengerikan itu.

Leigh Anne dan Sean Tuohy memahami bahwa kekurangan Oher dalam bidang akademis, tertutupi oleh kemampuannya yang lain, yakni kemampuan “melindungi”. Hal ini pulalah yang menginspirasi mereka untuk mengasah kemampuan Oher dalam olah raga Football. Football ini termasuk olah raga favorit disana. Dengan karakteristik olah raga adu fisik yang cocok dengan badan Oher, dan kemampuan “melindungi” nya yang tinggi, maka melindungi bola agar tidak mudah direbut musuh-musuhnya menjadi keahlian Oher yang mumpuni. Waktu berjalan cepat, kemampuan Oher ini akhirnya dikenal oleh banyak club profesional disana, mereka sangat semangat untuk menawarkan dan mengundang Oher agar bisa bermain untuk tim nya. Akhirnya Oher memilih untuk masuk ke tim Ole Miss Rebel, seraya mendapatkan beasiswa ke Universitas Missisipi.

Poster Film The Blind Side, 2009.

Oher akhirnya dikenal sebagai pemain football yang sukses dengan banyak catatan prestasi dimasa depannya.

Apa yang terjadi pada Oher ini, anak-anak dengan latar belakang keluarga yang menyedihkan, ditambah dengan kemampuan akademik yang pas-pasan, bisa jadi banyak terjadi dalam kelas-kelas kita. Betapa banyak anak-anak kita yang seharusnya mereka memiliki potensi besar di sisi yang “tidak terlihat” hingga kini. Karena bisa jadi kita sibuk pada “sudut teropong” dari satu sisi, namun belum nampak pada sisi yang lain. Selaras dengan judul film The Blind Side (sisi buta), yang mengajarkan kita, bahwa selama ini banyak keterjebakan kita dengan salah melihat, karena hanya melihat dari satu sisi itu saja.

Apa pesan moral dari kisah Michael Oher ini ?, sesungguhnya saya kira banyak sekali, namun agar Anda makin penasaran menonton filmnya sendiri, saya ambilkan tiga saja.

1. Mencari dan menggali potensi terbaik dari para siswa kita.

Diskursus tentang kajian ini, teman-teman dari psikologi atau BK yang lebih paham, ada beberapa alat tes yang bisa mengukur baik secara genotip (gen, turunan dari orang tua) ataupun fenotip (kombinasi gen dan intervensi lingkungan). Cara pengambilannya juga bermacam, ada yang lewat sidik jari, ada juga dari pengambilan lewat tes tulis atau wawancara. Semakin kesini, beragam rupa tes ini dengan kelebihan dan kekurangannya akan lebih mengkayakan sekolah atau orang tua untuk memilih yang terbaik

Hasil penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) juga bisa menjadi gambaran,  bahwa sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia mengakui jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya. Survei pada 2017 itu juga menemukan ‘salah jurusan’ bisa berdampak pada studi. Jangan sampai keadaan ‘salah jurusan’ ini diperparah dengan kekeuhnya orang tua untuk memaksakan jurusan kuliah anak-anaknya.

2. Mendorong potensi ini mencapai titik terjauhnya

Tugas kita sebagai guru atau orang tua adalah membimbing dan memfasilitasi, jelaskan pilihan-pilihan itu beserta hal apa saja yang perlu dikuasainya saat ini dan dikuatkan nantinya. Memang tak banyak keluarga yang semampu keluarga Leigh Anne dan Sean Tuohy, namun dimasa keterbukaan informasi saat ini, akses terhadap informasi melalui dunia maya juga bisa mendorong tumbuhnya potensi anak-anak kita makin melejit. Dengan apa ?, yang paling awal pastikan anak-anak kita mencintai belajarnya. Uraian lebih lengkap bisa dibaca pada tulisan saya yang berjudul “Pemelajar otonom” yang sempat dipublish oleh harian nasional Republika.

3. Komunikasi yang baik antara pihak guru, orang tua, wali kelas dan BK.

Keunikan anak-anak kita dengan segala macam potensinya, akan juga membuat pola didiknya juga unik. Hal ini yang perlu dikomunikasikan dengan baik antar pihak ini. Temuan potensi Oher pada “naluri melindungi”, awalnya terjadi karena komunikasi yang apik antara orang tua angkatnya dengan wali kelasnya. Sehingga hal ini yang mendorong orang tua Oher untuk mencari jalan terbaik bagi potensinya.

Setiap sekolah memiliki cara yang beragam untuk merakit komunikasi yang harmonis ini. Bisa diawal tahun, pembagian raport, atau dilakukan secara rutin dengan jadwal yang disepakati. Dan sekali lagi, karena anak-anak kita unik, maka pembicaraan intens dan mendalam pastinya membutuhkan porsinya yang cukup.

Saya salut dengan peran guru seperti Pak Guru Nikumbh pada film Taare Zameen Paar (Like Star On Earth, film India produksi tahun 2007), dimana siswa yang bernama Ishaan Awasth, yang mendapatkan banyak label kemalasan dan kebodohan, belum bisa membaca pada umurnya yang 8 tahun, ternyata mengidap dyslexia (gejala psikologis yang membuat tiap kata/huruf yang tersusun pada tulisan terlihat terbolak balik acak). Pak Guru Nikumbh ini yang berkomunikasi dengan apik kepada orang tua Ishaan dengan membawa portofolio seninya. Diakhir cerita, bakat istimewa Ishaan ternyata di seni lukis.

Kita perlu dan patut curiga, di kelas-kita saat ini jangan-jangan masih banyak “raksasa” yang tertidur pulas, “raksasa” yang dengan potensi besarnya belum optimal kita pantik. Hayuk kita bangkitkan “raksasa” ini segera, karena dunia sangat membutuhkan mereka.

Yakinlah, diantara mereka akan ada yang jadi pemimpin Indonesia bahkan dunia dimasa mendatang. Tetap semangat mendidik generasi.

Kampus Mengajar; Mencari Guru Tangguh untuk Negeri

Anand Kumar, pagi itu Dia bergegas untuk segera menuju kelasnya, Dia akan mengajar Matematika kepada 30 siswanya yang spesial, di sekolah yang sama spesialnya.  Siswa-siswa istimewa itu Dia “dapatkan” dari Bihar, salah satu daerah termiskin di India. Para siswanya digratiskan memperoleh pendidikan dan pembelajaran dari sekolah yang didirikan Anand. Tidak hanya sekolah, bahkan juga tinggal dan menginap disana. 30 siswa ini merupakan hasil seleksi dari sekian banyak pelamar dari daerah-daerah miskin dan tertinggal, mereka memiliki mimpi yang tinggi, namun terkendala dengan keterbatasan ekonomi. Jangankan untuk mengincipi bangku pendidikan yang pantas, untuk kebutuhan makan sehari-hari saja susah. Anand sendiri juga bukan dari golongan cukup, semangat juangnya yang tinggi seolah-olah mampu merontokkan berbagai kendala yang menghadang.

Anand Kumar mengajar mereka dengan sepenuh hati walau ditengah keterbatasan sarana, tidak ada gaji, sokongan dana yang cukup, terbatasnya sumber dan bahan ajar yang memadai, bahkan ancaman persaingan dan “ketidak sukaan” pejabat setempat.

Anand Kumar sedang mengajar. Sumber : newindianexpress.com

Ditengah keterbatasan yang beragam rupa itulah, Anand beserta para siswanya tetap suka cita menjalani proses pembelajaran yang ada. Mempraktekkan rumus-rumus dasar yang berada dibangku kelasnya, untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Konsep ini khas pada sekolah Anand, pembelajarannya melekat karena dipraktekkan sehari-hari, sehingga membantu pemahaman mereka lebih panjang.

Singkat cerita, ada satu momen dimana 30 siswanya mengikuti seleksi masuk kampus favorit disana, Indian Institue of Technology (IIT) namanya. Karena favorit, kampus ini banyak pelamar dan ikut melakukan seleksi masuk. Banyak orang yang ragu, mencibir dan cenderung meremehkan siswa-siswa Anand, mengingat betapa sangat “compang camping” nya para siswa dan keterbatasan mereka. Namun diluar dugaan, semua siswa Anand diterima masuk di IIT. Para siswa ini memulai dengan percaya, dengan pendidikan yang memadai, akan mampu memutuskan rantai kemiskinan di keluarga mereka, sehingga daya upaya mereka berlelah dalam belajar keras akhirnya membuahkan hasil.

Anand Kumar merupakan sosok istimewa, kisah nyata diatas ini terjadi benar adanya. Publikasi papernya tentang “Number Theory” pernah dipublikasikan pada jurnal “Mathematical Spectrum” setelah lulus SMA. Karena kepintarannya, dirinya bahkan sempat diterima di University of Cambridge UK, namun karena keterbatasan ekonomi keluarga diikuti oleh sakit dan meninggalnya orang tuanya, akhirnya urung berangkat ke Inggris sana. September 2014 lalu, pernah diundang ke Harvard University dan MIT AS, untuk berbicara tentang perjuangannya membangun sekolah itu.

Anand Kumar merasakan pada dirinya, hambatan ekonomi yang begitu rupa, menyebabkan cita-citanya kandas. Tidak hanya di India, bahkan di seluruh dunia, kemiskinan dan kebodohan merupakan sekutu abadi yang dapat memberangus generasi. Dengan apa lingkaran setan itu diputus ?, dengan pendidikan !.

Kemiskinan dan kebodohan merupakan sekutu abadi yang dapat memberangus generasi. Dengan apa lingkaran setan itu diputus ?, dengan pendidikan !.

Ada hal yang menarik jika sedikit kita sambungkan dengan perspektif Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998 asal India. Menurut Sen, kemampuan (kapabilitas) manusia untuk berkehendak dan leluasa memilih jalan kehidupannya merupakan modalitas yang teramat berharga, karena kapabilitas ini akan memberikan kemerdekaan kepada pemiliknya untuk menjadikannya mewujud nyata menjadi sesuatu yang bernilai. Kemudian, akses-akses penting terhadap berbagai sumber akan makin terbuka.

Amartya Sen, peraih nobel dalam bidang ekonomi tahun 1998

Jika pintu kesejahteraan itu selama ini masih tertutup rapat dan kuat, maka yang Anand lakukan adalah membuatkan kuncinya, dengan akses yang bernama pendidikan. Dengannya, kesempatan generasi berikutnya untuk hidup lebih baik dari leluhurnya, akan makin terbuka lebar-lebar.

Program Kampus Mengajar

Belum lama ini Mas Nadhiem, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI meluncurkan program Kampus Mengajar, program ini dianggap sebagai terobosan menarik dalam dunia pendidikan saat ini. Para mahasiswa pada semester 6 atau lebih tinggi diberikan kesempatan untuk mengajar di daerah 3 T (Terluar, Tertinggal, Terdepan) seluruh Indonesia. Para mahasiswa ini selama 12 minggu akan berada pada sekolah (terutama SD) dan melakukan proses pengajaran disana.

Mulai berjalannya pandemi sedari tahun lalu hingga saat ini ditambah dengan berbagai keterbasan yang ada, diprediksi banyak para siswa kita yang terputus pendidikannya, terutama para siswa yang masih belia. Untuk masa yang panjang dimana kita belum tahun kapan pandemi ini berakhir, program ini mudah-mudahan bisa menjadi solusi yang tepat.  

Bulan Oktober 2020 lalu Kemendikbud memprediksi bahwa Indonesia akan kekurangan 1 juta guru sepanjang kurun tahun 2020 sampai dengan 2024. Angkanya ditaksir terus menerus meningkat seiring dengan tahun berjalan. Para mahasiswa yang turun ke masyarakat ini diharapkan juga dapat mengisi “gap” kekurangan jumlah guru dibanyak sekolah.

Selaras dengan visi Anand Kumar dalam memajukan masyarakat India melalui jalur pendidikan pada paragraf sebelumnya, maka program ini juga melewati jalur yang sama (pendidikan), dan akan lebih baik malah jika kita bisa menyiapkan Anand-Anand berikutnya versi kita dimasa depan. Sehingga dimasa mendatang, Indonesia tidak kekurangan model seperti Anand ini.

Setidaknya ada beberapa unsur terkait yang musti padu-padankan agar pelaksanaannya dilapangan menjadi sinkron, yakni Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan, sekolah dan masyarakat. Ada beberapa sudut pandang perhatian :

1. Membangun “spirit kerelawanan” dari para mahasiswa.

Hasil survey dari Fidelity Charitable (sebuah lembaga independen yang mengelola dana filantropi di Amerika Serikat), pada bulan Mei 2020 menyatakan bahwa hampir setengah dari para responden milenial (seumuran dengan mahasiswa ini), 47 %, mengaku terpaksa mengurangi atau bahkan menghentikan kegiatan kerelawanannya selama masa pandemi ini.

Spirit yang melemah ini tentunya perlu menjadi perhatian. Masa pandemi covid19 yang panjang, ditambah Indonesia dengan letaknya di deretan cincin gunung berapi dan berbagai potensi bencana alam nya, dimasa yang akan panjang butuh support semesta, termasuk warga negaranya yang ambil bagian dalam penanganan bencana. Jika kurikulum penanggulangan bencana (mitigasi, antisipasi, edukasi dll) disekolah mendapatkan tempatnya secara strategis, akan menjadi aset penting dimasa depan.

2. Membekalkan keterampilan lapangan yang tepat guna untuk masyarakat.

Survey dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia juga perlu menjadi perhatian, stress nya anak-anak yang melakukan Belajar dari Rumah (BDR) semenjak masa pandemi ini, harapannya bisa mendapatkan treatment yang sesuai. Jumlah guru BK dan berbagai sarana yang terbatas harapannya perlu segera mendapat support dari program ini.

Pembekalan “stress healing” atau “stress management “ untuk para mahasiswa yang akan terjun ke lapangan, harapannya akan lebih mengakselerasi penyelesaian masalah-masalah yang selama ini ada. Tidak hanya masalah akademik, namun juga non akademik termasuk penanganan stress para siswa.

Kita sama-sama berharap dan berdoa, semoga banyak hal besar yang bisa diraih. Untuk hari ini dan nanti.

Belajar dari Romawi dan Andalusia

Tulisan ini dengan adaptasi judul masuk pada laman Republika Online dengan alamat https://www.republika.co.id/berita/qofien282/wabah-pencabut-nyawa-di-romawi-dan-andalusia

lampiran screenshoot nya.
===

Marcus Aurelius, kaisar Romawi itu melihat dari kejauhan ketika jenderalnya dengan penuh keberhasilan mengalahkan kaum barbar di medan perang Germania. Namun bukannya senang, malah bertanya kepada Maximus, jenderalnya, tentang perlu tidaknya peperangan tadi dilakukan :

“Saat orang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat, ia mulai betanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan… Apakah aku akan dikenang sebagai filsuf, prajurit, atau tiran ?”

Kaisar Marcus ini dikenal sebagai seorang bijak yang melihat dari sudut pandang lain dari sebuah peperangan.

Pertanyaan ini bagai sebuah penyesalan, karena pada saat terakhir Beliau mengharapkan adanya perdamaian dengan cara mengirim utusan untuk bernegosiasi, ternyata semuanya gagal membuahkan hasil, sehingga Maximus yang akhirnya diminta menemukan cara yang terbaik bagi bangsa Romawi.

Patung Marcus Aurelius

Adegan ini terjadi pada penggalan film yang dirilis pada tahun 2000, berjudul “Gladiator” besutan  Ridley Scott. Namun nama-nama diatas merupakan orang-orang yang benar adanya pada catatan sejarahnya. Gladiator merupakan film dengan torehan prestasi mengagumkan, dimana pada ajang Academy Award, berhasil meraih 5 piala dan 7 nominasi.

Marcus Aurelius Antoninus sendiri merupakan seorang kaisar Romawi yang berkuasa pada tahun 161 sampai dengan 180. Beliau juga dikenal sebagai seorang filsuf Stoa yang terkenal zaman dahulu. Pada rentang 14 tahun kepemimpinannya itulah, Beliau juga menghadapi wabah penyakit yang bahkan terburuk di Eropa, karena mengakibatkan kematian sampai dengan 5 juta orang disana. Wabah ini dinamakan Antoninus, seperti dinisbahkan pada nama terakhirnya. Hal ini tercatat juga pada artikel The Guardian yang berjudul “Stoicism in a time of pandemic: how Marcus Aurelius can help”.

Saking mengerikannya wabah Antoninus ini, Levasseur melukisnya dengan judul “The angel of death striking a door during the plague of Rome”, yang bermakna bahwa malaikat maut mendobrak dari pintu ke pintu warga saat wabah itu terjadi, sementara para korban berjatuhan dengan banyak mayat terkapar disekitar pintu.

The angel of death striking a door during the plague of Rome

Black Death

Wabah lain yang tak kalah mematikan, yang terjadi pada pertengahan hingga akhir abad ke 14 adalah Black Death yang pernah melanda Eropa. Wabah ini membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi manusia di Eropa.

Medium penularan dengan berbagai varian, mulai dari kontak fisik, udara dan sistem darah, membuat wabah ini menjadi semakin susah untuk dibendung. Semakin banyaknya mobilitas manusia pada satu tempat ke tempat yang lain, maka akan membuat penularannya menjadi lebih ekskalatif.

Setelah dari Eropa, wabah Black Death ini menyebar hingga ke sebagian Afrika dan Asia, sehingga tercatat pada akhir abad 14, diperkirakan wabah ini membunuh hingga 200 juta manusia.

Pada tragedi-tragedi besar di dunia tersebut, kita berusaha mengambil pelajaran agar dengannya hikmah bisa kita raup lebih banyak. Lalu apa yang perlu dilakukan ?

1. Dikotomi kontrol, merupakan istilah yang sering digunakan kaum Stoic, pengikut filsuf Stoa, pada hal bagaimana memaknai bahwa yang terjadi pada alam semesta, pada dasarnya  tidak semua dalam rentang kendali kita.

Peristiwa yang terjadi disekitar kita, yang membedakan diantara kita sesungguhnya adalah “respon” kita dalam menghadapi peristiwa tersebut. Hujan, macetnya jalan raya, gunung meletus, dan berbagai macam persitiwa yang terjadi di alam raya, tergantung dari kaca mata kita melihatnya. Keadaan itu tidak akan berubah, namun cara pandang kita dalam melihatnya bisa berubah. Ada cukup banyak dari pemikiran kita yang sebetulnya terserah kita. Oleh sebab itu, “bukan peristiwanya yang membuat kita kesal, melainkan opini kita tentangnya.” Tepatnya, penilaian kita bahwa sesuatu yang amat buruk, mengerikan, atau bahkan musibah, menjadi penyebab penderitaan kita.

Ternyata ada irisan yang sejalan terkait “dikotomi kontrol”  ini dengan “Lingkaran Pengaruh” menurut Stephen Covey dibukunya “The Seven Habits of Highly Effective People” (7 Kebiasaan Manusia yang Paling Efektif). Pada dasarnya, jika kita hanya fokus pada lingkaran yang bisa kita intervensi dan pengaruhi, selain akan lebih efektif hidup kita, juga akan mengurangi fokus perhatian dan energi kita pada hal diluar “semesta” kita.

2. Upaya yang terus kontinyu.

Spanyol (dinamakan Andalusia masa itu) juga ikut terimbas  Black Death. Para ilmuwan setempat lebih lanjut meneliti apa penyebab dan bagaimana metode penanganannya. Di antara mereka adalah Ahmad bin Ali bin Khatimah. Ilmuwan dari Almeria itu menduga buruknya kualitas udara sebagai pemicu persebaran wabah.

Ilmuwan lainnya, Ibnu al-Khatib menjelaskan hipotesis tentang transmisi atau penularan penyakit.

Temuan al-Khatib menjadi referensi ahli biologi Prancis, Louis Pasteur, ratusan tahun kemudian. Mengenai antisipasi wabah, yakni kebanyakan orang-orang yang telah mengadakan kontak dengan penderita, akan memiliki potensi sakit lebih tinggi dan akhinya meninggal dunia. Sementara orang yang tidak begitu banyak berinteraksi dengan penderita akan tetap sehat.

Penyebaran penyakit itu dapat muncul dari suatu rumah di suatu kota, kemudian ia menyebar dari orang ke orang tetangga, saudara, atau tamu rumah itu. Di masa kita saat inilah, dalam menghadapi covid-19, kita memiliki istilah yakni Social Distancing dan Physical Distancing yang memiliki makna sama dengan kondisi saat itu.

Potret PSBB Jawa Bali pada Januari 2021 lalu dengan perpanjangan waktu berikutnya pun akan tetap kurang efektif, jika pada kenyataannya kita belum mampu mengendalikan mobilitas warga (dengan segala alasannya).

Tentunya kita berhadap kedepan agar program-program serupa ini lebih efektif sehingga menurunkan grafik wabah covid19 yang belum terlihat ujungnya ini, dari mana kita mulai ?, dari diri sendiri, lingkaran kita sendiri.

Semoga kita tetap mampu belajar banyak dari tragedi masa lalu, sehingga menjadi bekalan kita untuk menjadi lebih baik dimasa pandemi ini.

Menciptakan Telur Columbusmu Sendiri

“Kalo begitu sih aku juga bisa”. Pernah tidak teman-teman ketemu dengan orang begini yang mencibir karya kita ?. Seolah-olah jerih payah kita yang sudah kita usahakan dengan segenap pikiran, tenaga dan kerja keras tiba-tiba langsung “habis” tak berbekas. Jangankan apresiasi atau respek, malah respon sebaliknya yang kita dapatkan.

“Lingkaran pengaruh”, istilah Steven Covey di buku Seven Habit nya, menjelaskan kepada kita bahwa jika kita fokus pada “lingkaran” kita sendiri, akan membantu hidup kita menjadi lebih efektif.

Maksudnya bagaimana ?. Kita tidak bisa mengontrol dan mengendalikan apa yang orang mau pikirkan atau bicarakan, yang bisa kita kontrol atas diri kita adalah memastikan mata (penglihatan) kita melihat apa-apa yang berguna untuk kita, pendengaran kita lebih bermakna untuk kehidupan kita, segenap karya kita bisa bermanfaat untuk orang banyak. Bahasa simpelnya, “Seribu tangan tidak akan mampu untuk menutup mulut semua orang berbicara, namun dua tangan sangat cukup untuk menutup telinga kita”.

Seribu tangan tidak akan mampu untuk menutup mulut semua orang berbicara, namun dua tangan sangat cukup untuk menutup telinga kita

Ketika ini bisa kita lakukan, hidup kita akan lebih efektif.

Kisah Telur Columbus

Suatu ketika Cristhoper Columbus, setelah menyelesaikan perjalanannya menemukan Dunia Baru (istilah lain dari Benua Amerika saat itu), Beliau diundang untuk menghadiri sebuah acara jamuan makan di mana ia akan mendapatkan penghargaan dari seorang Spanyol. Pada saat itulah, Beliau dilecehkan oleh seseorang yang menganggap bahwa semua orang dapat menemukan Dunia Baru.

Menghadapi cercaan itu, Columbus kemudian menantang semua orang yang hadir dalam acara tersebut untuk membuat telur berdiri tanpa memegangnya. Banyak orang mencoba tantangan Columbus tersebut, namun gagal. Mereka kemudian berpendapat bahwa mustahil membuat telur berdiri tanpa memegangnya. Colombus kemudian mengambil sebuah telur, sedikit memecahkan bagian bawah telur itu, kemudian menaruhnya; telur itu pun berdiri tanpa dipegang olehnya.

Columbus kemudian berkata bahwa hal tersebut adalah “hal paling sederhana di dunia. Setiap orang dapat melakukannya, setelah orang itu ditunjukkan bagaimana caranya!”

“Setiap orang dapat melakukannya, setelah orang itu ditunjukkan bagaimana caranya!”

Cristhoper Columbus
Berkas:Sant Antoni.Ei.jpg
Telur Columbus. Monumen ini dibangun di Sant Antoni de Portmany. Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Sant_Antoni.Ei.jpg

Betul sekali kata Columbus diatas. Banyak karya-karya baru, yang rasa-rasanya itu “dianggap” mudah (bahkan diremehkan), oleh orang-orang yang baru saja melihatnya, namun sejatinya penemuan/effort untuk membuat karya itu membutuhkan waktu yang sangat lama, dengan mencurahkan semua energi, tenaga, pikiran dan sumber daya lainnya.

Jika energi kita dicurahkan untuk meladeni hal-hal seperti ini, hampir bisa dipastikan, waktu dan pikiran kita juga ikut habis.

Untuk fokus kepada “lingkaran pengaruh” kita dan ini yang sejatinya kita butuhkan untuk melipatgandakan potensi besar kita. Ada ilustrasi pendek lewat video berikut ini, durasi kurang dari satu menit.

Menikmati tantangan setiap saat. Menjadikannya sebagai teman pertumbuhan.

Apa yang Anda lihat ?. Begitu asyiknya teman kita ini mengendarai sepeda dengan track yang naik-turun, bahkan extrem, terus mengayuh hingga titik terjauh, dan akhirnya mereka bertemu dengan garis finishnya.

Ada perasaan tegang yang kita lihat dalam mereka mendaki dengan sepedanya dari satu gundukan ke gundukan lainnya, namun begitu mereka sampai diujung, mereka sangat gembira dengannya, artinya mereka sudah sampai pada tujuannya.

Karena sejatinya, hidup kita akan selalu bertemu dengan masalah atau tantangan-tantangan ini, sehingga dengannya akan membuat kita makin kuat, lincah menaklukan tantangan, adanya pencapaian baru setiap waktu, akhirnya kita semakin tumbuh mendewasa.

Memastikan semua tantangan ini sebagai medium kita untuk tumbuh. Kita refleksikan dari video diatas. Ada tiga komponen : (1) dirimu, (2) sepedamu dan (3) trackmu. Ketiganya ada dalam lingkaran pengaruh kita.

Hayuk kita urai.

(1) Dirimu.

Tulisan Saya sebelumnya tentang kekuatan kebiasaan, menjadikan inspirasi bahwa Lisa Allen, seorang yang “kelam” dengan masa lalunya, menjadi pribadi unggulan dikemudian hari dengan mengubah pattern hariannya yang terakumulasi menjadi habit baru.

Perubahan Lisa Allen. Kiri saat umur 24 tahun. Perokok dan alkoholik. Kanan, saat 38 tahun, penulis produktif, gelar akademik tinggi.

Naikkan kapasitas/skillmu setiap waktu. Setiap orang memiliki jalur hobi, kesukaan, bahkan passion yang dijalani tanpa pamrih (tanpa dibayar sepeserpun), bahkan dengan ekstra waktu yang kita berikan, kita rela mengorbankan jika kita sukai. Jika ini bisa ditemukan, maka jalani, tekuni, nikmati dan jadikan sebagai penambah Added Value kehidupan kita berikutnya. Singkatnya, “Sukai yang Kau lakukan, lakukan yang Kau sukai”

Kemudian Break your limit (tabrak keterbatasanmu), jika pola lama kita bisa kita rubah dengan lebih baik, maka itu yang akan merubah hidup kita, semisal : bangun lebih pagi dari biasanya, tambah jam belajar atau latihan, rutin, istiqomahlah. Konon untuk mencapai level ahli, seseorang butuh waktu pengalaman 10.000 jam pada bidang tertentu. David Beckham, pesepakbola legenda Manchester United, maestro tendangan bebas, bahkan harus menambah sekian jam setelah sesi latihan reguler, ratusan percobaan tendangan bebas setiap hari latihan.

David Beckham ketika melakukan tendangan bebas

Jika kita seorang yang ingin menjadi penulis, maka asah selalu hal ini, buat jadwal rutin misalkan minimal satu jam sehari untuk membaca, resume, analisis dan tuliskan pada notebook, untuk asah otot motorik di otak kita. Seiring dengan berjalannya waktu, tidak berhenti di satu jam, maka menjadi dua jam dan seterusnya.

(2) Sepedamu

Dibagian dua ini, hubungannya dengan tools atau lingkungan dimana kita bisa mengembangbiakkan habit hebat kita.

The Class of 92” merupakan sebutan angkatan emas tahun 1992 yang “dibibit” oleh Sir Alex Fergusson dalam membuat tim hebatnya di Manchester United (MU), apakah hasilnya bisa langsung dipetik disaat itu ?, tentu tidak. MU butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya alumni 92 nya menjadi tim bintang, yang sebagian besar pemainnya menduduki sebagian besar di tim nasional Inggris. Salah satu buahnya, adalah dimusim 1998-1999 dimana MU berhasil menggapai treble winners (the Premier League, FA Cup and UEFA Champions League), tiga piala dalam satu musim. Proses ini butuh masa yang panjang, latihan yang tak pernah letih, tantangan yang tak pernah berhenti datang. Bukan proses instan.

Treble Winners MU ketika musim 1998-1999

Kita juga butuh support lingkungan yang memadai untuk proses ini. Jika kita bergaul dengan pennjual winyak wangi, maka harum yang kita dapatkan, jika bergaul dengan pandai besi, maka bau arang yang kita peroleh. Komunitas menjadi kata kunci penting untuk menumbuhkan potensi. Hari ini, jika kita belum dapat komunitas pada wilayah terdekat kita, media internet bisa menjadi solusi bahwa komunikasi kita dengan orang-orang hebat dan menghebatkan, bisa kita lakukan dimanapun dan kapanpun.

(3) Trackmu

Jalur pendakian kita, adalah kita yang menentukan pencapaian kita berikutnya. Makin landai tracknya, makin mudah, maka begitulah pencapaian kita. Semakin menantang dengan kesulitan baru, maka menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Anda kenal dengan Valentino Rossi ?, juara dunia motor balap 7 kali itu. Kenapa Dia bisa juara ?, karena tracknya berkelok, tikungan tajam, sudut sempit, bahkan naik turun. Disitulah skill nya diukur dan diuji. Itulah yang membedakan seorang juara atau bukan. Kalo semua track balapannya lurus, maka tidak ada “pembalap juara”, tapi yang ada “motor juara”.

Jangan pernah puas dengan capaian hari ini. Sehingga zona nyaman kita, mustinya cepat berganti. boleh kita sekali-kali puas dengan capaian hari ini. Namun, jangan lupa bahwa zaman terus berubah, begitu juga dengan tantangannya.

Jangan berlama-lama ditepian pantai, karena angin sepoi pun bisa dengan cepat berganti menjadi badai.

Tiga hal diatas, semoga dapat menjadi pemantik untuk menemukan “Telur Columbus” versi terbaik kita.

Semoga bermanfaat.

Kaca Mata Pertumbuhan

Namanya Mary, Dia baru berumur 7 tahun saat berada dikelas 1 SD, tak seperti teman-temannya yang lain yang “baru” sibuk belajar tentang penjumlahan 2+2, Mary malah mengerjakan segepok soal matematika yang diberikan oleh gurunya. Gurunya tahu kalo Mary berada dilevel yang berbeda dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Dengan jumlah soal yang lebih sukar dan banyak sekalipun, kecepatan Mary mengerjakan soal-soal itu nampak lebih sangat unggul dibanding teman-temannya. Bahkan saat dia berumur 6 tahun, buku berat ilmuwan matematika Charles Zimmer tentang “Transisi dalam Aljabar Tahap Lanjut” pun, sudah khatam dibacanya. Semua soalan matematika level mahasiswa, sudah selesai bagi Mary. Namun ada hal yang menciderai prestasi Mary, beberapa kali dirinya tersangkut kasus perkelahian dengan sebayanya, dan mengakibatkan cidera serius ketika berkelahi. Mary tak memiliki satupun teman. Ada masalah asosial yang mengakibatkan Marry tidak mudah memiliki kawan karib.

Alih-alih ingin menyekolahkan ke sekolah anak-anak berbakat, pamannya malah menyekolahkan ke “sekolah biasa”, dengan harapan agar Mary biasa bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya. Walaupun berkali-kali dipanggil oleh guru dan kepala sekolahnya karena problem yang ditimbulkan Mary, Pamannya ini (wali asuh Mary) tetap bersikukuh bahwa Mary harus tetap sekolah di “sekolah biasa”.

Potongan cerita ini merupakan fragmen singkat dari film fiksi “Gifted” (berbakat) besutan sutradara Marc Webb tahun 2017. Memang bukan berdasarkan kisah nyata, namun kondisi ini yang biasanya umum ditemui oleh anak-anak dengan bakat khusus dan istimewa.  Anak dengan kemampuan luar biasa sejenis Mary ini, biasanya lebih sering “teralienasi” dalam hubungan perkawanan. Cenderung sibuk dengan bakat unggulnya, namun kering dalam hubungan sosial dengan manusia lainnya, sehingga unsur relasi kemanusiaannya menjadi tidak nampak terlihat.

Film “Gifted” dirilis pada tahun 2017

Tidak ada yang salah dengan kondisi anak-anak “gifted” ini. Tugas orang tua nya sebenarnya adalah memberikan akses seluas-luasnya kepada potensi unggulannya, sembari melengkapi unsur kemanusiaannya yang tentunya akan banyak dibutuhkan dimasa kehidupannya mendatang.   

Pada konteks ini, akses kepada kehidupan yang lebih bermakna dan agung, sebagaimana layaknya manusia yang lain yang tetap berhubungan dengan sisi kemanusiaannya berupa rasa empati, kasih sayang, peduli dan lain-lain, perlu mendapatkan tempat yang cukup dan difasilitasi oleh orang-orang disekitarnya. Ketersediaan “akses”, sekali lagi menjadi kata kunci penting dalam membangun manusia dengan seperangkat asset fitrah kemanusiaannya.

Saat ini, dimasa pandemi yang nampaknya belum terlihat titik ujungnya, perhatian kita didunia pendidikan juga masih “samar-samar” karena persimpangan jalan didepan sana belum terlihat jelas. Semenjak mulai nya pandemi pada Maret 2020 yang lalu hingga saat ini, upaya segenap pendidik dan sekolah untuk terus mengusahakan pendidikan berkualitas ditengah keterbatasan, terus menerus menemui ujian.

Hampir selama setahun ini, anak-anak kita sudah dan masih merasakan proses belajar dari rumah. Untuk anak-anak yang memiliki akses kepada teknologi, jaringan internet, komputer dan gawai, walaupun ada keterbatasan dalam pembelajarannya, tetap bisa mengikuti proses belajar ini. Namun untuk anak-anak yang tak memiliki akses kepada hal-hal ini, maka bisa dipastikan hampir setahun ini mereka tak bisa belajar, dikhawatirkan sejumlah anak “tak berakses” ini akan menghadapi Learning Loss.

Ada berbagai definisi dalam menguraikan istilah Learning Loss, namun cara termudah dalam mendeskripsikan Learning Loss ini adalah jika Anda sebagai guru mendapati siswa Anda sudah paham di bab 1 pada Februari 2020, namun di Februari 2021 (setahun berikutnya) anak ini masih berada dilevel pemahaman bab 1 yang sama, artinya kurang lebih selama setahun ini mereka tak belajar apapun. Barangkali secara fisik “nampak” terlihat belajar, namun tak ada pertumbuhan apapun dalam pemahaman belajarnya.

Ada hal yang menarik jika sedikit kita sambungkan dengan perspektif Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998 asal India, beliau menuliskan “Development as Freedom” (1999) bahwa pembangunan merupakan proses pelapangan kebebasan masyarakat. Interpretasi keberhasilan pembangunan manusia diukur dari kebebasannya dalam berkehendak.

Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998 asal India

Menurut Sen, kemampuan (kapabilitas) manusia untuk berkehendak dan leluasa memilih jalan kehidupannya merupakan modalitas yang teramat berharga, karena kapabilitas ini akan memberikan kemerdekaan kepada pemiliknya untuk menjadikannya mewujud nyata (functioning), menjadi sesuatu yang bernilai. Kemudian, akses-akses penting terhadap berbagai sumber akan makin terbuka.

Singkatnya (dengan ilustrasi yang lebih sederhana), jika Anda saat ini mampu untuk membeli mobil, ini dinamakan kapabilitas. Menjadikannya lebih bermakna, yakni dengan mobil Anda, bisa ke tempat wisata bersama keluarga dihari libur. Dengannya Anda akan dapat memperoleh momen kebersamaan,  refreshing melepas penat. Berbagai akses kebebasan untuk pergi kemanapun Anda miliki.

Kapabilitas sebagian anak-anak yang belajar dari rumah dikhawatirkan akan mengalami learning loss inilah yang menjadi soalan. Karena sebagian mereka tak punya kapabilitas kepemilikan soal perangkat teknologi, keterampilan penggunaan alat-alat TIK, maka sampai ujungnya, mereka tak punya akses kepada pembelajaran yang berkualitas. Benarkah demikian ?.

Kacamata pertumbuhan belajar yang kita gunakan, pada masa ini seyogyanya memang lebih luas dan komprehensif. Alih-alih kita berfokus pada “kehilangan” sehingga menggunakan istilah learning loss, kita berfokus pada “learning growth” (pertumbuhan belajar) apa yang telah mereka pelajari. Sehingga energi positif, dimasa yang benar-benar kita butuhkan dimasa ini dapat bertemu dengan sumber mata airnya.

  1. Kemampuan digital para siswa dan guru melonjak berlipat-lipat hampir setahunan ini. Para guru yang tadinya belum bisa menggunakan internet, saat ini mereka “dipaksa” untuk melakukan video conference hampir setiap hari dengan siswa mereka.
  2. Berbagai pelatihan online/webinar marak sekali kita dapatkan setiap pekan, baik dari lembaga pemerintah/swasta. Jika intervensi pemerintah lebih massif, maka peta jalan pembangunan kompetensi SDM pendidikan dalam pengembangan kemampuan digital akan lebih terang dimasa depan.
  3. Pada para siswa yang beruntung menggunakan gawai dan internet, maka keterampilan digital literacy/internet literacy menjadi penting untuk bekalan kehidupan dimasa depan. Apalagi dimasa depan, mereka akan kita siapkan menjadi “warga negara global” (Global Citizen), sehingga saat inilah, bahkan dimasa yang sulit ini, kesempatan untuk boosting kecepatan mereka.

Didepan sana masih banyak “kabut” yang menghalangi pandangan, namun dengan kacamata yang lebih positif, diujung sana kita akan bertemu dengan banyak keajaiban. Semoga saat ini, dimana kita bertemu dengan berbagai tantangan, dapat menjadi momentum pertumbuhan dan akselerasi kemajuan.

Pemelajar Otonom

Artikel ini masuk pada laman koran nasional Republika pada 22 Januari 2021. Bisa dibaca pada https://www.republika.id/posts/13542/pemelajar-otonom


Kolumnis The New York Times, Thomas L. Friedman, peraih penghargaan internasional bergengsi Pulitzer Prize tiga kali ini, pernah menyampaikan dalam tulisannya yang berjudul “After the Pandemic, a Revolution in Education and Work Awaits”, bahwa setelah pandemi akan ada banyak revolusi besar dalam dunia Pendidikan, salah satunya ada pada bagaimana pengelolaan pembelajaran dilakukan pada saat masa pandemi kini, dan setelah pandemi, kita akan kesulitan kembali pada cara-cara lama (seperti sebelum pandemi). Nampaknya, perubahan besar dalam ranah pendidikan ini menemui momentumnya, justru setelah kita dapat musibah besar ini. Lanjutnya, menyiapkan siswa dengan rasa ingin tahu dan passion belajar yang tinggi akan membentuk mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat yang akan memiliki kepemilikan pada pendidikannya, merupakan kunci penting dalam kita membangun pondasi besar dalam masa depannya kelak.

Tantangan dimasa awal tahun 2021, setelah banyaknya daerah dan sekolah yang mengundurkan proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) karena grafik wabah covid19 yang makin tinggi, adalah terus menerus memperbaiki proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang telah berjalan sedari Maret 2020 lalu. Dengan berbagai catatan peristiwa yang kita hadapi kurang lebih 9 bulan kebelakang, anggap saja ini adalah fase pertama untuk kita menapakkan kaki kita dimasa yang sesungguhnya berbeda dengan yang selama ini kita alami (sebelum pandemi).

Ilustrasi PJJ

Pembelajar sepanjang hayat

Sejatinya, proses pembelajaran yang kita lakukan kepada para siswa kita (dengan adanya pandemic atau tidak) adalah menyiapkan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pembelajar sepanjang hayat ini mutlak diperlukan dalam keadaan apapun. Karena kehidupan ini senantiasa berubah dan berkembang, maka niscaya jika dalam menjalaninya adalah dengan terus menyiapkannya dengan sebaik-baiknya.  Dengan apa ?, dengan menjadikan mereka mencintai belajar.

Pendidikan dan belajar sepanjang hayat didefinisikan sebagai pengembangan potensi manusia melalui proses yang medukung secara terus menerus yang menstimulasi dan memberdayakan individu-individu agar memperoleh semua pengetahuan, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan, dan pemahaman.

Semuanya itu akan diperoleh dalam keseluruhan hidup individu dan kemudian menerapkannya dengan penuh percaya diri, penuh kreativitas, dan menyenangkan dalam seluruh peran, iklim, dan lingkungan (Longworth dan Davies, 1996:22). Pada point ini, menyiapkan pembelajar sepanjang hayat pada diri siswa, akan menjadikan mereka menyenangi belajar, tidak hanya di bangku kelas dan kuliah, namun juga setelah menyelesaikan pendidikan formal.

Perbedaan pada prinsip PJJ dibanding dengan pertemuan pembelajaran tradisional, salah satu hakikatnya adalah pada “kebebasan” pembelajar untuk menentukan waktu, sumber ajar yang lebih terbuka, bahkan hingga targetan belajar yang lebih personalize sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Jika pada pembelajaran tradisional semua proses dilakukan secara klasikal dalam satu kelas, bahkan materi dan goals pembelajarannya disesuikan dengan cara yang homogen untuk semua kebutuhan siswa sekelas, maka kebutuhan individual belum dapat difasilitasi secara lebih banyak.

Namun, pada pelaksanaan PJJ dengan skema online yang dilakukan dari rumah masing-masing, pembelajaran akan dapat diselenggarakan dengan lebih dinamis, tidak tersekat antar ruang dan waktu. Pembelajar yang lebih cepat (fast learner) akan dapat menggali banyak materi, disisi lain pembelajar yang butuh lebih banyak waktu (slow learner) dapat melakukan proses pengulangan (remediasi) sekaligus mencari referensi dari berbagai sumber yang ada di dunia maya dengan tak terbatas.

Pembelajar otonom

Dalam otonomi pembelajaran, peserta didik bertanggung jawab pada proses belajar mereka sendiri. Richards (2020)  memaparkan ada 5 prinsip untuk meraih pembelajaran yang otonom: keterlibatan aktif peserta didik, menyediakan pilihan dan sumber-sumber (resources), menawarkan pilihan-pilihan dan kesempatan-kesempatan pengambilan keputusan, mendukung pembelajar, dan mendorong praktik refleksi. Oleh sebab itu, Richards (2020) berpendapat bahwa di kelas-kelas yang mendorong pembelajaran otonom, peran guru lebih kepada menjadi fasilitator pembelajaran sehingga peran sebagai instruktur berkurang, peserta didik tidak diarahkan untuk terlalu bergantung kepada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kapasitas peserta didik untuk belajar ,kesadaran akan gaya belajar,  dan strategi belajar  mereka diperkuat.

Pengelolaan PJJ yang efektif, sejatinya akan mengakselerasi siswa menjadi pembelajar otonom yang dapat mengelola sendiri waktunya, goals, strategi, evaluasi dan memperbaiki proses yang dijalani. Sehingga dengannya, pengembangan kapasitas dirinya merupakan misi internal yang dimiliki dengan atau tanpa intervensi orang lain. Mampu melejitkan potensinya dengan mengoptimalkan sumber-sumber yang ada, dan akhirnya berdampak pada kemajuan dimasa mendatang.

Belajar Mandiri

Sejalan dengan ini, Carol Dweck, Ph.D, pakar Psikologi dari Stanford University dalam bukunya “Mindset” menggambarkan bahwa pribadi yang unggul, memiliki motivasi internal kuat berupa Growth Mindset (Mindset tumbuh) yang dengannya akan siap sedia berlelah untuk belajar dan menghadapi tantangan, serta menganggap segenap tantangan itu sebagai media untuk terus memperbaiki diri dan tumbuh.

Kita berharap dimasa pandemic yang masih kita jalani ini, sebagai momentum pertumbuhan, menjadikan para siswa ini sebagai pembelajar otonom (dengan medium PJJ atau PTM) yang mencintai belajarnya sepanjang hayat (life long learner), sehingga dimasa depan kita memiliki generasi pembelajar sejati.

Menumbuhkan Benih Harapan Menyemai Kesyukuran

Barrack Obama, Presiden AS yang ke 44, pada tahun 2008 memiliki jargon hebat dalam kampanyenya, “Hope” (harapan) menjadi satu kata yang ketika orang ucapkan, maka akan merujuk pada Obama. Ini sekaligus mengingatkan bahwa wakilnya saat itu, Joe Biden, tak dinyana akhirnya sekarang terpilih secara resmi sebagai presiden AS saat ini. Obama adalah kandidat dari Partai Demokrat pertama yang memenangkan mayoritas suara populer sejak Jimmy Carter pada 1976. Berhasil mendapatkan suara populer 69,5 juta yang juga merupakan jumlah terbesar yang pernah dimenangkan oleh seorang calon presiden sebelumnya.

Barrack Obama “Hope” Poster. Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Barack_Obama_%22Hope%22_poster#/media/File:Barack_Obama_Hope_poster.jpg

Seperti pada pidato kemenangannya yang perdana,

“Jalan di depan akan panjang. Pendakian kita akan terjal. Kami mungkin tidak sampai di sana dalam satu tahun atau bahkan dalam satu periode. Tapi, Amerika, saya tidak pernah lebih berharap dari ini. Malam ini kita akan sampai di sana”.

Ya, harapan tentang kesempatan, tidak peduli berbagai suku/agama/ras dan peluang kesetaraan yang sama menjadi keinginan sebagian besar warga AS.

Harapan ini juga kurang lebih sama seperti yang kita rasakan, setelah sekian ratus tahun penjajahan,  maka sebakda 17 Agustus 1945 yang lalu, kita lalu jadi berani untuk bermimpi lebih besar membangun negeri ini dengan sepenuh gagasan dan kemajuan. Adanya proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta Pusat saat itu, menjadi saksi sekaligus harapan-harapan baru dari jutaan rakyat Indonesia untuk membangun negerinya dimasa depan.

Bapak Dahlan Iskan, Menteri BUMN tahun 2009 – 2014 membuat series tulisan dengan judul “Manufacturing Hope” yang berisi kumpulan kisah beliau dalam menjalankan tugasnya sebagai menteri. Melalui kumpulan essay manufacturing hope ini, Pak DI menuliskan solusi penyikapan kenaikan BBM, strategi dan langkah agar produksi dalam negeri bisa ditambah, sekaligus pembangunan infrastruktur yang tidak dibiayai oleh APBN. Banyak torehan prestasi semasa beliau memimpin Jawa Pos dan PLN. Kita membaca, semakin tingginya harapan, akan ada banyak hal besar didepan sana.

Dahlan Iskan Manufactoring Hope. Sumber : https://m.radarbangka.co.id/gambar/dahlaniskan/dahlaniskan-manufacturing-hope-91-sorgum-sapi-dan-burung-di-belu-48.jpg

Salah satu kalimat inspiratif beliau “menularkan pesimisme cuma perlu modal gombal, tapi membangun harapan harus dengan kerja keras dan hasil nyata”. Sekali lagi, harapan tentang keberhasilan bisa dipantik dengan kerja extra dan impactnya bisa dirasakan.

Dalam tangis kencang bayi yang baru saja lahir, disana juga ada harapan tentang kebahagiaan kehidupan baru yang mendewasa dimasa depan. Bahkan dalam gelap pekatnya malam, terselip harapan pada mentari yang cerah akan muncul pada pagi harinya. Begitulah, singkatnya harapan selalu datang beriringan dengan nestapa kehidupan.

Indonesia saat ini “digebug” dengan berbagai musibah, mulai dari grafik wabah covid19 yang urung belum terlihat melandai (apalagi menurun), diawal Januari 2021 ini masih ditambah dengan musibah Sriwijaya Air, banjir besar di Kalimantan Selatan, longsor terjadi di Sumedang, gempa bumi di Sulawesi Barat dan sejumlah gunung berapi aktif memberi tanda-tanda akan adanya bahaya. Rasa-rasanya “gelap” ini makin nampak pekat, sehingga cahaya hampir tak terlihat.

Dari berbagai banyak musibah itu, Kita meyakini selalu ada “harapan” disini. Jika kita tak punya harapan akan pulihnya negeri ini, justru disitulah letak masalahnya.

Musibah sebagai medium manifestasi kesyukuran ?

Mengutip dari Pak Reza A.A Wattimena, seorang Doktor filsafat alumni Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München Jerman dalam tulisannya yang berjudul “Batu yang Dilempar Pasti Kembali ke Tanah”, bahwa rasa sakit atau penderitaan yang hadir karena jatuh adalah pintu masuk untuk kesadaran. Dalam bahasanya, derita akan membangunkan dari tidur yang membuat kita terlenakan.

Tentu saja kita patut bersedih hati, prihatin sekaligus menyampaikan duka cita yang mendalam bagi segenap korban musibah tersebut. Namun pada sudut pandang yang lebih mendalam, dalam rangka merubah perspektif kita tentang musibah yang datang bertubi-tubi ini, mata kita seperti terbelalak setelah tidur panjang yang melenakan.

Hari-hari ini kita menjadi lebih waspada, tidak hanya sekedar antisipatif terhadap apa-apa yang (mungkin) terjadi berikutnya terhadap kita. Namun juga lebih mawas dan mengoreksi diri, dibagian mana yang kemarin sudah kita lakukan namun Tuhan dan alam tidak ridho kepada kita.

Ibaratnya, musibah ini kita anggap sebagai momentum yang membangunkan tidur panjang kita, maka jadikan dengan sepenuh hikmah bahwa ternyata karunia Tuhan yang sedemikian banyak selama ini melalui alam raya dan kekayaan nusantara, barangkali ada yang kita abaikan, dan bisa jadi kita belum (pandai) bersyukur karena diantaranya kita belum terampil merawatnya dengan bijak dan maslahat.

Setelahnya, pandemi panjang yang sedang kita lalui hampir setahun ini, kita dilatih dengan keprihatinan dan kesetiakawanan, maka fase berikutnya empati dan kepedulian sosial kita semestinya makin terlatih sehingga kita makin peduli, akhirnya kita berharap jadi semakin bijak dan mendewasa.

Terakhir, lirik lagu Ebiet G Ade, “Berita kepada kawan” saya coba kutipkan penggalan satu baitnya.

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita

Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa

Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita

Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Semoga dapat menjadi renungan yang baik, dan teman karib untuk senantiasa bercermin memperbaiki diri.

Menyalakan Suluh Literasi Indonesia

Alhamdulillah. Artikel ini mendapatkan Juara kedua Pemenang Lomba Blog AISEI (Association for International Minded School Educators Indonesia). Tingkat Nasional. 19 Januari 2021.


Kisah epik ditorehkan seorang sniper bernama Vastly Zaitsev, mengisi karirnya dengan cara yang luar biasa. Bidikan senapan jarak jauhnya, pada akhirnya merontokkan mental pasukan-pasukan Jerman sehingga pada akhirnya perang Stallingrad ini dimenangkan oleh Soviet. Selidik punya selidik, ternyata kehebatan Zaitsev ini dipropagandakan sedemikian rupa oleh pimpinan-pimpinan Soviet melalui publikasi tulisan yang menggelora, digandakan beribu-ribu eksemplar, kemudian disebarkan lewat pesawat terbang agar bisa dibaca oleh semua orang, termasuk musuh-musuhnya sendiri, hal ini sekaligus membuat ciut nyali pasukan musuh sebagai strategi psy war. Diakhir adegan, Zaitsev, selain sebagai pasukan elit, merupakan simbol kemenangan Soviet untuk peperangan ini. Kisah epik bisa dilihat pada film Enemy at the Gates (dipublikasikan pada tahun 2001).

Enemy at the Gates - Wikipedia
Zaitsev dalam Enemy at the Gates. Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Enemy_at_the_Gates

Tak kalah hebat, Buya Hamka, beliau merupakan profil lengkap seorang guru, ulama, politisi, sastrawan sekaligus penulis. Dari sekian banyak karyanya, paling berpengaruh tentu saja adalah Tafsir Al-Quran 30 juz yang dinamakan Tafsir Al Azhar. Tafsir ini diselesaikan Hamka saat di jeruji tahanan selama 2 tahun 4 bulan. Tulisan beliau dalam bentuk sastra, beberapa diantaranya “Dibawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck”, walaupun karya lama generasi 1930an, namun karya beliau masih relevan untuk menjadi bacaan inspiratif antar generasi, sehingga masih sangat populer ketika diangkat pada versi layar lebar. Memang benar, karya-karya menyejarah, seperti punya cara tersendiri agar tetap bersinar tak terbatas ruang dan waktu.

Dua kisah diatas, walaupun hanya fragmen kecil dari sebuah film dan karya pemikiran, namun kita tahu bahwa ketajaman pena, memiliki imbas dahsyat untuk mempengaruhi orang lain dengan skala yang luas, tak terbatas ruang dan waktu. Tulisan yang memiliki value tinggi, bisa mempengaruhi pembacanya, akan memiliki dampak lebih efektif dan eskalatif.

Penelitian Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Skor membaca  Indonesia berada pada ranking 72 dari 78 negara yang disurvei.

PISA Pendidikan
Sumber : https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/5e9a4c4952b78/kemampuan-siswa-indonesia-di-bawah-rata-rata-oecd

Problem ini, tentunya butuh penuntasan dengan menjadikan pendidikan sebagai kata kuncinya. Sebagaimana kita pahami bahwa faktor penting pendidikan salah satunya ada pada guru. Guru memiliki peran besar untuk dapat menjadikan level literasi ini menjadi lebih baik. Kemudian, bagaimana guru dapat berperan dengan profesinya ?, dengan cara menginspirasi mereka !.

Cara terbaik mendekatkan para siswa dengan baca-tulis, bisa dilakukan dengan pendalaman materi dengan mengoptimalkan sumber lain diluar buku paket, cara ini bisa memantik keingintahuan siswa dengan bacaan lain, sekaligus menjadikan referensi tambahan yang bermanfaat untuk mencintai membaca.

Menulis adalah aktivitas yang manfaatnya tidak hanya dirasakan disaat ini dan ditempat ini. Lebih dari itu, menulis, apalagi di era teknologi saat ini, merupakan “alat edar ide” terbaik dan terluas. Lebih massif dibanding era Zaitsev tentu saja, setiap orang bisa dengan cepat dan mudah membacanya, dimanapun dan kapanpun.

Begitu juga manfaatnya bisa dirasakan diwaktu-waktu kedepan, bahkan untuk generasi sesudah kita. Betapa banyak tulisan-tulisan di jagat maya yang sudah ditulis dari belasan atau puluhan tahun yang lalu, yang masih bisa kita baca di internet hingga sekarang. Begitu juga dengan karya kita saat ini, jika ada pencerahan didalamnya, maka “suluh” ini bisa dinikmati bahkan sampai masa yang panjang.

#AISEI #LombaBlogAISEI #komunitaspendidikIndonesia

Aisei – Nurturing Progressive and Transformational Educators for Future  Indonesia
https://www.aisei.id/

Penerapan praktis Knowledge Management di dunia pendidikan (Seri Knowledge Management #3)

Artikel berikut merupakan rangkaian/series dari topik Knowledge Management. Disarankan membacanya runtut dari awal agar mendapatkan gambaran utuh Why, What dan How nya. Selamat mengikuti.

Part 1 : Mengapa Knowledge Management ?
http://dedysetyo.net/2020/11/25/mengapa-knowledge-management/

Part 2 : Berawal dari Kue
http://dedysetyo.net/2020/11/27/berawal-dari-kue-seri-knowledge-management-2/

Part 3 : Penerapan praktis Knowledge Management di dunia pendidikan
http://dedysetyo.net/2021/01/06/penerapan-praktis-knowledge-management-di-dunia-pendidikan-seri-knowledge-management-3/

Record Video Webinar
Implementasi Knowledge Management dalam Dunia Pendidikan
Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=iarei_VoNtM
Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=g3k6HK2AzcY


Pada awalnya Knowledge Management (KM) merupakan disiplin ilmu yang banyak digunakan dalam dunia industri atau perusahaan, inspirasi dari Ikujiro Nonaka pada tulisan sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan Knowledge Management yang tepat, akan dapat membantu memutuskan rantai masalah yang terjadi dengan efektif. Kabar baiknya, Knowledge Management ini sebagai disiplin ilmu yang banyak beririsan dengan disiplin ilmu lainnya, kalau kita mempelajari bagaimana SOP (Standard Operational Procedure) dibuat, sebagai sebuah perwujudan dari KM, maka kita juga belajar tentang disiplin Business Process Management. Pada dunia IT, KM juga berkorelasi dengan Data Mining dan Information System. Pada dunia manajemen, KM bersentuhan dengan disiplin Organization Management.

Namun bagaimana tantangan menerapkan Knowledge Management dalam dunia pendidikan, lebih spesifik di sekolah ?. Apa saja manfaat penerapan KM dalam dunia pendidikan ?. Saya kira paling tidak ada dua sektor yang berperan sebagai produsen sekaligus konsumen pengetahuan , yakni Manajemen dan Guru/Pendidik nya. Saya coba inventaris ada beberapa manfaat sebagai berikut.

Manfaat penerapan KM di sekolah

Lalu dari mana kita mulai ?. Uraian ini akan membahasnya lebih dalam.

Paling awal, tentunya kita pastikan bahwa kita tahu dimana saja operasional sekolah bekerja.

Wilayah Penerapan KM di sekolah

Layanan di sekolah, secara umum dan inti berada pada domain pembelajaran, proses utama pembelajaran dari guru kepada siswa, pengembangan dan pelatihan guru, manajemen dimana semua keputusan diambil dengan berbagai pertimbangan dan case yang melingkupi, dan layanan daya dukung lainnya, termasuk didalamnya Penerimaan Siswa Baru (PSB) dan pendukung pencapaian prestasi siswa.

Dalam perjalanannya, sejauh umur sebuah lembaga berdiri, maka akan ditemukan banyak sekali peristiwa yang menjadi latar belakang, persoalan bahkan bagaimana persoalan itu ditemukan solusinya. Hal ini biasanya terserak dimana-mana, kalau bicara tentang penerimaan siswa baru, ini bisa ditemukan dibagian kesiswaan atau kehumasan, tentang prestasi akademik siswa ada di bagian kurikulum, tentang pengembangan kompetensi guru, ada diwilayah SDM dan seterusnya. Namun ada istilah yang selalu dilibatkan disana, yakni : data, informasi dan pengetahuan.

Apa beda Data, Informasi dan Pengetahuan ?

Tiga istilah ini sering kita temui dalam penyelenggaraan pendidikan, bahkan sudah menjadi istilah umum dalam masyarakat. Apa sebenarnya definisi dan penerapan yang tepat dalam menggunakan tiga istilah ini ?

Agar lebih memudahkan dalam penggunaan tiga istilah ini, saya mulai dari contoh-contohnya.

Contoh Data  :

• Si A, dan B tidak hadir jam ke 3 PJJ pada hari senin

• Si C dan D, berhasil menambah 100 kosakata baru bahasa inggris pada bulan ke 2 di sekolah

Dua contoh diatas mewakili bagaimana Data diungkapkan, artinya masih mentah sekali dan masih butuh proses lebih lanjut. Data sejatinya merupakan entitas yang tidak membawa arti, kumpulan dari fakta dan catatan tentang suatu kejadian.

Contoh Informasi (bersifat generalisasi) :

• 75% siswa memiliki koneksi internet yang stabil pada hari senin

• 80 % siswa kelas 11, rerata penambahan kosakata baru minimal 100 kata, ada 80% siswa.

Lebih dalam dibandingkan dengan “Data ” sebelumnya, Informasi merupakan hasil kompilasi, pengolahan dan statistik dari suatu data yang terkumpul.

Contoh Knowledge (Pengetahuan) => Pola/Pattern :

• Jika guru sudah memiliki persiapan 10 menit sebelum kelas PJJ dimulai, sebagian besar siswa akan lebih fokus dan siap dalam pembelajaran

• Jika setiap siswa diberikan kesempatan berbicara dalam Bahasa inggris minimal 10 menit sehari, maka akan menambah kosakata nya minimal 100 kata dalam satu semester.

Sehingga Knowledge merupakan hasil kompilasi informasi yang berbentuk pola/pattern, rule bahkan sekaligus solusi dari permasalahan-permasalahan yang pernah ada. Knowledge ini dibandingkan dengan Data dan Informasi memiliki nilai tertinggi.

Lihat pada gambar dibawah, sekaligus penjelasan tentang bagaimana knowledge dibuat.

Pada bagan tersebut dijelaskan bahwa aliran pembuatan knowledge dimulai dari Data – Informasi – Pengetahuan. Empat wilayah yang kita sepakati akan digarap KM nya adalah pada

  • Manajemen dan Organisasi
  • Pembelajaran
  • Supporting Siswa
  • Pencapaian Siswa

Kemudian pada masing-masing wilayah tersebut, tahapan berikutnya adalah menentukan aktivitas mana yang kita deteksi ada “Knowledge” didalamnya, begitu juga dengan jenis knowledgenya, apakah dalam bentuk Tacit ataukah Explicit.

Tabel berikut ini memberikan contoh bahwa dimasing-masing wilayah dan aktivitasnya kita deteksi apa saja bentuk pengetahuan didalamnya.

Sebagai contoh, pada wilayah Pembelajaran, kita zoom in dibagian aktivitas Teaching and Learning, disana akan kita tangkap knowledge nya ada pada 5 hal yakni, Teaching activities, Teacher ethic and law, curriculum analysis, course evaluation dan report analysis.

Pada tulisan berikutnya, akan dibahas tentang bagaimana pembuatan pengetahuan baru ternyata dapat dimanajemen sedemikian rupa sehingga memunculkan pengetahauan-pengetahuan berikutnya, dan dahsyatnya ini bisa dikolaborasikan antar aktivitas dalam pembelajaran.

Demikian tulisan pada part ini, nantikan part berikutnya. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Index Judul dan URL Youtube Channel Dedy Setyo

Masih banyak butuh belajar dan saran masukan dari kawan sekalian, berikut kumpulan beberapa webinar dan tutorial ditahun 2020 (semenjak pandemi) yg sempat terekam, beberapa diantaranya dipecah beberapa bagian agar tak terlalu lama :D.

Jika sebelumnya, kita belajar menata kata demi kata menjadi kalimat dan paragraf, masa pandemi ini mengajarkan kita untuk “melompat” menjadi pembelajar cepat, diantaranya jadi yutuber kilat. 😀

Terima kasih, semoga bermanfaat.

[Index judul dan URL Youtube]

  1. Pengelolaan Problem Based Learning dalam pembelajaran Online
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=4N3Q9JNNu1M
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=HxWoIwAMWns
    Part 3 : https://www.youtube.com/watch?v=uDoZFw0TsPY
    Part 4 : https://www.youtube.com/watch?v=qPfMWEKHgIo
  2. Migrasi ke Online Learning dengan Efektif
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=2GoJ7bssuu4
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=RNbGpBkRTlA
    Part 3 : https://www.youtube.com/watch?v=_nSXF9K4LH4
  3. Dampak Resesi untuk Peningkatan Keberlanjutan di dunia pendidikan
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=IAKQU0x7iAk
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=MvW9ypynQZs
  4. Implementasi Knowledge Management dalam Dunia Pendidikan
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=iarei_VoNtM
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=g3k6HK2AzcY
  5. Menyiapkan lingkungan belajar dan model Hybrid Learning
    Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=QJZGvw489Pk
    Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=UHUTPsjabQg
  6. Trik Menulis di Media Online
    https://www.youtube.com/watch?v=bJ-yk0yphNc
  7. Membuat Video Animasi untuk Pembelajaran
    https://www.youtube.com/watch?v=tV9svZVvg6g
  8. Book Teaser : Easy Learning
    https://www.youtube.com/watch?v=O6qWI7jrRXQ
  9. Buat situs dan mudah dan gratis dengan Google Sites
    https://www.youtube.com/watch?v=4qZmJWIUsyw
  10. Tutorial Diskusi Online dengan Padlet
    https://www.youtube.com/watch?v=Iy0UEXw7aGE
  11. Hot Potatoes #1 Buat Teka Teki Silang dengan mudah
    https://www.youtube.com/watch?v=3TKqqBIs0x0
  12. Membuat Video Animasi Pembelajaran dengan Powtoon
    1. Part 1 : https://youtu.be/xh5-93zrTgQ
    2. Part 2 : https://youtu.be/B0KaRqhRf78
    3. Part 3 : https://youtu.be/EwFAOynHOKI
    4. Part 4 : https://youtu.be/rukd92EdYLc

Menyiapkan Pembelajaran Hybrid sebagai Solusi (Seri 1 Hybrid Learning)

Serial Hybrid Learning yang barangkali teman-teman butuhkan

Part 1 : Menyiapkan Pembelajaran Hybrid sebagai Solusi
http://dedysetyo.net/2020/12/09/menyiapkan-pembelajaran-hybrid-sebagai-solusi-seri1/

Part 2 : Lingkungan Hybrid Learning
http://dedysetyo.net/2020/12/10/lingkungan-hybrid-learning-seri-2-hybrid-learning/

Part 3 : Model-model Pembelajaran Hybrid
http://dedysetyo.net/2021/01/02/model-model-pembelajaran-hybrid-seri-3-hybrid-learning/

Record Webinar Hybrid Learning :
http://dedysetyo.net/2021/01/02/menyiapkan-lingkungan-belajar-dan-model-hybrid-learning/


Menjelang akhir bulan November 2020 yang lalu, empat menteri bersepakat melalui Surat Keputusan Bersama antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama dan Menteri Kesehatan, bahwa pembelajaran tatap muka diperkenankan dengan ijin dari pemerintah daerah. Artinya kewenangan pusat berpindah ke daerah dalam rangka memutuskan pembelajaran tatap muka didaerahnya akan digelar atau tidak, inipun tentunya jika diijinkan oleh orang tua siswa.

Kondisi ini, pelan namun pasti akan membuat berbagai pihak, mau tak mau harus bersiap dengan dua kondisi. Untuk sekolah, jika ingin menyelanggarakan tatap muka, musti menyiapkan perangkat-perangkat daftar periksa kesehatan, pembelajaran dan sarana prasarana, dan dilengkapi dengan berbagai macam protokol keselamatan (lihat gambar dibawah ini )

Infografir Syarat Pembelajaran Tatap Muka bagi sekolah. Sumber : CNN Indonesia

Begitu juga dengan guru yang akan menyiapkan pembelajarannya, jika per Maret 2020 yang lalu para guru harus belajar banyak dengan bagaimana merubah pembelajaran tatap muka menjadi tatap maya atau daring, maka tantangan kedepan akan lebih lagi, yakni bagaimana agar bisa terfasilitasi nya pembelajaran baik siswa yang memilih tetap dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dimana siswa datang ke kelas seperti sebelumnya. Selanjutnya, bagaimana menyiapkan pembelajaran dengan efektif memperhatikan dua kebutuhan tersebut. Para ahli pendidikan jarak jauh mengusulkan moda pembelajaran hybrid, namun apa sesungguhnya ini ?

Apakah Pembelajaran Hybrid itu ?

Hybrid learning combines face-to-face and online teaching into one cohesive experience. Approximately half of the class sessions are on-campus, while the other half have students working online.

(Iowa State University)

dari definisi diatas, point pentingnya ada pada bagaimana pembelajaran disajikan dengan kombinasi pada masa waktu yang sama, antara siswa yang berada pada kelas tatap muka, dengan siswa yang berada di rumah masing-masing (PJJ). Sebelum kita masuk lebih jauh tentang apa dan bagaimana pembelajaran hybrid ini, berikut coba saya sajikan empat moda pembelajaran yang umum ditemui dalam masa transisi ini.

Berbagai macam istilah Moda pembelajaran dimasa transisi

Pada gambar diatas, makin ke kiri maka semakin sedikit pelibatan teknologi/proses daring nya. Sebaliknya, makin ke kanan, maka akan semakin banyak melibatkan teknologi dan daringnya.

Face to Face (Tatap muka) –sisi paling kiri, pada beberapa literatur sering disingkat F2F, ini proses belajar yang sering kita lakukan sebelum masa pandemi saat ini, siswa berada di kelas dengan guru, pembelajaran tradisional ini sudah bisa berjalan, adapun penggunaan teknologi dapat digunakan atau tidak sama sekali dalam perjalanannya. Disisi ektrim lainnya –sisi paling kanan, pada moda Online (full) semua pembelajaran dilakukan jarak jauh, berjarak nya antara pengajar dan peserta belajar, baik dari sisi waktu dan tempat, sehingga semua media, sumber dan perangkat belajar menggunakan perangkat teknologi informasi dan internet.

Dua moda ditengah melibatkan bagian-bagian penting dalam pembelajaran (tatap muka), yakni adanya pelibatan Teknologi Informasi dan internet. Blended pada dasarnya merupakan pembelajaran yang masih bertumpu pada tatap muka dalam sebagian besar aktivitasnya, namun menggunakan teknologi dalam rangka untuk menghantarkan konten pembelajaran, memfasilitasi aktivitas bahkan sampai dengan assessment nya. Sementara paling terakhir, Hybrid, aktivitasnya terbagi rata antara pertemuan tatap muka dengan jarak jauhnya, sehingga kalo bisa dibuat perbandingan, jika Blended, perbandingan tatap muka dan penggunaan teknologinya 75:25, maka Hybrid 50:50. Tapi yang perlu dicatat, sejauh ini sependek yang saya tahu, belum ada prosentase tepat untuk menjelaskan hal ini.

Kelebihan Pembelajaran Hybrid

The Center for Community College Student Engagement (CCSSE) sebuah lembaga survey dibawah naungan University of Texas pernah menyelenggarakan survey tentang bagaimana pelaksanaan pembelajaran hybrid, hasilnya menarik, dari sebagian besar responden yang disurvey ternyata menyatakan bahwa tidak hanya mereka (siswa/mahasiswa) mensarankan untuk tetap dilakukannya Hybrid ini, namun juga terjadi pertumbuhan positif dalam pencapaian pembelajaran (Learning Outcome) dan perolehan nilai akademik, bahkan paling rekomended jika dibandingkan dengan moda online yang lainnya.

Contoh kelas Hybrid

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dimana kita selama ini mengelola model ini dari waktu ke waktu, unggul pada sentuhan “humanism” dimana adanya transfer pembelajaran dengan bantuan terbimbing dari guru langsung akan memudahkan siswa untuk memahami lebih lengkap. Interaksi lebih natural juga didapatkan jika adanya diskusi, presentasi dilakukan langsung diantara sesama siswa, bersama guru. Yang hal ini lebih menantang jika dilakukan pada pembelajaran online murni.

Disisi lain, pada pembelajaran online, waktu dan tempat belajar menjadi lebih fleksibel, sumber daya materi, media dan bahan belajar dapat didapatkan dari berbagai sumber yang tak terbatas. Walaupun butuhnya koneksi dan berbagai perangkat pendukung teknologi menjadi prasyarat terjadi pembelajaran ini, kelebihan akses berbagai sumber, simulasi dan kecepatan asssessment dan feedback menjadi kekuatan luar biasa besar yang dapat digunakan untuk akselerasi pembelajaran.

Pembelajaran hybrid, dengan kombinasi kelebihan dari dua moda tersebut, memiliki point besar pada fleksibilitas, dalam waktu, proses belajar, bahan, dan bahkan sampe dengan evaluasi, akan meningkatkan percepatan pembelajaran. Siswa dengan berbagai macam gaya belajar, baik visual, auditori dan kinestetik akan dapat memilih cara, materi dan fleksibilitas yang pada akhirnya akan membentuk “otonomi belajar” siswa.

Otonomi belajar mengambil peran pro-aktif dalam proses pembelajaran, menghasilkan gagasan dan membantu dirinya memiliki kesempatan belajar, lebih dari sebuah reaksi berbagai rangsangan dari guru. Jika hal ini tercipta pada pembelajaran pada siswa, maka siswa akan mendapatkan manfaat yang luar biasa besar dari pembelajarannya, bahkan lebih besar dari pada “trigger” yang diberikan oleh gurunya. Diantaranya :

a. Merancang goals sendiri terkait pembelajarannya, apa yang hendak ingin dikuasai, perdalam dan menjadi pemahaman mendalam untuk dirinya,

b. Memiliki strategi mandiri terkait proses belajar apa yang paling “berdampak” bagi dirinya,

c. Dapat mengevaluasi proses yang berjalan, apakah efektif sesuai goals, ataukah belum,

d. Merevisi pendekatan secara mandiri agar lebih efektif dalam pengelolaan pembelajaran

Jika hal ini dimiliki oleh peserta belajar kita, maka belajar akan menjadi habit, untuk menjadi “long life learner” (pembelajar sepanjang hayat) dalam kehidupannya hingga masa berikutnya nanti.

Pada tulisan berikutnya, akan dibahas bagaimana menerapkan Hybrid Learning pada kelas Anda. Selamat mengikuti.

Semoga bermanfaat.

Mengapa Knowledge Management ? (Seri Knowledge Management #1)

Knowledge is a powerful weapon, Arm yourself with it

(Richa Som)

Artikel berikut merupakan rangkaian/series dari topik Knowledge Management. Disarankan membacanya runtut dari awal agar mendapatkan gambaran utuh Why, What dan How nya. Selamat mengikuti.

Part 1 : Mengapa Knowledge Management ?
http://dedysetyo.net/2020/11/25/mengapa-knowledge-management/

Part 2 : Berawal dari Kue
http://dedysetyo.net/2020/11/27/berawal-dari-kue-seri-knowledge-management-2/

Part 3 : Penerapan praktis Knowledge Management di dunia pendidikan
http://dedysetyo.net/2021/01/06/penerapan-praktis-knowledge-management-di-dunia-pendidikan-seri-knowledge-management-3/

Record Video Webinar
Implementasi Knowledge Management dalam Dunia Pendidikan
Part 1 : https://www.youtube.com/watch?v=iarei_VoNtM
Part 2 : https://www.youtube.com/watch?v=g3k6HK2AzcY


Agar lebih memudahkan memahami kenapa kita akan menggunakan Knowledge Management, artikel ini disajikan dengan cerita pendek.

Pak D merupakan seorang laboran di laboratorium komputer di sebuah sekolah semenjak laboratorium itu berdiri dari sejak 5 tahun yang lalu. Pekerjaannya dibilang sangat rutin, mulai dari membuka lab dari sebelum jam 7 pagi, menyalakan komputer untuk digunakan di pembelajaran jam 7 nya, mematikan lagi sebelum rehat siang, sampai dengan maintenance jika ada kerusakan-kerusakan perangkat, baik yang kecil – kecil berupa perangkat yang onderdilnya mulai mengendor, ataupun harus bongkar pasang sparepart penting didalam casing komputer.

Karena rutin dan berulang nya pekerjaan itu, hampir-hampir semuanya berjalan sangat otomatis setiap harinya, buka tutup pintu, service dan maintenance dan lain sebagainya.

Pada suatu ketika, karena cuti menikah, Pak D tidak bekerja seminggu setelah hajatan di rumahnya. Lalu, apa yang terjadi ?. Ada Guru lain yang ditugaskan untuk menggantikan pekerjaan Pak D di Laboratorium, dengan harapan semua urusan rutin itu bisa dihandel dengan baik oleh penggantinya. Namun apa yang terjadi, ternyata tak sesuai harapan. Dihari pertama pengganti pengganti Pak D bekerja, sebagian komputer di laboratorium itu tak bisa menyala, butuh waktu cukup lama untuk menemukan saklar-saklar penting modifikasi Pak D. Dengan alasan keamanan listrik di lab, rupanya pak D memodifikasi beberapa arus listrik ke beberapa part di sisi-sisi Lab.

Dimasa cutinya, dengan terpaksa Pak D disibukkan dengan panggilan telepon mendadak dari koleganya itu. Alhamdulillah setelah mencoba utak atik hampir setengah hari, masalah terselesaikan dengan baik, komputer berhasil menyala. Apakah masalahnya selesai ?, ternyata tidak.

Komputer server yang berada pada Lab itu, juga tidak berhasil dinyalakan, usut punya usut, itupun setelah bolak balik telepon lagi Pak D yang kesekian kalinya, ternyata ada kata sandi via BIOS yang dihidupkan, dan aktifnya melalui keyboard yang dipijit dengan kombinasi huruf-angka walau saat komputernya masih mati. Lha siapa yang tahu.

Masih punya perasaan yang tak enak, akhirnya kolega Pak D ini berinisiatif menanyakan, “kejutan” apalagi yang dibutuhkan untuk ditangani agar Lab bisa beroperasi dan para siswa bisa belajar dengan normal. Ternyata benar, diluar dua hal sebelumnya, sekira ada 3 hal lagi yang perlu “ditangani” dengan cepat dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Akhirnya, setelah hampir seharian dilakukan penanganan, Lab berhasil diaktifkan, itupun dengan resiko tidak ada KBM sama sekali, karena berkali-kali siswa datang ke Lab namun, pembelajaran tak bisa dilakukan dengan normal.

Insight apa yang Anda dapatkan dari kisah diatas ?. wait, tunggu dulu, masih ada satu kisah lagi untuk teman-teman sekalian.

Kisah berikutnya, merupakan cerita yang berbeda, namun dilakoni oleh Pak D juga.

Sekira setelah 3 tahun dari cuti pernikahannya tadi, Pak D diberikan amanah baru sebagai Manajer Pusat Sumber Belajar, sebagai gambaran, pekerjaannya ini memiliki tugas untuk mengkoordinasikan penggunaan semua laboratorium yang ada di sekolahnya.

Salah satu goalsnya, bagaimana agar intensitas dan efektivitas penggunaan lab nya selalu naik dari tahun ke tahun. Tantangan ini tidak mudah dijawab, karena sebelum Pak D menjabat, banyak laporan yang menyatakan bahwa sarang laba-laba sudah terlalu banyak menempel di kursi, meja dan alat-alat lab, tidak hanya disatu lab, tapi menjalar hampir disemua lab.

Ilustrasi Sarang Laba-laba
Ilustrasi Sarang Laba-laba

Tanda-tanda ini, menunjukkan isyarat sederhana bahwa lab-lab itu terlalu lama tidak digunakan oleh para guru dan siswa dalam pembelajarannya.

Lalu apa yang dilakukan Pak D ?

Pak D mencari tahu, berapa intensitas penggunaan semua lab itu. Caranya ?, melalui menghitung prosentase dalam sepekan, lalu terakumulasi per bulan dan semester. Pada sudut pandang kompetensi dasar yang diajarkan guru, berapa persen yang berisi materi-materi dengan pendekatan dominan praktikum. Pendekatan dari sisi guru, bagaimana dan seberapa jauh wawasan dan keterampilan para guru dalam menggunakan alat-alat lab.

3 Soal awalan tadi dibuat assessment nya, lalu dengan pendekatan statistik diukur secara berkala, dengan tentunya perlahan-lahan sambal melengkapi semua peralatan di lab.

Setelah lima bulan menjabat, suasana lab tidak lagi menjadi hening seperti sebelumnya, namun menjadi riuh dengan eksperimen para siswa dalam berbagai percobaan sains, skill keterampilan para siswa makin beragam, yang pada akhirnya pembelajaran makin bermutu dan menyenangkan.

Invest in improvement of statistics – SG urges Member States - CARICOM

Bagaimana dengan insight cerita pertama dan kedua ini ?

Ya benar, ini yang sedang kita bicarakan. Kalau dicerita pertama, jika pengetahuan ini dimiliki oleh hanya satu orang “key person” saja, maka jika orang itu pergi, pengetahuannya akan ikut pergi. Lalu cerita selanjutnya akan menyedihkan, dimana semua fungsi-fungsi penting dalam system akan hilang dan mubadzir. Peralatan “kunci” pada sebuah aktivitas, akan tidak bisa digunakan (useless).

Hal ini kalo kita sebagai Pak D, maka rasa2nya tidak jadi soal terlalu Panjang. Namun kalau kita mengelola lembaga tadi, kita akan kerepotan dibuatnya. Baik dalam jangka waktu dekat ataupun masa yang lebih panjang.

Kalau di cerita kedua, pengetahuan ternyata applicable, setelah diolah dan dikembangkan sedemikian rupa, dapat menjadi senjata untuk memutuskan mata rantai masalah, tidak hanya itu bermanfaat juga untuk kemajuan pembelajaran dan efektifitas pengajaran.

SDM pada Lembaga datang dan pergi, ada yang resign, pensiun, meninggal, rotasi, cuti dan lain sebagainya. Namun Lembaga yang kita Kelola, akan berumur lebih Panjang dari pada SDM-SDM itu.

Dua latar belakang ini sering didapati pada Lembaga-lembaga di sekitar kita, tak terkecuali pada Lembaga Pendidikan Anda. Berbagai hal yang kita dapati sehari-hari, akumulatif hingga bertahun-tahun sampai dengan saat ini, akan menjadi “kekayaan” yang luar biasa, tidak hanya kepada individu nya, tetapi kepada masa depan lembaganya.

Orang boleh datang dan pergi, namun pengetahuan yang memiliki value tinggi ini, akan berimpact besar pada kemajuan lembaganya. Kita akan bahas berikutnya.

Lalu bagaimana Knowledge Management bisa berperan lebih jauh disana ?. Ikuti terus series tulisan ini ya.

Semoga bermanfaat.

 

Buku : Easy Learning. Cara mudah menerapkan e-learning dari a sampai z untuk pemula

Judul buku

Easy Learning. Cara Mudah Penerapan e-learning dari A sampai Z untuk Pemula

Book Teaser

Kenapa Anda perlu memiliki buku ini ?

  • Berdasarkan kasus nyata penerapannya dilapangan, sehingga tergambar gamblang langkah-langkahnya.
  • Penyampaian sederhana dan langsung berorientasi praktis, karena per bab merupakan gambaran tercapainya satu kompetensi tertentu
  • Berbasis open source sehingga software gratis, mudah diperoleh, dapat di customize sesuai dengan masing-masing kebutuhan user
  • Teknologi saat ini yang sedang naik daun sehingga tetap update
  • Pengaplikasiannya sangat fleksibel, bisa dalam lingkungan dengan jumlah kecil atau besar
  • Materi runut, mulai dari tahap strategis sampai dengan teknis dan operasional sehingga segmen pembaca dari berbagai kalangan dan pekerjaan

Sinopsis di cover belakang buku:

Dimasa teknologi informasi saat ini sudah akrab dengan keseharian kita, kita bisa mengeksplore lebih banyak kemanfaatannya jika dapat mengelolanya dengan efektif dalam dunia pendidikan.

E-learning dapat digunakan oleh semua orang, baik secara individual ataupun secara kelembagaan. Beragam profesi dan jenjang, mulai dari siswa, guru, mahasiswa, dosen, karyawan, manajer, owner ataupun bidang lainnya.

Bagaimana memulainya ?, buku ini menjelaskan kepada Anda langkah demi langkah untuk menerapkan di lembaga Anda.

Sebagai user, buku ini juga memberikan gambaran dan pemahaman tentang cara baru belajar yang lebih fun, mudah, interaktif dan tentunya efektif.

Disusun berdasarkan best practise, pengalaman-pengalaman ini disusun dengan runut dan simple agar mudah dipelajari bagi Anda yang baru memulai (pemula) bahkan bagi Anda yang akan mendalami lebih lanjut.

Keterampilan:

Pemula, Menengah, Lanjut

Jenis buku:

Tutorial, Referensi

Target pembaca:

Masyarakat umum, Mahasiswa, Praktisi teknologi, Komunitas, Dunia pendidikan, guru,

dosen, peserta didik dan lain-lain.

Penulis:
Dedy Setyo Afrianto, M.Pd

ISBN : 978-602-1277-72-0

Tebal : 224 Hal

Harga : Rp.65.000,- (Harga umum). Untuk harga versi promo silakan hubungi kontak dibawah.

Form Pemesanan silakan isi pada link berikut http://bit.ly/3cRNv6G

Untuk Versi Digital, melalui Gramedia Online dapat dipesan melalui link ini

https://ebooks.gramedia.com/books/easy-learning-cara-mudah-menerapkan-e-learning-dari-a-sampai-z-untuk-pemula

Merawat Empati Menjaga Solidaritas

Artikel ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Disarankan untuk membacanya terlebih dahulu agar bisa nyambung dengan materi tulisan. Terima kasih.

Artikel ini dengan judul yang sama, masuk Republika Online dengan link sbb https://republika.co.id/berita/qcfel6282/merawat-empati-menjaga-solidaritas

——————————

Alcoa Inc, salah satu perusahaan pengolahan metal terbesar di Amerika dan sudah memiliki cabang di 10 negara, seperti perusahaan lainnya, walaupun sudah berusia seabad lebih berdiri dengan berbagai macam pencapaian yang prestisius, mengalami fase “up and down” yang bervariasi. Tahun 1987 nilai saham mereka jatuh, sebagian investor panik, sebagian lainnya mengusulkan adanya perubahan manajemen dan kepemimpinan baru. Kisah ini seperti disampaikan dalam “The Power of Habit” karya Charles Duhigg.

Akhirnya terjawab pada bulan Oktober 1987 itu, Paul O’Neill menjabat sebagai pimpinan mereka yang baru. Sebagai bagian dari perkenalan kepada investor dan analis saham yang hadir, mereka berharap di pidato perdana ini mereka akan mendengar sampaian visi dan misi yang meyakinkan mereka, strategi canggih yang bisa membawa Alcoa keluar dari “lubang jarum” itu serta rangkaian program hebat untuk bisa mengembalikan Alcoa pada puncak kejayaan. Namun, apa yang dibicarakan O’Neill di podium itu ?,

“Saya ingin membicarakan kepada Anda tentang keamanan dan keselamatan para pekerja. Setiap tahun banyak para pekerja Alcoa yang cidera parah. Setiap tahun banyak sekali pegawai Alcoa yang terluka karena bekerja. Mengingat karena para pekerja bekerja dekat peralatan bersuhu 1500 derajat celcius yang berpotensi merenggut lengan mereka. Saya berniat menjadikan Alcoa sebagai perusahaan paling aman di Amerika. Saya berniat mengejar nol cidera.”

Para hadirin bingung dan saling bertatap diantara mereka. Sepertinya harapan tentang pidato menggelegar tentang kehebatan program baru yang mereka idam-idamkan nampaknya baru saja pupus.

Setelah acara sambutan tersebut, seperti diaba-aba, banyak diantara investor yang mencari telepon umum (dikala itu belum ada gadget) untuk berdiskusi dengan klien mereka masing-masing seraya merekomendasikan agar menjual sahamnya, karena imbas tidak percayanya terhadap pimpinan baru ini. Sampai disini kita juga belajar bahwa kesan yang pertama kali, ikut mempengaruhi langkah-langkah berikutnya.

Bulan berganti bulan, setahun setelah pidato itu. Seolah berbalik 180 derajat dari anggapan pidato perdana tadi, Alcoa malah mencapai rekor perolehan laba tertinggi. Ketika O’Neil pensiun pada tahun 2000, pendapatan tahunan laba bersih lima kali lebih besar dibandingkan sewaktu Ia tiba. Tidak hanya pencapaian itu, kapitalisasi pasarnya telah naik 27 milliar dollar. Semua peningkatan itu seiring dengan peningkatan status Alcoa sebagai perusahaan paling aman di dunia. Bertahun-tahun telah berjalan, tidak ada laporan pegawai cidera karena melakukan pekerjaannya. O’Neill sendiri setelah pensiun dari Alcoa diminta oleh Presiden George W Bush untuk menjadi menteri keuangan.

Menarik mengamati kisah Alcoa ini dilihat dari sudut pandang “kebiasaan”. Selain dalam masa mendatang kita akan masuk pada fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) atau New Normal. Apa sesungguhnya yang dilakukan Paul O’Neill dkk merubah perusahaan yang hampir decline dengan raport keselamatan yang buruk, menjadi perusahaan yang sangat sehat, pertumbuhan laba yang mengagumkan, bahkan menjadi yang paling aman diseluruh bumi ?

Kebiasaan kunci

Pada dasarnya, manusia ataupun organisasi, adalah kumpulan kebiasaan yang tersusun setiap hari nya. Apa yang membentuk kita hari ini, adalah refleksi kebiasaan-kebiasaan yang sudah kita lakukan berkali-kali, rutin, refleks dan spontan dari 24 jam kita sehari-hari selama ini. Namun diantara sekian banyak kebiasaan kita selama ini, ada yang dinamakan “kebiasaan kunci”. Kebiasaan kunci ini akan memantik kebiasaan-kebiasaan lainnya sehingga bekerja sebagaimana harapan Anda. Semisal, jika Anda sebagai pegawai yang harus sudah siap berangkat kerja pada pukul 6 pagi tepat, sudah di KRL pada pukul 6.15, dan wajib sudah berada di kantor pukul 7 pagi. Maka kebiasaan kunci Anda adalah bangun selambatnya sebelum subuh, dan bisa jadi kebiasaan kunci Anda dimulai dari sejak kapan dimulainya tidur dimalam hari. Jika kebiasaan kunci ini dirubah, maka berubahlah kebiasaan-kebiasaan yang lain.

Begitu juga organisasi ataupun perusahaan sebesar Alcoa, sebelum O’Neill menerima tawaran memimpin Alcoa, dilandasi atas analisisnya bahwa keselamatan pekerja menjadi kata kunci yang wajib menjadi regulasi utama dalam beroperasinya Alcoa diseluruh divisi.

O’Neill percaya bahwa sejumlah kebiasaan memiliki kekuatan untuk memulai reaksi berantai, mengubah kebiasaan-kebiasaan lain seraya menyebar ke seluruh organisasi.

Ia mengidentifikasi satu tanda sederhana : cidera pegawai. Setiap kali ada yang cidera, pimpinan divisi harus melaporkannya kepada O’Neill dalam 24 jam dan mempresentasikan rencana untuk memastikan cidera tidak terjadi lagi dimasa selanjutnya. Dan ganjarannya sebagai reward : orang yang dipromosikan hanyalah yang mengikuti sistem tersebut.

Akibat kebijakan O’Neill ini lalu menggerakkan pimpinan divisi yang lain. Untuk mengontak O’Neill dalam 24 jam setelah cidera, mereka harus mendengar soal kecelakaan itu dari wakil divisinya segera setelah peristiwa tersebut terjadi. Jadi para wakil harus terus menerus berkomunikasi dengan manajer lapangan, dan para manajer lapangan membutuhkan para pekerja untuk menyampaikan peringatan begitu mereka melihat ada masalah dan memiliki daftar saran didekat mereka, sehingga bila wakil divisi meminta rencana, sudah ada satu kotak gagasan yang dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. Untuk membuat itu terjadi, setiap unit harus membangun komunikasi baru yang mempermudah para pekerja berkedudukan paling rendah untuk menyampaikan gagasan kepada eksekutif berkedudukan lebih tinggi diatasnya secepat mungkin. Hampir semua rantai birokrasi yang panjang itu akhirnya dipangkas dan disederhanakan sehingga komunikasi berjalan dengan lancar dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Singkat cerita, kebijakan tentang keamanan dan keselamatan pegawai, ternyata berbimbas pada hal lain dan berdampak positif terhadap perusahaan, seperti supervisi yang lebih intens, jalur komunikasi yang dinamis, pemangkasan birokrasi dan tentu saja pekerja lebih semangat bekerja karena merasa diperhatikan lebih terkait kesehatannya.

Seperti diparagraf sebelumnya, inilah yang dimaksud kebiasaan kunci.

Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB)

Adanya masa pandemi yang membuat kita berdiam diri di rumah tersebab PSBB semenjak beberapa bulan lalu, mau tidak mau juga berimbas kepada cara kita melihat lingkungan sekitar yang telah lama mungkin tidak kita tengok. Tempat ibadah yang telah lama kosong, sekolahan yang sepi dari para siswa dan ruang-ruang publik lainnya yang sudah lama sekali tidak kita sapa, rapat-rapat yang berganti menjadi pertemuan maya. Pertanyaan berikutnya apa kebiasaan kunci yang perlu kita rancang sehingga kita siap dengan kondisi pasca pandemi yang cepat atau lambat akan kita bertemu ?

  1. Berpikir positif dan memiliki rasa optimis

Laporan penelitian dari University of Pittsburgh School of Medicine menemukan bahwa wanita menopause yang memiliki sifat optimis mengalami penurunan jangka kematian dan memiliki hanya sedikit risiko terkena diabetes atau hipertensi (tekanan darah tinggi), yang sering kali dialami oleh teman-teman pesimis mereka.

Para peneliti menganalisis data dari 100.000 orang wanita dalam studi yang sedang berlangsung, dan hasilnya adalah wanita yang optimis memiliki risiko sebanyak 30% lebih rendah untuk meninggal karena penyakit jantung, dibandingkan dengan yang pesimis. Para wanita yang pesimis juga memiliki 23% kemungkinan untuk meninggal akibat kanker.

Artinya rasa optimis akan membantu kita untuk lebih survive dalam bertahan menghadapi masa pandemi ini. Persoalan psikologis yang barangkali dirasakan oleh sebagian kita karena terlalu lama di rumah juga mudah-mudahan bisa perlahan dikikis dengan rasa optimis dan tetap positif ini.

2. Merawat Empati

Slavoj Zizek, filsuf dari Slovenia ini melihat bahwa solidaritas di era pandemi berpeluang menciptakan suatu kemanusiaan jenis baru, yang akan membuat kita terhindar dari jebakan penghancuran diri dan sikap barbarisme. Pandemi ini juga mengajarkan kita bahwa aksi bantu membantu kepada pejuang lini terdepan seperti tenaga medis dan lainnya ini juga lebih mudah dilakukan. Varian ikhtiar bantuan kepada masyarakat terdampak juga beraneka macam dimasa seperti sekarang, mulai dari konser dari rumah, membelikan makanan kepada driver ojek online sampai dengan bantuan APD rumahan yang diinisiasi oleh berbagai unit usaha.

Upaya-upaya inilah yang harapannya makin bisa dirasakan dimasa depan, walaupun nanti kita sudah melewati masa pandemi. Dengan segala duka yang kita rasakan, pelajaran berbagi dimasa pandemi ini tetap bisa dirasakan sebagai hikmah.

Akhirnya kita berharap adanya warisan kebaikan terhadap sesama yang lebih panjang, upaya solidaritas yang tak lekang dimakan waktu.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Kekuatan Kebiasaan

Namanya Lisa Allen, seperti dicantumkan dalam buku The Power of Habit yang ditulis oleh Charles Duhigg ini, saat diwawancara pada umur 34 tahun itu, terlihat sangat bugar, cerdas, memiliki banyak karya yang menginspirasi dan mempunyai sederet gelar bergengsi. Namun jika mundur sejenak saat dia menginjak umur 22 tahun, maka tidak seperti saat 34, dimasa lalunya, Lisa merupakan tipe orang dengan beberapa masalah pribadi dan keluarganya. Obesitas, kecanduan obat, bermalas-malasan sepanjang waktu, lilitan utang dan perceraian, merupakan deretan kisah menyedihkan yang dihadapi oleh pemudi dengan umur yang masih demikian belia. Namun seperti yang Anda tahu, 12 tahun sesudahnya semuanya berubah sangat drastis.

Kisah Lisa ini menginspirasi para ilmuwan untuk meneliti sejauh mana dan faktor apa yang membuat orang bisa berubah. Seperti dilanjutkan dalam uraian wawancara berikutnya, Lisa berhasil mengurai kata kunci yang bernama “kebiasaan” sehingga grafik habit nya menjadi sangat positif dan lebih baik dari waktu ke waktu. Hal pertama yang dirubah olehnya adalah kesehatan fisik, mulai dari memiliki program olah raga yang setiap pagi dijalani secara konsisten, memilih makanan dan minuman sehat yang hanya dibutuhkan oleh tubuh. Yang perlahan tapi pasti, ketika fisiknya sudah menjadi semakin fit dan sehat, maka satu persatu kebiasaanya hariannya ikut dirubah. Menjadi rajin membaca dan menulis, melanjutkan studinya, lebih relijius, selaras dengan cemerlangnya karir dan akhirnya 180 derajat hidupnya berubah.

Manusia, seperti kita dan yang lainnya, pada dasarnya adalah kumpulan kebiasaan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Setiap orang memiliki jatah yang sama setiap harinya. Namun yang membedakan diantara mereka adalah “kebiasaan”. Sebagai contoh seperti pesepakbola David Beckham yang rela meluangkan dan menyisihkan waktunya 4 hingga 5 jam perhari dimasa mudanya untuk melatih tendangan bebasnya secara rutin dan sungguh-sungguh, maka dimasa berikutnya kita kenal Beckham sebagai seorang pesepak bola yang ahli dalam tendangan bebas. Legenda basket NBA, Michael Jordan, seorang yang dimasa lalunya pernah dikeluarkan dari klub basket sekolahnya dan bahkan pernah tidak dipanggil oleh dua klub NBA diawal karirnya, merubah dan mengasah diri sedemikian rupa sehingga pada akhirnya menjadi seorang jenius dalam dunia basket.

Seperti Lisa dan beberapa nama diatas, sebenarnya seberapa lama manusia membutuhkan waktu untuk merubah kebiasaannya ?

Salah satu asumsi yang paling terkenal berasal dari buku Psycho Cybernetics oleh Maxwell Maltz. Buku yang dipublikasikan pada 1960 ini menyebutkan bahwa pasien-pasien Maltz membutuhkan waktu 21 hari untuk terbiasa dengan wajah baru mereka setelah menjalani operasi plastik.

Namun, studi yang dilaksanakan pada tahun 2009 terhadap 96 orang menemukan bahwa membentuk kebiasaan baru tidak pasti membutuhkan waktu 21 hari. Para peneliti justru menemukan bahwa waktunya bervariasi, antara 18 hingga 254 hari, tergantung pada masing-masing individu, walaupun rata-rata memerlukan waktu 66 hari. Hal yang sama juga bisa dikatakan mengenai upaya untuk menghentikan sebuah kebiasaan. Kepribadian, motivasi, lingkungan dan kondisi, serta jenis kebiasaan yang ingin diubah turut berpengaruh pada kecepatan seseorang untuk mengubah sebuah kebiasaan.

Kebiasaan yang membentuk manusia, atau manusia yang membentuk kebiasaan ?

Pertanyaan ini, walaupun tidak sama persis, sama dengan pertanyaan “mana lebih dulu antara telur atau ayam ?”. Semoga uraian berikutnya bisa membantu menjawab.

Prof Rhenald Kasali dalam bukunya “Self Driving” menyatakan bahwa sesungguhnya manusia merupakan “Driver” dalam kehidupannya sendiri. Setelah orang tua melahirkan dan membesarkan kita, dimana mereka menganggap bahwa kita sudah punya kesiapan yang cukup untuk memutuskan sesuatu tentang hidup kita, maka “mandat” dari orang tua berpindah kepada pundak anaknya yang telah dewasa.

Sehingga sebagai “driver” yang baik dalam kehidupan kita masing-masing, maka kita wajib punya “peta” agar terarah, yakni berupa cita-cita hidup kita. “Kendaraan” yang nyaman dan mumpuni, yakni berupa fisik, jiwa, akal sehat yang membantu kita menuju cita-cita. Setelah itu kendali terbaik adalah kita sendiri dalam tubuh kita masing-masing. Merumuskan kebiasaan-kebiasaan dan secara rutin menjalankannya, maka kitalah yang memiliki saham terbesar tentang diri kita kelak.

Kemudian, diri kita dimasa depan, sejatinya adalah kumpulan-kumpulan kebiasaan kita dimasa lalu. Apa yang kita lihat saat ini dalam diri kita, adalah refleksi apa yang terjadi dan kita lakukan dimasa sebelumnya. Sehingga secara sadar atau tidak, cara kita melihat diri kita hari ini, akan terrefleksi dimasa depan kita nanti.

Bagaimana dengan Anda ?, yuk bersama-sama jadi lebih baik dan makin positif.

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

Dedy Setyo Afrianto

Problem Based Learning dalam kelas Online seri #1 dari 3

Salah satu metode bagaimana membuat siswa berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill) dalam pembelajaran kita adalah dengan menggunakan Problem Based Learning (PBL). Namun dalam masa belajar dari rumah ini, bagaimana agar PBL tetap dapat dilakukan dengan mode online ?, ikuti presentasi dan prakteknya dalam serial ini. Seri #1 dari 5.

Sains sebagai alat menghadapi pandemic dari masa ke masa

Laporan riset dari Data-Driven Innovation Lab yang dimotori oleh Singapore University of Technology and Design diakhir April 2020 menunjukkan bahwa masa pandemi di sejumlah negara akan berakhir beberapa bulan kedepan sampai dengan akhir tahun 2020, untuk Indonesia sendiri diprediksi akan selesai pada tanggal 31 Juli 2020. Beberapa lembaga lain baik dalam ataupun luar negeri juga mencoba dengan pendekatan sains dan ilmiah untuk menghitung dan memperkirakan seberapa lama masa pandemic ini akan berakhir. Dengan kompleksitas dan varibel-variabel yang terlibat, tentu saja kita perlu berterima kasih atas kerja keras yang telah mereka lakukan.

Perihal ramal-meramal terkait situasi yang akan terjadi dimasa depan, para ilmuwan dengan pendekatan sains telah lama melakukan, sehari-hari kita juga sering menggunakan ramalan cuaca melalui teknologi, bisa dari internet atau juga dari weather forecasting media TV/radio apakah hari esok akan hujan atau cerah, sehingga kita bisa menyiapkan apakah akan membawa payung atau tidak untuk aktivitas outdoor kita. Karena benar, ramalan cuaca ini sangat penting terutama untuk beberapa tipikal mode transportasi laut atau udara yang padanya tingkat keselamatan sangat menentukan sekali tergantung dari hasil prediksi cuaca ini. Bagaimana sains sangat penting dan berpengaruh sekali terhadap aktivitas sehari-hari kita sudah tidak ada kesangsian lagi untuk hal ini.

Ramalan cuaca

Lalu bagaimana peranan sains pada masa lalu ?, Bagaimana pula Islam merawat tradisi sains ?. Ada fakta-fakta yang relatif sama dimasa lalu dimana zaman itu juga pernah bertemu dengan wabah penyakit besar yang bernama Black Death (berasal dari Pes) pada pertengahan hingga akhir abad 14. Saking mematikannya, hingga menewaskan hampir 60 % populasi masyarakat di Eropa. Penyebaran wabah Pes bermula dari serangga (umumnya kutu) yang terinfeksi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat termasuk di antaranya tikus dan marmot yang terinfeksi wabah. Setelah tikus tersebut mati, kutu menggigit manusia dan menyebarkannya kepada manusia. Lalu bagaimana posisi umat Islam di Eropa saat itu ?.

Sebagai ilustrasi sederhana, dimasa itu Andalusia di Eropa merupakan sebuah tempat dimana ilmu pengetahuan berkembang sangat luas, banyak ilmuwan islam yang dengan karya-karyanya menginsipari negara lain untuk giat dan mempelajari pengetahuan dan sains dari ilmuwan Islam. Bahkan bahasa arab menjadi bahasa Internasional yang bisa menghubungkan antar bangsa dan menjadi in jika ingin masuk dalam komunikasi antar negara.

Ilustrasi Andalusia

Mulai abad ke 10 Kordoba (Andalusia – Spanyol)telah memiliki 70 perpustakaan, salah satu perpustakaan terbesar di Kordoba memiliki 500.000 naskah. Sebagai perbandingan, perpustakaan lain di eropa saat itu hanya memiliki tak lebih dari 400 naskah, bahkan universitas Paris di abad 14, baru memiliki sekitar 2.000 buku. Pada tiap tahunnya di Al-Andalus diterbitkan kurang lebih 60.000 buku, termasuk risalah-risalah, puisi, polemik dan antologi.

Sebagian besar sejarawan menuliskan, dibawah ke-Khalifahan Kordoba, Al-Andalus merupakan mercusuar untuk belajar segala ilmu pengetahuan. Kordoba menjadi salah satu pusat kebudayaan, pusat ekonomi terkemuka, baik di Basin Mediteranean dan dunia Islam masa itu.

Terbayang betapa “cahaya pengetahuan” Andalusia sangat terang disaat Eropa sedang “gelap-gelapnya”. Di masa itu pula di Eropa yang sebagian besar masih berpaham fatalistik, bahwa jika ingin selamat maka tunduk patuhlah pada gereja (haram untuk berbeda pendapat), sehingga adanya wabah itu, sebagian besar dari mereka beranggapan sebagai kutukan gereja kepada orang-orang yang tidak menurut pada perintah.

Andalusia (Spanyol) pada masa itu juga ikut terimbas the Black Death. Hanya saja, para sarjana Muslim setempat lebih lanjut meneliti apa penyebab dan bagaimana metode penanganannya. Di antara mereka adalah Ahmad bin Ali bin Khatimah. Ilmuwan dari Almeria itu menulis Tahsil al-Gharad al-Qasid fii Tafil al-Marad al- Wafid sekitar tahun 1349. Beliau menduga buruknya kualitas udara sebagai pemicu persebaran wabah.

Ilmuwan lainnya, Ibnu al-Khatib mengarang kitab Muqni’at al-Sail ‘an al-Marad al-Hail. Di dalamnya, sosok asal Granada itu menjelaskan hipotesis tentang transmisi atau penularan penyakit.

Gagasan al-Khatib belakangan diadopsi oleh ahli biolog Prancis, Louis Pasteur, ratusan tahun kemudian. Salah satu uraian Muqni’at mengenai antisipasi wabah: Kebanyakan orang-orang yang telah mengadakan kontak dengan seorang penderita wabah akan meninggal dunia.

Sementara itu, mereka yang tidak begitu (berinteraksi) akan tetap sehat. Pakaian atau keranjang (yang sebelum nya dipakai penderita wabah) boleh jadi membawa penyakit ke dalam rumah; bahkan, sebuah anting sekalipun dapat berakibat fatal bila dipasang pada telinga seseorang (yang sehat).

Penyakit itu dapat muncul dari suatu rumah di suatu kota, kemudian ia menyebar dari orang ke orang tetangga, saudara, atau tamu rumah itu. Di masa kita saat inilah, dalam menghadapi covid-19, kita memiliki istilah yakni Social Distancing dan Physical Distancing yang memiliki makna sama dengan kondisi saat itu. Singkat kata, pada akhirnya dengan tetap melakukan “isolasi mandiri”, maka wabah ini perlahan tapi pasti akan masuk pada angka yang semakin minimalis dan akan menghilang.

Begitulah dimasa lalu kita diajarkan, sains telah menjadi salah satu alat penting untuk menghadapi wabah besar ini dengan segala bentuknya. Jika dimasa lalu kita diajarkan dengan pelajaran penting dan berakhir dengan keberhasilan, lagi-lagi pengalaman adalah guru terhebat yang kita bisa belajar banyak darinya.

Sehingga hari-hari ini, dimasa Ramadhan ini, kampanye tagar #tetapdirumah #dirumahaja bersama keluarga tercinta kita, nampaknya wajib benar-benar kita lakukan dengan istiqomah, seraya di bulan penuh berkah ini kita terus berdoa kepada Allah agar memampukan kita menghadapi masa-masa sulit ini.

Salam hangat,

Dedy Setyo

Buku Cloud Computing “The Power of ownCloud. 10 Langkah Mudah Membangun dan Mengelola Sendiri Teknologi Cloud di Lingkungan Anda”

Outline


Ingin belajar cloud computing tapi gak tahu mulai dari mana ?
Mau ngembangin cloud computing sendiri, tapi nyari referensinya gak ada ?
Sudah ketemu panduannya, tapi gak ada yang cocok ?

Jawabannya ada disini. Baca bukunya, pahami teorinya, praktekan materinya..

Buku ini menjawab penasaran Kamu sama cloud computing..

“The Power of ownCloud. 10 Langkah Mudah Membangun dan Mengelola Sendiri Teknologi Cloud di Lingkungan Anda”


 

Kenapa buku ini menarik ?

– Berdasarkan kasus nyata penerapannya dilapangan
– Penyampaian sederhana dan langsung berorientasi praktis, karena per bab merupakan gambaran tercapainya satu kompetensi tertentu
– Berbasis open source sehingga software gratis, mudah diperoleh, dapat di customize sesuai dengan masing-masing kebutuhan user
– Pengaplikasiannya sangat fleksibel, bisa dalam lingkungan dengan jumlah user kecil atau besar

Bagaimana kata para pakar tentang buku ini ?

 

onno

(Onno W. Purbo – Pakar IT dan Open Source)

“Membaca sepintas karya mas Dedy, buku cloud ini akan sangat bermanfaat bagi mereka yang ingin membangun cloud untuk keperluan sehari-harinya maupun untuk keperluan profesional lainnya. Dibahas detail teknik cara membuatnya sehingga kita dapat membuat sendiri cloud tersebut. Semoga buku ini bisa membantu kita semua dalam membangun infrastruktur yang merakyat.”

 

romi

(Romi Satria Wahono – Founder IlmuKomputer.Com dan CEO Brainmatics.Com)

“Ketika teknologi cloud computing berkembang semakin rumit, mas Dedy Setyo Afrianto berhasil menyajikan dengan bahasa yang mudah, plus contoh penerapan yang lebih nyata. Buku wajib bagi yang tertarik membangun sendiri cloud computing.”

 

rus

(Rusmanto – Pakar Linux dan Open Source, Pemred Majalah Komputer InfoLinux)

“Buku ini merupakan bidang keahlian komputer yang sedang menjadi trend namun belum banyak ditulis dalam bahasa Indonesia. Untuk itu kami mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Saudara Dedy Setyo Afrianto yang telah berhasil menyusun buku ini dan mendedikasikan karyanya untuk pendidikan dan pengembangan teknologi informasi di Indonesia. “

Cover Buku

Daftar isi buku :

1. Prolog
a. Tentang Cloud Computing
b. Sekilas ownCloud
c. Studi Kasus Lapangan
d. Persiapan server, koneksi dan software

2. Instalasi dan Konfigurasi ownCloud diserver anda
a. Masalah dan Solusi Instalasi ownCloud
b. Penggunaan ownCloud untuk Manajemen File dan Folder Upload dan Download
i. Pembuatan, rename dan delete file-Folder
ii. Sharing user
iii. Penulisan Kolaborasi

3. Setting Mudah ukuran file maksimal di ownCloud

4. Sinkronisasi Antar Device
a. PC Windows
b. – PC Linux Ubuntu
– Mounting ownCloud pada folder Ubuntu
c. Smartphone Android

5. Media Sharing dengan Mudah di ownCloud

6. Mencicipi performa ownCloud sebagai Music Server

7. a. Menambahkan kapasitas penyimpanan ownCloud dari harddisk local dan Dropbox
b. Menambahkan kapasitas penyimpanan ownCloud dengan Google Drive
c. Integrasi ownCloud sebagai eksternal storage di LMS Moodle

8. Penggunaan Contact dan Sinkronisasinya di gadget android

9. Penggunaan Calendar dan sinkronisasinya di PC Windows

10. Pembahasan Modul ownCloud
a. User Photo
b. Internal Message

Daftar Pustaka
Profil Penulis

 

Sumbangsih terhadap dunia akademik

Sebagai informasi, tulisan-tulisan Kami secara perlahan namun pasti, ikut turut serta dalam kontribusinya di dunia penelitian dan akademik. Ini (sebagian kecil) capture daftar pustaka dari berbagai penelitian/skripsi/tesis/digital library.

referensi dedy

(klik gambar diatas untuk memperbesar)

Testimoni para pembaca

Beberapa testimoni dari para pembaca buku ini.

TESTI4

testi5

testi7

testi8

testi9

testi10

Buku ini bisa dengan mudah didapatkan via Gramedia pada link ini https://www.gramedia.com/products/the-power-of-owncloud-membangun-dan-mengelola-sendiri

atau toko2 buku lain disini atau disana yg tersebar di Indonesia.

Kombinasi Powtoon dan OBS Untuk Video Pembelajaran Animasi

Setelah sebelumnya kita belajar tentang basic pembuatan video pembelajaran animasi dengan Powtoon. Kali ini kita akan coba buat agar muncul visualisasi wajah guru/pengajar dalam media video kita. Bagian ini menjadi penting, karena “keberadaan” guru agar lebih terasa dan kepemilikan terhadap pembelajaran oleh siswa akan makin tinggi.

Bagaimana cara membuatnya ?, kita akan kombinasikan dengan OBS (Open Broadcaster Software) yang free. Agar versinya sama dengan tutorial yakni versi OBS 25.0.8, silakan bisa unduh kemari https://bit.ly/obs_nfec

Part 1 : https://youtu.be/NnX_CWbeUic

Part 1

Part 2 : https://youtu.be/fHVRCDWUVkQ

Part 2

Part 3 : https://youtu.be/U6F4hsdYcdM

Part 3

Semoga memberikan referensi pembuatan video pembelajaran animasi yang kita sajikan kepada para siswa sehingga pembelajaran semakin kreatif dan menyenangkan.